VENUS [Part 10]


venus new

V E N U S


Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

Suara desisan menahan rasa sakit dan deretan umpatan terdengar dari salah satu tempat tidur yang ada di Ruang Instalasi Darurat Rumah Sakit Seoul hingga membuat beberapa pasien rumah sakit yang ada di ruangan itu terpaksa menoleh ke arah sumber suara tersebut dengan kernyitan di kening mereka.

“Bisakah kau berhenti mengumpat? Kita sedang ada di rumah sakit,” ujar Donghae setengah berbisik pada Hyukjae, berharap temannya itu mau menutup mulut tanpa harus disumpal botol infus yang menggantung di dekat tempat tidur berwarna putih tersebut.

“Aku akan membunuh Lee Sungmin Brengsek itu! Lihat saja nanti! Keparat!”

Hyukjae sama sekali tak menghiraukan ucapan Donghae. Ia lebih memilih membiarkan mulut dan otaknya mengeluarkan semua kata-kata yang menurutnya pantas ia berikan pada pelaku peledakan mobil yang ia duga mobil Lee Sungmin.

“Akan kuledakkan isi kepalanya dengan—hmmmmmmmmmmph!”

“Kubilang, diamlah.”

Donghae terpaksa benar-benar menyumpal mulut Hyukjae. Hanya saja bukan botol infus yang ia gunakan, melainkan lengan jas hitam milik Hyukjae yang tergeletak di tepi tempat tidur. Ia tidak ingin mereka berdua diusir dari rumah sakit hanya karena mengganggu ketenangan pasien lain di saat salah satu dari mereka membutuhkan pertolongan medis secepatnya.

Yaa, kau tidak lihat jahitan di keningku ini, hah? Serpihan kaca mobil itu mengenai wajahku dan…. haaah… benar-benar…,” keluh Hyukjae dengan pelan sambil menunjukkan luka robek di keningnya yang beberapa menit lalu dijahit oleh dokter. Dan yang lebih parah lagi—menurutnya—bagian depan sepatu kulit miliknya terkelupas.

Donghae menggeleng-gelengkan kepala melihat Hyukjae yang tak juga berhenti menggerutu. Gerakan matanya berhenti pada udara kosong yang ada di depannya. Ia membeku di sana, mencoba memutar ulang kejadian yang menimpa dirinya dan Hyukjae. Sesuatu mengganjal benaknya, hanya saja Donghae tak tahu apa itu. Jika benar orang yang mengendarai mobil tersebut dan sengaja meledakkannya—yeah, untuk sementara ini sebut saja orang itu sengaja melakukannya—adalah Lee Sungmin, lalu apa tujuannya? Meski harus berpikir keras sekalipun, entah kenapa Donghae tak bisa mendapatkan kesimpulan yang tepat untuk menjabarkan motif Lee Sungmin melakukan semua ini.

Lamunan Donghae buyar ketika mendengar derap langkah beberapa orang yang berlari ke arah tempat Hyukjae dirawat.

Hyung, gwaenchana?! Apa kau mendapat luka serius?! Apa kau…. woah….,” Kyuhyun yang berniat memberondong banyak pertanyaan untuk mengungkapkan kekhawatirannya terpaksa tercengang melihat jahitan di kening Hyukjae. Dengan kedua alis yang terangkat sempurna, ia mengamati Hyukjae sambil menangkup kedua sisi wajahnya. “Hyukjae Hyung, wajah yang sejak dulu kau bilang tampan ini…., kurasa sudah berkurang lebih dari 100% hanya gara-gara jahitan yang tak sepanjang telunjukku,” seloroh Kyuhyun.

Hyukjae menepis tangan Kyuhyun dengan kasar sambil meluncurkan lirikan ketus. Ia bersiap menendangkan kakinya ke arah paha Kyuhyun. Namun, karena Kyuhyun lebih cepat menjauh untuk menyelamatkan diri, ia terpaksa mengurungkan niatnya.

“Bagaimana? Apa mereka sudah menemukan orang yang mengendarai mobil itu?” tanya Donghae pada Ryeowook yang memilih tak terlibat perkelahian konyol Hyukjae dan Kyuhyun.

“Hankyung Hyung sudah mendapatkan salinan rekaman dua kamera CCTV yang tak jauh dari tempat mobil itu meledak. Mungkin saat ini Choi Siwon sedang memeriksanya,” jawab Ryeowook.

“Kita keluar sekarang,” ucap Donghae, mengambil jas Hyukjae yang kembali menggantung di tepi tempat tidur dan melemparnya tepat di wajah Hyukjae sebelum menarik kerah baju Kyuhyun bagian belakang agar teman yang lebih muda dua tahun darinya tersebut segera berdiri tegak.

“Tapi, kan aku masih berstatus pasien di sini! Bagaimana bisa kau menyuruhku segera keluar? Yaa, Lee Donghae, aku ini korban yang perlu perawatan intensif!” protes Hyukjae meski sudah turun dari tempat tidur dan mengenakan jasnya kembali.

Tak ada jawaban dari Donghae. Pria berambut gelap itu hanya membuang wajah dan berjalan keluar begitu saja sambil menarik Kyuhyun.

“Ryeowook-ah, aku masih pasien di sini, ” keluh Hyukjae, merangkul bahu Ryeowook.

.

.

.

D-Team’s Office …

Hyukjae mengerjap-ngerjapkan matanya ke arah layar laptop yang menampilkan sebuah rekaman CCTV sebuah jalan di mana ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di jalan tersebut dan tak lama kemudian mobil tersebut meledak. Ekspresi terkejut tak bisa Hyukjae sembunyikan setelah Siwon menunjukkan sosok seorang pria berpakaian serba hitam yang keluar dari dalam mobil sebelum mobil tersebut meledak.

Sosok itu sama sekali tak mirip dengan sosok Lee Sungmin. Tinggi badannya, cara berjalannya, sama sekali tidak seperti Lee Sungmin, orang yang digadang-gadang Hyukjae sebagai otak di balik peledakan mobil tersebut.

“Ini pasti hanya lelucon,” ujar Hyukjae setelah Kyuhyun juga memastikan bahwa orang yang mengendarai mobil tersebut bukanlah Lee Sungmin.

“Kau mau terima ini adalah lelucon atau bukan, yang pasti orang ini bukan Lee Sungmin. Tubuhnya tidak sekurus dan setinggi ini,” sahut Siwon dengan tenang sambil menyandarkan punggungnya pada punggung kursi yang didudukinya.

“Kalau begitu…., mungkin dia seseorang yang tidak ada hubungannya dengan Lee Sungmin. Bisa saja, kan, Go Hyeong Man terlibat masalah lain. Hutang, mungkin.”

Pernyataan Ryeowook membuat semua orang di ruangan tersebut berpikir.

“Cukup mustahil kalau dia tidak ada hubungannya dengan Lee Sungmin. Plat nomor palsu mobilnya cocok dengan mobil yang dibawa Lee Sungmin ke rumah Cha Hong Jo dan apartemen Seo Jang Ok. Selain itu, bentuk mobilnya pun sama. Saat ini kita masih memeriksa mobil tersebut secara mendetail, meski aku ragu kita bisa menemukan apapun di sana mengingat kondisinya sudah sangat rusak,” kata Donghae.

“Dan dia juga ada di depan kantor Go Hyeong Man. Selain itu, gerak-geriknya mencurigakan saat Hyukjae Hyung mengejar mobilnya,” tambah Kyuhyun.

Hyukjae tampak terdiam melihat sosok kurus tinggi tersebut. Bila ia melihat sekilas sosok tersebut, ia seperti pernah bertemu dengan orang tersebut. Hanya saja, ia tak bisa mengingat apa-apa.

“Lalu, bagaimana dengan Go Hyeong Man? Apa kalian mendapatkan sesuatu?” tanya Hankyung.

“Tidak, Kapten. Dia sama sekali tidak mengenal orang-orang tersebut walaupun ia membenarkan namanya hampir dimasukkan ke dalam daftar saksi pembunuhan Kim Myun Shik. Tapi… Donghae bilang, ada yang tidak beres dengannya. Iya kan?” Hyukjae menyenggol lengan Donghae.

“Ada sesuatu yang ganjil dengannya, Kapten. Meski begitu, aku belum bisa yakin, tapi aku mencoba mencari tahu. Ah, ada satu lagi. Dia juga menyebutkan seorang polisi pernah datang padanya untuk kasus yang sama,” kata Donghae.

“Seorang polisi?” Kening Hankyung berkerut.

“Jangan-jangan polisi dari Kantor Polisi Gangnam?” tebak Kyuhyun.

“Kurasa bukan. Menurut Pimpinan Park, Tim Penyelidik Kantor Polisi Gangnam belum sempat melakukan penyelidikan terhadap kasus kematian Kim Myun Shik karena semua berkasnya sudah dipindahkan kemari,” jawab Siwon sambil mengarahkan pandangannya pada Kyuhyun hingga membuat Kyuhyun menatapnya datar.

“Itu artinya…., polisi tersebut kemungkinan adalah polisi dari Pusat,” gumam Ryeowook.

“Tapi kan, tidak ada yang tahu berkas kasus tersebut dipindahkan kemari,” bantah Kyuhyun.

Sejenak semua orang kembali terdiam.

Teka-teki tentang pembunuhan berantai Lee Sungmin yang diduga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik yang misterius semakin rumit. Jika dulu Go Hyeong Man pernah didatangi seorang polisi—yang mungkin—dari Pusat untuk kasus yang sama, bisa jadi polisi tersebut tahu hilangnya berkas kasus Kim Myun Shik. Atau lebih tepatnya, polisi tersebut yang tahu pemindahan berkas kasus Kim Myun Shik dari Kantor Polisi Gangnam ke Kepolisian Pusat.

.

.

.

.

Immo, berikan aku dua mangkuk nasi lagi!” pinta Hyukjae pada Bibi Pemilik Kedai Sup Nasi yang letaknya tak jauh dari Gedung Kepolisian Pusat. Tak lama kemudian, nasi pesanannya sudah tiba. Dengan cepat dimasukkannya semua nasi ke dalam supnya dan langsung menyantapnya seperti tidak ada hari esok.

Donghae, Kyuhyun dan Ryeowook yang menyaksikan Hyukjae seolah sedang dirasuki hantu kelaparan hanya bisa memandang heran.

“Nafsu makanku mendadak hilang,” gumam Kyuhyun, meletakkan kembali sendoknya ke dalam mangkuk dan meneguk sebagian air putih yang ada di gelasnya.

Hyung, apa kau selapar itu?” tanya Ryeowook yang kemudian memilih untuk memakan makan malamnya pelan-pelan, meski merasa sedikit mual setelah melihat cara makan Hyukjae yang begitu ganas.

“Kalau bukan karena mobil sialan yang meledak dan hampir membuatku mati itu, aku mungkin tidak akan selapar ini. Dan juga, Si Brengsek Lee Sungmin itu yang…” Sejenak Hyukjae menghentikan ucapannya dan mengalihkan pandangannya Kyuhyun yang duduk di depannya. “…Kyuhyun-ah, aku sekarang tahu kenapa kau begitu terobsesi pada Lee Sungmin. Kau, Cho Kyuhyun, akan mendapatkan dukungan penuh dariku,” lanjutnya seraya ber-high five keras dengan Kyuhyun.

Donghae yang sejak tadi makan dibuat risih dengan dua temannya tersebut. Buru-buru diambilnya asinan lobak yang ada di atas meja dan menjejalkannya ke dalam mulut Hyukjae dan Kyuhyun. “Berhentilah berbicara dan habiskan makanan kalian.”

“Donghae Hyung, ngomong-ngomong, benarkah Go Hyeong Man adalah target Lee Sungmin yang berikutnya?” Ryeowook lebih memilih mengajak Donghae berbicara tanpa peduli dengan dua polisi di sampingnya yang sibuk membahas Lee Sungmin dengan begitu gegap gempita.

“Semoga saja perkiraan Kapten Tan benar. Jadi, setidaknya daftar nama yang kita dapat dari Kantor Polisi Gangnam ada gunanya. Oh ya, apa kau menemukan sesuatu di surat kabar lama yang berhubungan dengan kematian Kim Myun Shik?”

Ryeowook mengedikkan bahunya, kemudian berkata, “Aku sudah mencoba mencari artikel yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik di surat kabar lama. Tapi, aku tidak bisa menemukannya. Mungkin itu karena kasus tersebut lenyap sebelum sempat diselidiki secara menyeluruh dan didengar media.”

“Di situs internet. Apa kau juga pernah mencarinya di portal berita online?”

Polisi yang usianya lebih muda satu tahun dari Donghae tersebut menggerakkan dagunya pada Kyuhyun. “Bocah itu sempat mencarinya dua hari yang lalu. Bahkan ia juga mem-post-ing sebuah pertanyaan di sebuah forum.”

“Forum?”

Apa kalian pernah mendengar kasus pembunuhan aneh di tahun 2008? Itulah yang ditulisnya,” jawab Ryeowook.

“Lalu, apa ada yang menjawabnya?”

Pertanyaan Donghae tak lantas dijawab Ryeowook. Pria berambut hitam itu terkekeh, “Kedua matanya hampir lepas saat membaca balasan yang ia terima. Dari 679 balasan, tak ada satupun yang menulis sesuatu tentang kasus pembunuhan sopir mobil tahanan Kantor Polisi Gangnam. Sebagian besar hanya kasus bunuh diri dan kasus pembunuhan yang dilakukan makhluk halus. Aneh, kan?”

“Mungkin kita harus mengganti pertanyaannya,” gumam Donghae yang mendapat respon Ryeowook dengan kernyitan di kening.

“Maksud Hyung?”

Kasus pembunuhan aneh di daerah Gangnam di tahun 2008. Kalian pernah mendengarnya?—Kita bisa mencoba dengan yang itu. Atau……. Apakah ada yang tahu kasus pembunuhan seorang sopir mobil tahanan polisi di tahun 2008?

Entahlah. Ryeowook tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa yang dilakukan Kyuhyun saja sudah membuatnya menahan tawa. Dan kini, Donghae yang biasanya bersikap normal dan serius melakukan hal yang sama seperti Kyuhyun. Bedanya hanya pada ekspresi mereka berdua. Bila Kyuhyun seperti sedang bermain-main dan hopeless, Donghae justru lebih serius.

“Kau…… yakin, Hyung?”

“Tidak ada salahnya mencoba. Paling tidak, kita gunakan segala cara agar kasus ini cepat selesai. Fakta bahwa Kim Myun Shik ditembak sampai tewas untuk alasan yang belum kita ketahui saja sudah—”

“Siapa yang bilang Kim Myun Shik tewas karena ditembak?” potong Ryeowook.

Donghae berhenti mengerjapkan matanya dan memandang Ryeowook. “Apa?”

“Kim Myun Shik tewas karena dianiaya sebelum akhirnya digantung. Menurut Pimpinan Park, ada beberapa luka memar di tubuhnya dan tusukan pisau di bagian perut. Selain itu ada bekas cekikan di lehernya. Kau lupa, Hyung?” tutur Ryeowook.

Ah, iya. Donghae baru ingat! Otak Donghae seakan sedang bergerak menggabungkan potongan-potongan puzzle tak kasat mata yang mendadak hilang di hadapannya beberapa saat lalu. Kini ia menemukan gabungan puzzle tersebut yang menampilkan jawaban atas kecurigaannya terhadap Go Hyeong Man.

oOo

Sangsoo-dong, Mapo-gu, Seoul, 22 KST

Decitan ban mobil milik Go Hyeong Man terdengar samar saat Go Hyeong Man menghentikan mobilnya sedikit mendadak di depan tempat tinggalnya. Wajahnya tampak senang setelah membaca email yang masuk ke ponselnya. Rupanya ada pemberitahuan dari salah satu karyawan kantornya bahwa beberapa bulan lagi akan ada investor baru yang ingin bekerja sama dengan pabriknya.

Dengan pandangan yang masih saja tertuju pada ponselnya, pria bertubuh tegap tersebut masuk ke dalam rumahnya. Mendadak ia dibuat terkejut takkala mesin fax yang ada di ruang tengah berbunyi, ada satu pesan fax yang ia terima. Ia terpaksa mengernyitkan keningnya saat membaca pesan yang tertulis di kertas.

Umpan terakhir untuk menangkap ikan besar

Otaknya sama sekali tak bisa bekerja untuk mengartikan maksud pesan aneh tersebut. Namun, belum selesai ia mencoba memahami isi pesan tersebut, ia dibuat terkejut ketika semua lampu yang ada di dalam rumahnya tiba-tiba padam begitu saja tanpa sebab yang jelas. Jantungnya berdegup kencang setelah menyadari suasana di dalam rumahnya begitu gelap dan sunyi

Saat ia berjalan melewati kamar tidurnya yang sedikit terbuka, ia tidak menyadari ada sesosok pria berdiri di dekat pintu. Bahkan ia masih saja tak sadar, ketika sosok tersebut menyelinap keluar dan melesat dari belakang tubuhnya ke arah lain. Barulah, setelah mendengar suara benda jatuh dari arah dapur, membuatnya terkejut. Suasana rumahnya yang gelap dan sunyi mau tidak mau memaksanya merasa ada yang ganjil. Ia merasa seperti tidak sendirian di dalam rumah.

Dengan tetap waspada, ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Setiap ada suara aneh yang terdengar, ia langsung menolehkan kepalanya ke arah suara tersebut. Namun, semakin ia meningkatkan kewaspadaan dan ketajaman indra pendengarnya pada suara-suara aneh tersebut, semakin ia ketakutan.

Mendadak, tubuhnya membeku ketika tiba-tiba lampu ruang tengah menyala. Begitu juga dengan lampu-lampu yang ada di ruangan lainnya. Keringat dingin menghiasi kening dan tengkuknya saat terdengar suara langkah seseorang dari arah belakang tubuhnya. Langkah tersebut begitu pelan dan semakin mendekat. Ia bisa mendengar orang tersebut berhenti kurang dari dua langkah di belakang tubuhnya. Ia juga mendengar orang tersebut seperti mengambil sesuatu.

Beberapa detik kemudian, ia spontan menghindar ketika orang yang ada di belakangnya bergerak ke arahnya. Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang ada di belakangnya. Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri sambil membawa sebuah pisau lipat di tangan kanannya. Ia kesulitan melihat wajah orang tersebut karena orang tersebut memakai topi hitam dan bayangan bagian depan topinya menutupi sebagian wajahnya.

“S-siapa k-kau?” tanya Go Hyeong Man terbata-bata.

Orang berpakaian serba hitam tersebut hanya menampilkan seringai tipis di sudut bibir kirinya untuk menanggapi pertanyaan Go Hyeong Man.

“Kenapa kau ada di sini? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku?!” seru Go Hyeong Man yang berjalan mundur, mencoba menambah jarak dari orang tersebut yang mulai mendekatinya secara perlahan.

“Apa kabar, Go Hyeong Man Sajangnim,” sapa orang tersebut sambil terus mendekati Go Hyeong Man.

“Aku bisa melaporkanmu pada polisi! Aku bisa….” Sejenak Go Hyeong Man berhenti memberikan ancaman pada orang tersebut setelah ia teringat saran yang diberikan Donghae agar ia lebih berhati-hati mengingat dirinya adalah satu-satunya orang yang masih hidup, yang namanya hampir dimasukkan ke dalam daftar saksi kasus pembunuhan Kim Myun Shik.

“Kim Myun Shik. Kau pasti masih ingat dengan nama itu kan, Go Hyeong Man…… Sajangnim?” bisik orang tersebut.

Mata Go Hyeong Man sepenuhnya terbuka lebar-lebar sesaat setelah mendengar orang tersebut mengucapkan nama Kim Myun Shik. “J-jadi…., jadi…, k-kau…. kau…. Jangan-jangan…”

“Jadi, kau sudah ingat dengan dosa yang kau lakukan 8 tahun lalu? Hm? Bagaimana rasanya menghirup udara segar 8 tahun ini? Sudah cukup puaskah? Bagiku, kau terlalu lama menghirupnya,” ujar orang tersebut seraya menendang lutut Go Hyeong Man dengan keras hingga Go Hyeong Man harus tersujud di tempatnya menahan sakit. “… Harusnya kau bersujud seperti itu di depan jasadnya, bukan di depanku. Tapi, menurutku, meski kau bersujud ribuan kali dan meminta maaf seumur hidupmu, kau tidak akan pernah bisa membuatnya hidup kembali. Ani…, mungkin lebih tepatnya…., kau tidak akan pernah bisa menebus kesalahanmu. Apa aku harus menyebutkan apa kesalahanmu, hm?”

Belum sempat Go Hyeong Man menegakkan kepala, orang tersebut sudah melayangkan kakinya ke arah wajah Go Hyeong Man cukup keras. Pemilik pabrik tekstil tersebut langsung menubruk meja kaca yang ada di belakangnya. Ketika orang tersebut akan kembali menyerangnya, Go Hyeong Man langsung menghindar dengan merangkak cepat ke arah jendela.

“Kau… dan orang-orang itu… dengan mudahnya menutup mata dan telinga pada kebenaran yang kalian saksikan. Untuk orang-orang seperti kalian yang sudah membiarkan seseorang tak bersalah kehilangan nyawa dalam keadaan mengenaskan seperti itu……, kupikir….. bila harus langsung membunuh kalian, rasanya sangat tidak adil. Kalian harus merasakan apa yang sudah orang itu rasakan. Kenapa kau tidak melawan seperti yang lainnya? Rumahmu masih cukup rapi dan aku tidak suka itu. Kita harus membuat tempat ini berantakan, Sajangnim.”

Meski benar-benar ketakutan, Go Hyeong Man masih bisa menyuruh pikirannya untuk tetap tenang dan mencari cara agar bisa melarikan diri kalau tidak mau menjadi korban orang tersebut. sebuah guci berwarna emas yang dibelinya dua bulan lalu di Jepang ia ambil dari atas meja dan langsung ia lemparkan pada jendela yang ada di belakangnya. Akibatnya jendela kaca tersebut pecah. Sebelum melarikan diri dengan melompat dari jendela, ia masih sempat mengambil pecahan kaca yang ada di lantai dan melemparnya ke arah orang tersebut. Ia cukup yakin, kaca yang ia lempar mengenai pipi orang tersebut.

Memang benar, pecahan kaca tersebut memang mengenai pipi orang tersebut. Ada luka berdarah sepanjang 6 cm di pipi kirinya. Kesal karena langkahnya terhalang akibat pecahan kaca yang melayang ke arahnya, ia bermaksud mengejar Go Hyeong Man yang terjatuh ke atas semak-semak setelah melompat dari kaca tersebut. Namun, setelah melihat tiga orang pria berlari ke arah rumah Go Hyeong Man dan suara sirine khas milik kepolisian yang rupanya berasal dari salah satu mobil yang terparkir di pinggir jalan, ia terpaksa menghentikan aksinya. Sambil mengumpat pelan, ia menjauh dari jendela dan melarikan diri lewat pintu belakang.

.

.

.

.

Donghae, Hyukjae, Kyuhyun dan Ryeowook langsung keluar dari mobil sedetik setelah mobil yang membawa mereka berhenti di dekat beberapa mobil polisi yang datang lebih awal dari mereka. Area sekitar rumah Go Hyeong Man sudah dihiasi garis polisi berwarna kuning yang dijaga beberapa petugas. Sebuah ambulans pun juga ada di sana. Tak ayal, pemandangan seperti itu mengundang orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu berkerumun menyaksikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Jadi, benar, Go Hyeong Man adalah target Lee Sungmin?” tanya Hyukjae berlari kecil bersama Donghae, Kyuhyun dan Ryeowook.

“Kita akan tahu setelah kita bertemu dengan Go Hyeong Man,” jawab Donghae. Matanya tertuju pada mobil ambulans di mana di bagian belakangnya tampak seorang pria yang menundukkan kepala dengan selimut tebal menyelimuti tubuh bagian atasnya. Dua orang dokter sedang mengobati tangannya yang berdarah.

“Apa dia Go Hyeong Man?” Ryeowook menunjuk pria tersebut yang sesaat kemudian mendapat anggukan kepala dari Donghae. “… Donghae Hyung, Hyukjae Hyung, pergilah ke sana. Kyuhyun-ah, kau ikut denganku,” perintahnya sambil berlari menaiki tangga menuju rumah Go Hyeong Man yang sudah ada beberapa petugas di dalamnya.

Salah seorang petugas yang menemukan Go Hyeong Man jatuh dari jendela memberi hormat pada Donghae dan Hyukjae.

“Apa yang terjadi?” tanya Donghae pada seorang petugas tersebut. Go Hyeong Man yang melihat kehadiran Donghae dan Hyukjae terlihat terkejut.

“Dia diserang oleh seseorang sesaat setelah dia masuk ke dalam rumah. Kami langsung berlari ke rumahnya setelah melihat jendela kaca pecah dan dia melompat dari sana,” jawab petugas tersebut.

“Apa kau melihat orang yang menyerangnya?” tanya Donghae lagi sambil mendongakkan kepalanya, memandang jendela kaca yang sudah rusak. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat Kyuhyun dan Ryeowook memeriksa ruangan tersebut sambil berbincang dengan petugas yang bersama mereka.

“Orang yang menyerangnya hanya berdiri sebentar di dekat jendela sebelum menghilang. Karena pakaiannya serba hitam, kami tidak bisa melihat dengan jelas. Saat saya masuk ke ruangan tersebut, ia sudah tidak ada di sana,.”

“Lalu…., bagaimana kau bisa datang kemari dengan cepat? Apa dia langsung menghubungi Kantor Polisi Pusat?” Kini giliran Hyukjae yang bertanya karena merasa heran dengan sigapnya petugas dari Kepolisian Pusat yang tiba di sini kurang dari satu menit.

“Kami sudah mengawasi rumah Go Hyeong Man sejak siang tadi.”

Jawaban petugas tersebut cukup mengejutkan Hyukjae. “Sejak siang tadi? Siapa yang menyuruh kalian?”

“Kapten Tan.”

“Baiklah. Biar kami yang mengambil alih dari sini. Kau masuk ke sana dan bantu yang lain,” perintah Donghae sebelum menghampiri Go Hyeong Man.

“Aku tidak tahu Kapten Tan akan secepat itu. Bahkan dia tidak membahas masalah pengintaian atau pengawasaan tau apalah itu dengan kita, kan?” ujar Hyukjae setengah berbisik pada Donghae yang tampak sibuk mengamati Go Hyeong Man yang masih gemetar.

Sajangnim, apa kita bisa bicara setelah kondisi Anda stabil?” tanya Donghae.

“Selamatkan aku. Selamatkan aku. Selamatkan aku. Aku tidak ingin dibunuh. Aku tidak ingin dibunuh,” ucap Go Hyeong Man berkali-kali sambil mendongakkan wajahnya, memandang Donghae dan Hyukjae. Ada rasa takut yang begitu kentara di matanya.

Donghae dan Hyukjae saling pandang sebelum menganggukkan kepala bersamaan, seolah dugaan yang melintas di benak mereka memiliki kesamaan.

oOo

at Crime Investigation Unit

Suasana ruang interogasi yang ada di unit tempat D-Team bertugas tampak begitu serius. Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang ada di Control Room tak bisa melepaskan mata mereka pada Ruan Interogasi di mana di dalam sana sudah ada Hankyung dan Ryeowook yang duduk di depan Go Hyeong Man. Pemilik pabrik tekstil yang memilih untuk segera dibawa ke Kantor Polisi Pusat tersebut sejak sepuluh menit yang lalu hingga sekarang belum juga membuka mulutnya. Ia masih saja menundukkan kepala, memandang permukaan meja yang ada di depannya. Jemarinya yang ada di atas meja masih saja gemetar.

“Detektif….” Go Hyeong Man memandang tanda pengenal yang menggantung di leher Hankyung. “…Detektif Tan…., bisakah aku di sini saja untuk beberapa waktu?”

Hankyung terpaksa mengernyitkan keningnya. Kali ini Go Hyeong Man meminta mereka agar membiarkannya berada di gedung ini setelah sebelumnya menolak dibawa ke rumah sakit untuk diobati dengan alasan mungkin saja pembunuh itu bisa membunuhnya di rumah sakit.

“Go Hyeong Man Sajangnim….”

“Dia benar-benar ingin membunuhku, Detektif. Jika aku keluar dari sini, dia pasti akan kembali mencariku dan mencoba membunuhku,” potong Go Hyeong Man. Wajahnya semakin terlihat ketakutan takkala teringat kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu di rumahnya sendiri. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana menyeramkannya sosok pria berpakaian serba hitam itu tiba-tiba muncul di belakang tubuhnya dan mulai menyerangnya.

Sajangnim…”

“Iya, benar. Aku melihat orang itu dibunuh oleh mereka. Iya, orang itu… Kim Myun Shik. Mereka membunuhnya. Sebelumnya aku berbohong pada anggotamu yang datang menemuiku di kantorku. Orang itu tidak meninggal karena ditembak tapi karena dianiaya dan digantung. Aku melihatnya.” Go Hyeong Man masih berusaha menjelaskan pada Hankyung tentang apa yang dilihatnya 8 tahun lalu.

Sajangnim, cobalah untuk tenang,” Ryeowook berusaha menenangkan Go Hyeong Man yang begitu gelisah dan ketakutan.

“Aku…, aku akan menceritakan semua yang kuketahui, tapi aku mohon lindungilah aku. Aku tidak ingin dibunuh oleh orang itu, Detektif. Aku mohon.”

Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang melihat pemandangan itu dari balik kaca hanya bisa tercengang. Terlebih Hyukjae yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di benaknya masih menempel dengan kuat sosok Go Hyeong Man yang angkuh dan menyebalkan, tapi di hadapannya jutru kebalikannya. Ke mana sosok Presdir menyebalkan itu? Yang ia lihat hanyalah seorang pria berjas yang ketakutan dan memohon-mohon pada polisi agar melindunginya dari orang yang mencoba membunuhnya beberapa jam yang lalu.

“Ini artinya… kerja keras kita tidak sia-sia, kan? Maksudku…, dugaan kita, hampir semuanya tidak meleset. Iya, kan? Kita bisa segera menangkap Lee Sungmin, kan?” tanya Kyuhyun, memandang Donghae dan Hyukjae.

“Aku ragu dia mengetahui hilangnya berkas kasus Kim Myun Shik,” gumam Hyukjae yang tak menghiraukan pertanyaan Kyuhyun.

“Dan juga…, kalau benar ini semua terjadi karena kasus tersebut, kurasa kita akan bekerja semakin keras,” sahut Donghae.

“Permisi, apa aku hantu di sini?” erang Kyuhyun, tidak terima dirinya “diasingkan” seperti itu. Detik kemudian ia dibuat mengaduh oleh Hyukjae yang mendaratkan telapak tangan tepat di keningnya cukup keras. “Hyung!” protesnya.

Go Hyeong Man menceritakan bagaimana ia bisa ada di dekat pelabuhan di mana di sana adalah lokasi Kim Myun Shik dianiaya oleh beberapa orang tak dikenal. Saat itu ia baru saja bertemu dengan klien pabriknya yang memutuskan kontrak kerjasama dengannya karena kondisi pabriknya yang tidak menentu. Dan alasannya pergi ke pelabuhan itu adalah untuk menyegarkan pikiran sambil meminum beberapa kaleng bir. Tanpa sengaja ia mendengar teriakan seorang pria. Karena penasaran, akhirnya ia mencari sumber suara teriakan tersebut. Ketika ia menemukan seorang pria yang terkapar di dekat kapal seperti baru saja dihajar, ia bermaksud untuk menghampirinya. Namun, beberapa orang menariknya menjauh dan bersembunyi di balik bangunan pos jaga yang berjarak beberapa ratus meter dari orang tersebut saat terdengar derap langkah dari arah kanan bangunan pos jaga tersebut.

Dirinya dan ketujuh pria yang menariknya tadi menyaksikan orang itu ditusuk beberapa kali oleh lima orang bertubuh besar hingga tak bernyawa. Bahkan mereka harus menahan napas takkala orang tersebut digantung pada tiang lampu yang ada di dekat kapal. Suasana semakin mencekam setelah orang-orang yang membunuh orang tersebut pergi begitu saja tanpa menyadari aksi mereka diketahui oleh delapan orang pria dari balik pos jaga.

Go Hyeong Man yang saat itu benar-benar ketakutan, langsung menghubungi Kantor Polisi Gangnam.

“Lalu…., kenapa nama Anda dan nama ketujuh orang lainnya bisa dicoret dari daftar saksi? Padahal kalian jelas-jelas melihat kejadian itu?” tanya Hankyung sesaat setelah Go Hyeong Man menarik napas. Salah satu tangannya yang ada di bawah meja mengepal erat sejak Go Hyeong Man menceritakan kronologis kejadian mengerikan yang menimpa ayah teman dekatnya tersebut. Ada sesuatu di matanya, tapi ia berusaha untuk tidak membiarkan sesuatu yang ada di matanya tersebut keluar.

Kali ini Go Hyeong Man tak langsung memberikan jawaban seperti yang sejak tadi ia lakukan tiap kali Hankyung atau Ryeowook bertanya padanya. Ada keraguan yang tersirat di wajahnya, seperti…. ia tampak ingin memberikan jawaban, tapi ada sesuatu yang mencoba menghalanginya.

“Apa yang membuat Anda dan ketujuh orang itu tidak jadi memberikan kesaksian pada polisi Gangnam yang menangani kasus tersebut?” Kini giliran Ryeowook yang memberikan pertanyaan setelah polisi berambut hitam itu merasa kaptennya sedang berusaha meredam emosi.

“Itu…. itu….,” Go Hyeong Man menggumam tidak jelas. Gerakan bola matanya tak menentu. Ini sudah jelas menandakan dia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu yang sudah tercium oleh semua polisi yang ada di ruangan tersebut.

Hankyung menegakkan posisi duduknya dan meletakkan selembar kertas yang ia ambil dari pangkuannya. Di kertas tersebut terpasang foto pria berwajah bulat dan beberapa informasi. “Jang Min Soo. Dia adalah orang pertama yang dimasukkan ke dalam daftar saksi pada tanggal 21 Oktober 2008, di hari yang sama polisi datang ke lokasi jasad Kim Myun Shik,” ujarnya.

Setelah memastikan Go Hyeong Man memandang foto tersebut, Hankyung lantas meletakkan empat kertas lagi di samping data milik pria bernama Jang Min Soo tersebut. “Kwak Tae Il, Kang Si Chang, Yoon Jung Gil dan Choi Kyung So . Mereka juga dimasukkan ke dalam daftar saksi di tanggal yang sama.”

Tak sampai di situ. Hankyung kemudian kembali meletakkan tiga kertas terakhir yang dibawanya ke atas meja sedikit berjauhan dengan lima kertas tersebut. “Cha Hong Jo, Seo Jang Ok dan Anda, Go Hyeong Man Sajangnim, juga dimasukkan ke dalam daftar saksi di tanggal yang sama. 21 Oktober 2008.”

Ucapan Hankyung semakin membuat semua anggota D-Team mengernyitkan kening karena penasaran apa yang ingin Hankyung coba ungkapkan dengan menunjukkan kedelapan kertas tersebut pada Go Hyeong Man. Padahal bila mereka harus mengingat-ingat, berkas-berkas kasus bunuh diri pemberian Pimpinan Park dari Kantor Polisi Gangnam masih belum bisa memberikan petunjuk yang cukup.

“Kelima orang ini,” ujar Hankyung seraya memberi jeda pada kata-katanya sambil menunjuk lima kertas yang ia tata bersebelahan tersebut. “… Jang Min Soo, Kwak Tae Il, Kang Si Chang, Yoon Jung Gil dan Choi Kyung So. Anda pasti sudah mendengar kalau mereka tewas karena bunuh diri kan?” tanya Hankyung kemudian.

Go Hyeong Man mengangguk pelan. Matanya masih tertuju pada kertas-kertas tersebut.

“Tapi, apakah Anda yakin kalau mereka tewas karena bunuh diri?”

Tak pelak pertanyaan yang baru saja dilontarkan Hankyung pada Go Hyeong Man langsung mengejutkan semua anggota D-Team, tak terkecuali Ryeowook yang duduk di sebelahnya. Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang ada di Control Room saling pandang.

Jari telunjuk Hankyung mendarat pada kertas milik Jang Min Soo. “Jang Min Soo ditemukan tewas gantung diri di rumahnya pada tahun 2008, tepatnya dua bulan setelah Kim Myun Shik ditemukan tewas. Kemudian, ini. Kwak Tae Il, juga ditemukan tewas gantung diri di apartemennya pada tahun 2009. Lalu, Kang Si Chang, ditemukan tewas gantung diri di apartemennya pada tahun 2010. Yoon Jung Gil, ditemukan tewas gantung diri di dapur cafe miliknya pada tahun 2013. Dan terakhir, Choi Kyung So, ditemukan tewas gantung diri di belakang kantornya pada tahun 2014. Bila tahun kematian mereka acak, mungkin ini hanya akan menjadi kasus bunuh diri biasa. Tapi… tidakkah Anda merasa ada yang janggal dengan kematian mereka, Sajangnim?”

Mata Go Hyeong Man perlahan terbelalak, seolah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan Hankyung. Jemarinya yang ada di atas meja mulai gemetar.

“Kelima orang ini meninggal sesuai dengan urutan nomor mereka yang ada di dalam daftar. Bahkan di tahun yang juga berurutan meski sempat ada jeda dua tahun antara kematian Kang Si Chang dan Yoon Jung Gil,” ujar Hankyung.

Di dalam Control Room, Donghae mencoba memahami kata demi kata yang diucapkan kaptennya tersebut hingga akhirnya ia tercengang dengan petunjuk baru yang berhasil ia dapatkan di dalam kepalanya. Tepukan pelan Hyukjae yang berdiri di sampingnya, memaksanya menoleh. Tampaknya temannya tersebut juga baru saja menemukan hal yang sama dengannya.

“Kenapa dengan kalian berdua? Ingin buang air kecil? Ingin buang air besar?” tanya Kyuhyun yang sama sekali tak mengerti dengan sikap aneh Donghae dan Hyukjae. Merasa pertanyaannya kembali tak dihiraukan, Kyuhyun lantas membuang muka dari mereka berdua dan memilih untuk menarik kursi yang ada di dekatnya dengan keras dan duduk begitu saja. “Aku tidak percaya, aku benar-benar dianggap hantu di sini.”

Sementara itu di dalam Ruang Interogasi, Hankyung kini mendekatkan dua kertas yang letaknya berjauhan dengan kelima kertas yang tadi pada Go Hyeong Man. Telunjuknya terlebih dulu menunjuk kertas berisi informasi Cha Hong Jo sebelum menunjuk kertas milik Seo Jang Ok.

“Cha Hong Jo, ditemukan tewas dibunuh oleh seseorang di tahun ini. Dan tak sampai enam bulan, Seo Jang Ok juga ditemukan tewas dibunuh seseorang. Menariknya, kematian mereka berdua juga sesuai dengan nomor urut yang mereka dapatkan di dalam daftar tersebut. Lebih menarik lagi, orang yang telah membunuh mereka berdua adalah orang yang sama,” kata Hankyung yang rupanya berhasil membuat Go Hyeong Man menarik napas karena terkejut.

Suasana berubah menjadi tegang takkala Hankyung menunjuk kertas terakhir yang berisi informasi Go Hyeong Man.

“Nama Anda berada di urutan terakhir dalam daftar saksi tersebut. Jika orang yang semalam berusaha membunuh Anda adalah orang yang sama yang sudah membunuh Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok, itu artinya kasus bunuh diri lima orang ini dan dua pembunuhan yang sedang kami selidiki ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik di tahun 2008, Sajangnim.” Hankyung kembali menyandarkan punggungnya pada punggung kursi yang didudukinya sambil menghela napas panjang.

Go Hyeong Man membeku di tempatnya. Tarikan napasnya terasa begitu berat, seolah ada beban yang sangat berat menimpa tubuhnya.

“Go Hyeong Man… Sajangnim?” panggil Ryeowook, berusaha menggerakkan tubuh Go Hyeong Man yang tegang.

Berbeda dengan Ryeowook yang panik melihat perubahan kondisi Go Hyeong Man, Hankyung justru memandang pria tersebut dengan tatapan dingin.

“Kapten, kita harus berhenti sejenak hari ini dan biarkan Go Hyeong Man untuk—“

“Buka saja kasusnya lagi, Detektif. B-buka saja kasusnya kembali, Detektif. A-aku a-akan berjanji untuk mengatakan semuanya. T-tapi dengan s-satu syarat. Kalian harus benar-benar menjamin keselamatanku. A-aku…..” Suara gemetar Go Hyeong Man yang memohon agar kasus Kim Myun Shik yang ia dengar sudah ditutup 8 tahun lalu kembali dibuka memotong permintaan Ryeowook pada Hankyung.

“Anda tahu kenapa kasus itu ditutup?” tanya Hankyung, menatap lurus ke arah Go Hyeong Man.

Ada tanda tanya di wajah Go Hyeong Man.

“Dua hari setelah Polisi Gangnam menyerahkan semua berkas kasus Kim Myun Shik ke Kepolisian Pusat, berkas itu menghilang. Karena itulah kasus itu ditutup begitu saja. Sudah kuduga, Anda tidak tahu apa-apa, kan?” Hankyung menjawab sendiri pertanyaannya dengan nada dingin.

Hanya dengan mendengar Hankyung saja, Go Hyeong Man sudah tampak lebih gelisah lagi dari sebelumnya. Dan itu cukup memaksa Hankyung kehilangan kesabaran lebih dari 75%.

Ryeowook yang duduk di sampingnya langsung terperanjat ketika tiba-tiba Hankyung bangkit dari kursi sambil menggebrak meja. Amarah begitu jelas di wajahnya saat ia menajamkan tatapan matanya pada Go Hyeong Man. Napasnya terasa panas dan memburu.

“Apa yang sudah Anda dan ketujuh orang itu lakukan pada Kim Myun Shik lebih biadab dibanding bila kalian sendiri yang membunuhnya! Bagaimana bisa orang-orang seperti kalian memalingkan muka begitu saja padahal kalian sudah berniat akan menjadi saksi pembunuhannya! Karena kalian juga… kematiannya seperti tak ada nilai sama sekali! Bahkan orang yang membunuh hewan sekalipun, mereka bisa dihukum, tapi orang-orang yang sudah membunuhnya….” Kedua mata Hankyung yang berkaca-kaca semakin tajam memandang Go Hyeong Man. “….orang-orang yang sudah membunuhnya bisa menghirup udara segar 8 tahun ini karena kalian!”

Bagi Go Hyeong Man, cara Hankyung mengucapkan kata-kata itu padanya, cara kedua mata Hankyung menatap matanya, seakan ia sedang berhadapan dengan orang yang berusaha membunuhnya semalam. Sorot tajam mata mereka berdua… sama-sama menyiratkan kekecewaan yang amat dalam dan kemarahan yang begitu besar. Seakan mereka berdua sedang membicarakan kematian seseorang yang sangat dekat dengan mereka.

Donghae yang menyaksikan ketegangan di Ruang Interogasi melalui Control Room hanya menghela napas pelan. Ia juga tak bisa menyalahkan Hankyung yang kehilangan kendali seperti itu karena ia tahu bagaimana perasaan Hankyung.

.

.

.

At D-Team’s Office…

Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun tampak termenung di meja kerja masing-masing. Bahkan Ryeowook yang memilih untuk tidak berdiam diri di Ruangan Ketua Tim pun ikut termenung meski ia duduk di sofa yang ada di tengah ruangan kantor.

Pembicaraan mereka dengan Go Hyeong Man hari ini tak membuahkan apa-apa selain kapten unit mereka yang melampiaskan semua amarahnya karena tindakan Go Hyeong Man dan ketujuh orang lainnya 8 tahun lalu. Dan karena itulah, akhirnya mereka memutuskan untuk memberi jeda sejenak pada semua orang, terutama Hankyung, agar bisa menurunkan tensi ketegangan sebelum kembali melanjutkan pembicaraan, tentunya dengan kepala dingin.

“Hankyung Hyung… saat ini pikirannya pasti tidak karuan,” Kyuhyun memulai percakapan setelah sejak semua anggota D-Team masuk ke dalam ruangan, tak ada yang mau membuka mulut.

“Mendengar kronologis kematian ayah teman dekatnya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri dari mulut saksi mata…, siapa yang tidak akan marah dan sedih seperti itu? Apalagi saksi mata itu tiba-tiba tidak jadi bersaksi di depan polisi, ditambah kasusnya yang harusnya masih bisa diproses agar pembunuhnya bisa ditemukan dan dihukum agar adil justru… menghilang begitu saja,” sahut Hyukjae pelan, membayangkan dirinya berada di posisi yang sama seperti Hankyung. Ada sepercik rasa kecewa dan amarah walaupun ia hanya membayangkannya saja.

“Menurut kalian, apa yang sedang Go Hyeong Man coba sembunyikan?” tanya Ryeowook yang menyembulkan kepalanya dari balik sofa untuk memandang ketiga rekan satu timnya yang duduk di meja kerja masing-masing.

Hyukjae mengedikkan bahunya.

“Tapi dia tidak akan terus-menerus menyembunyikan sesuatu itu dari kita, kan? Dia sudah hampir dibunuh oleh orang itu. Dan kini dia memaksa kita untuk membiarkannya menginap di sini karena takut orang itu akan kembali membunuhnya. Bukankah itu artinya dia sudah dalam kondisi tersudut? Dia sudah memohon-mohon pada kita untuk menyelamatkan dirinya. Satu-satunya cara agar kita bisa menyelamatkannya adalah dia juga harus menolong dirinya sendiri. Iya, kan?” ujar Ryeowook lagi yang tampaknya membuat Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun berpikir.

“Bagaimana kalau… kasus pembunuhan Kim Myun Shik bukan kasus pembunuhan biasa?”

Pertanyaan Kyuhyun mengalihkan perhatian semua orang padanya.

“Maksudmu?” Hyukjae mengernyitkan kening ke arah Kyuhyun.

“Semakin lama aku memikirkannya, semakin mengerikan, Hyung. Sudah jelas pembunuhan Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok, juga percobaan pembunuhan terhadap Go Hyeong Man ada hubungannya dengan kematian Kim Myun Shik. Mungkin juga lima orang lainnya yang mati karena bunuh diri tidak murni membunuh dirinya sendiri. Di berkas mereka tertulis, sebelum mereka bunuh diri, ada seseorang yang bertemu dengan mereka,” tutur Kyuhyun.

Ryeowook menepuk pinggiran sofa, kemudian mencoba menimpali ucapan Kyuhyun, “Tanpa sebab yang jelas juga, kedelapan saksi mata kematian Kim Myun Shik tidak jadi memberikan kesaksian saat berkas kasusnya dialihkan ke Pusat. Kemudian berkas itu menghilang tanpa diketahui siapapun. Aku berani bertaruh, apa yang dikatakan Kyuhyun benar. Kasus kematian Kim Myun Shik bisa jadi adalah kasus besar.”

Di saat semua anggota D-Team sibuk memikirkan dugaan-dugaan tersebut, Hankyung muncul dari balik pintu kantor D-Team yang terbuka. Kapten unit tempat D-Team bertugas tersebut menyuruh mereka untuk datang ke Ruang Interogasi karena Go Hyeong Man ingin mengatakan sesuatu lagi.

“Aku harap kali ini kita mendapatkan sesuatu,” gumam Hyukjae setelah bangkit dari kursinya dan berjalan bersama Donghae ke arah pintu.

“Kau ikut kan, Ryeowook-ah?” tanya Kyuhyun pada Ryeowook yang berjalan ke ruangannya.

“Aku ambil ponselku dulu, nanti aku akan menyusul.” Ryeowook melambaikan tangannya pada Kyuhyun yang ada di ambang pintu sebelum melangkah masuk ke ruangannya.

Dipijatnya pelan tengkuknya yang terasa sakit setelah mengambil ponsel tipis yang ada di atas meja. Tangannya yang lain baru akan ia ulur untuk merapikan tumpukan berkas yang berantakan di tepi meja saat tanpa sengaja menjatuhkan selembar kertas.

Sambil berdecak pelan, ia membungkukkan tubuhnya untuk memungut kertas tersebut.

“Bukankah ini penyelidikan yang dilakukan Kyuhyun?” gumamnya saat mengetahui kertas di tangannya adalah hasil penyelidikan Kyuhyun terhadap penyerangan polisi dan pembunuhan Kim Bo Sang.

.

.

.

Kyuhyun berdecak pelan setelah membaca pesan dari Ryeowook.

“Kenapa lagi?” tanya Hyukjae yang mendengar decakan Kyuhyun.

“Ryeowook tidak bisa kemari. Ada yang harus ia kerjakan,” jawab Kyuhyun seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

“Bocah itu…,” gumam Hyukjae kembali mengarahkan pandangannya ke Ruang Interogasi di mana Hankyung dan Donghae kembali duduk di depan Go Hyeong Man. Namun, ia kembali dibuat kesal saat pintu Control Room dibuka seseorang dari luar. “Aish…, siapa lagi sih yang…” Gerutuannya menggantung setelah mendapati sosok Siwon yang sejak tadi tak terlihat kini muncul dari balik pintu tersebut.

“Kenapa semua orang ada di sini?” tanya Siwon ringan sebelum terhenyak saat melihat ke Ruang Interogasi.

“Tidakkah kau merasa keterlaluan saat semua anggota D-Team harusnya berkumpul menyelesaikan kasus ini dan kau seenaknya menghilang begitu saja?” desis Hyukjae tanpa mengalihkan pandangannya dari Ruang Interogasi.

“A-Team membutuhkanku. Bagaimanapun juga aku masih Ketua A-Team dan—“

“Kalau begitu diam sajalah,” potong Hyukjae kesal.

Siwon hanya tersenyum tipis sebelum memandang Go Hyeong Man dengan serius. “Apa yang akan Kapten lakukan padanya?” tanyanya pada Kyuhyun.

“Sebelumnya kita belum mendapatkan apa-apa darinya. Tapi sekarang… kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu,” jawab Kyuhyun sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Tak ada yang ingin Siwon tanyakan lagi. Ia menghela napas sambil mengusap dagunya pelan. Sama seperti semua orang yang ada di ruangan itu, ia juga menunggu apa yang ingin dikatakan Go Hyeong Man.

Di dalam Ruang Interogasi, Go Hyeong Man yang terdiam cukup lama akhirnya mulai berbicara.

“Saat itu kami sama-sama mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Sebagian dari kami terlilit hutang besar. Ada juga yang usahanya hampir bangkrut. Dua hari setelah berkas kasusnya dipindahkan ke Kepolisian Pusat, kami mendapat telepon dari seseorang. Orang tersebut memberitahu kami kalau kasusnya sudah selesai, jadi kami tidak perlu memberikan kesaksian. Entah bagaimana caranya, orang itu bisa tahu kondisi keuangan kami dan bersedia membantu kami dan—“

“Maka dari itu pabrik Anda pulih bahkan bisa membaik dalam waktu satu minggu setelah hampir disegel?” tebak Donghae yang kemudian mendapat anggukan Go Hyeong Man.

“Tapi? Tidak mungkin kan orang itu hanya membantu keuangan Anda dan ketujuh orang lainnya begitu saja mengingat jumlah nominal yang orang itu keluarkan tidaklah sedikit,” selidik Hankyung dengan suara berat.

“I-iya, Detektif,” Go Hyeong Man membenarkan Hankyung.

“Gantinya?”

Perlahan Go Hyeong Man menegakkan kepalanya untuk memandang Hankyung yang menunggu jawabannya. “K-kami tidak boleh memberitahu siapapun soal kejadian malam itu. Tak terkecuali polisi sekalipun. J-jika sampai kami membuka mulut, orang itu tidak segan-segan untuk membunuh kami. Dia bilang…, dia bisa mengawasi kami meski dalam jarak terjauh sekalipun.”

“Apa Anda tahu siapa dia?”

Go Hyeong Man menggelengkan kepala, “Dia hanya berkomunikasi dengan kami melalui telepon. Dan itu pun hanya satu kali. Setelah itu…, dia tidak pernah menghubungi kami semua.”

“Lalu, bagaimana bisa Anda dan ketujuh orang lainnya masih tetap bungkam selama 8 tahun ini?”

“Karena kami masih terus diawasi.”

“Bagaimana Anda yakin soal itu?”

“Karena—,” Go Hyeong Man menggantungkan ucapannya. Ia kembali ragu. “… karena… karena… karena… kami masih menerima uang darinya setiap tahun. Aku sudah berusaha mencari tahu siapa pengirimnya, tapi pihak Bank juga tidak bisa memberitahu karena mereka tidak tahu. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, Detektif. Aku ingin melaporkan hal ini, tapi setiap melihat jumlah tabunganku bertambah tiap tahunnya, aku semakin kehilangan keberanian. Hanya dengan melihat buku tabunganku saja, aku sudah seperti sedang diawasi oleh orang itu dari kejauhan.”

Untuk beberapa detik Hankyung dan Donghae saling pandang sambil mengernyitkan kening.

“Apakah nama Bank itu… Center Bank?” tebak Donghae.

“Iya, Detektif.”

Terdengar helaan napas dari Hankyung setelah mendengar jawaban Go Hyeong Man.

“Baiklah. Jadi…, Anda sama sekali tidak tahu kenapa Kim Myun Shik dibunuh malam itu? Anda sama sekali tidak tahu siapa yang melarang Anda menceritakan kejadian itu pada siapapun setelah kasus tersebut ditutup? Anda juga tidak tahu siapa yang mengirimi Anda uang tiap tahunnya?” Donghae memberikan pertanyaan-pertanyaan guna memperjelas beberapa poin yang akan dijadikan pembahasan timnya.

“Sama sekali tidak tahu, Detektif. Aku sama sekali tidak tahu.”

Beberapa menit suasana Ruang Interogasi begitu sunyi. Donghae tampak mengetikkan sesuatu di laptopnya. Tiga polisi muda yang ada di Control Room begitu serius menanti pertanyaan apa lagi yang akan diberikan Hankyung ataupun Donghae untuk Go Hyeong Man.

“Sekarang… tentang orang yang berusaha membunuh Anda semalam…, apakah Anda mengenalinya?” tanya Hankyung setelah hampir sepuluh menit mereka semua terdiam.

“Tidak, Detektif. Dia memakai pakaian serba hitam, jadi aku sama sekali tidak mengenalinya. Tapi… sepertinya tinggi badannya….” Sejenak Go Hyeong Man memandang Donghae sebelum kembali melanjutkan kata-katanya, “…tingginya sama dengan tinggi Detektif Lee Donghae. Tubuhnya… tidak kurus tapi juga tidak terlalu kekar dan….,” Go Hyeong Man kembali terdiam untuk mengingat-ingat bagaimana ciri-ciri orang misterius yang menyerangnya.

“Pirang! Iya, pirang, Detektif. Dia memang memakai topi, tapi aku masih bisa melihat warna rambutnya. Pirang. Rambutnya pirang.”

Tak pelak penuturan Go Hyeong Man mengejutkan Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang berada di ruangan terpisah. Bel yang ada di dalam kepala mereka seolah berdering setelah mendengar ciri-ciri terakhir pria yang menyerang Go Hyeong Man.

Tinggi badan sama dengan tinggi badan Donghae. Tubuh tidak kurus tapi juga tidak terlalu kekar. Dan yang terakhir, berambut pirang.

Ketiga polisi yang tergabung dalam D-Team tersebut berani bertaruh ratusan juga Won, tebakan mereka pasti sama.

“Apakah orang itu seperti ini?” Donghae mendekatkan foto pelaku pembunuh Cha Hong Jo yang tubuh bagian belakangnya tertangkap kamera CCTV dan foto pelaku pembunuh Seo Jang Ok yang juga tertangkap kamera di dekat lift gedung apartemen Seo Jang Ok.

Sesaat Go Hyeong Man mengernyitkan kening sambil menajamkan penglihatannya pada kedua foto tersebut. Walaupun kedua foto tersebut tak bisa menampilkan tubuh bagian depan ataupun wajah pelaku, Go Hyeong Man seolah bisa melihat dengan jelas betapa miripnya postur tubuh mereka berdua dengan orang yang menyerangnya.

“I-ini… sangat mirip dengan orang yang menyerangku, Detektif. Cara berdirinya, bentuk tubuhnya dan caranya menundukkan kepala. Semuanya mirip,” jawab Go Hyeong Man.

Tepat sekali!

Orang itu tak lain tak bukan adalah Lee Sungmin yang selama ini dicari D-Team.

“Apa dia mengatakan sesuatu pada Anda malam itu, Sajangnim?”

“Dia hanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap kematian Kim Myun Shik, seperti yang dilakukan Detektif Tan Hankyung padaku beberapa saat yang lalu. Dia juga bilang kalau… bila hanya membunuh kami secara langsung, rasanya tidak adil. Kami harus merasakan apa yang orang itu rasakan di saat-saat kematiannya.” Go Hyeong Man menundukkan wajahnya ketika Hankyung menatapnya. Jujur saja, ia masih bergidik ngeri bila mengingat bagaimana Hankyung melampiaskan semua emosi padanya tadi.

Siwon yang bersama Hyukjae dan Kyuhyun tertawa kecil, seolah merasa geli dengan apa yang dikatakan Go Hyeong Man di Ruang Interogasi.

“Apa yang kau tertawakan, hah?” desis Hyukjae sambil melirik ketus ke arah Siwon.

Ani. Orang yang menyerang Go Hyeong Man…, dia sedikit kekanak-kanakan. Kalau dia tidak membuang-buang waktu dengan berbicara panjang lebar yang sudah pasti tidak ada gunanya, dia pasti sudah berhasil menghabisi Go Hyeong Man, seperti yang dia lakukan pada korban-korban sebelumnya. Terkadang…, penjahat jaman sekarang juga sedikit melankolis, menurutku.”

Hyukjae memutar matanya malas setelah mendengar kata-kata Siwon.

“Meski tetap membuatku merasa aneh dan kesal, kurasa aku sependapat denganmu, Siwon Hyung,” timpal Kyuhyun yang mendapat sodokan dari siku Hyukjae di ulu hatinya. Siwon hanya tersenyum tipis sambil tetap menatap Go Hyeong Man.

“Kau sekarang ada di pihaknya?” erang Hyukjae hampir tak menggerakkan bibirnya pada Kyuhyun.

“Tidak. Dia tetap menyebalkan. Tunggu….,” Kyuhyun yang teringat sesuatu langsung menoleh pada Hyukjae dengan memasang wajah panik. “… apa aku baru saja memanggilnya dengan sebutan Hyung?”

“Apa kau menderita Amnesia mendadak?” Hyukjae memasang ekspresi datar.

“Astaga.”

oOo

Jam dinding menunjukkan pukul satu malam. Semua anggota D-Team tampak sangat lelah dengan apa yang sudah mereka lakukan seharian ini di dalam Ruang Interogasi. Meski yang mereka lakukan hanyalah duduk mendengarkan keterangan yang diberikan Go Hyeong Man, tubuh mereka terasa sakit semua. Terlebih kepala mereka yang sejak tadi terasa pusing. Sepertinya hari ini mereka memperkerjakan otak mereka terlalu keras.

“Aku pulang dulu ya,” pamit Kyuhyun yang kedua matanya sudah begitu sayu.

“Lalu, mobilmu?” tanya Hyukjae yang heran saat Kyuhyun mengubungi taksi sebelum pamit pulang.

“Malam ini aku tidur di rumah Hankyung. Selain dekat, aku juga tidak akan khawatir merepotkan sopir taksi yang sudah pasti akan kesulitan membangunkanku di taksinya,” jawab Kyuhyun seraya kembali melambaikan tangan.

“Aku tanya bagaimana dengan mobilmu. Memangnya apa peduliku kau mau tidur di mana?”

Kyuhyun mencebikkan bibirnya, kesal dengan kata-kata Hyukjae.

“Sudah sana. Pulang saja sana. Kau tidak akan pernah bisa menang bila berdebat denganku.” Hyukjae terkekeh melihat wajah protes Kyuhyun yang menggelikan baginya.

Hyung, kau mau pulang juga? Kukira kau akan menemani Hankyung Hyung di sini. Gara-gara Go Hyeong Man, dia harus menginap di sini,” ujar Kyuhyun pada Donghae yang sudah bersiap-siap untuk pulang.

Donghae hanya menepuk bahu Kyuhyun dan Hyukjae sebelum lebih dulu keluar dari ruangan kantor D-Team dan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar, tempat parkir mobil.

Sesaat setelah ia sampai di area parkir dan bermaksud berjalan mendekati mobilnya, matanya tak sengaja menangkap sosok Ryeowook yang berdiri seorang diri di area parkir 1H di mana letaknya tak terlalu jauh dari mobilnya. Ketua timnya tersebut tampak memandangi beberapa kamera CCTV yang terpasang di sekitar tempatnya berdiri sebelum masuk ke dalam mobil.

Belum sempat Donghae memanggil Ryeowook, polisi berambut gelap tersebut sudah lebih dulu melajukan mobilnya keluar dari area parkir. Meninggalkan Donghae yang masih bertanya-tanya.

Drrrt…. drrrrt….

Donghae dikejutkan sendiri oleh bunyi getar ponselnya yang ada di saku mantelnya. Dilihatnya Henry berusaha menghubunginya.

[Hyung, Kyuhyun Hyung bilang malam ini kau pulang?]

Suara Henry terdengar antusias. Dan itu sudah cukup membuat Donghae tersenyum tipis sambil masuk ke dalam mobil.

“Iya,” jawab Donghae singkat seraya memakai sabuk pengaman.

[Kau mau makan sesuatu? Biar aku yang membelinya. Kebetulan aku juga baru sampai di depan gedung karena tadi aku harus berada di rumah temanku dulu.]

“Tidak perlu. Kau langsung masuk saja. Aku yang akan membeli beberapa makanan. Apalagi ini sudah lewat tengah malam. Bukankah sudah kularang berada di luar bila sudah lewat jam dua belas malam?” Donghae menggaruk pelipisnya saat tahu adiknya tersebut masih saja keluyuran di jam segini.

[Baiklah. Akan kutunggu di rumah. Kata Kyuhyun Hyung kalian sedang menangani kasus besar ya? Nanti ceritakan padaku, ya?]

“Iya.”

Hanya itu jawaban Donghae sebelum mematikan ponselnya dan menyalakan mesin mobilnya.

Jalan raya yang dilaluinya tampak lengang. Tak banyak kendaraan yang melintas di jalan tersebut mengingat saat ini sudah lewat tengah malam. Begitu juga orang-orang yang berjalan di trotoar. Sejak tadi yang ia lihat hanyalah beberapa orang pria yang masih terlihat di sana.

Brak!

Perhatian Donghae teralihkan pada sebuah sepeda motor usang yang terjatuh di pinggir jalan. Minuman kaleng yang ada di dalam box sepeda motor tersebut berserakan di jalan. Karena melihat pemilik sepeda motor tersebut kesulitan mengumpulkan kaleng-kaleng tersebut, akhirnya Donghae memutuska untuk menepikan mobilnya dan membantu.

“Terima kasih,” ucap pria pemilik sepeda motor yang mengenakan topi merah tersebut pada Donghae yang membantu mengumpulkan minuman kalengnya. Awalnya ia ingin menghentikan Donghae yang masih saja memunguti kaleng-kalengnya yang ada di dekat sepeda motor, tapi karena Donghae tetap memaksa ingin membantu, akhirnya ia hanya bisa kembali berterima kasih.

“Kurasa aku harus segera memperbaiki motor ini. Ini sudah ketiga kalinya aku melihat barang yang kujual keluar dari kotak dan menghiasi jalan seperti ini,” ujar pria tersebut seraya menutup kotak yang ada di sepeda motornya setelah semua kaleng dimasukkan.

Donghae baru akan menanggapi ucapan pria tersebut ketika ia merasa seperti pernah bertemu dengan pria tersebut. Masalahnya ia lupa kapan dan di mana.

“Apa… kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Donghae.

Pria tersebut tersenyum sembari sedikit menaikkan topi bagian depannya yang sebelumnya menutupi sebagian wajahnya.

“Mungkin Anda tidak ingat, Pak. Tapi saya cukup yakin kalau kita memang pernah bertemu sebelumnya.”

“Benarkah?” Donghae membalas senyuman pria tersebut dan mengamati sepeda motor yang ada di dekatnya.

“Entah Anda percaya atau tidak, tapi saya termasuk orang yang dengan mudah mengingat seseorang yang pernah saya temui meski hanya beberapa detik.”

“Wah, Anda pasti orang jenius.”

Beberapa detik pria bertopi tersebut hanya memandang Donghae sebelum kembali tersenyum. Tangannya mengambil satu pack minuman kaleng dari dalam kotak dan memberikannya pada Donghae. “Sebagai ucapan terima kasih, ambillah ini.”

Donghae mencoba menolak karena ia membantunya dengan tulus tanpa meminta imbalan apapun. Namun, pria tersebut bersikeras memberikan minuman kaleng itu hingga akhirnya Donghae pun menerimanya. Kening Donghae berkerut takkala melihat salah satu kaleng yang ada di tangannya. Kemudian matanya menatap pria yang ada di depannya itu.

“Depan Palace Tower. Iya kan?”

Pertanyaan Donghae membuat pria tersebut terkekeh pelan dan mengangguk kecil. “Saya kira Anda lupa, Detektif.”

“Jadi…, Anda bekerja sampai semalam ini? Dan… eo? Wajah Anda…” Donghae sedikit terkejut melihat plester luka menghiasi pipi kiri pria tersebut.

Menyadari Donghae menunjuk luka yang ada di pipi kirinya, pria tersebut hanya menyentuh plester lukanya dan tersenyum. “Hanya sedikit melakukan kecerobohan di tempat kerja.”

“Begitu, ya? Baiklah, saya harus segera pergi. Adik saya menunggu di rumah. Terima kasih minumannya. Saya akan menikmatinya.” Donghae menundukkan kepala sesaat pada pria tersebut.

“Terima kasih atas bantuannya, Detektif. Semoga kasus yang sedang Anda tangani segera selesai,” sahut pria tersebut seraya melakukan hal yang sama seperti Donghae.

Donghae yang baru akan berbalik badan untuk berjalan menuju mobilnya terpaksa menoleh kembali ke arah Sungmin. Tampaknya ia mendengar sesuatu yang aneh dari Sungmin.

“Kasus?”

“Anda kan seorang polisi. Sudah pasti selalu ada kasus yang Anda tangani. Saya sebagai warga biasa hanya mencoba memberikan semangat.”

Mendengar jawaban Sungmin, Donghae lantas tersenyum tipis setelah beberapa detik terdiam memikirkan sesuatu.

“Apa… memang ada kasus yang sedang Anda tangani, Detektif?” Ekspresi Sungmin berubah seperti orang yang merasa bersalah karena mengatakan sesuatu yang lancang.

Tak ada jawaban yang diberikan Donghae selain ulasan senyum dan lambaian tangan sebelum masuk ke dalam mobil.

“Hati-hati di jalan, Detektif!” seru Sungmin saat mobil Donghae menjauh darinya. Senyumnya terpatri cukup lama di bibirnya hingga akhirnya mobil Donghae sudah tak terjangkau pandangannya.

Drrrt… drrrt….

Ponsel Sungmin yang ada di dalam saku celana bergetar. Seseorang sedang berusaha menghubunginya dan ternyata orang itu adalah salah satu anak buah Heechul.

“Ya?”

[Hyung, kurasa Go Hyeong Man masih ada di kantor polisi itu.]

Sungmin mengarahkan kembali matanya pada jalan kosong yang sebelumnya terlihat mobil Donghae di sana. “Aku sudah tahu itu.”

[Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Hyung? Hanya dia satu-satunya orang yang tersisa.]

“Kau tidak perlu khawatir. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan mengurusnya,” jawab Sungmin sebelum mematikan ponselnya. Diambilnya sebuah tas kecil yang ada di dalam box dan dibukanya. Di dalam tas kecil tersebut terdapat sebuah kertas yang dilipat.

Sungmin hanya menghela napas panjang setelah membuka lipatan kertas tersebut. Matanya tertuju pada tulisan yang ada pada kertas tersebut di mana di sana tertulis satu informasi mengenai anak tiri Go Hyeong Man yang saat ini bekerja sebagai seorang polisi di Kantor Polisi Gangnam.

“Go… Jung… Ra,” gumam Sungmin saat membaca nama anak tiri Go Hyeong Man.

To be continued

 

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

8 Comments

  1. wah makin membingungkan siapa pelaku sebenarnya deh
    Aku mulai curiga sama henry nh. Entah kenapa henry mencurigakan banget. Ryeowook juga mulai aneh nh gelagatnya. Ahh makin komplikasi aja deh masalahnya. Terus si go jung ra akhirnya bakal terlibat dalam kasus ini karna dia anak tiri go hyeong man

    Reply
  2. Monika sbr

     /  February 19, 2016

    Ooo… Ternayata go Hyongman adalah ayah tirinya go jung ra???
    Waduh, jangan2 jung ra yg bakal jadi targetnya sungmin karena gak bisa membunuh ayahnya.
    Tapi tadi kenapa donghae tdk mengenal sungmin yaa??

    Reply
  3. inggarkichulsung

     /  February 20, 2016

    Aigoo jd jung ra itu anak tirinya Go Hyeong Man saksi terakhir dan satu2nya yg msh hidup dr kasus kematian ayah Heechul oppa detektif yg dulu pernah bekerja di kepolisian yg sama dgn Kapten Tan, kayaknya Sungmin oppa akan memanfaatkan Jung ra agar bs msk ke kantor polisi tsb, Donghae oppa itu pelupa bgt itu kan Sungmin oppa yg slm ini dicari2 krn diduga membunuh 2 org saksi u kasus ayah Heechul oppa, Kapten Tan akan berusaha keras memecahkan kasus lama ini yg pasti ada hub nya dgn kematian ke7 saksi dan percobaan pembunuhan thdp Go Hyeong Man, selain demi Heechul oppa mantan sahabatnya yg tiba2 pergi menghilang dan demi hukum, sebetulnya ini bukan salah kepolisian ttg knp kasus pembunuhan dan penganiayaan tsb berkas nya hilang tapi dalang utama dr meninggalnya ayahnya heechul oppa justru tdk coba diteror sendiri oleh kawanannya Heechul oppa, ditunggu bgt kelanjutannya Heechul oppa

    Reply
  4. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

     /  March 1, 2016

    Baru sempat baca lagi dan udah chapter segini. Hmm, resiko ketinggalan beberapa jadinya agak susah masuk di otak. Tapi karena udah penasaran banget, jadi langsung baca aja chapter ini -_- Yang sy herankan, Dong Hae nggak tahu kalau itu Sungmin. Ckckck….

    Reply
  5. Go jungra jarang muncul nihh ayo banyak libatkan dia hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: