HOT ISSUE [Part 11]


12

HOT ISSUE [Part 11]

*

*

*

=============================

10 hours before Pers Conference ….

—–

Dasar Song Park Yeon! Aku menyesal telah menganggapnya seperti malaikat!’

‘Ternyata hanya wajahnya saja yang cantik. Hatinya tidak!’

‘Aku membenci Cherry Jung. Tapi sekarang, aku lebih membenci Song Park Yeon. Kurasa semua berita tentang skandal hubungan Cherry Jung dan Cho Kyuhyun jauh lebih baik dari berita mengejutkan ini.’

‘Ah, andai Cho Kyuhyun memilih Cherry Jung daripada hoobae-nya yang tidak tahu diri itu.’

‘Terkadang aku harus berterima kasih pada sasaeng fans Cho Kyuhyun yang tahu berita ini.’

‘Entahlah. Aku tidak tahu apakah aku harus percaya dengan berita ini atau tidak. Tapi yang jelas, aku tidak mau menjadi shipper Kyu-Yeon lagi. Padahal mereka terlihat cocok satu sama lain.’

‘Aku harus berhenti membaca fanfiction. Tidak baik untuk otakku, hahahahaha.’

‘Berita ini membuat semua pembaca blog-ku menyerangku. Aku tidak bisa lagi menulis fanfic tentang mereka berdua. Aku harus menyelamatkan diriku.’

‘Di mana Song Park Yeon? Kenapa sejak beberapa hari yang lalu hanya Kyuhyun yang muncul di TV-ku? Bahkan Kyuhyun masih bisa terlihat di beberapa tempat. Wanita itu bersembunyi? Apakah itu artinya berita tersebut benar? Kalau dia tidak salah, kenapa harus bersembunyi?

‘Heol …, berbeda dengan skandal Cherry Jung-Cho Kyuhyun yang punya banyak versi, berita ini berpegangan pada satu poin : Park Yeon berkencan dengan Kyuhyun untuk meningkatkan ketenarannya. Aku yakin berita yang satu ini bukan rumor, tapi fakta.’

‘CHO KYUHYUN, PUTUSKAN HOOBAE-MU ITU DAN KENCANI SAHABATMU, CHERRY JUNG!’

‘APA SALAH OPPA-KU SAMPAI PARK YEON MEMANFAATKANNYA SEPERTI ITU? DASAR TIDAK TAHU DIRI!’

‘Park Yeon Eonnie TT-TT’

‘PARK YEON EONNIE KAMI TIDAK SEPERTI ITU!

‘SIAPA YANG SUDAH MENUDUH EONNIE KAMI? KEMARILAH! AKU AKAN MENENDANG PANTAT KALIAN!’

Zhoumi menghela napas sambil menyingkirkan rambut yang jatuh ke pelipisnya dengan pelan dan menyandarkan kepalanya pada sofa yang sejak tadi didudukinya. Untuk beberapa detik matanya terpejam. Bohong bila ia tidak merasa pusing membaca komentar-komentar yang ada di semua artikel yang membahas tentang Park Yeon tersebut. Tidak hanya itu saja. Ia juga sempat melihat forum-forum fansclub milik Kyuhyun yang membahas hal tersebut.

Dan ia menemukan hal yang sama di sana : Mereka semua membenci Song Park Yeon.

Baru kali ini ia merasakan beratnya menjadi manajer Song Park Yeon. Dan semua ini berawal dari permainan konyol yang dibuat Cherry Jung, Cho Kyuhyun dan Park Yeon sendiri.

“Aku bisa gila,” gumamnya pelan sambil memandang ruang tengah apartemennya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Di jam-jam seperti ini, biasanya Park Yeon belum tidur. Tapi terkadang wanita itu juga suka ketiduran di atas sofa saat tengah menonton TV.

Tangannya bergerak meraih ponselnya yang sejak dua jam lalu ia matikan. Bukan tanpa alasan ia mematikan ponselnya tersebut karena puluhan reporter yang dikenalnya tak henti menghubungi ponselnya. Yang jelas mereka menanyakan hal yang sama dan ia sudah sangat lelah memberikan jawaban yang sama pada mereka. Pada titik ini, ia menyesal sudah menjalin hubungan baik dengan mereka.

Zhoumi hanya berharap tak ada satu pun dari mereka semua yang kembali mencoba menghubunginya karena saat ini ia perlu menghubungi Park Yeon untuk memastikan kondisinya baik-baik saja dan tidak melakukan hal-hal bodoh yang bisa membahayakan dirinya.

[Oppa ….]

Setelah menunggu hampir dua puluh detik, akhirnya ia bisa mendengar suara Park Yeon, meski yang ia tangkap hanyalah suara lemah.

“Kau belum tidur?” tanya Zhoumi sambil menyalakan laptopnya dan mencari beberapa berita tentang agensi mereka.

[Tadinya aku sudah benar-benar akan tidur, tapi karena tiba-tiba kau menelponku ….]

“Maaf. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” potong Zhoumi yang sejenak mengernyitkan keningnya setelah menemukan beberapa berita di portal berita online.

Di sana … tertulis bahwa saham Max Ent. mengalami penurunan yang drastis hanya dalam hitungan beberapa jam setelah dua hari sebelumnya sudah turun beberapa persen dari presentase awal yang masih stabil atau dengan kata lain : sebelum berita mengenai Park Yeon dan Cho Kyuhyun muncul. Ini jelas dampak yang buruk, bahkan terlalu buruk dari perkiraan pihak keuangan agensi.

[Apa kau menelponku hanya untuk menyuruhku mendengarkan napasmu saja? Maaf saja, meski kau adalah manajer yang tampan, dan mungkin tertampan dari semua manajer yang pernah kulihat, tapi suara napasmu yang kudengar tidak ada istimewanya sama sekali.]

Suara Park Yeon kembali terdengar dan itu sedikit mengejutkan Zhoumi. Ia baru ingat kalau saat ini ia sedang menelpon wanita tersebut. Kekehan pelan ia berikan sebagai respons karena perhatiannya tertuju pada berita-berita tersebut.

“Park Yeon, kau—“

Ucapan Zhoumi terinterupsi oleh suara getar dari ponselnya yang mana seseorang sedang mencoba menghubunginya. Ternyata dari Daniel Kang, Presdir Max Ent.

“Park Yeon, segera pergi tidur. Aku tidak bisa berbicara banyak denganmu karena seseorang menelponku,” ujarnya.

[Iya.]

Sesaat setelah ia mengakhiri pembicaraan dengan Park Yeon, ia segera menerima telepon dari Presdir agensi tempatnya bekerja tersebut.

[Hei, Manajernya Song Park Yeon, kau bisa datang ke kantor? Aku masih di sini.]

Tanpa berpikir panjang, Zhoumi pun menuruti permintaan tersebut. Segera diraihnya mantel hitam yang ada di tepi sofa dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja kaca di dekatnya. Namun, baru selangkah ia menjauh dari sofa, tubuhnya mendadak mematung untuk beberapa detik. Ditolehkannya kepalanya ke arah dinding kaca yang mengitari kamar tidurnya. Di sana, ia memandang pantulan dirinya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Sebuah helaan napas berat ia loloskan setelah mencoba menghilangkan semua pikiran yang saat ini tengah berkecamuk di dalam kepalanya.

.

.

.

Sudah lewat tengah malam dan beberapa reporter masih terlihat di area depan gedung Max Ent. Berita tentang Park Yeon rupanya benar-benar membuat heboh semua orang. Dan Zhoumi yang menyaksikan mereka dari kejauhan hanya bisa menghela napas pelan sebelum menyelinap masuk ke dalam gedung melalui pintu samping—tentu saja tanpa sepengetahuan semua reporter itu. Asal tahu saja, mungkin bila mereka melihat sosok Zhoumi di sekitar gedung agensi ini, mereka sudah pasti akan berhamburan ke arahnya dan menghujaninya dengan ratusan pertanyaan karena … bagaimana pun juga, ia adalah manajernya Park Yeon, kan?

“Kau ini kenapa lama sekali, sih?”

Sebuah tangan tiba-tiba terulur keluar sesaat setelah Zhoumi membuka pintu ruangan Daniel Kang. Tak pelak hal tersebut membuat dirinya yang sudah tertarik masuk ke dalam ruangan hampir terjungkal bila ia tak segera berpegangan pada rak besi yang ada di dekatnya.

Zhoumi ingin mengumpat, tapi setelah menyadari orang yang telah menariknya seperti itu adalah atasannya, Daniel Kang, ia terpaksa mengurungkan niatnya.

“Lain kali, biarkan saya masuk sendiri, Pak,” ucap Zhoumi sesopan mungkin sambil merapikan mantelnya.

“Baiklah, maaf. Tapi, lihatlah ini.”

Daniel Kang melesat kembali ke meja kerjanya dan memutar layar komputernya ke arah Zhoumi, menunjukkan garis berwarna merah yang menukik ke bawah dengan cukup tajam dan hampir menyentuh dasar grafik.

“Satu skandal dan semuanya bisa habis dalam hitungan jam. Kau tahu, ini adalah masalah serius,” kata Daniel Kang seraya mendaratkan dirinya kembali ke kursi kerjanya.

Zhoumi menghampiri meja Daniel Kang, dan menatap lurus ke arah layar komputer yang menampilkan bagaimana saham perusahaan turun drastis hanya karena berita Park Yeon.

“Ini bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan berita tentang drama debut Park Yeon yang gagal waktu itu. Mungkin skandal Kyuhyun dan Cherry beberapa bulan lalu tidak ada apa-apanya. Sampai pada titik ini, aku menyesal sudah sedikit meremehkan kepopuleran artisku sendiri.”

Gumaman Daniel Kang bisa didengar Zhoumi yang masih sibuk mengamati garis berwarna merah yang ada di layar komputer. Artisku? Zhoumi bisa menebak dengan tepat siapa yang dimaksud atasannya tersebut. Siapa lagi kalau bukan Song Park Yeon? Paras cantik, tubuh ideal meski sedikit pendek, murah senyum, ramah, blak-blakan, ceria, dan yang lebih penting : tengah berkencan dengan seorang aktor terkenal bernama Cho Kyuhyun.

Konyol bila poin-poin tersebut tidak membawa nama Park Yeon hingga ke puncak popularitasnya seperti kilat.

“Masih ada beberapa penanam saham yang bertahan. Garisnya tidak sampai menyentuh titik di bawah rata-rata,” ujar Zhoumi, tangannya meraih kursi yang ada di dekatnya.

Alih-alih menjawab, Daniel Kang menunjukkan ponselnya dan menghela napas. Berharap Zhoumi bisa membaca arti raut wajahnya. Namun, setelah beberapa detik tak mendapatkan tanggapan apapun dari pria bertubuh tinggi tersebut, akhirnya ia membuka mulut.

“Mereka sudah menghubungiku setengah jam yang lalu dan bilang kalau masalah ini tidak segera diselesaikan dalam kurun waktu dua puluh empat jam, mereka akan menarik saham mereka secara bersamaan.”

Zhoumi tampak sedikit terkejut mendengar penuturan Daniel Kang. Matanya kembali tertuju pada layar komputer.

“Pasti ada cara, Presdir,” kata Zhoumi pelan sambil menyandarkan punggungnya.

“Memang ada cara dan itu hanya satu : Kang Joo Myeok.”

Pandangan Zhoumi langsung terarah pada pria berambut hitam yang duduk di depannya tersebut.

“Dia tidak akan mau,” sahut Zhoumi.

“Dia harus mau karena bagaimana pun juga Max Ent. adalah perusahaannya.”

“Ini adalah masalah sepele, Presdir. Ini hanyalah rumor belaka dan—“

“Kyuhyun dan Park Yeon berkencan juga hanyalah rumor belaka sampai pada akhirnya mereka berdua menjadikan rumor tersebut kenyataan. Aku harap kau tidak lupa kalau agensi ini memiliki pengaruh besar di dunia hiburan Korea Selatan. Baiklah, aku harus menyebut D Ent. juga karena pada awalnya dua perusahaan ini adalah satu. Berita sekecil apapun yang keluar dari tempat ini akan menjadi besar dan meledak hingga kita sendiri tidak mampu mengendalikannya. Kepopuleran Cho Kyuhyun di dunia akting, kepopuleran boyband-boyband agensi ini yang berulangkali meraih penghargaan. Oh, dan jangan lupakan bagaimana Im Jaebum yang selalu sukses menggelar konser di luar negeri. Nama perusahaan ini ada di balik punggung mereka. Dan untuk saat ini, Park Yeon menjadi pusat perhatian semua orang. Kalau aku bisa menyimpulkan, ini bukanlah masalah sepele.”

Zhoumi sepenuhnya mengatupkan bibirnya. Semua yang dikatakan Daniel Kang memang benar.

“Bila dia tidak bisa, atau tidak mau membantu kita menangani masalah Park Yeon, setidaknya ia harus bisa membantu kita menyelamatkan saham perusahaan. Iya, kan?”

Kini tatapan Daniel Kang begitu lurus ke arah Zhoumi. Sebuah senyum tipis terulas di bibirnya ketika ia menyandarkan punggungnya.

“Bagaimana, Joo Myeok-ah? Kau … bisa, kan?” tanya Daniel Kang yang kemudian mendapati Zhoumi mengernyitkan keningnya.

“Apa?”

“Kang Joo Myeok …, aah …, kau tidak tahu sudah berapa lama aku berusaha menahan diri untuk tidak memanggil namamu sendiri. Zhoumi? Itu nama yang bagus, sih. Tapi aku lebih suka Joo Myeok. Nama yang selalu kupanggil sejak kau masih kecil. Hm? Jadi, bagaimana, Kang Joo Myeok? Kau mau menolong perusahaan ini, kan? Hei, sebenarnya aku ingin memukul wajahmu saat itu. Kau masih ingat,  sore tadi saat kita dengan bodohnya berbincang-bincang membahas D-Max Ent. dan bagaimana perusahaan itu terpecah menjadi dua? Lalu kita membahas Kang Joo Myeok? Kita berdua bertingkah seolah kita tidak tahu apapun tentang D Ent., Max Ent. dan pengecut bernama Kang Joo Myeok. ”

Zhoumi …, atau mungkin mulai sekarang kalian semua bisa memanggilnya Kang Jung Myeok karena itu adalah nama aslinya, hanya terdiam di kursinya.

.

.

3 hours before Press Conference ….

Hanya mengenakan handuk berbentuk piyama berwarna hitam, Zhoumi berdiri di depan almari besar yang baru saja ia buka. Di dalam sana tergantung semua pakaian yang biasa ia pakai sehari-hari. Kemeja polos dalam beberapa warna, T-shirt lengan panjang, dan beberapa jaket berwarna gelap.

Disibakkanya rambut bagian depannya yang masih basah sambil menghela napas panjang sebelum mengayunkan kakinya ke arah almari kaca yang ada di samping almari tersebut. Tangannya terulur membuka almari tersebut dan beberapa setelan jas hitam yang tergantung di dalamnya segera menyambutnya.

Pakaian-pakaian milik Kang Joo Myeok.

Kang Joo Myeok.

Ya, sudah bertahun-tahun ia menyembunyikan nama itu dan bahkan ia berhasil membuat semua orang percaya bahwa orang bernama Kang Joo Myeok tersebut menetap di Thailand dan tak memiliki niat sedikit pun untuk ikut campur dengan masalah dua agensi ini. Oh, ditambah bagaimana minimnya informasi tentang jati dirinya yang asli. Apakah usahanya tersebut akhirnya berakhir hanya karena masalah skandal Kyuhyun dan Park Yeon ini?

Sebenarnya ia tahu apakah keputusan yang ia ambil ini cukup tepat atau tidak. Masih banyak hal yang membuatnya ragu, tapi waktu tidak mau menunggunya untuk berpikir barang sedetik pun. Ia harus mendampingi Park Yeon dan membantu mencari jalan keluar untuk skandal wanita itu, tapi di sisi lain Max Ent. juga membutuhkannya. Membutuhkannya? Mungkin lebih tepatnya … membutuhkan sahamnya. Saham atas nama Kang Joo Myeok yang sudah yang bertahun-tahun tidak sepenuhnya tertanam di agensi tersebut.

“Kau sudah gila, Kang Joo Myeok,” gumamnya sambil mengambil salah satu setelan jas hitam dan menaruhnya di atas meja kaca. Butuh beberapa menit baginya untuk mengenakan setelan tersebut hingga akhirnya ia berdiri di depan cermin dengan penampilan yang sempurna. Tak ada lagi celana jeans dan T-shirt polos berwarna putih yang dipadu dengan jaket denim. Tak ada lagi rambut bagian depannya yang jatuh ke atas pelipis. Yang ada hanyalah … penampilan seorang pria berpostur tubuh tinggi yang begitu elegan dengan balutan setelan jas berwarna hitam dan tatanan rambut yang begitu rapi.

Ini bukan Zhoumi, melainkan Kang Joo Myeok.

[Hyung, kau ada di mana? Park Yeon Noona tidak mau makan apapun. Kurasa hanya kaulah yang bisa membujuknya untuk makan. Aku takut kalau nanti dia pingsan.]

Suara Moo Ryeong terdengar nyaring sesaat setelah ia mendekatkan ponsel ke daun telinganya. Ya, pagi ini ia memang berniat menghubungi Moo Ryeong, tapi ia tidak menduga ia akan mendapatkan suara senyaring ini dari pemuda tersebut dari seberang telepon.

“Kau masih di sana? Di apartemennya?” tanyanya sambil meraih kunci mobil dan berjalan ke arah pintu apartemennya.

[Iya. Di kamar mandi, lebih tepatnya. Hyung, aku benar-benar takut. Noona sudah benar-benar terlihat seperti monster yang bisa menyerangku kapan saja. Bahkan tadi dia hampir saja memecahkan gelas kopi yang coba kuberikan padanya.]

Suara Moo Ryeong terdengar ketakutan dan satu hal yang Zhoumi pahami adalah pagi ini Park Yeon sepertinya memang sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Atau mungkin istilah yang lebih spesifik : Park Yeon sedang marah besar. Wajar, sih. Namanya kembali dibahas dalam berita negatif. Aneh bila wanita itu tenang-tenang saja.

“Belikan sarapan untuknya dan katakan padanya kalau aku yang membelikan sarapan itu. Pakai uangmu dulu saja, nanti kuganti. Pokoknya pastikan dia memakan sarapannya. Kalau tidak, kau tahu siapa yang akan kucekik lehernya.”

Hanya itu yang diucapkan Zhoumi sebelum memutuskan pembicaraan mereka. Untuk beberapa detik ia memandangi layar ponselnya sebelum kembali memandang pantulan dirinya di cermin.

Tidak ada lagi waktu yang bisa ia gunakan untuk berpikir panjang. Situasinya sudah jauh di luar kendalinya. Max Ent. sudah terlanjur mengumumkan semuanya pada media. Ya, nasi sudah menjadi bubur.

Bila ia boleh sedikit berpikiran secara sarkas, semua orang seharusnya merasa senang karena akhirnya seseorang yang sejak dulu selalu menjadi misteri akhirnya akan membongkar jati dirinya.

Kang Joo Myeok, anak angkat pemilik asli D-Max Ent., yang mana secara hukum menjadi putra bungsu dari keluarga Kang dan memiliki saham lima puluh persen di masing-masing perusahaan. Atau dengan kata lain …, menjadi satu-satunya orang yang paling dibutuhkan ketika kedua kantor agensi tersebut mengalami masalah besar di bagian keuangan mereka.

Dan kebetulan, untuk saat ini Max Ent. yang sedang membutuhkan bantuannya.

 

oOo

 

at Park Yeon’s apartment ….

“Zhoumi … Oppa?”

Mendengar Park Yeon menyebutkan nama Zhoumi, Moo Ryeong seketika menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah pintu apartemen Park Yeon yang masih tertutup rapat.

“Mana? Tidak ada Zhoumi Hyung di sini,” gumam Moo Ryeong.

Tangan Park Yeon perlahan terulur ke arah televisi, menunjuk seorang pria berpakaian rapi yang muncul di layar televisinya. “Itu. Dia … terlihat mirip sekali dengannya,” kata Park Yeon pelan.

Moo Ryeong kembali menoleh ke arah televisi. Butuh beberapa detik baginya untuk menaikkan kedua alis matanya dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia pun juga ikut menunjuk televisi tersebut. Sungguh, beberapa kali ia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat. Bahkan ia beranjak dari kursi yang sejak tadi didudukinya dan berjalan mendekati televisi tersebut.

“Iya. Dia … sangat mirip dengan Zhoumi Hyung. Tapi kenapa ….”

Suara Moo Ryeong tenggelam begitu saja saat satu dugaan muncul di dalam kepalanya.

“Apa Zhoumi Hyung memiliki saudara kembar?” tebak Moo Ryeong sambil menoleh ke arah Park Yeon.

Park Yeon tidak menggubris pertanyaan Moo Ryeong. Ia sibuk mengamati semua gerak-gerik pria yang disebut sebagai Kang Joo Myeok tersebut. Ia mengenalnya. Ia sangat mengenalnya. Dari cara pria tersebut menggerakkan bibirnya ketika berbicara, cara pria tersebut tersenyum, cara pria tersebut menaikkan kedua alis matanya. Oh, ia juga sangat mengenal bagaimana bentuk mata, hidung, struktur wajah pria tersebut dengan baik karena ia selalu mengamatinya setiap kali pemilik wajah tersebut terlelap di atas sofa yang ada di apartemennya.

Park Yeon mengenal Zhoumi dengan sangat baik! Terlalu baik, mungkin. Tapi kali ini … entah kenapa ia merasa ia tidak mengenalnya sama sekali. Kang Joo Myeok?

“Kalau dia memang Zhoumi Hyung, kenapa dia menyebut dirinya dengan nama itu? Dan …” Moo Ryeong memberi jeda pada kata-katanya. Ia mengernyitkan kening untuk beberapa detik, mencoba membiarkan otaknya bekerja, hingga pada akhirnya ia menemukan satu lagi dugaan. “ASTAGA!!”

Pekikannya berhasil membuat Park Yeon terperanjat di atas kursinya.

Noona!”

Park Yeon harus melemparkan salah satu sumpit yang ada di dekatnya pada kepala pemuda tersebut.

“Kau mau kubunuh, hah?” desis Park Yeon, berusaha mengatur degup jantungnya yang cukup tak karuan karena pekikan Moo Ryeong yang tiba-tiba.

Seolah tak mengindahkan ancaman Park Yeon, pemuda tersebut melesat kembali ke meja makan dan menarik kursi yang tadi ia tinggalkan ke dekat Park Yeon. Ekspresinya begitu semangat ketika ia ingin memberitahu apa yang ada di kepalanya. Tangannya bahkan mengacungkan sumpit yang dilempar Park Yeon padanya.

Noona, jangan-jangan Zhoumi Hyung yang selama ini kita kenal adalah Kang Joo Myeok,” ujar Moo Ryeong mantab dengan nada suara yang cukup pelan.

Tak ada tanggapan dari Park Yeon. Wanita itu hanya terdiam memandang Moo Ryeong dengan kernyitan di keningnya.

“Selama ini semua orang tidak ada yang tahu bagaimana sosok Kang Joo Myeok, kan? Menyamar menjadi orang lain adalah cara bersembunyi yang paling baik. dan Zhoumi Hyung … wah … benar-benar … akh~!” Moo Ryeong tak bisa melanjutkan kata-katanya karena Park Yeon kembali memukul kepalanya. Kali ini dengan menggunakan tangannya sendiri.

“Bicaralah sesukamu. Tapi aku tidak akan percaya apapun yang kau katakan,” ujar Park Yeon ketus.

“Aku hanya berasumsi, Noona! Saat aku dan Zhoumi Hyung membahas Kang Joo Myeok, dia bertingkah seolah dia tidak mengenal siapa itu Kang Joo Myeok. Dia hanya sebatas tahu kalau Kang Joo Myeok adalah salah satu orang yang berpengaruh di D Ent. dan Max Ent. Sekarang lihatlah bagaimana orang yang bernama Kang Joo Myeok ini muncul. Baiklah, kalau dia bukan kembaran Zhoumi Hyung, setidaknya dugaanku masuk akal, kan?”

Park Yeon hanya memberikan dengusan keras sebelum bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kamarnya. Beberapa detik kemudian ia keluar dengan sebuah mantel panjang berwarna abu-abu dan topi hitam.

“Aku akan memastikan sendiri siapa dia sebenarnya? Sebut saja, soal kembaran yang kau sebutkan tadi benar meski tidak masuk akal sama sekali.”

Hanya itu yang diucapkan Park Yeon sebelum melesat keluar sambil mengenakan penyamarannya. Moo Ryeong yang kelabakan mengejar Park Yeon harus menerima nasibnya yang kurang beruntung karena dengan cerobohnya ia tersandung kakinya sendiri setelah ikut keluar dari apartemen Park Yeon.

“Kau ini ceroboh sekali, sih?” desis Park Yeon seraya mengenakan kacamata hitam.

“Huh, kau pikir kau tidak?” gerutu Moo Ryeong pelan, mengusa-usap lututnya yang berdenyut.

Reaksi yang ditunjukkan Kyuhyun tak jauh berbeda dengan Park Yeon. Hanya … sedikit berlebihan, mungkin. Air dingin yang baru masuk ke dalam mulutnya terpaksa menyembur keluar dengan cukup dramastis hingga menyiram kepala Park Jung Soo. Handuk kecil yang sedari tadi ada di tanganya terjatuh begitu saja ke atas lantai apartemennya.

Hyung, apakah yang sedang kau pikirkan sama dengan apa yang sedang kupikirkan?” gumam Kyuhyun sambil mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Matanya masih tertuju pada layar televisi yang tengah menyiarkan siaran langsung konferensi pers pemilik saham terbesar di Max Ent.

“Maaf. Aku tidak sedang memikirkan apapun karena kepalaku terasa sangat dingin saat ini,” jawab Jung Soo asal tanpa menoleh ke arah Kyuhyun. Tangannya sibuk mencabut beberapa helai tisu untuk mengeringkan rambutnya yang sedikit basah karena ulah Kyuhyun.

Kyuhyun lantas meminta maaf dan terlihat cukup menyesal, namun perhatiannya kembali terfokuskan pada layar televisi. Keningnya kembali berkerut hingga kedua alis matanya hampir menyatu.

“Jadi, selama ini aku memaki-maki seorang pemilik saham terbesar di D Ent. dan Max Ent.? Benar begitu? Bahkan mungkin dia bisa disebut sebagai seseorang yang … memiliki kuasa di Max Ent.? Hyung, katakan apa yang baru saja aku katakan adalah salah,” ucap Kyuhyun frustrasi.

“Andai aku bisa menjawabmu, mungkin aku akan mengatakan bahwa kau salah. Tapi … pada kenyataannya … kau benar.”

Jawaban Jung Soo semakin membuat Kyuhyun frustrasi. Diacak-acaknya rambutnya hingga ia terlihat seperti gelandangan.

“Aku sudah bisa membayangkan bagaimana dia memandang rendah padaku dan … sial! Dari semua orang yang hidup di dunia ini, kenapa harus dia, hah?! Kenapa harus manusia menyebalkan yang sok keren itu?!”

Ya, Kyuhyun tahu, menggerutu seperti ini tidak akan bisa menolongnya. Sebenarnya sejak ia menjadi seorang trainee hingga ia sudah menjadi aktor terkenal seperti sekarang ini, sosok Kang Joo Myeok sudah membuatnya penasaran. Hanya mungkin karena kehidupannya yang semakin lama semakin dipenuhi oleh jadwal ini itu, rasa penasarannya pun akhirnya berkurang sedikit demi sedikit. Namun, ia tidak sama sekali tidak menduga rasa penasarannya yang hampir hilang itu terjawab pagi ini.

oOo

Park Yeon berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung Max Ent tanpa tertangkap basah oleh kerumunan wartawan yang baru saja keluar. Usaha yang ia keluarkan patut diacungi jempol karena beberapa kali ia hampir menabrakkan kepalanya ke dinding kaca untuk menghindar dari wartawan-wartawan tersebut.

Akan tetapi, tatapan mata beberapa pegawai di gedung tersebut yang terkesan begitu menyeramkan membuatnya sedikit bergidik ngeri. Ya, ia tahu mereka sedang menghakiminya. Dan semua itu pasti karena berita skandal yang beberapa hari ini masih menjadi topik utama di semua berita hiburan. Menyebalkan sekali.

“Tidak ada?” bisik Park Yeon setelah menarik lengan Moo Ryeong yang baru saja keluar dari lift.

“Zhoumi Hyung sudah pergi beberapa menit yang lalu,” jawab Moo Ryeong pelan.

Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman di benak Park Yeon ketika pemuda tersebut menyebutkan nama Zhoumi meski mereka datang ke gedung ini untuk bertemu dengan seseorang bernama Kang Joo Myeok.

Menyadari perubahan ekspresi di wajah Park Yeon, Moo Ryeong lantas menghela napas pelan.

Noona, tampaknya memang benar apa yang mereka katakan tadi. Kang Joo Myeok adalah Zhoumi Hyung. Dia bukan kembarannya ….”

“Bukankah sudah kubilang tadi? Mustahil bila dia mempunyai saudara kembar. Itu hanya terjadi di dunia drama saja,” gumam Park Yeon pelan sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakangnya. Matanya memandang ke udara kosong yang ada di samping bahu Moo Ryeong. Untuk beberapa detik, pandangannya terlihat kosong, seolah ia terlarut ke dalam sesuatu yang tengah ia pikirkan begitu dalam.

Park Yeon memang terlarut dalam pikirannya sendiri. Sungguh, ia sedang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Semua ini terjadi begitu cepat ketika ia sendiri belum selesai menyelesaikan berita skandal yang menyeret namanya.

“Zhoumi, Kang Joo Myeok, Max Ent., D-Ent., haaah …, kepalaku pusing,” keluh Park Yeon, mengusap-usap keningnya dengan sedikit kasar kemudian memukul lengan Moo Ryeong dengan tiba-tiba hingga membuat pemuda berambut hitam tersebut berjingkat dari tempatnya karena terkejut.

“Kita ke apartemennya Zhoumi Oppa sekarang,” desis Park Yeon kesal sambil menarik lengan Moo Ryeong.

“Apa Noona tahu Zhoumi Hyung tinggal di apartemen nomor berapa? Jujur aku hanya tahu alamat gedung apartemennya, tapi aku tidak tahu yang mana apartemennya.”

Ucapan Moo Ryeong menghentikan langkah Park Yeon. Dengan cepat ia memutar tubuhnya menghadap pemuda tersebut. Wajahnya sudah sangat kesal.

“Kau belum pernah melihat orang marah mengetuk semua pintu apartemen yang ada di gedung itu satu per satu, kan? Sebentar lagi kau akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri,” ucap Park Yeon dengan geram.

Sebaiknya kau turuti saja apa kata seorang wanita yang tengah marah besar, Moo Ryeong. Itu lebih baik daripada kau mati karena dibunuh olehnya.

Ya, Moo Ryeong memang menuruti apa kata Park Yeon. Mengantarkan Park Yeon ke gedung apartemen Zhoumi memang mudah, tapi yang membuatnya bingung dan bertanya-tanya adalah apakah wanita itu benar-benar akan mengetuk semua pintu yang ada di gedung tersebut?

Oh, itu memang akan dilakukan Park Yeon. Lihatlah bagaimana wanita berparas cantik itu keluar dari mobil setelah menyuruh Moo Ryeong agar tetap berada di dalam mobil. Sorot matanya tertuju langsung pada lift setelah ia masuk ke dalam gedung apartemen mewah.

Sesaat setelah ia berada di dalam lift, ia langsung bersandar pada dinding lift dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk beberapa detik. Dihelanya napas panjang setelah merapikan rambutnya sekilas.

“Dia benar-benar berhutang penjelasan padaku,” desisnya pelan.

Park Yeon baru akan melangkah keluar dari lift sedetik setelah lift berhenti dan pintu terbuka ketika sosok Cherry tiba-tiba muncul di depannya. Meski sama-sama terkejut melihat kemunculan satu sama lain, Cherry masih bisa mengendalikan ekspresi tenang dan elegan di wajahnya.

“Kenapa kau ada di sini?”

Pertanyaan bernada ketus itu lolos begitu saja dari bibir Park Yeon setelah ia keluar dari lift dan menyibakkan rambutnya.

“Sebenarnya aku juga memiliki pertanyaan yang sama untukmu,” jawab Cherry sambil tersenyum.

Park Yeon mendengus pelan. Melihat wanita yang sedikit lebih tinggi darinya itu tersenyum sudah membuatnya ingin mengumpat. Ia berharap wanita tersebut masih ingat apa yang sudah dia lakukan padanya.

“Kalau kau kemari mencari manajermu, dia tidak ada di apartemennya,” kata Cherry beberapa detik kemudian.

Tentu saja ucapan Cherry mengejutkan Park Yeon. Bagaimana dia bisa tahu kalau Zhoumi tidak ada di apartemennya? Bagaimana orang lain bisa tahu di mana Zhoumi tinggal sedangkan dirinya yang sudah jelas-jelas adalah artis yang sedang diurusnya tidak tahu di apartemen nomor berapa dia tinggal?

Seolah bisa membaca raut wajah Park Yeon, Cherry lantas menaikkan kedua alis matanya. Ia sedikit tidak percaya.

“Jangan bilang … selama ini kau tidak tahu di mana manajermu tinggal,” tebak Cherry.

Ha, Park Yeon tidak perlu memberikan jawaban apapun karena desisan kesalnya sudah cukup memperlihatkan betapa kesal dirinya ketika apa yang dikatakan Cherry memang benar.

“Dan kau … tahu di mana dia tinggal?” tanya Park Yeon pelan dengan sedikit ketus.

Cherry mengangguk ringan dan berkata, “Aku sudah tahu di mana dia tinggal … sejak … dulu.”

Sejak dulu.

Emosi Park Yeon semakin lama semakin bertambah dan ia tidak tahu harus meluapkannya di mana dan kepada siapa.

Eonnie—“

“Bagaimana aku bisa tahu di mana dia tinggal sementara kau tidak? Itukah yang ingin kau tanyakan? Begini, Park Yeon ….”

Belum sampai Cherry memberitahu Park Yeon tentang sesuatu, ponsel yang sejak tadi ada di tangannya bergetar. Mau tidak mau Park Yeon pun membuang wajahnya ke arah lain, membiarkan Cherry untuk menerima telepon dari siapapun itu.

“Jadi, apa yang ingin kau—“

“Maaf, Park Yeon. Aku harus segera pergi. Ada acara mendadak yang harus kuhadiri.” Cherry menepuk sekilas bahu Park Yeon sebelum mengayunkan kakinya ke arah lift. Namun, ia menoleh ke arah Park Yeon setelah menekan salah satu tombol yang ada di dekat pintu lift.

“Apartemen nomor 425.”

Hanya itu yang diucapkan Cherry sebelum masuk ke dalam lift. Meninggalkan Park Yeon yang termenung di tempatnya.

Apartemen nomor 425.

Apakah Cherry baru saja memberitahunya di mana Zhoumi tinggal?

Kenapa setelah mendengar Cherry mengatakan hal itu hatinya terasa sakit?

oOo

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari yang cukup melelahkan bagi Park Yeon yang seharian berada di luar, mencoba mencari keberadaan Zhoumi yang hilang ditelan bumi setelah mengadakan konferensi pers. Ya, ia memang menemukan apartemen Zhoumi seperti yang Cherry katakan padanya. Tapi ia tidak menemukan siapapun di sana. Ia sudah lupa berapa kali ia menekan bel yang ada di dekat pintu apartemen tersebut. Ratusan kali, mungkin. Oh, jangan lupakan bagaimana ia menggedor-gedor pintu tersebut seperti orang gila setelah lelah menekan bel.

Noona, kau yakin kau tidak apa-apa?” tanya Moo Ryeong yang terpaksa memutuskan untuk mengantarkan Park Yeon hingga ke apartemen wanita tersebut.

“Apa aku terlihat dalam keadaan tidak apa-apa?” balas Park Yeon dengan nada yang sedikit lemah. Ia sudah lelah berteriak-teriak. Rasanya ia ingin segera membaringkan dirinya ke atas tempat tidurnya yang empuk dan tidur.

“Biar aku yang membukakan pintu.” Moo Ryeong mencegah Park Yeon yang akan membuka pintu apartemen dan membukakan pintu tersebut untuk Park Yeon. “Silakan masuk.”

Park Yeon hanya mengusap pelan kepala Moo Ryeong sebelum masuk ke dalam apartemennya.

“Apa kau ingin kubuatkan kopi panas?” Moo Ryeong menutup pintu dengan pelan. Ia baru akan melepaskan sepatunya ketika matanya menangkap sepasang sepatu hitam mengkilat tergeletak di dekat rak sepatu yang ada di dekat pintu. Tampaknya Park Yeon tak menyadari adanya sepasang sepatu tersebut ketika mengambil sandal.

“Bagaimana bisa kau menawari secangkir kopi pada seseorang yang ingin segera tidur?” ujar Park Yeon sambil memijat tengkuknya.

“Kalau begitu … teh panas? Susu coklat? Coklat panas?” Moo Ryeong masih saja menawari Park Yeon minuman.

“Aku tidak mau semuanya. Kalau kau ingin minum sesuatu, buat saja sendiri di dapur ….”

Park Yeon mendadak menghentikan kakinya yang sejak ia seret saat ia memasuki ruang tengah.

Di sana, di dekat sofa, sudah berdiri seorang pria tinggi yang tengah melepaskan kancing yang ada di ujung lengan kemeja putihnya. Jas hitam miliknya sudah tergeletak di salah satu sofa. Kepalanya menoleh ke arah Park Yeon saat ia mendengar suara wanita itu.

Dan Park Yeon ….

Park Yeon … tidak harus bereaksi seperti apa setelah mengenali siapa pria tersebut.

“Kau sudah pulang? Ke mana saja kau seharian ini?” tanya Zhoumi.

Itu adalah pertanyaan pertama yang Park Yeon dengar …, tidak, mungkin lebih tepatnya …, itu adalah suara pertama yang ia dengar dari pria tersebut secara langsung setelah apa yang terjadi hari ini. Setelah seharian ia lelah mencarinya.

Berbeda dengan sikap Park Yeon yang tampak seperti menahan amarah, Moo Ryeong justru merasa sangat canggung ketika Zhoumi memandangnya. Ia tidak tahu apakah ia harus memanggilnya Hyung seperti yang biasa ia lakukan atau harus membungkuk dan menyapanya secara formal dan sopan.

Zhoumi yang sekarang mereka lihat bukan hanya seorang manajer artis, tapi juga merupakan putra bungsu pemilik asli D-Ent. dan Max Ent.

“Kau … bisa pulang sekarang, Moo Ryeong. Istirahatlah,” perintah Park Yeon pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Zhoumi.

Tidak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya Moo Ryeong pun menuruti apa kata Park Yeon. Setelah beberapa saat mengalami kesulitan berpamitan pada Zhoumi, ia pun keluar dari apartemen Park Yeon. Meninggalkan Park Yeon dan Zhoumi yang masih berdiri di tempat masing-masing.

“Kenapa masih berdiri di situ? Lihatlah wajahmu dan …,” Zhoumi memberi jeda pada kata-katanya ketika menyadari Park Yeon masih mengenakan setelan baju tidur di balik long cardigan tipis. “Kau belum mandi sejak pagi, ya?”

Melihat bagaimana tenangnya Zhoumi seolah tidak terjadi apa-apa, Park Yeon hanya bisa tersenyum getir. Disibaknya poni rambutnya yang entah kenapa sekarang begitu menganggu dirinya. Sambil berkacak pinggang, ia membuang wajahnya ke arah lain. Mencoba menahan air mata yang berusaha membuat matanya berkaca-kaca.

Ini sangat menyebalkan sekali.

Sangat menyebalkan!

“Ada apa denganmu?” Tiba-tiba saja kini Zhoumi sudah berdiri di hadapan Park Yeon. Tangan besarnya terulur merapikan rambut Park Yeon, namun mendapat penolakan.

“Maaf, Zhoumi Opp—tidak, maksudku … Kang Joo Myeok-ssi. Kang Joo—aaah …, ini … Oppa, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba muncul sebagai Kang Joo Myeok atau siapapun itu? Kenapa aku tidak tahu nomor apartemenmu? Kenapa aku harus tahu dari Cherry Jung? Tidak, bukan itu maksudku bertanya. Tapi … kenapa Kang Joo Myeok? Aah, aku bahkan tidak tahu apa yang sejak tadi kubicarakan,” Park Yeon mengomel panjang lebar tanpa memerhatikan bagaimana Zhoumi menunduk memandangi dirinya.

“Kau terkejut?”

“Tentu saja!”

Suara Park Yeon yang cukup keras berhasil mengejutkan Zhoumi.

“Aku tidak tahu apakah aku harus marah padamu atau menangisi diriku yang bodoh yang sepertinya tidak tahu tahu apa-apa. Kang Joo Myeok-ssi, aku—haaah, bahkan bibirku terasa aneh memanggilmu dengan nama aneh itu,” Park Yeon mengomel lagi dalam satu tarikan napas.

“Maaf.”

“Tentu saja kau harus meminta maaf padaku!”

Sekali lagi Zhoumi terperanjat karena terkejut mendengar suara Park Yeon. Jarak mereka pun tidak lebih dari satu langkah, tapi Park Yeon masih harus mengeraskan volume suaranya karena kemarahannya yang tidak bisa ia kendalikan lagi.

Aku bahkan tidak bisa mengerti kenapa aku bisa semarah ini padamu.

Aku merasa seperti seorang wanita yang marah karena seharian tidak bisa menghubungi kekasihnya sendiri.

to be continued

Hai, omg sorry kalau sekarang jarang pake banget update ff yang satu ini. Maklum saya seorang wanita yang sibuk bekerja hahahaha. Seenggaknya bisa nyelesein chapter yang satu ini.

Tenang aja. Ending partnya nggak bakal lama lagi kok. tinggal beberapa chapter lagi abis itu tamat lol alisa tinggal dikiiiiiiiit lagi.

Thank you buat yang masih mau mampir ke sini + yan masih nungguin fanfic abal-abal ini TT-TT I love you all

 

Advertisements
Leave a comment

11 Comments

  1. Kimtwme

     /  July 27, 2017

    Wow penyamaran yang benar benar bagus

    Reply
  2. watiD'Elf

     /  July 28, 2017

    Akhirnya update juga😃😃😃
    langsung capcus baca

    Reply
  3. lisa

     /  July 28, 2017

    Zhoumi kayaknya bkalan ma park yeon. Tp jujur aq gk rela klau kyuhyun ma chery jung😤

    Reply
  4. Kyuyang

     /  July 30, 2017

    Yesss yeon kyanya bsklan sma zoumi dehh yeyy ga ush jadi pacar an boongan kyuhyun lagi yg sangat menyakitkan itu huhh
    Liat aja kyuhyun gmna klo ktmu sma zoumi wkwkkss

    Reply
  5. Monika sbr

     /  July 30, 2017

    Woaah…. Gemes banget sama park yeon yg marah2 pada Zoumi karena merasa dibohongi oleh identits aslinya. Pengen banget mereka bisa benar2 jadian.
    Jangan lama lg ya thor utk kelanjutannya.

    Reply
  6. Monika sbr

     /  July 30, 2017

    Woaah…. Gemes banget sama park yeon yg marah2 pada Zoumi karena merasa dibohongi oleh identits aslinya. Pengen banget mereka bisa benar2 jadian.
    Jangan lama lg ya thor utk kelanjutannya.

    Reply
  7. Mantap zhomin

    Reply
  8. uchie vitria

     /  July 31, 2017

    sudah kuduga kalo dari part” sebelumnya kalau zhoumi emang kang jeon myeok
    semoga scandal park yeon cepet terselesaikan dna gk usah lagi lah berurusan sama kyuhyun juga cherry jung yang bisanya hanya memanfaatkan park yeon demi asmara mereka berdua

    Reply
  9. Sarti prihatin

     /  August 14, 2017

    Akhirnya rahasia zhoumi terungkap juga. Apakah yang akan dilakukan oleh yeona setelah tau tentang zhoumi? Bagaimana pula nasib nya setelah ada scandal antara yeona dan kyuhyun? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting. Kalau bisa jangan lama-lama.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: