HOT ISSUE [Part 7]


12

HOT ISSUE [Part 7 ]

Note :
Niatnya sih pengen publish besok barengan sama ultahnya Abang Jomjom. Tapi karena besok ada acara, akhirnya dipublish sore ini. Awas part ini LUMAYAN panjang hehehe. Enjoy ^^
Sekalian aja deh ucapin HAPPY BIRTHDAY TO MY DUMB DUMB, JJJJJJOMI 😀 SEMOGA TAHUN INI NGGAK SALAH NYEBUTIN UMUR LAGI KAYAK TAHUN SEBELUM-SEBELUMNYA. Masa dari kemarin-kemarin umurnya 18 tahun mulu -_- Semoga album keduanya bakal cepetan rilis dan semoga dramanya juga cepetan rilis
-_- sebelum saya kenyang di-PHP-in sama sutradara tu drama

============================

———-oOo———-

Drama baru berjudul The Great Pretender yang disutradarai oleh Park Jong Dae akan siap diproduksi satu minggu lagi, bersamaan dengan jadwal produksi drama baru Kyuhyun yang berjudul Jae Shin, King of Justice. Dan berita mengenai Park Yeon dan Kyuhyun yang sudah jelas akan membintangi masin-masing drama tersebut sudah tersebar luas selain berita persaingan dua sutradara genius, Park Jong Dae dan Kim Joon yang lebih dulu menyita perhatian publik, terutama fans Kyuhyun dan “para penggila Kyu-Yeon alias Kyu-Yeon shippers”. Bahkan meski dua drama tersebut belum masuk masa syuting, semua orang sudah melakukan perbandingan. Dari mulai line up para aktor dan aktris yang membintangi kedua drama tersebut, jalan cerita, hingga persaingan rating drama yang sudah pasti akan kejar-kejaran karena disutradarai oleh Park Jong Dae dan Kim Joon.

Cukup seru, kan?

Akan tetapi, ada satu berita yang lebih seru dibanding berita-berita itu, yakni berita tentang Park Yeon yang memilih untuk tidak menerima tawaran menjadi pemeran utama di drama The Great Pretender dan justru memilih untuk memerankan peran pendukung di drama tersebut. Tentu saja berita itu mengejutkan semua orang yang sejak awal sudah tertarik dengan “persaingan” dua tokoh utama di drama-drama tersebut. Mereka ingin melihat bagaimana cara Park Yeon dan Kyuhyun menguasai drama mereka melalui peran utama yang mereka mainkan.

“Tidak ada salahnya juga memerankan peran pendukung karena sebuah drama tidak akan lengkap bila tidak ada peran pendukung. Lebih baik saya mulai dari peran-peran kecil dulu sebelum sampai pada level di mana kemampuan akting saya bisa benar-benar dipercaya untuk memerankan peran utama walaupun saya tidak tahu kapan bisa sampai ke sana. Karena saya tahu kemampuan saya masih kurang, alangkah baiknya kalau saya mengisi peran pendukung sambil belajar dengan senior-senior yang membintangi drama ini, yang sudah pasti jauh lebih hebat dan lebih berpengalaman dari saya. Jadi, untuk itu, saya mohon bimbingan untuk semuanya.”

Itulah yang disampaikan Park Yeon di depan para reporter setelah line up aktor dan aktris untuk drama tersebut dirilis ke media. Dan di luar dugaan Park Yeon, respon netizen cukup positif. Banyak dari mereka yang mendukungnya. Padahal ia pikir, semua orang akan mengira ia takut bersaing dengan kekasihnya sendiri. Kekasih, apanya.

Keuntungan yang didapat Park Yeon selain semua orang yang seolah membentuk pasukan pendukung di pihaknya dan menyebutnya sebagai aktris yang mau belajar dari kesalahan, ia juga bisa lebih konsentrasi pada “sekolahnya” di Ken’s School tanpa harus pusing-pusing memikirkan peran utama apa semacamnya.

Contohnya saja hari ini. Park Yeon yang sedang berada di dalam kelas bersama murid VIP lainnya dibuat ternganga dengan video yang diputar oleh Ken Choi untuk mata pelajaran hari ini. Mungkin Park Yeon tidak akan secanggung dan seaneh ini andai video yang ada di depannya adalah video biasa yang menampilkan cuplikan adegan perkelahian, atau pertengkaran antar wanita atau semacamnya. Tapi ini… entahlah. Ia tidak harus memakai kata apa yang tepat karena… yang disaksikannya lima belas menit lalu hingga sekarang adalah seorang pria dan seorang wanita yang tengah berciuman mesra.

Uhmm… memang tidak ada yang aneh sih dengan adegan yang ada di dalam video tersebut karena adegan itu adalah salah satu cuplikan drama romantis yang ditayangkan empat tahun lalu dan berhasil mencuri perhatian publik dengan jalan cerita dan chemistry dua pemeran utamanya. Bahkan banyak yang menyebut adegan ciuman tersebut adalah adegan ciuman terbaik.

Ha, sepertinya itu memang benar. Lihat saja bagaimana reaksi para aktris-aktris muda yang duduk di samping dan di depannya. Mereka mendadak memekik pelan sambil berusaha menutupi pipi mereka yang tersipu.

“Kalian semua pasti tahu ini dari drama apa kan?” tanya Ken Choi seraya menghentikan video tersebut dan meminta semua muridnya agar kembali sadar.

Park Yeon langsung menyandarkan punggungnya pada kursi dan menyiagakan dirinya dengan bolpoin dan note kecilnya ketika Ken Choi mulai menjelaskan hukum wajib sebuah drama romantis untuk menampilkan adegan ciuman mesra semacam itu. Terkadang bagaimana dua pemeran utama berciuman di sebuah drama romantis juga menjadi tolak ukur romantis tidaknya drama tersebut selain dilihat dari chemistry di antara kedua pemeran utamanya. Entah itu tokoh prianya yang tiba-tiba iseng mencuri ciuman pada bibir tokoh wanita seperti yang ada di kebanyakan drama romantis Korea, tokoh pria yang mulai mencium pelan-pelan dan manis si tokoh wanita, tokoh wanita yang secara agresif memberanikan diri untuk mencium tokoh pria, atau tokoh pria dan tokoh wanita yang berciuman untuk melampiaskan perasaan emosional di dalam hati mereka.

“Bagiku, semua itu tidak terlalu penting karena yang terpenting untuk membuat adegan ciuman itu berhasil membuat penontonnya merinding dan tersipu tanpa mereka sadari adalah….” Ken Choi memberi jeda pada kata-katanya untuk melihat murid-muridnya mulai menampilkan tanda tanya di wajah mereka.

“Perasaan. Perasaan yang keluar dari dalam hati, seolah pemerannya benar-benar merasa kalau dirinya adalah karakter yang sedang dia perankan. Bila perasaannya sudah menyatu dengan perasaan karakternya, dia bisa dengan mudah mengekspresikan apapun perasaan karakternya. Dan dalam poin yang sedang kita pelajari sekarang ini adalah adegan ciuman. Sepandai-pandainya aktor atau aktris dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan, bila mereka tidak bisa memberikan feels ketika mereka melakukan adegan seperti ini, aku harus menyebut mereka gagal,” tutur Ken Choi.

“Dan ini…” Ken Choi lalu menunjuk video di dekatnya dan kembali memutar video tersebut. “Kenapa aku memakai adegan drama ini sebagai referensi kalian untuk poin pembelajaran hari ini? Itu karena aku bisa menyebut drama ini 99,99% sempurna, baik dari segi jalan cerita, opening episode, eksekusi episode terakhir, realitas konflik, pendeskripsian tiap karakter, hingga cara pemeran-pemerannya menghidupkan karakter-karakter tokoh drama yang sukses membuat semua orang percaya semua yang ada di drama ini nyata.”

Park Yeon mengernyitkan keningnya untuk beberapa detik setelah Ken Choi selesai menjelaskan kenapa hari ini video tersebut diputar di depan semua orang yang ada di ruangan ini. Perlahan-lahan otaknya seperti baru saja berhasil melepaskan diri dari ikatan tali yang cukup kencang. Bila awalnya tadi ia dibuat risih dengan video tersebut, kini ia paham kenapa Ken Choi memilih adegan ciuman dari drama tersebut. Padahal masih banyak drama-drama romantis lain yang pemerannya jauh lebih tampan dan cantik. Dan tentu saja adegan ciuman yang lebih manis dan seperti ciuman ala dongeng impian.

Di adegan tersebut, tokoh prianya benar-benar terlihat sangat mencintai sang wanita. Caranya memandang wanita itu, begitu dalam. Caranya mendekatkan wajahnya pada wanita itu sangat pelan dan sama sekali tidak terkesan tergesa-gesa atau sedang akting. Caranya menempelkan bibirnya pada bibir mungil wanita itu sangat halus. Caranya mengecup bibir wanita itu sangat lembut dan hati-hati. Benar-benar natural dan manis.

“Di mata kalian, siapa mereka berdua? Lee Byun So dan Han Na atau.. Direktur Park Seung Won dan Model Choi In Soo?”

Mendengar Ken Choi bertanya seperti itu, semuanya dengan serempak menyebut dua orang yang ada di dalam video tersebut adalah Direktur Park Seung Won dan Model Choi In Soo. Ken Choi lantas tersenyum pada mereka, seakan sudah menduga jawaban itu yang akan ia dapatkan.

“Sudah jelas-jelas mereka berdua adalah aktor Lee Byun So dan aktris Han Na yang memerankan Direktur Park Seung Won dan Model Choi In Soo. Tapi, memori yang ada di dalam otak kita sudah lebih dulu mengingat mereka sebagai karakter yang mereka perankan, yaitu Direktur Park Seung Won dan Choi In Soo. Dengan karakter tokoh drama yang berhasil mereka hidupkan membuat semua orang menganggap semua yang ada di dalam drama itu nyata. Padahal drama ini adalah drama empat tahun yang lalu. Bahkan dua orang ini juga sudah membintangi beberapa drama setelah drama itu selesai. Tapi, di pikiran semua orang, mereka berdua tetaplah Direktur Park Seung Won dan Model Choi In Soo. Atau… kita sebut saja… dua orang ini sudah sukses mencuci otak semua orang. Hebat, bukan?”

Park Yeon mengangguk-angguk kecil sambil menuliskan sesuatu pada note kecilnya sembari terus mendengarkan penjelasan Ken Choi. Akan tetapi, semangatnya berkonsentrasi mendadak rusak begitu saja ketika namanya disebut Ken Choi dan akan dipasangkan dengan Jaebum untuk tugas praktek poin pelajaran hari ini. Dengan cepat ditegakkannya kepalanya memandang Ken Choi. Tanda tanya sudah jelas tercetak di wajahnya.

“Bukankah kalian berdua adalah teman baik? Komunikasi tim kalian akan lebih mudah karena kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Iya, kan?” ucap Ken Choi sambil menunjuk Jaebum yang hanya tersenyum di kursinya.

Teman baik sih teman baik, tapi mengenai komunikasi tim…… tidak bisakah aku dipasangkan dengan pemuda lain yang ada di ruangan ini?

“Kami akan bekerja keras, Guru Choi,” Jaebum sudah lebih dulu menyahut ketika Park Yeon baru akan membuka mulut untuk protes.

Bekerja keras? Bekerja keras apa maksudmu? Permisi, poin hari ini adalah tentang ciuman. Itu artinya dua orang akan saling mendekatkan wajah dan menempelkan bibir mereka. Astaga, dari semua poin pelajaran, kenapa harus ini? Tidak. Kenapa harus ada adegan ciuman di semua drama romantis?!

.

.

Park Yeon berjalan gontai menuju pintu utama gedung. Didengarnya derap langkah seseorang dari arah belakang tubuhnya. Hanya mendengarnya saja, ia sudah tahu milik siapa suara derap langkah tersebut.

“Berhenti mengikutiku!”

Park Yeon langsung memutar tubuhnya ke arah belakang hanya untuk mendapati sosok Jaebum yang terkekeh pelan.

“Apa aku harus pulang melalui pintu belakang? Eeeei… yang benar saja? Jangan aneh. Sudah, ayo jalan.” Jaebum terpaksa memegang bahu mungil Park Yeon dan sedikit mendorongnya agar segera kembali berjalan.

“Aku masih belum memaafkanmu, tahu tidak?” sahut Park Yeon ketus.

“Aku juga tidak berencana untuk meminta maaf,” ujar Jaebum sambil mengingat-ingat “kesalahan” apa yang sudah ia perbuat pada wanita cantik tersebut. Sebenarnya ia tidak ingin menyebut perbuatannya sebagai sebuah kesalahan karena ia merasa ia tidak berbuat salah. Ia hanya melakukan apa perintah Ken Choi.

“Kau membuatku tidak bisa bergerak selain menempel seperti lem di dinding kaca. Kemudian kau dan ekspresi menjijikkanmu yang itu sudah… astaga…, apa itu caramu mendekati para gadis-gadis tak berdosa di luar sana? Lihat saja daftar aktris muda yang menjadi mantanmu. Ckckck…”

“Ken Choi menyuruh kita untuk mempraktekkan bagaimana cara tokoh pria di dalam drama mendekati tokoh wanita ketika dia ingin menciumnya. Aku hanya mempraktekkan salah satu contoh adegan tersebut. Kau saja yang tidak bisa mengimbangiku dan menganggap semuanya nyata. Toh, aku juga tidak menciummu. Halusinasi liarmu, Song Noona. Wow, mengerikan sekali.”

“Kau kan seharusnya memberitahuku dulu agar aku tidak kelabakan dan—“

Park Yeon yang baru akan memberikan protesnya pada Jaebum terpaksa berhenti ketika matanya menangkap sosok Kyuhyun yang berjalan dari arah area parkir mobil di depan gedung.

“Apa selain menjadi pacarmu, dia juga merangkap menjadi sopirmu—Auw!” Jaebum meringis kesakitan karena Park Yeon memukul keras lengannya. “Noona, ini sakit!”

“Masih bagus hanya kupukul. Daripada kupotong lenganmu.”

Hanya itu yang diucapkan Park Yeon sebelum berlari menghampiri Kyuhyun. Meninggalkan Jaebum yang masih saja meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengannya yang berkedut.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun ketika Park Yeon berhenti di depannya. Park Yeon hanya mengangguk dan mengajaknya agar segera masuk ke dalam mobil. Dilihatnya dari kejauhan Jaebum tampak masih memasang wajah kesakitan. “Kau apakah temanmu tadi?”

“Apa?”

Kyuhyun menggerakkan dagunya ke arah Jaebum. Park Yeon lantas menoleh ke belakang.

“Aku memang suka memukulinya seperti itu karena dia menggemaskan. Ayo, Sunbae.”

Park Yeon menarik Kyuhyun ke arah mobil Kyuhyun yang diparkir tak jauh dari mereka. Namun, sedetik setelah mereka berdua berada di dalam mobil, ekspresi keduanya yang sebelumnya ceria langsung berubah datar, seolah kamera yang merekam adegan mereka telah dimatikan. Bila Kyuhyun yang sudah menyalakan mesin mobil dan bersiap melajukan mobilnya meninggalkan area depan gedung Ken’s School, Park Yeon justru kembali memasang wajah serius setelah membawa note kecilnya ke depan wajahnya. Bahkan tanpa menolehkan kepalanya dari depan note kecilnya, ia tahu Kyuhyun tak memasang sabuk pengaman dengan benar. Tangannya terulur dan membetulkan ujung sabuk pengaman Kyuhyun hingga terpasang dengan benar tanpa disadari oleh Kyuhyun.

“Kau lapar?” tanya Kyuhyun yang pelan-pelan mulai melajukan mobilnya ke tengah jalan sebelum menambah kecepatan mobilnya ke kecepatan standar.

“Sangat lapar,” jawab Park Yeon singkat, tangannya terangkat menuliskan sesuatu di sudut halaman note kecilnya.

“Kau mau makan apa?”

“Terserah Sunbae saja.”

“Bagaimana kalau kita coba restoran terbuka yang menjual kepiting asam manis saja? Aku sudah lama tidak ke restoran seperti itu.”

“Ya.”

Park Yeon yang sudah terlalu konsentrasi dengan note kecilnya hanya mengiyakan ajakan Kyuhyun tanpa mendengarnya dengan jelas. Padahal biasanya ia akan melontarkan protesnya saat Kyuhyun mengatakan ini dan itu, tidak peduli apapun itu.

Berterima kasihlah pada catatan-catatan yang dibuat Park Yeon di note kecilnya tersebut. Karena berkat tulisan-tulisan itu, kebiasaan Park Yeon yang selalu menjadi wanita cerewet ketika bersama Kyuhyun bisa disimpan untuk beberapa saat. Oh, dan jangan lupakan penyebab tulisan-tulisan itu hadir di note kecil tersebut.

Poin pelajaran Ken Choi tentang cara menghidupkan adegan ciuman agar pesannya bisa sampai ke penonton drama dengan baik dan indah.

Ya, itulah yang membuat Park Yeon seakan tidak peduli dengan apapun dan siapapun yang sedang berada di sekitarnya. Tak terkecuali Kyuhyun yang mengajaknya makan siang di… entahlah. Ia tidak terlalu mengenal tempat itu—atau mungkin lebih tepatnya, ia punya kesibukan sampai-sampai tidak sempat mengamati restoran seperti apa yang mereka berdua kunjungi sekarang.

“Apa yang membuat adegan ini sangat berbeda jauh dengan video yang tadi ya?”

Park Yeon menggumam pelan sambil memperhatikan cuplikan adegan ciuman drama debutnya yang berjudul Tormented. Di video tersebut, ia terlihat sedang dicium oleh sang pemeran utama pria di dalam taksi di tengah guyuran hujan yang cukup deras.

Semakin ia mencoba berpikir sambil mengamati video tersebut, semakin dibuat pusing kepalanya.

“Kau ini kenapa sih?”

Kyuhyun yang tengah menikmati kepiting asam manis terpaksa menegakkan kepalanya dan menoleh ke arah Park Yeon yang duduk di sampingnya dan tampak seperti seseorang yang sedang mati-matian mengingat rumus matematika. Sekedar informasi saja. Sejak setengah jam yang lalu hingga sekarang, makan siang Park Yeon masih utuh. Wanita berwajah mungil itu sama sekali tak menyentuh hidangan yang ada di depannya dan sibuk dengan ponselnya sendiri.

Sunbae, ponsel.” Park Yeon menengadahkan salah satu tangannya pada Kyuhyun. Tangannya yang lain masih memegang ponselnya sendiri.

“Apa? Maksudku, kenapa kau meminta ponselku?”

“Ada yang harus kuteliti.”

Meski memandang aneh ke arah Park Yeon, Kyuhyun seraya meletakkan salah satu potongan kepitingnya ke atas piring dan membersihkan salah satu tangannya dengan tissu sebelum memberikan ponselnya pada Park Yeon.

Park Yeon baru akan meningkatkan konsentrasinya ketika mendapati ponsel Kyuhyun terkunci oleh password. Sambil berdecak pelan, ditunjukkannya layar ponsel tersebut di depan wajah Kyuhyun.

Password-nya, Sunbae.”

Kyuhyun hanya menanggapi Park Yeon dengan helaan napas.

Park Yeon yang mendengar helaan napas Kyuhyun langsung menyahut, “Aku kan tidak tahu apa password ponsel Sunbae.”

“Harus ya memakai ponselku?”

“Menurut Sunbae?”

“Tidak bisakah kau memakai ponselmu saja?”

“Ada dua video yang harus kuamati. Ayolah, Sunbae, jangan pelit. Aku hanya pinjam. Sunbae tidak perlu khawatir seperti aku akan membawa kabur ponsel ini. Aku juga tidak akan jatuh miskin bila hanya membeli ponsel seperti ini.”

Kyuhyun menunjukkan kedua telapak tangan dan kesepuluh jari-jari tangannya yang sudah berhias bumbu kepiting asam manis.

Sunbae mau apa?” Park Yeon terpaksa sedikit menjauhkan wajahnya dari tangan Kyuhyun.

“Sekarang katakan padaku. Bagaimana caranya aku bisa menuliskan password itu kalau kedua tanganku semuanya seperti ini?”

Benar juga. Orang ini kan memiliki kecintaan terhadap kebersihan yang sangat keterlaluan. Ia pasti akan menjerit-jerit bila jari-jarinya yang kotor itu menyentuh layar ponselnya sendiri.

“Kalau begitu, beritahu aku passwordnya,” ucap Park Yeon kemudian.

Kyuhyun tak lantas menjawab. Pria berparas tampan ini sejenak memandang Park Yeon. Park Yeon yang menyadari seniornya tersebut memandanginya seperti itu, langsung berdecak pelan.

Sunbae kan bisa membuat password yang baru nanti! Aku juga tidak berencana membiasakan diriku untuk terus-terusan meminjam ponselmu kok,” gerutu Park Yeon karena Kyuhyun tak kunjung memberitahu apa password ponsel tipis berwarna hitam mengkilat itu.

“Nama asli Cherry Jung,” Kyuhyun berkata dengan nada lirih sambil kembali menikmati makan siangnya.

“Tidak adakah password yang lebih sulit dan yang rumit hingga tak ada seorang pun bisa meretasnya dengan mudah?” cibir Park Yeon yang sama sekali tak menduga itulah password ponsel Kyuhyun. Ayolah, bahkan anak-anak sekolah saja sudah menggunakan deretan kata-kata aneh dan sulit untuk password ponsel mereka hingga mereka sendiri terkadang kesulitan untuk mengingatnya. Ia pikir seorang Cho Kyuhyun akan menggunakan bahasa alien untuk melindungi ponselnya yang merupakan benda penting di hidupnya agar tak ada hacker profesional sekalipun bisa meretas ponselnya.

Ingin sekali rasanya Kyuhyun menjitak kening Park Yeon dengan salah satu potongan kepiting yang ada di atas piringnya. Hoobae­-nya ini benar-benar pintar sekali menyahuti apapun kata-katanya dengan kata-kata yang lebih bisa disebut sebagai ejekan, hinaan, atau semacamnya.

Park Yeon yang tidak peduli dengan ekspresi ketus Kyuhyun lantas berkonsentrasi setelah ia menemukan video yang dicarinya melalui aplikasi Youtube yang ada di ponsel Kyuhyun. Video cuplikan drama yang tadi dilihatnya di kelas VIP Ken Choi. Ya, video itulah yang sedang ia coba bandingkan dengan video cuplikan drama debutnya yang sedang ia putar di ponselnya sendiri. Keduanya sama-sama menampilkan adegan ciuman antara dua pemeran utama dengan setting yang berbeda.

“Sebenarnya apa sih yang kau tonton sejak tadi?” Kyuhyun yang penasaran lantas menyingkirkan piringnya dari depannya dan membersihkan kedua tangan dan sudut bibirnya dengan tisu. Digesernya kursi yang didudukinya agar lebih dekat dengan Park Yeon. Kedua alis matanya terpaksa terangkat sempurna setelah melihat apa yang sedang ditonton Park Yeon hingga membuat wanita itu terdiam. “Aku tidak tahu kau semaniak itu,” gumamnya lirih yang kemudian mendapat lirikan ketus dari Park Yeon.

Sunbae tidak tahu apa-apa. Jadi, kalau tidak bisa membantu, sebaiknya Sunbae diam saja,” desis Park Yeon seraya kembali mengulangi dua video tersebut.

Kyuhyun baru akan membalas Park Yeon ketika sudut matanya tanpa sengaja menangkap note kecil milik Park Yeon yang tergeletak di atas meja. Tangannya terulur mengambil note tersebut dan membacanya. Senyum geli terulas di bibirnya beberapa saat setelah ia memahami arti tulisan wanita yang sedang duduk di sampingnya ini.

“Itu karena adegan Lee Byun So Sunbaenim dan Han Na Sunbaenim sarat dengan perasaan, ditambah mereka sangat pintar menguasai karakter yang mereka perankan dibanding kau dan pasanganmu di drama debutmu.”

Suara Kyuhyun memaksa Park Yeon menoleh ke arah seniornya tersebut. Keningnya berkerut. “Maksud Sunbae?”

“Kau lihat yang itu.” Kyuhyun menunjuk video yang ada di ponselnya. “Adegan itu sekilas hanya adegan ciuman biasa seperti yang ada di drama-drama lain. Tapi, bila diamati, adegan mereka lebih sempurna dibanding lainnya. Ekspresi yang mereka tampilkan bisa melebur sempurna menjadi satu dengan setting yang ada di belakang mereka dan musik yang mengalun. Cara Lee Byun So Sunbaenim mencium pasangannya sangat manis sekaligus membuat semua orang yang melihatnya ingin menangis karena merasa kasihan. Dia sukses menghidupkan tokoh fiktif bernama Park Seung Won yang mencium kekasihnya dengan perasaannya yang hancur karena selain ia harus merelakan kepergian kekasihnya itu untuk selama-lamanya, ia juga tidak bisa untuk tidak merasa egois bahwa apapun yang ia miliki harus ada di sisinya.”

Perlahan Park Yeon menundukkan kepalanya, memandang video yang ada di ponsel Kyuhyun. Entah bagaimana, kali ini ada yang berbeda dengan perasaannya ketika melihat lagi adegan tersebut. Seperti kata Kyuhyun, ia bisa melihat ada kesedihan yang sangat mendalam pada ekspresi yang ditunjukkan Aktor Lee Byun So saat mencium tokoh Choi In Soo yang diperankan Aktris Han Na.

Kok bisa ya?Padahal aku sudah berkali-kali memutar video ini, tapi aku tidak bisa merasakan apa-apa. Kenapa aku baru bisa melihat ekspresi tokoh Park Seung Won ya?

“Dan tokoh Han Na di situ terlihat sangat tegar, padahal penyakit langka sudah menggerogoti tubuhnya hingga membuat tubuh seksinya berubah menjadi kurus kering. Yang bisa ia lakukan hanyalah menerima ciuman kekasihnya dan berusaha membalasnya meski harus mengeluarkan banyak tenaga. Air mata yang hanya sampai di pelupuk matanya itu menandakan bahwa sebenarnya ia merasa sedih pada dirinya sendiri, tapi karena ia wanita yang kuat, ia tidak bisa membiarkan air mata kesedihannya mengalir begitu saja tanpa seijinnya.”

Kyuhyun menjelaskan dengan pelan apa arti di balik adegan yang ada di video tersebut pada Park Yeon. Well, sebenarnya tidak ada salahnya juga ia memberikan sedikit pengetahuannya pada Park Yeon karena bagaimanapun juga, meski ia tahu keadaan seperti apa yang ada di antara dirinya dan Park Yeon, wanita berambut panjang ikal tersebut tetaplah hoobae-nya yang masih harus mendapatkan “ilmu” tentang dunia akting dari senior-seniornya. Tak terkecuali senior seperti dirinya.

“Jadi, begitu ya?” gumam Park Yeon sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini matanya beralih pada video yang ada di ponselnya setelah jari Kyuhyun bergerak ke sana.

“Adegan ini tidak ada feels sama sekali. Tidak. Memang ada, tapi hanya pada pemeran prianya. Itupun tidak terlalu kuat.”

Sunbae menyindirku ya?” desis Park Yeon, kesal dengan kata-kata Kyuhyun yang secara tidak langsung menyebut aktingnya tidak memiliki feels sedikit pun untuk mengimbangi akting lawan mainnya.

“Baguslah kalau kau bisa menangkap kata-kataku dengan cepat. Kau cerdas juga,” sahut Kyuhyun sambil mencubit pelan salah satu pipi Park Yeon. Ha, asal tahu saja, ia sudah tahu kalau di restoran terbuka seperti ini, yang sudah pasti bisa dilihat orang dari jalan, apapun yang dilakukannya akan menarik perhatian mereka. Terutama segerombol gadis yang duduk tak jauh darinya. Hanya melihat sekilas saja, ia tahu kalau mereka adalah penggemarnya.

Park Yeon yang sama sekali tak menyadari ada segerombol penggemar Kyuhyun tengah mengarahkan kamera ke arah mejanya dan diam-diam beberapa kali mengambil gambarnya lantas memberengut pada Kyuhyun.

“Apa kau belum pernah berciuman sebelumnya?”

Pertanyaan Kyuhyun memaksa Park Yeon untuk mengangkat kedua alisnya. Wajah memberengut yang beberapa detik lalu ia pertahankan kini menghilang begitu saja. “Maksud Sunbae?”

“Lihat bagaimana caramu menerima ciuman dari lawan mainmu. Kau seperti tidak tahu harus berbuat apa, padahal tokoh wanita yang kau perankan seharusnya merasa senang karena orang yang disukainya akhirnya mau menciumnya. Kau yang tidak bisa memahami skenario drama atau kau tidak bisa menguasai karakter tokoh drama yang kau perankan? Atau keduanya? Atau kau tidak tahu bagaimana cara berciuman?”

Seketika Park Yeon menjauhkan diri dari Kyuhyun dan memandang seniornya tersebut dengan wajah tercengang.

“Hanya melihat sekilas saja, aku sudah tahu kalau caramu menerima ciuman dari lawan mainmu itu salah. Padahal di drama itu sudah jelas-jelas disebutkan bahwa tokoh utama wanitanya mengoleksi banyak mantan pacar, atau dengan kata lain, dia ahli untuk urusan berkencan. Bukankah seharusnya wanita seperti itu pandai berciuman?”

Baiklah. Kini Park Yeon harus mencerna ucapan Kyuhyun dengan pelan-pelan. Dan bodohnya lagi, ia tidak bisa membantahnya karena…… Sial, sejak kapan aku seperti penjahat yang ketahuan melakukan tindakan kriminal dan harus duduk mendengarnya seorang polisi yang sedang membacakan semua kejahatan yang sudah kulakukan?

Kesalahan Park Yeon yang pertama : Ia memang baru sadar kalau ia tidak membaca skenario drama dengan seksama.

Kesalahan yang kedua : Ia memang baru sadar kalau ia tidak terlalu memahami dan menguasai karakter tokoh wanita yang ia perankan di drama itu.

Kesalahan yang ketiga…… benarkah ia belum berciuman? Permisi, usianya sudah 26 tahun di dunia ini. Apa saja yang dilakukannya semenjak lahir hingga sekarang ia berprofesi sebagai seorang selebritis sampai-sampai berciuman saja belum ia lakukan? Well, itu minus adegan ciuman yang ia lakukan di drama debutnya.

“Sekarang coba bagaimana balasanmu kalau aku menciummu,” ucap Kyuhyun seraya sedikit menggeser dirinya lebih dekat lagi.

“Apa?”

“Seperti ini.”

Dengan gerakan pelan, Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Park Yeon dan sedikit memiringkan kepalanya sebelum mengecup tipis bibir bawah Park Yeon. Sayup-sayup, telinganya mendengar pekikan pelan dari arah meja yang berisi gerombolan penggemarnya.

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun setelah menegakkan kepalanya kembali dan menunggu reaksi Park Yeon.

Untuk beberapa saat Park Yeon tampak membeku di kursinya. Wanita itu hanya mengerjap-ngerjap pelan. Apakah ia terkejut karena tiba-tiba Kyuhyun mencium bibirnya? Harusnya dua sampai lima detik lagi kedua pipinya akan merona merah karena tersipu. Uhmm… bukankah itu reaksi yang wajar bagi seorang wanita bila baru saja dicium oleh pria tampan seperti Kyuhyun?

Jawabannya adalah……

“Kenapa Sunbae hanya mencium bibir bawahku? Di beberapa drama, tokoh pria hanya mencium bibir pasangannya begitu saja, tanpa memilih bibir atas atau bawah. Iya, kan?” tanya Park Yeon dengan wajah serius, seolah ciuman yang diberikan Kyuhyun sama sekali tak memiliki pengaruh atau efek samping baginya.

“Ada juga yang seperti itu. Maka dari itu, sebelum pengambilan adegan dimulai, dua pemeran drama pasti akan berkonsultasi dengan sutradara mereka tentang adegan tersebut. Mau ditampilkan seperti apa skenario adegan tersebut. Apakah hanya ciuman tipis saja, atau ciuman yang seperti aku tunjukkan tadi, atau teknik yang lain. Ada juga dua pemeran drama tersebut mendiskusikan adegan itu antara mereka berdua saja. Yang penting mereka bisa berkolaborasi dengan baik saat adegan itu diambil,” Kyuhun pun menjawab tak kalah seriusnya. Seperti seorang guru yang memberikan penjelasan sebuah mata pelajaran yang tidak dimengerti muridnya.

Ya, itulah jawabannya. Sejak awal pembicaraan mengenai dua video adegan ciuman dari dua cuplikan drama berbeda hingga Kyuhyun mendaratkan ciuman lembut dan tipis di bibir Park Yeon adalah sebuah “diskusi” antara Park Yeon dengan seniornya yang memiliki jam terbang dan pengetahuan yang lebih banyak di dunia drama. Tak lebih.

Bila Park Yeon mau, mungkin ia akan marah besar karena bibirnya sudah dicium oleh seniornya yang selalu membuatnya merasa kesal. Tapi, demi sesuatu yang bisa disebut ilmu, yang mungkin kelak bisa ia gunakan, dan saat mereka sedang berada di tempat umum dengan banyak orang yang sudah pasti mengarahkan pandangan ke arahnya, ia harus bisa menahan diri. Toh, bagaimana pun juga… bukankah di mata orang-orang itu, ia dan Kyuhyun adalah sepasang kekasih? Berciuman seperti itu… pasti hal yang wajar seperti pasangan lainnya. Bedanya hanya mungkin, satu jam lagi atau besok pasti akan muncul berita yang bisa menggemparkan para penggila Kyuhyun dan publik. Yeah, berita tentang ciuman yang Kyuhyun berikan untuknya di restoran terbuka ini. Apa lagi coba?

Baiklah kembali pada dua pasangan kekasih ini. Melihat Park Yeon kembali terdiam berpikir, Kyuhyun lantas terkekeh pelan dan mengejeknya, “Jadi, kau benar-benar belum pernah berciuman ya? Astaga…, yang benar saja.”

Park Yeon yang tidak terima langsung membalas, “Siapa bilang aku belum pernah berciuman?”

“Kalau begitu, kapan terakhir kali kau berciuman? Adeganmu yang ada di drama debutmu tidak termasuk ya.”

Pertanyaan Kyuhyun membuat Park Yeon mengernyitkan kening. Ia bukannya mengingat-ingat kapan terakhir ia berciuman, melainkan mencoba menutupi rona merah yang sewaktu-waktu bisa menyerang kedua pipinya. Well, bicara mengenai kapan terakhir kali ia berciuman…, yang pasti bukan waktu ia masih duduk di bangku sekolah karena saat itu ia sibuk menjadi seorang fangirl gila untuk idola seumur hidupnya, Ken Choi. Dan yang pasti juga bukan waktu ia menjadi trainee Max Ent. karena saat itu ia sibuk belajar untuk menggapai impiannya menjadi seorang aktris terkenal. Berciuman dengan seseorang? Huh, itu tidak masuk dalam jadwal sehari-harinya di sana.

Lalu… kapan terakhir kali ia berciuman hingga membuatnya mati-matian menutupi rona merah yang muncul tiba-tiba di kedua pipinya? Uhmm… sebenarnya itu… adalah ciuman pertamanya. Terakhir kali ia berciuman adalah ketika ia merasakan bagaimana rasanya berciuman untuk pertama kali di dalam hidupnya. Kejadian itu terjadi… tak lama setelah ia debut menjadi seorang aktris, dan tentunya sebelum ia mendapat tawaran menjadi pemeran utama di drama debutnya. Bicara mengenai siapa pelaku yang sudah memberinya ciuman pertama hingga sampai saat ini masih membuatnya berdebar-debar tanpa sebab adalah…

“Pokoknya… aku… pernah berciuman kok,” elak Park Yeon sedikit terbata-bata.

Kyuhyun mengangguk-angguk sambil berusaha menahan senyumnya.

“Ngomong-ngomong…, terima kasih sudah mau memberitahuku. Aku berterima kasih karena di drama baruku nanti, meski aku hanya memerankan peran pendukung, ada adegan ciuman yang harus kulakukan dengan lawan mainku.” Park Yeon mengembalikan ponsel milik Kyuhyun.

“Apa kau baru saja memberikan bocoran tentang drama barumu padaku?” ucap Kyuhyun seraya menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Hanya itu yang bisa kubocorkan.”

“Kalau dipikir-pikir… sebenarnya kita bisa menjadi teman baik. Kau lihat kan bagaimana tadi aku memberimu sedikit ilmu yang kupunya dan kau sungguh-sungguh memperhatikanku.”

“Teman baik apanya?” dengus Park Yeon pelan.

Tangan Kyuhyun terulur, menyenggol pelan lengan Park Yeon yang berhasil memaksa Park Yeon menoleh kembali ke arahnya. “Bagaimana pun juga…, satu minggu lagi dramamu akan diproduksi. Rileks saja, jangan terlalu menjadikan lokasi syuting, kru, pemain drama yang lain dan skenario sebagai beban. Berikan saja yang terbaik untuk peran yang kau dapatkan. Terapkan apa yang sudah kau pelajari dari kelas Ken Choi walaupun belum semuanya. Mungkin kemampuan aktingmu akan mengalami peningkatan dibanding yang sebelumnya.”

Walaupun merasa enggan, Park Yeon tetap menerima high five yang diberikan Kyuhyun.

oOo

“Woah, Hyung, lihat ini!”

Moo Ryeong memekik sesaat setelah menghentikan mobil van di depan gedung D Ent. Zhoumi yang sejak tadi duduk di jok samping sambil melipat kedua tangan di depan dada dan memejamkan mata terpaksa menoleh ke arah pemuda kurus tersebut.

“Apa lagi?” tanya Zhoumi enggan. Harusnya ia sadar, hobi artis yang ditanganinya dan sopir yang menangani mobil van artis Max Ent sama-sama memiliki hobi mencari berita-berita selebritis di ponsel pintar mereka.

Moo Ryeong menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto dua sepasang kekasih yang tertangkap kamera tengah berciuman di sebuah restoran terbuka. Tanpa harus berpikir keras pun Zhoumi mengenal siapa dua orang tersebut.

Park Yeon dan Kyuhyun.

“Berhentilah bermain-main dengan ponselmu dan parkir mobilnya dengan benar kalau tidak mau diusir satpam D Ent.”

Hanya itu yang diucapkan Zhoumi pada Moo Ryeong sebelum keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung agensi milik adik CEO Max Ent. tersebut. Bukan tanpa alasan ia pergi ke agensi yang sudah jelas-jelas merupakan musuh bebuyutan agensi yang selama ini memberinya gaji. Andai saja ini tidak ada kaitannya dengan keperluan jadwal Park Yeon, ia mungkin tidak akan datang. Ya, sore ini ia memang berencana bertemu dengan seorang penyiar radio yang juga merupakan aktor veteran milik D Ent. Karena hubungan baik yang sudah ia dan Park Yeon jalin dengan penyiar sekaligus aktor veteran tersebut, akhirnya beliau mengajak Park Yeon untuk kembali bekerja sama dalam program radionya yang baru.

Kabar baiknya, tawaran kerja sama ini sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan apa yang terjadi antara Park Yeon, Kyuhyun dan Cherry, walaupun sudah jelas-jelas penyiar ini berasal dari D Ent. Zhoumi yakin akan hal tersebut karena ia sangat mengenal penyiar ini. Jauh sebelum ia menangani Park Yeon atau skandal Kyuhyun dan Cherry tercium media.

“Senang rasanya melihatmu berkunjung kemari, Zhoumi-ssi.”

Sebuah suara menghentikan langkah Zhoumi yang baru saja keluar dari lift. Ditolehkannya kepalanya ke sisi kiri tubuhnya. Dan itu hanya untuk mendapati sosok Cherry tengah berjalan menghampirinya. Diulasnya senyum sambil menganggukkan kepala sebagai sebuah balasan atas sapaan yang dilontarkan Cherry padanya.

“Tapi.. apa yang membuatmu datang kemari?” Cherry bertanya sambil menyibak rambut panjangnya ke belakang bahu.

“Hanya membicarakan sesuatu yang penting dengan Hwang Gi Tae Sunbaenim,” jawab Zhoumi singkat. Ia baru akan melangkah pergi ketika Cherry menahannya.

“Apa kau mau secangkir kopi?”

.

.

.

.

Satu cangkir kopi hitam panas dan satu cangkir Espresso tersaji di atas meja bundar berukuran kecil. Zhoumi yang duduk di hadapan Cherry lebih dulu mengangkat cangkirnya dan menyesap pelan isi cangkir tersebut.

“Drama baru Park Yeon akan diproduksi satu minggu lagi. Kau pasti akan jauh lebih sibuk dibanding yang sebelum-sebelumnya. Benar, kan?”

Cherry membuka topik pembicaraan setelah ia sendiri menyesap minumannya. Setidaknya ia berhasil “menyeret” Zhoumi agar mau pergi dengannya ke cafe yang ada di depan gedung agensinya.

“Kupikir sama saja. Sebelumnya aku juga sudah sibuk. Tidak jauh beda dengan yang sekarang.”

Mendengar Zhoumi memberikan jawaban seperti itu, Cherry hanya tersenyum sebelum menyandarkan punggungnya yang tertutup blazer berwarna hitam pada kursi.

“Apa Cherry Jung-ssi tidak ada jadwal sampai-sampai bisa mentraktirku minum kopi di sini?” Pertanyaan basa-basi dilontarkan Zhoumi yang sebenarnya sudah tidak merasa nyaman berada di cafe ini. Selain karena tidak ada niat sedikit pun untuk berada di tempat ini, ia juga tidak ingin berlama-lama bersama dengan satu dari dua orang yang sudah menjadikan Park Yeon boneka perang.

“Kurasa di sini sekarang… hanya kau yang masih membenciku. Padahal Park Yeon sudah mulai mau menerima keadaannya dan mengambil sisi positif dari situasi ini. Bahkan, kulihat ekspresi Park Yeon bila bertemu denganku sudah biasa saja,” jawab Cherry yang bisa merasakan api kemarahan di mata pria bertubuh tinggi itu.

Zhoumi tak berniat membalas kata-kata Cherry. Sumpah demi apapun, ia benar-benar berusaha untuk tidak berteriak pada wanita itu agar menyudahi permainan gila yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini. Lepas dari segala sesuatu yang menguntungkan Park Yeon, ia tidak ingin bila pada akhirnya nanti Park Yeonlah yang akan merasakan sakit. Yeah, ia tahu permainan ini tercipta karena keputusan Park Yeon yang muncul karena emosi. Tapi, ia tidak bisa bila harus melihat Park Yeon dimanfaatkan seperti ini.

“Song Park Yeon yang polos dan manis harus mulai belajar menghadapi kerasnya kehidupan selebritis di jaman sekarang. Bila ia hanya bersikap seperti itu, ia akan ditindas dan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.”

“Seperti kalian berdua? Kyuhyun dan kau?”

Zhoumi langsung menyahut sedetik setelah Cherry selesai berbicara. Cherry tertawa kecil menanggapi pertanyaan Zhoumi.

“Kami bukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Zhoumi-ssi. Terutama aku. Aku akui memang akulah yang berada di balik keputusan Park Yeon untuk memulai permainan ini. Tapi aku melakukannya bukan semata-mata hanya untuk menutupi hubunganku dengan Kyuhyun. Baiklah, Zhoumi-ssi… bisa menganggapnya seperti itu. Tapi, maaf. Tujuanku yang sebenarnya bukanlah seperti itu.”

Zhoumi tersenyum tipis. Well, memang bukan senyuman manis yang biasa ia tunjukkan pada semua orang termasuk Park Yeon. Ini lebih seperti… senyum kering. Senyum yang dipaksakan.

“Apapun tujuanmu itu, aku harap Cherry Jung-ssi masih memiliki batasan-batasan agar tidak menyakiti orang lain. Dan di kasus ini, orang itu adalah Park Yeon.”

Dengan sepasang matanya yang meruncing tajam di kedua sudutnya karena efek drastis yang ditimbulkan eyeliner berwarna hitam tersebut, ia memandang lurus ke arah Zhoumi. Tak ada rasa takut sedikit pun meski ia tahu tatapan Zhoumi padanya sama sekali tak bersahabat. Bibirnya yang malam ini berwarna pink mengkilat tertarik ke atas pada kedua sudutnya, menampilkan senyuman manis.

“Setidaknya apa yang kau katakan malam itu benar. Maksudku…, saat kau bilang kalau seseorang yang ada di dalam dunia hiburan selalu mempunyai pilihan untuk masuk ke bagian yang mana. Meski kita berdua tahu bagian mana yang dia pilih, dia tetap menggunakan akal sehatnya untuk menghadapi semua yang ada di dalamnya. Jujur, aku cukup terkejut saat ia menerima undangan dari Ken Choi tapi menolak tawaran menjadi pemeran utama di drama Sutradara Park Jong Dae. Tapi, aku juga cukup kagum pada alasannya mengambil langkah untuk dua tawaran bagus itu. Song Park Yeon…… ternyata selain polos, pemberani dan mudah bersemangat, dia juga cerdas.”

Pujian yang diberikan Cherry……… entahlah, Zhoumi tidak tahu apakah ia harus berterima kasih atau hanya tetap memasang ekspresi datar di wajahnya dan menganggap apa yang baru saja dikatakan wanita berpostur tinggi tersebut hanya seperti hembusan angin belaka. Meski begitu, diam-diam ia juga sependapat dengan Cherry tentang keputusan yang diambil Park Yeon saat dihadapkan pada dua tawaran menggiurkan tersebut. Ia memang selalu menasihati Park Yeon agar belajar menggunakan pikiran jernih bila ingin memutuskan sesuatu agar resiko yang mungkin akan muncul di kemudian hari tidak terlalu besar dan masih bisa dikendalikan. Tetapi, di dalam hatinya, ia tetap merasa takjub.

“Terima kasih atas kopinya. Bila ada kesempatan, aku akan mentraktir Cherry Jung-ssi secangkir kopi juga. Tapi sekarang aku harus segera pergi karena masih ada urusan yang harus kukerjakan. Permisi.” Zhoumi seraya bangkit dari kursinya setelah menyesap kopi hitamnya untuk yang terakhir kali. Namun, lagi-lagi langkahnya kembali terhenti ketika Cherry memanggilnya. Ditolehkannya kepalanya ke arah kursi yang diduduki wanita cantik itu.

“Bagaimana kalau tujuanku membuat permainan ini…, sama dengan yang kau lakukan?”

Ucapan Cherry jelas membuat Zhoumi mengernyitkan kening. “Maaf, tapi aku tidak mengerti.”

Tanpa berniat memandang Zhoumi yang berdiri di samping kursinya, Cherry lantas tersenyum tipis, lalu berkata, “Kau… tahu apa maksud ucapanku, Zhoumi-ssi.”

Mata Zhoumi tak berkedip ketika memandang Cherry yang dengan anggunnya mengambil cangkir berwarna putih gading yang ada di atas meja dan menyesap pelan isi cangkir tersebut. Hanya saja, itu tak berlangsung lama. Ia langsung mengayunkan kakinya ke arah pintu café tanpa memedulikan Cherry yang perlahan menoleh ke arah kaca untuk melihat sosoknya yang semakin menjauh dari area depan café dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

Sudah jelas. Mengiyakan ajakan wanita itu adalah keputusan yang salah. Meski hanya minum kopi bersama, tetap saja percakapan di antara mereka akan selalu seperti itu. Menegangkan. Dan itu hanya karena membahas Park Yeon. Toh, apapun yang akan ia coba ucapkan untuk membalas semua kata-kata wanita itu seolah terkesan sia-sia saja. Sebut saja… ia mendapatkan lawan yang cukup kuat untuk urusan mempertahankan ekspresi tenang bagaimana pun situasinya.

Rasanya juga akan terlambat bila ia menyuruh Cherry dan kekasihnya, Cho Kyuhyun untuk menghentikan semua ini. Tidak hanya karena Park Yeon sudah melangkah sangat jauh dari tempatnya berdiri sebelum ini, tapi juga karena publik sudah termakan dan percaya pada konfirmasi skandal antara Park Yeon dan Kyuhyun dan yang sebenarnya hanyalah kebohongan belaka.

Oh, dan jangan lupakan juga bagaimana Park Yeon yang akhir-akhir ini mulai serius memperbaiki kemampuan aktingnya dengan “bersekolah” di Ken’s School. Ia sering memergoki wanita itu terdiam di dalam mobil hanya untuk mengamati beberapa drama yang masuk dalam kategori drama terbaik dan membuat referensi. Bahkan di sela-sela waktu luang jadwalnya yang padat, Park Yeon masih sempat memohon padanya untuk mengantarkannya ke tempat beberapa aktor senior untuk bertanya ini dan itu.

.

.

.

< Oppa, selamat malam dan selamat tidur. Hari ini kelihatannya kau kelelahan. Langsung tidur ya. Jangan ke mana-mana lagi. Menjadi Manajer Artis kan tidak sesibuk artisnya. Terima kasih untuk hari ini. Oppa sudah bekerja keras ^^>

Zhoumi menutup pintu apartemennya dengan pelan sambil membaca pesan yang baru saja dikirimkan Park Yeon ke ponselnya. Senyum lelah terukir di bibirnya sebelum menurunkan benda tipis tersebut dari wajahnya.

Tangannya menggapai saklar lampu yang tak jauh dari jangkauannya dan menekannya. Sedetik kemudian, apartemennya yang gelap gulita berubah terang karena lampu-lampu bulat berwarna putih yang ada di langit-langit apartemen menyala, menyinari seluruh sudut apartemen luasnya. Menampilkan seluruh isinya. Satu set sofa berwarna hitam yang langsung terlihat bila pintu apartemen dibuka. Lalu lampu hias setinggi bahunya di salah satu sisi sofa tersebut. Kemudian dapur minimalis yang ada di sisi kiri tubuhnya yang tetap mengusung warna hitam di beberapa bagian dan sebuah mini bar. Di sudut ruangan yang tak jauh dengan ruang tengah terdapat meja kerja—yang terkesan aneh mengingat dirinya hanyalah seorang Manajer Artis, bukan seorang Direktur perusahaan atau semacamnya. Ah, dan yang paling penting dari semua ruangan di apartemen luasnya adalah kamar tidurnya. Kamar tidurnya bisa dilihat dari ruangan mana pun karena dinding-dinding yang mengelilingi tempat pribadinya itu hanya terbuat dari kaca tebal. Beruntungnya, ada remote control kecil yang bisa mengubah warna kaca tebal tersebut menjadi hitam pekat. Jadi, tidak akan ada yang bisa melihat ke dalam di saat ia sedang beristirahat di sana.

Bila dilihat sekilas, memang tidak ada yang istimewa dengan semua perabotan di dalam apartemennya, kecuali dinding-dinding kaca tebal yang bisa berubah warna itu. Tapi bila diamati sedikit lebih lama, kau akan melihat betapa rapi dan detailnya seorang Zhoumi dalam hal penataan letak semua benda yang ada di dalam apartemennya. Lantai keramik berwarna kuning emas, ditambah warna putih bersih dinding apartemen sangat pas dipadu dengan perabotan yang hampir semuanya berwarna hitam elegan.

Andai saja kelima gadis SMU yang mengidolakan Park Yeon ada di dalam apartemennya, sudah bisa dipastikan mereka akan memandang takjub sambil mengucap “So sexy”, sebelum mulai membayangkan hal-hal aneh, misalnya dirinya yang sedang berbaring di salah satu sofa itu, atau dirinya yanga baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putih yang menutupi bagian pinggang hingga lututnya—okay… yang itu sedikit liar—atau dirinya yang sibuk membuat sesuatu di dapurnya, atau dirinya yang hanya berlalu lalang dari sudut ke sudut seperti orang gila.

“Apa yang barusan kupikirkan?” gumamnya pelan sambil menyibak rambut gelapnya yang menutupi sebagian kening dan alis matanya. Setelah meletakkan semua gadget yang setiap hari dibawanya ke atas mini bar, ia lantas membuka kulkas dan mengambil satu botol air mineral.

Ponselnya yang ada di atas mini bar bergetar satu kali. Ada satu pesan lagi yang masuk. Sambil kembali meneguk minumannya, ia berjalan mendekati mini bar untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan.

Ha, satu pesan dari Park Yeon.

<Oppa, apa kau sudah tidur? Kenapa tidak membalas pesanku? Kau kan bisa membalas pesanku kalau kau belum tidur.>

Tersenyum geli karena membaca pesan Park Yeon, Zhoumi lantas membalas pesan tersebut. Matanya menatap jam digital yang ada di sudut atas layar ponselnya yang menunjukkan pukul 01.30. Apa yang wanita itu lakukan sampai-sampai belum tidur di jam-jam begini? Padahal setengah jam yang lalu ia bisa melihat dengan jelas ekspresi orang mengantuk hebat di wajah Park Yeon saat ia dan Moo Ryeong mengantarnya ke gedung apartemennya.

<Aku sudah tidur. Kenapa belum tidur? Cepat matikan lampunya agar kau bisa tidur. Besok jadwalmu masih padat, jadi jangan melakukan hal-hal aneh yang tidak berguna dan pergi tidur.>

Ia baru akan kembali meletakkan ponselnya saat benda tipis berwarna putih itu bergetar. Satu pesan balasan dari Park Yeon. Secepat itu?

<Dasar pembohong! Mana ada orang yang sudah tidur bisa membalas pesan?! Ya sudah. Sampai besok. Aku memang baru akan mematikan lampu kamar. Huh, manajerku sama sekali tidak kreatif saat dia ingin berbohong.>

Senyum geli Zhoumi perlahan memudar saat ia teringat sesuatu. Matanya memandang ponselnya untuk beberapa detik. Jarinya mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya dan kurang dari dua detik, artikel-artikel berita tentang Kyuhyun dan Park Yeon yang tertangkap kamera salah seorang penggemar sedang berciuman di sebuah restoran pinggir jalan.

Ada perasaan tidak suka yang merayapi benaknya. Semua ucapan Cherry, dan tindakan gila yang dilakukan Kyuhyun pada Park Yeon kembali membuatnya meradang. Meski ia tahu foto tersebut hanyalah sebuah gambar dari permainan terselubung aktor terkenal bernama Cho Kyuhyun, ia tetap suka. Padahal Park Yeon sudah menjelaskan padanya kenapa artikel seperti itu sampai bisa muncul.

Brak!

Tiba-tiba saja ia dikuasai emosinya sendiri dan langsung membanting botol air mineralnya yang sudah kosong ke arah tempat sampah di dekat kakinya begitu saja hingga terdengar suara yang cukup keras karena tempat sampah yang terbuat dari alumunium itu membentur lantai.

Beruntung, ia bisa dengan cepat mengendalikan diri. Diambilnya napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan sebelum memungut botol air mineral yang tergeletak di lantai dan mengembalikan posisi tempat sampahnya. Mungkin botol plastik dan tempat sampah itu hanyalah dua benda mati yang tidak akan mengeluh atau kesakitan meski diperlakukan seperti itu. Tapi bagi Zhoumi yang amat sangat jarang menunjukkan perilaku seperti itu, tetap saja merasa sangat menyesal. Andai otaknya sudah tidak normal, ia akan langsung membungkuk dan meminta maaf ratusan bahkan ribuan kali pada mereka.

“Astaga…,” keluhnya pelan.

oOo

Gaun tanpa lengan berwarna merah menyala yang begitu panjang hingga menyentuh lantai. Lipstik berwarna merah darah. Riasan mata yang tajam dengan eyeliner hitam. Rambut panjang yang digulung ke atas kepala dengan rapi namun masih menyisakan beberapa helai di dekat telinga. Aksesoris yang melekat di tubuh, tepatnya di telinga hanyalah sepasang anting mutiara kecil.

Ya, itulah penampilan Park Yeon siang ini di depan kamera milik Photographer terkenal, Kwon Yul untuk pengambilan beberapa foto majalah elit VVIP edisi spesial bulan depan. Well, ia tak sendirian berdiri menghadap cahaya lampu putih dan kamera. Ada Kyuhyun di sampingnya. Seniornya itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan motif rumit di bagian kerahnya yang didominasi warna merah bata. Potongan jas tersebut sangat pas dan terlihat sempurna di tubuh seniornya tersebut. Tatanan rambutnya juga rapi dan bergaya ala pria metroseksual—padahal aslinya seniornya itu memang seperti itu.

“Ya, lebih dekat lagi,” Photographer Kwon Yul memberikan intruksi pada dua artis terkenal tersebut agar menempel satu sama lain layaknya perangko dan amplop.

“Sepertinya Sunbae harus memeluk pinggangku lebih erat lagi,” bisik Park Yeon yang sudah mengalungkan salah satu tangannya ke belakang leher Kyuhyun. Ha, rupanya selain agar hasil foto yang akan diambil Photographer Kwon Yul terlihat sempurna, ia juga tidak ingin terjungkal ke belakang karena high heels berwarna hitam di kakinya membuatnya tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri. Lihat saja, betapa tingginya high heels tersebut.

“Sebentar.”

Kyuhyun menuruti kata Park Yeon. Dipeluknya pinggang ramping Park Yeon dengan satu tangannya. Praktis kini Park Yeon benar-benar menempel padanya.

Okay. Itu sempurna. Sekarang kalian tinggal berekspresi. Cobalah untuk berbicara satu sama lain agar mulut kalian terlihat terbuka secara alami dengan tetap membuat beberapa ekspresi seakan-akan kalian sedang dimabuk asmara,” ucap Photographer Kwon Yul yang sudah kembali siap dengan kameranya.

Intruksi macam apa itu?

Park Yeon dan Kyuhyun mulai membuat topik pembicaraan ringan. Sesekali mereka berdua terkekeh bersamaan, seolah apa yang sedang mereka bicarakan adalah sesuatu yang lucu. Salah satu tangan Kyuhyun yang bebas beberapa kali tampak terangkat menyentuh rahang Park Yeon sambil mendekatkan wajahnya. Park Yeon pun secara spontan memiringkan wajahnya sambil tersenyum manis. Suara jepretan kamera Photographer Kwon Yul terdengar beberapa kali, bersamaan dengan gerakan-gerakan alami yang dilakukan Park Yeon dan Kyuhyun.

Yup! Sempurna! Sempurna! Cho Kyuhyun-ssi, Song Park Yeon-ssi, kalian sempurna! VVIP edisi spesial akan terasa lebih elit dan lebih glamour dari sebelum-sebelumnya. Semua bahasa tubuh, gerak mata, chemistry kalian benar-benar luar biasa di depan kameraku. Aku sangat puas mengakhiri sesi pemotretan hari ini!”

Photographer Kwon Yul memuji Park Yeon dan Kyuhyun. Bahkan pria berdarah Korea-Amerika itu menyuruh staf yang ada di studio untuk memberikan tepuk tangan pada mereka berdua.

“Terima kasih. Ini juga berkat semua orang di sini yang sudah bekerja keras. Sekali lagi, terima kasih!” seru Park Yeon sambil membungkukkan badannya beberapa kali pada semua orang. Tentunya dengan salah satu tangan yang berpegangan pada lengan Kyuhyun agar ia tak terjatuh.

Kyuhyun baru akan menyuruh Park Yeon agar segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya itu ketika asistennya memanggilnya.

Hyung, ada telepon dari Sutradara Kim Joon!”

Kyuhyun lantas melepaskan tangan Park Yeon dari lengannya dan berlari kecil menghampiri asistennya tersebut. Park Yeon hanya bisa menggerutu dalam hati karena “tiang pegangannya” menghilang dari sampingnya.

Nah, sekarang apa yang harus Park Yeon lakukan? Park Yeon tak bisa menjamin bisa berdiri tegak di tempatnya berdiri satu menit lebih lama lagi. Bergerak sedikit saja, sudah bisa dipastikan ia akan terjungkal ke belakang atau terjerembab ke lantai yang ada di depannya. Tidak mungkin ia meminta staf studio untuk menolongnya. Mau ditaruh mana wajahnya? Aktris terkenal harusnya kan sudah bisa “berteman” dengan high heels setinggi apapun. Benar begitu, kan?

Park Yeon baru akan menoleh ke arah Zhoumi yang sejak tadi duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan agar membantunya ketika tiba-tiba sebuah tangan memeluk pinggangnya dengan pelan dan lembut. Tentu saja itu membuatnya terkejut dan hampir kehilangan keseimbangan kalau saja tangan tersebut tidak memeluk pinggangnya lebih erat lagi. Tak pelak, hal itu memaksa Park Yeon tersentak ke samping. Bahkan kepalanya harus terbentur dagu seseorang yang tiba-tiba memeluk pinggangnya seperti itu.

“Akh~” pekik Park Yeon pelan setelah merasakan kepalanya berkedut. Niatnya untuk memarahi orang tersebut mendadak menghilang begitu saja saat mengenali T-shirt hitam polos dan wangi parfum dari orang tersebut.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Zhoumi pelan.

Park Yeon mendongakkan kepalanya, memandang Zhoumi.

Oh tidak! Ini mirip! Posisi seperti ini. Tangan itu di pinggangnya. Dagu yang membuat kepalanya berkedut. Dan jarak yang sedekat ini. Ini… mirip dengan insiden memalukan di malam itu! Park Yeon masih tidak bisa melupakan insiden itu dari tiap detiknya.

“Antar aku ke sofa!” seru Park Yeon tiba-tiba ketika merasakan jantungnya berdebar-debar tanpa sebab. Namun, sesaat kemudian, suaranya melemah, “Sepatu ini mencoba membunuhku perlahan-lahan.”

Beberapa detik Zhoumi terlihat mengamati kaki Park Yeon sebelum menyuruh Park Yeon berpegangan pada bahunya agar ia bisa melepas kedua sepatu tersebut. Dengan hati-hati dilepasnya sepatu tersebut dan menyuruh Moo Ryeong untuk mengambil flat shoes milik Park Yeon.

“Kau lapar? Bagaimana kalau setelah ini kita makan dulu?” tanya Zhoumi sambil memberikan dua sepatu tinggi pada Park Yeon yang terlihat seperti baru saja kembali dari medan perang.

Park Yeon menggelengkan kepalanya. “Setelah ini kan aku harus langsung ke Acara Launching Jewelry House milik Seo Min Ah Sunbaenim. Tidak enak bila aku datang terlambat. Kudengar Hwang Gi Tae Sunbaenim mengajakmu makan malam nanti. Kita sama-sama sibuk kan?”

“Tapi dari tadi kau belum makan, Yeon-ah,” Zhoumi berusaha mengingatkan Park Yeon yang memang sejak pagi belum memasukkan makanan apapun selain satu biskuit gandum kecil yang akan dimakan Moo Ryeong di dalam van. Padahal bukan kebiasaan Park Yeon melewatkan jam-jam makan setiap hari. Bila waktunya sarapan, wanita itu akan memaksa meminta waktu untuk sarapan. Begitu juga dengan makan siang dan makan malam. Kalau salah satu jam-jam itu tidak terpenuhi, wanita itu akan menggerutu sepanjang hari dan melampiaskannya dengan porsi besar. Anehnya, hari ini ia tak mendengar keluhan sedikit pun dari bibir Park Yeon.

“Aku juga tidak akan mati bila hanya melewatkan jam makan sehari. Sudah ya. aku harus ganti pakaian dulu. Ah, aku hampir lupa. Oppa langsung saja pergi dengan Moo Ryeong. Aku akan pergi sendiri setelah ini.”

Hanya itu yang diucapkan Park Yeon sebelum berlari kecil sambil mengangkat ujung bawah gaun merahnya ke arah meja rias. Meninggalkan Zhoumi yang menghela napas pelan.

.

.

.

“Kalau high heels seperti ini, aku masih bisa menolerirnya,” gumam Park Yeon sambil menundukkan kepala, memandang sepasang high heels berwarna biru pastel dengan hiasan bunga kecil di bagian atas yang ada di kakinya. Membayangkan tinggi high heels yang dipakainya saat sesi pemotretan tadi kembali membuatnya bergidik ngeri. Yang ia tidak habis pikir adalah kenapa masih ada saja wanita-wanita yang memakai high heels setinggi itu.

“Ayo masuk.”

Park Yeon menegakkan kepalanya hanya untuk mendapati mobil beserta pemiliknya yang menyebalkan sudah ada di depannya. Decakan pelan lolos begitu saja dari bibirnya sebelum masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Tahu begini harusnya ia tidak mengiyakan ajakan orang ini untuk pergi ke acara yang akan dihadirinya. Ia juga tidak tahu kalau orang ini juga mendapatkan undangan untuk pergi ke sana.

“Permisi, kurasa ini bukan jalur ke sana. Sunbae mau menculikku ya?” ujar Park Yeon yang menyadari mobil Kyuhyun tak berada di jalur yang seharusnya mereka lalui untuk menuju ke Acara Launching Jewelry House milik Seo Min Ah, aktris veteran yang pernah bekerja sama dengannya di drama debutnya.

“Aku mau meminta pertolonganmu,” jawab Kyuhyun.

Park Yeon langsung menyilangkan kedua tangannya. Hanya melihatnya seperti itu saja, kita sudah bisa menebaknya.

“Ayolah. Aku benar-benar tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi.”

“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Sunbae kan punya banyak teman selebritis, sutradara, CEO agensi lain, atau mungkin bahkan satpam gedung hotel atau semacamnya. Kenapa harus aku?”

Kyuhyun tak langsung menjawab. Ia memilih untuk tetap mengendarai mobilnya ke sebuah tempat yang memang menjadi tujuannya “menculik” Park Yeon.

“Apa ini ada hubungannya dengan Cherry Eonnie?” tanya Park Yeon setelah Kyuhyun menepikan mobil di daerah yang cukup sepi dan minim penerangan.

“Jadi begini—“

“Aku menolaknya! Kalau kalian berdua ingin bertemu diam-diam karena alasan rindu lalu menggunakan diriku sebagai perisai Kapten Amerika kalian lagi, sudah jelas aku akan menolak. Titik!”

Park Yeon mencoba menegaskan kata-katanya agar Kyuhyun berhenti melakukan tindakan itu lagi. Seingatnya ia terpaksa menerjunkan diri ke dalam permainan ini hanya untuk membuktikan kepada Cherry kalau ia juga bisa berakting dengan baik dengan alami tanpa terlihat dibuat-buat sebagai kekasih Kyuhyun. Tapi hanya sebatas itu saja. Hanya sebatas menutupi hubungan mereka berdua di mata publik. Bukan untuk menjadi perisai di saat dua pasangan menyebalkan itu bertemu secara diam-diam dari media.

Baiklah. Tindakan licik perdana mereka berdua di restoran Jepang waktu itu memang di luar kendalinya. Saat itu ia tidak tahu apa-apa karena Kyuhyun mengajaknya begitu saja. Bahkan lucunya, semua seolah sudah terencana baik seperti ruangan di samping ruangan mereka berdua yang penuh dengan makanan lezat.

Nah, dan hukuman yang ia terima karena tidak bisa mengelak adalah diajak kabur bersama Jaebum di saat dirinya dalam keadaan menahan hasrat untuk buang air kecil.

Ah, ia kecolongan saat dirinya LAGI-LAGI dimanfaatkan mereka di gedung biskop. Andai saat itu tidak ada tiga reporter yang membuntuti mereka, ia pasti sudah melarikan diri.

Sudah cukup. Ia tidak bisa lagi harus seperti itu. Ia tahu terkadang ia memang seperti wanita bodoh yang tidak tahu apa-apa, tapi ia tidak sebodoh yang mereka pikir. Ia juga tidak mau terus-terusan melihat Zhoumi memandangnya dengan tatapan serius.

“Aku ingin membuat kejutan untuk Cherry,” ujar Kyuhyun dengan suara pelan.

“Belikan saja petasan yang banyak dan nyalakan semuanya di depannya. Cherry Eonnie PASTI akan terkejut,” sahut Cherry dengan ketus sedetik setelah Kyuhyun selesai berbicara.

“Park Yeon-ah, aku serius.”

Sunbae pikir aku tidak serius? Asal Sunbae tahu ya, dari kalian berdua yang sama-sama menyebalkan, sebenarnya aku sedikit lebih menghormati Cherry Eonnie daripada Sunbae. Sunbae tahu kenapa? Itu karena Cherry Eonnie tidak melakukan hal-hal aneh seperti Sunbae. Bahkan harus kuakui, ada beberapa poin yang bisa kupelajari dari dia meskipun terkadang dia terlalu ekstrim. Berbeda dengan Sunbae yang—“

“Ini untuk ulang tahun Cherry.”

Kedua alis mata Park Yeon terpaksa terangkat sempurna. “Hah?”

“Hari ulang tahunnya sehari sebelum drama baruku masuk proses syuting.”

“Lalu, apa hubungannya denganku? Aku harus berubah menjadi Sunbae di depan kru sementara Sunbae merayakan ulang tahun Cherry Eonnie, begitu? Atau, aku harus menjadi badut yang mengayuh sepeda roda satu sambil membunyikan terompet di dekat kalian? Atau, aku harus menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun di depan kalian? Atau, aku harus menjadi tempat lilin merah di tengah-tengah meja makan?”

Kyuhyun terpaksa mengernyitkan keningnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan wanita padanya. “Kau tidak bisa ya serius sedikit saja?”

“Aku hanya mencoba mengira-ngira. Bukankah semua itu ada di dalam kepala Sunbae?”

Baiklah. Bila salah satu tidak ada yang mengalah, mungkin suasana di dalam mobil akan mulai memanas. Dan yang pasti bukan Park Yeon yang akan mengalah karena…… itu tidak akan pernah mungkin terjadi.

“Aku ingin kau membantuku memberikan ide makan malam seperti apa yang pas untuk Cherry.”

Pada akhirnya Kyuhyunlah yang mengalah meski di dalam hati benar-benar menahan semua emosinya. Ini adalah situasi genting yang tidak bisa ia atasi sendiri. Dan untuk saat ini, satu-satunya yang bisa membantunya adalah Park Yeon. Semoga saja begitu.

“Aku tidak tahu harus membuat acara makan malam seperti apa untuk ulang tahunnya. Tahun lalu saja aku gagal melakukan ini karena aku bingung. Semua konsep makan malam romantis yang ada di beberapa restoran tidak ada yang menarik,” lanjut Kyuhyun sungguh-sungguh.

Helaan napas lolos dari mulut Park Yeon.

“Tinggal belikan barang kesukaannya saja. Beres kan?,” sahut Park Yeon dengan malas.

“Dia bukan tipe wanita yang suka diberi hadiah seperti itu.”

Sejenak Park Yeon terdiam. Matanya menatap lurus ke arah Kyuhyun, seolah ia sedang melakukan penelitian terhadap bentuk wajah seniornya tersebut.

Kyuhyun yang menyadari Park Yeon menatapnya dengan ekspresi aneh langsung berkata, “Kenapa memandangiku seperti itu?”

“Wah, jadi… jadi benar kalau Sunbae bukan orang yang romantis. Ckckck… aku tidak tahu apakah Cherry Eonnie beruntung atau rugi berkencan denganmu. Bagaimana bisa ada pria yang tidak peka dengan kekasihnya sendiri?” Park Yeon menyibak poni rambutnya sebelum menunjuk sebuah bangunan seperti villa kecil yang ada di samping mobil Kyuhyun. Ia merasa pernah melihat bangunan itu, hanya saja ia lupa kapan dan di mana. “Lalu, kenapa Sunbae mengajakku kemari? Setengah jam lagi aku harus menghadiri acara Seo Min Ah Sunbaenim.”

Sebelum menjawab, Kyuhyun mengajak Park Yeon keluar dari mobil. Bahkan ia juga tak kunjung membuka mulut ketika mereka berjalan masuk ke area depan bangunan kecil itu.

Sunbae,” Park Yeon terpaksa memanggil Kyuhyun tetap saja menutup mulut rapat-rapat. Selanjutnya, ia dibuat terheran-heran ketika melihat Kyuhyun membuka pintu bangunan tersebut dengan sangat pelan seperti pencuri. “Sebenarnya apa yang Sunbae lakukan?”

“Ini adalah villa yang mempertemukan kami berdua dua tahun lalu,” ucap Kyuhyun sesaat setelah mereka berdua di dalam villa yang gelap.

Ah, iya! Park Yeon baru ingat sekarang. Villa ini menjadi lokasi syuting drama dua seniornya itu dua tahun lalu. Bahkan ia juga masih ingat bagaimana hebohnya ibunya tiap kali drama itu ditayangkan di televisi. Menyebalkan sekali!

“Aku ingin membuat acara makan malam yang… baiklah, sebut saja… acara makan malam romantis seperti katamu tadi. Aku ingin memberikan kejutan makan malam untuknya. Di sini. Hanya kami berdua.”

Lampu gantung indah berwarna putih menyala setelah Kyuhyun menekan saklar lampu yang ada di dekatnya. Untuk beberapa detik Park Yeon dibuat takjub dengan bentuk lampu dan interior ruangan yang masih sama seperti dua tahun lalu.

“Maaf, tapi kurasa Sunbae suka mempersulit diri sendiri. Ya, aku tahu Sunbae tidak romantis. Tapi sekalinya mencoba romantis, semua yang mudah akan Sunbae buat sulit,” cibir Park Yeon.

“Makan malam seperti apa yang diinginkan wanita seperti Cherry? Kau kan wanita dan akhir-akhir juga terlihat lebih akrab dan dekat dengannya. Paling tidak kau pasti tahu tipe seperti apa dia itu,” Kyuhyun berbicara sambil duduk di tepi meja ukir yang ada di belakangnya.

Permisi, kau yakin kalian sudah berkencan satu tahun ini? Bagaimana bisa kau tidak tahu tipe seperti apa kekasihmu sendiri? Rupanya seniorku yang tampan ini memiliki paket ketololan yang sempurna. Tidak bisa memasang sabuk pengaman dengan benar, suka berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, tidak romantis, tidak peka dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan mungkin bisa disebut terlalu polos. Tapi, sepertinya sebutan ‘polos’ itu terlalu baik. yaa… setidaknya kau bisa kuandalkan sebagai ‘guru’ saat aku membutuhkan penjelasan mengenai ilmu akting.

Sunbae, sebenarnya wanita itu….”

Park Yeon yang akhirnya mau sedikit membantu Kyuhyun terpaksa menoleh ke arah pintu utama villa ketika terdengar suara deru mobil yang mendekat ke area halaman villa. Dengan cepat Kyuhyun mematikan lampu ruangan tersebut yang akhirnya membuat keadaan di dalam villa kembali gelap.

Sunbae… siapa…”

“Ssst….”

Kyuhyun menyuruh Park Yeon diam sementara ia berjalan pelan mendekat ke arah pintu utama yang terbuat dari kaca untuk melihat siapa yang datang ke tempat ini malam-malam begini. Seingatnya ia tidak mengundang siapapun kemari. Manajernya dan asistennya juga tidak tahu.

Kening Kyuhyun berkerut saat sesosok pria tambun keluar dari mobil berwarna putih itu. Sorot lampu jalan yang sampai di area halaman villa tersebut membantunya mencoba mengenali siapa pria tambun tersebut.

“Reporter Yoon?” gumam Kyuhyun pelan setelah merasa tak asing dengan pria tambun tersebut.

Park Yeon yang mendengar gumaman Kyuhyun lantas ikut melihat ke arah area halaman. Reporter Yoon? Apa maksudnya adalah Yoon Shi Woo, reporter nyentrik yang terkenal dengan kepiawaiannya membuntuti para selebritis yang sedang tersandung skandal negatif? Seingatnya, artikel terakhir yang ditulis reporter super berani itu adalah mengenai rumor kehamilan salah satu member girlband yang tidak terlalu terkenal. Hanya gara-gara dia yang menulis berita itu, akhirnya rumor tersebut semakin meluas dan banyak orang yang menghujat “korban” pemberitaannya. Padahal rumor itu belum ada kejelasannya.

Oh, satu lagi. Beberapa artikel yang memberitakan skandal Kyuhyun dengan Cherry beberapa waktu lalu juga dimulai dari artikelnya yang menyebutkan bahwa Cherry sengaja berkencan dengan Kyuhyun demi popularitas saja, lalu Cherry yang hamil di luar nikah, lalu Cherry yang mengaku berkencan dengan Kyuhyun hanya untuk sensasi saja. Hebat sekali. Tak ada satu pun dari artikel-artikel tersebut yang bisa dibuktikan, tapi publik masih saja denga mudah termakan oleh artikel-artikel semacam itu.

“Apa yang dilakukan orang gila itu di sini?” desis Kyuhyun.

Dengan sangat jelas, Park Yeon bisa melihat ekspresi kesal di wajah Kyuhyun meski keadaan di dalam villa cukup gelap. Ah, tidak salah sih kalau seniornya itu juga tidak suka dengan reporter itu. Walaupun tidak terlalu suka pada Cherry karena “permainan” yang terjadi di antara mereka, ia tetap merasa benci bila ada reporter yang memuat berita tidak bertanggung jawab untuk menyudutkan Cherry seperti itu hanya karena Cherry dijuluki Queen of Scandals. Dirinya yang bukan siapa-siapa Cherry saja bisa sekesal ini, apalagi Kyuhyun yang jelas-jelas adalah kekasih Cherry. Ia yakin, rasa kesal yang dimiliki Kyuhyun jauh lebih besar darinya.

“Park Yeon-ah, aku akan membawa orang gila itu pergi dari sini. Jadi, kau tunggu di sini saja. Kalau sampai orang gila itu tahu aku kemari bersamamu, maka rencanaku ini akan gagal. Kau mengerti, kan?” ucap Kyuhyun dengan nada berbisik.

“Kalau perlu, sekalian buang ke Sungai Han juga,” jawab Park Yeon sambil berjalan menjauh dari pintu. Ya, mungkin itu saran yang tepat. Ia juga tidak mau menjadi korban berita aneh reporter itu. Semua berita yang memuat skandalnya dengan Kyuhyun sudah cukup membuatnya sakit kepala. Ia tidak mau sampai harus memenggal kepalanya sendiri hanya karena memikirkan berita-berita negatif tentang dirinya yang dibuat reporter itu.

Terdengar dengusan dari Kyuhyun sebelum membuka pintu kaca.

Sunbae, jangan lama-lama. Kalau sampai aku mati ketakutan di sini hanya karena diganggu hantu-hantu yang ada di tempat ini, Sunbaelah orang pertama yang akan kuhantui,” bisik Park Yeon.

Tak ada jawaban dari Kyuhyun karena seniornya tersebut sudah lebih dulu menutup pintu. dilihatnya Reporter Yoon langsung menyapa Kyuhyun dengan santai, seakan sudah menduga mangsanya memang ada di dalam bangunan ini.

Yaa, kenapa mereka masuk ke dalam mobil? Apa dia benar-benar berniat membunuh orang itu?”

Park Yeon semakin dibuat penasaran karena setelah hampir lima belas menit dua orang pria tersebut berbincang-bincang di depan sana, mereka justru masuk ke dalam mobil putih yang ada di halaman.

Ha, bahkan kini mesin mobil itu menyala.

Tunggu. Apa? Mobil itu bergerak mundur ke arah jalan? Hei, permisi, halo!

“Apa-apaan ini?”

Tangan Park Yeon terulur ke arah knop pintu. Akan tetapi, yang membuatnya mengernyitkan keningnya adalah pintu tersebut tak bisa ia buka. Padahal ia melihat dengan jelas Kyuhyun hanya menutup pintu tersebut begitu saja tanpa menguncinya. Di pintu bagian luar juga tidak terlihat kunci yang menggantung.

Celaka!

Apakah ia terkunci di dalam bangunan villa yang gelap ini? Well, ia bisa saja sih menyalakan lampu yang tadi. Tapi, bagaimana kalau ada orang yang melihatnya? Bisa-bisa terjadi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Diambilnya ponselnya yang ada di dalam tasnya dan bermaksud menghubungi Kyuhyun.

Drrrt… drrrt… drrrt…

Kepala Park Yeon seketika menoleh ke arah meja berukir yang tadi diduduki seniornya. Ah, sial! Di atas sana ada sebuah ponsel tipis berwarna hitam yang sedang bergetar tidak menentu.

“Dasar Senior Bodoh. Bagaimana bisa dia meninggalkan ponselnya di sini?! Astaga… hari ini aku benar-benar sial.”

Park Yeon menggerutu setelah menyadari Kyuhyun lupa membawa ponselnya. Kalau sudah begini, bagaimana lagi? Maksudnya, bagaimana caranya ia bisa keluar dari sini? Bagaimana kalau benar-benar ada hantu di tempat ini dan sudah bersiap-siap di atas sana untuk mengganggunya?

“Zhoumi Oppa.”

Dicobanya untuk menghubungi manajernya tersebut. Akan tetapi, tampaknya manajernya tersebut sedang sibuk atau semacamnya karena tak kunjung menerima telepon darinya. Sekali lagi ia coba menghubungi Zhoumi, tapi lagi-lagi hasilnya nihil.

“Mungkin dia akan kembali setelah benar-benar membuang reporter gila itu ke Sungai Han. Baiklah. Kita tunggu saja di sini.”

Akhirnya ia putuskan untuk menunggu Kyuhyun kembali ke villa sambil berbaring di salah satu kursi tamu berukir dan berharga mahal di dekatnya sambil mencoba memainkan salah satu game di ponselnya.

Setengah jam…

Satu jam…

Satu jam berlalu, tapi sosok Kyuhyun belum terlihat di depan villa. Kesabaran Park Yeon masih ada meski sudah berkurang lebih dari 50%. Yang membuatnya semakin kesal adalah ia sudah benar-benar terlambat untuk menghadiri acara Seo Min Ah. Dan ini gara-gara Kyuhyun dan kebingungannya untuk memberi kejutan pada Cherry.

Alasan yang sama sekali tidak masuk akal.

Sambil mencoba berjalan-jalan di dekat pintu, tangan Park Yeon sesekali terlihat menyentuh perutnya. Matanya mengamati setiap sudut ruangan di tempat ini yang masih ia bisa jangkau meski dalam keadaan gelap. Karena kebosanannya, semua keindahan bentuk interior villa tersebut sama sekali tak membuatnya tertarik.

Satu setengah jam…

Dua jam…

Park Yeon yang sudah kembali duduk di atas kursi langsung menghela napas dengan kencang. Ini sudah benar-benar keterlaluan. Apakah seniornya itu lupa kalau dia meninggalkan “Perisai Kapten Amerika”-nya di tempat ini sendirian?

“Akh~”

Tiba-tiba Park Yeon dibuat mengerang kesakitan saat perutnya terasa kram. Berulangkali ia menghembuskan napas secara pelan-pelan agar rasa sakit di perutnya sedikit berkurang, tapi tetap saja rasa sakit itu menyerangnya. Bahkan semakin lama rasanya semakin hebat saja.

“Ini apa lagi coba?” keluhnya sambil berusaha menggapai ponselnya yang ada di atas meja. Tangannya baru akan menyentuh ujung ponselnya ketika benda tipis tersebut sudah lebih dulu bergetar. Ada seseorang yang berusaha menghubunginya.

Akhirnya.

Nama Zhoumi tertera di layar ponselnya. Perasaan lega memenuhi hati Park Yeon.

O-oppa.”

[Yeon-ah, apa kau tadi menelponku beberapa kali? Ada apa?]

Rasa sakit yang sudah melilit perut membuat Park Yeon kesulitan untuk berbicara. Dan itu sudah cukup untuk Zhoumi mengulangi pertanyannya dengan nada bicara yang terdengar panik.

O-oppa, i-ini…… sa-sakit sekali… akh~”

Park Yeon kembali mengerang kesakitan. Bahkan kini ponselnya yang ia coba tempelkan di telinganya terpaksa meluncur ke atas sofa begitu saja karena tangannya terasa lemas.

[Yeon-ah? Yeon-ah? Apa yang terjadi? Song Park Yeon? Kau ada di mana sekarang? Yeon-ah]

Panggilan Zhoumi sudah tak bisa didengar Park Yeon yang mulai kehilangan kesadaran karena tak kuat menahan rasa sakit di perutnya.

.

.

.

[O-oppa.]

Zhoumi terpaksa mengernyitkan keningnya saat suara Park Yeon terdengar sangat lirih sesaat setelah ia berhasil menghubungi Park Yeon. “Yeon-ah, apa kau tadi menelponku beberapa kali? Ada apa?”

Tak ada jawaban dari Park Yeon. Yang ia dengar hanyalah suara deru napas yang terputus-putus.

“Park Yeon? Apa yang terjadi? Kau tadi yang menelponku beberapa kali, kan?” Zhoumi terpaksa mengulangi pertanyaannya karena suara Park Yeon tak terdengar.

[O-oppa, i-ini…… sa-sakit sekali… akh~]

Seketika Zhoumi terkejut mendengar Park Yeon merintih kesakitan. Ia berusaha memanggil Park Yeon, tapi tak ada respon.

“Yeon-ah? Yeon-ah? Apa yang terjadi? Song Park Yeon? Kau ada di mana sekarang? Yeon-ah?”

Aktor sekaligus Penyiar radio Hwang Gi Tae langsung memandang Zhoumi setelah mendengar suara Zhoumi sedikit meninggi.

“Apa terjadi sesuatu dengan Park Yeon?” tanya Hwang Gi Tae dengan suara seraknya.

Zhoumi menurunkan ponselnya dari telinganya dan tampak terdiam. Tanpa harus berpikir keras pun ia merasa sesuatu memang sedang terjadi dengan Park Yeon. Ditambah wanita itu terdengar sedang merintih kesakitan. Apakah Park Yeon terjatuh atau bagaimana?

“Eee… Sunbaenim, sepertinya saya harus pergi dulu. Maaf, saya tidak bisa…”

Hwang Gi Tae mengibas-ngibaskan tangannya pelan ke arah Zhoumi. “Tidak apa-apa. Pergilah. Kita bisa makan malam lain waktu. Toh, makanan yang sejak tadi kita makan juga tinggal sedikit.”

Setelah meminta maaf dan berterima kasih pada Hwang Gi Tae, Zhoumi lantas bangkit dari kursinya sambil mengambil jaket dan ponselnya. Sambil sedikit berlari kecil, ia menghampiri Moo Ryeong yang makan sendirian di salah satu meja pengunjung restoran dekat pintu masuk restoran dan mengajaknya untuk segera pergi.

“Memangnya ada apa, Hyung? Aku belum menghabiskan makanan penutupku tadi.” Moo Ryeong tampak sedikit kesal meski ia ikut berlari kecil mengikuti Zhoumi ke arah mobil van hitam yang ada di area parkir.

Alih-alih menjawab pertanyaan Moo Ryeong, Zhoumi justru menyuruh pemuda kurus tersebut agar segera masuk ke dalam mobil.

Hyung!” Moo Ryeong terpaksa memanggil Zhoumi dengan nada bicara yang sedikit meninggi karena kesal pertanyaannya tak mendapatkan jawaban apapun.

“Terjadi sesuatu pada Park Yeon dan kita harus segera menemuinya,” akhirnya Zhoumi menjawab setelah memasang sabuk pengaman.

“Apa? Terjadi sesuatu pada Park Yeon Noona? Lalu di mana sekarang dia? Bukankah tadi dia bilang dia akan pergi ke acara Aktris Seo Min Ah?” Moo Ryeong tampak sangat terkejut.

“Aku juga belum tahu di mana dia. Aku tidak bisa menghubungi ponselnya dan…, “Zhoumi memberi jeda pada kata-katanya ketika teringat sesuatu. Buru-buru diambilnya kembali ponselnya yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya. “Sebentar. Kita pergi ke……… Nowon.”

“Nowon? Acara Seo Min Ah kan ada di Gangnam dan—“ Moo Ryeong terpaksa menggantungkan bantahannya saat Zhoumi menunjukkan layar ponsel yang menampilkan sebuah peta. Ada titik berwarna merah yang berpendar-pendar di salah satu bagian di dalam peta tersebut. “Kebiasaan Noona membiarkan GPS di ponselnya aktif?”

Zhoumi mengangguk pelan, membenarkan ucapan pemuda kurus tersebut. Ya, itulah yang membuatnya yakin Park Yeon ada di sana. Yang harus ia lakukan saat ini adalah menemukan Park Yeon secepatnya karena suara rintihan Park Yeon membuatnya tak bisa tenang. Ia takut terjadi apa-apa pada wanita itu.

oOo

an hour later at Seoul Hospital

Sebuah mobil mewah berhenti di dekat deretan mobil yang ada di area parkir rumah sakit. Sosok Cherry keluar dari mobil tersebut sambil menutupi sebagian wajahnya dengan syal tebal yang melilit lehernya. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai, bahkan terlihat tidak terlalu dirapikan. Pakainnya pun biasa. Hanya celana jeans dan kemeja putih yang ditutupi mantel panjang berwarna coklat tua. Langkahnya terlihat tergesa-gesa saat memasuki rumah sakit.

Lima belas menit yang lalu ia mendapat kabar dari Zhoumi kalau Park Yeon dilarikan ke rumah sakit ini setelah ditemukan tak sadarkan diri di villa yang dua tahun pernah menjadi lokasi syuting dramanya bersama Kyuhyun. Untungnya, kabar buruk ini belum sampai di telinga siapapun kecuali dirinya. Bahkan pihak Max Ent. Pun belum mengetahui kabar ini. Sepertinya setelah membawa Park Yeon kemari, Zhoumi langsung menghubunginya.

Bila dilihat dari ekspresi wajahnya sekarang, dengan jelas kita bisa bilang kalau Cherry sedang marah. Marah karena Park Yeon masuk rumah sakit? Tentu saja tidak. Ia marah karena ponsel Kyuhyun ada di dekat Park Yeon. Itu artinya sebelum ditemukan pingsan, Park Yeon bersama kekasihnya itu.

Apakah Cherry cemburu?

Tidak. Cherry bisa saja merasa cemburu, tapi saat ini yang ada di kepalanya adalah kemarahannya pada Kyuhyun yang bisa-bisanya membiarkan Park Yeon sendirian di villa kosong hingga pingsan.

Langkahnya semakin cepat ketika melihat sosok Zhoumi yang berdiri di depan salah satu ruang rawat inap VIP.

“Zhoumi-ssi, bagaimana keadaan Park Yeon?” tanya Cherry dengan napas yang sedikit terengah-engah.

Tatapan mata Zhoumi begitu tajam ke arah Cherry. “Lambungnya bermasalah karena terlambat makan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kondisinya sudah mulai membaik setelah dokter memberinya obat. Sekarang dia sedang istirahat.”

Cherry menghela napas lega.

“Yang ingin kutanyakan padamu sekarang adalah kenapa ponsel kekasihmu ada bersamanya. Tiga jam yang lalu dia pamit pergi ke acara Seo Min Ah yang diadakan di salah satu hotel yang ada di Gangnam, tapi kenapa aku menemukannya pingsan di Nowon? Apakah Kyuhyun mengajaknya ke sana lalu meninggalkannya sendirian? Andai aku terlambat menemukannya, mungkin kondisinya akan lebih buruk dari ini.” Nada bicara Zhoumi begitu pelan dan sangat serius, seakan ia berusaha untuk tidak berteriak karena ia tahu sedang berada di mana dia sekarang.

Baiklah. Pertanyaan yang sama juga ada di benak Cherry yang tidak habis pikir dengan kejadian ini. Ketika perjalanan menuju ke rumah sakit, Kyuhyun menghubunginya dengan menggunakan ponsel orang lain. Sebenarnya ia ingin penjelasan dari Kyuhyun saat itu juga. Tapi karena ia harus melihat kondisi Park Yeon, akhirnya ia mengurungkan niatnya dan menyuruh Kyuhyun untuk datang ke rumah sakit terlebih dahulu.

“Apa ini rencana kalian berdua?”

Cherry terpaksa mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Zhoumi.

“Ini bukan pertama kalinya kalian memanfaatkan Park Yeon untuk kepentingan kalian berdua. Tapi kali ini kalian benar-benar keterlaluan,” tuduh Zhoumi.

Cherry baru akan membantah tuduhan Zhoumi ketika terdengar derap langkah seseorang dari arah belakang tubuhnya.

“Chae Ri-ya, kenapa kau menyuruhku datang kemari?”

Sosok Kyuhyun yang mengenakan topi hitam dan sebuah masker hitam di salah satu tangannya tampak berjalan cepat ke arah Cherry..

Zhoumi mendadak tak bisa mengendalikan emosinya setelah melihat Kyuhyun. Ia langsung menghampiri Kyuhyun dan…

Bugh!

Kyuhyun terhuyung dan hampir menabrak bangku panjang yang ada di dekatnya setelah Zhoumi melayangkan pukulan ke wajahnya.

To be continued

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

41 Comments

  1. tyand

     /  April 18, 2016

    Masihbanyak teka tekinya dan masih mengira ngira ini dan itu
    d ttunggukelamjutannya eonn

    Reply
  2. Monika sbr

     /  April 18, 2016

    Baguslah kalo Zoumi sampai mukulin kyu sampai kayak gitu, emang kyuhyun udah keterlaluan sih ninggalin park yeon sendirian di villa tersebut. Bener2 bikin kesala…..

    Reply
  3. Kyupit

     /  April 18, 2016

    Kyuhyun kamvret bisa bisanya dia lupa ama parkyeon ditinggal di villa sendiri gx berperasaan bgt awal2 part gw benci cherry karna kelakuanya yg sok senior dan memanfaatkan parkyeon tp ternyata kelakuan kyuhyun lebih parah apalagi ketika kyu menunjukan rasa cintanya untuk cherry gw bingung parkyeon nantinya bakal sama kyuhyun/zhoumi gw liat zhoumi mulai ada rasa sama parkyeon

    Reply
  4. Lyla

     /  April 18, 2016

    Akhirnya kyuhyun dapet pelajaran yg berharga dari zhoumi juga

    Aku bener” kasian sama yeoun

    Reply
  5. candy lee

     /  April 18, 2016

    Thoooorrrr plisss yyy tar akhirnya park yeon ama kyuhyunnnnn plisssss,, rasanya ga rela klo ama zhomii huhuh

    Reply
  6. YessyAzlia

     /  April 18, 2016

    Aaaaa, tonjok yang kenceng zhoumi oppa!! kyuhyun-ssi bener2 punya paket ketololan yang amat teramat sempurna.. Daebak!!
    Siksa aja kak si kyukyu, biar ngerasa bersalah sama park yeon kita (ntah kenapa, park yeon serasa punya aku) hahhahahha
    Seenaknya aja senior kita satu ini… Demi apapun cho kyuhyun bener2 nyebelin, ckckckck

    Reply
  7. Sarti prihatin

     /  April 18, 2016

    Park yeon yang malang sampai kapan harus melakukan sandiwara yang diatur oleh Kyu dan chery. Untunglah dia punya manager yang begitu baik dan perhatian terhadap dia. Bagaimana kalau zhoumi terlambat menolong nya? Bagus cuma bogem coba kalau zhoumi membongkar kedoknya kyu chery bisa hancur karir mereka. Berharap Park yeon dan zhoumi bisa bersama.

    Reply
  8. Hima

     /  April 18, 2016

    Miris melihat park yeon

    Reply
  9. Hima

     /  April 18, 2016

    Miris melihat park yeon

    Mengapa kyuhyun tidak kembali ke villa?
    Apa terjadi sesuatu?atau dia terlupa dengan park yeon?

    Ada apa pula dengan Zhoumi?

    Masih teka teki.
    Ditunggu kelanjutannya ka.
    Semangat!!

    Reply
  10. rianti

     /  April 18, 2016

    demi apa suka bgt krkter zoumi disini manager plus bgt.
    kesel ni ama si kyu ampe bkn park yeon pingsan gtu… hah kykny zoumi rda misterius jg.

    Reply
  11. Ihhh…. Kyuhyunnn menyebalkannn!!!
    Aku agak suka karakter chery yg masih peduli sihh… Tp disini Kyuhyun yg sepertinya masa bodo dg posisi park yeon…

    Zhoumi emosi tuhhh… Udahhh park yeon menjauh aja gih dari pasangan kyuhyun-chery… Kasihan kalau jadi tameng mulu -_-

    Reply
  12. uchie vitria

     /  April 18, 2016

    abang zhoumi mulai emosi ayolah hentikan sandiwara memuakkan itu kasian park yeon
    bener” bodoh nich gadis ssatu ini
    masih aja mau”ya menyibukkan diri dengan pasangan memuakkan kyuhyun dan cherry
    berharap scandal kyuhyun daa cherry segera terbongkar
    ada rahasia apa sich dalam diri zhoumi kayaknya misterius banget gitu

    Reply
  13. Ghanis18

     /  April 19, 2016

    Emang kyu harus d kasih pelajaran deh…
    Ini park yeon sama zhoumi saling suka? Mending gitu aja drpd cuma jd kapten amerika nya kyu n chery

    Reply
  14. ellalibra

     /  April 19, 2016

    Kynya mulai ada konflik nie tmbh seru …. Dtunggu neeext eon fighting

    Reply
  15. ana

     /  April 19, 2016

    Kyu oppa tga bget nggalin park yeon sndri.. zhoumi oppa klo kmu mmang cnta sm park yeon jgan diem aja.. dtggu ya chap slnjutnya

    Reply
  16. lisa

     /  April 19, 2016

    Wach zhoumi oppa saranghae, aq dukung atau mau tak bantuin pukulin kyunyun sampai mampus. Kesel banget ma couple kampret nich. Ayw nich kpn kebusukan mereka terungkap biar masyarakat thu betapa busuknya perilaku idola mereka yg licik n egois.
    Park yeon ma zhoumi oppa ae💜

    Reply
  17. Sung hye jin

     /  April 19, 2016

    Aigoo cerita makin seru , ah park yeon kau hanya di jadikan tumbal oleh merka berdua , dan pd akhir smoga ga terjadi hal buruk terhadap yeon , di tunggu kelanjutan nya ya 😉

    Reply
  18. Kyu Kyu

     /  April 19, 2016

    Huaaaaa #HappyZhoumiDay
    hehehe … 😀
    kyuhyun gila benar benar gila mementingkan dirinya sendiri , terus ninggalin park yeon sendiri lagi

    sepertinya beli ada rasa di antara park yeon sama kyuhyun

    konfliknya tambah lagi author seru “satu aja belum kelar mau nambah lagi 😀 “

    Reply
  19. watiD'Elf

     /  April 19, 2016

    akhirnya dipost juga
    sumpah aku penasaran banget ama siapa sebenernya zhoumi oppa..
    apakah zhoumi oppa sebenernya suka ama park yon??
    masih banyak teka-teki
    ditunggu kelanjutannya ya eon 😉

    Reply
  20. Kang Sora

     /  April 21, 2016

    Emngnya apa kyuhyun gk sdar ninggalin d villa
    Bnet” deh ya pdhal gra” kyuhyun yg mau buat kejutan iya mlah jdi petaka

    Reply
  21. puput

     /  May 3, 2016

    Ceritanya benar2 penuh teka teki..
    Tp entah knp tetap berharap kyuhyun akhirnya sama park yeon.. Hohohoho
    Lanjutannya di tunggu teman

    Reply
  22. Goldilocks_

     /  June 22, 2016

    Haiiish lagian Kyuhyun kenapa juga sih ninggalin Park Yeon di villa ampe selama itu? Emang segenting itukah urusannya sama si wartawan gila itu?
    Bahh.. rasain juga kan pukulan Zhoumi? Ngeselin siih~

    Ngomong-ngomong soal Zhoumi, aku rasa Cherry tau tentang dia. Wah.. mencurigakan. Apalagi tadi pas pendeskripsian apartemen dia yang terkesan wow. Aaaah kepo ><

    Reply
  23. KenP dari part 1 sampai part 7 ko aku belum dapat alur cerita x sunpah ni ff bikin aku penasaran z

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: