MISSION IMPOSSIBLE [Hae-Ra Corner]


original

MISSION IMPOSSIBLE

Oneshot

Lee Donghae | Go Jung Ra

Romance | PG-16

Happy reading~

==============================

Donghae menelan ludahnya sendiri. Ia tak menyangkal kalau saat ini tingkat kegugupan dan ketidaknyamanan yang menguasainya lebih dari 75%. Sungguh, andai di dunia ini benar-benar ada mesin waktu yang bisa memutar ulang kejadian yang pernah terjadi, ia rela akan membelinya sekarang juga. Tidak peduli bila ia harus menghabiskan semua tabungannya. Ia juga bisa menguras semua harta milik Hyukje, bila perlu.

Astaga, Donghae sungguh ingin menertawakan dirinya yang dengan begitu bodohnya melakukan hal ini di sini, di dalam apartemennya. Ini sama sekali bukan gayanya. Ini sungguh….

“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, hah?” Jung Ra melambaikan tangannya di depan wajah Donghae, berusaha mengembalikan kesadaran Donghae yang mungkin saja melayang dari raganya saat ini.

Aneh, itulah yang Jung Ra rasakan sejak setengah jam yang lalu hingg sekarang yang hanya berdiri di tengah-tengah apartemen Donghae. Well, mungkin bila kondisi apartemen Donghae terlihat seperti biasa, ia tidak akan mengernyitkan keningnya. Ini… entahlah harus mulai dari mana untuk menjabarkannya, tapi yang Jung Ra tahu pasti, semua yang sebelumnya ada di ruang tengah mendadak menghilang. Ha, sebenarnya tidak menghilang, hanya sekarang ada di dekat dinding.

Donghae hanya mengerjap-ngerjapkan matanya ke arah Jung Ra. Ia benar-benar terlihat seperti pria bodoh sekarang. Salah satu tangannya yang sejak tadi ada di dalam saku celana jeansnya terasa kebas. Ada sesuatu di dalam saku tersebut yang dipegangnya, hanya saja ia sama sekali tak memiliki keberanian untuk mengeluarkannya.

“Dan kenapa kau menyingkirkan sofamu ke pinggir sana? Apa kau akan menyuruhku kemari untuk membantumu membereskan apartemenmu? Malam-malam begini?” Jung Ra mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Jujur saja, sebenarnya Jung Ra sudah  sangat lelah karena baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Namun, hanya gara-gara ditelpon Donghae agar datang kemari, akhirnya ia terpaksa menyeret kakinya dari depan pintu apartemennya ke tempat ini.

Merasa tidak mendapatkan jawaban apapun, Jung Ra mengangkat salah satu tangannya, mengibas-ibaskan di depan wajah Donghae, berharap agar pria tampan yang berdiri di depannya bergerak sedikit saja agar tidak terlihat seperti sebuah patung.

“Kau akan memberiku jawaban, bukan? Apa kau sedang mengerjaiku? Kalau iya, bisakah kau hentikan sekarang juga? Aku ingin tidur. Badanku sakit semua dan…”

Jung Ra terpaksa menghentikan semua omelannya saat tiba-tiba, akhirnya, Donghae bergerak. Hanya saja yang membuatnya terkejut hingga harus mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri adalah Donghae bergerak maju ke arahnya secara mendadak.

“A-apa ini?” tanya Jung Ra was-was. Tidak ada salahnya kan bila ia bersikap was-was? Lee Donghae adalah tipe pria yang jalan pikir dan mood-nya tidak mudah ditebak. Tidak ada yang tahu kalau beberapa detik lagi pria ini akan berubah menjadi apa.

“Bisa tampar aku sekarang?”

Tak pelak pertanyaan Donghae membuat kedua mata Jung Ra terbelalak. Apa ia tidak salah dengar? Donghae menyuruhnya untuk menamparnya?

“Kau tadi salah makan sesuatu atau kepalamu baru saja terbentur sesuatu sebelum pulang?”

Donghae terdiam. Tidak ada yang salah sih dengan pertanyaan Jung Ra karena ia sendiri juga menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Apa ia tadi salah makan sesuatu? Atau tadi kepalanya tidak sengaja terbentur sesuatu? Astaga, andai ia bisa, ia akan menjawab pertanyaan itu langsung. Tapi masalahnya, ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lakukan ini.

“Kalau begitu… cium aku saja.”

Haha, sekarang semuanya berubah canggung setelah Donghae mengatakan hal itu. Tidak hanya canggung, tapi juga aneh. Jung Ra dibuat tertegun sepenuhnya. Gadis itu tidak menyangka Donghae akan mengatakan hal tersebut secara terang-terangan di depannya.

Chu~

Hanya sekilas. Jung Ra hanya memberikan satu kecupan ringan pada bibir Donghae sebelum merapikan rambutnya sendiri sambil sedikit menjauhkan dirinya dari Donghae. Mungkin sekarang kedua pipinya yang benar-benar memerah akan terlihat sangat jelas di bawah lampu apartemen Donghae yang menyala dengan sangat terang.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di tempat ini, hah?” Jung Ra yang berhasil mengumpulkan semua akal sehatnya akhirnya melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang sedikit ketus sambil mengipasi wajahnya sendiri dengan tangannya. Mendadak hawa di dalam apartemen Donghae berubah panas tanpa sebab.

“Aku… aku… sedang melaksanakan misi yang mustahil bisa kuselesaikan.”

Nada bicara Donghae terdengar seperti sebuan keluhan di telinga Jung Ra. Dan itu berhasil memaksanya untuk menampilkan sebuah kernyitan di keningnya.

“Misi…?”

Donghae hanya mengangguk lemah tanpa menegakkan kepalanya.

Untuk beberapa detik Jung Ra memandang Donghae dengan penuh selidik. Berbagai macam dugaan muncul di dalam benaknya mulai dari yang biasa sampai yang aneh. Baiklah, sikap Donghae yang seperti ini amat sangat langka bisa ia saksikan

“Apa kau berniat membunuh orang?”

Seketika kepala Donghae menegak, matanya langsung menatap lurus ke arah Jung Ra. Tidak dipungkiri, ribuan tanda tanya menghiasi wajahnya setelah mendengar pertanyaan Jung Ra.

“Membunuh? Siapa?” Ekspresi terkejut begitu kentara di wajah Donghae.

“Kau bilang kau sedang melakukan misi yang mustahil bisa kau selesaikan. Kalau bukan membunuh….” Nada bicara Jung Ra melemah di kata-kata terakhir karena ia tenggelam dalam pikirannya lagi. “….Mencuri? Atau….. astaga! Jangan bilang kalau kau…. ingin membunuh Hyukjae! Kau mau mencuri hartanya?! Kau mau melakukan hal sekeji itu pada kakakmu sendiri?”

“Haah?!”

Sungguh. Donghae sungguh tidak percaya dengan jalan pikir Jung Ra. “Siapa yang membunuh siapa? Siapa yang mau mencuri hartanya siapa? Dan kenapa ada nama Hyukjae?”

“Maaf saja, tapi yang ada di dalam kepalaku hanyalah itu setelah kau menyebutkan kata misi tadi. Katakan padaku kalau dugaanku salah.”

Baiklah, ekspresi Jung Ra kali ini benar-benar ketakutan. Dugaan konyol yang baru saja hinggap di dalam benaknya membuatnya ngeri sendiri dan berharap Donghae membantahnya. Kalau sampai Donghae memang berniat membunuh atau mencuri harta Hyukjae…..

“Tentu saja kau salah! Astaga, Go Jung Ra, bagaimana bisa kau berpikir kalau aku akan—“ Donghae tidak bisa melanjutkan bantahannya karena tiba-tiba Jung Ra memeluknya dengan sangat erat. Bahkan ia bisa mendengar helaan napas panjang dari wanita berulangkali.

“Syukurlah, Lee Donghae. Syukurlah, otakmu masih bekerja dengan normal. Syukurlah, kau masih waras. Syukurlah, kau tidak terpengaruh dengan bujukan setan. Syukurlah… syukurlah….” Jung Ra tidak henti-hentinya menepuk-nepuk punggung Donghae, lega karena dugaannya tidak benar.

Donghae yang merasa sedikit kesakitan karena tepukan Jung Ra pada punggungnya yang cukup berlebihan hanya bisa memutar kedua matanya.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau sampai kau benar-benar akan melakukan hal-hal keji seperti itu, Lee Donghae,” ucap Jung Ra sambil terus menepuk-nepuk punggung Donghae.

Otakmu yang sudah tidak bisa bekerja dengan normal, Go Jung Ra. Kau yang tidak waras, Go Jung Ra. Kau yang terpengaruh dengan bujukan setan, Go Jung Ra. Bagaimana bisa kau mempunyai pikiran konyol seperti itu?

Tentu saja Donghae mengucapkan semua itu di dalam kepalanya. Tidak mungkin ia langsung mengatakan itu tepat di depan wajah Jung Ra karena ia tahu bagaimana perangai wanita.

“Tapi tunggu sebentar.” Jung Ra melepaskan pelukannya dan menatap Donghae dengan sepasang alis yang hampir menyatu. “…Kalau bukan itu, lalu apa? Apa kau diteror seseorang? Apa penguntit itu melarikan dari penjara dan—akhhh!”

Donghae terpaksa menghentikan Jung Ra yang mulai berpikiran aneh-aneh lagi dengan menjitak keningnya. Tidak bisakah kekasihnya ini berhenti berbicara barang semenit saja agar ia bisa menenangkan diri dan mengumpulkan keberaniannya? Sungguh, suara Jung Ra yang sejak beberapa menit lalu terus-menerus terdengar di dalam apartemen ini sama sekali tidak membantunya.

“Diamlah sebentar,” pinta Donghae dengan pelan. Kepalanya kembali tertunduk, matanya memandang ujung kakinya yang berjarak tak lebih dari sejengkal dari kaki Jung Ra. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Jung Ra yang mengamatinya hanya bisa mengernyitkan kening dan semakin tidak mengerti dengan tingkah anehnya. Sebenarnya Jung Ra ingin membuka mulut lagi untuk bertanya, tapi ia takut Donghae akan membentaknya lagi.

Dengan penuh keraguan dan rasa gugup yang hebat, Donghae menarik keluar tangannya yang sejak tadi ada di dalam saku celana jeansnya. Oh, ada sesuatu di dalam genggamannya. Tapi sayangnya, tangannya hanya berakhir di samping tubuhnya, menggantung pasrah di sana dengan masih menggenggam sesuatu.

“Eee… Go Jung Ra…., begini…” Donghae menegakkan kepalanya, memandang Jung Ra.

Jung Ra, wanita ini berusaha untuk membungkam mulutnya sendiri dan hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Donghae.

Mata Donghae bergerak ke sana kemari, memandang ke arah lain secara acak, seolah tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Jung Ra. Atau lebih tepatnya…., tidak memiliki keberanian untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak tadi.

Rasa gugupnya tampaknya membuat semua suara yang keluar dari bibirnya terdengar seperti dengungan puluhan lebah. Dan itu praktis memaksa Jung Ra untuk berusaha tetap mempertahankan kesabarannya meski sebenarnya wanita berambut coklat ini sudah hampir meledak.

“Kau… mau hidup lebih lama denganku?”

Akhirnya satu pertanyaan bisa didengar dengan jelas.

“Hah? Apa?” Jung Ra terpaksa bertanya.

Euhm… tampaknya tidak terlalu jelas.

“Maksudku… kita kan sudah berkencan lebih dari satu tahun, jadi…. Bagaimana kalau… kalau… kalau…kita… menikah saja?”

Sepenuhnya Jung Ra terdiam. Bibirnya tidak bisa tertutup dengan sempurna karena ucapan Donghae berhasil membuatnya tertegun. Kedua matanya yang besar terbuka lebar dan mengerjap-ngerjap pelan ke arah Donghae.

Baiklah, respon Jung Ra yang seperti ini…., Donghae sudah bisa menduganya. Tapi entah kenapa, ia tetap tidak bisa merasa siap menghadapi respon tersebut. kegugupannya semakin bertambah hebat saja. Harusnya ia tidak mengatakan hal tersebut. Tidak, tunggu, maksudnya, seharusnya bukan saat ini.

“Ba-bagaimana?” tanya Donghae.

Jung Ra tidak tahu harus menjawab dengan kata dan dengan sikap yang bagaimana. Ia menggaruk pelan tengkuknya. Bahkan kini gilirannya mengedarkan pandangannya ke segala arah, berusaha menghindari mata Donghae yang menatap lurus ke arahnya.

Fakta bahwa Donghae baru saja melamarnya…., Jung Ra masih…. tidak percaya. Jujur saja, saat ini ia sangat terkejut. Dalam hitungan detik ia dibuat tenggelam dalan pikirannya sendiri. Semua hal berkecamuk di dalam kepalanya hingga ia tak sadar kalau ia sudah cukup lama mematung di depan Donghae. Barulah ketika Donghae menyodorkan sesuatu di depan wajahnya, pikiran Jung Ra seolah seperti ditarik kembali ke dalam apartemen.

Sebuah cincin berwarna putih. Cincin yang sederhana berhias batu permata berwarna putih mengkilat. Air mata Jung Ra tanpa sadar turun begitu saja dari sudut matanya ketika memandang cincin yang ada di telapak tangan Donghae tersebut.

“Aku…. aku… tidak tahu harus menyampaikan hal ini dengan cara yang bagaimana karena jujur… aku tidak…”

Donghae tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Jung Ra memeluknya lagi dengan tiba-tiba. Wanita itu menangis di lekukan lehernya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae yang kemudian membalas pelukan Jung Ra.

“Aku tidak tahu. Rasanya tubuhku lelah sekali dan aku hanya ingin memelukmu seperti ini,” Jung Ra menjawab dengan suara paraunya.

Donghae tersenyum tipis sambil mengusap lembut rambut Jung Ra, membiarkan wanita itu berada di pelukannya untuk waktu yang ia inginkan. Ia tahu mungkin Jung Ra terkejut karena apa yang baru ia katakan.

“Kau tahu kalau aku mencintaimu, kan?” ucapnya yang kemudian mendapat anggukan lemah dari Jung Ra di lehernya sebagai respon. “Aku hanya ingin membuatmu menjadi milikku seutuhnya. Berkencan memang menyenangkan, tapi menikahimu jauh lebih berarti sekarang. Selain karena kita sudah cukup lama berkencan, aku juga bisa membuat Hyukjae kalah telak dariku,” lanjutnya setengah bercanda.

“Jangan merusak suasana,” erang Jung Ra pelan.

Donghae hanya terkekeh. Namun, mendadak ia sadar akan sesuatu. Matanya menunduk menatap kedua tangannya yang memeluk punggung Jung Ra. Ada sesuatu yang aneh di sana. Ada yang hilang.

“Cincinnya?” gumamnya sambil mengerutkan kening.

Jung Ra yang mendengarnya terpaksa melepaskan pelukannya dan menatap Donghae yang matanya yang masih basah karena air mata.

“Di mana cincinnya?” tanya Donghae, menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong pada Jung Ra.

“Kenapa tanya padaku? Sejak tadi kan kau sendiri yang membawanya,” ujar Jung Ra sambil menyeka air mata di wajahnya.

“Aaah, itu karena kau tiba-tiba memelukku tadi! Sekarang cincinnya pasti jatuh dan menggelinding entah ke mana,” ucap Donghae sedikit kesal, membungkukkan tubuhnya untuk mencari cincin tersebut di lantai dan di bawah meja yang ada di dekatnya.

“Kenapa kau jadi menyalahkanku?!” Jung Ra yang tidak terima terpaksa membentak Donghae meski ia ikut membantu mencari cincine tersebut.

“Kau selalu saja bertindak aneh saat emosimu tidak stabil. Bukankah aku selalu bilang kalau kau harus tetap gunakan akal sehatmu saat kau sedang merasa emosional? Sekarang coba lihat. Gara-gara aksimu, cincin itu hilang,” Donghae tetap saja mengomel di sela mencari keberadaan cincin tidak bersalah tersebut.

“Cincin itu tidak hilang! Dia masih ada di dalam sini. Tidak akan sulit mencarinya, toh, apartemenmu tidak sebesar apartemen Lee Hyukjae. Jangan terlalu dibesar-besarkan!” balas Jung Ra setelah muncul dari bawah meja makan.

Donghae mendengus keras sambil menegakkan tubuhnya. Pandangan ketus ia lemparkan ke arah Jung Ra yang sibuk menggeser meja sudut.

“Lee Hyukjae? Kau membawa-bawa nama orang gila itu sekarang?”

“Maaf, kau yang pertama menyebutkan namanya,” koreksi Jung Ra sambil meraba-raba permukaan lantai yang ada di bawah meja.

“Tapi kan…, wow… Bahkan di momen-momen spesial seperti ini dia masih ada di antara kita. Hei, Nona Go, aku baru saja melamarmu tadi! Bisa-bisanya kau menyebut nama cinta pertamamu di depanku!” Suara Donghae berhasil memenuhi ruangan tersebut.

“Iya aku tahu, aku juga sudah menerima lamaranmu. Kita menikah. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aah, itulah yang membedakanmu dengan kakakmu. Dia selalu bersikap dewasa, tidak sepertimu.”

Dan Jung Ra masih saja meladeni Donghae. Saling balas omelan satu sama lain dengan tetap mengeksplorasi setiap sudut di dalam apartemen tersebut untuk menemukan cincin indah yang ada di tangan Donghae beberapa saat lalu.

 

=== T H E   E N D ===

Sorry baru publish yang ini, padahal waktu itu aku bilang bakal publish secepatnya 😀 sorry banget~

Untuk yang Hot Issue, mohon sabar ya. Nggak sabar juga nggak apa-apa, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa hahahaha.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

5 Comments

  1. Akhirnyaaa… Donghae berani melamar JungRa jugaaa… kalau melamar aku kapan Oppa?? #Eeehhh *ditarikKyuhyun hehehehe

    Reply
  2. inggarkichulsung

     /  December 17, 2016

    So sweet bgt stlh deg2an, nervous tdk karuan dan jung ra jg aneh melihat kelakuan donghae oppa, finally Donghae oppa mengatakannya juga ingin melamar jung ra meskipun krn reaksi jung ra yg bikin donghae oppa waw plus cincin yg mau dia ksh ke jung ra menggelinding entah kemana, jadi ramai dech suasana yg drtd canggung, pakai bawa nama Hyukjae oppa segala.. hopefully Nita melanjutkan Venus juga, really waiting that ff.. thanks

    Reply
  3. Monika sbr

     /  December 23, 2016

    Ahahaha…. Lamarannya super lucu, ditambah lagi cincinnya malah hilang entah kemana.
    Nggak sabar nungguh cerita2 selanjutnya tentang mereka, apalagi pas pernikahan mereka berdua.

    Reply
  4. Ya ampun dongeeeeekk hahaha apadeh, mau ngelamar aja segitu deg-degannya… gimana nunggu di depan altar eh?? Wkwk 😂
    Abang Hyukjae kasihan banget jadi bahan pertengkaran mereka. Bener juga sih kata Jung Ra kalo Donghae gak lebih dewasa dibanding kakaknya itu 😂😂😂

    Aduh Kak Nita… Serius, aku gak sabar pisan nunggu Hot Issue. Heuuu… memangnya lagi kena WB ya utk FF yang itu? 😟

    Reply
    • Addddduuuuuuh sorry sorry sorry sorry sorry banget udah bikin kamu nunggu lamaaaaa banget. Iya nich untuk ff yg itu WB-nya parah banget gara2 flashdisku rusak >< udah dicoba-coba bikin yg next-nya bolak-balik ku delete soalnya ga ada feels blas dan aneh. Tapi sampai sekarang masih aku coba selesain kok. Sorry banget ya TT-TT semoga kamu masih mau nunggu >< doain lah hahahaha

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: