VENUS [Part 11]


VENUS 3

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

Flashback… October 22nd, 2008 – 02.00 KST

Heechul keluar dari kantor A-Team untuk mengejar Jongwoon yang lebih dulu keluar. Sambil berlari kecil ia memanggil sahabat sekaligus rekan satu timnya tersebut.

“Kau mau ke mana?” tanya Heechul sambil merangkul bahu Jongwoon.

“Membeli kopi di minimarket depan,” jawab Jongwoon malas, tangannya menepis tangan Heechul yang ada di bahunya.

“Kopi? Bukankah kau tadi baru saja menggiling kopi sendiri?”

Jongwoon memberikan ekspresi datar pada Heechul. “Aku sedang tidak selera menyeduh kopi hasil gilinganku sendiri karena—“

“Karena kau satu-satunya manusia di gedung ini yang tidak becus membuat kopi sendiri. Semua kopi yang kau buat, termasuk kopi bubuk instan, akan terasa aneh. Apa aku benar?” Heechul menaik-turunkan kedua alisnya. Senyumnya kian melebar setelah mendapati raut wajah kesal Jongwoon mulai terbentuk.

“Tenang saja. Hyung akan mentraktirmu kopi malam ini… bukan, tepatnya, lewat tengah malam ini. Kau juga mau beberapa makanan ringan?”Heechul kembali merangkulkan lengannya pada bahu Jongwoon.

Jongwoon hanya berdecak pelan sambil menepis tangan Heechul dari bahunya. Saat ini ia sedang tidak selera berbincang-bincang entah itu ringan ataupun serius karena ia benar-benar lelah. Sebenarnya bukan hanya dirinya saja yang lelah. Heechul yang sedang berjalan bersama dengannya juga merasakan hal yang sama. Begitu juga dengan anggota A-Team lainnya.

“Aku yakin, nanti pagi semua orang di gedung ini pasti akan membicarakan kasus yang berhasil kita tangani barusan. Haaah, kasus pembunuhan gadis 17 tahun bernama Jenny yang misterius akhirnya bisa kita selesaikan. Pelaku sudah kita tangkap, semua barang bukti sudah kita kumpulkan. Kita tinggal menyerahkannya pada Kejaksaan dan diadili. Setelah itu… Bang! Penjara siap menantinya,” Heechul membicarakan soal kasus yang berhasil diselesaikan A-Team. Ekspresi puas dan lega tidak bisa ia hilangkan sejak mereka berhasil menangkap pelaku pembunuhan satu jam lalu.

“Semakin lama rasanya A-Team seperti pusat perhatian,” sahut Jongwoon yang kemudian berhenti di depan lift. Tangannya menekan salah satu tombol yang ada di dekat pintu lift.

“Itu karena tim kita kuat, Kim Jongwoon. Bandingkan saja dengan tim lain yang rata-rata…,” Heechul menghentikan ucapannya ketika teringat sesuatu. Decakan pelan lolos dari bibirnya.

“Kenapa?” tanya Jongwoon yang melihat perubahan wajah Heechul.

“Apa kau juga belum bisa menghubungi Hankyung?”

“Hankyung Hyung? Belum.”

“Sebenarnya pergi ke mana dia dua minggu ini? Belakangan ini kantor timnya hanya berisi ketua tim dan dua rekan timnya.”

Jongwoon menatap Heechul untuk beberapa detik. Ia tak perlu berpikir keras untuk mengerti kenapa Heechul bisa sekesal ini hanya karena Hankyung sulit mereka temui. Semenjak ia dan Heechul dimasukkan ke dalam A-Team, sedangkan Hankyung dimasukkan ke dalam tim lain, komunikasi mereka bertiga jadi berkurang. Tidak. Mungkin lebih tepatnya… hanya Hankyung yang sulit mereka hubungi. Jangankan bertemu di markas, menghubunginya melalui telepon saja sudah sangat sulit.

“Kudengar kasus penjualan ginjal ilegal yang ditangani D-Team belum juga sampai setengah jalan sejak enam bulan lalu. Aku yakin, Ketua Ahn pasti marah besar. Padahal tim lain tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu kasus semacam itu,” ujar Jongwoon yang kemudian masuk ke dalam lift dan diikuti oleh Heechul.

“Ketua Ahn? Maksudmu Si Ahn Ki Soo Gila yang suka marah-marah tidak jelas itu? Huh, kurasa dia bisanya hanya memarahi bawahannya tanpa memakai otaknya dulu,” sergah Heechul ketus setelah mendengar nama Ketua Ahn keluar dari mulut Jongwoon.

“Meski mungkin memang tidak pernah memakai otaknya dulu untuk memarahi kita, tetap saja namanya akan menjadi kandidat utama untuk posisi Komisaris Unit kita beberapa tahun lagi.”

Heechul memutar bola matanya jengah. Baiklah, ia juga harus mengakui kalau atasannya tersebut beberapa tahun lagi sudah bisa dipastikan akan menjabat sebagai Komisaris Unit. Rumor tersebut sudah tercium sejak tiga bulan lalu.

“Tapi tetap saja aku—“ Heechul yang berniat membalas ucapan Jongwoon terpaksa merogoh saku celananya setelah merasakan ponsel yang ada di dalam sana bergetar. Keningnya berkerut saat melihat sederet nomor telepon yang tak dikenalnya.

“Aku seperti pernah melihat nomor itu,” ucap Jongwoon yang ikut memandang layar ponsel Heechul.

“Kalau begitu milik siapa ini?” tanya Heechul.

“Ya mana aku tahu? Kalau penasaran kenapa tidak segera menerimanya saja?” dengus Jongwoon yang memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada dinding lift sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans.

“Ya, halo?”

Akhirnya Heechul menuruti ucapan Jongwoon. Namun, sesaat kemudian, keningnya kembali berkerut setelah mengetahui siapa yang menghubunginya lewat tengah malam seperti ini.

“Kantor Polisi Gangnam?”

Jongwoon yang mendengar suara Heechul langsung menegakkan tubuhnya dan memandang Heechul. “Kantor Polisi Gangnam? Ada apa, Hyung? Dari mana mereka mendapatkan nomor ponselmu?” cecar Jongwoon.

Heechul tak menghiraukan pertanyaan Jongwoon karena telinganya terpusat pada suara seorang petugas dari kantor polisi tersebut. Mendadak ia sedikit terhuyung setelah terkejut mendengar apa yang disampaikan petugas tersebut. Tangannya yang menempelkan ponsel di telinganya turun begitu saja. Andai saja ia tak segera bersandar pada dinding lift yang ada di belakangnya, mungkin ia sudah terduduk lemas di lantai.

“Hyung, ada apa? Apa yang terjadi?” Jongwoon panik melihat Heechul yang seperti itu.

Heechul tak langsung menjawab. Ia masih diliputi perasaan terkejut. Jantungnya berdegup kencang dan dadanya terasa sesak. Kabar yang baru saja diterimanya jelas bukan kabar baik, melainkan kabar buruk. Bahkan mungkin lebih dari sekedar buruk.

“J-jongwoon-ah, k-kita… ani… k-kau ikut denganku ya?” pinta Heechul terbata-bata saat pintu lift terbuka. Dengan kaki yang masih gemetar, ia keluar dari lift.

“Hyung, kau tidak apa-apa? Katakan padaku, apa yang terjadi?” Jongwoon terpaksa menghentikan Heechul.

Jari telunjuk Heechul yang gemetar menunjuk pintu utama gedung. “Mereka… mereka menemukan jasad pria korban pembunuhan di pelabuhan setelah mendapat laporan dari seseorang dan… dan….”

“Dan?”

Mata nanar Heechul menatap Jongwoon. Ada gumpalan air mata yang menghiasi pelupuk matanya. “Mereka… mereka mendapatkan nomorku dari panggilan terakhir yang ada ponsel pria tersebut.”

“Lalu, siapa pria itu?”

“S-setengah jam yang lalu aku baru saja menghubungi ayahku, Jongwoon-ah. Setelah itu… setelah itu….”

Seolah bisa menangkap apa maksud dari kata-kata Heechul yang terbata-bata tersebut, Jongwoon langsung merampas ponsel Heechul dan segera mengajaknya ke Kantor Polisi Gangnam. Selama perjalanan ia berusaha menenangkan Heechul yang terlihat begitu panik.

“Iya, ini teman Kim Heechul. Kami ingin melihat jasad pria tersebut. Kalau kami boleh tahu, di mana jasad itu disimpan?……… Baiklah. Terima kasih.”

Jongwoon mematikan ponsel Heechul setelah menghubungi Kantor Polisi Gangnam. Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan mobil Heechul ke rumah sakit di mana jasad pria korban pembunuhan tersebut disimpan.

—————————————

Pandangan Heechul tertuju pada jasad seorang pria yang terbujur kaku dengan kain putih menutupi seluruh tubuh di kamar mayat seiring dengan langkah kakinya yang mulai mendekati jasad tersebut. Jongwoon yang baru saja berbicara dengan petugas yang berjaga di depan kamar mayat hanya berdiri di dekat pintu.

“Hyung,” Jongwoon mencoba memanggil Heechul yang berdiri mematung di samping jasad tersebut.

Heechul menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Meski ragu, ia tetap mengulurkan kedua tangannya untuk membuka kain yang menutupi wajah jasad pria tersebut.

Perlahan ia bisa melihat rambut hitam pria tersebut. Namun, tangannya berhenti ketika kain tersebut tersingkap hingga bagian alis mata pria tersebut. Firasat buruk lebih dulu menyerang benaknya. Ia takut bila firasat tersebut menjadi kenyataan setelah ia melihat wajah pria tersebut secara utuh.

“Aakh….,” erang Heechul pelan sesaat setelah ia benar-benar menyingkap kain tersebut hingga ia bisa melihat wajah pria tersebut. Tangannya memegang dadanya yang terasa sakit dan kedua kakinya terasa lemas seketika.

Jongwoon yang melihat Heechul terduduk di samping jasad pria tersebut langsung menghampirinya.

“Hyung!”

“Aakh~,” Heechul masih saja mengerang kesakitan, merasakan dadanya yang begitu sakit dan sesak. Salah satu tangannya yang masih berpegangan pada tepi tempat jasad pria tersebut dibaringkan mengepal erat.

Kepalanya tertunduk. Air matanya tak berhenti mengalir. Ia sama sekali tak punya keberanian untuk mendongakkan kepalanya ke jasad pria tersebut. Apakah karena luka memar di hampir seluruh wajah pria tersebut yang membuatnya tidak berani? Bukan. Bukan karena itu.

“Siapa? Siapa yang tega melakukan hal itu padanya? Siapa yang tega membunuhnya dengan cara seperti itu? Siapa yang tega menghabisi nyawa orang baik seperti dia?” erang Heechul yang kemudian berusaha berdiri. Dadanya kembali seperti ditusuk ribuan pisau tajam saat ia memandang jasad pria tersebut.

“Heechul Hyung, tenanglah,” Jongwoon berusaha menenangkan Heechul yang tak bisa mengontrol emosi.

Berulangkali Heechul mengusap wajahnya dengan kasar dan menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir. Ia bisa merasakan darahnya mendidih di dalam tubuhnya.

“Jongwoon-ah, aku baru saja menerima telepon darinya beberapa saat lalu,” keluh Heechul sambil menunjuk jasad pria tersebut. “Dia bilang dia tidak bisa langsung pulang karena anak-anak mengajaknya makan malam bersama. Bahkan dia juga menyuruhku untuk datang bersamanya, tapi aku bilang aku tidak bisa. Tapi… tapi… kenapa sekarang…. dia ada di… astaga… AARGH!!”

Jongwoon hanya terdiam menyaksikan sahabatnya melampiaskan rasa sedih dan duka yang sangat mendalam setelah mendapati pria korban pembunuhan yang rupanya adalah ayahnya kini terbujur kaku di kamar mayat.

————————————-

Hyungnim.”

Panggilan seseorang memaksa Heechul tersentak dari lamunanya. Pandangannya yang sejak tadi hanya menatap udara kosong di atas atap pemukiman sederhana kini beralih pada seseorang berjalan menghampirinya. Hanya senyum tipis yang ia berikan untuk menyapa orang tersebut.

“Apa yang Hyungnim lakukan di atap pagi-pagi begini?”

“Aku hanya ingin berada di sini sebentar, Sungmin-ah,” jawab Heechul sambil menatap Sungmin sekilas sebelum kembali menatap langit pagi yang dihiasi awan mendung.

Sejenak kedua pria beda usia ini hanya berdiri dan terdiam memandang pemandangan pagi yang tersaji di hadapan mereka sebelum akhirnya Heechul membuka mulut untuk memberitahu sesuatu pada Sungmin.

“Go Hyeong Man harus dibunuh secepatnya.”

“Tapi, saat ini dia ada di Kantor Polisi Pusat, Hyungnim. Aku tidak yakin bisa masuk dengan mudah ke sana,” ujar Sungmin.

Heechul menarik sudut bibirnya, tersenyum dengan tenang, seolah ia sudah menduga akan seperti ini lanjutannya. Go Hyeong Man, target terakhirnya pasti sengaja berada di sana untuk melindungi diri karena sudah tahu keselamatannya terancam bila dia keluar. Lebih dari itu, ia juga tahu kata-kata Sungmin ada benarnya juga. Masuk ke dalam gedung itu tanpa dicurigai oleh satu petugas pun…. sangatlah mustahil karena ia sangat mengenal gedung itu.

Gedung yang pernah menjadi tempat kebanggaannya dulu. sekaligus tempat yang paling dibencinya.

“Kau tidak perlu masuk ke sana kalau hanya untuk membunuh Go Hyeong Man,” kata Heechul sambil menoleh ke arah Sungmin.

Mau tidak mau Sungmin harus mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan kata-kata Heechul. “Maksud Hyungnim?” tanyanya.

“Mereka tidak akan bisa membiarkan Go Hyeong Man berada di gedung itu terlalu lama. Dan mereka juga tahu kalau Go Hyeong Man tidak bisa kembali ke rumahnya. Aku berani bertaruh, mereka tidak akan pernah menempatkan Go Hyeong Man di tempat orang-orang yang dikenal Go Hyeong Man. Mereka akan menempatkannya di suatu tempat yang aman, yang tak seorang pun tahu kecuali mereka sendiri.”

“Perlindungan Saksi?”

Heechul mengangguk kecil. “Di saat itulah, kau bisa membunuhnya dengan mudah. Pengamanan yang mereka buat di tempat itu mungkin tidak akan terlalu ketat, kecuali kalau Go Hyeong Man berulah.”

“Setelah kita berhasil membunuh Go Hyeong Man….., apakah Hyungnim yakin, orang yang benar-benar bertanggung jawab atas kematian Ahjussi akan menampakkan dirinya?”

“Kau mulai ragu?”

Sungmin tak lantas menjawab. Jangankan membalas tatapan Heechul, hanya untuk menegakkan kepalanya saja ia sudah merasa sungkan setelah Heechul bertanya seperti itu padanya.

“Sungmin-ah, tegakkan kepalamu dan pandang aku.”

Perintah Heechul pun langsung ia turuti. Ditegakkannya kepalanya dan menatap lurus Heechul.

“Kau… tidak mau kematian seseorang yang sudah menyelamatkanmu dari orang-orang yang hampir menjualmu saat usiamu masih 15 tahun, seseorang yang sudah merawatmu seperti anaknya sendiri, seseorang yang bahkan menomorduakan anak kandungnya sendiri hanya untuk menolongmu, tidak mendapat keadilan yang pasti?”

Perlahan mata Sungmin mulai berkaca-kaca. Kata demi kata yang keluar dari mulut Heechul seolah mengikis keraguan yang mulai muncul di benaknya.

“Tidak hanya dirimu saja yang merasa marah dengan kematian Ayah, Sungmin-ah. Anak-anak lainnya juga merasakan hal yang sama. Apa kau sudah lupa bagaimana makan malam yang sudah kalian siapkan sejak sore mulai mendingin saat itu? Bahkan Chanyeol harus menghangatkan semua makanan berkali-kali sampai makanan-makanan itu tidak berbentuk seperti semula lagi. Kalian semua… tidak ingin makan lebih dulu hanya demi kedatangan Ayah. Iya, kan?” Heechul mencoba membuka saat-saat paling menyedihkan yang pernah dialami oleh Sungmin dan anak-anak lain di malam sebelum ia memberitahu kematian ayahnya pada mereka.

Kenangan demi kenangan lama melintas di benak Sungmin. Mulai dari ayah Heechul yang berusaha menyelamatkan dirinya dan anak-anak lainnya dari dalam kotak trailer di pelabuhan dan memasukkan semuanya ke dalam rumahnya yang tak jauh dari pelabuhan. Bahkan karena dirinya yang saat itu paling tua, akhirnya harus membantu ayah Heechul untuk menenangkan anak-anak lainnya dan membantu membuatkan makanan dengan jumlah yang sangat banyak.

“Bagiku entah itu orang yang benar-benar sengaja membunuh ayah ataupun orang-orang yang memilih diam tak memberikan kesaksian hanya karena ada uang yang menutup mulut mereka…., mereka sama saja. Ani…, mereka yang memilih diam dan bersikap seolah mereka buta dan tuli-lah yang lebih biadab dibanding orang yang benar-benar membunuh ayah,” tutur Heechul sambil tetap memandang langit sore.

Bila harus egois, mungkin Heechul merasa dirinyalah yang paling pantas merasa marah atas kematian ayahnya, bukan Sungmin atau anak-anak lainnya yang saat ini bersamanya.

Bukan mereka.

Tetapi, dirinya.

Heechul mengenal ayahnya lebih dari siapapun. Heechul bisa mengukur seberapa dalam kebaikan dan ketulusan ayahnya saat berusaha menolong orang lain yang kesusahan, padahal ia tahu ayahnya tidak dalam kondisi kehidupan yang baik-baik saja. Seberapa dalam? Sangat dalam. Bahkan mungkin lubang yang paling dalam di bumi ini tak bisa menandingi dalamnya kebaikan hati ayahnya.

“Maafkan aku, Hyungnim.” Sungmin menundukkan kepalanya beberapa detik sebagai permintaan maafnya karena telah membiarkan keraguan akan pembalasan dendam kematian ayah Heechul mengganggu benaknya.

Senyum tipis terulas di bibir Heechul. Tangan pria berambut hitam tersebut terangkat, mengusap pelan puncak kepala Sungmin dan menepuk bahu Sungmin.

“Apa yang membuatmu merasa ragu?” tanya Heechul setelah kembali memandang puncak bangunan yang ada di hadapannya.

“Ini sudah 8 tahun, tapi kita masih belum bisa menemukan siapa pembunuh Ahjussi. Sama sekali tak ada tanda-tanda kemunculannya selama ini, Hyungnim. Aku takut apa yang sudah kita lakukan selama ini akan berakhir dengan sia-sia,” jawab Sungmin pelan.

“Tidak. Tidak ada yang sia-sia, Sungmin-ah. Kita sama sekali tidak melakukan hal yang sia-sia. Orang-orang yang menutup mulut mereka memang pantas merasakan hal yang dirasakan ayah. Dan orang yang selama ini bersembunyi dengan baik hingga kita tidak bisa merasakan keberadaannya… pasti akan muncul.”

“Tapi—“

“Dia sudah mengeluarkan banyak uang di setiap tahunnya untuk membungkam mulut orang-orang itu. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam dan kabur begitu saja melihat perisainya satu per satu hancur,” potong Heechul.

“Langkah kita sudah pasti akan terhalang oleh polisi-polisi itu, Hyungnim.”

“Aku tahu itu. Tapi mereka juga bisa kita jadikan kompas untuk menemukan pembunuh ayah.”

Sungmin mengatupkan bibirnya rapat-rapat setelah Heechul berhasil membantah semua kata-katanya. Keyakinan yang ada pada diri Heechul sudah pasti lebih besar dibanding yang lain.

“Oh ya, kau bilang kau menemukan sesuatu yang ada hubungannya dengan Go Hyeong Man. Apa itu?”

Sungmin baru akan membuka mulutnya untuk menjawab ketika ia baru memahami apa maksud pertanyaan Heechul.

Informasi tentang anak tiri Go Hyeong Man.

Ya. Pada awalnya Sungmin memang berencana untuk memberitahu Heechul tentang hal tersebut hari ini. Akan tetapi, entah kenapa, setelah mendengar sendiri Heechul bertanya padanya, ada perasaan enggan merayap di benaknya. Padahal biasanya apapun yang berhasil ia temukan selalu ia beritahukan pada Heechul.

“Sungmin-ah,” Heechul terpaksa memanggil Sungmin yang terdiam cukup lama di sampingnya. “Apa yang ingin kau beritahukan padaku?”

Tangan Sungmin yang ada di dalam saku jaket menggenggam kertas yang didapatnya semalam, yang berisi informasi tentang Go Jung Ra. “Tentang Go Hyeong Man yang ada di Kantor Polisi Pusat. Itu yang ingin kuberitahu padamu, Hyungnim,” jawabnya sambil tersenyum.

Heechul hanya membalas senyuman Sungmin dengan senyuman tipis.

oOo

Teeet! Teeeet! Teeeeet!

Bunyi bel apartemen Donghae terdengar cukup nyaring dan memenuhi ruang tengah yang… entahlah. Bila kita harus menyebut keadaan ruang tengah apartemen Donghae pagi ini sebagai ruang tengah sepertinya…… kurang tepat. Atau mungkin lebih tepatnya sangat tidak tepat.

Kenapa?

Itu karena ruangan tersebut sudah mirip dengan tempat sampah. Kaleng-kaleng minuman dingin dan kaleng-kaleng bir berserakan di sekitar area sofa. Wadah bekas jjangmyeon dan mie ramen instan tergeletak di atas meja kaca. Tidak hanya itu saja. Tulang-tulang ayam goreng pun menghiasi atas karpet hitam yang menutupi lantai ruang tengah. Dan yang lebih mengerikan lagi, dua manusia bersaudara tampak tergeletak di sofa.

Sepertinya Donghae dan adiknya menghabiskan waktu bersama semalam hingga lupa kalau mereka memiliki kamar tidur.

Bila Donghae tidur dengan posisi wajar di atas sofa—berbaring layaknya manusia normal dengan kedua tangan terlipat di atas perut dan disempurnakan dengan ekspresi tidur yang cukup tenang— Henry, adiknya, sudah mirip seperti korban pembunuhan yang tubuhnya “menggantung” di antara tepi sofa dan lantai. Pemuda berambut coklat itu tidur dengan posisi tengkurap, salah satu tangannya terjulur lurus ke sandaran sofa dan tangannya yang lain terkulai di tepi sofa. Keadaan kedua kakinya tak jauh berbeda dengan sepasang tangannya.

Teeet! Teeeet! Teeeet!

Bel kembali terdengar. Dan kali ini Henry yang lebih dulu bangun karena telinganya menangkap suara bel tersebut. Dengan mata yang masih sangat sayu, Henry berusaha duduk sambil mengacak-acak rambutnya.

Hyung, ada yang kemari,” ujar Henry sambil menguap lebar. Mata sipitnya memandang kakaknya yang masih saja tidur dengan damai, seolah ada sesuatu yang menyumbat kedua lubang telinganya hingga tak bisa mendengar bunyi bel yang nyaring.

Henry mengedarkan matanya pada kaleng-kaleng bir Donghae. “Dia menghabiskan semuanya. Dia pasti dia benar-benar mabuk,” gumamnya pelan sebelum kembali terperanjat karena bunyi bel.

Sedikit sempoyongan karena masih mengantuk, Henry berjalan ke arah layar Intercom untuk melihat siapa yang pagi-pagi ini berkunjung ke apartemennya. Seingatnya tidak ada teman-teman sekolahnya yang suka datang ke rumahnya. Keningnya berkerut saat menyadari layar Intercom-nya berwarna hitam, seolah seseorang sengaja menutupi lensa alat canggih tersebut. Ia baru akan membuka pintu ketika tanpa ia duga pintu tersebut sudah lebih dulu terbuka dari luar. Akibatnya, ia terpaksa merelakan wajahnya menjadi korban serangan pintu tersebut.

“Bocah Tengik, kakakmu mana?”

Hyukjae muncul dari balik pintu yang terbuka tersebut dan langsung mengernyitkan kening takkala melihat Henry meringis kesakitan.

“Mentang-mentang Hyung tahu password apartemen kami, bukan berarti Hyung bisa seenaknya membanting pintu tepat di wajah orang seperti ini!” protes Henry yang tidak terima hidungnya berkedut nyeri.

Hyukjae yang dalam keadaan terburu-buru tak memiliki waktu untuk meladeni protes adik Donghae tersebut. Ia langsung menerobos masuk ke dalam dan memanggil-manggil nama Donghae. Langkahnya terhenti saat menyadari keadaan ruang tengah apartemen sahabatnya tersebut sudah mirip dengan kapal pecah.

Yaa, Donghae-ya, bangunlah. Kita harus ke Kantor Polisi Gangnam sekarang juga,” Hyukjae mencoba membangunkan sahabatnya yang masih tampak damai dalam tidur. Namun, setelah panggilannya tak kunjung mendapatkan respon, akhirnya ia menendang kaki sofa yang ditiduri Donghae dengan cukup keras.

Baiklah, setidaknya cara brutal yang baru dilakukannya tidak sia-sia. Kini pria berambut gelap yang ada di depannya sudah membuka matanya. Bahkan ia juga bisa mendengar decakan pelan dari bibir pria tersebut.

“Apa semalam kau berpesta dengan anak kecil itu, hah? Lihat rumahmu. Berantakan sekali,” ujar Hyukjae sambil menyingkirkan wadah Pizza di atas sofa lainnya dengan menggunakan kakinya.

“Aku sudah besar, Hyung!” Henry yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Hyukjae langsung melontarkan protesnya karena masih saja dianggap anak kecil.

“Iya, kau memang sudah besar. Tapi di mataku kau masih seperti anak kecil,” balas Hyukjae sambil menunjuk-nunjuk kepala Henry.

Donghae yang menyaksikan keributan kecil antara Hyukjae dan Henry hanya bisa menghela napas pelan dan bangkit dari sofa. Dilangkahkannya kakinya menuju kamar mandi. Tak sampai lima belas menit ia keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa kita harus ke Kantor Polisi Gangnam pagi?” tanya Donghae sesaat setelah keluar dari kamarnya. Dirapikannya kemeja polos berwarna hitam yang ia gunakan sebagai outter sambil menatap Hyukjae.

“Kau tidak akan percaya ini.”

“Memangnya ada apa? Apa masih ada kaitannya dengan kasus Kim Myun Shik?”

“Bisa dibilang iya. Bisa dibilang tidak.”

Donghae terpaksa mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan ucapan Hyukjae. “Maksudmu? Pimpinan Park menemukan sesuatu yang mungkin ada kaitannya dengan Kim Myun Shik, begitu?”

Ada keraguan di wajah Hyukjae. “Lebih tepatnya… bukan Pimpinan Park, melainkan Petugas Go,” jawab Hyukjae pelan.

“Apa? Petugas Go? Maksudmu… Go Jung Ra?”

Hyukjae menganggukkan kepalanya. Henry yang baru mengulurkan tangannya untuk membuka kulkas pun terpaksa menoleh ke arah kakaknya dan Hyukjae saat mendengar nama Go Jung Ra disebut.

“Kyuhyun berhasil menemukan salinan Kartu Register Keluarga lama milik mendiang istri Go Hyeong Man. Di sana tertulis nama Go Jung Ra. Aku tahu di negara kita banyak orang yang memiliki nama Go Jung Ra. Tapi, seingatku tidak banyak orang yang memiliki kesamaan nama dan tanggal lahir sekaligus.”

Setelah meraih ponselnya yang ada di atas meja, Donghae langsung mengajak Hyukjae untuk segera ke Kantor Polisi Gangnam setelah menyuruh Henry membersihkan ruang tengah.

“Hati-hati di jalan, Hyung! Jangan mengebut!” seru Henry ketika Donghae dan Hyukjae membuka pintu apartemen. Adik Donghae tersebut lantas menghela napas pelan setelah mendapati kedua kakaknya tersebut menghilang setelah pintu apartemen kembali tertutup sempurna. Perlahan matanya bergerak memandang isi kulkas dan membeku di sana.

.

.

.

.

“Aku hanya berharap Go Jung Ra yang dimaksud di Kartu Register Keluarga milik mendiang istri Go Hyeong Man bukanlah Go Jung Ra yang kita tahu selama ini. Aku tidak memiliki pemikiran yang terlalu serius sih, hanya saja… rasanya aneh dan tidak masuk akal seorang Go Hyeong Man yang menyebalkan seperti itu memiliki anak perempuan seperti Go Jung Ra,” ujar Hyukjae sambil tetap fokus mengendarai mobil hitamnya. Sesekali didahuluinya mobil lain yang ada di depannya.

“Tapi, seingatku, data yang ada pada kita tentang Go Hyeong Man menyebutkan bahwa dia tidak memiliki anak,” bantah Donghae.

“Maka dari itu, kita akan mencari tahu kebenarannya dengan menemui Go Jung Ra.”

Laju mobil Hyukjae melambat ketika memasuki area depan Kantor Polisi Gangnam dan berhenti di dekat deretan mobil polisi yang terparkir rapi. Sambil merapikan rambut gelapnya, Hyukjae keluar dari mobil.

“Ayo,” ajak Donghae seraya menepuk lengan Hyukjae agar segera masuk ke kantor polisi tersebut.

Pemandangan yang mereka saksikan tak jauh beda dengan kantor polisi yang ada di distrik lain. Beberapa petugas berlalu-lalang dari segala macam arah sambil membawa beberapa kertas ataupun berkas. Ada juga yang bergerombol membicarakan sesuatu. Selain itu, ada juga yang berlari keluar setelah mendapat laporan ada tindakan kriminal di suatu tempat.

Rutinitas sebuah kantor polisi memang harus begitu, bukan?

“Ke mana dia? Biasanya dia ada di sana.” Hyukjae yang berdiri tak jauh dari pintu ruang Unit Kejahatan Kriminal tempat Jung Ra bertugas menunjuk meja kerja Jung Ra yang kosong.

Donghae mengedarkan pandangannya ke semua arah, berusaha menemukan sosok Jung Ra.

“Kau yakin dia tidak sedang bertugas di luar? Kalau tidak salah, aku dengar hari ini ada dua kelompok siswa dari sekolah berbeda yang akan berkelahi,” tanya Donghae sambil terus mengamati semua tempat yang bisa dijangkau oleh matanya.

“Begitukah? Ngomong-ngomong, dari mana kau tahu kalau hari ini akan ada tawuran pelajar lagi?” Hyukjae terpaksa mengernyitkan kening pada Donghae.

“Semalam Henry memberitahuku. Bahkan dia juga sempat mengirim pesan pada Go Jung Ra tentang informasi itu. Kalau Go Jung Ra membaca pesan dari Henry, sudah pasti sekarang dia ada di luar sana.”

Hyukjae mendengus, “Apa mereka sedekat itu? Sejak kapan bocah tengik itu menjadi informan polisi?”

Donghae baru akan menimpali dengusan Hyukjae ketika terdengar seseorang memanggil mereka berdua dari arah lorong yang ada di belakang tubuhnya. Spontan ia menoleh ke lorong tersebut dan sedikit terkejut setelah mengetahui orang yang memanggil mereka berdua adalah Go Jung Ra.

“Dua polisi dari Pusat datang ke Kantor Polisi Daerah sepagi ini? Apa kalian ada perlu dengan Pimpinan Park? Sayang sekali, dia baru saja keluar untuk mengejar perampok,” ucap Jung Ra setelah menyesap kopi panas di tangannya.

Donghae dan Hyukjae hanya saling pandang untuk beberapa detik.

“Maaf, permisi, halo,” Jung Ra berusaha membuat kedua polisi muda tersebut memberikan jawaban yang bisa didengarnya. “Kalau kalian ingin bertemu dengan Pimpinan Park, aku bisa—“

“Kami kemari ingin bertemu denganmu.”

“Hah?”

Jung Ra mengerjap-ngerjapkan matanya bingung setelah mendengar ucapan Donghae.

.

.

Hampir lima detik Jung Ra menatap foto Go Hyeong Man yang diberikan Hyukjae padanya, seolah ia memang mengenal pria yang ada di dalam foto tersebut. Hanya saja, tak reaksi berarti yang ditunjukkan olehnya setelah mendengar cerita tim kedua polisi pria tersebut tentang ada keterkaitan Go Hyeong Man dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik di tahun 2008 silam.

“Nama Go Jung Ra yang ada di dalam Kartu Registrasi Keluarga mendiang istri pria ini… memang diriku,” ujar Jung Ra sambil menatap Donghae dan Hyukjae yang duduk di depan meja kerjanya.

Terdengar tarikan napas pelan dari arah Hyukjae. Jelas pria berahang tegas itu terkejut mendengar pernyataan Jung Ra. Akan tetapi, berbeda dengan Hyukjae yang tidak percaya, Donghae justru merasa sedikit cemas.

“Tapi… bagaimana bisa? Bagaimana ini masuk akal dan… astaga…,” Hyukjae tak bisa menyelesaikan ungkapan ketidakpercayaannya dan hanya menatap Jung Ra dan Donghae bergantian.

“Orang ini menikah dengan ibuku saat aku masuk Akademi Kepolisian. Kemudian bercerai dua minggu sebelum ibuku meninggal karena sakit di tahun 2010. Jujur saja, aku tidak terlalu mengenal dengan orang ini karena aku tidak tinggal dengan ibuku. Sejak kecil aku hidup bersama bibiku,” tutur Jung Ra seraya meletakkan foto Go Hyeong Man ke atas meja dan mendekatkan foto tersebut ke hadapan Donghae.

Sejenak Donghae memandang Jung Ra sebelum akhirnya memahami apa maksud penuturan Jung Ra.

“Aku tidak tahu kalau nama Go Hyeong Man yang ada di dalam daftar saksi kasus pembunuhan Kim Myun Shik adalah Go Hyeong Man ini. Setelah tahu perbuatannya mengakibatkan kematian seseorang yang tidak bersalah tidak mendapat keadilan…, aku cukup malu meski dia hanya ayah tiri yang tidak kukenal baik. Maafkan aku, Lee Donghae-ssi, Lee Hyukjae-ssi.” Ada ekspresi menyesal yang tersirat di wajah Jung Ra meski begitu samar.

Hyukjae hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil mencoba membuang wajahya ke arah lain ketika suasana di meja kerja Jung Ra berubah sedikit aneh.

“Kalian pasti mengira aku bisa membantu ya?” Jung Ra yang bisa membaca situasi akhirnya bertanya.

“Tidak. tidak.” Hyukjae menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya, berusaha menyanggah pertanyaan Jung Ra. Namun, pada akhirnya ia membenarkannya dengan helaan napas panjang. “Kami kesulitan menemukan orang yang selama ini mengancam Go Hyeong Man dan saksi lainnya 8 tahun ini dengan memberikan sejumlah uang di setiap tahunnya.”

“Tapi… benarkah berkas kasus Kim Myun Shik benar-benar tidak ada di markas kalian? Maksudku… itu tidak lenyap begitu saja, kan?” Alih-alih membahas ayah tiri yang sama sekali tidak dikenalnya, Jung Ra justru penasaran dengan berkas kasus misterius milik Kim Myun Shik.

Sejenak Donghae mengedarkan pandangannya ke sekitarnya sebelum menjawab pertanyaan Jung Ra dengan suara yang sedikit pelan, “Itulah yang masih kami selidiki sampai saat ini.”

“Apa kalian berpikir kasus pembunuhan yang sedang kalian tangani sekarang ada hubungannya dengan kasus Kim Myun Shik?” tanya Jung Ra lagi. Kali ini polisi wanita tersebut berbicara dengan suara sepelan suara Donghae.

Hyukjae membelalakkan kedua matanya dan mencondongkan tubuhnya ke meja Jung Ra. “Kau juga berpikiran seperti itu? Kaptenku juga berpikiran seperti itu.”

“Kim Myun Shik dibunuh pada tahun 2008. Tak lama setelah itu, berkas kasusnya menghilang dan kasusnya pun ditutup. Orang-orang yang namanya sempat dimasukkan ke dalam daftar saksi kasus tersebut tewas satu per satu. Bukankah itu sudah terlihat dengan jelas bahwa dua kasus pembunuhan belakangan ini dan percobaan pembunuhan terhadap ay—maksudku Go Hyeong Man ada kaitannya dengan kasus Kim Myun Shik?” Jung Ra memberikan kesimpulan singkat mengenai kasus yang sedang ditangani tim Donghae dan Hyukjae.

“Kenapa semua orang berpikiran seperti itu ya?” gumam Hyukjae yang rupanya membuat Jung Ra memandangnya heran.

“Hah?”

“Semakin lama aku memikirkannya, aku semakin tidak mengerti dengan isi kepala Lee Sungmin. Kalau benar dia membunuh orang-orang ini karena kasus Kim Myun Shik, kenapa dia tidak langsung saja membunuh orang yang membunuh Kim Myun Shik? Kenapa harus repot-repot meneror dan membunuh orang-orang ini? Padahal mereka kan bukan yang membunuh Kim Myun Shik,” ujar Hyukjae dengan nada menggerutu.

“Bisa jadi dia ingin menghabisi mereka dulu sebelum menghabisi pembunuh asli Kim Myun Shik. Bagaimana pun juga, orang-orang ini bersalah karena memilih untuk diam dibanding memberikan kesaksian mereka pada polisi dan membiarkan Kim Myun Shik meninggal tanpa ada keadilan,” timpal Jung Ra. “Tapi… ngomong-ngomong, siapa Lee Sungmin?”

Hyukjae kembali merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. “Orang yang menjadi target incaran kami. Dialah yang membunuh dua dari delapan orang yang ada di dalam daftar saksi kasus Kim Myun Shik. Dan dia juga yang mencoba membunuh Go Hyeong Man beberapa waktu lalu,” jawab Hyukjae sambil menunjukkan foto potongan rekaman CCTV di depan rumah Cha Hong Jo dan gedung apartemen Seo Jang Ok.

“Ee…… aku hanya melihat seorang pria berpakaian serba hitam yang berdiri di dekat pohon dan di depan lift. Tinggi badannya hampir sama dengan tinggi badan Lee Donghae. badannya bisa dibilang cukup kekar dan…… meski memakai topi hitam, aku masih bisa melihat warna rambutnya. Pirang,” sergah Jung Ra sambil memandang ragu ke arah Hyukjae.

“Orang lain juga akan mengatakan hal yang sama sepertimu karena hanya melihat dari foto ini.. Tapi aku yang berhari-hari mengulangi rekaman CCTV di dua tempat ini hanya untuk mengamati bagaimana caranya berdiri, berjalan, gerakan tangan, dan semua bahasa tubuhnya, aku memiliki keyakinan yang sangat kuat. Pria ini adalah Lee Sungmin,” bantah Hyukjae yang sedikit kesal mendengar sergahan Jung Ra.

“Begitukah? Aku hanya takut kalian akan salah tangkap orang nantinya. Apa kata media kalau polisi salah menangkap orang saat menangani kasus serius seperti ini?”

Hyukjae baru akan kembali membalas ucapan Jung Ra ketika tiba-tiba ponsel yang ada di dalam sakunya bergetar.

“Ya, Kapten?” Hyukjae menerima telepon dari Hankyung.

[Kau ada di mana?]

“Aku ada di Kantor Polisi Gangnam bersama Donghae. Ada apa, Kapten?”

[Segera datang ke markas.]

Hanya itu yang diucapkan Hankyung sebelum memutuskan pembicaraan mereka.

“Go Jung Ra-ssi, kami harus kembali ke markas sekarang juga. Kalau kau ingat sesuatu tentang Go Hyeong Man, apapun itu, tolong beritahu kami ya?” kata Hyukjae sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Jung Ra hanya menganggukkan kepalanya sambil memandang dua polisi pria tersebut mulai berjalan menjauh dari depan meja kerjanya. Namun, saat teringat sesuatu, buru-buru dipanggilnya Donghae.

Donghae yang mendengar Jung Ra memanggilnya seraya memutar tubuhnya menghadap Jung Ra. “Iya?”

Untuk beberapa detik Jung Ra terlihat berpikir. Meski ragu, tanganya yang sedang memegang ponsel terangkat dan menggerak-gerakkan benda tipis tersebut. “Eeee… aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Berkat dirimu, tadi aku dan beberapa petugas lain berhasil mencegah tawuran. Dan juga…, anak-anak sekolah yang hampir terlibat sudah kuberi pengarahan dan sedikit ancaman. Mungkin kalau kau itu tidak mengirimkan pesan padaku, tekanan darahku akan naik drastis pagi ini.”

“Sebenarnya bukan aku yang mengirimkan pesan itu padamu.”

Jawaban Donghae membuat Jung Ra terpaksa mengernyitkan kening. Buru-buru diperiksanya kembali pesan yang ia terima semalam. Di sana jelas-jelas nama pengirim pesan tersebut adalah Lee Donghae. “Tapi… ini…”

“Adikku meminjam ponselku untuk mengirimkan pesan itu padamu.”

Alis mata Jung Ra terangkat sempurna. “Adik……mu? Adik? Maksudmu, Bedebah Ke—tidak, Henry?”

Donghae hanya mengangguk kecil sebelum melambaikan tangannya sekilas pada Jung Ra dan berlari kecil menyusul Hyukjae.

Jung Ra hanya mendengus sambil tersenyum memandang layar ponselnya. Meski menggelikan, ia memang harus berterima kasih pada adik Donghae tersebut. Setidaknya selain bertingkah seperti berandalan, bocah itu juga cukup peduli pada “penderitaan”-nya.

Senyum Jung Ra mendadak memudar saat pandangan matanya jatuh pada foto Go Hyeong Man yang tertinggal di atas mejanya. Beberapa detik ia terlihat menatap foto tersebut dengan ekspresi datar sebelum mengambilnya dan membawanya tepat di depan wajahnya.

“Ibuku pasti menyesal menjadi istrimu setelah tahu perbuatanmu yang menjijikkan itu,” gumamnya pelan. Sesaat kemudian ia menurunkan foto tersebut dan terlihat memikirkan sesuatu dengan serius. “Aku jadi penasaran. Bagaimana bisa berkas kasus Kim Myun Shik bisa lenyap setelah dialihkan ke Pusat?”

oOo

at D-Team’s Office…

“Tempat yang aman? Maksudnya?” Hyukjae memandang Siwon yang baru saja menghenyakkan diri di salah satu sofa di ruangan tersebut.

“Kita tidak bisa membuatnya berada di markas terlalu lama. Maka dari itu, aku mengusulkan untuk membawanya ke tempat yang aman,” Siwon menjelaskan pendapatnya pada Hyukjae dan semua orang—minus Ryeowook yang entah berada di mana sekarang—yang ada di ruangan.

“Kalau kita membawanya pulang ke rumahnya, apa kau bisa menjamin keselamatannya? Apa kau bisa menjamin Lee Sungmin tidak mendatangi rumahnya dan mencoba membunuhnya lagi?” cecar Hyukjae.

Kyuhyun yang berdiri di dekat Siwon pun menimpali, “Maka dari itu, kita akan menyembunyikanya di tempat yang aman sementara kita memulihkan keadaan, Hyung.”

“Apa sudah ada tempat yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyiannya?” tanya Donghae yang sejak tadi terdiam memperhatikan percakapan beberapa rekan satu timnya.

“Kapten Tan menyarankan kita untuk membawa Go Hyeong Man ke salah satu apartemen yang ada di Dongdaemun. Sampai sekarang tempat itu merupakan tempat paling aman untuk aperlindungan saksi. Tahun lalu timku juga menggunakan gedung tersebut untuk mengamankan saksi kasus pencucian uang,” jawab Siwon sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Meski pelan, dengusan pelan Hyukjae rupanya bisa didengar oleh Siwon. Hanya saja, polisi bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan tersebut hanya mengulas senyum tipis.

“Wah, kasus pencucian uang yang pelakunya hampir membunuh Kapten Tan itu ternyata A-Team yang menyelesaikannya?” seru Kyuhyun dengan wajah takjub, seolah ia baru saja mendengar sebuah kabar mengejutkan untuk pertama kalinya.

Siwon mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.

“Kukira yang menyelesaikan kasus rumit seperti itu Tim Investigasi Khusus. A-Team memang—aakh!” Kyuhyun terpaksa meringis kesakitan setelah sebuah bolpoin melayang ke arahnya dan mendarat cukup keras pada puncak kepalanya.

“Kita sedang membahas pemindahan Go Hyeong Man, bukan memuji-muji kerja tim lain!” Hyukjae meninggikan suaranya setelah berhasil membuat Kyuhyun meringis kesakitan. Donghae yang melihatnya kesal seperti itu hanya berdecak pelan.

“Aku bukannya memuji, Hyung. aku memang baru tahu kalau—“

Protes Kyuhyun tenggelam begitu saja saat pintu kantor D-Team dibuka seseorang dari luar. Sosok Hankyung yang ternyata membuka pintu tersebut berdiri beberapa detik di ambang pintu sambil memeriksa kertas-kertas yang ada di tangannya sebelum akhirnya menghampiri Donghae.

“Aku sudah mempelajari salinan buku rekening Go Hyeong Man dari mulai 2008 hingga 2015,” ucap Hankyung seraya memberikan kertas-kertas tersebut pada Donghae.”Itu adalah salinan buku rekening Go Hyeong Man untuk tahun 2014 sampai 2015. Dan yang itu adalah salinan buku rekening dari mulai tahun 2008 hingga 2013. Di situ terlihat dia menerima sejumlah uang dengan nominal yang sama di setiap tanggal 24 Oktober selama 7 tahun.”

Kyuhyun yang sejak tadi berdiri di dekat Siwon kini menghampiri meja kerja Donghae dan ikut melihat isi kertas pemberian Hankyung tersebut.

“24 Oktober… Tanggal yang sama dengan hilangnya berkas kasus Kim Myun Shik?” Donghae mendongak memandang Hankyung, kemudian menghela napas pelan setelah Hankyung menganggukkan kepala, membenarkan pertanyannya.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan salinan buku rekening itu, Kapten? Kita tidak akan bisa menemukan apa-apa hanya dengan mengandalkan salinan itu,” kata Hyukjae.

“Melakukan perbandingan dengan buku rekening ketujuh orang lainnya,” sahut Siwon tanpa menolehkan wajahnya ke arah Hyukjae. “Untuk membuktikan apa yang dikatakan Go Hyeong Man memang benar.”

“Kapten,” Donghae memanggil Hankyung yang berdiri di depan meja kerjanya sambil terus mengamati salinan buku rekening yang ada di tangannya sambil mengernyitkan kening, seolah ia menemukan sesuatu yang janggal di sana. “… Bila benar Go Hyeong Man dan ketujuh orang lainnya menerima jumlah uang yang sama, yaitu 5 Juta Won untuk setiap orang, bukankah jumlahnya akan sama dengan jumlah uang di Center Bank yang dirampok Kim Bo Sang dan anak buahnya?”

Spontan semua mata tertuju pada Donghae, kecuali Siwon yang memilih untuk memandang meja kaca yang ada di depannya dengan wajah tenang, bahkan ia sama sekali tidak terkejut dengan kata-kata Donghae.

Kyuhyun terlihat mencabut salah satu pencil yang ada di kotak bolpoin milik Donghae dan langsung menulis sesuatu di atas selembar kertas.

“Ah, iya benar!” seru Kyuhyun tiba-tiba. “Setiap orang mendapatkan 5 Juta Won di setiap tahunnya dari tahun 2008 hingga 2015. Berarti selama tujuh tahun ini, satu orang sudah mendapatkan 35 Juta Won. Bila kita gabungkan dengan ketujuh orang lainnya, maka jumlahnya menjadi 280 Juta Won. Jumlah itu persis dengan jumlah uang yang dirampok Kim Bo Sang dan komplotannya dari Center Bank.”

Setelah melontarkan apa yang ada di dalam kepalanya, Kyuhyun lantas menepuk keras lengan Donghae, seolah merasa senang pada kemampuannya dalam hal menghitung.

“Maka dari itu, seperti kata Siwon, kita harus melakukan perbandingan dulu dengan buku rekening milik ketujuh orang lainnya. Selain untuk menguatkan dugaan bahwa mereka mendapat uang di hari yang sama berkas kasus Kim Myun Shik menghilang, kita juga bisa membuktikan bahwa jumlah uang yang mereka terima selama 7 tahun sama dengan jumlah uang yang dirampok Kim Bo Sang dan anak buahnya,” tukas Hankyung.

Sesaat setelah mengangguk pelan, setuju dengan apa yang dikatakan kaptennya, Siwon pun menyahut pelan, “Dan jika semua dugaan itu terbukti, maka kasus Kim Myun Shik yang sempat tenggelam dan karam di dasar laut, kini benar-benar mulai terangkat ke permukaan kembali. Dengan kata lain, kita bisa membuka kembali kasus yang 8 tahun lalu terhenti.”

Hyukjae yang melihat Siwon seperti sedang berbicara pada diri sendiri, lantas menoleh ke arah meja kerja Donghae yang ada di sampingnya dan menggumam pelan, “Tenggelam dan karam di dasar laut? Terangkat ke permukaan kembali? Apa dia sedang memberi pelajaran Ilmu Tata Alam atau bagaimana?”

Bila Kyuhyun meresponnya dengan tawa tertahan, Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil kembali fokus pada kertas pemberian Hankyung.

“Oh ya, Kapten, ngomong-ngomong, di mana Ryeowook? Sejak kemarin aku tidak melihatnya,” tanya Kyuhyun setelah menyadari ruangan Ryeowook kosong.

“Huh, bocah itu suka sekali menghilang. Dasar Ketua Tim tidak bertanggung jawab. Sudah tahu timnya sedang menangani kasus besar seperti ini, dia justru sering kabur entah ke mana,” gerutu Hyukjae pelan.

“Ada sesuatu yang harus diurusnya. Tapi dia bilang, dia akan segera bergabung setelah urusannya selesai. Jadi, kalian harus tetap fokus pada kasus ini walaupun Ketua Tim kalian tidak ada,” Hankyung menjawab pertanyaan Kyuhyun setelah tersenyum tipis mendengar gerutuan Hyukjae.

.

.

.

Donghae membuka pintu Ruang Interogasi dan mendapati Go Hyeong Man sedang menikmati makan siangnya. Pria bertubuh tegap tersebut terlihat terkejut setelah menyadari Donghae memperhatikannya dari ambang pintu.

“Kau sudah makan siang, Detektif Lee?” tanya Go Hyeong Man yang kemudian berdecak pelan setelah melihat jam dinding yang terpasang di Ruang Interogasi tersebut. “… aku bahkan baru berselera untuk makan setelah jam makan siang habis dua jam yang lalu. Tapi… setidaknya menu makan siang di tempat ini cukup enak. Terutama kimchi-nya.”

Donghae tak menanggapi pertanyaan Go Hyeong Man. Ia hanya menarik kursi yang ada di depan Go Hyeong Man dan duduk begitu saja sambil tetap mengarahkan pandangannya pada Go Hyeong Man yang begitu lahap menikmati makan siang dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di tangannya ada salinan Kartu Registrasi Keluarga milik mendiang istri Go Hyeong Man alias ibu kandung Go Jung Ra. Namun, Donghae memiliki keraguan saat ia ingin meletakkan kertas tersebut ke atas atas meja dan menunjukkannya pada Go Hyeong Man.

“Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku, Detektif?” Rupanya Go Hyeong Man mencium gelagat aneh Donghae. Diletakkannya sumpit ke atas meja dan menyeka sudut bibirnya dengan selembar tisu.

Donghae menghela napas panjang sebelum mengangkat tangannya, meletakkan salinan Kartu Registrasi Keluarga milik mendiang istri Go Hyeong Man ke atas meja. Go Hyeong Man mengernyitkan kening ketika ia mencoba melihat lebih dekat apa yang tertulis di kertas tersebut. Beberapa detik kemudian, kedua alisnya terangkat samar setelah membaca nama mendiang istrinya dan nama Go Jung Ra.

“ Kami menemukan ini di tempat tinggalmu, Go Hyeong Man Sajangnim. Kami pikir…, mungkin dengan menemui anak mendiang istrimu yang bernama Go Jung Ra ini, kami bisa mendapatkan petunjuk baru tentang—“

“Di mana kau bertemu dengannya? Selama ini aku tidak bisa menemukannya.”

Donghae terpaksa berhenti menceritakan pertemuannya dengan Jung Ra saat Go Hyeong Man memotong ucapannya.

“Apa benar dia tinggal di luar negeri? Jujur, aku belum pernah bisa bertemu dengannya sejak aku menikahi ibunya beberapa tahun yang lalu. Bahkan saat pemakaman ibunya pun, aku juga tidak bisa bertemu dengannya.”

Baiklah. Kini sepenuhnya Donghae percaya dengan Jung Ra yang mengatakan bahwa dia tidak terlalu mengenal pria yang menikahi ibunya.

“Kalau dia tinggal di luar negeri atau tidak, saya tidak terlalu tahu. Yang saya tahu, dia sudah cukup lama bekerja sebagai polisi di Kantor Polisi Gangnam.”

“A-pa? P-polisi?” Go Hyeong Man tampak terkejut setelah tahu putri mendiang istrinya adalah seorang polisi. Ekspresi tidak percaya begitu kentara di wajahnya. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah seperti orang ketakutan. Ia teringat pada kejadian yang menimpanya malam itu. “D-detektif Lee, a-apa… apa… dia… maksudku… putri mendiang istriku… tahu tentang diriku? Maksudku… kejadian yang menimpaku dan—“

“Dia sudah tahu semuanya.”

“Astaga….” Go Hyeong Man tampak menyesal akan sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh Donghae. Entah itu karena tahu putri mendiang istrinya ternyata seorang polisi atau karena “kejahatannya” yang ternyata sampai di telinga putri tirinya tersebut.

Donghae baru akan kembali mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba Go Hyeong Man meraih kedua tangannya dan menggenggamnya.

“Go Jung Ra……… putri mendiang istriku……… Aku mohon padamu agar menyuruhnya berhati-hati. Aku takut kalau orang yang berusaha membunuhku mencarinya.”

Permohonan Go Hyeong Man berhasil membuat Donghae merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia sampai tidak berpikir sampai ke sana?

Walaupun hanya anak tiri dan tidak pernah bertemu dengan Go Hyeong Man, Go Jung Ra tetap saja memiliki keterkaitan dengan Go Hyeong Man. Dan Lee Sungmin, yang sudah pasti adalah orang yang berusaha membunuh Go Hyeong Man malam itu, pasti akan menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan Go Hyeong Man kembali. Tidak menutup kemungkinan Lee Sungmin akan menggunakan Jung Ra sebagai umpan.

Bukankah itu artinya……… keselamatan Jung Ra juga dalam bahaya?

To be continued

*

*

*

*

*

*

*

SPECIAL SPOILERS FOR THE NEXT PART ^^

SEBUAH PENGKHIANATAN YANG AKHIRNYA TERBONGKAR MENGAKIBATKAN SALAH SEORANG MEMBER D-TEAM TERBUNUH!

BERKAS KASUS KIM MYUN SHIK YANG MENGHILANG DITEMUKAN!

——————————–

Well, sebaiknya reader yang suka baca VENUS harus ketar-ketir hehehe. Berharap saja anggota D-Team kesayangan kalian bukan jadi korban kejahatan jari dan imajinasi jahat saya tentang FF ini bwahahahahaha *evil laugh

 

Advertisements
Leave a comment

13 Comments

  1. Monika sbr

     /  March 15, 2016

    Wah…. Makin gak sabar nungguh kelanjutannya. Semoga aja bukan kyu, donghae atau jungra yg terbunuh.
    Jadi kasihan sama heechul, karena ayahnya yg tdk mendptkan keadilan….

    Reply
  2. inggarkichulsung

     /  March 16, 2016

    Nita keren banget kelanjutannya, yaps Jung ra jg hrs hati2 dan diberi perlindungan oleh kepolisian, mdh2an Heechul oppa tdk akan mencari tahu ttg Jung ra yg merupakan anak tiri tuan Go yg menjadi saksi terakhir dr kematian ayahnya, ternyata Sungmin oppa adl anak asuh yg diselamatkan ayah Heechul oppa, penasaran siapa yg berasal dr team D yg berkhianat, kayaknya tdk mgk kalau Kyu oppa, Hyukjae oppa atau Donghae oppa yg kayaknya baru2 ngeh bahwa kasus skrg ada hub nya dgn kematian ayah Heechul oppa yg mrpkn mantan polisi di kepolisian dan seangkatan dgn Captain Tan, tapi agak shock kalau misalnya yg sebetulnya berkhianat dr kasus ini adl Captain Tan sendiri krn ia sendiri sedih wkt Heechul oppa mengundurkan diri wkt 2008 yg lalu, apakah justru Ryeowook oppa ketua tim D tp msh blm dapat benang merahnya hub antara ryeowook oppa dgn kepentingan kasus lama ini, Captain Tan hrs bs bertemu lsg dgn Heechul oppa lg dan membantu kasus kematian ayah sahabatnya tsb, ditunggu bgt kelanjutannya Nita, daebak ff chingu

    Reply
  3. YessyAzlia

     /  March 16, 2016

    Semoga aja bukan si kyuhyun yang terbunuh, tapi gk menutup kemungkinan juga sih.. Itukan hak kak nita wkwkwk
    Tapi kira-kira siapa kak??? penasaran aku
    Henry nya dikit ya disini, seneng banget baca kalo si henry didebat sama yang lain… Berasa ngeliat seseorang hahahhaahah

    Reply
    • hayo siapa hayo hayo hayo hayo

      Reply
      • YessyAzlia

         /  March 17, 2016

        “SEBUAH PENGKHIANATAN YANG AKHIRNYA TERBONGKAR MENGAKIBATKAN SALAH SEORANG MEMBER D-TEAM TERBUNUH!”

        Disini aku curiga sama 3 orang, karna mereka terkesan misterius..
        Ditunggu next nyaaa ^^

  4. YessyAzlia

     /  March 16, 2016

    Semoga aja bukan si evil yang kebunuh, tapi gk menutup kemungkinan juga sih.. Itukan hak kak nita wkwkwk
    Tapi kira-kira siapa kak??? penasaran aku..
    Henry nya dikit ya kak disini, seneng banget baca kalo si henry didebat sama yang lain apa lagi yg kena pintu..sukses ngakak aku!!
    Berasa ngeliat seseorang hahahhaahah

    Reply
  5. Ayunie Wahyuni

     /  April 23, 2016

    Tes tes

    Reply
  6. Ayunie Wahyuni

     /  April 24, 2016

    Apa cuma comment-ku aja yang kepotong terus???????????

    Reply
  7. Awaelfkyu13

     /  May 22, 2016

    .waahhh aku suka..aku suka… keren ffnya..apalagi genrenya detective” gitu.. jd ga sabar sama next chap.nya.. di spoilernya bilang member D-team terbunuh..smoga bukan kyuhyun, donghae, atau eunhyuk.. karakter hyuk dan kyuhyun yg paling suka..mereka meski sering beradu mulut tp keduanya klop bangetlaah.. ditunggu next chap.nya yaa^^ semangaaattt!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: