HOT ISSUE [Part 10]


12

HOT ISSUE [Part 10]

*

*

*

==========================

Sinar matahari hangat yang menyeruak masuk ke dalam kamar Park Yeon perlahan tergantikan oleh panas yang menyengat bila mengenai kulit. Park Yeon yang duduk bersandar di headboard tempat tidurnya membiarkan sinar matahari tersebut mengenai tubuhnya yang masih berbalut piyama tidur tipis.

Berulang kali ia menghela napas berat. Kepalanya terasa berat dan pusing karena semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

‘Hentikan permainan konyol itu sekarang juga.’

‘Apakah ini yang kau inginkan setelah mengorbankan hampir semua hidupmu selama sepuluh tahun di basement Max Entertainment, hah?! Apakah semua kerja kerasmu selama itu hanya kau bayar dengan hal-hal tidak berguna seperti itu?! Melihatmu berurusan dengan mereka berdua membuatku tidak bisa berpikir dengan tenang, tahu tidak? Setiap hari aku selalu mengkhawatirkanmu, selalu bertanya-tanya apa lagi yang akan terjadi padamu esok hari setelah hari ini. Kalau aku tahu menjadi manajer akan sesulit ini, aku tidak akan pernah mau bekerja sebagai manajer artis. Aku bertanya pada manajer artis lain yang kukenal, tapi yang mereka lakukan tidak sepertiku. Jadi, kumohon berhentilah.’

Ia menerjunkan wajahnya ke bantal yang ada di depannya dan mengerang. Tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya sendiri. ucapan Zhoumi masih saja terngiang di benaknya hingga pagi ini.

Baiklah, Park Yeon akui ia tidak bisa tidur karena tidak bisa menghilangkan suara manajernya itu dari dalam kepalanya.

Menyebalkan sekali.

Oh, dan perutnya yang keroncongan membuat suasana hatinya semakin memburuk pagi ini. Sambil menggerutu, ia turun dari tempat tidur dan meraih cardigan panjang berwarna hitam. Langkah kakinya begitu lemah saat ia menyeretnya keluar dari kamar.

Ponsel yang sedari tadi ia genggam kini ia letakkan di dekat kompor gas sebelum ia mengisi panci kecil dengan air dan meletakkannya ke atas kompor gas.

“Ramen yang panas dengan telur adalah sarapan terbaik untuk pagi ini,” gumamnya sambil menguap lebar-lebar. Diambilnya satu bungkus ramen instan dari laci yang ada di dekatnya.

Ha, sarapan terbaik? Baiklah, sebut saja begitu mengingat tidak ada apa pun di dapurnya hari ini. Di lemari pendingin yang ia beli dengan harga mahal pun hanya berisi beberapa botol air mineral dan satu pack telur ayam mentah.

Mungkin Zhoumi akan memarahinya bila dia ada di sini pagi ini. Kemudian ia akan mendengar pidato manajernya yang panjang lebar mengenai macam-macam sarapan yang baik dan pantas dimakan untuk seseorang sepertinya.

“Setidaknya dia tidak ada di sini,” gumamnya lagi sambil mengambil ponselnya. Sembari menunggu airnya mendidih, ia mencoba melihat beberapa pesan. Okay, satu pesan dari Zhoumi tentang jadwal pertama hari ini adalah pemotretan untuk wawancara drama baru dan itu akan dilaksanakan nanti siang.

Itu artinya … ia memiliki waktu kosong pagi ini hingga siang nanti.

Kabar yang cukup bagus untuk hari ini.

“Jaebum?” Park Yeon terpaksa mengernyitkan keningnya saat melihat nama Jaebum terdapat di daftar panggilan tak terjawab pagi ini. Sedetik kemudian ia menghela napas. Ia yakin anak itu pasti berusaha mengerjainya saat ia masih tidur. Lihat saja berapa kali penyanyi tersebut mencoba menghubunginya.

“Oh, sudah mendidih.”

Perhatiannya teralihkan pada panci berisi air mendidih yang ada di depannya. Tangannya yang bebas terulur ke arah ramen yang tak jauh dari kompor. Dan ia baru akan menyentuh ujung bungkus ramen tersebut ketika ponselnya bergetar dan berdering secara tiba-tiba.

Terkejut? Tentu saja.

Akan tetapi, yang membuatnya memekik adalah tanpa sengaja ia menjatuhkan ponselnya ke dalam panci berisi air mendidih tersebut. Sial!

“Astaga!”

Dengan cepat ia mematikan kompor gasnya dan mondar-mandir mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk mengangkat panci panas tersebut dari atas kompor. Karena pikirannya yang sudah tidak karuan, ia langsung melepaskan cardigan hitamnya.

“Ponselku! Ponselku!”

Ia mendaratkan panci panas tersebut ke dalam bak cuci piring dan menyalakan kran air tepat di atasnya. Setelah memastikan air panas yang ada di dalam panci tersebut berkurang, ia langsung mengambil ponselnya.

Oh, bagus. Selain basah kuyup, ponsel tipis tersebut tidak bisa dinyalakan alias mati total.

Yaa, kenapa begini? Kenapa kau … aaaaah, sial!” Park Yeon menghentak-hentakkan kakinya ke lantai karena geram mendapati ponselnya mati karena kecerobohannya sendiri.

Song Park Yeon, kau tak lebih dari bodoh atau idiot.

Belum selesai meratapi ‘kematian’ ponselnya, ia mendengar suara bel dari arah pintu apartemennya yang tertutup rapat.

“Iya, sebentar!”

Park Yeon tidak tahu apakah teriakannya bisa didengar oleh siapapun orang yang ada di depan apartemennya itu karena hanya respons itu yang bisa ia berikan mengingat ia masih dalam keadaan yang belum pantas untuk menerima tamu. Tidak mungkin ia membiarkan tamunya melihatnya dengan piyama tidur yang tipis ini. Iya, kan? Ditambah panjang piyamanya tersebut hanya sebatas pahanya.

Seksi, memang. Tapi tetap saja, bodoh bila ia menunjukkannya.

“Bisakah orang itu berhenti membunyikan bel?” gerutu Park Yeon yang baru saja berhasil memakai celana training dalam hitungan kurang dari lima detik dan kini meraih jaket kulit hitam berukuran sedikit besar untuk menutupi tubuh atasnya yang terbalut piyama tipis.

Gerutuannya tak kunjung berhenti takkala ia berlari kecil ke arah pintu sambil menaikkan resleting jaketnya. Bibirnya baru berhenti bergerak sesaat setelah ia membuka pintu dan melihat sosok Jaebum sudah berdiri tepat di depannya dengan sangat tampannya.

Baiklah, lupakan bagian ‘sangat tampannya’ karena itu hanyalah reaksi yang bertahan tak lebih dari satu detik bagi Park Yeon.

“Kenapa kemari?”

Alih-alih mengucapkan sesuatu yang sedikit lebih manis saat menyapa seorang tamu, Park Yeon justru melontarkan pertanyaan itu begitu saja pada Jaebum dengan nada yang sangat datar.

“Bisa ikut denganku?” tanya Jaebum.

Tentu saja Park Yeon harus mengernyitkan keningnya. Ikut dengannya? Sepagi ini? Gila, ya? Apa anak ini mencoba mencari masalah?

“Sarapan. Aku ingin mengajakmu sarapan. Kau … pasti belum sarapan, kan?”

Untuk kedua kalinya, Park Yeon mengernyitkan keningnya. Beberapa dugaan aneh muncul di dalam kepalanya. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba anak ini mengajaknya sarapan? Tunggu sebentar. Sebenarnya dia memang sudah ribuan kali mengajaknya sarapan bersama sejak ia debut, tapi itu hanya melalui telepon dan pesan. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya ….

“Apa kau membuat skandal baru lagi?”

“Bagaimana Noona bisa tahu?”

Ha, Park Yeon bukannya terlalu cerdas atau bagaimana, tebakan itu muncul begitu saja dan ia cukup yakin bahwa tebakannya tepat.

“Jaebum-ah, aku tahu kau adalah penyanyi terkenal yang sangat tampan dan digilai banyak gadis di luar sana. Meski sebenarnya gadis-gadis itu yang sudah gila karena tidak bisa mengidolakan seseorang dengan akal sehat mereka dan—“

“Lanjutkan saja omelanmu nanti setelah kita sampai di tempat yang akan kita tuju.”

Ucapan Park Yeon terputus begitu saja karena Jaebum tiba-tiba menarik tangannya hingga ia terpental keluar dari dalam apartemennya sendiri. Bahkan ia juga dipaksa untuk mengunci tempat tinggalnya tersebut sebelum diseret ke dalam lift.

“Adegan penculikan episode ke-dua?” desis Park Yeon saat mereka berada di dalam lift.

“Bisa dibilang begitu,” Jaebum menjawab sedetik kemudian. Tangannya sibuk membenarkan letak topi hitam pada kepala Park Yeon. “Setelah keluar dari lift, jangan lupa turunkan topimu agar tidak ada orang yang mengenalimu.”

Park Yeon tidak berkata apa-apa dan hanya menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang ada di belakangnya.

“Ngomong-ngomong ….,” Jaebum memberi jeda pada kata-katanya saat mengamati Park Yeon dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Noona, kau yakin ini adalah selera fashion-mu? Celana training warna abu-abu, jaket kulit berwarna hitam dan sepasang sandal? Kau mau membuat trend baru?”

Lirikan tajam diluncurkan Park Yeon ke arah Jaebum, namun hanya mendapat kekehan pelan dari pemuda tersebut. Kalau itu bukan pertanyaan, melainkan ejekan, ia hanya akan membiarkannya saja. Toh, anak itu selalu membuatnya kesal dengan ejekan-ejekan semacam itu.

Ia sedang lapar. Sangat kelaparan. Kali ini, ia hanya akan membiarkan Jaebum hidup karena anak itu yang akan membayari sarapan mereka nanti.

oOo

Park Yeon tak berhenti mengumpat di dalam hati sambil menatap Jaebum dengan ketus. Oh, dengan kurang ajarnya, pemuda itu sama sekali tak terintimidasi. Dia justru sibuk mengupas telur-telur rebus yang ada di depannya.

Park Yeon … tidak habis pikir Jaebum akan mengajaknya sarapan di sini. Seingatnya tempat ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai tempat yang pas untuk sarapan karena ….

“Sauna? Yang benar saja ….,” desis Park Yeon sambil menyandarkan bahu dan kepalanya pada dinding bata yang ada di sampingnya.

Untuk beberapa detik ia mengedarkan matanya, mengamati suasana di dalam sauna kecil yang letaknya cukup jauh dari keramaian kota. Yang bisa ia lihat hanyalah beberapa orang tua yang membentuk kelompok kecil sambil duduk di atas lantai sauna yang hangat. Beberapa dari mereka ada yang berbaring. Tak ada televisi, yang ada hanyalah lantunan lagu-lagu lama yang ia pikir mungkin lagu-lagu itu dirilis jauh sebelum ia dilahirkan.

“Bibi yang tadi memberiku bonus satu bungkus kimbap lagi. Jadi kita memiliki empat bungkus. Cukup kenyang dengan beberapa telur rebus ini. Bagaimana, Noona?” Jaebum awalnya masih memasang wajah polos hingga ia menegakkan kepalanya untuk memandang Park Yeon yang masih memberikan ekspresi kesal padanya. “Kau … marah padaku?”

“Menurutmu? Apa aku harus berterima kasih, hah? Aku bukannya komplain, aku hanya merasa sedikit kesal padamu,” jawab Park Yeon dengan ketus.

“Heeeei, ini adalah tempat yang cukup baik bagi kita dibanding Royal Palace. Tidak ada orang yang mengenal kita di sini,” sahut Jaebum  seraya mendekatkan satu bungkus kimbap ke depan Park Yeon. “Makanlah. Itu masih hangat.”

Tidak ada yang bisa dilakukan Park Yeon. Memarahinya juga percuma.

“Terima kasih,” gumam Park Yeon pelan seraya memasukkan satu potongan kimbap ke dalam mulutnya. Jaebum yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan meluruskan kakinya ke atas lantai setelah sejak tadi ia duduk bersila.

Untuk beberapa saat meja Park Yeon dan Jaebum terlihat hening. Park Yeon sibuk menyuapi dirinya sendiri dengan potongan-potongan kimbap tersebut dan beberapa butir telur rebus. Beberapa kali ia meneguk air putih yang ada di dekatnya untuk mendorong makanan yang ia kunyah agar segera turun ke perut.

“Oh ya, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Akhirnya Jaebum memecah keheningan di antara mereka berdua.

“Wah, seharusnya aku memberi tarif pada setiap orang yang ingin bertanya padaku. Dengan begitu, aku bisa kaya raya dengan cuma-cuma,” Park Yeon berseloroh tak jelas sambil terus mengunyah telur rebusnya.

Jaebum hanya terkekeh.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Park Yeon.

“Sejak tadi aku mencoba menghubungimu, tapi kau sama sekali tidak mengangkat telepon dariku. Yang terakhir, kau justru mematikan ponselmu. Apa kau benar-benar tidak mau bertemu denganku?” Jaebum mendekatkan gelas susu coklatnya setelah bertanya pada Park Yeon.

“Oh, itu? Aku tidak sengaja menjatuhkan ponselku ke dalam panci berisi air mendidih.”

Jawaban Park Yeon rupanya membuat Jaebum tersedak susu coklat yang baru ia minum. Beruntung ia tidak menyemprot wajah Park Yeon atau tumpukan makanan yang ada di atas meja dengan susu itu. Untuk beberapa detik, ia terlihat berusaha menelan susu coklatnya dan menarik napas pelan-pelan agar tidak batuk.

“Kau ini ceroboh sekali sih?! Haaah, Noona, kau ini benar-benar ….”

“Aku yang menjatuhkan ponselku, kenapa kau yang heboh?” gumam Park Yeon seraya kembali menyantap kimbap-nya.

Jaebum menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Aku ingin ke toilet dulu. Hisssh, Noona, kau … astaga,” Jaebum masih saja mengungkapkan keherannya meski ia sudah berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.

Park Yeon berdecak pelan. Matanya tertuju pada ponsel Jaebum yang tergeletak di atas meja. Tangannya terulur mengambil benda tipis tersebut dan iseng melihat-lihat sesuatu di internet.

“Rumor prostitusi yang itu masih saja dibahas. Sudah tahu kalau yang menyebarnya adalah orang gila, mereka tetap saja membuatnya menjadi berita utama. Nah, yang ini juga. Suami istri kan wajar kalau memiliki anak. Apakah mereka lupa kalau pasangan itu menikah tiga tahun yang lalu? Kenapa ….”

Park Yeon mengomel sendiri membaca berita demi berita yang ia lihat di beberapa media online hingga akhirnya sebuah artikel membuatnya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia membeku di tempatnya.

SONG PARK YEON DIKABARKAN BERKENCAN DENGAN CHO KYUHYUN HANYA UNTUK MENAIKKAN POPULARITASNYA SAJA?

SONG PARK YEON MEMANFAATKAN KETENARAN CHO KYUHYUN UNTUK MEMBUAT DIRINYA TERKENAL.

BENARKAH HUBUNGAN SONG PARK YEON DAN CHO KYUHYUN TAK LEBIH DARI SEBUAH BISNIS?

Itu adalah sebagian dari judul-judul artikel yang membahas tentang dirinya dan Kyuhyun.

Setelah membaca seluruh isi dari beberapa artikel tersebut. Ia kemudian mencari portal berita online lainnya yang mulai menampilkan isi berita yang sama meski dengan judul yang berbeda. Dalam hitungan detik, tiba-tiba saja namanya menduduki peringkat pertama di mesin pencari. Semua namanya berhubungan dengan berita tersebut.

Apa lagi ini?

Kenapa tiba-tiba berita semacam ini muncul ke permukaan? Apa yang diperbuat Kyuhyun dan Cherry, yang tidak ia ketahui?

Tunggu sebentar. Park Yeon harus mencerna semua pertanyaan itu secara perlahan-lahan. Ia marah, tentu saja. Berita-berita itu sama sekali tidak memberikan kesan positif terhadap namanya. Sama sekali tidak.

Matanya bergerak memandang tempat Jaebum duduk yang kosong di depannya. Kemudian ia mengembalikan pandangannya pada ponsel Jaebum.

Beberapa berita tersebut sudah dirilis beberapa jam yang lalu. Itu artinya ….

Karena itukah Jaebum memaksanya untuk sarapan bersama? Di sini? Di sauna kecil yang cukup jauh dari pusat kota? Di sauna yang sama sekali tak ada televisinya?

Jaebum sudah tahu ada berita-berita seperti ini di internet?

“Aku harus berdebat dengan seorang kakek. Astaga. Hei, Noona, kau ….” Jaebum yang sudah kembali ke meja mereka dan bermaksud untuk menawarkan Park Yeon satu gelas susu coklat lagi terpaksa memandang Park Yeon dengan ekspresi terkejut. “Noona ….”

Park Yeon meletakkan ponsel Jaebum ke atas meja dengan pelan dan memandang Jaebum. Jaebum yang dipandangi seperti itu merasa sedikit canggung.

“Mereka sudah gila,” gumam Park Yeon dengan nada yang pelan. Kepalanya tertunduk, memandang sepasang kakinya yang ada di bawah meja kayu.

Jaebum yang akhirnya bisa membaca situasi setelah mengamati ponselnya yang ada di depan Park Yeon lantas hanya bisa memejamkan mata untuk beberapa detik sambil menghela napas pelan. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri yang dengan begitu bodohnya meninggalkan ponselnya bersama Park Yeon.

“Mereka sudah benar-benar gila,” Park Yeon kembali mengeluh. Kini ia menerjunkan keningnya dengan keras ke meja. Untungnya, Jaebum dengan cepat meletakkan lipatan handuk kecil tepat sebelum kening Park Yeon membentur kerasnya meja kayu tersebut.

Hal yang paling tidak ingin Jaebum lihat kini sedang ia saksikan di depan matanya sendiri. Ia pikir, ia sudah cukup jeli dan cerdas dengan cara yang satu ini. Tapi ternyata … Park Yeon tetap saja mengetahuinya.

Noona ….”

Jaebum mencoba memanggil Park Yeon yang masih menempelkan keningnya di atas meja.

oOo

at Max Entertainment.

Zhoumi berlari kecil masuk ke dalam gedung agensi milik Park Yeon dengan kening yang berkerut. Bila dilihat dari ekspresi di wajahnya, ia jelas sudah mengetahui berita yang pagi ini beredar di internet. Dan yang membuatnya semakin tegang adalah ia sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel Park Yeon. Terakhir kali ia yakin ponsel wanita itu aktif adalah ketika ia mengirimkan pesan tentang jadwal hari ini beberapa jam yang lalu.

Langkahnya terhenti ketika ponsel yang ada di tangannya bergetar. Rupanya telepon dari Moo Ryeong.

“Bicaralah,” ujarnya.

[Hyung, tidak ada siapa pun di apartemennya. Park Yeon Noona tidak ada di sini. Yang kutemukan hanyalah ponselnya yang rusak. Ada beberapa bagian dari ponselnya yang melepuh seperti baru saja terendam di air panas]

Untuk beberapa detik Zhoumi hanya terdiam sebelum akhirnya berkata, “Baiklah. Keluar dari sana dan pastikan kau mengunci kembali apartemen Park Yeon.”

Pria berhidung mancung tersebut memandangi ponselnya setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Moo Ryeong. Ada satu nama yang terlintas di benaknya. Dengan cepat ia mencari nomor kontak orang tersebut di ponselnya.

“Park Jung Soo Hyung, bisa kau beritahu di mana Kyuhyun sekarang?”

.

.

.

.

Kyuhyun melempar ponselnya ke atas sofa yang ada di depannya dengan frustrasi. Ada begitu banyak telepon dari para wartawan yang cukup dekat dengannya. Dan mereka semua menanyakan hal yang sama  tentang berita tentang dirinya dan Park Yeon pagi ini yang tiba-tiba saja menjadi viral.

“Bukankah aku sudah memberimu peringatan sebelumnya? Fokuslah pada apa yang kau seharusnya kau kerjakan. Bertahun-tahun aku menjadi manajermu, tapi setiap hari aku selalu merasa aku sedang berhadapan dengan seseorang yang baru,” Jung Soo menggumam di sofa yang lain dan hanya mendapat sebuah helaan napas berat dari Kyuhyun.

Tubuhnya sudah lebih dulu letih karena sejak kemarin hingga pagi buta tadi ia disibukkan dengan proses syuting dramanya. Dan sekarang … berita-berita itu seolah menjadi sarapan yang membuatnya ingin muntah sesaat setelah ia sampai di apartemennya.

“Haaah, aku merasa aku akan dihajar oleh seseorang lagi kali ini,” keluhnya sambil mengusap wajahnya.

“Kau pantas mendapatkan apa yang sudah sepantasnya kau dapatkan.”

“Aku—“

Belum sempat Kyuhyun membela diri, terdengar suara bel dari arah pintu apartemennya. Jung Soo seacara spontan bangkit dari duduknya dan mengayunkan kakinya ke arah pintu.

“Kau … mendapatkan seorang tamu,” ucap Jung Soo setelah membuka pintu dan mempersilakan masuk seseorang.

Kyuhyun yang memejamkan mata sambil bersandar pada sofanya lantas menegakkan kepala untuk melihat siapa yang berjalan di belakang Jung Soo. Menyadari ia tahu siapa orang tersebut, ia langsung berdiri. Ekspresi di wajahnya cukup gugup dan ia siap memasang pertahan sewaktu-waktu orang tersebut menyerangnya.

“Aku akan meninggalkan kalian berdua.”

Hanya itu yang diucapkan Jung Soo, manajer Kyuhyun, sebelum mengambil ponselnya dan melangkah keluar apartemen. Bodohnya, Kyuhyun tak cukup pintar untuk mencegah manajernya tersebut pergi mengingat keselamatannya sedang terancam di sini.

“Menghajarku … tidak akan menyelesaikan masalah ini. Percayalah padaku. Aku bukannya berusaha membela diri, tapi aku bisa katakan memang begitu. Tapi … baiklah. Kenapa kau kemari?” Kyuhyun kehabisan kata-kata dan hanya bisa membiarkan wajah takutnya terlihat cukup jelas.

“Berita-berita itu,” jawab Zhoumi. Ekspresi di wajah manajer Park Yeon tersebut begitu serius.

Benar, kan? Kyuhun sudah tahu apa tujuan pria bertubuh tinggi tersebut datang ke apartemennya.

“Astaga,” Kyuhyun menggumam sambil menjatuhkan dirinya kembali ke atas sofa. Tangannya bergerak mengacak-acak rambut gelapnya hingga berantakan. “Aku tidak tahu. Aku. Sama. Sekali. Tidak. Tahu. Kurasa aku sudah ratusan kali menyebut kata-kata itu pada semua orang sejak tadi. Aku juga terkejut saat melihat berita itu beredar dengan cepat.”

Melihat bagaimana frustrasinya Kyuhyun, Zhoumi rasa aktor terkenal itu sama sekali tidak bisa membantunya. Mungkin bila ia mengajukan pertanyaan lain dengan inti yang sama, dia akan semakin menyusahkan.

“Kau tahu di mana Park Yeon?”

Alis Kyuhyun terangkat sempurna. “Apa?”

“Aku tidak bisa menemukannya,” jawab Zhoumi.

“Anak itu …,” desis Kyuhyun pelan yang rupanya pertanyaan tersebut justru membuatnya sakit kepala. Andai ia tahu, ia akan langsung memberitahu Zhoumi, tapi ini … ia juga tidak tahu di mana keberadaan hoobae-nya tersebut. Jangankan Park Yeon, Cherry saja juga sulit ia hubungi.

“Tidak perlu kau jawab. Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan,” ujar Zhoumi sebelum berbalik dan berjalan ke arah pintu apartemen.

Kyuhyun yang melihat sosok tinggi manajer Park Yeon tersebut menghilang setelah pintu apartemennya tertutup hanya bisa mendengus keras.

“Apa-apaan itu? Dasar arogan,” gerutu Kyuhyun.

oOo

Mobil Jaebum berhenti di dekat gedung apartemen Cherry yang masih sepi dari serangan wartawan. Park Yeon yang sejak tadi tertunduk kini menoleh ke arah gedung tersebut sambil memakai kembali topi hitam Jaebum.

“Kau yakin ini adalah tempat yang harus kau tuju?” tanya Jaebum yang sedikit khawatir.

“Terima kasih untuk hari ini. Kau kembali saja ke … aku tidak tahu apa jadwalmu hari ini. Jadi, pulanglah dan lakukan kegiatanmu seperti biasanya. Aku keluar dulu ya.” Park Yeon menepuk pelan bahu Jaebum sebelum keluar dari mobil dan berlari kecil ke arah gedung.

Ya, Cherry Jung. Orang yang harus ia temui adalah wanita itu. Ia harus mendapatkan penjelasan darinya.

Untuk saat ini, apapun yang sudah diucapkan Zhoumi terasa seperti palu yang memukuli kepalanya dengan keras agar ia bisa terbangun dari tidurnya. Ia akui ia bodoh. Bodoh karena tidak mengindahkan kata-kata manajernya tersebut. Bodoh karena tetap dengan pendiriannya. Bodoh karena tidak bisa mengendalikan diri.

Eonnie!” Park Yeon terpaksa berteriak memanggil Cherry karena tak ada yang membukakan pintu apartemen tersebut setelah ia menekan bel beberapa kali. Kesabarannya sudah habis.

“Kau datang?”

Suara seorang wanita memaksa Park Yeon menoleh ke arah lorong di mana sosok Cherry dengan pakaian olahraga tengah berjalan ke arahnya. Park Yeon … berusaha untuk tidak berteriak atau menyerangnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Cherry sambil menyeka keringat di keningnya. “Harusnya kau menghubungiku dulu sebelum kemari, jadi aku bisa membatalkan janji dengan instrukturku. Maaf, aku tadi berolahraga di ruang gym.”

“Bisa kau bawa aku masuk ke apartemenmu? Tidak. Kau harus membawaku ke dalam karena ada yang harus kubicarakan denganmu,” kata Park Yeon dengan nada yang tegas.

Cherry hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Dibanding Park Yeon yang sudah jelas terlihat tidak tenang, wanita berwajah cantik itu justru tampak santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Kau mau minum apa?” Cherry berjalan ke arah dapur dan membuka pintu lemari pendinginnya setelah meraih sebuah gelas kaca kosong dari atas counter.

“Apa ini semua ulah Eonnie? Berita-berita itu? Kukira kita sudah sepakat untuk tidak saling menjatuhkan satu sama lain seperti itu?” Park Yeon sudah lelah dengan basa-basi atau apalah itu.

“Kalau aku bilang itu semua bukan ulahku, apa kau percaya?” Cherry justru memberikan pertanyaan lain setelah meneguk satu gelas penuh jus jeruk dingin.

Park Yeon mendengus pelan.

“Sama sepertimu, aku juga terkejut dengan semua berita itu. Ini terkesan ada seseorang yang ingin menyerang kita berdua,” lanjut Cherry seraya duduk di salah satu kursi tinggi di dekat mini bar.

Kita berdua? Di sini jelas-jelas hanya aku yang diserang! Apanya yang kita berdua, hah? Apa kau tidak lihat bagaimana semua orang menyudutkan namaku dan membalikkan situasi di mana kau mulai mendapat simpati? Eonnie, jangan bersikap seolah kau peduli padaku,” serang Park Yeon menggebu-gebu.

“Aku tidak bisa mengelak bila kau menyalahkanku seperti itu. Aku mengerti, Song Park Yeon. Karena bagaimana pun juga, apapun berita yang berkaitan dengan namamu dan nama Cho Kyuhyun, mereka akan selalu menarik namaku juga,” sahut Cherry.

“Jadi?”

“Jujur saja … aku masih berusaha mencari siapa di balik penyebaran berita itu. Tidak. Maksudku, siapa yang membuat berita itu. Jadi, aku minta kau tetap tenang. Okay?”

Park Yeon membuang napas dengan kesal. Tenang? Berita-berita ini bahkan jauh lebih buruk dibanding berita-berita yang menyebut dirinya Artis Kadaluarsa. Jauh lebih buruk dari berita-berita yang memuat tentang gagalnya drama debutnya hingga membuat kantor agensinya hampir bangkrut. Bagaimana bisa Cherry menyuruhnya tenang?!

“Pada titik ini, aku benar-benar menyesal telah menerima tawaran konyolmu waktu itu. Aku menghabiskan waktuku seharian ini seperti orang gila di luar apartemenku. Semua pikiran masuk ke dalam kepalaku dan membuatku ingin pingsan. Aku baru sadar, saat itu aku begitu polos. Oh, bahkan aku tidak tahu apakah saat itu aku polos atau naif. Jika, aku tahu pada akhirnya hanya aku sendiri yang dirugikan, seharusnya aku tidak menyetujui perjanjian itu,” ucap Park Yeon panjang lebar. Berulang kali ia menghela napas keras, berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata yang perlahan mulai membuat matanya berkaca-kaca.

“Aku bisa merasakannya,” ucap Cherry pelan dengan begitu elegannya.

“Tidak. Kau tidak bisa merasakannya, Cherry Jung. Kau sama sekali tidak bisa merasakannya.”

Park Yeon berkata dengan nada yang begitu dingin dan emosional. Ini sudah melewati batas kemampuannya untuk bertahan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita berambut ikal tersebut langsung keluar dari apartemen Cherry dengan isakan tertahan. Meninggalkan Cherry yang masih saja tersenyum samar.

“Aku … bisa … merasakannya … Park Yeon-ah. Bagaimana rasanya disudutkan seperti itu,” gumam Cherry.

.

.

.

.

Dengan berat Park Yeon menyeret kakinya ke depan pintu apartemennya sendiri. Pandangannya kosong. Wajahnya benar-benar kusut dan tanpa make up karena ketika Jaebum menariknya keluar pagi tadi, ia belum sempat merias wajahnya sedikit pun. Topi yang sejak tadi menutupi kepalanya kini menggantung di sela-sela jari tangannya.

Setelah menekan kombinasi password apartemennya dengan lemah, ia lantas masuk ke dalam dengan pelan. Dilihatnya ada dua pasang sepatu. Itu artinya ada orang di dalam sana dan tentu saja mereka adalah Zhoumi dan Moo Ryeong. Siapa lagi yang tahu password apartemennya selain mereka berdua?

Eo, Hyung, Noona …,” Moo Ryeong yang baru keluar dari dapur terkejut melihat Park Yeon berjalan masuk ke arah ruang tengah seperti mayat hidup. Buru-buru diletakkannya cangkir kopi yang baru saja ia isi dan menghampiri Park Yeon. “Noona, ke mana saja kau seharian ini? Kami mencarimu ke mana-mana. Dan … ponselmu! Apa yang terjadi dengan ponselmu? Kenapa itu … eh?”

Moo Ryeong sepenuhnya termangu ketika Park Yeon yang berdiri diam di depannya tiba-tiba menyandarkan keningnya pada dada Moo Ryeong dan menangis. Perlahan sepasang tangan wanita itu bergerak memeluk sopir pribadinya. Tak pelak aksi Park Yeon mengejutkan Moo Ryeong. Pemuda bertubuh tinggi itu membeku di tempatnya, tidak tahu harus bagaimana. Ia bahkan harus menoleh ke arah Zhoumi yang berdiri di dekat sofa, mencoba bertanya dengan menggunakan gerakan mata.

‘Hyung, apa yang harus aku lakukan?’

Seolah mengerti dengan bahasa isyarat Moo Ryeong, Zhoumi hanya menganggukkan kepala kemudian menggerakkan dagunya dengan pelan, menyuruh Moo Ryeong agar membiarkan wanita itu memeluknya dan menangis karena dia memang butuh seseorang.

“Semua … akan baik-baik saja, Noona,” ucap Moo Ryeong dengan lembut dan sedikit canggung sambil menepuk-nepuk pelan punggung Park Yeon. Bahu Park Yeon berguncang karena isakan tangis yang tak kunjung berhenti.

oOo

Dua hari berlalu, namun berita tentang Park Yeon tersebut semakin banyak dan semakin buruk. Orang-orang yang sebelumnya mengaguminya kini justru berbalik badan menunjukkan punggung mereka padanya. Sebegitu mudahnyakah mereka berpaling hanya karena berita itu?

Oh, semua orang selalu begitu.

Rumor demi rumor bermunculan terkait berita tersebut dan menjadi bahan pembicaraan di sosial media dua puluh empat jam. Dan tampaknya berita ini berhasil mengusik bagian keuangan perusahaan di mana hari ini dikabarkan bahwa saham tiba-tiba menurun drastis.

Tentu saja. Sial!

Bagaimana pun juga Cho Kyuhyun adalah satu dari beberapa aktor penyumbang dana terbesar bagi pemasukan perusahaan. Dan perlahan nama Park Yeon pun juga turut memberikan kontribusi besar pada keuangan perusahaan karena banyak perusahaan kosmetik, fashion brand dan beberapa sponsor yang bekerja sama dengannya. Dengan adanya berita itu, tiba-tiba saja satu per satu dari mereka memutuskan kontrak begitu. Sebagian besar alasan mereka adalah karena mereka takut produk mereka akan turun di pasaran bila tetap menggunakan Park Yeon.

Tidak hanya itu saja, proses syuting drama Park Yeon pun mendadak dihentikan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Sebuah perusahaan mobil yang awalnya bersedia mendanai hampir 95% biaya produksi drama tersebut juga membatalkan perjanjian.

Efek yang ditimbulkan … jauh lebih parah dari berita tersebut. Bahkan bila Park Yeon harus ikut memikirkannya, mungkin ia akan berakhir di rumah sakit karena tekanan darah tinggi.

Max Ent. mengadakan rapat mendadak untuk membahas masalah keuangan mereka. Beberapa penanam saham pun tak lupa untuk diundang ke rapat tersebut karena sebagian dari mereka sudah mengancam akan menarik saham mereka bila tidak ada solusi untuk waktu dekat.

Namun, tampaknya rapat tersebut tak membuahkan hasil yang berarti karena sampai sekarang mereka belum bisa menemukan orang yang membuat dan menyebarkan berita itu. Para penanam saham sudah cukup kesal dengan hasil yang tak memuaskan dari rapat tersebut. Mereka benar-benar akan menarik saham mereka dari Max Ent. bila dalam dua hari tidak ada jalan keluar untuk masalah ini.

“Apakah benar-benar tidak ada jalan keluar, Presdir?” tanya Zhoumi yang sore ini diminta Daniel Kang untuk datang ke ruang kerjanya.

“Sekilas ini adalah masalah sepele. Ini hanya rumor, tapi anehnya, ini sangat menyeramkan,” jawab Daniel yang sedikit melenceng dari pertanyaan Zhoumi. “Maaf, aku hanya membutuhkan seseorang yang bisa mendengarkanku mengeluh. Dan hanya kau yang bersedia menjadi pendengar meski sebenarnya kau sedang melakukan banyak hal di luar sana. Bagaimana keadaan Park Yeon?”

Zhoumi mengedikkan bahunya. “Dia tidak baik-baik saja. Satu-satunya hal yang membuatnya down adalah, penundaan jadwal syuting dramanya.”

“Jangan tinggalkan dia. Dalam situasi seperti ini, banyak artis yang kehilangan akal sehat mereka dan melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan,” ucap Daniel.

“Tenang saja, Presdir. Park Yeon adalah wanita yang cerdas dan cukup kuat. Tapi … ngomong-ngomong … bukankah D Ent. dan Max Ent. dulunya adalah satu kantor agensi? Apa tidak ada seseorang dari D-Max yang bisa membantu masalah kita? Maksudku, sebelum D-Max dipecah menjadi dua seperti ini,” Zhoumi mencoba membahas topik awal karena ia masih penasaran.

“Ada. Tapi orang itu sudah lama tidak mau berurusan dengan hal-hal semacam ini. Dia … sedikit keras dan … tidak mudah dibujuk,” jawab Daniel sambil menyandarkan punggungnya.

“ … Wow ….,” Zhoumi tidak tahu harus memberikan respons seperti apa.

“Aku dan Kang Ho adalah saudara kandung. Tapi ayah kami memiliki anak angkat. Namanya Kang Joo Myeok. Jadi … secara teknis, dia adalah adik kami berdua,” Daniel mulai menceritakan sesuatu yang membuat Zhoumi mengernyitkan keningnya.

“Kang … Joo … Myeok?”

Daniel mengangguk. “ Dia adalah pemilik 50% saham di masing-masing perusahaan kami. Dan dia tinggal di Thailand.”

“Maksud Presdir … 50% di D Entertainment dan 50% di Max Entertainment?”

“Iya. Sebenarnya aku sudah mencoba berbicara padanya beberapa waktu yang lalu, tapi … dia belum memberikan jawaban apa-apa padaku. Kita berdoa saja dia berubah pikiran dan mau membantu kita. Setidaknya untuk menolong keuangan kita dulu selagi kita mencoba membereskan masalah yang membuat nama Park Yeon tercoreng.”

.

.

.

“Bagaimana, Hyung?” tanya Moo Ryeong sesaat setelah Zhoumi menempatkan diri di jok penumpang yang ada di sampingnya. Bila dilihat dari wajah Zhoumi, pemuda itu bisa menebak semua belum berjalan dengan baik.

“Andai aku bisa memutar waktu, aku mungkin tidak akan pernah mau menyanggupi tawaran dari staff untuk menjadi manajer artis. Ini melelahkan,” keluh Zhoumi sambil memejamkan mata.

“Eeei, Hyung. Jangan bicara seperti itu. Park Yeon Noona sedang membutuhkan kita berdua. Yaaa … meskipun kita tidak bisa membantu banyak, tapi paling tidak, dia tidak merasa sendirian,” ujar Moo Ryeong.

“Sudahlah. Kita ke apartemen Park Yeon. Tapi sebelum itu, jangan lupa berhenti di dekat hotel depan sana. Belikan satu set menu makan malam untuk Park Yeon. Dia belum makan apapun sejak pagi tadi.” Zhoumi menggerakkan tangannya, mengisyaratkan agar segera menyalakan mesin mobil.

“Aku hanya berharap Kang Jung Myeok atau Kang Joo Myeok atau siapapun itu agar segera muncul dan menyelamatkan perusahaan karena nama Park Yeon juga dalam taruhan. Kalau dia tidak muncul, aku yang akan mencarinya dan mematahkan hidungnya.”

Gumaman Zhoumi memaksa Moo Ryeong menoleh ke arahnya untuk beberapa detik. “Siapa itu, Hyung?”

“Seorang pengecut, setidaknya itu yang Presdir Kang katakan padaku. Hidup mati untuk saat ini ada di tangannya,” jawab Zhoumi malas. “Oh, ya. Besok aku harus menemui bagian produksi drama Park Yeon dan mencoba bernegosiasi dengan mereka masalah penundaan jadwal syuting. Aku takut kalau mereka diam-diam mengganti Park Yeon dengan aktris lain.”

“Siap.”

oOo

Next day

Noona, ayo makanlah.”

Moo Ryeong berusaha membujuk Park Yeon agar mau memakan sarapan yang tadi dibelikan Zhoumi untuknya. “Zhoumi Hyung bisa mencekikku nanti.”

“Dia tidak seburuk itu,” sahut Park Yeon ketus.

“Baiklah. Kalau begitu begini saja. Zhoumi Hyung bisa mencekikmu kalau kau tidak mau memakan sarapanmu. Terdengar menyeramkan sih, tapi mau bagaimana lagi.”

Park Yeon berdecak pelan sambil menggeser mangkuk berisi sup ikan ke dekatnya. Tangannya yang lain meraih remote televisi.

“Ya, bagus. Sarapan sambil menonton televisi adalah dua hal yang sempurna,” celetuk Moo Ryeong.

“Tutup mulutmu. Aku sedang tidak bertenaga untuk membalas leluconmu,” ujar Park Yeon kesal.

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang menyebalkan, yang akan membuat suasana hatinya buruk hingga nanti malam datang. Dan itu semua karena berita-berita itu tak kunjung turun dan hilang.

“Astaga! Dia benar-benar datang hari ini!”

Pekikan Moo Ryeong membuat Park Yeon tersedak. Ia baru akan melayangkan pukulan ke kepala pemuda itu ketika suara volume televisi yang dikeraskan mengalihkan perhatiannya.

“Siapa itu Kang Joo Myeok?” desis Park Yeon yang akhirnya menaikkan kedua kakinya ke atas kursi.

“Pagi tadi aku sempat bertanya-tanya pada staff perusahaan. Mereka bilang Kang Joo Myeok itu, anak bungsu dari pemilik asli D-Max Entertainment,” ujar Moo Ryeong sambil mendekatkan kotak susu pada Park Yeon.

“Lalu kenapa tiba-tiba dia ada di semua channel televisiku? Bahkan mereka semua tidak tahu bagaimana wajahnya. Apakah dia tua atau masih muda, atau apakah dia tampan atau jelek sepertimu.” Ini bukan merupakan pertanyaan, melainkan lebih seperti gerutuan karena Park Yeon hanya bisa merasa kesal, kesal dan kesal.

Moo Ryeong ingin sekali menjitak kepala Park Yeon. Tapi ia tidak berani karena wanita itu jauh lebih muda darinya.

“Mereka bilang hari ini dia akan muncul dan mengadakan konferensi pers di kantor Max Entertainment,” jawab Moo Ryeong kemudian.

“Dia lebih baik membersihkan namaku juga. Aku tidak peduli bila ia hanya datang untuk membantu saham agensi yang turun atau apapun itu. Yang jadi korban di sini itu aku, bukan saham atau uang mereka ….”

Omelan Park Yeon kembali terdengar. Ia sudah mirip dengan seorang wanita paruh baya yang suka mengomel setiap hari dan itu sudah cukup membuat Moo Ryeong yang duduk di dekatnya menggaruk-garuk tengkuknya sendiri. Pemuda itu cukup takut saat Zhoumi menyuruhnya untuk mengantar sarapan Park Yeon dan menemaninya sebentar. Takut bila sewaktu-waktu Park Yeon bisa menyiramkan kuah sup itu ke wajahnya tanpa sebab.

“Kon-konferensi persnya dimulai,” Moo Ryeong mencoba mengalihkan perhatiannya dari Park Yeon yang mulai beringas menyantap sup ikan tersebut.

Konferensi pers. Park Yeon tidak ingin menambah rasa pusing di kepalanya. Komentar pedas di sosial media sudah cukup memusingkannya beberapa hari ini hingga ia berniat memenggal kepalanya sendiri karena terlalu sakit.

Akan tetapi, apa yang baru saja dilihatnya di layar televisi memaksanya untuk menjatuhkan sendoknya ke atas meja. Di sana, di konferensi pers yang disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi, di mana semua reporter tengah menunggu kedatangan seseorang bernama Kang Joo Myeok mendadak menarik napas hampir bersamaan ketika sesosok pria tinggi berjas hitam masuk ke dalam ruangan dengan wajah tenang.

Ini jauh dari ekspektasi semua orang yang mana mereka kira Kang Joo Myeok adalah pria tambun dan jelek dan tak memiliki pesona apapun, tak jauh berbeda dengan Kang Ho atau pun Daniel Kang.

Tapi ini ….

Dia … cukup tampan. Tidak. Sangat tampan. Garis wajahnya begitu tegas. Rambut hitamnya tertata dengan rapi dan sempurna. Setelan jas formal berwarna hitam membalut tubuh tingginya dengan pas. Caranya menyapa para reporter begitu elegan dan sangat berkelas.

“Halo, saya Kang Joo Myeok. Maaf karena sudah membuat Anda semua menunggu cukup lama.”

Park Yeon tidak percaya dengan apa yang sedang ia saksikan. Pria berjas itu … nampak tak asing di matanya.

“Zhoumi … Oppa?”

 

 

 

Advertisements
Leave a comment

13 Comments

  1. uchie vitria

     /  April 17, 2017

    Akhirnya dikanjut lagi
    Duhhh mulai sadar kan sekarang park yeon emang kemana aja kemarin hahh
    Moga aja zhoumi bisa membantu menemui kang joo myeok siapa pun itu bisa membersihkan nama baik park yeon dan managemant

    Reply
  2. watiD'Elf

     /  April 17, 2017

    Huwaaaaaaa…akhirnya dilanjut juga😃😃😃 siapakah itu kang joo myeok????kenapa terakhir yg di sebut nama nya zhoumi oppa ah sumpah jadi penasaran..mana belum terungkap rasa penasaran ku terhadap zhoumi ini malah ditambah ya udh makin double rasa penasarannya
    ditunggu kelanjuannya eonni

    Reply
  3. kang joo myeok / zhoumi oppa???? akuuu penasaran….. 😄😄😄😄😄

    Reply
  4. Eonni… Hm ffmu daebak ak sukka ceritanya, ini dbkin drama kyanya ah gk2 tp drama beneran bakal keren eonni 😆, ak tnggu kelanjutannya eon, keep writing semangat terus hhe

    Reply
  5. Kang joo wook itu zhoumi oppa?? Knp bisa??
    Huaaaa kelanjutan nya bakal kya gman? 😂😂
    Tapi ditunggu bgt next chap nya kakk

    Reply
  6. Sarti prihatin

     /  April 27, 2017

    Ternyata Kang joo Myoek adalah manager nya Park Yeon. Bagaimana selanjutnya nasibnya Park Yeon? Apakah yang akan dilakukan oleh Park Yeon setelah tau kenyataannya tentang manager nya? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting

    Reply
  7. Monika sbr

     /  May 21, 2017

    Akhirnya nih ff muncul juga.
    Kang jo myeok itu siapa sih?
    Zoumi atau kembarannya yaa?

    Reply
  8. Ahhh ko bisa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: