HOT ISSUE [Part 9]


12

HOT ISSUE [ Part 9]

*

*

========================

Sambil memasang wajah cemas, Park Yeon berjalan mondar-mandir di dekat pintu kamar mandi yang ada di kamar hotel bernomor 815. Matanya berulangkali menatap daun pintu kamar mandi yang tertutup sempurna tersebut, menunggu sosok Cherry keluar dari sana.

Well, sekedar informasi saja, saat ini Park Yeon dan Cherry memang benar-benar sedang berada di hotel. Lebih tepatnya… The Grand Lux Hotel, salah satu hotel bintang lima bertaraf internasional di Seoul. Dan Cherry adalah salah satu pengunjung tetap hotel tersebut yang sudah memiliki satu kamar hotel pribadi di sana. Yeah.. kalian tidak salah baca. Cherry memang memiliki salah satu kamar VVIP di hotel tersebut. Tidak aneh bila seorang Cherry Jung sampai bisa memiliki satu kamar hotel di hotel sekelas The Grand Lux Hotel mengingat ada beberapa artis terkenal yang juga memiliki kamar pribadi di hotel tersebut.

Tidak, Park Yeon tidak akan membiarkan dirinya mengagumi tempat mewah ini karena ada hal yang lebih penting dan lebih darurat. Kejadian yang terjadi menimpa dirinya dan Cherry masih menggalayut kuat di benaknya. Bagaimana tanpa ia duga telur busuk tersebut melayang ke arahnya dan hampir mengenainya. Kemudian Cherry yang entah bagaimana melindunginya dari telur busuk lainnya yang kembali melayang.

Menyeramkan. Sangat menyeramkan.

Kepala Park Yeon menoleh dengan cepat ke arah pintu kamar mandi yang baru saja terbuka. Sosok Cherry berbalut handuk berbentuk piyama berwarna biru muda keluar. Tangannya yang membawa handuk, mengusap-usap rambut panjangnya yang basah.

Eonnie…”

“Aku tidak apa-apa. Harus berapa kali kau menanyakan hal itu padaku?”

Sepenuhnya Park Yeon membeku di tempatnya. Gaya bicara Cherry berbanding jauh dengan yang ia dengar ketika mereka melintas di depan butik tadi. Ini… seperti gaya bicara seorang Cherry Jung yang ada di depan kamera.

“Kejadian tadi pasti sudah masuk portal berita online karena ada beberapa orang yang merekam kita berdua. Kau harus bersiap-siap bila manajermu menghubungimu,” ucap Cherry sambil menyalakan hair dryer dan mulai mengeringkan rambutnya dengan pelan di depan meja rias.

Cherry baru akan menyahut ketika ponsel yang ada di tangannya bergetar. Zhoumi mencoba menghubunginya saat ini.

“Benar kan apa kataku?” kata Cherry, memandang pantulan Park Yeon yang ada di kaca.

Untuk beberapa detik Park Yeon hanya memandang layar ponselnya hingga ponsel tersebut berhenti bergetar. Namun, selang beberapa detik, layar ponselnya kembali menyala. Zhoumi masih mencoba menghubunginya.

Oppa…”

Park Yeon memutuskan untuk menerima telepon dari manajernya tersebut. Bersamaan dengan itu Cherry juga mendapat telepon dari seseorang yang sudah pasti adalah Kyuhyun. Berbeda dengan Cherry yang terlihat tenang-tenang saja meski sedang menerima telepon dari Kyuhyun yang sudah kolaps dengan berita yang beredar malam ini, Park Yeon justru bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan sederhana Zhoumi : Di mana kau sekarang?

“Aku…”

Belum selesai Park Yeon mencoba menjawab Zhoumi, tiba-tiba ponselnya terlepas dari tangannya dan sudah berpindah tangan pada Cherry.

“Kami ada di Grand Lux Hotel. Kau bisa menjemputnya melalui lorong semut.”

Hanya itu yang Cherry ucapkan sebelum mengembalikan ponsel tipis tersebut pada Park Yeon. Awalnya Park Yeon ingin kembali berbicara dengan Zhoumi, tapi manajernya tersebut sudah lebih dulu memutuskan kontak. Oh, dan satu lagi. Lorong semut? Apa itu? Kenapa semua orang suka sekali menggunakan istilah-istilah yang sama sekali tidak ia ketahui?

“Mungkin dia akan datang setengah atau satu jam lagi. Jadi, kau tunggu saja di sini.”

Hanya itu yang Cherry ucapkan sebelum mengambil blus hitam dan celana denim dari dalam almari. Membiarkan Park Yeon sendiri lagi saat ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.

Baiklah, Park Yeon yang masih belum bisa menghilangkan ekspresi bingung di wajahnya hanya berdiri di sana. Tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Tunggu saja di sini? Jadi, ia harus berada di sini setengah hingga satu jam ke depan?

Semuanya menjadi serba cepat tanpa bisa Park Yeon ikuti karena ia masih larut dalam pikirannya yang berkecamuk. Bahkan ia tidak sadar sejak kapan Cherry sudah berganti pakaian dan kini tengah memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas mahalnya.

“Kita tidak bisa keluar bersama-sama dari hotel ini karena aku yakin akan ada wartawan gila yang sudah mengintai tempat ini dari jauh dengan kameranya. Tunggulah manajermu di sini. Dia akan segera datang.” Cherry hanya menepuk lengan Park Yeon dan melangkahkan kakinya ke arah pintu.

“Dia benar-benar meninggalkanku di sini? Sendirian?” Park Yeon memandang tidak percaya pada pintu yang sekarang sudah tertutup rapat.

Baiklah, sekarang apa yang akan ia lakukan? Menuruti kata Cherry untuk tetap berada di sini sampai Zhoumi menjemputnya?

“Mungkin aku akan menunggu di sini dulu saja.”

Ya, itulah keputusan yang akhirnya diambil Park Yeon. Selain karena ia belum tahu tentang hotel ini, ia juga masih takut dengan keadaan di luar hotel yang mungkin saja memang sudah ada beberapa wartawan gila yang menunggu kemunculannya dari hotel. Ia tahu ia tidak semahir Cherry untuk urusan melarikan diri dari kejaran para wartawan. Oh tentu saja, wanita cantik itu bisa melakukannya dengan mudah. Lihat saja daftar skandal yang menyangkut namanya. Mungkin bila diibaratkan bisa menyamai panjang sungai Han.

Lalu, Park Yeon? Huh, kali ini ia harus mengakui kekurangannya sendiri.

.

.

.

Setelah hampir setengah jam berada di dalam kamar mewah Cherry, menghabiskan waktu dengan berguling tidak jelas di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman sambil beberapa kali menahan napas membaca satu per satu artikel tentang insiden tersebut di beberapa portal berita online, akhirnya Park Yeon memutuskan untuk menyudahi kegiatannya dan keluar dari kamar.

Seperti seorang pencuri yang mengendap-endap di rumah orang kaya, Park Yeon keluar dari kamar tersebut. Kepalanya menoleh ke lorong panjang yang ada di sisi kanan dan kiri. Tidak ada seorang pun yang ada di area tersebut.

Dengan bersikap seperti seorang pengunjung hotel biasa, Park Yeon lantas berjalan menjauh dari depan kamar Cherry. Matanya masih mengamati ke segala arah dengan was-was. Siapa tahu saja ada wartawan yang berhasil menerobos masuk kemari meski sebenarnya itu sangat mustahil.

Ia baru akan kembali memeriksa ponsel ketika tiba-tiba ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang yang muncul dari dalam kamar yang ada di dekatnya. Sontak saja ia terkejut bukan main saat tubuhnya melesat masuk ke dalam kamar tersebut. Andai saja sebuah tangan tidak segera memeluk pinggang rampingnya, mungkin ia sudah terjerembab ke atas lantai kamar yang keras dan dingin.

YAA, APA-APAAN INI?!” teriaknya sambil memutar tubuh untuk melihat siapa yang sudah menariknya ke dalam kamar ini dengan tiba-tiba. Sedetik kemudian kedua alisnya terpaksa menyatu saat mengetahui siapa orang tersebut.

Sunbae?!” serunya.

“Hai,” jawab Kyuhyun dengan wajah datar yang masih belum sadar kalau ia masih memeluk pinggang Park Yeon.

Tampaknya… Park Yeon juga belum sadar karena ia masih terkejut dengan kemunculan Kyuhyun yang tiba-tiba ini. Akan tetapi selang dua detik kemudian, wanita bermata besar itu bisa mengembalikan kesadarannya.

Sunbae, tanganmu di pinggangku,” ucap Park Yeon pelan.

Kyuhyun yang mendengar Park Yeon membutuhkan lebih dari tiga detik untuk mencerna kata-kata tersebut sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang. Tapi sayangnya, ia sama sekali tidak peka kalau posisi berdiri Park Yeon tidak begitu benar dan seimbang.

Bruk!

Park Yeon berakhir di atas lantai kamar hotel yang dingin. Umpatan keras lolos dari bibirnya bersamaan dengan rasa sakit yang cukup kuat menyerang tulang ekornya. Seniornya ini benar-benar GILA!

“Apa kau baru saja mengumpat padaku?” Kyuhyun membelalakkan matanya ke arah Park Yeon, tidak percaya seorang wanita bisa mengucapkan kata kasar seperti itu.

“Baguslah kalau Sunbae bisa mendengarnya karena sebenarnya aku berniat mengucapkannya sekali lagi kalau Sunbae tadi tidak terlalu mendengarnya. Apa Sunbae sadar Sunbae sudah—–“

“Biar kubantu.” Kyuhyun mengulurkan tangannya pada Park Yeon yang mana secara tidak langsung ia ingin memotong ocehan Park Yeon.

Bukan Song Park Yeon namanya kalau tidak memberikan respon berbeda. Lihat saja bagaimana wanita itu menepis tangan Kyuhyun dengan kasar kemudian berusaha berdiri sendiri.

Kyuhyun yang melihat Park Yeon seperti itu hanya berdecak pelan. Ia tahu hoobae-nya itu akan memberikan respon kurang ajar. Toh, ia juga tidak bisa marah karena tadi adalah kesalahannya sendiri. Wajar bila Park Yeon kesal padanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Apanya?” balas Park Yeon ketus.

“Kau dan Cherry sebelum kalian ada di sini.”

Park Yeon terpaksa menghilangkan wajah ketusnya setelah Kyuhyun menyebut nama Cherry. Ah, ia hampir saja lupa pada hal itu hanya karena merasa kesal pada kelakuan Kyuhyun. Maka dari itu, setelah berdehem pelan dan merapikan rambutnya sekilas ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam waktu yang cukup singkat.

“Brengsek sekali orang itu! Siapa dia sebenarnya, hah?!”

Park Yeon hanya memutar jengah bola matanya saat mendengar Kyuhyun berseru seperti itu. “Sunbae, kalau kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa? Aku saja tidak tahu siapa yang melakukannya karena telur busuk itu melayang begitu saja ke arah kami.”

“Lalu… bagaimana dengan kalian? Apa kalian tidak apa-apa? Apa kalian terluka?” Kyuhyun terlihat khawatir.

Wanita berpostur tidak terlalu tinggi tersebut menggelengkan kepala. Meski sebenarnya ingin tertawa karena pertanyaan itu baru muncul padahal sudah lebih dari lima menit mereka berdua ada di kamar ini, tapi Park Yeon cukup menghargainya.

“Kalau aku sih tidak apa-apa, Cherry Eonnie—“

“Cherry? Kenapa dengannya? Apa dia terluka? Di mana dia sekarang? Kenapa hanya kau yang ada di sini? Apa dia masih ada di kamar itu? Aku berusaha menghubunginya tapi dia sama sekali tidak mau mengangkatnya.”

Kyuhyun memberondong Park Yeon dengan banyak pertanyaan dalam satu tarikan napas. Meski Park Yeon masih memberikan reaksi yang sama karena lagi-lagi Kyuhyun terlambat mengungkapkan kekhawatirannya, namun ia bisa mengerti. Wajar saja Kyuhyun begitu khawatir, dia kan pacar Cherry.

“Dia mendapat luka kecil di keningnya. Hanya luka kecil. LUKA KECIL, okay? Benar-benar kecil. Bukan luka yang sampai membuat wajahnya rusak hingga tidak bisa dikenali atau sampai membuat kepalanya terlepas dari lehernya. Hanya. Luka. Kecil,” Park Yeon terpaksa menjabarkan secara detail—sangat detail—tentang luka kecil di kening Cherry karena dilihatnya Kyuhyun seperti baru saja mendapatkan kabar yang sangat buruk dan hampir kehilangan kesadarannya saat mendengar cherry terluka.

“Apa kau tahu di mana dia sekarang?”

Park Yeon mengedikkan kedua bahunya. “Aku tidak tahu. Kukira dia pergi dari sini untuk menemui Sunbae karena kudengar dia menerima telepon dari  Sunbae.”

Berkacak pinggang dan menghela napas frustasi, Kyuhyun memandang ke arah lain. Mencoba mengira-ngira di mana pacarnya itu sekarang. Ia memang menghubungi wanita cantik itu beberapa saat lalu dan berniat untuk menjemputnya.

“Lalu kau sendiri bagaimana?” Kyuhyun mengembalikan pandangannya ke arah Park Yeon.

“Aku? Aku sebenarnya sedang menunggu Zhoumi Oppa karena Cherry Eonnie bilang dia akan menjemputku melalui lorong semut. Baiklah, aku tidak tahu apakah aku terlihat tolol atau tidak, tapi aku ingin sekali bertanya. Apa itu lorong semut?”

Kyuhyun tak lantas menjawab. Ia hanya menunduk, memandang Park Yeon yang mengerjap-ngerjapkan mata pelan ke arahnya.

“Jalan rahasia yang sengaja dibuat hotel ini untuk para penghuni hotel. Sebenarnya itu adalah permintaan beberapa selebritis yang membeli kamar di hotel ini agar mereka bisa keluar masuk tanpa diketahui wartawan yang mungkin saja mengintai di depan hotel,” jawab Kyuhyun kemudian.

Park Yeon bisa merasakan rahangnya jatuh ke atas lantai. Lagi-lagi ia tak habis pikir. Sebegitu kuatkah power selebritis di negara ini sampai-sampai hampir semua tempat mewah berada di pihak mereka? Hmm…, tapi bila ia harus berpikir lebih dalam lagi, semakin banyak tempat-tempat mewah seperti ini yang memberikan special treatment untuk para selebritis, semakin banyak pula hal-hal yang mungkin disembunyikan orang-orang terkenal tersebut dari publik. Mencurigakan.

 “Di mana tempatnya?” Park Yeon bertanya setelah menyudahi lamunannya.

“Ada di bagian belakang hotel. Mereka membuatkan satu lorong khusus di dekat koridor yang ada di lantai dua yang akan membawa mereka langsung ke area parkir yang ada di lantai dasar. Mungkin nanti manajermu itu akan muncul dari belakang.”

Sunbae mau mengantarku?”

Tanpa berpikir dua kali, Kyuhyun langsung mengangguk dan menyuruh Park Yeon untuk segera keluar dari kamar tersebut.

oOo

at D. Entertainment

Cherry melesat masuk ke dalam gedung kantor agensinya dengan wajah dingin. Beberapa juniornya yang kebetulan berjalan melintas di dekatnya dibuat sedikit takut karena sapaan mereka sama sekali tak digubris.

Yeah, Cherry tidak sedang dalam mood yang baik hingga harus membalas sapaan siapapun. Sama sekali tidak baik. Euhmm..  sebenarnya sebelum ini ia masih sedikit tenang, tapi karena ia gagal menghubungi Kang Ho, sang CEO D Ent., semua yang ada di dalam kepalanya menjadi panas.

Brak!

Cherry membuka pinu ruang kerja Wakil CEO D Ent., Hwang Ki Joon dengan kencang. Ia juga membanting pintu tersebut dengan keras. Pria botak yang ada di meja kerja terpaksa terperanjat dari duduknya karena Cherry.

Yaa, Cherry-ya!” pekik Hwang Ki Joon sambil memegang dada.

“Apa Anda tahu di mana Kang Ho?” Cherry tidak suka berbasa-basi, tidak peduli pada Wakil CEO tersebut yang sudah terlihat akan menyemburnya dengan amarah.

“Presdir Kang Ho, maksudmu?” Hwang Ki Joon mencoba mengoreksi cara Cherry menyebut atasan mereka.

Cherry seolah tidak peduli dengan sebutan formal atau apapun itu karena ia sudah merasa kesal. “Di mana dia sekarang? Sejak tadi aku menghubunginya tapi ia tidak menjawabnya.”

“Dia menghadiri acara makan malam pemilik stasiun tv MBS. Mungkin ponselnya dimatikan. Memangnya ada apa?” tanya Hwang Ki Joon yang kemudian justru membelalakkan mata karena teringat sesuatu. “Aaaah…., berita itu! Ceritakan padaku, apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti itu?”

“Anda yakin tidak tahu apa-apa tentang insiden itu?” selidik Cherry yang berhasil membuat pria botak tersebut mengernyitkan kening.

“Heh?”

“Ini bukan sabotase, kan?”

“Sabotase? Apa yang sedang kau bicarakan?” Hwang Ki Joon tidak mengerti dengan kata-kata Cherry.

“Presdir Kang Ho. Katakan padaku kalau dia bukan orang di balik insiden itu,” ucap Cherry, melipat kedua tangan di depan dada sambil berdiri di depan meja kerja Hwang Ki Joon, menunggu jawaban masuk akal darinya.

“Maksudmu, dia menyuruh seseorang untuk melempari telur busuk ke arah kalian berdua, begitu? Hei, yang benar saja, Cherry Jung. Bukankah itu terlalu konyol? Seorang Kang Ho? Melakukan hal itu? Yang benar saja,” bantah Hwang Ki Joon.

Cherry menyipitkan matanya. Mencoba mengamati Wakil CEO tersebut untuk beberapa detik. Ia tahu atasan mereka berdua adalah orang yang phsyco dan jenius dalam waktu yang bersamaan, hingga mampu melakukan apapun agar apa yang diinginkannya tercapai. Tapi ia tidak yakin seorang Hwang Ki Joon, yang memiliki ekspresi sama menyebalkannya seperti Kang Ho bisa memiliki jalan pikir yang sama dengan Kang Ho. Sebut saja… wajah dan penampilannya boleh disebut mampu mengintimidasi siapapun, tapi tingkahnya tak jauh beda dengan orang bodoh.

“Kau mencurigaiku, ya?” selidik Hwang Ki Joon yang menyadari Cherry sedang memandanginya dengan wajah serius.

“Jangan salahkan aku kalau aku mencurigai Anda karena bagaimana pun juga Anda adalah kaki tangannya,” jawab Cherry.

“Aku memang kaki tangannya, tapi hanya sebatas pekerjaan. Aku tidak tahu apa yang selalu dia lakukan di luar pekerjaan.”

“Apa Anda juga tahu bagaimana dia mencuci otak produser drama Park Yeon yang….” Cherry terpaksa menghentikan ucapannya. Tampaknya ia hampir tidak bisa menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang hanya dirinya yang tahu.

“Apa lagi itu? Apa maksudmu? Siapa yang mencuci otak siapa? Yaa, Cherry Jung, apa yang kau bicarakan itu, hah?” cecar Hwang Ki Joon.

Cherry menyibak rambutnya ke belakang bahu dan berdehem pelan.

“Hubungi aku bila dia sudah kembali. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya. Aku pergi dulu, Pak.”

Hanya itu yang diucapkan wanita berkaki jenjang tersebut sebelum membungkuk sebentar dan keluar begitu saja dari ruangan tersebut. Meninggalkan Hwang Ki Joon yang masih kesulitan memroses apapun itu yang Cherry coba katakan beberapa saat yang lalu.

.

.

.

Park Yeon menghela napas pelan saat ia berada di depan pintu apartemennya sendiri. Sekedar informasi saja, yang mengantarnya pulang adalah Kyuhyun. Ya, Kyuhyun. Seniornya tersebut akhirnya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang karena sosok Zhoumi tak kunjung muncul di hotel tersebut. Tidak hanya itu, ponsel manajernya tersebut pun jadi susah untuk dihubungi.

Rasa bersalah merayap di benak Park Yeon. Manajernya tersebut pasti sedang sibuk menangani semua hal yang berkaitan dengan insiden tadi.

Sambil kembali menghela napas berat, ia lantas membuka pintu apartemennya dan masuk dengan gontai. Beberapa detik setelah menutup pintu dan memutar tubuhnya ke arah ruang tengah, ia dibuat terkejut karena di sana sudah ada Zhoumi yang sedang duduk di atas sofa. Pandangan pria berambut gelap tersebut begitu serius pada layar laptop yang ada di hadapannya.

O-oppa…”

Park Yeon memanggil Zhoumi sambil melangkah masuk ke ruangan tersebut. Jemarinya semakin erat menggenggam tali tas kecil yang ada di depan dadanya.

Zhoumi yang mendengar suara lantas menegakkan kepala dan menghela napas pelan. Untuk beberapa detik ia hanya terdiam sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Park Yeon. Di sana terlihat sangat jelas bagaimana ekspresi khawatir tergambar di wajahnya. Dan itu praktis membuat rasa bersalah Park Yeon semakin bertambah.

“Kau tidak apa-apa?” suara lembut Zhoumi yang khas memecah kesunyian ruangan tersebut yang tercipta setelah panggilan Park Yeon padanya terdengar.

Sedikit lega karena Zhoumi tidak memarahinya, Park Yeon mengangguk pelan.

“Reaksi wartawan sedikit berlebihan, dan aku harus memberikan mereka sedikit penjelasan agar menunggu konfirmasi resmi mengenai insiden tersebut dari kantor. Maaf, aku tidak bisa menjemputmu tadi,” ujar Zhoumi.

Park Yeon kembali mengangguk.

“Tapi satu hal yang ingin kuminta darimu.”

“Apa?”

Zhoumi terdiam. Ia seolah sedang memantapkan apapun itu yang ada di dalam kepalanya sebelum memberitahu Park Yeon.

“Hentikan permainan konyol itu sekarang juga.”

Tak pelak Park Yeon mengangkat kedua alis matanya. Suara pelan Zhoumi terdengar begitu kencang di dalam apartemennya.

“Permainan konyol?”

“Perjanjian bodoh antara kau, Cho Kyuhyun dan Cherry Jung. Hentikan itu semua. Tarik dirimu dari permainan mereka,” ucap Zhoumi.

“Tapi aku tidak bisa—“

“Apa yang kau harapkan dari mereka berdua, hah? Kau sendiri tahu kalau permainan itu sudah salah sejak awal. Dan kau sendiri juga sudah tahu kalau kau ikut permainan itu karena menuruti emosimu saja,” Zhoumi memotong bantahan Park Yeon.

“Bukan itu maksudku. Baiklah, aku tahu semua itu adalah tindakan konyol. Tapi aku harap kau juga tahu kalau ini bukan pertama kalinya kau memintaku untuk menyudahi permainan itu. Dan aku harap kau juga tahu kalau jawabanku akan tetap sama,” kini Park Yeon memberikan bantahan yang cukup lengkap.

“Kau ini bodoh atau tolol?”

Oppa, kau menyebutku bodoh? Tolol?”

Zhoumi berkacak pinggang, membuang wajah untuk menghela napas kasar. Astaga, ia ingin sekali menahan diri untuk berbicara keras pada Park Yeon. Tapi sifat keras kepala wanita itu sungguh mampu membuatnya kehilangan akal.

“Insiden tadi. Itu adalah ulah seseorang yang mencoba membuat dirimu sebagai targetnya.”

“Apa?” Alis Park Yeon kembali naik. Baiklah, ia tidak tahu akan hal tersebut.

“Ada orang yang sengaja melempar telur ke arahmu, Song Park Yeon. Apa kau tidak sadar itu?” kata Zhoumi.

Mata Park Yeon bergerak ke kiri dan ke kanan, mencoba mengingat bagaimana kejadian itu terjadi.

“Sekarang jawab aku. Apakah itu perbuatan orang iseng? Apakah kau pikir orang itu menjadikan Cherry Jung sebagai targetnya? Bukan, Park Yeon. Orang itu ingin menyerangmu. Aku menemukan beberapa forum fans yang kuyakini mereka adalah fans Cherry yang tidak suka padamu dan aku memiliki keyakinan orang yang melempar telur padamu adalah salah satu dari mereka,”tutur Zhoumi.

Masuk akal juga sih.

“Tapi aku tidak bisa menghentikan permainan itu begitu saja, Oppa. Apa kata mereka berdua padaku nanti? Mereka bisa menertawakanku yang ternyata—“

“Sadarlah, Song Park Yeon!”

Bentakan Zhoumi berhasil membuat Park Yeon terkejut setengah mati di tempatnya.

“Apakah ini yang kau inginkan setelah mengorbankan hampir semua hidupmu selama sepuluh tahun di basement Max Entertainment, hah?! Apakah semua kerja kerasmu selama itu hanya kau bayar dengan hal-hal tidak berguna seperti itu?! Melihatmu berurusan dengan mereka berdua membuatku tidak bisa berpikir dengan tenang, tahu tidak? Setiap hari aku selalu mengkhawatirkanmu, selalu bertanya-tanya apa lagi yang akan terjadi padamu esok hari setelah hari ini. Kalau aku tahu menjadi manajer akan sesulit ini, aku tidak akan pernah mau bekerja sebagai manajer artis. Aku bertanya pada manajer artis lain yang kukenal, tapi yang mereka lakukan tidak sepertiku. Jadi, kumohon berhentilah.”

Park Yeon membeku mendengar kata-kata Zhoumi yang cukup panjang lebar itu. Jujur, ini adalah pertama kali baginya mendengar bentakan Zhoumi. Takut, itulah kesan pertama yang ia dapat. Tapi kemudian, setiap kata yang keluar dari mulut Zhoumi seakan menghantam pikiran dan hatinya dengan keras.

Benarkah apa yang ia lakukan selama ini merusak kerja kerasnya saat masih menjadi trainee?

“Aku hanya tidak ingin kau terluka, Park Yeon,” tandas Zhoumi dengan suara pelan. Tangannya terangkat, mengusap pelan puncak kepala Park Yeon sebelum kembali ke arah sofa untuk menutup laptop dan mengambil tasnya.

“Istirahatlah. Aku pulang dulu,” ucap Zhoumi sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. Usapan sekilas ia berikan pada bahu mungil Park Yeon sebelum melangkah ke arah pintu apartemen Park Yeon.

oOo

.

.

.

.

1 new member just added into the group

Choco_25 : Park Yeon mengencani Kyuhyun karena ia ingin mendongkrak ketenaran dirinya sendiri. Lihat saja saat itu kan dia baru beberapa bulan debut. Rasanya aneh tiba-tiba ia diberitakan berkencan dengan Kyuhyun yang sudah lebih dulu terkenal. Kita semua tahu bagaimana terkenalnya seorang Cho Kyuhyun.

Choco_25 : Park Yeon mengkambinghitamkan Cherry dengan publik. Kurasa Cherry lebih baik daripada Park Yeon.

Choco_25 : Bila aku harus memilih, akan lebih baik kalau Cherry saja yang berkencan dengan Kyuhyun. Bukankah sebelumnya mereka adalah teman baik?

Kyu25897 : Siapa ini?

Cho_kyute : Rumor apa lagi ini?

Choco_25 : just left the group

Spark001 : Siapa itu Choco_25?

Cherrykyu : Dasar Park Yeon!

Kyu25897 : Apakah itu benar? Maksudku rumor itu.

(526 new chats)…..

 to be continued

==============================

*

*

*

HIIIIIIII!! IT’S BEEN A WHILE! Maaf BANGET kalau baru publish sekarang. Kayaknya udah berbulan-bulan ya hiatus. duuh…..

Setidaknya ini adalah hasil kerja keras mendaur ulang otak saya yang udah buntu dan nyerah karena semua file ff ilang terbawa angin *ok ini berlebihan.

Jadi, tolong apresiasi kerja keras saya dengan kasih komentar dan vote ok hahahahahahaha.

Karena ini brand new thought tentang part yang ini, jadi tolong dimaafin kalau feelnya beda dari part2 sebelumnya. I did my best 😥

Let’s see if my cute readers are still here with me or not

thanks for waiting this potato, guys. I LOVE YOU

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

13 Comments

  1. Uchie vitria

     /  November 12, 2016

    Bukan cuma bodoh dan tolol mah park yeon tapi bebel banget jadi orang
    Beruntung selalu ada zhoumi yang melindunginya

    Reply
  2. Lyla

     /  November 12, 2016

    Apa cerry dan kyuhyun akan setuju kalau park yeon mengakhiri sandiwara nya, toh fana mereka juga udah mulai menerima kalau kyu sama cerry berkencan

    Aku justru berharap cerry suka dan jatuh cinta sama zhoumi

    Reply
  3. Huwaaah Kak Nita akhirnya ini di publish juga 😍😍😍😍 aku inget terakhir kali baca itu emang Park Yeon & Cherry dilempari telur busuk tapiiiiiii…. aku lupa perjanjian diantara mereka bertiga itu apa~~ kalo gak salah tawaran pekerjaan yg dikasih Cherry ya? Aku inget sih waktu itu Zhoumi emang nolak mentah-mentah.
    Duuuh Park Yeon dikasih tau teka’ bgt yak 😂 kalo ini emang sabotase, aku penasaran sama orang yang mengkambing-hitamkan Park Yeon..
    Ditunggu part selanjutnya Kak 😊

    Reply
    • hai kamu yg di sana, yang kalau komen panjaaaaaaaaang banget hehehehe 😀

      thanks banget masih mau baca lanjutan ff ini walaupun udah hiatus berbulan-bulan lamanya

      Reply
  4. Kyupit

     /  November 13, 2016

    Park yeon udh jd korban kedok hubungan kyuhyun-cherry skarang di kambing hitamkan orang yg gx suka dia tp hubungan kyu dan park yeon jd makin dekat walau gx akrab dan aku penasaran ada hubungan apa cherry dan zhoumi kayanya menyembunyikan sesuatu

    Reply
  5. elfrye

     /  November 13, 2016

    Park yeon aj yg bebel mau aj du manfattin,penasaran akhirny nanti yeon sm kyu apa sm cherry y

    Reply
  6. Monika sbr

     /  November 20, 2016

    Kasihan park yeon yg selalu menjadi sasaran kemarahan org2.

    Reply
  7. kasihan park yeon menjadi sasaran orang2 hanya karena dia pura2 jadi pacar kyu. benar kata zhoumi sudahi saja semuanya daripada kamu sakit terus.

    Reply
  8. Yang sabar ajja unyuk park yeon

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: