VENUS [Part 12]


venus 4

V E N U S
Chaptered FF

PG-16

*

*

*

————————-oOo————————-

Donghae, Kyuhyun, Siwon dan beberapa petugas muncul dari balik pintu lift yang baru saja terbuka secara otomatis di area parkir mobil yang ada di lantai dasar gedung Kepolisian Pusat. Di antara mereka ada seseorang yang mengenakan topi hitam dan menundukkan kepalanya. Sebagian wajahnya tertutup oleh masker berwarna putih. Tak hanya itu saja, pakaian yang dikenakannya pun hanya setelan pakaian training berwarna abu-abu. Bila dilihat sekilas, mungkin ia tampak seperti tersangka kriminal yang akan dibawa ke suatu tempat. Namun, bila kita coba mengamatinya sedikit lebih lama, ia tidak seperti seorang tersangka karena kedua tangannya tidak diborgol.

Ya, orang itu memang bukan tersangka sebuah kasus kriminal, melainkan Go Hyeong Man yang sore ini memang dijadwalkan akan dipindahkan ke tempat aman di Dongdaemun. Tentunya alamat lengkap tempat persembunyiannya hanya diketahui oleh D-Team, Hankyung dan beberapa petugas yang sudah dipilih.

“Semuanya sudah siap, Kapten.”

Hyukjae muncul dari balik sebuah mobil van hitam saat rombongan mendekati sebuah mobil hitam yang tampaknya akan digunakan untuk membawa Go Hyeong Man.

“Aku dan Siwon akan mengikuti kalian dari belakang. Berhati-hatilah,” ujar Hankyung sambil menepuk bahu Hyukjae, lalu memberi isyarat Siwon agar segera masuk ke mobil hitam yang ada di dekatnya.

Dengan cepat Donghae masuk ke dalam mobil bersama Go Hyeong Man dan Kyuhyun. Hyukjae langsung menyalakan mesin mobil sesaat setelah semua orang sudah berada di dalam mobil.

“Tetapkan tundukkan kepala Anda, Sajangnim,” kata Hyukjae sambil melajukan mobilnya ke arah pintu keluar dengan kecepatan standard ketika melihat Go Hyeong man yang perlahan menegakkan kepala dari pantulan kaca kecil di atasnya.

“Apa tidak apa-apa kita dikawal satu mobil saja? Bagaimana kalau Lee Sungmin dan komplotannya mengikuti kita?” tanya Kyuhyun, matanya memandang pintu utama gedung ketika mobil Hyukjae sudah keluar dari area halaman depan gedung.

“Justru bila kita dikawal oleh banyak mobil, dia akan dengan mudah mengikuti kita. Itulah kenapa Kapten menyarankan kita untuk menggunakan mobil pribadi daripada mobil polisi,” Hyukjae menjawab pertanyaan Kyuhyun sambil sesekali memerhatikan mobil Hankyung yang ada di belakangnya melalui kaca spion.

Donghae yang sejak tadi terdiam di samping Go Hyeong Man lantas mengeluarkan ponselnya dan mulai menuliskan sebuah pesan yang akan ia kirimkan pada seseorang. Setelah memastikan pesan tersebut terkirim, ia menghela napas pelan. Kepalanya menoleh ke sisi kiri tubuhnya yang menampilkan pemandangan sisi kiri jalan raya dari balik kaca mobil.

Mobil Hyukjae menjauh dari mobil Hankyung setelah Hankyung memberitahu Hyukjae untuk memperlebar jarak di antara mobil mereka agar tidak terlalu mencolok bila dilihat orang. Bahkan sesekali mobil mereka saling mendahului satu sama lain dengan kecepatan standar seperti yang dilakukan mobil lainnya di jalan.

.

.

.

W Building III, Dongdaemun.

Mobil Hyukjae dan mobil Hankyung berhenti di depan sebuah gedung apartemen sederhana yang tidak terlalu tinggi. Hyukjae keluar terlebih dulu dibanding Kyuhyun dan Donghae yang harus mengeluarkan Go Hyeong Man dari jok belakang.

“Gedung ini…, sudah bertahun-tahun, tapi penampilannya masih menyedihkan saja seperti itu,” ujar Hyukjae sambil mendongakkan kepalanya, mengamati gedung tersebut yang di matanya begitu kumuh. Di beberapa bagian dinding luar gedung tersebut, catnya sudah terkelupas hingga memperlihatkan susunan batu-bata di baliknya. Beberapa pohon besar dan tinggi menemani gedung tersebut berdiri. Dan saking lebatnya pohon-pohon yang ada di sekitarnya, gedung tersebut terlihat gelap dan lembab.

“Hah, jangankan yang itu, saudara-saudaranya saja juga begitu,” sahut Kyuhyun yang memandang dua gedung serupa di sisi utara gedung tersebut.

“Yang aku herankan, kenapa Unit Investigasi masih saja menggunakan tempat ini untuk menyembunyikan saksi penting. Gedung-gedung itu sudah mirip dengan gedung kembar tiga yang mana semuanya berhantu,” timpal Hyukjae sambil berkacak pinggang.

“Sudah selesai mengeluhnya? Kalau sudah, segera masuk ke dalam.”

Donghae terpaksa menginterupsi percakapan Hyukjae dan Kyuhyun setelah Go Hyeong Man dibawa masuk oleh dua orang petugas yang berjaga di depan pintu gedung. Bahkan tanpa memedulikan dua temannya tersebut menggerutu pelan, ia melangkah masuk bersama Hankyung dan Siwon.

W Building III adalah satu dari tiga gedung apartemen sederhana yang digunakan Unit Investigasi Kriminal di Kepolisian Pusat untuk keperluan Perlindungan Saksi kasus mereka. Sebenarnya gedung-gedung tersebut bukan milik Kepolisian Pusat, melainkan milik salah satu saksi kasus pembunuhan di tahun 1998 yang nyawanya berhasil diselamatkan. Sebagai ungkapan terima kasih, pemilik gedung tersebut menawarkan kerja sama dengan menyediakan tempat aman bagi para saksi yang perlu dilindungi. Setidaknya tawaran kerjasama yang diterima Kepolisian Pusat cukup memberikan keuntungan hingga sekarang karena sampai sekarang keselamatan semua saksi dari kasus-kasus berat yang pernah dibawa ke tempat ini masih terjamin. Bahkan kasus-kasus yang melibatkan para saksi malang itu berhasil dituntaskan sampai bersih.

Prestasi yang sangat baik, yang disaksikan secara bisu oleh tiga gedung apartemen sederhana tersebut.

“Lantai 3, apartemen nomor 302. Ini adalah tempat sementara yang harus Anda tinggali, Pak,” tutur Hankyung setelah mereka semua berada di salah satu apartemen yang ada di gedung tersebut.

Go Hyeong Man melepas topi dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Diedarkannya pandangannya ke segala arah, mengamati semua sudut apartemen berukuran kecil tersebut. Tidak ada yang istimewa dengan isi apartemen tersebut. Semuanya terlihat sama dengan apartemen-apartemen kecil lainnya di luar sana. Hanya saja, yang membedakannya adalah banyaknya kamera CCTV yang menempel di hampir semua sudut apartemen. Atau mungkin masih ada kamera CCTV yang terpasang di tempat-tempat tersembunyi lainnya, yang tidak ia ketahui di mana letaknya.

“Kamera-kamera itu diperlukan untuk mengawasi keamanan Anda, Pak. Tidak hanya di dalam sini, di luar juga ada banyak kamera CCTV yang terpasang,” lanjut Hankyung setelah menyadari Go Hyeong Man mengamati letak-letak kamera pengintai tersebut.

“Detailnya, kami memasang banyak kamera CCTV di area depan, belakang, kiri dan kanan gedung. Tak hanya itu saja, kamera-kamera itu juga ada setiap tiga meter di lorong-lorong yang ada di semua lantai. Dengan begitu, kami bisa  mengawasi gerak-gerik semua orang yang ada di dalam gedung ini demi keselamatan saksi yang kami lindungi,” Siwon menambahkan kata-kata Hankyung.

“Apa… itu benar-benar bisa menjamin keselamatanku, Detektif? Bagaimana kalau—“

“Anda aman di sini, Pak. Selama Anda tidak tetap berada di sini sementara kami menyelesaikan kasus yang melibatkan Anda, Anda akan aman. Jadi, hal ini juga butuh kerjasama dari Anda,” Hankyung memotong ucapan Go Hyeong Man.

Setelah memastikan Go Hyeong Man mengangguk, mengiyakan semua permintaan Hankyung, semua anggota D-Team keluar dari apartemen itu. Membiarkan Go Hyeong Man sendirian agar bisa istirahat.

“Kalian berdua, pergilah ke Control Room yang ada di W Building II. Pastikan semua kamera yang terpasang di tiga gedung ini berfungsi. Perintahkan semua petugas yang berjaga di semua area gedung agar tidak terlalu menampakkan diri. Kita harus mengusahakan tempat ini tetap terlihat biasa, tidak menarik perhatian orang lain.”

Donghae dan Hyukjae menganggukkan kepala secara bersamaan setelah mendengar perintah dari Hankyung.

“Apa kita benar-benar bisa yakin kalau Lee Sungmin tidak akan bisa menemukan tempat ini, Kapten?”

Hankyung baru akan mengajak Siwon untuk pergi saat Hyukjae melontarkan pertanyaan. Dilihatnya ada keraguan di wajah salah satu anggota D-Team tersebut.

“Semoga saja tidak.”

Hanya itu jawaban Hankyung sebelum benar-benar pergi bersama Siwon. Meninggalkan Donghae dan Hyukjae yang masih saja ketar-ketir dengan rencana yang mereka lakukan saat ini. Bukannya apa-apa, meski tidak mengenal secara langsung siapa Lee Sungmin yang sebenarnya, mereka sudah tahu bagaimana sepak terjang pria misterius tersebut semenjak pencarian identitasnya terhenti karena kurangnya informasi.

Bukti bahwa dia dengan lihai bisa lolos dan bernapas di luar sana setelah berhasil membunuh dua orang dalam waktu berdekatan adalah bahaya yang mengancam kerja keras D-Team.

.

.

.

.

Meanwhile…

<W Building III, Dongdaemun, lantai 3, apartemen nomor 302. Itu adalah tempat perlindungan Go Hyeong Man. Aku sengaja memberitahu alamat itu padamu karena perintah kaptenku. Tapi, karena alamat itu hanya timku dan kapten unitku yang tahu, aku mohon jangan beritahu siapapun. Kalau kau ingin ke sana, pastikan tidak ada orang yang mengikutimu. Ini demi keselamatan Go Hyeong Man. Satu hal lagi, kau tetaplah berhati-hati dan waspada. Hindari tempat atau jalan yang sepi.>

Jung Ra menerjunkan wajahnya ke meja kerjanya hingga membuat keningnya mendarat cukup keras pada permukaan meja yang terbuat dari kaca. Beberapa petugas yang ada di ruangan tersebut terpaksa menoleh ke arahnya karena mendengar suara tersebut. Akan tetapi, ia sama sekali tidak peduli dengan mereka semua karena pikirannya sendiri sedang berkecamuk. Dan itu hanya karena ia membaca pesan yang dikirim Donghae setengah jam lalu.

“Kenapa juga sih orang ini harus mengirimkan pesan ini padaku?” gerutu Jung Ra sambil memandang layar ponselnya.

Andai Jung Ra bisa, mungkin ia akan membiarkan pesan tersebut begitu saja. Akan tetapi, pada kenyataannya, ia tidak bisa. Pesan tersebut masih saja mengganggunya hingga membuatnya tidak bisa konsentrasi pada pekerjaan yang sedang ia coba selesaikan saat ini.

“Baiklah. Singkirkan ini semua dulu untuk beberapa saat dan cobalah berpikir pelan-pelan,” gumamnya sambil memandang laporan kasus yang sedang ia kerjakan di atas meja. Ya, ia tidak bisa memikirkan dua hal sekaligus di dalam kepalanya. Maka dari itu, ia memilih untuk mencoba memikirkan kasus yang sedang ditangani tim Donghae sambil berjalan ke arah Ruang Arsip Kasus.

Kakinya terhenti pada rak tinggi yang menyimpan semua berkas kasus yang ditangani Kantor Polisi Gangnam di tahun 2008. Meski ia tahu berkas kasus pembunuhan Kim Myun Shik sudah dialihkan ke Pusat, ia masih berharap ada kasus lain yang ada hubungannya dengan kasus tersebut selain lima kasus bunuh diri yang disebutkan Donghae waktu itu.

Namun, sepertinya apa yang diharapkan Jung Ra tidak terwujud karena ia tak menemukan apa-apa meski ia sudah berada empat jam di dalam ruangan tersebut. Bahkan kondisi ruangan tersebut sudah mirip kapal pecah setelah ia “obrak-abrik”.

“Tidak ada. Sama sekali tidak ada,” gumam Jung Ra seraya mengembalikan berkas kasus kriminal tahun 2008 terakhir di tangannya ke rak yang ada di sampingnya dengan asal. Dihelanya napas panjang sambil menyibakkan poni rambutnya ke belakang. Bergulat dengan berkas-berkas kasus sebanyak itu ternyata cukup menguras tenaganya. Selain itu, tenaganya terbuang dengan sia-sia.

Dengan gontai, Jung Ra keluar dari Ruang Arsip dan sedikit tercengang melihat ruangan tempatnya bertugas telah kosong. Ah, ia baru ingat. Ini sudah hampir tengah malam dan tentu saja rekan-rekannya sudah banyak yang pulang. Termasuk Pimpinan Park yang sudah tak terlihat sosoknya di ruangannya.

Jung Ra baru akan meraih mantel coklatnya ketika sebuah niat muncul di benaknya.

Apakah ia benar-benar harus pergi ke apartemen tempat ayah tirinya disembunyikan? Tapi untuk apa juga ia pergi kesana? Untung? Tidak. Rugi? Tidak juga. Atau sebut saja… pergi ke sana atau tidak sama sekali tidak ada pengaruh untuknya karena pada dasarnya ia memang tidak mengenal ayah tirinya tersebut.

Akan tetapi, instingnya sebagai seorang polisi tetap membuatnya penasaran dengan kasus tersebut. Ia tahu kalau kasus yang ditangani salah satu tim investigasi dari Pusat tersebut tergolong kasus yang rumit. Tapi… serumit itukah sampai harus memasukkan ayah tirinya ke dalam Program Perlingdungan Saksi?

Baiklah. Seingatnya, kasus pembunuhan Kim Myun Shik yang ada kaitannya dengan kasus yang ditangani tim Donghae memang hanya kasus pembunuhan biasa. Tapi, yang membuat dua kasus yang saling berkaitan ini menarik adalah salah satu berkas kasus tersebut menghilang secara misterius. Berlebihankah bila ia beramsusi kalau ada pihak yang sengaja menghilangkan berkas tersebut?

“Eeei…, yang benar saja? Bukankah itu mengerikan?” Jung Ra mengoreksi asumsi yang ia buat sendiri.

Semakin lama Jung Ra memikirkan hal tersebut, lengkap dengan asumsi-asumsinya, semakin gemas dan kesal dirinya. Maka dari itu, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke alamat yang diberikan Donghae. Meski ia sadar ia bukan bagian dari tim yang menangani kasus ini, setidaknya ia bisa menggunakan status hubungannya dengan Go Hyeong Man bila ditanyai salah satu petugas yang ada di gedung tersebut.

.

.

.

“Petugas Go dari Kantor Polisi Gangnam? Maksudmu kau… Go… Go Jung Ra? Putri mendiang istriku?”

Berbeda dengan reaksi Go Hyeong Man yang terkejut melihat sosok Jung Ra berdiri di depan pintu apartemen, Jung Ra justru terlihat biasa saja. Tak ada reaksi yang berarti darinya.

“Ya, Paman. Aku Go Jung Ra, putri mendiang…. tidak. Aku kemari sebagai salah seorang petugas Kantor Polisi Gangnam yang bekerja sama dengan tim investigasi Pusat yang menangani kasus Paman.” Jung Ra menunjukkan tanda pengenal kepolisian miliknya sebelum menerobos masuk ke dalam apartemen.

“Bagaimana kabarmu? Ternyata kau benar-benar seorang polisi ya? Kapan kau kembali dari luar negeri dan—“

“Aku kemari bukan untuk membicarakan hal-hal seperti itu, Paman. Aku harap Paman tidak salah paham,” Jung Ra memotong ucapan Go Hyeong Man.

Sepenuhnya Go Hyeong Man terdiam setelah menutup pintu. Ia baru sadar kalau hanya dirinyalah yang antusias dengan pertemuan ini. Yaaa… meski sebenarnya ia juga merasa malu dan tidak nyaman dengan alasan yang membuat putri mendiang istrinya datang kemari untuk menemuinya.

.

.

Tanpa Go Hyeong Man dan Go Jung Ra sadari, di luar apartemen, atau lebih tepatnya di lantai dasar gedung apartemen tersebut, seorang pria yang mengenakan seragam yang sama dengan dua petugas yang tengah berjaga di depan pintu utama gedung muncul tiba-tiba dari belakang salah satu petugas. Dengan pelan ia mengarahkan sebuah suntikan kecil pada petugas tersebut dan langsung menancapkannya ke leher petugas tersebut. Suara erangan petugas yang malang tersebut membuat rekannya menoleh ke arahnya. Pria yang sudah membunuh petugas tersebut dengan cepat mengarahkan pistol berwarna hitam yang sudah dilengkapi alat peredam suara pada rekan petugas tersebut dan langsung menembaknya tepat di dada kiri.

Setelah memastikan dua petugas yang berjaga di depan pintu utama tersebut tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius, pria yang sedikit menurunkan bagian depan topinya hingga sebatas hidungnya itu seraya masuk ke dalam gedung dengan langkah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali mengarahkan pistolnya pada petugas lainnya yang ada di meja lobby dan membuat kedua petugas tersebut tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, dari arah pintu masuk muncul satu lagi pria berseragam yang sama dengannya. Hanya saja petugas tersebut lebih tinggi dan lebih kurus darinya. Di tangan petugas tersebut juga terdapat pistol yang sama dengannya. Sesaat mereka seolah berbicara satu sama lain melalui tatapan mata sebelun mengangguk secara hampir bersamaan sebelum pria bertubuh kurus yang merupakan teman pria tersebut masuk ke dalam lift.

Pria tersebut memandang angka tiga yang tertera di atas pintu lift yang sudah tertutup sempurna. Matanya bergerak memandang kamera CCTV berukuran kecil yang ada di dekat pintu lift. Sebuah seringai tipis terukir di sudut bibir kirinya untuk beberapa detik, seolah ia sama sekali tak merasa takut atau bingung dengan kamera tersebut. Padahal ia tahu kamera tersebut dan…….. kamera-kamera lain yang terpasang mulai dari area depan gedung hingga bagian Lobby merekam semua tindakannya.

Itu artinya…….. ia sudah tahu kalau di gedung ini terpasang banyak kamera pengintai?!

.

.

Kita kembali ke apartemen di mana Go Hyeong Man dan Go Jung Ra tengah berbincang-bincang. Tidak, mungkin lebih tepatnya hanya Go Hyeong Man yang mencoba mengajak Jung Ra berbicara membahas sesuatu yang ringan seperti…. Bagaimana keseharianmu di kantor polisi? Apa kau sudah menikah? Apa kau sering mengunjungi makam ibumu? Ya, semacam itulah. Tapi sayangnya, Jung Ra sama sekali tak menanggapi topik pembicaraan seperti itu karena bukan itu tujuannya datang ke tempat ini. Benar juga, kan? Ayolah. Tempat ini adalah tempat yang digunakan pihak Kepolisian Pusat untuk menyembunyikan saksi penting dari kasus serius yang sedang mereka tangani. Dan Jung Ra, ia hanya seorang petugas polisi dari Kantor Polisi Distrik yang sama sekali bukan salah satu anggota tim penyelidik dari Pusat dan mencoba membantu tim tersebut.

Perbincangan basa-basi yang dilontarkan Go Hyeong Man…., sedikit tidak berguna untuk situasi sekarang. Iya, kan?

“Aku sudah mengatakan semua yang kuketahui pada mereka, Jung Ra-ya,” ujar Go Hyeong Man setelah Jung Ra menanyakan apakah ia masih menyembunyikan beberapa hal yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik di tahun 2008 pada D-Team. Melihat Jung Ra yang tetap saja curiga, akhirnya ia kembali menceritakan bagaimana uang kotor tersebut bisa sampai masuk ke rekeningnya setiap tahun setelah ia tidak jadi bersaksi atas pembunuhan keji yang ia saksikan bersama ketujuh orang lainnya malam itu di pelabuhan.

“Paman…. tidak berusaha mencari apapun yang berkaitan dengan orang tersebut? Baiklah, kita lewatkan saja nomor telepon orang tersebut yang tidak terdaftar. Orang tersebut mengirimkan uang ke rekening Paman. Itu artinya….”

“Pihak Bank tidak mau membocorkan data nasabah mereka pada warga sipil biasa sepertiku,” Go Hyeong Man memotong ucapan Jung Ra.

Otak Jung Ra kembali berputar. Okay, warga sipil biasa memang tidak bisa mengakses hal-hal seperti itu pada pihak Bank karena pihak Bank sendiri memiliki peraturan untuk tidak memberikan informasi apapun mengenai nasabah mereka pada sembarang orang. Kecuali orang-orang yang berwenang! Harusnya saat ini D-Team dari Kepolisian Pusat yang menangani kasus ini sudah bisa mendapatkan informasi tentang orang misterius tersebut dari pihak Bank. Benar begitu, kan?

“Paman, aku sedang membantu pekerjaan tim itu. Begini saja….,” Jung Ra memberi jeda pada kata-katanya karena ia harus menata kata-kata agar pria yang menikahi ibunya itu percaya padanya. “…. secara tidak langsung, aku juga sedang berusaha membantu Paman. Selain sebagai anak tirimu, aku juga seorang polisi yang bertugas menangkap penjahat. Penjahat ini masih ada di luar sana. Nyawa Paman akan selalu terancam setiap detiknya kalau polisi tak segera menangkapnya. Jadi…., cobalah Paman ingat-ingat. Hal kecil dan sepele pun mungkin bisa membantu menyelesaikan kasus ini. Entah Paman mau percaya atau tidak, tapi kurasa kasus yang sedang ditangani tim itu adalah kasus besar.”

“Kasus…. besar?”

Jung Ra mengangguk pelan. Dalam hati, ia merasa senang karena umpannya dimakan oleh Go Hyeong Man.

“Entahlah, Jung Ra-ya. Berhari-hari aku sudah mencoba mengingat, tapi….”

Go Hyeong Man terpaksa menghentikan kata-katanya karena terdengar ketukan dari arah pintu.

“Paman temui petugas itu dulu. Siapa tahu saja ada yang mau dia sampaikan. Aku ke toilet dulu.”

Jung Ra beranjak ke toilet sambil melepas ikatan rambutnya. Go Hyeong Man lantas berjalan menuju pintu apartemennya yang masih diketuk oleh petugas dari luar. Saat tangannya sudah akan menyentuh knop pintu tersebut, entah kenapa ia merasa ragu. Tapi karena ketukan dan panggilan tersebut tak juga berhenti, akhirnya ia memutar knop tersebut dan pintu pun terbuka.

Sosok seorang petugas bertopi yang menundukkan kepala muncul dari balik pintu. Dengan tenang, Go Hyeong Man bertanya apakah ada hal yang harus disampaikan oleh petugas tersebut. Petugas tersebut lantas menyodorkan sebuah amplop coklat berukuran besar padanya.

“Kiriman dari kapten kami, Pak,” ucap petugas tersebut pelan.

Karena penasaran, akhirnya Go Hyeong Man mencoba membuka amplop tersebut. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah petugas tersebut. Barulah saat ia mencuri pandang untuk yang ketiga kalinya, ia menangkap sesuatu yang aneh pada petugas tersebut.

Rambut pirang!

Ya. Warna rambut petugas yang tertutup oleh topi polisi itu adalah pirang. Bukankah aneh seorang petugas polisi yang memiliki rambut pirang? Seingatnya, semua polisi di negaranya berambut hitam atau coklat gelap. Tapi ini….

Menyadari Go Hyeong Man memperhatikannya terlalu lama, akhirnya perlahan, petugas tersebut sedikit menegakkan kepalanya untuk membalas tatapan Go Hyeong Man.

Sajangnim….”

Mata Go Hyeong Man sepenuhnya terbelalak ketika mengenal suara tersebut. Ia juga semakin terkejut saat melihat bekas luka goresan di pipi kiri petugas aneh tersebut. Gemetar, ia pun mundur dua langkah. Kini ia bisa melihat postur tubuh petugas tersebut dari kaki hingga ujung kepala. Dari sorot matanya saja, sudah jelas ia sedang ketakutan. Seorang pria yang beberapa waktu lalu mencoba membunuhnya sekarang sudah ada di di hadapannya. Bedanya, bila waktu itu ia tidak bisa melihat bagaimana wajah pria tersebut, kini ia bisa melihat dengan jelas. Alih-alih melihat wajah menyeramkan seorang pembunuh yang penuh dengan luka gores atau tato di salah satu bagian wajahnya, ia justru melihat seorang pria berwajah tampan dan bersih. Mungkin hanya luka goresan di pipi kirinyalah yang sedikit mengganggu, tapi tetap tak mengurangi ketampanan pria tersebut. Berbanding jauh dengan wajah tampannya, sepasang mata pria tersebut terlihat begitu tajam dan dingin.

Ya, pria tampan yang mencoba membunuh Go Hyeong Man beberapa waktu lalu di tempat tinggal Go Hyeong Man tapi gagal tersebut adalah Lee Sungmin. Yang juga telah membuat pingsan dua petugas di depan pintu utama gedung dan dua petugas di Bagian Lobby gedung.

Go Hyeong Man baru akan membuka mulut untuk berteriak memanggil Jung Ra yang ada di dalam toilet ketika ia merasa sebuah benda menekan dada kirinya. Baru ia sadari Sungmin sudah melangkah mendekat ke arahnya. Dan yang lebih mengerikan lagi, Sungmin juga sudah menodongkan pistol hitam tepat di dada kirinya. Jantungnya sudah tak lagi bisa berdetak normal. Keringat dingin mulai mengucur. Ujung pistol yang sudah diarahkan tepat di dada kirinya terlihat begitu menakutkan. Nyawanya bisa saja melayang pada detik berapa saja bila Sungmin sudah menarik pelatuknya karena peluru yang akan keluar dari mulut pistol tersebut 100% akan langsung menembus kulit dadanya dan melubangi jantungnya yang ada di dalam sana.

Kalau sudah begini, satu-satunya hal yang bisa Go Hyeong Man lakukan adalah tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.

“K-kau…. b-bagaimana bisa datang kemari? Tempat i-ini sudah di-dijaga ketat o-oleh p-p-p…..”

Sungmin tersenyum tipis. Dengan santai, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru apartemen yang bisa dijangkau oleh matanya. “Maksud Sajangnim…., kamera-kamera kecil yang ada di dalam sini? Bagaimana kalau aku katakan…., aku sudah…. menjinakkan mereka semua? Ah, aku juga memiliki teman baik.”

“S-sebenarnya…. apa maumu?” Go Hyeong Man masih memiliki keberanian lantas bertanya, meski ia tidak tahu apakah ia mendapatkan jawaban atau tidak.

“Bukankah sudah kubilang? Sajangnim adalah…. umpan terakhir yang akan kami lempar untuk mendapatkan ikan misterius. Mungkin umpan-umpan yang sebelumnya kami lempar meleset. Tapi, kali ini…., ikan tersebut pasti akan muncul ke permukaan untuk menangkap umpan ini. Menarik, bukan?”

Go Hyeong Man kesulitan bernapas ketika Sungmin perlahan menarik pelatuk pistol tersebut. Detik-detik kematiannya mendadak menjauh setelah perhatian Sungmin teralihkan pada pintu toilet yang dibuka seseorang. Belum sempat Sungmin bertindak apa-apa, temannya yang tadi bersamanya melesat masuk ke dalam apartemen. Temannya yang kini mengenakan masker hitam untuk menutupi sebagian wajahnya langsung berlari ke arah toilet.

“Ada orang lain bersamanya,” ucap temannya itu sebelum menutup kembali pintu toilet yang baru terbuka sebagian. Terdengar teriakan seseorang—yang tak lain adalah Jung Ra— dari dalam toilet.

Setelah memastikan pintu toilet terkunci dari luar, teman Sungmin tersebut kembali dengan sebuah pistol di tangannya. Sungmin yang tahu temannya itu mengarahkan pistol pada punggung Go Hyeong Man tak sempat mencegahnya karena peluru sudah lebih dulu melesat keluar dan mengenai punggung Go Hyeong Man.

“Itu hanya peluru bius. Hyungnim menyuruh kita untuk membawanya ke sana,” ujar teman Sungmin tersebut saat Sungmin memandangnya tajam. Dengan cepat, dibukanya jendela apartemen yang mengarah ke bagian samping gedung. Setelah memastikan ada dua teman mereka yang lain yang sudah siap di dekat semak-semak, ia lantas menyuruh Sungmin agar segera melempar Go Hyeong Man keluar.

Ketika Sungmin sudah berada di dekat jendela dan bersiap untuk melempar Go Hyeong Man, terdengar suara tembakan dari arah toilet. Rupanya Jung Ra yang bisa berpikir cepat langsung menghancurkan bagian kunci pintu dengan timah panasnya beberapa kali hingga pintu tersebut bisa dibuka.

Betapa terkejutnya Jung Ra saat melihat Go Hyeong Man yang sudah tak sadarkan diri ada di ambang jendela bersama dua orang pria berseragam petugas polisi. Satu hal yang ada di kepala Jung Ra : dua orang pria ini jelas bukan petugas polisi karena…. pertama, penampilan mereka aneh. Berambut pirang dan yang satunya menutupi wajahnya dengan masker. Dua, membuat keributan. Dan ketiga, untuk apa mereka membawa saksi penting mereka ke dekat jendela seperti itu?

Yaa, kalian?!” seru Jung Ra sambil mengarahkan pistolnya ke arah pria yang bertubuh kurus.

Sungmin yang terkejut melihat sosok Jung Ra langsung menurunkan bagian depan topinya agar wajahnya tak terlihat sebagian. Teman Sungmin mencabut pisau yang ia simpan di sepatunya dan melemparnya ke pistol Jung Ra.

“Cepat lempar dia!” teriaknya sebelum menyerang Jung Ra. Untung saja Jung Ra yang memiliki sedikit keahlian bertarung masih bisa menangkis beberapa serangan teman Sungmin tersebut meski beberapa kali ia harus menghantam dinding yang ada di belakangnya.

Saat berhasil menendang wajah teman Sungmin tersebut dengan salah satu kakinya, Jung Ra menoleh ke arah jendela hanya untuk melihat tubuh Go Hyeong Man sudah tidak ada di sana. Itu artinya ayah tirinya tersebut yang entah masih hidup atau sudah mati jatuh ke bawah sana setelah dilempar oleh pria yang sejak tadi berdiri di dekat jendela.

“Tidak mungkin…,” gumam Jung Ra pelan setelah menyadari pria tersebut berambut pirang dan memiliki postur tubuh mirip dengan pria bernama Lee Sungmin yang dibicarakan Hyukjae dan Donghae tempo hari. Belum sempat ia menghampiri Sungmin, ia dibuat jatuh oleh teman Sungmin. Kepalanya berputar-putar sebelum semuanya terlihat buram. Bahkan samar-samar, ia hanya bisa melihat pria yang ia yakini adalah Lee Sungmin menoleh ke arahnya sebelum keluar dari apartemen melalui jendela tersebut.

oOo

at D-Team’s office

D-Team terpaksa mengadakan rapat darurat untuk membahas serangan yang dilakukan Lee Sungmin dan komplotannya di W Building III beberapa saat lalu. Semua anggota D-Team, termasuk Ryeowook yang muncul entah dari mana, sudah berkumpul di kantor D-Team untuk menunggu intruksi selanjutnya dari Kapten mereka, Hankyung. Akan tetapi, hal pertama yang harus melakukan lakukan adalah menganalisa hasil olah TKP yang mereka lakukan sebelumnya agar mereka tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya untuk menyelamatkan Go Hyeong Man yang berhasil diculik Lee Sungmin.

Penculikan Go Hyeong Man jelas menjadi pukulan keras untuk semua anggota D-Team yang sudah bekerja keras mendapatkan satu-satunya saksi kunci—setidaknya untuk saat ini—kasus yang sedang mereka tangani. Yang membuat mereka tak bisa menghilangkan kernyitan di kening adalah Lee Sungmin yang tahu keberadaan Go Hyeong Man. Padahal mereka sudah sangat yakin kalau tak ada seorang pun yang tahu lokasi gedung apartemen yang mereka gunakan untuk menyembunyikan Go Hyeong Man. Baiklah, satu-satunya orang yang tahu adalah Go Jung Ra, karena ternyata Hankyunglah yang sengaja menyuruh Donghae untuk memberitahu polisi wanita tersebut lokasi tempat persembunyian Go Hyeong Man. Dan semua orang di tim tersebut sudah tahu. Dan mereka juga yakin kalau Jung Ra paham dengan situasi saat ini, yang mana dia harus pergi ke sana tanpa diketahui atau pun diikuti oleh siapapun agar keselamatan Go Hyeong Man tetap terjaga. Tapi kenapa tetap saja bisa jadi begini?

“Serangan yang mereka lakukan sudah terorganisir dengan baik dan rapi,” sahut Siwon sesaat setelah Donghae dan Hyukjae menjelaskan kondisi Control Room di W Building II di mana mereka lebih dulu memeriksa tempat itu sebelum ke W Building III. Semua kamera pengintai yang berhenti berfungsi 20 menit sebelum Go Hyeong Man menghilang dan petugas di Control Room yang lebih dulu sadar dari pengaruh obat bius sudah jelas memperlihatkan bahwa komplotan Lee Sungmin melumpuhkan tempat itu sebelum berpindah ke gedung ke-tiga.

“Mereka cukup…, tidak…., bahkan sangat pintar. Agar tindakan mereka tidak terganggu, mereka mematikan semua CCTV dari Control Room. Wah…” Meski aneh, mau tidak mau Kyuhyun pun harus merasa takjub pada pekerjaan rapi yang dilakukan buronan timnya.

“Selain itu, jejak mobil yang ada di sisi utara gedung menandakan mereka sudah siap sejak awal untuk membawa Go Hyeong Man yang akan dilempar dari jendela yang ada di apartemen itu. Ada tetesan darah milik Go Hyeong Man yang tercecer dari mulai semak-semak hingga jejak ban tersebut. Kemungkinan besar kendaraan yang mereka gunakan adalah mobil van bila kita melihat bentuk jejak ban itu,” Donghae kembali menambahkan untuk memperjelas “kerapian” komplotan Lee Sungmin.

“Berarti mereka tidak terpaksa melempar Go Hyeong Man dari jendela apartemen yang ada di lantai 3?” Wajah Kyuhyun terlihat terkejut. Ia sama sekali tak pernah berpikiran sampai ke sana karena sebelumnya ia sangat yakin kalau komplotan Sungmin sebenarnya ingin membawa Go Hyeong Man keluar dari pintu utama gedung, bukan dari jendela.

“Obat bius yang mereka tembakkan pada petugas tak bisa bertahan lama. Kurang lebih sekitar…. 15-20 menit. Jika mereka tetap membawa Go Hyeong Man dengan menggunakan lift dan keluar dari pintu utama, petugas yang ada di Control Room pasti sudah sadar dan keberadaan mereka akan diketahui. Apalagi saat itu, waktu mereka terbuang lebih dari 15 menit hanya untuk mencoba kabur dari Petugas Go,” Hankyung mencoba memberikan asumsinya yang mana bila dipikir-pikir cukup masuk akal juga.

Semua orang yang ada di ruangan D-Team dibuat terkejut saat Hyukjae tiba-tiba menggebrak meja dengan cukup keras.

“Nah, itu! Kapten, bagaimana bisa Petugas Go ada di sana? Bukankah hanya tim kita yang tahu tempat Go Hyeong Man disembunyikan?”

Hankyung tak lantas menjawab. Ia memandang Donghae untuk beberapa detik sebelum menarik kursi yang ada di dekatnya, kemudian duduk.

“Aku sengaja menyuruh Donghae agar memberikan alamat gedung itu pada Petugas Go. Dengan begitu, Petugas Go bisa pergi menemui Go Hyeong Man. Karena hubungan di antara mereka berdua, kupikir Petugas Go bisa membujuk Go Hyeong Man untuk memberitahu hal-hal yang belum kita ketahui.”

Semua anggota D-Team mengangguk-anguk pelan mendengarkan jawaban Hankyung.

“Tapi…. bukankah tadi Petugas Go terluka karena mencoba menghentikan dua orang yang membawa Go Hyeong Man? Apa dia baik-baik saja? Sejak kita ada di gedung itu, aku sama sekali tak melihatnya?” tanya Kyuhyun.

“Hanya mendapat luka kecil di wajahnya, tapi dia baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan datang kemari.”

Kyuhyun terpaksa mengernyitkan kening. “Maksud Kapten?”

Belum sampai Hankyung membuka mulut untuk menjawab Kyuhyun, pintu kantor D-Team dibuka oleh seseorang dari luar. Ketika semua orang menoleh, sosok Jung Ra dengan wajah berhias plester luka di tulang hidung dan di bawah mata muncul dari balik pintu. Polisi wanita itu masuk begitu saja tanpa mempedulikan tatapan semua anggota D-Team yang mengarah padanya. Ia tahu plester luka dan luka lebam di beberapa bagian wajahnya adalah alasan semua laki-laki itu memandanginya, tapi ia datang ke kantor ini bukan untuk sebagai pusat perhatian. Ada hal penting yang harus ia sampaikan pada Hankyung.

“Kau sudah tidak apa-apa, kan?” tanya Hankyung setelah Jung Ra memberi hormat padanya.

“Ya, Kapten,” Jung Ra memberikan jawaban dengan nada yang cukup tegas.

“Jadi, apa yang kita dapatkan?” Hankyung bertanya sambil mempersilakan Jung Ra untuk duduk.

Alih-alih berjalan memutar untuk mencapai kursi kosong yang ada di dekat Donghae ataupun Kyuhyun, Jung Ra justru menyuruh Siwon yang sudah duduk manis di kursi dekat Hankyung dengan gerakan dagu. Butuh beberapa detik bagi Siwon untuk “mengerti” permintaan Jung Ra sebelum akhirnya Ketua A-Team tersebut bangkit dari kursi dan duduk di samping Donghae. Tak pelak apa yang baru saja terjadi pada Siwon membuat Hyukjae dan Kyuhyun berusaha untuk menahan tawa mereka.

“Maaf, Kapten. Aku tidak bisa mendapatkan apa-apa darinya. Dia hanya menceritakan apa yang dilihatnya malam itu di pelabuhan. Bahkan meski sudah kucoba memaksanya, dia tetap pada pendiriannya kalau hanya itu yang bisa dia ingat. Bahkan… kapsul pelacak yang sudah ditelannya tidak bisa dideteksi dengan mudah karena sinyal yang ditangkap sangat lemah. Beberapa petugas yang mencoba mencari lokasinya masih bekerja keras sampai saat ini. Berita baiknya…., alat pendeteksi detak jantung yang kita pasang di jam tangannya masih aktif. Itu artinya Go Hyeong Man masih hidup,” jawab Jung Ra dengan wajah menyesal.

Sejenak Hankyung terdiam sambil menatap jari tangannya yang memainkan bolpoin. Satu-satunya kesempatan yang coba ia buat untuk mendapatkan keterangan lebih tentang kasus Kim Myun Shi harus kandas. Padahal ia pikir cara ini akan berhasil.

“Kapten…….. kecewa?” selidik Jung Ra yang sepertinya bisa membaca raut wajah Hankyung.

“Sedikit. Tapi tenang saja, aku bukan kecewa karena kau tidak bisa mendapatkan apa-apa dari Go Hyeong Man. Aku hanya….” Hankyung terpaksa menggantungkan kata-katanya ketika melihat Jung Ra tersenyum sambil merogoh saku blazer polosnya, seolah sedang mengambil sesuatu.

“Walaupun begitu, setidaknya aku bisa memberikan ini untuk Kapten dan D-Team,” ucap Jung Ra seraya meletakkan sebuah plastik transparan kecil yang ternyata berisi sebuah memory card kecil.

Semua anggota D-Team serempak mengarahkan mata mereka pada plastik tersebut.

“Itu… apa, Go Jung Ra-ssi?” Hyukjae menunjuk plastik tersebut.

“Saat aku masuk ke dalam apartemen, tanpa diketahui Go Hyeong Man, aku meletakkan alat perekam suara di dalam rak kaca yang berisi tumpukan buku. Kupikir aku harus menggunakan alat itu untuk berjaga-jaga, siapa tahu saja sesuatu yang tidak terduga terjadi.”

Mendadak Hankyung menegakkan punggungnya dan mengambil plastik kecil berisi memory card tersebut. Diambilnya Card Reader agar laptopnya bisa membaca isi dari memory card tersebut. Namun, ketika memory card tersebut sudah bisa dibuka dan file rekaman yang dimaksud Jung Ra sudah diketemukan, Hankyung dan semua anggota D-team terpaksa harus mengernyitkan kening bersama-sama.

<Sajangnim….>

<K-kau…. b-bagaimana bisa datang kemari? Tempat i-ini sudah di-dijaga ketat o-oleh p-p-p…..>

< Maksud Sajangnim…., kamera-kamera kecil yang ada di dalam sini? Bagaimana kalau aku katakan…., aku sudah…. menjinakkan mereka semua? Ah, aku juga memiliki teman baik.>

< S-sebenarnya…. apa maumu?>

< Bukankah sudah kubilang? Sajangnim adalah…. umpan terakhir yang akan kami lempar untuk mendapatkan ikan misterius. Mungkin umpan-umpan yang sebelumnya kami lempar meleset. Tapi, kali ini…., ikan tersebut pasti akan muncul ke permukaan untuk menangkap umpan ini. Menarik, bukan?>

Sebenarnya file itu berisi percakapan lengkap, mulai dari Jung Ra dan Go Hyeong Man berbincang-bincang membahas kasus Kim Myun Shik hingga suara pekelahian antara Jung Ra dan teman Lee Sungmin. Hanya saja bagian pertemuan Go Hyeong Man dan Lee Sungmin-lah yang menarik perhatian semua orang di kantor D-Team. Khususnya Kyuhyun  dan Donghae yang merasa pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki suara yang sama dengan suara Lee Sungmin.

“Apa kau sempat melihat wajahnya?” Hankyung menoleh ke arah Jung Ra.

“Orang itu langsung menutupi sebagian wajahnya dengan topi, jadi aku tidak sempat melihat wajahnya. Bahkan yang satunya, yang berkelahi denganku, wajahnya ditutupi masker hitam,” jawab Jung Ra sambil berusaha mengingat-ingat saat-saat itu.

Untuk beberapa detik suasana di dalam ruangan itu sunyi. Masing-masing dari mereka terlihat sedang berpikir. Tidak. Tidak semuanya. Ryeowook yang sejak masuk ke ruangan hingga sekarang menutup mulut rapat-rapat terlihat mengedarkan pandangannya ke arah rekan-rekannya. Ekspresi di wajahnya sulit diartikan. Bila dilihat dari gerak-geriknya yang tidak biasa, ia seperti tidak fokus pada topik pembicaraan timnya. Atau dengan kata lain…….., ia seperti memikirkan hal lain yang tidak diketahui semua orang.

.

.

.

Donghae, Kyuhyun, Hyukjae dan Ryeowook mengistirahatkan diri di atap gedung sambil memandang langit malam Seoul yang tak berhias bintang-bintang setelah rapat darurat dihentikan sebentar oleh Hankyung. Ada empat bungkus kimbap tuna yang masih utuh dan empat botol air mineral yang belum mereka sentuh padahal mereka belum makan apapun.

“Ke mana Petugas Go tadi?” Kyuhyun menoleh ke arah pintu atap yang tertutup sempurna.

“Dia sedang bersama Kapten melihat petugas yang melacak keberadaan Go Hyeong Man dengan mengandalkan kapsul yang ada di dalam perutnya,” sahut Hyukjae pelan sambil membaringkan diri di lantai atap yang dingin. Sesaat kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah Ryeowook yang duduk terdiam di sampingnya. “Yaa, Ryeowook-ah, apa yang kau pikirkan sejak tadi? Katakan pada kami. Kau tahu, sikapmu sejak muncul tadi sangat aneh. Dan ke mana saja kau beberapa hari ini? Apa diam-diam kau menangani kasus lain? Atau… kau sudah dipindahkan ke tim lain?”

Alih-alih menjawab, Ryeowook justru hanya mengambil satu bungkus kimbap satu botol air mineral sebelum berdiri dan berjalan ke arah pintu. Meninggalkan ketiga rekan satu timnya yang memandangnya heran.

“Lama-lama anak itu semakin aneh saja. Kadang bertingkah seperti anak kecil, kadang bertingkah seperti pria dewasa, kadang bertingkah seperti orang tua, kadang bertingkah seperti seseorang yang tak bisa kukenali. Jangan-jangan dia memiliki banyak kepribadian,” ujar Kyuhyun yang baru saja mengalihkan pandangannya dari pintu atap yang sudah tertutup rapat. Tangannya mengambil satu bungkus kimbap dan memasukkan satu potong kimbap ke dalam mulutnya. Hyukjae yang bermasuk ikut mengambil isi bungkusan tersebut terpaksa mendesis kesal karena tangannya dipukul oleh Kyuhyun.

“Tidakkah kalian merasa aneh dengan kemunculan Lee Sungmin di gedung itu?”

Kyuhyun dan Hyukjae yang semula berebut kimbap langsung menoleh ke arah Donghae.

“Maksudmu?” tanya Hyukjae yang rupanya berhasil mengambil satu potong  Kimbap milik Kyuhyun dan memasukkannya begitu saja ke dalam mulut tanpa peduli lirikan tajam Kyuhyun.

“Tidak ada seorang pun yang tahu lokasi persembunyian Go Hyeong Man selain kita. Bahkan petugas yang ikut bersama kita pun adalah kaki tangan Kapten sendiri. Tapi…., bagaimana bisa Lee Sungmin menemukan tempat itu?” Donghae bertanya sambil menoleh memandang Kyuhyun dan Hyukjae.

Kyuhyun dan Hyukjae saling pandang dan terdiam. Kimbap yang sudah diambil Hyukjae dikembalikan ke dalam bungkusan yang ada di tangan Kyuhyun. Teman Donghae yang bermarga Lee tersebut lantas mengumpat pelan ketika sebuah dugaan muncul di dalam kepalanya.

“Ada apa? Apa Hyung tahu sesuatu? Yaa, Hyung, katakan padaku.” Kyuhyun yang semula merasa lapar langsung meletakkan bungkusan Kimbap-nya ke dekat kakinya begitu saja. Ia dibuat penasaran karena sepertinya hanya dirinyalah satu-satunya orang yang ada di atap gedung yang tidak tahu apa-apa.

“Ada seseorang yang sengaja memberitahu Lee Sungmin tentang tempat itu?” Hyukjae mencoba menebak isi pikiran Donghae dengan suara pelan.

Ada keraguan di wajah Donghae. Ia ingin menyangkal tebakan Hyukjae, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan naluri detektifnya yang menuntunnya pada dugaan itu.

“Aku tidak bilang memang ada orang yang berkhianat pada kita dan membocorkan alamat rahasia itu pada Lee Sungmin. Aku hanya beramsumsi,” ujar Donghae yang mencoba meluruskan maksud perkataannya setelah ekspresi wajah Hyukjae berubah.

“Donghae-ya…….., bagaimana kalau benar-benar ada pengkhianat di tim kita?” kata Hyukjae setelah beberapa saat terdiam memandang Donghae.

Kyuhyun langsung terkejut dan menggeser duduknya lebih dekat pada dua rekan satu timnya tersebut. “Maksud kalian, ada seorang pengkhianat di tim kita yang membocorkan alamat gedung itu pada Si Brengsek Lee Sungmin?!”

Hyukjae terpaksa memukul belakang kepala Kyuhyun. “Ini baru asumsi, Bodoh. Kau tidak bisa membedakan fakta dan pendapat ya?”

“Tapi kan…., meski yang kudengar tadi hanyalah sebuah pendapat atau asumsi atau apalah itu, tetap saja akan berbahaya. Dari awal kita mendapatkan kasus ini, kita sudah mempertaruhkan nyawa tim kita, D-Team. Aku sudah rela tidak pulang ke apartemenku berhari-hari dan membuat diriku sendiri gila hanya untuk mengumpulkan semua informasi mengenai Lee Sungmin. Dan juga, kita sudah sangat bekerja keras menangani kasus ini. Kalau benar memang ada pengkhianat di pihak kita, sama saja semua yang sudah kita kerjakan selama ini sia-sia,” gerutu Kyuhyun panjang lebar sambil memasang wajah kesal.

Bila biasanya Hyukjae akan langsung membalas Kyuhyun atau memukulnya, kini Hyukjae justru terdiam. Kata-kata Kyuhyun ada benarnya juga. Ia juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau ia sudah merasa lelah dengan kasus yang dikerjakan timnya tersebut. Kasus peredaran uang palsu yang harusnya bisa diselesaikan dengan cepat justru berubah menjadi penghubung sebuah kasus pembunuhan misterius di tahun 2008 silam. Memikirkannya saja sudah membuatnya sakit kepala.

“Siapa dia?” gumam Hyukjae pelan. Matanya menatap lantai atap gedung yang berdebu. “Jika kita harus menebak. Siapa orang yang sudah berkhianat?”

“Hyukjae-ya, hentikan. Yang sejak tadi kita bahas hanyalah dugaan saja. Kita tidak bisa menuduh orang begitu saja tanpa bukti yang jelas,” cegah Donghae yang merasa menyesal sudah mengucapkan apa yang ada di dalam kepalanya.

“Ryeowook,” ucap Hyukjae pelan sesaat setelah ia menyadari sesuatu. Dipandanginya kedua rekannya itu. “….sudah beberapa hari ini bocah itu menghilang tanpa alasan. Dia tidak pergi dengan kita saat kita membawa Go Hyeong Man ke gedung itu. Dan…. sejak dia muncul di kantor kita, sikapnya sudah sangat aneh. Beberapa kali aku melihat ia mengamati kita satu per satu.”

Kyuhyun mulai terlihat ketakutan dan Donghae berdecak pelan mendengar apa yang diucapkan Hyukjae.

“Hyukjae-ya, kubilang hentikan.”

“Atau jangan-jangan…., orang itu kau, Cho Kyuhyun.” Kini tebakan Hyukjae mengarah pada Kyuhyun.

Yaa, Hyukjae Hyung! Setelah Ryeowook, sekarang kau juga mau menuduhku?!” Kyuhyun memandang tidak percaya pada Hyukjae.

“Akhir-akhir ini kau sangat terobsesi pada Lee Sungmin. Kau pasti—“

Hyung, kau lupa kalau aku hampir mati karena ditusuk oleh orang gila itu? Kalau pun ada sederet orang yang ingin membunuhnya, satu-satunya orang yang ada di barisan pertama adalah aku. Untuk apa aku berkomplot dengan orang yang hampir menghilangkan nyawaku?” bantah Kyuhyun tidak terima. Sebuah dengusan lolos dari hidungnya saat ia mencoba mengamati Hyukjae selama tiga detik. “Bagaimana kalau orang itu adalah Hyung sendiri? Akhir-akhir ini Hyung juga tertarik pada Lee Sungmin.”

Yaa! Itu karena dia meledakkan mobil di depanku! Kalau saja aku berada lebih dekat dengan mobil itu, mungkin sekarang tubuhku tidak utuh lagi! Kenapa kau malah menuduhku?”

Hyung sendiri yang—“

“Cho Kyuhyun! Lee Hyukjae!” Donghae terpaksa berteriak tepat di depan wajah mereka dengan lantang melihat kedua polisi muda tersebut tak kunjung berhenti menuduh satu sama lain.

“Mungkinkah Donghae Hyung orang yang berkhianat di tim ini?” selidik Kyuhyun memicingkan dua matanya ke arah Donghae.

“Bisa jadi. Orang ini bahkan selalu memasang wajah datar dan tenang di berbagai kondisi,” sahut Hyukjae yang ikut-ikutan mengamati Donghae.

Baiklah. Sepertinya otak dua rekan satu timnya ini sudah tidak bisa berfungsi normal dan Donghae tak bisa lama-lama membiarkan mereka bertingkah gila seperti ini.

“Kalau pengkhianat itu adalah aku, aku pasti akan langsung menyuruh Lee Sungmin untuk membunuh kalian berdua. Kalian tahu kenapa? Itu karena kalian sangat berisik dan gila,” balas Donghae malas sebelum perhatiannya teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Dilihatnya Hankyung mencoba menghubunginya. Sesaat setelah ia mendengar Hankyung berbicara, ia langsung berdiri.

“Lokasi Go Hyeong Man sudah ditemukan. Kita harus segera ke sana. Ayo!”

Donghae langsung menyuruh Kyuhyun dan Hyukjae agar segera berdiri dan kembali ke kantor D-Team setelah mendapat kabar dari Hankyung tentang Go Hyeong Man. Mereka bertiga berlari ke arah pintu. Bahkan mereka tidak menyadari ada seseorang berdiri di balik dinding dekat tangga yang baru saja mereka turuni.

Orang itu adalah Ryeowook.

oOo

Maksud kalian, ada seorang pengkhianat di tim kita yang membocorkan alamat gedung itu pada Si Brengsek Lee Sungmin?!

Ryeowook yang sejak tadi ada di balik dinding dekat tangga menolehkan kepalanya sedikit ke arah pintu yang tertutup rapat setelah mendengar suara lantang Kyuhyun. Ia mendengar ketiga anggota tim yang ia ketuai tersebut sedang berdebat tentang kemungkinan adanya pengkhianat di tim mereka yang sudah membocorkan alamat gedung tempat Go Hyeong Man disembunyikan. Tidak hanya itu saja. Ia juga bisa mendengar mereka saling tuduh satu sama lain. Bahkan namanya juga tak luput dari tuduhan mereka.

Drrrt…. drrrt…..

Ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk untuknya yang rupanya dari Hankyung. Isinya adalah tentang ditemukannya tempat di mana Go Hyeong Man dibawa. Ia baru akan keluar dari balik dinding ketika tiba-tiba pintu di atasnya dibuka dari luar. Dengan cepat ia kembali bersembunyi di balik dinding yang gelap gulita. Dilihatnya sosok Donghae, Kyuhyun dan Hyukjae muncul dari balik pintu dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Sepertinya mereka mendapatkan kabar yang sama dengannya.

Alih-alih segera kembali ke kantor D-Team seperti yang dilakukan ketiga rekannya, Ryeowook justru tetap berdiri di balik dinding sambil memandang anak tangga di dekatnya. Wajahnya begitu serius.

Tapi kan…., meski yang kudengar tadi hanyalah sebuah pendapat atau asumsi atau apalah itu, tetap saja akan berbahaya. Dari awal kita mendapatkan kasus ini, kita sudah mempertaruhkan nyawa tim kita, D-Team. Aku sudah rela tidak pulang ke apartemenku berhari-hari dan membuat diriku sendiri gila hanya untuk mengumpulkan semua informasi mengenai Lee Sungmin. Dan juga, kita sudah sangat bekerja keras menangani kasus ini. Kalau benar memang ada pengkhianat di pihak kita, sama saja semua yang sudah kita kerjakan selama ini sia-sia.’

Kata-kata Kyuhyun terekam di benaknya. Dan itu semakin membuat ekspresi serius di wajahnya semakin menjadi-jadi. Dengan pelan sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di belakangnya, ia mencari nama seseorang pada daftar kontak yang ada di ponselnya. Sebelum ia menghubungi orang tersebut, ia memandangi nama itu untuk beberapa detik.

[Ya?]

“Apa kita bisa bicara sebentar sebelum aku pergi ke lokasi ditemukannya sinyal pelacak di tubuh Go Hyeong Man?” tanya Ryeowook dengan suara pelan.

[Di mana?]

“Aku akan kirimkan alamatnya melalui pesan. Kita bertemu setengah jam lagi di sana.”

Hanya itu yang dikatakan Ryeowook sebelum memutuskan pembicaraan mereka. Sambil menuruni tangga dengan pelan, ia mengirimkan alamat tempat mereka akan bertemu.

.

.

.

Yongsan-gu, Namyeong-dong, 231-36

Itulah alamat yang dikirim Ryeowook pada seseorang yang saat ini sedang ia tunggu. Alamat sebuah rumah kosong yang di bagian luarnya terdapat garis polisi berwarna kuning yang masih membentang di sekitar bangunannya.

Ya, rumah kosong yang berada di daerah Namyeong tersebut adalah rumah Cha Hong Jo, korban pembunuhan pertama yang ditemukan D-Team setelah menyelidiki kasus Kim Bo Sang. Ryeowook sengaja memilih tempat tersebut karena dianggap paling aman. Toh, warga sekitar rumah tersebut juga tak akan curiga dengan kedatangannya karena menggunakan mobil polisi.

Ryeowook menghenyakkan diri pada salah satu kursi yang ada di ruang tengah yang gelap tersebut. Kepalanya menunduk, memandang jam digital yang ada di layar ponselnya. Kurang satu menit lagi, ia akan bertemu dengan seseorang yang sudah ia minta untuk datang ke tempat itu.

Telinganya menangkap suara deru mobil yang terdengar dari arah luar rumah. Ia segera bangkit dari kursi dan berjalan ke arah jendela untuk melihat siapa yang baru saja memarkirkan mobil di luar sana. Sejenak kemudian, wajahnya berubah serius ketika mengenali sosok pria yang keluar dari mobil tersebut. Dengan tetap berdiri di dekat jendela, ia menunggu pria tersebut masuk ke rumah.

Tap…. tap…. tap….

Ia bisa mendengar dengan jelas suara langkah kaki pria tersebut yang begitu teratur dan berirama. Seolah pemilik suara langkah kaki tersebut sama sekali tak terburu-buru.

“Kau sudah datang?” sapa Ryeowook setelah akhirnya pria tersebut muncul dari balik pintu. Cahaya lampu jalan yang menyeruak masuk melalui jendela kaca tak membuat sosok pria tersebut terlihat jelas karena letak pintu dan jendela sedikit berjauhan. Meski begitu, Ryeowook masih bisa melihat siluet hitam dari postur tinggi pria tersebut.

“Apa ada sesuatu yang penting sampai-sampai kau mengajakku bertemu di tempat ini?”

Pria tersebut mulai melangkah perlahan menghampiri Ryeowook. Dan secara bersamaan pula, Ryeowook bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut karena pria tersebut berjalan melewati jendela di dekatnya.

“Ada yang harus kutanyakan padamu…………, Ketua Tim Choi.”

“Untuk saat ini aku bukanlah seorang Ketua Tim.”

“Walaupun sekarang kau adalah anggota dari D-Team, tapi bagiku kau tetaplah Ketua A-Team, Choi Siwon Hyung.”

Ya. Siwon. Choi Siwon. Orang yang diminta Ryeowook bertemu di rumah Cha Hong Jo adalah Choi Siwon.

Siwon tersenyum, menampilkan lesung pipinya. “Kau menyuruhku kemari bukan untuk membahas ini, kan?”

Ryeowook menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Tangannya bergerak ke belakang tubuhnya untuk mengambil sesuatu. Siwon perlahan memudarkan senyumnya ketika menyadari ada pistol hitam di tangan Ryeowook.

Alih-alih ketakutan, ataupun merasa was-was, Siwon justru tertawa kecil setelah Ryeowook mengarahkan pistol tersebut ke arahnya.

“Ryeowook-ah, apa yang sedang kau lakukan?”

Hyung tahu apa yang sedang kulakukan sekarang.”

Jawaban Ryeowook yang begitu ambigu memaksa Siwon untuk berhenti tertawa. Dilihatnya mulut pistol berwarna hitam milik Ketua D-Team tersebut mengarah tepat di dada kirinya.

“Kau cukup lihai menempatkan bidikan pistolmu, Ryeowook-ah. Sekali peluru yang ada di dalam pistolmu melesat menembus dadaku, sudah kupastikan aku akan—“

“Mati saat itu juga,” Ryeowook lebih dulu menyelesaikan perkataan Siwon. “Semua orang di Unit Investigasi mengenalku sebagai satu-satunya anggota unit yang memiliki keakuratan dalam hal menembak. Kau juga tahu itu, Hyung.”

Siwon mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berjalan pelan ke arah dinding yang ada di dekat jendela hanya untuk menyandarkan tubuhnya. Yang membuatnya tak berhenti tersenyum adalah tangan Ryeowook yang memegang pistol juga ikut bergerak ke mana ia melangkah.

“Kalau kau ingin memamerkan keahlianmu sebagai seorang Sniper, sebaiknya jangan sekarang karena kita harus menemukan Go Hyeong Man. Mungkin sekarang semua orang sudah bergerak ke sana,” ujar Siwon sambil melihat ke arah jam tangannya.

Wajah Ryeowook berubah serius. Tatapan matanya yang begitu tajam mengarah lurus pada Siwon yang berdiri tak jauh darinya.

“Sebuah ponsel dan kabel data ditemukan terjepit di bawah kemudi mobil yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya. Menurut hasil pemeriksaan dari Unit Cyber Crime, ternyata ponsel tersebut berisi program peretas. Program itu memungkinkan seseorang mampu mengendalikan mobil tersebut dari jarak jauh,” Ryeowook mulai berbicara sesuatu yang membuat Siwon mengernyitkan kening.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?”

Salah satu tangan Ryeowook yang bebas mengambil sesuatu dari laci meja yang ada di depannya. Ternyata sebuah kertas. “Apa yang kukatakan tadi ada di kertas ini. Kertas ini berisi…. hasil penyelidikan yang dilakukan Kyuhyun sendiri untuk kasus penyerangan yang terjadi padanya saat mengawal Kim Bo Sang dan anak buahnya.”

“Aku tanya sekali lagi. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku, hm? Sejak tadi kau berbicara tentang hal yang sama sekali tidak kuketahui,” Siwon mengulangi ucapannya sambil tertawa.

Hyung bilang salah satu petugas yang membawa mobil itu adalah pengkhianat dan sengaja memberitahu Lee Sungmin rute perjalanan pemindahan Kim Bo Sang dan anak buahnya.”

“Bukankah saat itu aku hanya memberikan dugaan sementara? Aku hanya berpendapat dan—“

“Tapi kurasa itu bukan dugaan sementara.”

“Apa?”

“Iya. Memang ada yang berkhianat dan sengaja membocorkan informasi rute perjalanan tersebut pada Lee Sungmin. Tapi bukan petugas yang ada di dalam mobil tersebut.”

“Siapa itu?”

Ryeowook tak lantas menjawab. Ia bisa merasakan tangannya yang memegang pistol berkeringat. Matanya memandang lurus pada Siwon yang juga memandangnya dengan wajah tenang.

“Kau orangnya.”

Seketika Siwon tertawa kecil sambil berkacak pinggang.

“Kau orang yang memberitahu Lee Sungmin tentang pemindahan Kim Bo Sang dan anak buahnya. Kau juga orang yang memasukkan ponsel itu ke dalam mobil dan menyembunyikannya di bawah kemudi dengan menggunakan lakban hitam,” Ryeowook menjawab dengan menggebu-gebu, seolah sedang berusaha menahan emosi yang sudah lama ia simpan.

“Kim Ryeowook, sekarang bukan waktunya bercanda.”

“Kenapa? Kenapa kau justru mengkhianati kami dan memilih untuk bekerja sama dengannya? Padahal kau juga tahu kalau dia adalah orang yang telah membunuh 2 orang tak berdosa.”

Kali ini tawa maupun senyum yang beberapa detik lalu masih Siwon pertahankan mendadak menghilang begitu saja. Bahkan tatapan matanya berubah tajam. Ryeowook yang menyadari perubahan ekspresi Siwon lantas meningkatkan kewaspadaannya.

“Seberapa jauh kau menyelidikiku?”

“Apa?”

Ryeowook terpaksa mundur beberapa langkah saat Siwon berjalan mendekat ke arah meja.

“Seberapa jauh kau menyelidikiku?” Siwon mengulangi pertanyaannya sambil mengalihkan pandangan matanya pada kertas yang ada di tangan Ryeowook.

“Kalau aku bilang aku sudah sangat jauh, apa yang akan kau lakukan? Kau mau menghentikanku? Sayang sekali. Kau tidak bisa, Hyung. Seorang polisi yang bekerja sama dengan penjahat untuk mencelakai orang lain, itu sama saja dengan kejahatan. Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Sebaiknya kau menyerahkan diri sebelum aku…”

“Membunuhku? Melumpuhkanku? Kau pikir kau sanggup melakukannya?”

“Jangan mendekat!”

Kewaspadaan Ryeowook benar-benar ada di atas rata-rata karena kini Siwon mulai mendekatinya. Ekspresi datar Siwon entah kenapa terlihat begitu menyeramkan di matanya.

“Karena sudah ketahuan, apa sebaiknya aku membuat pengakuan dulu? Baiklah. Meski aku tidak tahu bagaimana caramu mendapatkan bukti bahwa aku yang memasukkan ponsel sitaan itu ke mobil, aku akan mengakuinya. Lalu…., rute perjalanan pemindahan Kim Bo Sang dan anak buah yang diketahui Lee Sungmin…., boleh juga kalau aku mengakuinya. Oh ya…., alamat W Building III yang ternyata juga diketahui Lee Sungmin, bagaimana kalau aku juga mengakuinya? Bukankah itu akan terdengar sangat menarik? Kepolisian Pusat pasti akan heboh setelah tahu salah satu polisi terbaik mereka ternyata berkhianat dan berkomplot dengan penjahat yang menjadi buronan mereka,” tutur Siwon yang tiba-tiba berhasil merebut pistol dari tangan Ryeowook, kemudian memukul wajah Ryeowook hingga ketua D-Team tersebut jatuh ke atas lantai.

“Tapi lepas dari itu semua…..” Kini giliran Siwon mengarahkan mulut pistol yang sudah ia pasang alat peredam suara pada Ryeowook yang masih terduduk di lantai. “Aku paling tidak suka ada orang yang menggangguku.”

Dengan cepat, Ryeowook berdiri dan menyerang Siwon. Ia tahu postur tubuh Siwon yang lebih tinggi dan lebih kekar darinya pasti membuatya kesulitan, tapi yang harus ia lakukan adalah merebut kembali pistolnya yang ada di tangan Siwon.

Untuk beberapa menit dua polisi yang bertugas di unit yang sama tersebut terlihat saling serang dan mempertahankan diri. Hingga akhirnya suara tembakan terdengar meski begitu pelan karena adanya alat peredam suara pada mulut pistol tersebut.

Siwon dan Ryeowook, keduanya masih berdiri dalam jarak yang sangat dekat, saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain dengan ekspresi serius sebelum akhirnya Ryeowook dulu yang menundukkan kepala, melihat sendiri T-Shirt putih di balik jaket kulitnya mulai dihiasi warna merah.

Darah.

Ya, warna merah yang kini mulai memenuhi bagian depan T-Shirt putih Ryeowook adalah darah. Darah yang keluar dari bagian ulu hatinya. Rasa nyeri mulai ia rasakan di bagian perutnya. Baru ia sadari sebuah timah panas menembus kulit perutnya setelah ia melihat mulut pistol ada di depan tubuhnya.

Ia tertembak. Tidak. Lebih tepatnya…. Ia ditembak oleh Siwon. Ditembak?

Sekali lagi ia dibuat terperanjat setelah ia merasakan sesuatu yang panas kembali menembus kulitnya di tempat yang sama. Rasa nyeri tersebut semakin terasa hebat saja hingga ia kehilangan kekuatan pada kedua kakinya. Tangannya berusaha menggapai Siwon ketika ia terjatuh ke atas lantai.

Siwon berjongkok di depan Ryeowook sambil memainkan pistol yang baru saja ia gunakan untuk menembak Ryeowook.

“Kau bilang tadi…. aku bekerja sama dengan pembunuh yang sudah membunuh dua orang tak berdosa? Ryeowook-ah, menurutku, dua orang yang sudah dibunuh oleh pembunuh itu adalah orang-orang yang paling berdosa di dunia ini. Karena mereka…., seseorang yang memiliki hati paling baik dan paling hangat di dunia ini harus kehilangan nyawa. Bahkan mungkin, membunuh mereka saja tidak cukup untuk mengurangi dosa mereka,” ucap Siwon pelan.

Ryeowook yang sudah mulai sesak napas berusaha untuk membalas ucapan Siwon. Tetapi karena untuk bernapas saja ia cukup kesulitan, akhirnya ia hanya bisa mengerang tidak jelas.

“Kim Myun Shik….adalah seseorang yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Tidak… tidak… tidak. Bukan hanya seperti ayahku sendiri, tapi dia juga pahlawan… super hero yang sudah menyelamatkan hidupku 14 tahun lalu. Memberiku tempat tinggal, memberiku makan, memberiku selimut yang hangat, memberiku perhatian. Kau tidak akan pernah bisa menemukan orang hebat seperti dia. Kemudian dia terbunuh begitu saja oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Polisi yang seharusnya bisa memberikan keadilan padanya justru bertingkah bodoh. Bagaimana bisa polisi kehilangan berkas kasus yang harusnya masih ada di tangan mereka, hah? Tindakan konyol macam apa itu?”

“A-apa… maksud ucapanmu?” Dengan susah payah Ryeowook bertanya pada Siwon.

Siwon tak lantas menjawab. Ia tertawa kecil sambil memandangi Ryeowook yang mencoba menekan perutnya agar darah yang keluar tak terlalu banyak.

“Mungkin saja kau juga tidak akan pernah mengerti meski aku menceritakan semuanya padamu, Kim Ryeowook. Tapi karena kau akan mati malam ini, aku akan berbaik hati,” jawab Siwon kemudian sambil berdiri dan menarik kursi yang ada di dekatnya. “Kau tahu apa tujuanku menjadi polisi?”

Tak ada jawaban dari Ryeowook. Polisi yang lebih muda 1 tahun dari Siwon tersebut meringis menahan sakit ketika mencoba menyandarkan punggungnya pada rak buku yang ada di belakangnya. Tangannya yang tidak menekan luka tembak di perutnya merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya. Diam-diam ia mencoba menghubungi salah satu anggota D-Team.

“Tidak jauh berbeda dengan tujuan Lee Sungmin membunuh orang-orang itu. Yaitu, untuk menangkap pembunuh asli Kim Myun Shik. Yeah…., kami memang belum tahu siapa pembunuh Kim Myun Shik. Maka dari itu, membunuh orang-orang itu…. bisa kami sebut sebagai…. umpan.”

Umpan? Jadi, arti ucapan Lee Sungmin yang terekam pada alat penyadap milik Petugas Go…. adalah itu? Kalian…. bahkan belum tahu siapa yang membunuh Kim Myun Shik?” tanya Ryeowook dengan suara lemah yang kemudian diangguki Siwon. “Dan…. kami? Kau…. menyebut kata kami…., kau dan…. akh~ L-lee Sungmin…., apa hubungan kalian sebenarnya?”

Mata Siwon bergerak memandang Ryeowook untuk beberapa detik sebelum akhirnya menyadari ada sesuatu pada tangan Ryeowook yang tak bisa ia lihat dari atas kursi. Ia bangkit dari kursi dan mendekati Ryeowook. Tangannya terulur mengambil benda di tangan Ryeowook yang ternyata adalah sebuah ponsel. Senyum tipis yang dingin terulas di bibirnya setelah tahu Ryeowook berusaha merekam percakapan mereka dengan aplikasi Perekam Suara di ponsel tersebut.

“Jika aku…. mengarahkan pistol ini ke sini…., apa yang akan terjadi setelah aku menarik pelatuknya, hm?” ujar Siwon setengah berbisik sambil mengarahkan pistol ke dada kiri Ryeowook.

H-Hyung…., kau tidak bisa me-melakukannya. I-ini tidak benar dan…. akh!”

Kata-kata Ryeowook menggantung begitu saja setelah Siwon benar-benar menarik pelatuk pistol tersebut yang menyebabkan sebuah peluru panas melesat keluar dari mulut pistol dan menembus kulit dada kiri Ryeowook. Peluru tersebut…. mengenai jantungnya.

Tubuh Ryeowook tumbang ke samping rak buku. Sisa napas yang masih dihembuskan Ryeowook terdengar sangat berat. Ryeowook mengejang pelan untuk beberapa kali sebelum akhirnya nyawanya meregang.

Tak ada lagi detak jantung. Tak ada lagi deru napas. Yang ada hanyalah tubuh Ryeowook yang mulai terasa dingin.

Ryeowook tewas dibunuh Siwon.

“Aku belum menjawab pertanyaanmu, kan? Kau tadi bertanya apa hubunganku dengan Lee Sungmin. Jawabannya adalah….,” Siwon memberi jeda pada kata-katanya karena ia harus menghapus rekaman percakapannya dengan Ryeowook beberapa saat lalu. “…. kami adalah anak-anak yang ditolong Kim Myun Shik.”

To be continued

*

*

*

*

WELL, TINGGAL SEDIKIT LAGI FF VENUS AKAN TAMAT. SEDIKIIIIIIT LAGI ^^
THANKS UNTUK READERS YANG SETIA NUNGGUIN FF YANG SATU INI DARI MULAI PART 1 SAMPAI PART YANG INI.

SEBENTAR LAGI BAKALAN THE END KOK.

 

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

11 Comments

  1. Awaelfkyu13

     /  May 23, 2016

    IGE MWOYAA??!!! aigoooo knpa uri ryeowoom yg maninggal??knpa ga siwon aja siih?? iiih siwon trnyta penghianat!! pokoknya D-Team harus bisa balas kematian ryeowoom!! huhuu…hiks..masih ga nyangka dan ga terima ryeowook yg mninggal.. smoga stelah ini ga ada yg dikorbankan lg di D-Team.. ga sabar niiih endingnya kek apa…lanjut asap ya..semangaaaattt!!

    Reply
  2. iyus.rusini

     /  May 24, 2016

    Kenapa ryeowook T_T, ceritanya keren. Saking kerennya saya bingung mau komen apa karena sudah terlalu banyak yang memujinya,lanjutkan ceritanya…….. fighting!!!!! ; )

    Reply
  3. Monika sbr

     /  May 24, 2016

    Kasihan ryeowook harus meninggal, kirain ryeowook yg penghianat di D’tim tapi ternyata siwonlah yang penghianat sebernarnya.
    Semoga saja kasus yg diaengani oleh D’tim bisa diselesaikan dgn cepat deh biar mereka juga bisa beristirahat dgn baik.

    Reply
  4. inggarkichulsung

     /  May 25, 2016

    Jd Siwon oppa jd polisi krn ada niat dan tujuan khusus di dalam nya, kasihan ryeowook oppa meninggal begitu saja dan krn ia menyelidiki semuanya sendiri jd nya tdk ada yg pernah tahu kalau ia sdkt demi sdkt mengumpulkan bukti2 ttg semua kasus pembunuhan yg berurutan terjadi, jd siwon oppa, sungmin oppa tujuannya sama hanya berperan dgn posisi yg berbeda begitu pula Heechul oppa mantan polisi rekan Captain Tan yg merupakan anak kandung Kim Myung Sik pastinya yg menyuruh dan mendoktrin bahwa kedua anak asuh ayah nya ini hrs membantunya menemukan siapa pembunuh sebenarnya ayah kandung dan ayah asuh yg mrk kasihi selama ini, jahat bgt siwon oppa, smg semuanya sgr terpecahkan, ditunggu bgt kelanjutannya Nita

    Reply
  5. YessyAzlia

     /  June 1, 2016

    Tebakan aku meleset loh, sedikit tapinya
    Kak Nita, tega sama ryeowook.. Pembunuhannya sadis

    Reply
  6. Gak nyangka siwon yg berkhianat yaa walaupun siwon itu yg dubenci sama team D tapi tetep gak curiga sama dia. Uri ryeowook yg terbunuh udh kuduga kalo dia yg bakal mati karna dia kek nyeledikin sendiri gitu ckckck

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: