HOT ISSUE [Part 8]


12

HOT ISSUE [Part 8 ]

============================

———-oOo———-

Bugh!

Zhoumi melayangkan pukulan di wajah Kyuhyun hingga membuat aktor terkenal tersebut terhuyung dan hampir menabrak bangku panjang yang ada di dekatnya. Tak sampai itu saja. Ia juga berniat untuk benar-benar menghajar pria yang satu tahun lebih muda darinya itu karena sudah meninggalkan Park Yeon tak sadarkan diri di villa kosong dan gelap. Berterima kasihlah pada Moo Ryeong yang entah sejak kapan sudah berada di depan kamar inap Park Yeon berhasil menahannya.

Hyung, kendalikan dirimu! Ini rumah sakit!” pekik Moo Ryeong pelan sambil berusaha menjauhkan Zhoumi dari Kyuhyun yang sudah dibantu Cherry duduk di bangku panjang.

Dengan kasar, Zhoumi menepis kedua tangan Moo Ryeong yang menahannya dari belakang. Frustasi pada dirinya sendiri, ia mengusap wajahnya gusar sambil berjalan pelan ke arah lain. Diambilnya napas dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan. Bahkan rambutnya yang biasanya terlihat rapi kini terlihat sedikit berantakan karena ia mengacaknya sendiri.

Keadaan seperti ini sudah jelas menunjukkan bahwa Zhoumi benar-benar kesulitan mengendalikan emosinya. Padahal biasanya, emosinya sangat jarang sekali mudah terpancing.

Hyung, kita sudah susah payah membawa Park Yeon Noona kemari tanpa diketahui media. Kalau Hyung tidak bisa mengendalikan diri, usaha kita akan sia-sia,” Moo Ryeong mencoba menenangkan Zhoumi yang bersandar pada dinding di dekat pintu kamar inap Park Yeon.

“Maaf, Moo Ryeong.” Zhoumi menundukkan kepalanya. Tangannya menyibak rambut gelapnya sambil memejamkan kedua matanya. Untungnya, akal sehatnya sudah bisa ia kembalikan setelah sebelumnya pergi entah ke mana.

Sementara itu, Kyuhyun yang duduk di tepi bangku panjang berulangkali mendesis sambil mengumpat pelan merasakan sakit di sudut bibirnya karena pukulan Zhoumi. Ditolehkannya kepalanya ke arah Zhoumi yang masuk ke dalam kamar inap Park Yeon bersama seorang pemuda kurus. Sumpah demi apapun, ia ingin sekali membalas manajer Park Yeon tersebut karena sudah membuatnya kesakitan seperti ini. Ia terpaksa datang ke rumah sakit ini karena dipaksa Cherry tanpa ia tahu alasannya dan sekarang ia harus mendapatkan luka di sudut bibirnya sesaat setelah ia sampai.

“Chae Ri-ya…”

“Bisakah aku mendapatkan penjelasan darimu sekarang?”

“Bukankah seharusnya di sini akulah yang harus mendapatkan penjelasan darimu? Aku kemari karena kau menyuruhku. Tapi, apa yang kudapat? Manajer Park Yeon yang brengsek itu tiba-tiba menyerangku begitu saja tanpa aku tahu alasannya.”

Cherry memotong panggilan Kyuhyun dengan nada dan ekspresi wajah yang serius. Akan tetapi, Kyuhyun membalikkan ucapan Cherry sambil memasang wajah tak kalah seriusnya.

“Bagaimana bisa kau meninggalkan Park Yeon di villa kosong itu dalam keadaan tak sadarkan diri?”

Kurang dari dua detik kedua alis mata Kyuhyun terangkat. Tanda tanya sudah jelas tergambar di wajahnya mendengar pertanyaan Cherry.

“Tak sadarkan diri?”

Cherry merogoh saku mantelnya. Benda tipis yang baru saja ia keluarkan dari dalam sakunya langsung ia daratkan ke atas pangkuan Kyuhyun dengan sedikit kasar.

“Manajernya menemukannya tak sadarkan di sebuah villa kosong yang ada di Nowon. Dan itu ada bersamanya. Sebelum dia pingsan, kau bersamanya kan?” Kini giliran Cherry yang menuduh Kyuhyun.

Kyuhyun baru akan membuka mulut untuk menjawab. Tapi, niatnya itu ia urungkan karena… tidak mungkin ia memberitahu Cherry kalau ia mengajak Park Yeon ke sana untuk membantunya membuat rencana makan malam kejutan. Kalau sampai Cherry tahu, semua rencananya yang sudah ia pikirkan berbulan-bulan akan sia-sia saja.

“Sebenarnya… aku ingin mengajakmu bertemu di sana tapi…,” Kyuhyun terpaksa berbohong.

“Kau sudah gila ya? Okay, dengan adanya Park Yeon, aku harus akui kita semakin mudah untuk bertemu, tapi ini benar-benar keterlaluan. Memangnya Seoul sudah tidak ada tempat ya? Kenapa harus sampai Nowon? Itu sama saja kau berusaha untuk mencelakai Park Yeon, tahu tidak?”

“Mencelakai Park Yeon?”

Sepenuhnya Kyuhyun lupa pada rasa sakit di sudut bibirnya. Tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan Cherry padanya semakin lama semakin tidak masuk akal. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan kekasihnya itu.

“Baiklah. Aku memang mengajak Park Yeon ke sana. Tapi aku sama sekali tidak meninggalkannya di sana sendirian sampai jatuh pingsan. Astaga, sial! Ini gara-gara Reporter Beruang menyebalkan itu.”

Kini Kyuhyun mulai paham dengan tuduhan Cherry. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah menyalahkan Reporter Yoon Shi Woo.

“Reporter Beruang? Maksudmu… Reporter Yoon Shi Woo?”

“Siapa lagi kalau bukan dia. Kurasa dia sudah mengikuti kami sejak kami pergi dari studio Kwon Yul. Dia bahkan terang-terangan memasukkan mobilnya ke area halaman villa itu untuk menungguku keluar. Kalau aku tidak segera keluar dan menemuinya, mungkin dia akan memergokiku bersama dengan Park Yeon. Kau tahu sendiri kan reporter macam apa dia itu,” Kyuhyun mencoba menjelaskan secara singkat kronologis kemunculan Reporter Yoon Shi Woo yang akhirnya merusak semuanya.

“Lalu?”

“Aku langsung mengajaknya pergi dari sana dan mentraktirnya minum. Kalau tidak, dia akan memaksa masuk ke dalam villa. Aku baru ingat kalau ponselku tertinggal di villa bersama Park Yeon. Setelah aku memastikan reporter gila itu benar-benar mabuk, aku langsung naik taksi ke villa itu lagi untuk menjemput Park Yeon. Tapi dia sudah tidak ada di sana. Maka dari itu, aku menghubungimu dengan menggunakan ponsel sopir taksi itu untuk menanyakan keberadaan Park Yeon,” lanjut Kyuhyun.

Sejenak Cherry memandang Kyuhyun. Meski cara bicara Kyuhyun seperti sedang berbicara jujur, tapi tetap saja ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan kekasihnya itu darinya. Masalahnya adalah ia tidak tahu apa itu. Berkencan dengan pria tampan itu setahun ini sudah cukup membuatnya mengerti semua sifat dan tingkah lakunya. Dan saat ini, Kyuhyun jelas-jelas sedang mencampur fakta dan sebuah kebohongan menjadi satu di dalam kata-katanya.

“Kau masih mengira aku sengaja meninggalkan anak itu di sana sendirian?” Kyuhyun memandang Cherry dengan tatapan tidak percaya. “Astaga, Jung Chae Ri. Aku tahu, terkadang aku ini suka bertindak keterlaluan, tapi aku juga seorang senior yang masih memiliki perasaan. Bagaimana bisa aku mencelakai hoobae-ku sendiri? Apalagi hoobae seperti dia yang…… sudahlah.”

Tidak ada gunanya juga Kyuhyun menyebut Park Yeon sebagai hoobae­-nya yang berbeda dari yang lain karena ketangkasannya dalam hal menjawab dan membantah. Toh, saat ini bukan itu yang sedang mereka bahas.

.

.

.

Next day~

Zhoumi yang baru saja mengurus administrasi Park Yeon di Bagian Administrasi rumah sakit terlihat sedikit tercengang setelah membuka pintu kamar inap Park Yeon. Di sana, di atas ranjang rumah sakit, seorang pasien wanita yang selang infusnya masih menancap di salah satu tangannya tampak begitu beringas menghabiskan makanan yang disiapkan pihak rumah sakit. Oh, bahkan sepertinya itu sudah porsi yang kedua. Lihat saja tumpukan mangkuk yang ada di tepi nampan. Sudah pasti itu adalah porsi awal yang diberikan perawat padanya.

Mungkin Zhoumi harus merasa takjub karena setidaknya masih ada orang-orang seperti wanita itu yang menyukai makanan rumah sakit.

“Kapan aku bisa keluar dari sini” tanya Park Yeon dengan mulut yang penuh dengan bubur nasi. Sendok yang ada di tangannya ia goyang-goyangkan untuk menggerakkan Zhoumi yang berdiri mematung di ambang pintu.

Zhoumi hanya memasang wajah datar sambil menutup pintu sebelum masuk ke dalam toilet yang ada di kamar tersebut. Tak lama kemudian, manajer Park Yeon tersebut keluar dengan sebuah handuk kecil di tangannya. Wajahnya terlihat sedikit basah. Ujung rambut Zhoumi yang sebagian jatuh di atas pelipis juga terlihat basah. Sepertinya pria berpostur tubuh tinggi itu baru saja mencuci wajahnya.

“Apa aku harus menginap di sini lebih lama lagi? Hari ini aku kan harus— mmmmphhh!”

Park Yeon terpaksa menghentikan ucapannya karena setelah Zhoumi duduk di tepi ranjangnya, tiba-tiba pria itu mengambil sesendok penuh bubur nasi dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Kalau tidak salah, ada orang yang harus minta maaf karena sudah… apa ya… uhmmm…. “ Zhoumi berpura-pura sedang mengingat sesuatu.

Park Yeon yang mengerti “sindiran” manajernya itu langsung merebut sendoknya. Ekspresi kesal ia tampilkan di wajahnya saat kembali menyantap sarapannya. Diam-diam Zhoumi tersenyum geli melihat reaksi Park Yeon.

“Apa yang kau rasakan sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?” Kedua tangan Zhoumi terulur ke arah wajah Park Yeon untuk mengamati wajah wanita itu untuk beberapa detik di beberapa bagian. “Untuk ukuran Aktris Terkenal, wajahmu sekarang terlalu bengkak. Ck…, lihatlah….” Zhoumi menghela napas panjang.

Dengan cepat Park Yeon langsung menepis kedua tangan Zhoumi dari wajahnya dan langsung menangkup kedua pipinya dengan telapak tangannya sendiri. Ia terlihat panik setelah mendengar ucapan Zhoumi.

“Astaga! Apakah semengerikan itu?”

“Sangat mengerikan.”

Zhoumi menjawab pertanyaan Park Yeon dengan nada sedikit berbisik sambil memasang wajah menyesal. Seakan-akan apa yang ditakutkan Park Yeon benar-benar terjadi. Ia tahu hal yang paling menakutkan bagi Park Yeon adalah wajahnya sendiri. Bahkan ia masih ingat bagaimana paniknya seorang Song Park Yeon saat ia untuk pertama kalinya melihatnya tanpa riasan sedikit pun di wajahnya. Rasa percaya wanita berambut panjang itu seakan berkurang lebih dari 50% hanya karena ia ketahuan tak menggunakan make up di depan pria.

“Bagaimana ini?! Astaga… apa rumah sakit ini memberiku terlalu banyak cairan infus? Atau…,” Park Yeon memberi jeda pada kata-katanya dan memandang tumpukan mangkuk yang ada di depannya. “Makanan ini! Harusnya aku tidak menghabiskan semua makanan ini! Oppa, bagaimana ini?”

Kekehan pelan Zhoumi berikan sebagai respon atas kepanikan konyol Park Yeon. Tangannya kembali terulur untuk menurunkan tangan Park Yeon.

“Aku hanya bercanda. Wajahmu tidak apa-apa.”

“Tapi tadi—“

“Pucat. Wajahmu tidak bengkak, tapi pucat.”

Wanita berambut panjang itu menghela napas lega sebelum mendesis kesal pada Zhoumi. Tetapi, kekesalannya mendadak menguar begitu saja saat Zhoumi mengacungkan jari telunjuk di depan wajahnya.

“Sekali lagi saja kau membuat wajahmu pucat dan membuat tanganmu harus diinfus seperti ini, aku akan benar-benar marah padamu. Mengerti?”

Entah itu ancaman, peringatan, atau pun nasihat, nada bicara Zhoumi benar-benar terdengar sangat serius. Dan Park Yeon juga tidak berniat untuk membalas karena ia tahu dirinya salah dan pantas ditegur seperti itu.

“Aku… minta maaf karena sudah membuatmu khawatir. Lain kali… aku tidak akan melewatkan jam makanku.” Park Yeon yang bermaksud untuk menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf mendadak langsung membelalakkan kedua matanya saat ia teringat sesuatu. “Oppa, benarkah kau memukul Cho Kyuhyun?! Tadi Moo Ryeong memberitahuku.”

Zhoumi hanya mengangguk kecil sambil menyibak rambut bagian depannya yang sedikit basah ke belakang, kemudian merapikannya sekilas.

“Woah…, aku tidak tahu kau bisa memukul orang,” ujar Park yang seolah merasa bangga. Demi apapun, berita ini baru ia dengar untuk pertama kali sejak ia bekerja sama dengan pria bertubuh tinggi itu. Sebenarnya, pembawaan Zhoumi yang tenang, sabar, pengertian, lembut dan perhatian membuat Park Yeon harus berpikir ratusan kali untuk memercayai berita itu. Tapi, setelah Zhoumi membenarkan sendiri hal tersebut, Park Yeon justru menambahkan satu lagi poin kekagumannya terhadap diri seorang Zhoumi.

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau masih berhutang penjelasan padaku tentang kejadian yang menimpamu semalam. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bilang kau akan pergi ke Gangnam untuk menghadiri acara Seo Min Ah, tapi kenapa aku menemukanmu pingsan di dalam villa kosong yang ada di Nowon? Aku juga menemukan ponsel Kyuhyun di sana. Kalian pergi bersama? Apa dia sengaja mengajakmu ke sana agar bisa bertemu dengan Cherry? Bukankah sudah kubilang, jangan lagi menuruti permintaan konyol Kyuhyun itu? Kenapa kau masih saja meladeninya?”

Meski dengan nada bicara yang tenang, cecaran pertanyaan Zhoumi tetap saja masih terdengar sangat serius. Park Yeon seperti berhadapan dengan pacarnya yang marah karena ia ketahuan bersama pria lain. Well, mungkin perumpamaan itu tidak terlalu berlebihan baginya karena… astaga… apakah sekarang adalah waktu yan tepat untuk berandai-andai seperti itu? Sadarlah, Song Park Yeon! Manajermu ini sedang marah padamu!

“Eeee….bagaimana ya…. sebenarnya aku ingin cerita padamu, tapi… ini lebih rumit karena menyangkut hidup matinya. Bila aku cerita pada siapapun, termasuk padamu, sudah bisa dipastikan dia akan menjadi penghuni peti mayat dan…,” Park Yeon berhenti sejenak agar ia bisa memutar otak untuk mendapatkan beberapa kalimat yang bisa ia berikan pada Zhoumi. Setengah bagian dari otaknya menyuruhnya untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Yeah, maksudnya adalah alasan Kyuhyun “menculiknya”. Tapi, bagian lain dari otaknya justru menyuruhnya untuk tetap merahasiakan hal tersebut dari siapapun, tak terkecuali Zhoumi sekali pun. Ini lebih seperti… menjaga harga diri seniornya agar tidak merasa malu? Benarkah begitu?

“Apa dia mengancammu?”

Park Yeon buru-buru menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di depan Zhoumi, memintanya agar berhenti mengira yang tidak-tidak. Ia takut bila ia membiarkan Zhoumi berpikiran yang aneh-aneh, Kyuhyun akan benar-benar menjadi penghuni peti mayat karena dibunuh oleh manajernya itu.

“Tidak ada yang mengancam dan tidak ada yang diancam. Tidak ada yang memanfaatkan dan tidak ada yang dimanfaatkan. Semuanya baik-baik saja. Ini hanya masalah rahasia kecil. Zhoumi Oppa tahu sendiri kan kalau aku adalah orang yang selalu menjaga rahasia apapun. Nah, saat ini rahasia yang sedang kujaga adalah rahasianya. Baiklah, mungkin kata-kataku tadi sedikit berlebihan. Bukannya menyangkut hidup matinya, ini seperti… bila rahasianya terbongkar, ia akan mati karena merasa malu. Mengerikan sekali, bukan?”

Sejenak Zhoumi tampak berusaha mencerna arti di balik penjelasan Park Yeon. Akan tetapi, ketika Park Yeon akan kembali melanjutkan penjelasannya, pintu kamar sudah lebih dulu dibuka oleh seseorang dari luar.

Sunbae?”

Zhoumi langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu sesaat setelah Park Yeon menyapa orang yang membuka pintu tersebut. Dilihatnya sosok Kyuhyun baru saja menutup pintu sambil melepaskan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Kyuhyun yang menyadari Zhoumi juga ada di dalam kamar inap Park Yeon seketika terlihat sedikit waspada. Siapa tahu saja manajer Park Yeon tersebut kembali menyerangnya seperti semalam.

Oppa, bisa keluar sebentar? Sepertinya Kyuhyun Sunbae kemari karena masalah yang menyangkut hidup dan matinya,” pinta Park Yeon pada Zhoumi. Kyuhyun yang mendengarnya terpaksa mengernyitkan kening.

Zhoumi hanya mengangguk kecil sebelum menyingkirkan nampan berisi sarapan Park Yeon dari depan wanita itu. Tak ada sapaan yang dilontarkan Zhoumi saat berjalan di samping Kyuhyun.

“Manajermu itu…, sombong sekali ya?” gerutu Kyuhyun sedetik setelah Zhoumi keluar dari kamar inap.

“Setidaknya dia tidak meninggalkanku sendirian di villa kosong dan gelap,” timpal Park Yeon ketus sambil menyandarkan punggungnya pada bantal yang ada di belakannya.

Sepenuhnya Kyuhyun menutup mulutnya. Tidak salah juga sih Park Yeon berkata begitu karena pada kenyataannya ia memang meninggalkannya sendirian di sana. Maka dari itu, ia datang kemari untuk minta maaf.

Sunbae tahu apa saja hukuman yang harus kuterima hanya karena tidak menuruti satu nasihat manajerku? Pertama, aku batal menghadiri acara Seo Min Ah Sunbaenim dan berakhir di dalam mobilmu. Kedua, aku berada di dala villa kosong dan gelap dan hampir diketahui Reporter Yoon. Ketiga—“

“Sepertinya aku harus mendapatkan ucapan terima kasih karena berhasil menyembunyikanmu dari Reporter itu,” potong Kyuhyun.

“Oh, kalau begitu, terima kasih, Sunbae. Bisa kulanjutkan? Ketiga, aku harus berada di dalam villa itu berjam-jam hingga penyakit maag-ku kambuh karena sejak pagi aku belum makan. Keempat, aku harus ditemukan manajerku dalam keadaan pingsan. Kelima, wajahku pucat dan tanganku dihiasi infus seperti ini. Dan keenam, aku harus dimarahi manajerku saat aku sedang sarapan. Aku hanya melakukan satu kesalahan, dan hukuman yang kudapat sudah seperti antrian orang di depan loket tiket pesawat.”

Park Yeon menghembuskan napas panjang setelah melampiaskan kekesalannya dalam satu tarikan napas. Ia berharap seniornya itu menyadari situasi yang ada di sekitar mereka sekarang ini.

“Kukira Reporter itu bisa kubuat mabuk dengan mudah, tapi ternyata dugaanku salah. Aku terpaksa harus menemaninya minum hingga menghabiskan banyak soju. Tapi saat aku berhasil membuatnya mabuk dan bermaksud menjemputmu, kau sudah tidak ada di sana. Dan—“

Park Yeon mengibaskan tangannya malas. “Sudahlah. Penjelasan Sunbae tidak penting. Aku sudah dengar semua dari Cherry Eonnie. Yang penting sekarang Sunbae harus membalas kebaikanku.”

Salah satu alis mata Kyuhyun terangkat. Park Yeon yang menyadari ekspresi Kyuhyun lantas berdecak pelan.

“Aku ini bukan orang yang suka menolong tanpa pamrih. Jaman sekarang, semuanya tidak ada yang gratis, termasuk perbuatan baik. Maka dari itu, aku meminta imbalan atas perbuatan baikku pada Sunbae,” Park Yeon menjelaskan maksud kata-katanya.

Tak kunjung mendapat respon, Park Yeon langsung memukul selimut yang menutupi kedua kakinya. “Aku terpaksa berbohong pada Zhoumi Oppa tentang malam itu! Padahal sebelum-sebelumnya aku tidak pernah berbohong seperti ini padanya! Kalau bukan karena mengutamakan harga diri dan rasa malu Sunbae yang pasti akan meledak seperti balon gas karena ketahuan bingung merencanakan pesta kejutan untuk Cherry Eonnie, aku pasti sudah menceritakan semuanya pada Zhoumi Oppa dan Cherry Eonnie! Jadi, sekarang aku minta ganti rugi kebaikan yang sudah kulakukan untukmu!”

Kyuhyun mendengus pelan mendengar suara Park Yeon yang meninggi di setiap kalimatnya.

“Aku akan membayarnya. Tapi tidak sekarang.” Kyuhyun berjalan pelan mendekat ke arah ranjang Park Yeon dan mengamati wanita itu untuk beberapa detik. “Kau… sudah tidak apa-apa, kan?”

Dengan cepat Park Yeon menunjukkan tangannya yang dihiasi selang infus. “Menurut Sunbae?”

“Kau masih… sakit,” gumam Kyuhyun sambil mengangguk-angguk pelan.

“Gara-gara Sunbae, hari ini aku harus meniadakan semua jadwalku. Padahal hari ini aku akan bertemu dengan Seo Ji Sub di acara Premier film terbarunya. Haaah…, ini semua gara-gara Sunbae,” gerutu Park Yeon, membuang muka ke arah lain dengan kesal.

“Ya, aku tahu aku salah. Jadi, berhentilah menyalahkanku. Dunia juga tidak akan hancur hanya karena kau tidak bisa bertemu dengan Seo Ji Sub hari ini. Lain kali aku akan mengajakmu bertemu dengannya. Mengajaknya makan siang bersama bukanlah hal yang sulit untukku. Kau mau bertemu dengan siapa lagi, hah? Jangankan Seo Ji Sub, semua aktor yang kau kagumi bisa kudatangkan di depanmu,” Kyuhyun membalas dengan nada tak kalah ketus.

“Bisa undang GOT7 kemari? Aku yakin aku akan langsung sembuh dan wajahku tidak akan pucat lagi kalau sudah menatap wajah tampan mereka satu per satu,” pinta Park Yeon asal.

Ha, Park Yeon yakin, dari semua “orang” yang mungkin bisa dipanggil seniornya itu—meski rasanya masih saja sangat mustahil—hanya boyband itu yang tidak bisa dijangkau. Mengapa? Itu karena seorang Cho Kyuhyun tidak terlalu mengenal dunia boyband yang penuh dengan malaikat-malaikat berwajah tampan yang pandai menyanyi dan menari.

oOo

a few days later….

Wajah Park Yeon tampak begitu serius di depan layar kecil yang menampilkan adegan terakhir iklan kosmetik yang dibintanginya. Salah satu tangannya yang memegang sandwich tuna menunjuk layar tersebut sambil berbicara dengan salah satu kru.

“Kurasa yang itu sudah cukup bagus,” gumam Park Yeon sambil mengunyah sandwich yang baru saja dimasukkan ke dalam mulutnya. Tatapan matanya masih saja begitu serius mengamati setiap gerakan yang ia lakukan di adegan tersebut.

Eonnie…”

Salah satu penata make up Park Yeon heran melihat Park Yeon yang sibuk menghabiskan setangkup sandwich berukuran besar di tengah proses syuting iklan kosmetik.

Park Yeon menunjuk jam tangan penata rias tersebut. “Ini sudah jam 8 malam dan itu artinya sekarang adalah waktuku untuk makan malam. Kalau aku tidak segera makan, seseorang akan membunuhku,” ujar Park Yeon asal.

Yeah, Park Yeon memang tidak sedang bercanda. Seseorang mungkin memang akan benar-benar membunuhnya. Sebelumnya saja ia sudah hampir kehilangan nyawa karena tak mengacuhkan nasihat orang itu. Kali ini, ia tidak ingin orang itu menghabisi nyawanya hanya karena ia sengaja tak mengacuhkan nasihatnya lagi.

“Jadi, sekarang aku adalah seorang pembunuh?”

Suara seseorang mengejutkan Park Yeon. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang.

“Ya?”

“Setelah mengira aku adalah mantan model kaya raya, sekarang yang ada di pikiranmu, aku adalah seorang pembunuh? Yeon-ah, sepertinya kau harus memeriksakan kesehatan psikologismu,” ujar Zhoumi, berpura-pura mengetuk kening Park Yeon. Tangannya yang sudah hampir menyentuh kening Park Yeon mendadak turun ke arah dagu Park Yeon. Disekanya dengan lembut saus tomat yang menghiasi dagu wanita cantik tersebut.

Park Yeon yang melihat ada noda saus tomat di jari Zhoumi buru-buru menjauhkan wajahnya dari tangan manajernya itu. Ia lantas membersihkan dagunya sendiri dengan punggung tangannya.

“Setelah ini selesai, aku harus ke mana lagi?”

Well, pertanyaan klasik yang selalu Park Yeon lontarkan setiap kali selesai menuntaskan satu jadwal. Tapi kali ini bukan karena ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ini lebih seperti… ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Zhoumi yang sejak tadi memandanginya sambil tersenyum geli.

Apanya yang lucu sih? Seorang wanita yang tidak sadar ada saus tomat di dagunya setelah melahap setangkup sandwich besar berhias saus tomat. Itu wajar kan? Akan beda ceritanya bila wanita itu memakan cake. Di dagunya sudah pasti tidak ada saus tomat, melainkan krim. Menyebalkan sekali.

“Hari ini kau bisa pulang lebih awal. Pengambilan adegan terakhir untuk iklanmu adalah kegiatan terakhir hari ini.” Zhoumi menunjukkan layar Tabletnya yang menampilkan susunan jadwal Park Yeon hari ini yang sudah berhias tanda centang berwarna biru.

Alih-alih merasa senang karena hari ini bisa segera pulang dan istirahat, Park Yeon justru merasa enggan. Padahal biasanya beberapa bulan ini ia akan pulang lewat tengah malam karena jadwalnya yang padat. Ha, sebelumnya justru ia hanya memiliki jumlah jadwal yang tak lebih dari angka lima yang membuatnya seperti pengangguran.

“Benarkah ini yang terakhir untuk hari ini?”

“Apakah kau pernah melihatku salah menyusun jadwal kegiatanmu?”

“Tidak sih.”

“Kalau begitu, dengan sangat yakin aku akan mengatakan kalau hari ini kegiatanmu sudah selesai semua. Bukankah tempo hari sudah kuberitahu kalau sehari sebelum proses syuting drama barumu dimulai, kau hanya akan memiliki jadwal yang sedikit?”

Park Yeon hanya bisa mengangguk-angguk pelan.

“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan sejak pagi hingga siang tadi di Nowon?”

“Hah?”

Kali ini Zhoumi menunjukkan ponselnya di depan wajah Park Yeon. Tanpa berpikir keras pun, Park Yeon tahu apa maksud Zhoumi.

“Sepertinya aku harus mengubah kebiasaanku membiarkan sinyal GPS di ponselku aktif,” Park Yeon menggumam sepelan mungkin hingga mirip seperti lebah yang sedang mendengung. Sial! Hanya karena kebiasaannya itu, ia jadi mudah diawasi Zhoumi seperti ini.

“Aku memang bilang kalau hari ini jadwalmu sedikit lebih longgar dibanding sebelum-sebelumnya. Tapi itu bukan berarti kau bisa menghilang begitu saja tanpa mengatakan apa-apa padaku. Karena bagaimana pun juga, aku adalah manajermu dan—“

“Semua manajer artis memang secerewet ini ya?” potong Park Yeon yang merasa sedikit kesal.

“Setelah menemukanmu pingsan di villa kosong itu, aku memutuskan untuk menjadi manajer yang cerewet,” Zhoumi menyahut sedetik setelah Park Yeon selesai berbicara.

“Iya, tapi….,” Park Yeon terpaksa menggantungkan protesnya saat Zhoumi menggerak-gerakkan jari telunjuk di depannya sambil memasang ekspresi yang seolah berkata ‘Masih berani membantah manajermu?’

Agar kekesalannya tak sia-sia, Park Yeon lantas mengacak-acal rambutnya sendiri. “Haah, terserahlah! Aku bahkan tidak tahu kenapa bisa sampai berani membangkang manajerku sendiri. Ini semua karena ulang tahun… astaga!”

Mata Park Yeon membulat penuh setelah menyebut kata ulang tahun. Baiklah, awalnya ia ingin menyebutkan ulang tahun Cherry yang memang jatuh pada hari ini, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu yang lebih penting.

.

.

.

.

“Bisa lebih cepat lagi tidak?”

Ini sudah ketiga kalinya Park Yeon meminta Zhoumi untuk menambah kecepatan mobil van yang sedang ia kemudikan.

Zhoumi bukannya tidak mau menuruti permintaan Park Yeon. Kalau untuk urusan kebut-kebutan di jalan raya meski dengan mobil sebesar ini pun, nyalinya tidak akan menciut. Sebut saja ia adalah pengemudi mobil yang cukup handal dan tidak bisa diremehkan untuk masalah kebut-mengebut. Hanya saja, untuk saat ini keselamatan mereka berdualah yang ia utamakan. Ia tidak ingin mereka berdua berakhir di ranjang rumah sakit—atau lebih mengerikan lagi, di kantung mayat—hanya karena harus menuruti apa kata Park Yeon.

Oppa.”

Suara Park Yeon terdengar bergetar. Zhoumi terpaksa menoleh sekilas untuk memandang wanita yang duduk di sampingnya itu. Detik berikutnya ia berdecak pelan saat tahu Park Yeon seperti sedang berusaha untuk tidak menangis.

“Semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir seperti itu,” Zhoumi berusaha menenangkan Park Yeon sembari pelan-pelan menambah kecepatan mobilnya.

Semua akan baik-baik saja? Park Yeon tidak yakin pada hal tersebut mengingat saat ini ia sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan sejak tadi ia sudah memaki-maki dirinya di dalam hati karena sudah bertindak bodoh.

“Yeon-ah!”

Zhoumi terpaksa berteriak memanggil Park Yeon yang langsung turun dari mobil dan berlari saat mereka sudah berhenti di depan kedai sederhana tempat para fans setia Park Yeon biasa berkumpul.

Park Yeon yang tak mengindahkan panggilan Zhoumi terus berlari ke arah kedai. Bahkan ia tak peduli ketika beberapa pengunjung kedai memerhatikan dirinya. Yang harus ia lakukan adalah bertemu dengan anak-anak itu di ruangan yang ada di lantai dua, karena seingatnya mereka akan selalu berkumpul pada malam hari di sana sambil mengerjakan tugas sekolah mereka.

Akan tetapi, Park Yeon terpaksa harus gigit jari karena di dalam ruangan tersebut tak ada siapa-siapa. Yang ia lihat hanyalah meja lebar di tengah-tengah ruangan. Berulangkali ia hanya bisa menghela napas berat saat turun ke lantai dasar dan berjalan keluar.

“Mereka tidak ada?” tanya Zhoumi yang baru saja menegakkan tubuhnya setelah sejak tadi bersandar di pintu mobil yang tertutup sempurna.

Park Yeon menggeleng pelan. Kepalanya tertunduk lesu. Dipandanginya kado yang ada di tangannya. Hanya memandang kotak itu saja sudah membuat matanya kembali berkaca-kaca. Zhoumi yang bisa menangkap kesedihan di wajah Park Yeon lantas mengusap pelan bahu wanita itu.

“Mungkin mereka sedang belajar di rumah. Mereka semua kan masih SMU,” hibur Zhoumi.

Well, masuk akal juga bila benar begitu. Percuma juga Park Yeon merasa sedih hanya karena tidak bisa bertemu mereka. Tapi, sebenarnya bukan itu alasan Park Yeon merasa sedih.

“Aku sudah janji untuk membuatkan pesta kecil-kecilan untuk Bo Ri. Dan janji itu…………harusnya sudah kutepati dua minggu yang lalu,” keluh Park Yeon sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. “….Ini pertama kalinya aku lupa pada ulang tahun mereka. Dan pertama kalinya juga aku lupa pada janji yang sudah kubuat sendiri untuk mereka. Astaga…. apa yang terjadi denganku?”

Zhoumi hanya bisa memandang Park Yeon yang terlihat sangat sedih dan frustasi karena kesalahan yang dilakukannya sendiri. Jangan Park Yeon, ia sendiri pun juga memiliki pertanyaan yang sama. Apa yang terjadi dengan Park Yeon? Wanita itu mulai melupakan hal-hal sepele yang dulu selalu dia lakukan. Ulang tahun keenam anak SMU itu mungkin bisa dijadikan salah satu contohnya. Perubahan yang terjadi pada diri Park Yeon memang tidak seperti yang ia takutkan sebelumnya. Tapi tetap saja, ia merasa kurang nyaman dengan perubahan tersebut.

“Park Yeon Noona?”

Suara anak laki-laki membuat Park Yeon dan Zhoumi menoleh ke sisi kanan tubuh mereka. Seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam sekolah terlihat berjalan menghampiri mereka dengan wajah heran.

“Kwak Tae Gun!” seru Park Yeon tiba-tiba saat mengenali anak laki-laki itu adalah salah satu fansnya. Ia ingin menghampiri Tae Gun saat anak laki-laki berkulit putih itu sudah lebih dulu membungkukkan badan untuk memberi salam padanya dan Zhoumi. Inilah alasan Park Yeon sangat menyayangi para fansnya.

“Apa yang… Noona lakukan di sini?” tanya Tae Gun heran sekaligus terpana dengan penampilan Park Yeon yang sudah jauh berbeda dari saat mereka terakhir bertemu.

“Aku ingin bertemu dengan kalian, tapi…” Park Yeon mengalihkan pandangannya ke arah lantai dua kedai sebelum kembali memandang Tae Gun. “….kalian tidak ada di sana.”

“Sudah satu minggu ini aku tidak berkumpul dengan mereka. Mungkin karena mereka sedang Tes Semester, makanya mereka tidak bisa kemari. Aku saja sengaja kemari karena tidak bisa belajar di rumah,” ujar Tae Gun yang sejenak kemudian mengamati kado di tangan Park Yeon. Seolah mengerti maksud kedatangan Park Yeon yang tiba-tiba, ia lantas menunjuk kado tersebut. “Itu…. untuk Bo Ri, kan?”

Park Yeon mengangguk pelan. “Aku ingin minta maaf pada kalian semua karena tidak bisa menepati janjiku. Padahal saat itu aku sudah menyuruh Seul Gi dan Wo Ri untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan di sini.”

Tae Gun tersenyum kecil. “Noona, kami tahu sekarang kegiatanmu jauh lebih banyak dibanding dulu. Aku juga sudah berkali-kali memberitahu mereka tentang kondisi Noona yang sekarang agar mereka tidak terlalu kecewa saat suatu hari nanti Noona kesulitan datang kemari. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku sangat senang dengan keadaan Noona yang sekarang. Itu artinya harapanku dan harapan anak-anak lainnya terwujud. Noona, kau sekarang keren sekali.”

Zhoumi yang berdiri di belakang Park Yeon ikut tersenyum. Dilihatnya wanita itu menyeka air mata yang baru saja keluar.

“Bisa antarkan aku ke rumah Bo Ri?”

Pertanyaan Park Yeon ternyata mengejutkan Zhoumi dan Tae Gun. Kedua laki-laki yang memiliki perbedaan umur yang cukup jauh ini saling pandang.

“Tae Gun-ah, antarkan aku ke rumah Bo Ri sekarang juga. Kau tahu rumahnya kan?”

“Aku memang tahu, Noona. Tapi…”

“Ayo, masuk ke dalam mobil.”

Tanpa mendengar jawaban Tae Gun, Park Yeon langsung mendorong anak laki-laki itu agar segera masuk ke dalam mobil dan menyuruh Zhoumi agar segera masuk juga.

.

.

.

Suasana di depan pintu rumah Bo Ri tampak aneh. Tidak, mungkin lebih tepatnya hanya Bo Ri, salah satu anak SMU yang merupakan fans setia Park Yeon. Gadis kurus itu berkali-kali mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa detik ke arah Park Yeon yang berdiri di hadapannya, seolah apa yang sedang dilihatnya hanyalah sebuah ilusi.

“P-park Yeon…. Eonnie?” Suara Bo Ri terputus-putus, masih belum percaya kalau idolanya benar-benar sedang berdiri di depan pintu rumahnya malam-malam begini.

Dengan cepat Park Yeon melempar kado yang sejak tadi dibawanya pada Tae Gun yang berdiri di dekatnya. Digenggamnya kedua tangan Bo Ri erat-erat. Ekspresi menyesal begitu kentara di wajahnya.

“Bo Ri-ya, maafkan aku ya? Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengingkari janji…. tidak, aku memang mengingkari janji. Maafkan aku ya?” Tak hanya ekspresi di wajahnya, nada bicara Park Yeon pun terdengar begitu menyedihkan.

Bo Ri yang pada awalnya tidak mengerti dengan ucapan Park Yeon akhirnya mulai paham. Hanya saja ia tahu harus bereaksi seperti apa. Ia memang sedikit kecewa saat menyadari tak ada satu pun ucapan selamat ulang tahun dari idolanya tersebut di akun SNS-nya. Bahkan, meski ia sudah menunggu beberapa hari, tetap saja tidak ada pemberitahuan apapun di ponselnya. Tak hanya itu, teman-temannya bilang Park Yeon akan membuat sebuah pesta kejutan untuknya di kedai tempat biasa mereka bertemu. Tapi lagi-lagi itu tidak terjadi.

“Aku tadi ke sana, tapi kalian tidak ada. Untung saja aku bertemu dengan Tae Gun, jadi—“

Eonnie, kalau pun aku mau, aku bisa saja marah padamu. Aku akan sangat marah dan membencimu. Bahkan kalau aku mau, aku bisa berhenti menjadi fansmu. Di luar sana masih banyak aktor dan aktris terkenal yang bisa kuidolakan. Ah, sekarang juga banyak boyband-boyband terkenal. Aku bisa saja memilih mereka. Tapi, pada kenyataannya aku tidak bisa. Aku memang kecewa, tapi aku tidak bisa marah.”

“Bo Ri-ya….”

Alih-alih memasang wajah kesal, Bo Ri justru tampak sangat senang. Matanya begitu berbinar-binar. Kedua tangannya terangkat menyentuh rambut panjang Park Yeon yang bergelombang, kulit tangan Park Yeon yang halus dan harum.

Eonnie… kau sangat…… cantik sekali! Sebelumnya kau memang sudah sangat cantik, tapi sekarang kau jauh lebih cantik lagi! Astaga… jadi mereka berdua tidak bohong.”

Park Yeon terpaksa mengangkat kedua alis matanya saat menyadari anak SMU itu sedang bertingkah seperti seorang fans yang kagum pada idolanya. Ha, bukankah seharusnya saat ini sedang terjadi adegan mengharukan antara dirinya dan Bo Ri? Saling menangis, mungkin?

Eonnie, bisakah aku berfoto denganmu? Aku janji tidak akan mengunggahnya di akun SNS-ku. Aku hanya akan menunjukkannya di chatt group kita.”

Bo Ri langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Namun, Park Yeon langsung menahannya.

“Tapi sebelum itu, aku ingin kau menerima ini,” ucap Park Yeon seraya mengambil kado yang ada di tangan Tae Gun dan memberikannya pada Bo Ri. Tentu saja hal tersebut membuat Bo Ri memasang tanda tanya di wajahnya. “Kado ulang tahun untukmu. Meski sangat terlambat, aku ingin benar-benar memberikannya padamu.

Karena sangat penasaran, akhirnya Bo Ri langsung membuka kado tersebut. Matanya terbelalak penuh saat tangannya mengeluarkan isi kado tersebut. Tak hanya dirinya, Tae Gun yang berdiri di samping Park Yeon pun ikut terkejut dan langsung menghampiri Bo Ri.

“Ini…….. benar untukku, Eonnie?” tanya Bo Ri pelan sambil memandang Park Yeon.

Park Yeon mengangguk kecil. “Untuk mendapatkan benda itu, aku terpaksa mengorbankan image aktrisku yang ramah dan sopan dan berebut dengan salah satu pembeli. Jadi, kau harus benar-benar menjaga dan merawatnya, tahu tidak?”

“Iya….,” Bo Ri menjawab asal karena perhatiannya terpusatkan pada benda bulat di tangannya. Sebuah bola kristal di mana di dalamnya terdapat miniatur rumah kecil dan pohon. Ada titik-titik putih bersih yang terbang seperti salju di dalam bola tersebut.

Apa kalian baru saja mendengar kata kristal? Ya, itu memang bola yang terbuat dari kristal. Kristal dalam arti yang sebenarnya. Jadi, tidak salah bila aku rela berebut dengan orang lain untuk mendapatkan itu. Karena selain bentuknya yang indah dan cantik, harganya juga mahal. Sekali lagi, MAHAL. Untung saja aku bukan aktris yang pelit. Untuk salah seorang fans lucu, imut, menggemaskan dan baik seperti Bo Ri, aku akan rela memberikan apapun. Lain kali, aku akan membelikan kado ulang tahun untuk yang lainnya. Kali ini, aku tidak akan lupa. Sebut saja…. mereka terlalu berharga untuk dilupakan.

“Tapi…. aku masih sedikit marah pada Eonnie.”

Ucapan Bo Ri memaksa Park Yeon menyudahi lamunannya. Ia terpaksa mengernyitkan kening karena tidak mengerti.

“Bukankah kau bilang kau tidak marah padaku?” protes Park Yeon.

Dengan cepat Bo Ri memasukkan bola tersebut ke dalam kotak kembali dan memasang wajah kesal. “Aku akan benar-benar memaafkan Eonnie kalau Eonnie memberiku satu lagi kado ulang tahun.”

“Hah?”

Park Yeon memandang Tae Gun, mencoba mendapatkan jawaban apapun pada anak laki-laki itu. Tapi sayangnya Tae Gun juga sama dengannya.

“Kado yang kuminta tidak mahal kok. Bahkan tidak mengeluarkan biaya sama sekali,” ujar Bo Ri sambil menaik-turunkan alis matanya.

.

.

Zhoumi keluar dari mobil setelah sebelumnya berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Dihelanya napas panjang sambil mengedarkan matanya ke arah jalanan sepi di dekat deretan perumahan sederhana yang cukup sepi. Kepalanya tertunduk memandang jam tangannya. Sudah lebih dari setengah jam Park Yeon berada di dalam perumahan tersebut.

Sebenarnya ia cukup khawatir pada wanita itu. Ia takut kalau warga perumahan itu “menyerangnya” setelah mengenalinya. Ditambah hanya satu anak laki-laki yang mengawalnya masuk ke dalam sana.

Tak berapa lama kemudian terdengar derap langkah seseorang dari arah belakang tubuhnya. Lebih tepatnya langkah itu berasal dari arah jalan masuk perumahan. Zhoumi langsung membalikkan badan setelah yakin langkah tersebut milik Park Yeon.

Akan tetapi……. dugaannya salah! Bukan sosok Park Yeon yang berjalan ke arahnya, melainkan seorang gadis muda dengan rambut yang diikat ke atas. Senyum gadis itu begitu lebar, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.

“Manajer Oppa~!”

Tubuh Zhoumi seketika menegang setelah mengenali siapa gadis itu. Ia ingin lari ke mana saja untuk menghindar, tapi gadis itu sudah lebih dulu melempar diri ke arahnya. Akhirnya, yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di samping mobil dengan kedua tangan terangkat ketika gadis itu memeluknya erat. Matanya menangkap sosok Park Yeon dan Tae Gun berjalan pelan ke arahnya.

“Dia bilang hanya kado ini yang bisa membuatnya merasa puas dan memaafkan kesalahanku,” ujar Park Yeon pada Zhoumi yang memberikan tatapan “Apa-apaan ini?!”

Ya, hanya “kado” itulah yang bisa membuat Bo Ri melupakan semua kekecewaan terhadap Park Yeon. Kapan lagi bisa memeluk manajer kesayangan seperti ini? Toh, Park Yeon juga mengijinkannya.

Sedangkan Park Yeon juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan permintaan konyol salah satu fansnya itu. Kalau saja bukan karena rasa bersalahnya, ia sudah pasti menentang keras. Lihat saja bagaimana Zhoumi berusaha mempertahankan senyum di wajahnya ketika Bo Ri memeluknya dan menjabarkan semua kekagumannya. Bahkan Park Yeon juga hanya bisa menggaruk-garuk pelannya ketika anak SMU itu memaksa Zhoumi untuk berfoto bersama.

Maafkan aku, Oppa. Aku janji, ini adalah untuk yang terakhir kalinya kau bertemu dengan anak-anak itu. Melihatmu seperti itu saja sudah membuatku merasa sangat bersalah. Hanya meladeni satu gadis itu saja kau sudah seperti terpidana mati yang akan menerima hukuman mati. Bagaimana kalau sampai keempat gadis lainnya ada di sini? Dasar Gadis Tengik, aku ingin sekali menyeretmu menjauh darinya.

Park Yeon baru akan benar-benar menghentikan Bo Ri saat ponselnya bergetar. Ia tidak menerima telepon atau pesan dari siapapun, melainkan sebuah alarm pengingat. Ya, ia sengaja mengatur alarm di ponselnya karena ia harus menghubungi seseorang.

Sunbae, pergilah ke villa yang ada di Nowon sekarang juga. Jangan lupa, ajak Cherry Eonnie.”

[Apa maksudmu?]

Sunbae akan tahu sendiri kalau sudah sampai di sana.”

[Park Yeon-ah…]

“Aku benar-benar akan meminta ganti rugi atas kebaikanku ini. Jadi, Sunbae harus bersiap-siap.”

Pip~

Park Yeon langsung mematikan ponselnya sebelum berlari kecil ke arah Zhoumi dan Bo Ri.

oOo

Drrrt….. Drrrt….

Kyuhyun yang baru saja keluar dari lift yang ada di gedung apartemen Cherry terpaksa berhenti untuk merogoh saku jaketnya. Keningnya berkerut melihat nama Park Yeon tertera di layar ponselnya.

“Ya?” ucapnya sambil kembali berjalan menuju apartemen Cherry. Untuk kesekian kalinya, dibenarkannya letak topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Siapa tahu saja ada penghuni gedung lainnya yang melintas di dekatnya.

[Sunbae, pergilah ke villa yang ada di Nowon sekarang juga. Jangan lupa, ajak Cherry Eonnie.]

Sejenak Kyuhyun menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan memandanginya heran sebelum kembali menempelkannya ke telinga. “Apa maksudmu?”

[Sunbae akan tahu sendiri kalau sudah sampai di sana.]

“Park Yeon-ah….”

[Aku benar-benar akan meminta ganti rugi atas kebaikanku ini. Jadi, Sunbae harus bersiap-siap.]

Pip~

Yaa, Park Yeon-ah? Halo? Halo? Dasar anak ini….”

Belum sampai Kyuhyun mendapatkan penjelasan, Park Yeon sudah lebih dulu memutuskan pembicaraan mereka. Menyisakan Kyuhyun yang di sekitarnya terdapat banyak tanda tanya bersayap terbang ke sana kemari. Apa maksud Park Yeon menghubunginya?

“Nowon? Kenapa dia menyuruhku mengajak Cherry ke sana? Apa dia mau menjebakku? Atau… dia mau balas dendam? Eeeei…. yang benar saja. Anak kecil seperti dia bisa melakukan hal itu pada kami? Tidak, lebih tepatnya, padaku? Hah, yang benar saja. Dia kan—eh?”

Kyuhyun yang mengomel pelan di depan pintu apartemen Cherry terpaksa terkejut saat pintu di depannya tiba-tiba terbuka dan Cherry muncul dari balik pintu tersebut. Sama seperti Kyuhyun, Cherry pun menunjukkan reaksi yang sama. Wanita yang malam ini mengenakan pakaian kasual terlihat terkejut melihat Kyuhyun berdiri di depan pintunya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Cherry sebelum menoleh ke sisi kanan dan kiri apartemennya dengan kewaspadaan penuh. Ia tidak ingin kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah. Hanya karena tindakan nekat Kyuhyun, ia harus kembali menjadi sasaran para ­haters-nya yang juga merupakan fans Kyuhyun.

Alih-alih ikut waspada seperti yang dilakukan Cherry, Kyuhyun justru menahan senyum geli melihat tingkah kekasihnya yang seperti itu. Sebut saja…. ia sedang melihat seorang Jung Chae Ri yang polos. Bukan seorang Cherry Jung yang selalu terlihat tenang, anggun, elegan dan sedikit angkuh. Namun, setelah ia pertanyaan Cherry beberapa detik lalu terekam di dalam kepalanya, ia buru-buru mendorong tubuh langsing wanita itu ke dalam apartemen dan menutup pintu.

“Kau tidak bisa seenaknya datang kemari seperti ini, Kyuhyun-ah. Bagaimana kalau ada yang melihatmu, hah? Ingat ya, aku masih belum sepenuhnya memaafkan kelakuanmu tempo hari,” ujar Cherry dengan nada tegas.

“Ayo, kita ke Nowon.”

Jujur saja, Kyuhyun juga tidak mengerti kenapa ia berkata begitu. Padahal seharusnya ia menjelaskan maksud kedatangannya yang mana sebenarnya ia ingin bertemu dengan Cherry untuk membicarakan proyek kerjasama baru mereka berdua, menjadi model seorang designer ternama. Ha, yang konyol adalah ia bisa saja membicarakan hal tersebut melalui telepon atau video call. Tapi karena suatu alasan, ia ingin langsung bertemu dengan calon partner-nya tersebut.

“Nowon? Memangnya ada apa? Kenapa kita harus ke Nowon?”

“Yaaa…. ikut sajalah. Ayo, kau segera bersiap-siap dan….” Kyuhyun menghentikan kata-katanya. Telunjuknya bergerak dari bawah ke atas. “….Rapikan saja rambutmu. Tidak perlu berganti pakaian atau menambah riasan di wajah. Kau begini saja, kecantikanmu sudah sangat kerterlaluan.”

Cherry hanya bisa mendengus tidak percaya pada Kyuhyun yang masih sempat melontarkan kata-kata semacam itu. Meski merasa curiga dan penasaran pada Kyuhyun, ia tetap menurutinya dan masuk ke dalam kamarnya.

Sesaat setelah wanita itu masuk ke dalam kamar, Kyuhyun langsung menggaruk-garuk tengkuknya sendiri. Percaya atau tidak, ia sendiri juga tidak tahu kenapa mengajak Cherry begitu saja ke sana. Padahal sampai sekarang ia masih belum paham dengan “perintah” Park Yeon yang menyuruhnya untuk pergi ke Nowon bersama Cherry.

“Aku harap kau tidak merencanakan sesuatu yang aneh,” Cherry memberikan peringatan saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“Harusnya kau berkata seperti itu pada anak itu, bukan padaku,” gumam Kyuhyun lirih sambil menyalakan mesin mobil. Sepertinya Kyuhyun harus berterima kasih pada mesin mobilnya yang menyala karena Cherry tidak terlalu memperhatikannya menggumam seperti itu.

Dengan kepala yang penuh pertanyaan ini itu dan ditemani Cherry yang bungkam seribu bahasa, Kyuhyun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Sesekali ia menambah kecepatan mobilnya ketika rasa penasaranya semakin bertambah besar. Kalau sampai benar Park Yeon membalas dendam dengan membawa mereka berdua ke sana lalu terjadi sesuatu yang buruk, sudah bisa dipastikan ia akan membuat perhitungan dengan hoobae-nya itu. Yeah…. walaupun ia kurang begitu yakin dengan kemampuan seorang Song Park Yeon untuk melakukan balas dendam.

.

.

Gelap.

Ya, itulah kesan yang ditangkap Kyuhyun dan Cherry yang sudah berdiri di depan pintu villa bekas tempat syuting drama mereka berdua dulu. Berbeda dengan Cherry yang sepenuhnya tidak mengerti kenapa ia dibawa ke tempat ini, Kyuhyun justru terlihat semakin curiga dengan keadaan villa yang sepi dan gelap. Ratusan pikiran aneh melintas di dalam kepalanya untuk kesekian kalinya.

“Sebenarnya kenapa kau membawaku ke tempat ini, hah?” Cherry kembali bertanya. Kali ini ia juga berkacak pinggang karena sudah cukup kesal tidak mendapatkan jawaban pasti sedikit pun dari Kyuhyun sejak tadi.

“Mengenang masa lalu,” jawaban itu lolos begitu saja dari mulut Kyuhyun. Tentunya tanpa persetujuan Kyuhyun karena Kyuhyun sendiri sebenarnya juga sedang mencari-cari jawaban yang tepat.

“Kau jangan bercanda. Kau tahu, saat ini aku bisa melihat dengan sangat jelas kalau kau berbohong. Aku akan masuk dan lihat sendiri apa yang sudah kau lakukan”

Kyuhyun dibuat terkejut saat dengan mudah Cherry merampas kunci pintu utama villa yang ada di tangannya. Kalau sudah begini, Kyuhyun hanya bisa pasrah. Tidak bisa dipungkiri lagi, kekasihnya itu benar-benar marah.

“Chae Ri-ya, sebenarnya aku—“

Kyuhyun dan Cherry, keduanya dibuat terhenyak sesaat setelah Cherry membuka pintu kaca villa tersebut. Lampu-lampu kecil berbentuk bola berwarna putih kristal yang digantung di atas pintu dan sepanjang langit-langit ruang tengah yang ada di villa tiba-tiba menyala secara serentak. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, dua buah lampu hias berwarna emas juga ikut menyala.

Sepasang kekasih itu kembali dibuat tercengang ketika menyadari di antara dua lampu hias tersebut terdapat sebuah meja yang tertutup kain putih mengkilat dengan dua kursi di masing-masing ujungnya. Di atas meja tersebut sudah tersaji beberapa hidangan lezat seperti…….. sebentar…. nasi goreng Kimchi? Tteokbokkie? Dadar telur? Kimchi? Oh ya, tidak salah lagi. Di atas meja yang sudah dihias dengan satu vas bunga cantik dan dua lilin berwarna merah yang sudah menyala memang makanan-makanan itu. Sedikit aneh mengingat tatanan mejanya begitu elegan, mewah dan cantik seperti itu. Ha, setidaknya minumannya cukup berkelas, sebotol Wine kesukaan mereka berdua.

Bila Cherry masih dibuat terkagum-kagum dengan lampu-lampu cantik dan meja yang cantik juga, Kyuhyun justru harus terganggu dengan suara getaran ponsel yang ada di tangannya. Ada satu pesan yang masuk untuknya. Dan itu dari Park Yeon.

<Sunbae sudah ada di sana bersama Eonnie? Bersikaplah seolah Sunbae-lah yang menyiapkan semua itu untuknya. Bukankah Sunbae bingung memikirkan bagaimana cara memberikan kado istimewa untuknya? Nah, Sunbae cukup beruntung karena memiliki hoobae cerdas sepertiku. Setidaknya aku masih sudi membantu seniorku yang SAMA SEKALI TIDAK BISA ROMANTIS DENGAN KEKASIHNYA SENDIRI dan yang SAMA SEKALI TIDAK BISA MENGENALI TIPE WANITA SEPERTI APA KEKASIHNYA SENDIRI. Ya…ya…ya…, aku tahu sekarang Sunbae terharu dengan kebaikanku. Tapi, aku mohon jangan terlalu lama. Sunbae harus membalas kebaikanku ini. Sunbae ingat kan apa kataku kemarin? AKU BUKAN TIPE ORANG YANG MENOLONG TANPA PAMRIH. Sunbae beruntung, aku tidak akan menagihnya sekarang. Jadi, Sunbae bisa leluasa bersamanya malam ini. Nikmati makan malam romantis kalian. Maaf, aku tidak bisa menyajikan makanan lezat karena AKU TERLALU SAYANG PADA UANGKU bila harus membelikan kalian makanan mahal. Selamat menikmati. ^^>

Entahlah. Kyuhyun tidak tahu harus berterima kasih atau menjitak kepala Park Yeon. Di satu sisi, ia harus berterima kasih karena ini adalah kejutan yang diberikan Park Yeon padanya sebagai “bantuan”. Minus makanan yang ada di atas meja sih. Di sisi lain, ia juga harus menjitak kepala Park Yeon karena pesan yang dikirimnya. Ayolah…, Kyuhyun berhak merasa kesal dengan pesan itu. Bagaimana tidak…., coba baca sekali lagi pesan yang dikirim Park Yeon tersebut. Terutama kata-kata yang sengaja dibuat besar sebagai bentuk penekanan.

“Cho Kyuhyun…. ini…. kau yang menyiapkan semua ini….?”

Sepenuhnya Kyuhyun tertegun melihat Cherry yang membalikkan badan ke arahnya. Wanita itu jelas-jelas sangat tersentuh dengan apa yang dilihatnya. Hiasan lampu-lampu kecil dan meja yang penuh dengan makanan kesukaannya.

“Eee…. itu…. itu…. hehehehe… jadi….”

Kyuhyun kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa mengusap-usap tengkuknya sambil memaksakan diri untuk tertawa. Reaksi yang ditunjukkan Cherry jauh dari dugaannya. Ia pikir Cherry akan menanyakan semua itu dengan wajah kesal, seperti yang akan ia tunjukkan pada Park Yeon bila ia bertemu dengan hoobae-nya itu. Tapi ini…., astaga. Mungkin Kyuhyun akan memakluminya bila Cherry hanya akan merasa takjub dengan hiasan lampu-lampu kecil itu karena ia sendiri juga merasa begitu. Sayang sekali, kekasihnya itu juga memuji hidangan yang ada di atas meja. Permisi, bila Kyuhyun tidak salah lihat, semua yang ada di atas meja hanyalah makanan biasa yang… biasa. Atau… Kyuhyun bisa menyebut…. makanan itu adalah makanan wajib Park Yeon. Tapi, kenapa Cherry bisa jadi sedramastis ini?

“Jadi, kau menyiapkan semua ini untukku? Kau tidak mau membuka mulutmu sejak kita ada di apartemen karena kau ingin menunjukkan ini?” tanya Cherry sambil berjalan menghampiri Kyuhyun.

Dengan ragu Kyuhyun mengangguk pelan. “Kau…. tidak suka ya?”

Sejenak Cherry hanya terdiam memandang Kyuhyun dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum ia mengangkat salah satu tangannya untuk mengusap lembut pipi Kyuhyun.

“Sangat suka. Aku…. sangat…. suka…”

Meski suara Cherry begitu pelan, dan bisa disebut seperti bisikan, Kyuhyun cukup terperangah. Ia antara percaya tidak percaya. Cherry menyukai konsep makan malam yang bahkan tidak diduga sama sekali olehnya. Baiklah, untuk saat ini ia akan berterima kasih pada Park Yeon.

“Tapi, ngomong-ngomong, kenapa kau sampai mau membuat ini semua untukku?”

Kyuhyun memandang Cherry yang mengerjap-ngerjap pelan padanya. “Selamat ulang tahun, Jung Chae Ri. Aku harap kau selalu menjadi Jung Chae Ri yang kukenal. Jadilah lebih cantik dari hari ke hari. Aku tahu sejak dulu hingga sekarang kau adalah wanita yang selalu kuanggap cantik. Tapi ke depannya aku ingin kau lebih cantik lagi.”

Terdengar tawa tertahan dari arah Cherry. Well, meski sedikit menggelikan, Cherry harus akui bahwa ia cukup tersentuh dengan kata-kata Kyuhyun. Dan satu lagi yang penting. Meski ia sadar Kyuhyun adalah kekasih yang selalu bertingkah ceroboh, seenaknya sendiri dan terkadang tidak bisa tegas, ia tetap harus merasa bangga pada Kyuhyun karena masih mau mengingat hari ulang tahunnya dan cukup perhatian. Padahal ia sendiri tidak terlalu mengingat hari ulang tahunnya.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau keinginanku sejak dulu adalah makan nasi goreng kimchi, Tteokbokkie dan kimci segar denganmu? Maksudku…., aku pernah mengkhayalkan sesuatu yang sedikit aneh. Makan malam romantis denganmu tapi dengan menu seperti itu. Dan sekarang…. woah… Cho Kyuhyun, ternyata diam-diam kau mencurigakan ya. Apa tidak cukup menjadi kekasihku? Kau juga menjadi seorang Stalker?”

Kyuhyun mendengus. Dalam hati ia sebenarnya ingin melihat Cherry sebentar saja bersikap manja dan berterima kasih berulang kali untuk semua yang ada di depan mereka saat ini.

“Bisakah kau membuang sisi Cherry Jung-mu itu? Aku mengajak Jung Chae Ri, bukan Cherry Jung,” protes Kyuhyun yang berpura-pura kesal.

Cherry terkekeh sambil menarik Kyuhyun agar segera duduk dan menikmati makan malam yang sudah disediakan. Setelah membuat Kyuhyun duduk di kursi yang ada di salah satu ujung meja, ia lantas memindahkan kursinya agar lebih dekat dengan Kyuhyun.

“Ayo, kita makan sebelum makanannya dingin,” ujar Cherry seraya menuangkan Wine ke gelas kaca Kyuhyun. Namun, dengan cepat Kyuhyun menahan tangannya.

“Karena kau yang ulang tahun, biar aku saja yang melayanimu, Nona Jung. Dan ngomong-ngomong, makanannya memang sudah dingin sejak tadi,” sahut Kyuhyun sambil menuangkan minuman berwarna merah ke dalam gelas kaca Cherry.

.

.

.

.

A month later….

Di salah satu lereng bukit yang ada di daerah pinggiran kota Seoul, terlihat banyak orang yang berseliweran ke sana-kemari sambil membawa beberapa kotak kardus. Tak jauh dari mereka terdapat banyak mobil-mobil beragam ukuran yang berjejer di sebuah lapangan luas. Milik siapa mobil-mobil tersebut? Dan… siapa orang-orang tersebut? Ah, rupanya mereka adalah kru drama terbaru yang dibintangi Park Yeon. Sore ini kru beserta beberapa pemain harus mengambil adegan di lereng bukit tersebut. Lihat saja mereka yang menghampiri segerombol orang yang tengah sibuk di dekat deretan pohon pinus. Di sana sedang dilakukan syuting untuk beberapa scene. Tampak sosok Park Yeon di depan kamera yang bergerak pelan. Aktris cantik tersebut terlihat begitu serius dan fokus berakting dengan lawan mainnya.

Tak berapa lama Sang Sutradara menghentikan kegiatan untuk istirahat sebentar. Sambil berlari kecil, Park Yeon menghampiri sutradara tersebut untuk mengecek bagaimana aktingnya tadi. Senyum yang mengembang di bibirnya berarti sutradara menyukai aktingnya. Untuk beberapa menit mereka berdua terlihat seperti tengah membahas sesuatu yang berkaitan dengan beberapa adegan selanjutnya. Sesekali Park Yeon mengangguk-angguk kecil ketika sutradara memberikan masukan sambil mengamati naskah drama yang ada di tangannya.

“Sutradara Park, apa Anda memesan itu semua tadi?!” teriak salah satu kru drama.

Park Yeon dan Sutradara Park Jong Dae yang sedang sibuk berdiskusi terpaksa menoleh ke arah kru tersebut. Keduanya sama-sama memasang tanda tanya di wajah mereka karena tidak tahu apa maksud ucapan kru tersebut.

“Itu… Sutradara lihat sendiri saja di lapangan!” Hanya itu yang diucapkan kru tersebut sebelum berlari menjauh dari Park Yeon dan Sutradara Park Jong Dae.

Karena penasaran, akhirnya Park Yeon pun menyusul Sutradara Park Jong Dae yang sudah lebih dulu pergi ke tempat yang ditunjuk kru tadi. Sebenarnya ia ingin mengajak Zhoumi yang sejak tadi dengan sabar menunggunya tak jauh dari lokasi syuting. Tapi, karena entah bagaimana sosok manajernya itu menghilang, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke lapangan sendiri.

Laju larinya mulai melambat dan menyisakan langkah kaki pelan setelah Park Yeon melihat sebuah food truck dan coffe truck berhenti di pinggir lapangan dan dipenuhi oleh semua kru. Seingatnya tiga jam yang lalu Sutradara Park Jong Dae baru saja memesan food truck yang ternyata hanya berisi makanan ringan untuk semua kru. Dan sekarang… ada truk yang menyediakan makanan berat dan truk kopi yang juga menyajikan berbagai macam kue. Tidak mungkin sutradaranya yang memesan semua itu karena orang itu bukanlah tipe orang yang baik hati. Sebut saja…. kehebatannya dalam menyutradarai drama patut diacungi jempol. Tapi bila berkaitan dengan “membantu sesame atau berbagi”…., sepertinya harus dipikirkan kembali.

“Park Yeon-ssi, selain perhatian padamu, pacarmu juga perhatian pada orang lain,” ucap salah satu kru yang baru saja mengambil satu cup kopi panas dan setangkup sandwich.

Tentu saja Park Yeon dibuat berpikir. Pacar? Siapa?

Seolah tahu Park Yeon sedikit kebingungan, kru tersebut lantas menunjuk sebuah papan panjang yang terpasang di masing-masing atap mobil berwarna merah menyala tersebut. Park Yeon mencoba membaca tulisan yang ada di papan tersebut. Barulah beberapa detik kemudian, keningnya berkerut.

“TOLONG JAGA DAN DUKUNG PARK YEON-KU ^^ KARENA KALIAN BAIK PADA PARK YEON-KU, SUDAH SEMESTINYA AKU MEMBALAS KEBAIKAN KALIAN ^^ SELAMAT MENIKMATI DAN SEMANGAT! SEMOGA SEMUA PROSES SYUTING BERJALAN LANCAR ^^ – PEMILIK PARK YEON, KYUHYUN-IE”

“Wah, pacarmu itu…. hebat, kan? Terima kasih, ya,” ucap kru tersebut sebelum kembali ke salah satu mobil untuk bergabung bersama yang lain untuk menikmati makanan gratis mereka.

Baiklah, sepenuhnya Park Yeon benar-benar tidak menyangka dengan “kebaikan” seniornya tersebut. Tersentuh? Harusnya. Bagaimana pun juga ia tetap akan berterima kasih karena secara tidak langsung ia bisa memberikan dukungan untuk semua orang yang terlibat dalam pembuatan drama ini meski melalui “tangan” Kyuhyun. Hanya saja….

PEMILIK PARK YEON?! Maaf, kenapa mendadak aku merasa seperti hewan peliharaan ya di sini? Pemilik? Seingatku, aku bukan milik siapa-siapa. Huh, setelah menyebutku anak anjing yang lucu, sekarang orang itu terang-terangan menyebut dirinya sebagai pemilik diriku? Hahaha…., dia yang tidak bisa memilih kata yang sedikit lebih bisa dimengerti atau memang sengaja? Woah…, hebat sekali.

.

.

Syuting hari ini berakhir tepat pukul 10 malam. Sebenarnya masih ada beberapa adegan yang harusnya segera diambil dan itu sudah jelas akan memakan waktu lebih dari empat jam. Tapi karena “traktiran” kekasih Park Yeon yang berhasil menyenangkan semua hati para kru, akhirnya sutradara menyudahi kegiatan untuk hari ini sedikit lebih awal.

“Sampaikan ucapan terima kasihku untuk Kyuhyun ya.”

Park Jong Dae menepuk bahu Park Yeon, membuat Park Yeon yang sibuk memasukkan mantel tebal ke dalam tas yang ada di bagasi mobil van terpaksa terkejut. Park Yeon hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.

“Aku harap ini bukan rencana yang sengaja dibuat Kim Joon untuk memata-matai proses syuting drama kita.”

Park Yeon terpaksa menoleh ke arah pria tersebut. “Maksud Sutradara?”

Alih-alih memberikan jawaban, Park Jong Dae hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum tanpa arti.

Hanya mendapatkan jawaban dengan bahasa tubuh seperti itu saja sudah membuat Park Yeon sedikit paham. Ini pasti ada hubungannya dengan persaingan di antara kedua sutradara hebat tersebut. Apa lagi coba kalau bukan itu? Ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya…. hanya Park Jong Dae yang berpikiran seperti itu. Seingatnya, Kim Joon bukan sutradara yang suka mencari musuh dan mengeluarkan kata-kata kontroversial seperti Park Jong Dae. Sebut saja…. andai bukan karena menyukai jalan cerita drama terbaru yang disutradarai Park Jong Dae, Park Yeon mungkin akan menolaknya.

“Ngomong-ngomong…., pacarmu itu…. tidak mengatakan apa-apa tentang drama barunya? Naskahnya…. atau jalan ceritanya…. atau penggambaran tokoh dramanya…. atau….”

“Tidak ada,” Park Yeon langsung memotong ucapan Park Jong Dae dengan singkat sambil menggeleng pelan.

Sejenak Park Jong Dae hanya memandang Park Yeon sebelum tertawa kering hingga kopi yang dibawanya hampir tumpah.

“Wah… sudah kuduga. Kau memang pacar yang loyal, Park Yeon-ah. Tidak mau mengatakan proyek pacarmu sendiri agar hubungan kalian tetap berjalan harmonis.”

“Saya memang tidak mau tahu proyek yang dikerjakan Kyuhyun Sunbae. Bagaimana pun juga, kami berdua harus tetap profesional, kan?”

Park Jong Dae sekali lagi tertawa kering mendengar tanggapan ParkYeon yang terkesan begitu tenang dan sedikit angkuh.

“Kau tahu….” Park Jong Dae mendekat ke arah Park Yeon, kemudian menyandarkan lengannya pada tepi mobil. “Selain loyal, kau juga berotak cerdas. Sebenarnya aku benar-benar sudah sangat penasaran sejak kita bertemu pertama kali untuk membahas drama baru ini dengan yang lain. Ini tentang…. penolakanmu. Saat itu aku sungguh-sungguh ingin menjadikanmu pemeran utama di drama ini.”

“Saya dengar, Anda sengaja melakukannya karena ingin semua orang membandingkan drama Anda dengan drama Sutradara Kim Joon,” sahut Park Yeon datar.

“Siapa yang bilang?”

“Seseorang.”

Park Jong Dae mendengus pelan sebelum menyesap kopinya. “Siapa dia?”

Park Yeon tak lantas menjawab. Ia bukannya tidak bisa menjawab. Ia hanya tidak ingin suasana nyaman di lokasi syuting yang harus tetap terjaga hingga dua sampai tiga bulan ke depan harus rusak hanya karena Tuan Aku-ingin-tahu-semuanya itu. Konsentrasinya menghidupkan karakter tokoh yang diperankannya sudah cukup penuh selama sebulan ini. Respon publik penyuka drama juga memberikan respon yang cukup positif padanya sejak Trailer drama ini dirilis dua minggu lalu.

“Aku yang memberitahunya.”

Sebuah suara yang terdengar anggun memaksa Park Yeon dan Park Jong Dae menoleh. Sosok Cherry sudah berdiri tak jauh dari mereka. Kekasih asli Kyuhyun itu bahkan tak lupa menundukkan kepalanya sebentar untuk menyapa Park Jong Dae.

“Aku hanya ingin hoobae-ku mengenal orang-orang yang bekerja dengannya, jadi ia bisa menjaga diri dengan baik,” ucap Cherry sambil tersenyum tipis pada Park Jong Dae.

Tanpa berkata apa-apa, Park Jong Dae langsung pergi setelah sebelumnya mengangkat cup berwarna putih yang berisi kopinya pada Park Yeon. Park Yeon yang melihatnya pergi hanya menampilkan wajah tidak peduli.

“Apa yang Eonnie lakukan di sini?” tanya Park Yeon setelah sadar orang yang datang “menyelamatkannya” adalah Cherry.

“Mengajakmu jalan-jalan.”

Ha, bukan salah Park Yeon bila Park Yeon harus mengangkat kedua alis mata. Bukannya terkejut, tapi justru lebih seperti……. aneh. Mengajaknya jalan-jalan? Jalan-jalan biasa atau…. jalan-jalan?

Eonnie dan Sunbae ingin bertemu?” tanya Park Yeon frontal.

Cherry terkekeh mendengar pertanyaan Park Yeon, “Kau kan juga tahu kalau dia syuting di luar kota. Ditambah, dia adalah pemeran utama di dramanya. Itu artinya dia tidak akan bisa kabur ke mana-mana.”

Meski jawaban Cherry cukup masuk akal, Park Yeon tetap saja sedikit merasa curiga.

“Kau mengenalku, Song Park Yeon. Aku akan melakukan A bila aku mengatakan A. Aku akan melakukan B bila aku mengatakan B. Dan ya, malam ini aku mengajakmu jalan-jalan karena aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Sebut saja…. Sebagai ucapan terima kasih?”

Ekspresi curiga yang samar di wajah Park Yeon tak kunjung berkurang. Tapi, seolah sudah memastikan apa yang dikatakan Cherry memang benar adanya melalui tatapan matanya, akhirnya Park Yeon pun menerima ajakan Cherry.

“Manajermu sudah mengijikanmu pergi denganku. Aku tadi sudah bilang padanya. Dan meski…….. kami berdua harus sedikit beradu argumen kecil, akhirnya dia mengijinkanku. Hanya saja dengan satu syarat. Kau harus sudah kembali ke penginapan kru drama sebelum pukul 1 malam,” ujar Cherry saat Park Yeon baru akan menghubungi Zhoumi.

.

.

Untuk beberapa detik, mata Park Yeon tak kunjung berkedip saat memandang Cherry yang baru saja menghentikan mobil di pinggir jalan. Jujur saja, ia seperti melihat orang lain, bukan Cherry Jung. Well, mungkin ini bukan pertama kali baginya melihat wanita itu berpenampilan biasa seperti itu. Ya, Park Yeon memang baru saja menyebut kata biasa. Biasa dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada aksesoris yang mahal dan berkilau. Tidak ada riasan wajah yang tebal. Tidak ada tatanan rambut yang indah. Tidak ada pakaian yang indah dan elegan. Semuanya biasa. Seperti seorang wanita dewasa biasa yang sedang mengajaknya keluar untuk jalan-jalan menikmati Gangnam di malam hari.

“Sudah berapa kali kau memandang takjub seperti itu ke arahku, hm?” Cherry yang menyadari tingkah Park Yeon lantas bertanya sambil merapikan rambut panjangnya.

Park Yeon hanya berdecak pelan. Rasa percaya diri yang dimiliki Cherry dan Kyuhyun ternyata hanya memiliki selisih kurang 1%. Keserasian mereka berdua mencakup segala bidang.

Eonnie kenapa mengajakku ke tempat ini?” Park Yeon langsung to the point. Ia tidak ingin wanita cantik itu terus-terusan mengejeknya seperti itu.

“Karena kau sudah makan malam, akhirnya aku putuskan untuk mengajakmu ke beberapa butik. Jujur saja…. aku tidak memiliki banyak teman aktris yang bisa kuajak belanja seperti ini. kebanyakan dari mereka justru…. sudahlah. Ayo, keluar.”

Cherry keluar dari mobil. Park Yeon pun keluar tak lama kemudian. Mereka berdua berjalan bersama ke area pertokoan mewah yang masih ramai. Rupanya kehadiran mereka di tempat itu mengundang perhatian banyak orang. Sebagian besar dari mereka sudah dengan ponsel mereka untuk mengambil gambar Cherry dan Park Yeon. Sudah pasti mereka akan mengunggah foto dua aktris terkenal tersebut ke SNS dan netizen akan heboh. Esok harinya, pasti akan banyak artikel yang membahas kebersamaan mereka berdua. Dunia selebritis…. indah, bukan?

“Kau sudah tidak terlihat canggung dengan ponsel mereka,” celetuk Cherry pelan.

“Meski aku tidak mau, aku harus tetap berterima kasih pada Eonnie karena bagaimana pun juga, Eonnie yang mengajariku,” sahut Park Yeon tak kalah pelannya. Sesaat ia terlihat melambaikan tangannya ke arah seorang pemuda yang memanggil namanya sebelum mengikuti Cherry masuk ke salah satu butik yang ada di dekat mereka.

Berbeda dengan reaksi orang-orang yang ada di luar butik, beberapa karyawan butik tampak begitu tenang menyapa Cherry dan Park Yeon. Mungkin saja ini bukan pertama kali bagi mereka menyambut kedatangan selebritis mulai dari yang sangat terkenal hingga yang biasa-biasa saja ke butik tempat mereka bekerja.

“Kau sekarang jadi sedikit angkuh, ya,” canda Cherry sambil menghampiri deretan blus berwarna pastel.

“Apa aku harus memberi Eonnie sebuah cermin? Kurasa sifat angkuhku tidak bisa menandingi sifat angkuh Eonnie.”

Sahutan Park Yeon rupanya membuat Cherry menoleh. Untuk beberapa detik dua aktris terkenal tersebut saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya mereka berdua terkekeh bersama. Seakan apa yang sedang mereka bicarakan adalah sesuatu yang lucu.

“Kurang dari satu minggu lagi, episode pertama drama barumu akan ditayangkan. Aku akan benar-benar menanti hasil kerja kerasmu beberapa bulan ini.”

“Meski bukan pemeran utama, aku harap Eonnie memberi perhatian lebih pada tokoh yang kuperankan. Karena aku sudah tidak sabar mendengar Eonnie memuji kemampuan aktingku yang baru. Dan yang lebih penting lagi, permintaan maaf Eonnie atas hinaan Eonnie dulu.”

“Aku suka sikap optimismu, Park Yeon. Sepertinya aku tidak salah sudah mengambil langkah gila ini untukmu.”

Sejenak Park Yeon terdiam setelah mendengar gumaman Cherry. Ada sesuatu yang aneh di balik kata-kata itu.

“Apa…. maksud Eonnie?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Park Yeon, Cherry justru mengambil dua blus bermotif bunga cantik berwarna biru pastel dan putih, lalu menunjukkannya pada Park Yeon.

“Mana yang lebih cocok?” tanya Cherry.

“Hah?”

“Mana yang kau sukai? Yang biru atau yang putih? Kalau kau suka yang biru, aku akan mengambil yang putih. Begitu juga sebaliknya.”

Eonnie membelikanku baju?” Meski enggan, Park Yeon tetap melontarkan pertanyaan itu.

“Bulan ini merek memberikan promo untuk pelanggan tetap. Beli satu, gratis satu. Mumpung ada promo, aku bisa membelikanmu baju. Kalau kau merasa tidak enak, lain kali ganti belikan aku baju. Bagaimana?”

Park Yeon mendengus sambil tersenyum. Seniornya ini….. terkadang lucu juga. Mungkin ini yang dinamakan bercanda tapi tetap mempertahankan keangkuhan.

Setelah satu jam berada di dalam butik tersebut, akhirnya Park Yeon dan Cherry keluar. Di tangan mereka sudah menggantung tas yang berisi beberapa baju. Dan tentu saja baju yang dibelikan Cherry ada di tas Park Yeon. Mereka berdua terlihat berbincang-bincang ringan sambil sesekali ada tawa kecil.

Namun, sesaat kemudian, langkah Park Yeon berhenti di depan butik yang menampilkan tiga mannequin pria yang mengenakan pakaian koleksi butik tersebut. Salah satu mannequin itu mengenakan kemeja hitam dengan detail pada bagian saku yang ada di dada kirinya. Satu lagi mengenakan setelan jas berwarna biru tua dengan motif di bagian kerah jasnya. Satu mannequin lainnya mengenakan celana hitam, T-shirt lengan panjang polos berwarna putih dan mantel panjang berbahan tebal berwarna coklat.

Mata Park Yeon sepenuhnya tertuju pada salah satu patung yang mengenakan kemeja hitam dengan detail di bagian saku yang ada di dada kirinya.

“Kurasa itu cocok untuk manajermu.”

Baiklah, kali ini celetukan Cherry berhasil membuat Park Yeon terperanjat.

“Apa?”

Cherry menggerakkan dagunya ke arah mannequin yang diperhatikan Park Yeon. “Kalau begitu, bukan untuk manajermu ya? Kalau untuk Kyuhyun, bukannya terlalu kecil ya?”

“Eeeeei…., Eonnie bicara apa sih? Bahkan bayangan Sunbae tidak pernah terlintas di benakku,” elak Park Yeon yang tiba-tiba saja menjadi salah tingkah.

“Untuk ukuran seorang aktris dan manajer, kalian berdua terlalu dekat lho,” ujar Cherry sambil melipatkan kedua tangan di depan dada.

“Siapa?”

“Kau dan Zhoumi. Kau yakin, tidak ada apa-apa di antara kalian berdua?”

Eonnie sudah mulai mengantuk ya? Bagaimana kalau kita pulang saja?”

“Bukannya menjawab, tapi justru mengatakan hal lain. Itu sama saja kau menjawab iya.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa!”

“Wajahmu yang mengatakannya kok. Itu, pipimu sudah merona merah.”

Cherry terkekeh melihat Park Yeon yang semakin salah tingkah. Park Yeon yang “disudutkan” seperti itu hanya bisa berusaha untuk……. untuk apa ya? Bahkan Park Yeon sendiri apa yang sedang ia lakukan saat ini.

“Manajermu itu…….. sepertinya pria misterius ya? Terlalu tampan, terlalu….”

“Nah, berarti bukan aku saja yang mengira seperti itu! Eonnie juga, kan? Jika kita mendeskripsikan dirinya, kita akan menemukan banyak kata terlalu,” sahut Park Yeon semangat.

Cherry hanya tertawa sebelum untuk beberapa detik ia memandang Park Yeon dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Dia…. memang……. orang……. misterius,” gumam Cherry pelan. Saking pelannya, Park Yeon harus bertanya. Tapi, Cherry langsung mengajaknya untuk kembali berjalan.

Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama Park Yeon. Park Yeon lantas menoleh ke segala arah untuk mencari siapa yang baru saja memanggilnya. Ketika ia dan Cherry mencoba mencari pemilik suara itu, tiba-tiba sesuatu melayang ke arah Park Yeon. Karena Park Yeon sibuk memutar tubuhnya ke segala arah, benda itu tak jadi mengenai Park Yeon dan hanya berakhir menghantam pohon yang ada di samping Park Yeon. Tak pelak, hal tersebut mengejutkan Park Yeon dan Cherry.

“Telur busuk?” gumam Park Yeon yang akhirnya mengamati benda apa yang hampir saja mengenai tubuhnya.

Ya, telur busuk. Pecahan kulit telur dan isinya yang berceceran di dekat kaki mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Sepertinya ada seseorang yang sengaja melempar telur busuk tersebut ke arah Park Yeon. Belum sempat Park Yeon mencari siapa yang melemparinya, satu lagi telur busuk melayang ke arahnya. Sekali lagi, telur itu meleset. Park Yeon pun dibuat ketakutan karena dirinya dibuat target oleh seseorang.

Eonnie, siapa yang….”

“Tundukkan kepalamu!”

Tiba-tiba Cherry menarik tangan Park Yeon dan membawa hoobae­-nya itu ke belakang punggungnya. Telur busuk yang melayang itu tepat sasaran. Hanya saja bukan mengenai Park Yeon, melainkan mengenai Cherry tepat di tulang pipinya dengan cukup keras. Satu lagi telur busuk terlihat melayang ke arah Park Yeon. Dengan cepat Cherry membalikkan badan dan menghalangi telur busuk tersebut mengenai Park Yeon. Akibatnya, telur tersebut pecah setelah mengenai kepalanya.

Eonnie, wajahmu!”

Park Yeon dibuat terkejut saat melihat ada luka di tulang pipi Cherry. Ia semakin terkejut saat menyadari rambut panjang Cherry yang sebelumnya rapi dan harum kini sudah berhias pecahan kulit telur dan isinya. Bahkan wangi rambut seniornya itu kalah dengan bau busuk dari telur tersebut.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Cherry yang masih waspada dengan sekitar mereka.

to be continued

Advertisements
Leave a comment

36 Comments

  1. Sarti prihatin

     /  May 5, 2016

    Apakah yang akan terjadi terhadap park Sun yeol selanjutnya? Kenapa disaat dia berjalan bersama Cherry dilempari telur busuk? Isu apakah yang akan beredar selanjutnya? Lalu bagaimana zhoumi dan Kyu menyikapi hal yang terjadi pada sungyeon dan chery? Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

    Reply
  2. suka dengan perhatian chery ke park yeonn….wkwkwkw
    tapi plisss… jangan terlalu lama memanfaatkan park yeonnn…. dia butuh kebebasan…

    Reply
  3. Emm, kyaknya park yeon dan zhoumi yg jadi pemeran utamanya. Aku setuju sama chaeri, zhoumi terlalu misterius. Aku udah gak berharap park dgn kyu. Krna dsni tergambr bnget kalau park dan kyu gak punya cemistri.

    Reply
  4. Sung hye jin

     /  May 5, 2016

    Astaga apa yang terjadi sm mereka berdua kok tiba2 ada yg melempar telur ke mereka , trus chery terluka aiss bisa2 orng itu mulukai chery …

    Zhoumi aiss kenapa setiap ketemu sm fans lama yeon dia selalu tegang dan ingin kabur gitu ??

    Reply
  5. Kyupit

     /  May 5, 2016

    Jujur gw masih bingung dgn jalan ceritanya disini bnyk ditampilkan kyu-cherry moment dan park yeon-zhoumi keliatan gx kaya artis dan manager mereka terlalu dekat di awal cherry kaya tokoh antagonis tp lama kelamaan gw rasa gx terlalu kaya ada yg disembunyiin cherry gw malah jd sebel ama kyu yg manfaatin park yeon dia kaya PHP-in parkyeon :3 gw berhara parkyeon berakhir sama kyu

    Reply
  6. uchie vitria

     /  May 5, 2016

    kapan sandiwara mereka berakhir sekarang malah mulai ada sasaeng fans atau haters yang mulai menggila menyerang park yeon daa cherry jung
    kasian ama park yeon kan
    zhoumi kaau misterius ihhh kapan identitas dirimu terlihat pengen ngeliat zhoumi dan park yeon bersama

    Reply
  7. Monika sbr

     /  May 5, 2016

    Jadi kasihan sama cerry yg kena telur busuk utk melidungi park yeon. Kok cerry makin baik ke park yeon ya sampai melidungi dia kayak gitu walaupun sifatnya agak2 angkuh??

    Reply
  8. Lyla

     /  May 5, 2016

    Aku bener” bingung dengan sikap dan sifat cerry jung, kadang bikin greget tapi kadang begitu baik ke park yeon dan apa antar cerry sama zhomi ada hubungan yg yeon dan kyuhyun tidak tau ya?…….

    Tapi kya nya park yeon sudah mulah jatuh cina sama manajer oppa yg ganteng
    Zhomi juga kya nya suka sama yeon dan sebentar lgi si kyu yg mulai suka sam yeon juga apalagi sifat yeon itu yg bikin gemes kadang jutek dan terlalu polos juga blak”an

    Reply
  9. Suka siih sama cherry. Tapi gak Suka juga siiha. Masa bodo lahh binging sendiri jadinya😀 entah kenapa berharap banget park yeon jadian ama zhoumi 😀😄

    Reply
  10. ana

     /  May 5, 2016

    Park yeon sm zhoumi oppa aja.. dtggu ya chap slnjutnya

    Reply
  11. YessyAzlia

     /  May 5, 2016

    @#$%&@#$%&
    Demi apa aku bingung mau nulis apa wkwkwk
    Buat ParkYeon kyuhyun cherry dkk, hidup kalian rumit ewww *peace author
    Ooooohhh mungkin buat manager handsome, lopelope dah
    Btw,mau dong meluk si bang zhomii wkwkw
    Dan buat author, selamat berlibur yeayyy!!

    Reply
  12. rianti

     /  May 6, 2016

    hmp.. Crtnya masi abu2 si, byk misterinya. Tpi krkterny ga ada yg sengsara jd ga masalah., park yeon jg uda mulai bljr jd aktris yg baik apalg sama fansny..

    Reply
    • Nggak usah sengsara lah… hidup ini sudah berat, jangan bikin karakter FF ikut sengsara (?) hehehe

      Reply
  13. Veronica

     /  May 6, 2016

    Roman2nya cherry suka ama zhaomi, ato mreka ber2 punya last story yg g ada orng tw

    Reply
  14. Hima

     /  May 6, 2016

    Kyuhyun, tuh park yeon benar benar bantu buat ngerayain ultah cherry.

    Semoga saja park yeon dan cherry bisa benar benar berteman:)

    Siapa itu yang lempar lempar telur?
    Kalau lempar uang mau kali ahahaa

    Semangat kak untuk terus menulis :):)

    Reply
  15. mala

     /  May 7, 2016

    Siapa itu yg lempar park Yeon telur? Jahat amat

    Reply
  16. Kang Sora

     /  May 9, 2016

    Siapa yg melempar itu

    Reply
  17. tyand

     /  May 10, 2016

    Siapa c yg melemparkn telur busuk itu dan knp chery mlh mw melindungi park yeon

    Reply
  18. Goldilocks_

     /  June 22, 2016

    Bukan cuma kalian yang curigaaaaa~ aku—sebagai readers pun udah curiga sama Zhoumi dari awal. Dia baik–sayangnya aja gak kebaca, misterius. Kayak kata Cherry. Atau mungkin kak nita—sang author juga dibuat ikutan curiga? *plak hahaha

    Tapi kenapa aku punya firasat Zhoumi-Cherry itu udah saling kenal ya? :/ dalam artian, sebelum ada KyuYeon.

    Yassalam… apa lagi sih itu? Park Yeon diserang? Dia punya haters kah? Masa sih? Tapi aku salut sama Cherry yang gerak cepat. Dan–yeah sikap nya yang begini nih yang bikin aku gak bisa tahan utk kesel lama-lama sama dia. Well, Cho Kyuhyun emang pinter nyari pacar 😁

    Reply
  19. Aku setukj kalah zhomin misterius banget
    Aku berharap park yeon ama zhomin ajja

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: