VENUS [Part 9]


VENUS 2

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

7 years ago….

“Bersulang!”

Suara tiga kaleng bir dingin yang diadu tiga orang polisi muda membuat beberapa pengunjung kedai pinggir jalan yang ada di dekat gedung kantor Kepolisian Pusat tersebut memberikan tatapan aneh.

“Haaah…, padahal harusnya ada satu botol soju di tengah-tengah meja,” keluh salah satu dari mereka setelah menghabiskan setengah isi kaleng miliknya.

Dua orang polisi lainnya hanya tersenyum sambil saling pandang mendengar teman mereka mengeluh tak ada satu pun botol soju yang bisa dinikmati malam ini.

“Yaa, ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian justru tertawa, hah? Aku berkata benar, kan, Tuan Kim Jongwoon dan Tuan Tan Hankyung?“ sergahnya sambil menatap dua sahabatnya, Jongwoon dan Heechul bergantian.

“Kau yakin kita benar-benar harus memesan soju malam ini?” tanya Jongwoon sebelum memasukkan cumi goreng ke dalam mulutnya.

“Tentu saja, kita harus me….” Heechul tak jadi melanjutkan ucapannya ketika teringat sesuatu. Dilihatnya Hankyung hanya mendengus pelan, seolah bisa mengetahui pikirannya. Mau tidak mau Heechul harus menundukkan kepala untuk menghembuskan napas kesal. Ya, tentu saja malam ini mereka bertiga tidak bisa minum setetes soju pun karena besok pagi harus mengikuti acara peresmian pembentukan tim di unit tempat mereka bertugas.

“Kenapa juga mereka harus melakukan hal itu pada anggota unit, hah? Memecah semua anggota junior unit ke dalam empat tim yang berbeda untuk mempermudah kinerja unit? Yang benar saja,” gerutu Heechul seraya membuka kaleng bir dingin yang lain dan meminumnya.

“Kita tidak bisa melakukan apa-apa selain mematuhinya,” sahut Hankyung yang rupanya mendapat lirikan ketus dari Heechul.

“Bicara apa kau ini? Yaa, Tan Hankyung, dari kita bertiga, hanya kau yang dimasukkan ke tim berbeda. Bahkan tim yang kau masuki termasuk tim yang paling bawah. Bagaimana kalau kita jadi jarang bertemu seperti ini, hah? Aku berusaha memperjuangkan dirimu Bodoh!” ujar Heechul sambil menunjuk-nunjuk Hankyung.

“Aku hanya dimasukkan ke D-Team. Apanya yang paling bawah?”

“Hanya ada empat tim, Tan Hankyung. A-Team, B-Team, C-Team dan D-Team. Jika menurut deretan abjad, dari A sampai D, huruf D selalu yang paling akhir. Dari semua tim, kenapa kau harus dimasukkan ke tim itu? Coba pikirkan,” jawab Heechul yang gemas melihat ekspresi tenang Hankyung, seolah pembagian tim ini bukanlah sesuatu yang penting.

“Takdir, mungkin,” sahut Jongwoon yang kemudian mendapat high five dari Hankyung, seolah sependapat dengannya.

Melihat kedua sahabatnya bertingkah seperti itu, memaksa Heechul mendengus keras sambil melempar kaleng bir kosong ke arah mereka.

“Apa otak kalian dalam posisi tidak normal, hah? Sungsang seperti bayi yang ada di dalam perut, mungkin?” ucap Heechul ketus.

Jongwoon bangkit dari duduknya sambil mengambil segenggam cumi goreng dan menggeser bangkunya tepat di samping Heechul. Dengan cepat ia menahan punggung Heechul dan mencoba menjejalkan beberapa cumi goreng sekaligus ke dalam mulut Heechul.

“Kau, Kim Heechul, berhentilah mengeluh dan habiskan saja makananmu. Mengerti?”

Heechul berusaha melepaskan diri dari Jongwoon yang menyiksa dirinya seperti itu. Hankyung yang menyaksikan mereka berdua bercanda hanya bisa tertawa tipis sambil menikmati bir dinginnya pelan-pelan.

“Hankyung Hyung, cepat bantu aku menyumpal mulutnya agar tidak terus-terusan mengeluh! Lama-lama aku ingin menghajarnya juga!” ujar Jongwoon di sela-sela “kesibukannya” melumpuhkan Heechul yang masih menggelinjang tak tentu di atas bangku karena ulahnya.

“Yaa, Kim Jongwoon, harusnya kau ada di pihakku karena kita masuk ke dalam tim yang sama! Aku tidak bisa membiarkan manusia netral itu sendirian di D-Team seperti orang gila! Bantu aku memasukkannya ke dalam A-Team seperti kita! Yaa, lepaskan tanganmu dari wajahku, Brengsek!”

Berulangkali Heechul mengumpat keras, namun tetap tak menyurutkan niat Jongwoon untuk tetap menyiksanya. Hankyung hanya bisa meminta maaf pada pengunjung kedai lainnya yang sudah pasti merasa sangat terganggu dengan tingkah konyol kedua sahabatnya itu.

.

.

.

Present Day…

“Detektif Tan!”

Hankyung sedikit terperanjat ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. Di depannya sudah berdiri pemilik kedai pinggir jalan dekat gedung Kepolisian Pusat. Bibi Pemilik Kedai tersebut membawa satu piring cumi goreng pesanannya.

Aigoo…, apa kau ada masalah, hm? Kupanggil berkali-kali, tapi kau diam saja,” ucap Bibi tersebut sambil meletakkan piring berisi cumi goreng ke atas meja yang ada di depan Hankyung.

Aniyo…. Mungkin hanya… sedikit kelelahan. Ada kasus yang cukup berat yang sedang kutangani,” jawab Hankyung sopan meski dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.

Untuk beberapa detik, Bibi Pemilik Kedai hanya terdiam memandangi Hankyung sebelum akhirnya memberikan usapan lembut pada bahu Hankyung, yang membuat Hankyung sedikit bingung.

“Melihatmu duduk sendirian di meja ini setiap kali kau kemari, membuatku teringat kalian bertiga yang dulu selalu membuat kegaduhan di kedaiku ini.”

Ucapan Bibi tersebut menghentikan kerjapan mata Hankyung.

“Jujur, aku merindukan mereka, Detektif. Ani…., mungkin lebih tepatnya, aku merindukan kalian bertiga duduk bersama di meja ini seperti dulu lagi. Mengganggu pengunjung lain dengan tingkah aneh dua Detektif Kim tersebut, lalu Detektif Tan selalu yang meminta maaf pada pengunjung. Sebenarnya, saat itu aku selalu kesal karena dikomplain oleh mereka, tapi… entah kenapa aku tidak bisa marah pada kalian bertiga.”

Hankyung…. sepenuhnya membeku.

“Benarkah mereka berdua tidak pernah kemari semenjak mereka dipindahkan ke provinsi lain? Bukankah keterlaluan kalau mereka sampai tidak pernah menengok sahabat mereka yang sendirian di sini?”

Tak ada jawaban yang tepat yang bisa diberikan Hankyung untuk pertanyaan itu. Ia baru teringat kalau Bibi Pemilik Kedai tidak pernah tahu kalau dua sahabatnya tersebut keluar dari kepolisian dan menghilang begitu saja tanpa alasan yang jelas. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya padanya. Mengetahui Kim Jongwoon dan Kim Heechul dipindahkan ke provinsi lain beberapa tahun yang lalu saja sudah membuat Bibi Pemilik Kedai tersebut merasa sedih. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita berambut keriting itu bila tahu alasan sebenarnya kedua sahabatnya tidak pernah menengoknya.

“Bersemangatlah, Detektif.” Bibi tersebut mengusap lembut lengan Hankyung, seolah memberikan sedikit dukungan.

Hankyung hanya tersenyum tipis sambil berterima kasih. Sesaat setelah Bibi Pemilik Kedai tersebut pergi, senyuman tipisnya perlahan memudar dan kembali menampilkan wajah sendu. Diambilnya botol soju dan menuangkan isinya ke dalam sloki kecil yang ada di atas meja. Dengan cepat ia meminum soju tersebut dan terdiam untuk beberapa detik, merasakan aliran minuman keras tersebut yang melewati lubang kerongkongannya.

Pikirannya kembali melayang ke pertemuannya dengan anggota D-Team kemarin. Pertemuan yang seharusnya membahas kasus percobaan pembunuhan terhadap Kyuhyun dan pembunuhan kelompok Kim Bo Sang yang dilakukan oleh Lee Sungmin, tanpa ia duga justru bergeser pada sebuah kasus pembunuhan seorang pria bernama Kim Myun Shik alias Kim Myun Byeol yang jelas-jelas ia ketahui adalah ayah dari salah satu sahabatnya, Kim Heechul. Tetapi, yang membuat keningnya berkerut adalah tentang kasus tersebut yang ditutup setelah dialihkan ke Kepolisian Pusat tanpa diketahui oleh dirinya. Dan anehnya lagi, berkas kasus tersebut seolah menghilang tanpa jejak di sana.

Sangat aneh.

oOo

a few days later…

“Ya, Bos. Aku ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan hari ini juga. Tapi besok aku bisa masuk kembali. Terima kasih, Bos.”

Sungmin mematikan ponselnya sesaat setelah menjawab telepon dari pemilik minimarket tempatnya bekerja. Dilihatnya surat kabar yang beberapa saat lalu dibelinya di pinggir jalan. Berita utama surat kabar tersebut adalah tentang kasus penyerangan Kyuhyun dan pembunuhan para tahanan yang akan dipindahkan ke Penjara Pusat.

Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya untuk beberapa detik sebelum tangannya terangkat menaikkan bagian depan topi hitamnya, menampilkan wajahnya secara utuh. Dibuangnya surat kabar tersebut ke tong sampah di dekatnya begitu saja dan berjalan santai memasuki sebuah gang yang sempit dan kotor. Tak jauh dari ujung gang tersebut terdapat papan berukuran kecil di depan sebuah minimarket sederhana. Seharusnya pada papan hitam itu tertulis nama minimarket tersebut, tetapi karena beberapa tahun lalu tempat itu pernah mengalami kebakaran, akhirnya tulisan yang ada di papan itu terkelupas dan hanya menyisakan papan hangus berwarna hitam.

Perhatiannya teralihkan pada sosok pria berpakaian rapi yang tampak keluar dari minimarket tersebut dan berjalan santai ke arah lain. Tanpa harus berpikir keras pun Sungmin sudah tahu siapa dia meski hanya melihatnya dari kejauhan. Ia bertemu dengan orang itu beberapa waktu yang lalu di tempat yang sekarang menjadi sebuah TKP kasus pembunuhan Kim Bo Sang dan anak buahnya. Ya, orang itulah yang memberikan kabar pemindahan mereka lengkap dengan peta rute perjalanan yang akan digunakan Kepolisian Pusat menuju Penjara Pusat. Tidak hanya itu, orang itu jugalah yang memberikan informasi detail mengenai Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok.

Namun, melihat orang itu keluar dari minimarket, Sungmin merasa sesuatu telah terjadi. Seingatnya, orang itu sangat jarang sekali muncul di tempat ini.

Suara gemerincing lonceng kecil yang ada di atas pintu terdengar sesaat setelah Sungmin membuka pintu tersebut. Beberapa pengunjung minimarket yang sedang melihat-lihat barang-barang di dalam minimarket tersebut menoleh ke arahnya. Seolah tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya, Sungmin lantas berjalan ke arah meja kasir yang dijaga oleh seorang pemuda kurus.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sungmin pun menyodorkan beberapa lembar uang pada pemuda itu dan mencabut satu permen lolipop yang ada di depan pemuda tersebut. Kakinya kembali berayun. Kini langkahnya menuju bagian belakang minimarket di mana terdapat tangga besi berbentuk spiral yang akan membawanya ke lantai bawah. Sambil mengulum permen tersebut, ia menuruni tangga dengan santai dan berjalan lurus ke arah lorong kecil yang gelap. Di ujung lorong tersebut ada sebuah pintu besi yang dijaga oleh seorang pemuda bertubuh tambun. Seakan mengerti maksud kedatangan Sungmin, pemuda itu segera membukakan pintu setelah membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam.

Sedetik setelah Sungmin memasuki ruangan yang ada di balik pintu besi tersebut, sebuah pemandangan yang sudah tak asing baginya beberapa tahun ini menyambutnya. Sebuah dinding yang menghadap ke pintu dipenuhi dengan potongan-potongan surat kabar lama, delapan foto pria paruh baya yang mana tujuh dari mereka berhias tanda silang berwarna merah dan beberapa lembar kertas bergambar peta dari beberapa lokasi yang ada di Seoul. Tak hanya itu saja, kertas yang berisi data identitas Lee Sungmin lengkap dengan foto wajah lamanya pun juga tertempel di sana.

Dua orang pemuda berpakaian kasual tampak sibuk di depan komputer yang menampilkan beberapa rekaman kamera CCTV di sebuah area perumahan. Dua pemuda lainnya tampak berdiri di depan meja berukuran cukup lebar sambil membicarakan sesuatu. Kedatangan Sungmin rupanya mengejutkan mereka hingga membuat mereka menghentikan kegiatan hanya untuk membungkukkan badan sebentar.

“Apa Hyungnim ada di dalam?” tanya Sungmin yang kemudian mendapat anggukan kepala.

Setelah menyuruh mereka untuk kembali bekerja, Sungmin seraya berjalan ke depan sebuah ruangan yang terhalang oleh sebuah pintu geser. Keadaan pintu yang tak sepenuhnya tertutup seolah menunggu kedatangan Sungmin.

“Kau datang?”

Sebuah suara terdengar sesaat setelah Sungmin masuk ke dalam ruangan tersebut dan menutup pintu. Seorang pria berpostur tubuh tinggi yang mengenakan kemeja polos berwarna gelap, memandangnya sambil memberikan senyuman tipis. Sungmin menundukkan kepala sesaat untuk memberi salam.

“Duduklah,” suruh pria tersebut setelah menghenyakkan diri di sofa yang ada di sudut ruangan.

Sungmin menuruti perintah pria tersebut. Ia duduk di sofa yang ada di depan pria tersebut.

“Apa ada yang ingin kau tanyakan?”

Sungmin sedikit terkejut. Ia tidak tahu raut wajahnya begitu mudah terbaca oleh pria tersebut.

“Apa yang dilakukan orang itu di sini?” Karena sudah ketahuan, akhirnya mau tidak mau Sungmin pun melontarkan pertanyaan yang memang mengganggunya sejak tadi.

Tak ada tanda tanya di wajah pria tersebut, seolah ia tahu Sungmin akan mengajukan pertanyaan itu. Sebelum menjawab Sungmin, ia hanya tersenyum dengan ekspresi wajah yang tenang.

“Hanya memberi sedikit kabar yang cukup mengejutkan untukku,” jawabnya beberapa detik kemudian yang rupanya mengundang rasa heran terhadap Sungmin.

Kabar yang mengejutkan? Untuk ukuran seseorang yang baru saja mendapat kabar mengejutkan, bukankah harusnya tidak setenang ini? Meski Sungmin sudah mengenal pria ini bertahun-tahun lamanya, tetap saja terkadang ia tak mengerti dengannya.

“Maksud Hyungnim?”

“Namaku muncul lebih cepat dari dugaanku. Aku tahu namaku akan disebutkan cepat atau lambat. Tapi aku cukup kagum, mereka mengetahuinya secepat ini.”

Tentu saja kedua alis mata Sungmin semakin menyatu karena benar-benar tak mengerti ucapan pria tersebut.

“Nama Kim Heechul akhirnya muncul di tengah-tengah mereka. Bukankah itu menarik, hm?” tambahnya.

Perlahan-lahan Sungmin memahami maksud ucapan pria tersebut. Alih-alih tetap tenang seperti pria tersebut, ia justru panik. Mereka yang dimaksud pria tersebut adalah polisi. Dan nama Kim Heechul yang dibicarakan polisi-polisi itu adalah pria yang saat ini duduk di depannya. Pria yang seolah merasa bangga namanya muncul di tengah-tengah polisi-polisi tersebut.

Kim Heechul.

Kim. Heechul.

Ya, pria yang dipanggil Sungmin dengan sebutan Hyungnim adalah Kim Heechul.

Kim Heechul yang merupakan anak korban pembunuhan bernama Kim Myun Shik, sopir cadangan mobil tahanan Kantor Polisi Gangnam, yang mana berkas kasusnya ditutup begitu saja sesaat setelah dialihkan ke Kepolisian Pusat.

Kim Heechul yang merupakan teman lama …. atau mungkin lebih tepatnya disebut sahabat lama salah seorang polisi yang bertugas di Unit Investigasi Kriminal Pusat dan polisi bernama Tan Hankyung, yang saat ini menjabat sebagai seorang Kapten di unit tersebut.

Kim Heechul yang memilih keluar dari Kepolisian dan menghilang begitu saja tanpa alasan yang jelas di tahun 2008, yang akhirnya menimbulkan gosip di lingkungan Akademi Kepolisian.

Dialah Kim Heechul yang itu.

“Apa Hyungnim tidak takut?” tanya Sungmin.

“Takut?”

“Mereka bisa saja melakukan sesuatu hingga menemukan hubungan antara kematian Ahjussi dengan orang-orang yang sudah kita singkirkan itu. Itu artinya posisi Hyungnim mulai tidak aman dan—“

“Sebuah permainan tidak akan seru bila lawan kita kalah atau menang begitu saja tanpa mengetahui kekuatan kita. Tentu saja aku tidak mau bila harus kalah. Setiap permainan di dunia ini selalu ada strategi pada setiap pemainnya, bukan? Kita memulai permainan ini bukan untuk sekedar memberi mereka pekerjaan yang pantas sebagai seorang polisi yang harus menangkap orang jahat,” potong Heechul sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Apa Hyungnim….. berniat bermain-main dengan mereka?” tebak Sungmin.

Heechul menatap lurus Sungmin. Senyuman lebar terpatri di bibirnya untuk beberapa detik sebelum berkata, “Bukankah kau juga melakukan hal itu di rumah Cha Hong Jo? Meninggalkan ID Card dengan foto lamamu, sidik jari di tubuh Cha Hong Jo dan pisau yang kau gunakan untuk menghabisinya. Aku ragu kau tidak sengaja melakukannya.”

Sungmin terdiam.

“Aaaaa…. dan juga…., CCTV yang ada di Palace Tower. Apa aku harus menyebutkan apa yang sudah kau lakukan tempo hari terhadap salah satu polisi yang sepertinya mengenalimu?” lanjut Heechul yang justru tidak marah karena Sungmin seolah memberikan identitasnya secara tidak langsung pada pihak kepolisian. Dengan kata lain, keberanian Sungmin harus ia beri acungan jempol.

“Dia tidak melihat wajahku. Mereka mendapatkan semua informasi tentang diriku hanya sampai pada bagian operasi plastik total di wajahku,” jawab Sungmin kemudian.

“Meski begitu, kau harus tetap berhati-hati, Sungmin-ah.” Heechul bangkit dari sofa dan berjalan ke arah lemari pendingin yang ada di sudut ruangan. Diambilnya dua kaleng bir dingin dan dilemparkannya salah satu kaleng tersebut ke arah Sungmin. “Selanjutnya akan sedikit lebih sulit dari yang sebelumnya. Karena aku yakin, ada seseorang yang cukup sensitif setelah mendengar namaku disebutkan,” lanjutnya seraya meneguk sebagian isi dari kaleng tersebut. Matanya beralih pada sebuah foto lama yang tergeletak di meja kerjanya. Foto yang sama yang ditemukan Donghae di Ruang Arsip. Sorot matanya berubah tajam ketika memandang salah seorang polisi yang ada di foto tersebut.

Pintu ruangan itu terbuka dari luar dan salah satu pemuda yang ada di depan komputer masuk sambil membawa beberapa lembar kertas dan menyodorkannya pada Heechul. Untuk beberapa menit Heechul memeriksa kertas-kertas tersebut sebelum sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Ia menunjukkan salah satu kertas tersebut yang ada foto seorang pria berbadan tegap pada Sungmin.

“Kita sudah hampir sampai, Sungmin-ah,” kata Heechul.

Mata Sungmin tertuju pada kertas yang ada di tangan Heechul. Di atas foto yang ada di kertas tersebut tertulis nama Go Hyeong Man.

“Apa kau ingin melihat bagaimana aku bermain-main dengan mereka lagi?”

Pertanyaan Heechul spontan membuat Sungmin mengernyitkan kening. Belum sampai ia mendapatkan jawaban, seseorang masuk ke dalam ruangan. Seorang pemuda yang usianya mungkin sebaya dengan pemuda-pemuda yang ada di luar ruangan ini, tubuhnya cukup tinggi—bahkan lebih tinggi darinya. Pemuda kurus tersebut menundukkan kepala pada Heechul beberapa saat untuk memberi salam dan melakukan hal yang sama padanya. Sungmin bukannya tidak mengenal pemuda itu. Ia justru sangat mengenalnya. Hanya saja, yang membuatnya heran adalah kenapa Heechul kembali memanggil pemuda itu kemari.

oOo

Hyung, aku mempunyai berita besar!”

Kyuhyun masuk ke dalam kantor D-Team dengan senyum puas nan lebar dengan tangan yang mengangkat map biru. Namun, sedetik kemudian senyum dan ekspresi girang yang beberapa saat lalu terpatri cukup lama di wajahnya memudar begitu saja setelah mendapati semua anggota D-Team sekaligus Hankyung tampak begitu serius menikmati makan siang mereka.

Jjangmyeon? Kalian pasti bercanda?” desis Kyuhyun yang cukup kesal setelah menyaksikan reaksi semua orang yang begitu datar melihat kehadiran dirinya. Bukankah harusnya ada perayaan kecil untuk dirinya yang sudah bisa kembali bekerja? Satu cake kecil dan beberapa buket bunga, mungkin? Bisa juga ditambah beberapa kaleng minuman dingin sebagai pengganti bir?

“Aku tidak tahu kau akan kembali secepat ini, Cho Kyuhyun,” ujar Hyukjae dengan mulut yang penuh dengan mie berwarna hitam.

Hyung, tempo hari aku hampir saja menjadi penghuni kantong mayat karena diserang oleh Si Brengsek Lee Sungmin itu, dan…. waah, kau masih bisa duduk sambil menikmati jjangmyeon,” protes Kyuhyun, masih berdiri di depan satu set sofa yang ada di tengah ruangan tersebut.

“Berterima kasihlah pada Kapten Tan yang menemukanmu dengan cepat. Andai saja Kapten terlambat satu menit, kau benar-benar akan menjadi penghuni kantong mayat sebelum dilempar ke atas meja otopsi,” sahut Hyukjae dengan ringan.

“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah baik-baik saja?” Berbeda dengan Hyukjae yang terkesan tidak peduli dengan kembalinya Kyuhyun, Donghae justru menunjukkan sedikit kepedulian sebagai seorang teman. Tapi tetap saja, tindakan simpati yang diberikan Donghae tak menghilangkan raut wajah kesal Kyuhyun.

“Tidak ada waktu untuk bertingkah kekanak-kanakan, Kyuhyun-ah. Kita sedang dikejar waktu saat ini,” ujar Ryeowook yang sudah menghabiskan makan siangnya.

“Apa maksudmu?”

Ryeowook merespon pertanyaan Kyuhyun dengan menggerakkan dagunya ke arah papan tulis yang ada di samping Kyuhyun.

“Apa-apaan itu?” Mata Kyuhyun terbelalak sempurna melihat papan tulis yang sudah penuh dengan tulisan ini dan itu yang berhubungan dengan Seo Jang Ok dan Cha Hong Jo. Tak hanya itu saja, nama Kim Myun Byeol juga ad di sana. Dari sekian luasnya papan tulis yang ada di ruangan kantor timnya, nama Sungmin tak ada di sana. Padahal sebelum ia mengalami penyerangan tempo hari, foto dan tulisan nama Lee Sungmin masih ada. Tapi sekarang….

“Ke mana dia?” Kyuhyun menunjuk papan tulis sambil memandang semua orang yang ada di ruangan.

“Siapa yang ke mana?” tanya Hyukjae yang heran melihat sikap aneh Kyuhyun.

“Lee Sungmin. Ke mana foto dan poin-poin penting tentang dirinya yang sudah kutulis di sini?” Kyuhyun memperjelas pertanyaannya.

“Apa kau masih terobsesi dengannya, hah? Kita sedang menghadapi kasus yang lebih besar dari sekedar pria aneh seperti dia. Haaah…., seharusnya dokter mengoperasi otakmu juga, agar kau tidak terus-menerus membahasnya,” ujar Hyukjae.

Kyuhyun membuang napas dengan keras. Dengan sedikit geram, ia membagikan kertas-kertas yang ada di dalam map yang sejak tadi dibawanya. “Bukankah kita masih harus menyelidiki kasus penyerangan terhadap diriku dan pembunuhan para tahanan itu? Aku berhasil menemukan penyebab mobil yang membawa para tahanan tiba-tiba keluar dari rute yang sudah ditetapkan. ”

“Kasus yang akan kita selidiki ini juga ada hubungannya dengan Lee Sungmin, Kyuhyun-ah. Dan juga—“

“Woah….woah….woah….! Tunggu sebentar! Apa secara tidak langsung kita akan melewatkan kasus penyerangan mobil polisi hingga menewaskan para tahanan begitu saja dan mengambil kasus baru lagi?” Kyuhyun menatap satu per satu semua orang. Berharap ia mendapatkan jawaban yang cukup tepat dan masuk akal. Setidaknya kerja kerasnya menyelidiki sendiri penyerangan terhadap dirinya dan pembunuhan para tahanan tidak sia-sia.

“Mungkin lebih tepatnya bukan kasus baru karena secara teknis kasus yang akan kita selidiki nanti bisa dipastikan berhubungan dengan Lee Sungmin dan dua kasus pembunuhan yang kita tangani sebelumnya,” sahut Donghae dengan tenang, seolah menggunakan bahasa yang sedikit sederhana dan tidak terlalu memancing emosi Kyuhyun.

Belum sampai Kyuhyun kembali melontarkan protesnya, Siwon muncul dari balik pintu.

“Apa yang dia lakukan di sini?” tanya Kyuhyun yang sepertinya tak mendapat perhatian karena pandangan semua orang tertuju pada Siwon yang menghampiri Hankyung.

“Pimpinan Park dari Kantor Polisi Gangnam menunggu kedatangan kita. Dia berhasil menemukan daftar nama orang-orang yang hampir menjadi saksi pembunuhan Kim Myun Shik. Dan sepertinya nama Cha Hong Jo adalah salah satunya,” ujar Siwon yang rupanya berhasil membuat semua orang berdiri.

“Itu artinya… apakah Lee Sungmin benar-benar melakukan pembunuhan berantai seperti dugaan kita selama ini?” tanya Ryeowook.

“Kita akan menemukan kepastiannya setelah mendapatkan daftar nama tersebut, Ryeowoook-ah,” sahut Donghae yang diangguki Hankyung.

“Kalau begitu, kau pergi bersama Donghae ke sana untuk mengambil daftarnya,” perintah Hankyung pada Siwon. Donghae dan Siwon langsung mematuhi perintah Hankyung tanpa berkata apapun.

Hyukjae hanya memberikan tatapan yang sulit diartikan pada Siwon dan Donghae ketika dua polisi tersebut keluar dari ruangan.

“Hyukjae-ya, kau dan Kyuhyun bersiap-siaplah. Setelah Donghae dan Siwon mendapatkan daftar nama tersebut, segera lakukan pencarian. Aku dan Ryeowook akan membantu kalian setelah menemui Ketua Park. Semakin cepat kita menemukan mereka, semakin besar kemungkinan kita untuk menyelamatkan nyawa mereka,” perintah Hankyung selanjutnya.

“Baik, Kapten,” jawab Hyukjae.

“Tapi, bagaimana dengan hasil penyelidikan yang sudah kuperoleh ini, Kapten?” tanya Kyuhyun pada Hankyung yang berjalan keluar diikuti oleh Ryeowook. Tampaknya Hankyung tak mempedulikannyaa.

Hyung!” panggil Kyuhyun frustasi sambil melambai-lambaikan map yang ada di tangannya. “Yaa, Tan Hankyung! Kau benar-benar akan menyesal kalau melewatkan hasil penyelidikan ini! Hankyung Hyung!”

Hyukjae yang melihat Kyuhyun berteriak-teriak sesaat setelah sosok Hankyung menghilang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Ckckckckck…., kalau berani, coba ulangi teriakanmu tepat di depan Kapten Tan,” sahut Hyukjae.

“Aku tidak berani,” jawab Kyuhyun lemas sambil duduk di tepi meja Donghae dan menatap papan tulis dengan lesu.

Yaa, daripada kau terdiam seperti itu, sebaiknya bantu aku menganalisa semua yang ada di papan ini. Jadi, sebaiknya kau buang dulu isi otakmu yang penuh dengan Lee Sungmin itu, dan dengarkan penjelasanku. Karena mungkin setelah ini, kita tidak akan pernah bisa lagi berlama-lama duduk manis di ruangan yang ber-AC ini dengan damai. Kita akan benar-benar melakukan hal-hal yang dilakukan seorang detektif seperti mengintai seseorang di luar sana.” Hyukjae menepuk bahu Kyuhyun dan mulai menceritakan penyelidikan yang dilakukan D-Team beberapa hari ini dari mulai ditemukannya hubungan antara Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik alias Kim Myun Byeol yang tiba-tiba ditutup.

“Apa aku boleh bertanya?” Kyuhyun mengangkat telapak tangannya, menginterupsi Hyukjae yang sedang menjelaskan panjang lebar.

“Silakan.”

“Apa yang dilakukan Choi Siwon di tim kita? Apa dia tidak punya kegiatan di timnya sendiri?”

“Otak Komisaris Ahn terkena dampak negatif Pemanasan Global bumi kita. Maka dari itu, dia memindahkan Choi Siwon ke tim kita untuk sementara waktu.”

Hyung, aku tidak mengerti.”

Hyukjae menghela napas. “Terserah kau mau mengerti atau tidak. Yang jelas aku sudah memberikan jawaban yang menurutku paling sopan dan tidak menyinggung perasaan siapapun. Bisa kulanjutkan?”

.

.

.

.

Mobil Siwon berhenti di area depan Kantor Polisi Gangnam. Beberapa petugas kantor polisi tersebut tampak memandang takjub ke arah mobil berwarna silver milik Siwon tersebut, seolah mereka baru pertama kali ini melihat mobil semewah itu. Siwon yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian beberapa petugas hanya keluar dari mobil sambil melepas kacamata hitamnya dan menundukkan kepala untuk menyapa mereka. Ekspresi berbeda ditunjukkan Donghae yang keluar dari mobil sesaat kemudian. Rekan satu tim Hyukjae tersebut memutar kedua bola matanya, jengah melihat sikap Siwon.

Perintah Hankyung tidak mungkin Donghae tolak hanya dengan alasan tidak mau pergi bersama Siwon. Sebut saja… Donghae menuruti perintah Hankyung karena sebatas sikap profesional dalam bekerja. Ia akan berusaha mengesampingkan urusan pribadi agar tugas penyelidikan kasus yang besar yang ditangani D-Team bisa segera selesai.

“Hanya ini?” tanya Donghae sesaat setelah Park Jung Soo menyodorkan kertas berisi delapan nama orang yang hampir menjadi saksi kasus pembunuhan Kim Myun Shik dan lima map yang berisi data-data sebagian dari nama-nama tersebut.

“Lima map yang itu adalah berkas kasus bunuh diri dari lima nama yang ada di daftar tersebut. Sebenarnya kasus bunuh diri mereka tidak ada hubungannya dengan kasus yang kalian tangani, tapi siapa tahu saja bisa membantu. Jadi, ya…., hanya itu semua yang kami miliki,” jawab Park Jung Soo seraya menyandarkan punggungnya pada punggung kursi.

Ini sungguh jauh dugaan Donghae yang paling buruk sekalipun.

“Lima dari mereka yang meninggal karena bunuh diri merupakan orang yang memiliki jabatan yang cukup penting di tempat mereka bekerja. Kasus mereka ditutup setelah dipastikan mereka bunuh diri dan tidak ditemukan tanda-tanda penyiksaan di tubuh mereka,” tutur Park Jung Soo ketika Donghae dan Siwon sibuk memeriksa sekilas map-map tersebut.

Menyadari tak ada satupun dari dua anggota D-Team tersebut yang menanggapi ucapannya, Park Jung Soo semakin dibuat penasaran. “Tapi…., benarkah berkas kasus Kim Myun Shik tidak ada di tempat kalian? Selain itu, benarkah kasus pembunuhan belakangan ini ada kaitannya dengan kasus pembunuhan Kim Myun Shik? Mereka yang hampir menjadi saksi kan tidak jadi dimasukkan dalam daftar resmi. Bukankah itu artinya mereka tidak hubungan sama sekali dengan kasus tersebut?”

“Maka dari itu, kami sedang menyelidikinya. Jika lima berkas kasus ini tidak ada hubungannya dengan kasus Kim Myun Shik dan kasus pembunuhan Seo Jang Ok, akan segera kami kembalikan,” jawab Siwon sambil tersenyum.

“Kalau Anda menemukan apapun yang masih tersisa dari berkas kasus pembunuhan Kim Myun Shik, tolong segera beritahu kami. Sebelumnya, saya mewakili Kapten Unit mengucapkan terima kasih. Anda sudah bekerja keras,” tambah Donghae seraya bangkit dari kursi dan menundukkan kepalanya sesaat.

Donghae dan Siwon keluar dari ruang kerja Park Jung Soo dua menit kemudian. Namun, langkah Donghae yang baru saja melintas di depan ruangan tempat tim Jung Ra bertugas terpaksa berhenti. Bentakan yang cukup nyaring terdengar dari ruangan tersebut. Untuk beberapa detik Donghae memperhatikan Jung Ra yang tampak sedang beradu mulut dengan seorang pria seumurannya. Wajah pria itu berhias luka lecet di beberapa bagian. Tak hanya wajah pria itu saja, wajah Jung Ra pun terlihat mendapat luka lecet baru meski tak terlalu parah, seolah menjadi “teman baru” luka-luka lama yang sepenuhnya belum menghilang. Bahkan di jari-jari tangan Jung Ra juga ada beberapa luka kecil.

“Aku sudah mengirimkan daftar nama pada Hyukjae dan Kyuhyun.”

Suara Siwon mengalihkan perhatian Donghae yang sejak tadi terpusat pada Jung Ra. Tanpa berkata apapun, Donghae hanya mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya keluar. Bahkan saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan bersiap meluncur kembali ke markas, lagi-lagi tak ada niat salah satu dari mereka untuk membuka mulut, membuat percakapan ringan mengingat mereka berdua berasal dari satu gedung, satu unit, dan bahkan kini satu tim yang sama.

“Apakah kau akan terus mendiamkanku seperti ini?”

Akhirnya Siwon membuka percakapan setelah ia menghentikan mobilnya sejenak karena lampu lalu lintas di depannya menampilkan warna merah. Namun, sayang sekali, tak ada tanggapan sedikit pun dari Donghae, satu-satunya lawan bicaranya di mobil saat ini.

“Bila mengingat bagaimana aku bekerja bersama kalian belakangan ini, aku jadi seperti kembali ke masa lalu, ketika—“

“Lampu sudah hijau. Sebaiknya kita segera kembali ke markas karena masih banyak yang harus dikerjakan,” potong Donghae setelah melihat lampu lalu lintas berubah hijau.

Siwon hanya tersenyum tipis ketika kembali melajukan mobilnya.

“Aku tidak tahu sikapmu akan semengerikan ini terhadapku. Kupikir Hyukjae-lah yang paling mengerikan. Ternyata… waah…..” Siwon tak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali tersenyum tipis menyadari Donghae menolehkan wajah untuk melihatnya.

Kata-kata yang ingin diucapkan Donghae untuk membalas Siwon seolah tercekat di tenggorokannya. Maka dari itu, yang bisa ia lakukan hanyalah meluncurkan tatapan dingin pada Siwon sebelum membuang wajahnya ke arah lain. Ia tidak yakin, kata apapun yang bisa saja keluar dari mulutnya beberapa detik lalu bisa mengurangi amarah dan kecewanya terhadap Siwon yang sudah mengendap selama ini.

“Tetaplah bersikap seperti seorang Choi Siwon, Ketua A-Team yang dipindahkan ke D-Team,” ucap Donghae dengan nada datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

“Donghae-ya, kurasa kau terlalu tegang dan—“

“Kumohon tetaplah bersikap seperti seorang Choi Siwon, Ketua A-Team yang dipindahkan ke D-Team. Tetaplah seperti itu untuk seterusnya. Jangan berusaha menjadi orang lain. Dengan begitu, aku tidak akan terlalu muak padamu,” potong Donghae. Kini tatapan dinginnya sepenuhnya tertuju pada Siwon.

Siwon hanya menatap Donghae sekilas sebelum kembali memandang ke arah depan. Sudut bibir kirinya tertarik ke atas, menampilkan sebuah senyuman sinis yang samar.

oOo

Hyukjae menurunkan kaca mobilnya dan menolehkan wajahnya hanya untuk melihat mobil silver milik Siwon berhenti tak jauh dari mobilnya. Matanya yang terhalang kacamata hitam masih bisa membaca dengan cukup jelas bagaimana raut wajah Donghae saat sahabatnya itu keluar dari mobil Siwon.

“Kita mau ke mana?” tanya Donghae yang sejenak memandang gedung Kepolisian Pusat yang ada di depannya sebelum memandang Hyukjae.

“Bertemu seseorang.” Hyukjae menggerakkan kepalanya, memberi isyarat pada Donghae agar segera masuk ke dalam mobilnya.

“Kalian mau ke mana?” Kini pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Siwon setelah mobilnya bergerak di dekat mobil Hyukjae.

“Bekerja.”

Hanya itu jawaban yang diberikan Hyukjae sambil melambaikan tangan dengan malas pada Siwon sebelum menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menjauh dari area depan gedung.

“Jawaban yang paling konyol yang pernah kudengar dari mulutmu,” celetuk Donghae sambil menyamankan posisi duduknya.

“Sebut saja itu jawaban yang paling manusiawi yang bisa kuberikan untuknya. Toh, nanti dia juga diberitahu Kapten Tan,” ujar Hyukjae seraya memberikan beberapa lembar kertas pemberian Ryeowook.

“Apa ini?”

“Hasil dari daftar nama yang kalian dapatkan dari Kantor Polisi Gangnam tadi. Dari semua nama yang ada dalam daftar tersebut, masih tersisa satu nama yang belum ditulis di Surat Kematian,” jawab Hyukjae.

“Go Hyeong Man?”

Hyukjae menganggukkan kepala. “Pimpinan Han Sae Textile.”

“Pabrik tekstil kecil yang hampir bangkrut di tahun 2008?”

Sekali lagi Hyukjae mengangguk. “Yang semua stasiun televisi di negara ini menayangkan beritanya karena proses penyegelan yang cukup dramastis. Aku berani bertaruh semua orang tahu berita itu.”

Donghae tak lagi berbicara. Ia memilih untuk memeriksa catatan tentang pria berusia 48 tahun yang bernama Go Hyeong Man ini dengan cermat selama perjalanan mereka menemui orang tersebut.

.

.

.

Setelah hampir satu jam, akhirnya Hyukjae dan Donghae tiba di tempat yang mereka tuju. Sebuah pabrik yang tak terlalu besar namun tak bisa dikatakan kecil sudah ada di hadapan mereka. Beberapa buruh pabrik tampak berlalu lalang di area depan pabrik yang bercat biru muda tersebut.

Hyukjae baru akan melangkah masuk ketika menyadari Donghae meluncurkan tatapan aneh ke arahnya.

“Apa?”

“Kau yakin tidak mau melepas kacamata itu?”

“Apa aku tidak keren?”

Alih-alih menjawab, Donghae langsung berjalan masuk tanpa menunggu Hyukjae yang menggerutu pelan.

Salah seorang penjaga terlihat sedikit terkejut saat Donghae menunjukkan tanda pengenal polisi miliknya agar bisa bertemu dengan pimpinan pabrik mereka. Tetapi sayang sekali, orang yang mereka berdua cari sedang tidak ada di sana. Penjaga itu berkata bahwa pimpinannya ada pertemuan dengan beberapa pengusaha di Busan sejak dua hari yang lalu dan ia tidak yakin pimpinannya tersebut bisa kembali hari ini.

“Kau tahu, Lee Donghae, aku tidak suka menunggu,” gumam Hyukjae pelan.

“Kita bisa kembali besok untuk—“ Donghae tak jadi melanjutkan kata-katanya ketika melihat setidaknya ada tiga mobil mewah yang beriringan masuk ke dalam area depan pabrik. Disenggolnya lengan Hyukjae saat ia mengenali salah seorang yang keluar dari mobil pertama.

“Go Hyeong Man Sajangnim!”

Hyukjae dibuat terkejut dan langsung menegakkan kepalanya saat mendengar Donghae memanggil seseorang dengan sedikit lantang. Ia baru menyadari kalau orang yang mereka cari—entah itu keajaiban atau bagaimana—sudah berdiri tak jauh dari mereka dan sedang memandang heran ke arah mereka.

Donghae menghampiri pimpinan pabrik tersebut dan menundukkan kepalanya sesaat untuk memberi salam sebelum menunjukkan tanda pengenal polisi miliknya. Meski samar, Donghae berani bertaruh, ekspresi wajah Go Hyeong Man tampak terkejut setelah melihat tanda pengenalnya.a

“Apa yang dilakukan dua polisi dari Pusat di sini? Seingatku pabrik ini tidak melakukan hal-hal ilegal,” ujar Go Hyeong Man dengan suara beratnya.

Donghae tersenyum tipis. “Bukan begitu, Sajangnim. Kami kemari bukan karena itu. Dan… baguslah kalau pabrik ini berjalan sesuai aturan yang berlaku,” jawab Donghae.

“Lalu… apa yang membawa kalian kemari?”

“Bisa kita bicara di dalam?” Kini giliran Hyukjae yang berbicara.

.

.

.

Tiga cangkir teh teratai yang berhias kepulan asap tipis tersaji di atas meja kaca di tengah-tengah sofa yang ada di ruang kerja Go Hyeong Man. Sekretaris pria bertubuh tegap yang baru saja menyajikan minuman untuk tamu atasannya tersebut keluar dari ruangan setelah mempersilakan Donghae dan Hyukjae untuk menikmati minuman tersebut.

“Kim Myun Shik?” ucap Go Hyeong Man seraya duduk di sofa ada di depan Donghae dan Hyukjae.

“Ya, Sajangnim. Kami menemukan nama Anda tercantum dalam daftar nama orang-orang yang hampir menjadi saksi sebuah kasus pembunuhan sopir mobil cadangan Kantor Polisi Gangnam di tahun 2008,” jawab Donghae.

Untuk beberapa detik Go Hyeong Man tampak diam, seolah sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Aaa… kasus yang itu. Kudengar kasus itu ditutup karena barang bukti yang ada tidak cukup kuat dan pelakunya tidak bisa ditemukan.”

“Jadi, Anda tahu tentang kasus itu?” tanya Hyukjae cepat.

Go Hyeong Man menggelengkan kepala.

“Tapi…. bagaimana Anda bisa hampir dimasukkan dalam daftar saksi untuk kasus itu kalau Anda tidak tahu apa-apa?”

“Mereka salah orang. Mereka pikir aku melihat orang itu ditembak sampai mati malam itu hanya karena jarak mobilku dengan tempat kejadian hanya beberapa meter. Padahal sebenarnya malam itu aku baru saja kembali dari kantor mereka untuk memberikan kesaksian kasus perampokan yang terjadi di rumah tetanggaku. Awalnya memang namaku dicantumkan di dalam daftar yang berisi beberapa nama lain, yang kata mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi pembunuhan. Tetapi karena aku sudah menjelaskan pada mereka kalau aku tidak tahu apa-apa, akhirnya namaku dicoret,” tutur Go Hyeong Man.

Niat Hyukjae untuk kembali mengajukan pertanyaan lain terhenti setelah menyadari tatapan Donghae pada pria itu sedikit aneh. Meski hanya dilihat dari samping, Hyukjae tahu ada tatapan curiga di mata Donghae.

“Apa Anda mengenali salah satu dari nama-nama ini?” Donghae meletakkan kertas berisi daftar nama delapan orang, yang mana nama Go Hyeong Man ada di dalamnya.

Pria bertubuh tegap itu mengedikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.

“Satu pun?”

“Kudengar beberapa dari mereka ada yang mati karena bunuh diri. Bukankah sejak dulu sudah banyak orang yang mati karena bunuh diri? Entah itu karena minum racun, gantung diri, menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju, terjun ke laut, menembak kepala sendiri, atau….” Go Hyeong Man terpaksa menyudahi kata-katanya saat dua orang polisi yang duduk di depannya meluncurkan tatapan serius. “Banyak orang yang mati bunuh diri karena depresi. Bisa jadi mereka salah satunya,” lanjutnya dengan tenang.

“Dua orang dari mereka sudah tewas karena dibunuh beberapa waktu yang lalu. Dan—“

“Sebentar lagi aku harus memimpin rapat. Kalau sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi, aku permisi dulu,” potong Go Hyeong Man. Raut wajahnya mendadak berubah dingin.

“Maaf, Sajangnim. Meski kami belum yakin, tapi kami himbau agar Anda lebih berhati-hati. Anda satu-satunya orang yang ada di dalam daftar tersebut yang masih hidup. Untuk berjaga-jaga….”

Saran Donghae dipotong Go Hyeong Man dengan sebuah tawa.

Yaa, aku sama sekali tidak tahu dengan kasus itu! Harus berapa kali aku tegaskan hal itu pada orang-orang seperti kalian, hah? Aku tidak ingin mencoreng nama baikku sendiri hanya karena harus menyiram kalian dengan teh ini seperti yang aku lakukan dulu pada polisi itu.”

.

.

.

Umpatan demi umpatan lolos dari bibir Hyukjae sesaat setelah ia dan Donghae keluar dari kantor Go Hyeong Man. Bahkan pintu mobil yang sudah dibuka Hyukjae kembali ditutup dengan cukup kencang. Niat untuk menendang roda mobilnya sendiri pun Hyukjae urungkan mengingat dirinyalah nanti yang akan rugi. Ia tidak ingin melukai kaki atau merusak sepatu barunya hanya karena melampiaskan kekesalannya terhadap Go Hyeong Man.

“Aku tidak akan peduli bila dia benar-benar menjadi target Lee Sungmin atau siapapun itu,” erang Hyukjae yang kemudian memilih untuk masuk ke dalam mobil.

Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan Hyukjae. Beberapa detik ia memandang kantor Go Hyeong Man yang ada di samping pabrik. Ia mencium ada keanehan pada diri pimpinan Han Sae Textile tersebut. Dari mulai ekspresi wajah, kata demi kata yang diucapkan dan sikap pria tersebut. Dan itu artinya, ia harus menggali lebih dalam lagi.

“Di mana tadi tempat tinggalnya?” tanya Donghae.

“Di daerah Mapo-gu. Tepatnya di Sangsoo-dong,” jawab Hyukjae singkat tanpa mengurangi raut wajah kesalnya seraya menuliskan alamat lengkap tempat tinggal Go Hyeong Man pada navigator yang ada di mobilnya. Sedikit gemas, Hyukjae mengenakan sabuk pengamannya dan bersiap menyalakan mesin mobil. Namun, sesuatu mengalihkan perhatiannya. Ia terpaksa memicingkan mata saat mencoba melihat sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan tak jauh dari pabrik. Namun, karena disuruh Donghae agar segera pergi, akhirnya Hyukjae kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan menyalakan mesin mobil.

CIIIT!~

Donghae hampir saja menjatuhkan ponsel yang ada di tangannya saat tiba-tiba Hyukjae menghentikan laju mobil.

Yaa!” seru Donghae yang cukup kesal.

Hyukjae tak mengiraukan Donghae. Ia kembali melihat mobil hitam yang tadi diamatinya. Gerakan matanya berhenti pada plat nomor mobil tersebut.

“8602….?” gumam Hyukjae yang sepertinya pernah melihat plat nomor tersebut. Karena tak juga bisa mengingat di mana ia pernah melihat plat tersebut, Hyukjae terpaksa memotret bagian belakang mobil tersebut dan mengirimkannya pada Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, cari plat nomor itu,” suruh Hyukjae melalui ponselnya.

[Sebentar….]

Sembari menunggu hasil dari Kyuhyun, Hyukjae membuntuti mobil tersebut yang mulai berjalan pelan.

[Nomor ini tidak tercatat secara resmi, Hyung. Bisa jadi plat nomor itu palsu dan—]

[Eo, bukankah itu mobil dengan plat nomor yang sama, yang tertangkap kamera CCTV di depan rumah Cha Hong Jo dan gedung apartemen Seo Jang Ok? Hyung, kau dapat dari mana foto ini?]

Hyukjae membelalakkan matanya lebar-lebar saat mendengar suara kecil Ryeowook menimpali suara Kyuhyun. Mobil dengan plat nomor yang sama dengan mobil yang berhenti di depan tempat tinggal Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok? Itu artinya….

“Tentu saja dia ada di sini,” gumam Hyukjae sebelum mematikan ponselnya. Kini ia berencana mengikis jarak antara mobilnya dengan mobil hitam tersebut.

“Siapa yang kau sebut dia?” tanya Donghae yang sebenarnya sejak tadi mengernyitkan kening melihat sikap aneh Hyukjae.

“Kau lihat mobil hitam di depan? Itu adalah mobil yang sama yang ada di rumah Seo Jang Ok dan Cha Hong Jo.” Hyukjae menolehkan wajahnya sekilas pada Donghae yang cukup terkejut mendengar jawabannya. “Aku berani bertaruh, orang yang ada di dalam mobil itu adalah Lee Sungmin.”

“Hyukjae-ya, kurasa dia tahu dirinya sedang kita ikuti,” ucap Donghae pelan ketika menyadari mobil yang sedang mereka buntuti mulai menambah kecepatan.

Sebuah smirk muncul di sudut bibir Hyukjae di saat Hyukjae juga mulai menambah kecepatan mobilnya untuk mengejar mobil tersebut. Beberapa mobil yang ada di depan mobilnya berhasil ia dahului dengan lihai agar ia tak kehilangan mobil tersebut. Tampaknya orang yang ada di belakang kemudi mobil hitam tersebut cukup ahli mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang padat kendaraan seperti sore ini.

Hampir lima belas menit dua mobil tersebut kejar-kejaran dengan menampilkan kemampuan menyetir yang cukup mengagumkan sebelum salah satu dari mobil tersebut membanting stir ke arah kiri, di mana akan membawa mereka ke jalan yang tak banyak dilalui kendaraan.

Suara decitan ban terdengar ketika Hyukjae membelokkan mobilnya ke jalan yang sama, yang dilalui mobil tersebut. Akan tetapi, saat Hyukjae akan menambah kecepatan yang lebih tinggi lagi agar bisa mendekati mobil tersebut, tiba-tiba sebuah truk kontainer mendahuluinya. Akibatnya ia kehilangan mobil tersebut untuk beberapa detik sebelum ia berhasil mendahului truk berwarna putih itu. Namun, Hyukjae terpaksa mengernyitkan keningnya karena mobil yang sejak tadi ia coba kejar kini berhenti dengan posisi sembarangan di tepi jalan.

“Apa-apaan ini?” desis Hyukjae seraya keluar dari mobil dengan salah satu tangan yang sudah siap mencabut pistol yang ia selipkan di celana bagian belakangnya. Sama seperti Hyukjae, Donghae pun juga sudah siaga meski sebenarnya ia merasa ada yang ganjil pada mobil tersebut.

“Hyukjae-ya, tunggu sebentar,” cegah Donghae. Tampaknya panggilannya sama sekali tak digubris. Hyukjae tetap berjalan pelan ke arah mobil tersebut dengan pistol yang sudah siap di tangannya.

Meski hanya berjarak beberapa meter, Hyukjae akhirnya bisa memastikan mobil tersebut kosong, tak ada orang. Dan itu sudah cukup membuatnya kesal, seolah ia melakukan hal yang sia-sia belasan menit yang lalu hanya untuk mengejar mobil tersebut.

“Apakah kita baru saja dipermainkan oleh seseorang yang gila dan bosan hidup?” gerutu Hyukjae sambil berdiri tak jauh dari mobil sambil memutar tubuhnya menghadap Donghae, yang berjalan pelan ke arahnya.

“Entahlah. Mungkin saja—“

Belum selesai Donghae menanggapi pertanyaan Hyukjae, mereka berdua dibuat terkejut setengah mati dan mungkin hampir terkena serangan jantung saat tanpa mereka duga mobil hitam tersebut meledak. Bahkan beberapa orang yang berjalan di trotoar tak jauh dari mobil itu berteriak ketakutan dan berlari menjauh.

“Hyukjae-ya, kau tidak apa-apa?!” Donghae yang melihat Hyukjae tersungkur ke jalan langsung menghampirinya dan membantunya berdiri.

“Ya, aku tidak apa-apa,” jawab Hyukjae sambil menyeka keningnya yang berdarah karena terkena serpihan kaca mobil.

Dua orang polisi muda tersebut membeku di tempat menyaksikan mobil hitam yang kini terbakar dan berhias kepulan asap hitam di bagian atasnya. Banyak pertanyaan kini tertulis di benak mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar seseorang baru saja mempermainkan mereka dengan membiarkan mereka mengejar mobilnya sebelum memberi mereka sebuah kejutan seperti ini? Apakah benar pengemudi mobil tersebut adalah Lee Sungmin seperti yang dikatakan Hyukjae?

Tanpa Donghae dan Hyukjae sadari, seorang pemuda bertopi hitam berdiri di belakang beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu di halte bus. Ada ekspresi puas yang cukup jelas di wajah bersihnya ketika melihat Donghae dan Hyukjae mematung di sana.

Aigoo~ terima kasih,” ucap seorang wanita di depannya yang hampir saja terjungkal ke belakang kalau tidak segera ia tahan.

Pemuda itu hanya tersenyum manis. Dengan santai, ia berjalan menjauhi kerumunan orang sambil menerima telepon dari Kim Heechul.

“Berjalan lancar, Hyungnim,” ucapnya pada seseorang yang menelponnya.

[Kerja bagus, Park Chanyeol.]

Pemuda itu, atau lebih tepatnya Park Chanyeol karena memang itu namanya hanya berterima kasih sebelum mematikan ponselnya. Setelah memutar topi bagian depan ke belakang, ia lantas memasukkan sebuah permen karet ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya sambil terus berjalan santai.

Park Chanyeol.

Ya, Park Chanyeol yang ini adalah Park Chanyeol yang pernah ditangkap Hyukjae saat ia berusaha kabur setelah keluar dari rumah Cha Hong Jo.

Park Chanyeol yang hampir saja menjadi tersangka pembunuhan sebelum Hyukjae menemukan rekaman CCTV yang membuktikan dia tak bersalah dan hanya dijebak oleh seseorang.

Park Chanyeol yang bisa Hyukjae pastikan hanyalah seorang pemuda baik dan polos yang berusia 22 tahun, yang bekerja di perusahaan periklanan kecil dan tidak memiliki catatan kriminal apapun.

To be continued

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. Monika sbr

     /  December 28, 2015

    Gak nyangkah kalo sungmin, heechul dan chanyeol adalah dalang dibalik2 pembunuhan yg ditangani oleh D-team….

    Reply
  2. inggarkichulsung

     /  January 8, 2016

    Aigoo jd Heechul oppa ada hub nya dgn kasus ini, kenapa ia keluar dr kepolisian dan justru jd aktor utama kejahatan yg berurutan terjadi, apakah krn kematian ayahnya yg merupakan sopir cadangan kepolisian yg kasus kematiannya ini justru ditutup di kepolisian pusat tempat Hankyung, Heechul dan Jongwoon oppa sendiri bekerja, apakah Heechul oppa marah kpd Hankyung oppa krn D-team nya tdk melanjutkan kasus ini, masalahnya sepertinya Kapten Tan td tahu menahu soal hal ini, aigoo jd Chanyeol sendiri org nya Heechul oppa jg dan td sepertinya sengaja dia yg disuruh mengalihkan dan dimirip2kan dgn Sungmin oppa agar dua polisi tsb bingung, aduh strategi nya Heechul oppa berbahaya dan jago banget apalagi ia mantan anggota kepolisian, ditunggu bgt kelanjutannya Nita, daebak ff

    Reply
  3. pak chanyeol ternyata ikut juga jadi komplotan heechul??!! OMG!! Makin seru nh cerita.
    Itu yang pemuda dateng ke ruangan heechul pas ada sungmin Henry bukan yaa??? Curiga juga deh sama henry abisnya dia ke kantor polisi mulu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: