VENUS [Part 8]


venus 5

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

At Seoul Hospital

“Kalau diamati lebih dari 5 menit, aku baru bisa mengenalinya sebagai Cho Kyuhyun,” gumam Hyukjae sambil mengusap-usap pelan dagunya. Meski maksud ucapannya hanyalah untuk mencairkan suasana tegang di salah satu ruang rawat rumah sakit tersebut, tetap saja ia masih merasa cemas dengan seseorang yang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur di depannya.

“Syukurlah, operasinya berjalan lancar,” sahut Ryeowook pelan yang tak juga mengalihkan pandangannya dari tempat tidur.

“Wajah yang ia bilang tampan itu memang seharusnya mendapat sedikit kejutan seperti itu. Tapi….”

Awalnya Hyukjae ingin mengejek, tapi setelah melihat kembali kondisi yang dialami orang tersebut, mau tidak mau ia merasa sedih. Di dalam hatinya ia menyesal karena tak bisa benar-benar memaksa ikut rombongan yang membawa para tahanan ke Penjara Pusat.

“Untung saja tusukan itu tidak sampai melukai organ pentingnya,” timpal Donghae yang sejak tadi berdiri di samping tempat tidur.

“Lebih dari itu, aku merasa bersyukur karena Kapten Tan menemukannya dengan cepat. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada bocah ini bila Kapten Tan terlambat datang satu menit saja. Bocah ini memang suka membuatku sakit kepala, tapi kalau dia mengalami hal buruk seperti ini, aku tetap merasa tidak tega. Haaah…., Cho Kyuhyun, anak ini benar-benar merepotkan,” ujar Hyukjae seraya mengusap wajahnya dengan gusar.

Sejak satu jam yang lalu ketiga polisi muda yang tergabung dalam D-Team tersebut berdiri mengelilingi tempat tidur di mana Kyuhyun dibaringkan setelah menjalani operasi. Wajah mereka tampak begitu cemas menantikan anggota termuda tim mereka siuman.

Ya, bantuan yang diminta Kyuhyun sebelum polisi muda bertubuh tinggi tersebut mencari keberadaan mobil yang membawa tahanan di bawah tebing baru bisa tiba satu jam kemudian. Tentu saja yang pertama ditemukan oleh beberapa petugas yang dipimpin Hankyung adalah mobil Kyuhyun yang terparkir di pinggir jalan tak beraspal. Dan mungkin kita harus berterima kasih pada jejak sepatu Kyuhyun yang ada di atas tanah, jadi tim bantuan tersebut bisa segera mengetahui keberadaan Kyuhyun meski apa yang mereka temukan benar-benar di luar dugaan.

Mobil yang rusak parah dengan semua penumpangnya tak lagi bernyawa. Ditambah Kyuhyun tergeletak di atas tanah tak jauh dari mobil dalam kondisi sekarat dengan pisau yang tertancap di perutnya. Ya, itulah yang mereka temukan.

“Ngomong-ngomong, ke mana Kapten Tan? Sejak tadi aku belum melihatnya?” Hyukjae yang sadar baru saja menyebut kakak tiri Kyuhyun tersebut lantas mengedarkan pandangannya, mencari sosok tinggi kapten unit tempatnya bertugas.

Ryeowook baru akan menjawab pertanyaan Hyukjae ketika pintu ruang rawat yang letaknya tak jauh dari tempat Kyuhyun berbaring dibuka seseorang. Sosok Hankyung muncul dengan jaket kulit hitam yang menutupi kemeja hitamnya. Wajahnya tampak serius saat berjalan mendekati tempat tidur Kyuhyun.

“Apa dia belum juga siuman?” tanya Hankyung, tangannya terulur menyentuh kening Kyuhyun dan merapikan rambut adiknya tersebut.

“Belum, Kapten. Tapi kata dokter, kondisinya sudah cukup stabil. Mungkin karena pengaruh bius, makanya dia tidur seperti kerbau dan….., maaf, Kapten,” Hyukjae buru-buru menundukkan kepala dan meminta maaf saat hampir mengatai Kyuhyun di depan Hankyung.

Alih-alih marah ataupun kesal, Hankyung justru tersenyum tipis, menepuk pelan punggung Hyukjae. “Dari keempat tim investigasi yang ada di unit kita, hanya tim kalian sajalah yang memiliki rasa persahabatan paling kuat. Aku cukup bangga dengan fakta itu.”

“Oh ya, dari mana saja Kapten tadi?” tanya Hyukjae yang sejak tadi memang mencari Hankyung.

“Aku baru kembali dari tempat kejadian untuk pemeriksaan lanjutan. Sebenarnya masih banyak yang harus kukerjakan di sana, tapi aku harus kemari untuk mengetahui keadaan Kyuhyun dulu,” jawab Hankyung yang teringat saat dia menemukan Kyuhyun tergeletak di atas tanah dengan wajah yang pucat dan bersimbah darah. Saat itu Hankyung benar-benar merasa takut jika Kyuhyun tak bisa diselamatkan, tapi setelah memastikan sendiri adiknya itu berhasil menjalani operasi dan kondisinya sudah mulai stabil, ia merasa lebih tenang.

Suasana kamar tempat Kyuhyun dirawat tersebut mendadak sunyi sejenak karena ketiga polisi yang tergabung dalam D-Team terdiam memandang kapten mereka yang begitu mengkhawatirkan Kyuhyun.

“Setelah ini aku berencana kembali ke sana. Apa kalian ingin ikut bersamaku?” Akhirnya suara Hankyung memecah kesunyian yang timbul beberapa detik lalu. Anehnya lagi, meski suara yang dikeluarkan Hankyung tidak terlalu keras, rupanya cukup membuat Donghae, Hyukjae dan Ryeowook sedikit terperanjat.

Awalnya ketiga polisi muda tersebut hanya saling pandang sebelum akhirnya Hyukjae-lah yang menyuruh Donghae dan Ryeowook untuk ikut bersama Hankyung. Sementara dirinya memilih untuk tetap menjaga Kyuhyun di rumah sakit.

“Kalau Kyuhyun siuman, jangan lupa kabari kami.”

Hyukjae hanya mengangguk, mengiyakan permintaan Ryeowook, kemudian membungkuk sebentar pada Hankyung ketika kapten unitnya tersebut berjalan keluar bersama kedua rekan satu timnya. Dihelanya napas pelan sambil kembali memandang Kyuhyun.

“Kami akan segera menangkap pelakunya, Kyuhyun-ah. Kau jangan khawatir. Orang itu pasti akan mendapat pembalasan yang setimpal. Tapi, sebelum orang itu dihukum, akan kupastikan aku menghajarnya terlebih dahulu karena sudah membuatmu begini,” gumam Hyukjae yang sedetik kemudian kembali memasang wajah kesal. “… yaa, mau sampai kapan kau tidur seperti itu, hah? Permisi, Detektif Cho, kau bisa mendengarku? Haah…., dasar… aku juga ingin menghajarmu, Cho Kyuhyun.”

.

.

.

.

Selama perjalanan menuju lokasi kejadian, Donghae dan Ryeowook terlihat melamun. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Dan tentu saja apa yang ada di pikiran mereka sama, yaitu tentang kasus pembunuhan komplotan Kim Bo Sang dan percobaan pembunuhan terhadap Kyuhyun.

Sebut saja…. ini di luar kendali mereka. Dua kejadian yang ada di hadapan tim mereka sama sekali tidak mereka duga. Kasus penyerangan terhadap polisi memang kerap terjadi, hanya saja bagi D-Team, kasus seperti ini adalah pertama kalinya.

“Kita sudah sampai.”

Suara Hankyung memaksa Donghae dan Ryeowook terjaga dari lamunan mereka. Kini mobil berwarna hitam tersebut sudah berhenti di lokasi ditemukannya mobil Kyuhyun. Di sana terdapat beberapa petugas yang berjaga-jaga dan beberapa petugas lain yang muncul dari arah jurang sambil menyapa Hankyung.

“Di mana tempatnya?” tanya Donghae pada Hankyung.

“Ikuti aku.”

Hankyung seraya menuruni jurang yang tak terlalu dalam itu dengan pelan-pelan. Begitu juga dengan Donghae dan Ryeowook yang berjalan di belakangnya. Di sisi kanan mereka terdapat beberapa pohon kecil yang rusak seperti habis dihantam sesuatu dari atas.

Tak lebih dari lima belas menit, mereka sudah sampai di sebuah lahan kosong yang sudah dihiasi dengan garis polisi di sekitarnya. Di sana juga terdapat beberapa petugas yang berjaga. Donghae dan Ryeowook mengedarkan pandangan mereka ke segala arah.

“Tak ada kamera CCTV yang terpasang di daerah ini,” gumam Donghae yang kemudian menghentikan gerak matanya pada tanah yang berhias beberapa bercak darah yang ia yakini adalah darah milik Kyuhyun.

“Orang itu memilih tempat yang tepat untuk melakukan aksinya,” sahut Ryeowook.

Hankyung yang selesai membicarakan sesuatu dengan salah satu petugas lantas menghampiri Donghae dan Ryeowook. “Bagaimana menurut kalian tentang tempat ini?” tanyanya pada kedua anggota D-Team termasuk.

“Entah disengaja atau tidak, pelakunya memilih tempat yang tepat untuk membunuh Kim Bo Sang dan anak buahnya,” jawab Ryeowook.

“Salah satunya karena tidak ada CCTV?” tebak Hankyung yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Donghae.

“Apa sudah ada kabar dari Forensik tentang penyebab kematian Kim Bo Sang dan anak buahnya, Kapten?” tanya Ryeowook.

“Mereka semua ditembak tepat di dada kiri. Dan mereka dipastikan tewas karena peluru yang menembus jantung mereka,” jawab Hankyung.

“Lalu…., saksi mata? Sama sekali tidak ada saksi mata saat kejadian, Kapten?”

Hankyung menanggapi pertanyaan Donghae dengan gelengan kepala. “Sama sekali tidak ada. Petugas hanya menemukan satu barang bukti. Yaitu, pisau lipat yang menancap di perut Kyuhyun. Saat ini pisau tersebut masih dianalisa di Lab. Aku akan mengabari kalian kalau nanti hasilnya sudah keluar.”

“Kita harus segera melakukan penyelidikan resmi, Kapten,” pinta Ryeowook.

Untuk beberapa detik Hankyung tampak memandangi kedua bawahannya, seolah ada sesuatu yang harus ia katakan, tapi cukup sulit untuk menggerakkan bibirnya. Donghae yang menangkap basah keraguan di wajah Hankyung langsung mengernyitkan kening.

“Apa ada sesuatu yang terjadi, Kapten?”

“Begini, Donghae-ya, Ryeowook-ah…..” Hankyung menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya pelan sebelum melanjutkan kata-katanya. “… Sebenarnya sebelum ke rumah sakit, aku tidak kemari.”

Dua anggota D-Team tersebut saling pandang. Mereka berdua cukup heran dengan sikap aneh Hankyung.

“Aku ke kantor untuk menemui Komisaris Ahn dan….”

“Komisaris Ahn? Apa lagi? Apa Komisaris Ahn akan membubarkan D-Team lagi?” cecar Ryeowook yang langsung kesal hanya mendengar nama Komisaris Ahn disebutkan Hankyung.

“Bukan. Bukan begitu. Keputusan yang dibuat Komisaris Ahn kali ini masih cukup ringan dan bisa kuterima,” Hankyung mencoba melanjutkan kabar yang akan ia sampaikan.

Donghae hanya mengedarkan pandangannya ke arah lain. Keputusan yang dibuat kali ini masih cukup ringan? Seingatnya sejak D-Team dibentuk, keputusan yang dibuat atasannya tersebut sama sekali tidak bisa dikatakan ringan atau tidak merugikan timnya. Entah karena tidak suka dari awal tim dibentuk atau bagaimana, tapi Donghae rasa apapun keputusan yang dibuat Komisaris Ahn untuk D-Team, tidak akan pernah memberikan keuntungan sedikitpun.

“Komisaris Ahn bilang…..”

oOo

Next day at Seoul Hospital…

Suara denting sendok yang menghantam tepi meja makan kecil kemudian mendarat di atas lantai terdengar nyaring hingga membuat Donghae yang duduk di samping tempat tidur terpaksa menurunkan berkas laporan yang sejak tadi menutupi wajahnya. Dilihatnya Kyuhyun menekuk wajah ke arah makanan yang lima belas menit lalu diantar oleh seorang perawat untuknya.

“Kenapa?” tanya Donghae seraya kembali mengangkat laporan yang ada di tangannya.

“Bukankah hari ini giliran Hyukjae Hyung yang menjagaku?”

Donghae tak menjawab. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya membaca laporan yang pagi tadi diberi oleh Ryeowook daripada menanggapi pertanyaan Kyuhyun yang sudah jelas-jelas tidak perlu mendapat jawaban apapun darinya.

“Makan saja makananmu,” ujar Donghae pelan sembari membalik kertas dan mulai membaca isi lembaran kertas berikutnya.

“Tapi kau sama sekali tidak seru, Hyung. Kau dan Hankyung Hyung itu sama saja, sama-sama bukan orang yang suka bicara. Dan aku tidak suka dengan orang yang tidak suka bicara. Ah, dan juga…., orang itu. Orang yang hampir memutuskan ususku dengan pisaunya. Orang itu juga sama seperti kalian yang….” Kyuhyun menghentikan ocehannya sendiri ketika teringat sesuatu. “Hyung, kau bilang…., satu-satunya barang bukti yang tertinggal di tempat kejadian adalah….”

“Pisau lipat yang digunakan untuk menusukmu?” potong Donghae yang kemudian diangguki cepat oleh Kyuhyun. “Memangnya kenapa?”

Kyuhyun tak lantas menjawab. Kedua matanya menatap lurus ke arah mangkuk-mangkuk makanan yang masih penuh isinya. Keningnya berkerut. Ia mencoba memutar memorinya sebelum ia kehilangan kesadarannya.

“Lee Sungmin….”

Gumaman Kyuhyun membuat Donghae menurunkan sepenuhnya kertas di tangannya sendiri. “Hah?”

“Orang itu…., orang yang membunuh Kim Bo Sang dan anak buahnya…., orang yang menyerangku…., dia Lee Sungmin, Hyung.”

Donghae tahu ia tak seharusnya terhenyak seperti ini setelah Kyuhyun menyebut nama Lee Sungmin. Hanya saja…., semudah itukah?

“Pisau lipat itu, apa Bagian Analisa Sidik Jari menemukan sidik jari di pisau tersebut?” Wajah Kyuhyun berubah semangat. Bahkan rasa nyeri yang masih terasa di sekitar perutnya ia abaikan.

“Kapten bilang memang ditemukan sidik jari di…”

“Langsung saja lakukan perbandingan dengan sample sidik jari yang kita punya, Hyung,” potong Kyuhyun.

“Apa maksudmu?”

Sample sidik jari milik Lee Sungmin. Bandingkan sidik jari Lee Sungmin dengan sidik jari yang ditemukan di pisau lipat tersebut. Meski tidak 100%, tapi aku cukup yakin orang yang menyerangku adalah dia.”

“Bagaimana kau bisa cukup yakin?” Mau tidak mau Donghae harus memasang wajah tidak percaya pada Kyuhyun.

Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir Kyuhyun. “Hyung, foto pria yang diduga Lee Sungmin, yang hanya terlihat dari belakang dengan pakaian serba hitam, topi hitam…., dan rambut pirang itu…, aku sudah memandanginya 10 jam setiap hari. Bahkan aku memasang foto tersebut di setiap ruangan yang ada di rumahku. Tak hanya itu saja, aku juga sengaja memasangnya sebagai wallpaper di ponselku sendiri.” Kyuhyun menunjukkan ponselnya yang memang ber-wallpaper foto pria serba hitam tersebut. “…. Meski aku tidak tahu bagaimana wajahnya, tapi aku sudah hafal dengan tubuh bagian belakangnya.”

Baiklah. Donghae tidak tahu harus bertepuk tangan atau memasang wajah datar untuk kejelian Kyuhyun. Sebenarnya ia tahu teman satu timnya ini memiliki kejelian yang cukup tinggi untuk sesuatu atau seseorang yang menarik baginya, tapi untuk bagian wallpaper itu…., entahlah.

“Aku langsung hubungi Ryeowook saja. Kau…., habiskan saja makananmu.” Donghae langsung mengambil ponselnya yang ada di saku bagian dalam jasnya dan menghubungi Ryeowook.

“Tapi, aku sudah membuang sendokku ke bawah sana,” rengek Kyuhyun dengan pelan.

Donghae hanya menghela napas sambil memungut sendok yang dibuang oleh Kyuhyun dan memberikannya pada pria berambut coklat tersebut.

“Ha, meski kau tidak suka bicara banyak, kau bisa diandalkan, Hyung. Berbeda dengan Hyukjae Hyung yang selalu menolak bila kumintai sesuatu. Dia itu selalu saja mengajakku taruhan untuk ini dan itu, dan entah kenapa hasilnya selalu aku yang kalah dan….”

“Makan sajalah, jangan banyak bicara….., Ya, halo, Ryeowook-ah, ini aku…..”

.

.

.

at Crime Investigation Unit

“Ya, Hyung? Ada apa?” Ryeowook menerima telepon dari Kyuhyun sambil berdiri di dekat Ruang Bagian Analisa Sidik Jari yang ada di unit tempatnya bertugas.

“Siapa? Donghae, ya?” tanya Hyukjae yang sibuk melahap tteokbokkie pemberian salah satu anggota B-Team. Ryeowook hanya mengangguk sambil terus mendengarkan Donghae yang mengajaknya berbicara dengan serius.

“Kebetulan aku sedang menunggu hasil analisanya. Memangnya kenapa, Hyung?”

Raut wajah Ryeowook berubah. Pria bertubuh lebih kecil dari Hyukjae tersebut mengernyitkan keningnya setelah mendengar jawaban Donghae. Tak pelak pemandangan seperti itu mengundang ekspresi heran dari Hyukjae yang sejak tadi mengamati Ryeowook.

Yaa, kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Hyukjae dengan mulut penuh kudapan yang terbuat dari tepung beras tersebut.

Ryeowook memilih untuk tak menanggapi pertanyaan Hyukjae dulu karena ia ingin mendengarkan dengan jelas apa kata-kata Donghae. Barulah beberapa detik kemudian ia membalas tatapan Hyukjae.

Hyung, bawakan file hasil analisa sidik jari Lee Sungmin yang ada di laptopku,” perintah Ryeowook dengan nada tegas pada Hyukjae.

“Memangnya kenapa?”

“Kita akan lakukan perbandingan dengan sidik jari yang ada di pisau lipat yang digunakan untuk menyerang Kyuhyun,” jawab Ryeowook cepat.

Meski masih ada tanya tanya di wajahnya, Hyukjae tetap mematuhi perintah Ryeowook. Ia langsung melesat sambil menghabiskan sisa tteokbokkie-nya. Bahkan ia mendadak memiliki ketidaksukaan pada lift yang ada di unitnya, dan lebih memilih berlari menaiki tangga untuk sampai ke lantai tiga tempat kantor timnya berada.

“Kau terlihat terburu-buru, Lee Hyukjae.”

Hyukjae yang baru saja meraih pegangan pintu kantor D-Team hampir tersungkur karena berhenti mendadak setelah mendengar seseorang mengajaknya bicara. Dilihatnya Siwon sudah berdiri tak jauh dari depan kantor timnya sambil membawa kopi panas. Yang bisa ia lakukan hanyalah melambaikan tangan sekilas tanpa arti sebelum masuk ke dalam kantor timnya. Dengan cepat ia masuk ke dalam ruangan Ryeowook dan keluar beberapa saat kemudian.

“Kudengar Donghae masih ada di rumah sakit ya?” tanya Siwon yang entah sejak kapan sudah bersandar di pinggir pintu kantor D-Team sambil sesekali menyeruput kopi panasnya.

“Yeah,” Hyukjae menjawab asal. Perhatiannya lebih terpusat pada beberapa kertas yang ada di atas mejanya. Kertas-kertas tersebut berisi hal-hal yang berkaitan dengan file sidik jari Lee Sungmin yang diminta Ryeowook tadi.

“Kau tidak lupa dengan besok, kan?”

Kali ini pertanyaan yang baru saja dilontarkan Siwon benar-benar menghentikan kegiatan Hyukjae. Pria berahang tegas itu lantas menoleh ke arah Siwon yang tersenyum tipis padanya. Meski samar, ekspresi kesal tampak di wajah Hyukjae.

Besok. Ya, Hyukjae tidak akan lupa dengan besok. Tidak hanya dirinya, Ryeowook dan Donghae juga tidak akan lupa dengan besok. Sebut saja besok adalah awal mula saat-saat menyebalkan yang mungkin tidak akan berakhir bagi semua anggota D-Team. Bagaimana tidak, akibat insiden yang menimpa Kyuhyun, Komisaris Ahn kembali membuat keputusan yang tidak mungkin bisa ditolak oleh siapapun, termasuk Ryeowook yang sebelumnya berhasil menggagalkan keputusan pembubaran D-Team.

“Meski aneh, aku akan tetap berterima kasih karena kau mau bergabung dengan D-Team untuk menyelidiki kasus ini,” ucap Hyukjae kemudian.

Siwon mengedikkan bahunya. “Aku bisa apa kalau Komisaris Ahn yang memintaku. Bahkan Kapten Tan pun menyetujuinya. Setidaknya aku bisa membantu D-Team. Iya, kan?”

Hyukjae terpaksa mendengus dalam hati mendengar ucapan Siwon. Apa yang baru saja didengarnya memang tidak salah. Sama sekali tidak salah. Keputusan itulah yang dibuat Komisaris Ahn sebagai “hukuman” dari kelalaian timnya. Memasukkan Choi Siwon ke dalam daftar nama anggota D-Team sementara waktu untuk membantu menangani kasus rumit D-Team….., mungkin bisa disebut keputusan yang cukup “bijak” untuk saat ini meski semua anggota D-Team tidak menyetujuinya. Ya, mungkin itu adalah keputusan terbaik daripada D-Team dibubarkan.

“Sepertinya kau keberatan. Ani… sepertinya semua anggota timmu keberatan setelah tahu aku akan bergabung,” ujar Siwon.

“Merasa keberatan adalah hal sia-sia untuk sekarang.” Hyukjae menutup pintu dengan sedikit kencang setelah Siwon menjauhkan diri dari pintu tersebut.

“Bukankah kau bertingkah sedikit berlebihan pada seorang teman, hah?”

Hyukjae yang baru akan melangkah pergi terpaksa berhenti dan membalikkan badan ke arah Siwon. Untuk beberapa detik ia hanya memandang pria bertubuh tinggi tersebut sebelum menyunggingkan senyum kering tanpa arti.

“Entah kenapa kata teman yang keluar dari mulutmu terdengar aneh di telingaku, Ketua Tim Choi. Rasanya aku sudah tak pernah mendengar kata itu sejak……… lupakan saja.” Hyukjae menggelengkan kepalanya pelan sebelum berjalan menjauh. Namun, ia terpaksa mengernyitkan keningnya ketika Siwon justru mengikutinya.

“Sekarang aku adalah anggota D-Team. Jadi, berhentilah memanggilku dengan sebutan itu untuk sementara waktu. Kita akan ke Bagian Analisa Sidik Jari, kan?”

.

.

.

.

Ryeowook, Hyukjae, Siwon dan Hankyung berdiri sambil memasang wajah serius ke arah layar komputer yang ada di depan Petugas Bagian Analisan Sidik Jari. Di layar komputer tersebut sedang ditampilkan proses perbandingan sidik jari yang ditemukan di pisau lipat yang digunakan pelaku untuk menyerang Kyuhyun dengan sample sidik jari Lee Sungmin yang dimiliki D-Team.

Tak berapa lama kemudian keempat polisi tersebut tampak terkejut setelah melihat kata MATCH di layar komputer, yang menandakan bahwa kedua sidik jari yang dibandingkan memiliki kesamaan 100%. Dengan kata lain, sidik jari yang ditemukan di pisau lipat tersebut adalah milik Lee Sungmin, orang yang selama ini mereka cari.

“Tidak mungkin. Sekarang dia berani muncul dan menyerang polisi?”,” gumam Hyukjae, tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Meski aneh, Hyukjae tetap merasa takjub.

“Dia benar-benar sudah gila,” sahut Ryeowook yang masih belum bisa menghilangkan ekspresi terkejut dari wajahnya.

“Entah karena berani atau benar-benar sudah gila………, dia seperti sedang menantang polisi,” tambah Hankyung.

“Atau bisa juga dia ingin bermain-main dengan kita, Kapten.”

Ucapan Siwon memaksa Hyukjae dan Ryeowook menoleh ke arahnya. Siwon yang menyadari ucapannya mengalihkan perhatian dua anggota D-Team tersebut hanya mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum tipis.

“Penjahat sekarang sedikit lebih kreatif dibanding jaman dulu. Dan juga sedikit lebih cerdas meski tetap saja bisa disebut gila karena pola pikirnya. Daripada melakukan kejahatan lalu bersembunyi, dia lebih memilih untuk mengkonfrontasi lawannya dengan berhadapan langsung. Karena dengan begitu, ia bisa menunjukkan rasa percaya diri akan kemenangan yang sudah pasti akan dia dapatkan,” tutur Siwon seraya melipat kedua tangan di dada.

“Bicara apa kau ini?” desis Hyukjae yang mendapat senggolan di lengannya dari Ryeowook.

Siwon tertawa kecil. “95% pelaku kriminal dari kasus yang berhasil kutangani bersama semua anggota A-Team memiliki pola pikir seperti itu. Bukankah itu artinya…., hampir semua orang yang melakukan kejahatan di era sekarang juga memiliki pola pikir yang sama? Iya kan, Kapten Tan?” Siwon mengalihkan pandangannya pada Hankyung.

Hyukjae dan Ryeowook ikut memandang Hankyung. Mereka berharap kapten mereka tidak menganggukkan kepala atau mengatakan sesuatu yang bermakna setuju dengan apa yang dituturkan Siwon. Setidaknya Hankyung harus “menyelamatkan” harga diri D-Team yang secara tidak langsung diinjak oleh Team Leader dari A-Team lewat angka 95% itu.

“Yeah. Memang begitu. Tapi kita juga tidak bisa dianggap remeh.”

Selesai sudah. Hyukjae dan Ryeowook terpaksa menundukkan kepala beberapa detik untuk membuang napas mereka yang cukup berat dan panas. Seharusnya mereka tahu kalau Tan Hankyung yang memiliki jabatan Kapten Unit di Unit Investigasi Kriminal Pusat adalah seseorang yang memiliki sifat netral dan jujur dengan kadar di atas rata-rata. Bila memang benar, ia akan berkata benar. Dan bila memang salah, ia akan berkata salah. Tidak peduli pada siapapun.

oOo

Two days later….

“Go Jung Ra! Go Jung Ra! Di mana dia?”

Senior Go Jung Ra, Park Jung Soo, atau yang biasa disebut Pimpinan Park, mengedarkan matanya ke semua sudut ruangan luas tempat Jung Ra bekerja sambil membawa sebuah amplop coklat. Ia terpaksa mengulangi ucapannya karena orang yang dicarinya tak juga menampakkan batang hidungnya.

“Aku di sini, Sunbae!”

Sebuah tangan muncul dari bawah meja kerja Jung Ra.

Yaa, Go Jung Ra, apa yang kau lakukan di sana?” Park Jung Soo terpaksa bertanya seperti itu karena Jung Ra tak juga keluar dari bawah meja sambil berjalan mendekat.

Tak berapa lama Jung Ra pun keluar dari bawah meja kerjanya dengan salah satu telapak tangan yang menutupi setengah bagian wajahnya. “Ada apa, Sunbae? Apa ada anak sekolah yang bolos sekolah lagi dan berkelahi?” tanyanya.

Park Jung Soo yang merasa aneh melihat sikap Jung Ra lantas mengernyitkan keningnya.

“Kenapa tanganmu begitu?” tanya Jung Soo.

“Ah, ini….” Dengan ragu, Jung Ra pun menurunkan tangannya dari wajahnya.

Spontan mata Park Jung Soo terbelalak saat mendapati luka robek yang dikelilingi warna biru lebam di sekitar pelipis bagian kiri Jung Ra. Tak hanya itu saja, luka yang sama pun menghiasi sudut bibir kirinya.

“Itu…., ada apa dengan wajahmu? Mendapat perlawanan dari anak sekolah yang kau tangkap?”

Bukannya menjawab, Jung Ra justru hanya terkekeh sambil sedikit meringis kesakitan. Seharusnya atasannya itu tak perlu bertanya seperti itu kalau sudah tahu jawabannya. Menyebalkan sekali, bukan?

“Apa sudah kau obati?” tanya Park Jung Soo seraya menyodorkan amplop yang sejak tadi dibawanya pada Jung Ra.

“Setelah ini akan segera kuobati, Sunbae. Kau tidak perlu khawatir begitu.” Meski tidak tahu kenapa Park Jung Soo memberinya sebuah amplop, Jung Ra tetap saja menerimanya.

“Pergilah ke Kepolisian Pusat, dan antarkan amplop itu ke D-Team,” perintah Park Jung Soo sebelum membalikkan badan dan mulai melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Jung Ra memanggilnya.

“D-Team? Maksudnya, Sunbae?”

Park Jung Soo tampak menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Jung Ra. “Kau, Go Jung Ra, kuperintahkan pergi ke Kepolisian Pusat untuk menyerahkan amplop itu pada D-Team, salah satu tim investigasi yang ada di Unit Investigasi Kriminal Pusat yang bekerja sama dengan kita menangani kasus pembunuhan di Palace Tower. Tadi aku sudah menghubungi Pimpinan Penyelidikan yang bertanggung jawab atas kasus yang sedang ditangani D-Team. Dia bilang kau langsung ke sana saja…, ani, maksudku, setelah kau sampai di sana, langsung saja pergi ke kantor D-Team dan berikan itu pada salah satu anggotanya. Yang harus kau ingat adalah amplop itu harus itu sampai di tangan salah satu anggota D-Team sendiri, bukan ke orang lain. Mengerti?”

Jung Ra hanya bisa menganguk, mengiyakan apapun yang dikatakan atasannya tersebut. Bahkan ia masih saja berdiri di tempatnya saat sosok atasannya menghilang dari pandangannya. Sebenarnya ia bukannya tidak mengerti sama sekali dengan perintah yang diberikan padanya, hanya saja…

Heol….. dia tidak terlihat khawatir padaku. Sama sekali tidak. Permisi, Pimpinan Park, meskipun saya adalah polisi, tapi saya ini perempuan. Apa hanya karena 99,99% polisi di kantor ini adalah pria, dia jadi lupa kalau 0,001-nya adalah wanita? Menyebalkan, sekali,” omel Jung Ra sambil meraih backpack hitam yang ada di atas kursinya dan berjalan keluar dari ruangan dengan kaki yang menghentak-hentak kesal.

.

.

.

Hampir sepuluh menit Jung Ra berdiri tak jauh pintu gerbang utama Kantor Polisi Pusat tanpa ada niat untuk melangkahkan kakinya ke area depan gedung tinggi tersebut. Ia hanya mendongakkan kepala, mengamati gedung tersebut sambil berulangkali menghela napas. Ia tidak peduli dengan penjaga yang berdiri tak jauh darinya.

“Haah…, tempat impianku,” keluhnya seraya menundukkan kepala.

“Apa sebegitu menderitanya tidak diterima di Kepolisian Pusat, hm?”

Ucapan seseorang memaksa Jung Ra menegakkan kepalanya dan menoleh ke sisi kanan tubuhnya. Seseorang dengan pakaian serba hitam…., bukan, tepatnya hanya celana jeans berwarna gelap, T-Shirt lengan panjang berwarna hitam dan topi hitam yang menutupi rambut coklatnya, tengah bersandar pada tiang listrik yang ada di dekatnya.

“Bedebah Kecil?” ucap Jung Ra setelah mengenali orang itu adalah Henry. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Henry hanya mengedikkan kedua bahunya sebelum berkata, “Hanya melihat tempat kakakku bekerja di hari terakhir aku diskors. Besok aku harus masuk sekolah lagi.”

“Belajarlah yang rajin. Jangan berkelahi tidak jelas lagi kalau tidak mau kutangkap. Kali ini akan kupastikan kau menginap di penjara beberapa hari sebelum mendapat skors lagi,” ujar Jung Ra sambil memandang Henry. Namun, beberapa saat kemudian ia dibuat kikuk sendiri ketika menyadari pemuda 18 tahun itu cukup lama memandanginya dengan ekspresi yang sulit ia artikan.

Yaa…., ke-kenapa kau memandangiku seperti….”

“Apa yang terjadi?” potong Henry.

“Hah?”

Pemuda bertopi hitam itu menggerakkan dagunya ke arah wajah Jung Ra. Jung Ra yang seolah mengerti arti gerakan dagu Henry lantas menyentuh luka di pelipisnya yang justru membuatnya mengaduh pelan karena kesakitan.

“Ini karena ulah bocah-bocah kurang ajar sepertimu, tahu tidak? Anak jaman sekarang sama sekali tidak punya sopan santun terhadap orang yang……, eh?”

Jung Ra terpaksa tak melanjutkan gerutuannya karena tiba-tiba Henry menarik tangannya dan membawanya ke apotik yang ada tak jauh dari gedung Kepolisian Pusat. Bahkan ia dibuat terheran-heran saat pemuda itu masuk seorang diri ke dalam apotik tanpa berkata apapun padanya.

“Ini tidak apa-apa. Jangan bersikap seperti pria dalam drama ya. Yaa, kubilang ini tidak… auw!” Jung Ra terpaksa memekik kesakitan saat Henry mengoleskan krim transparan pada luka memar yang ada di pelipisnya.

Henry berdecak pelan melihat Jung Ra yang berusaha menghindar saat ia akan menempelkan plester luka ke luka robek yang ada di pelipis polisi wanita tersebut. “Apa Noona berniat berkeliaran dengan wajah seperti ini?” tanyanya dengan nada serius.

Sepenuhnya Jung Ra membeku di tempatnya. Bahkan ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan kecepatan tak beraturan setelah menyadari Henry begitu dekat dengan wajahnya. Padahal yang dilakukan adik Donghae itu hanyalah berusaha mengoleskan krim ke luka yang ada di sudut bibirnya.

“Apa Noona akan masuk ke gedung itu?” tanya Henry setelah menjauhkan dirinya dari wajah Jung Ra.

Dengan susah payah Jung Ra menganggukkan kepalanya.

“Untuk apa?”

“Atasanku menyuruhku untuk memberikan sesuatu pada salah satu tim di Unit Investigasi yang ada di sana. Memangnya kenapa?”

Henry tersenyum kecil. Diangkatnya tangan Jung Ra dan diletakknnya tube kecil berisi krim transparan yang tadi ia gunakan di atas telapak tangan polisi wanita cantik tersebut. “Kalau Noona bertemu kakakku, jangan bilang padanya kalau aku ke sana ya,” pintanya.

“Memangnya kenapa?”

Henry hanya mengulas senyum simpul sebelum menepuk pelan bahu Jung Ra.

Yaa, Bedebah Kecil!” Jung Ra berusaha mencegah Henry yang mulai melangkah menjauh darinya.

“Oleskan itu tiga kali sehari sampai luka memarnya berkurang. Noona bisa kompres juga dengan es batu. Yang penting berhati-hati saja saat menangkap anak-anak sekolah yang nakal. Jangan sampai terkena pukul lagi oleh mereka. Wajah cantik Noona tidak harus menjadi korban mereka. Aku pulang ya!”

Hanya itu yang diucapkan Henry sebelum berlari kecil menuju halte bus di mana kebetulan sebuah bus baru saja berhenti. Meninggalkan Jung Ra yang termangu di depan apotik dengan krim pemberian Henry di tangannya.

.

.

.

At D-Team’s Office

Semua anggota D-Team tampak serius dalam “rapat” yan diadakan Hankyung di dalam kantor mereka. Terlihat juga Siwon yang sudah resmi menjadi anggota D-Team sementara. Sebenarnya mereka bisa saja menggunakan ruang rapat yang ada di unit mereka, tapi karena saat ini ruangan tersebut masih digunakan B-Team dan tim dari Unit Kekerasan Kriminal untuk membahas kasus penculikan, akhirnya mau tidak mau mereka menggunakan kantor D-Team sebagai ruang rapat.

“Lalu apa motif Lee Sungmin membunuh mereka semua?” tanya Hyukjae yang memilih duduk di atas meja kerjanya sendiri daripada berdiri di dekat papan tulis seperti yang lain.

“Kalau kita berpikir sesederhana mungkin, bisa jadi agar kita tidak mendapatkan informasi lebih mengenai dirinya dari Kim Bo Sang dan anak buahnya. Masuk akal, kan? Dengan membunuh mereka semua, sekali lagi identitasnya akan aman,” jawab Ryeowook yang sejak tadi berdiri di pinggir papan tulis.

Hankyung yang menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Donghae sambil melipat kedua tangan di depan dada hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Lepas dari motifnya melakukan pembunuhan tersebut, bagaimana dia bisa tahu kalau mereka akan dipindahkan ke Penjara Pusat?”

Pertanyaan yang dilontarkan Donghae memaksa Hankyung menolehkan kepalanya ke arahnya.

“Bukankah pemindahan Kim Bo Sang dan anak buahnya adalah tugas khusus?” lanjut Donghae.

“Dan itu artinya tak banyak orang di Pusat yang tahu pemindahan mereka,” sahut Ryeowook.

Beberapa saat suasana ruangan bercat putih tersebut hening. Mereka semua memikirkan keanehan yang mereka temukan itu.

“Bagaimana dengan petugas yang ada di dalam mobil yang membawa para tahanan? Apa kita sudah memeriksa mereka?” Siwon yang sejak tadi terdiam akhirnya bersuara, memaksa semua anggota D-Team mengarahkan pandangan padanya.

“Apa maksudmu? Semua orang yang ada di dalam mobil itu tewas, termasuk orang kita, Cjoi Siwon, ” sahut Hyukjae ketus.

Siwon tak langsung menjawab. Ia berjalan mendekati papan tulis dan mengambil peta rute pemindahan para tahanan. Setelah menempelkan peta tersebut, ia mulai menarik garis dengan di atas peta tersebut.

“Awalnya rombongan berada di jalur rute yang sudah ditetapkan. Tapi mendadak ada kecelakaan di jarak satu kilo. Maka dari itu Kapten Tan membuat rute yang baru agar tidak terjebak macet dengan lewat jalur ini. Namun, entah kenapa, tiba-tiba mobil yang membawa para tahanan melaju di jalan yang tak sesuai dengan rute baru dan bahkan mengarah ke daerah pinggiran kota,” Siwon menghentikan kata-katanya sesaat untuk melihat semua orang yang ada di ruangan. “Petugas yang ada di dalam mobil itu sama sekali tidak merespon panggilan dari Pusat. Bukankah itu cukup mencurigakan?”

“Maksudmu ada pengkhianat di dalam mobil itu yang bersekongkol dengan Lee Sungmin? Salah satu petugas yang mengawal para tahanan sengaja mengeluarkan mobil dari rute? Begitu maksudmu, hah?” potong Hyukjae dingin.

Siwon tersenyum tipis menanggapi Hyukjae. “Aku tidak berkata ada pengkhianat di sini. Aku hanya memberikan dugaan sementara tentang tindakan mencurigakan yang dilakukan petugas di mobil itu. Aku tidak salah, kan? Jelas-jelas petugas yang ada di dalam mobil tidak merespon komunikasi dari Pusat saat mobil yang mereka tumpangi keluar dari rute yang sudah ditetapkan. Kau juga tahu itu, Lee Hyukjae.”

Hyukjae membuang wajahnya sambil menghela napas dengan kasar, kemudian menyadari Donghae sedang menatapnya, seolah menyuruhnya untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi hanya karena kalah berbicara dengan Siwon.

Suara dering telepon yang ada di atas meja Donghae sedikit mengalihkan suasana tegang yang baru saja tercipta akibat perdebatan antara Siwon dan Hyukjae.

“Ya, ini D-Team dari Unit Investigasi Kriminal,” jawab Donghae melalui teleponnya. “… baiklah. Aku akan segera keluar,” lanjutnya kemudian seraya menutup telepon dan bangkit dari kursinya.

“Ada apa?” tanya Hankyung.

“Utusan dari Kantor Polisi Gangnam datang kemari untuk menyerahkan berkas dari ketua tim yang menangani kasus pembunuhan Seo Jang Ok,” jawab Donghae sebelum keluar dari kantor timnya.

Ia baru akan berjalan ke arah lift yang tak jauh dari kantornya ketika seorang polisi wanita dengan wajah berhias plester luka dan beberapa luka lebam menghampirinya.

“Lee Donghae-ssi, kau dari D-Team, kan?” tanya Jung Ra.

Beberapa detik Donghae tampak terhenyak melihat Jung Ra yang kini sudah ada di depannya. Sebenarnya bukan karena ia harus mengingat-ingat dulu siapa Jung Ra, melainkan karena luka yang ada di wajah polisi wanita itu.

“Ck…, kalau kau seperti itu, benar-benar mirip dengan adikmu,” gerutu Jung Ra pelan saat menyadari Donghae memandangi wajahnya cukup lama dengan serius.

“Apa?” Donghae terpaksa bertanya karena tidak bisa mendengar dengan jelas gerutuan Jung Ra.

Alih-alih menjawab pertanyaan Donghae, Jung Ra langsung menyodorkan amplop coklat yang sejak tadi ia bawa pada Donghae dan menunggu apapun yang akan diucapkan pria berwajah tampan itu sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantarkan “pesanan” timnya dari Park Jung Soo.

“Kau… sudah membukanya ya?”

“Hah?”

Donghae menunjukkan bentuk tali coklat yang ada di bagian belakang amplop yang sudah terlepas dari lilitan. Jung Ra mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menelan ludah. Dalam hati ia membodohi dirinya sendiri karena memang benar ia sudah membuka amplop tersebut untuk melihat isinya. Dan tololnya lagi, ia tak melilitkan kembali tali coklat yang ada di bagian belakang amplop seperti semula.

“Aku… hanya penasaran karena beberapa kali atasanku itu menyuruhku untuk membantunya menangani kasus tersebut,” jawab Jung Ra pelan. “….Sejak kecil aku memiliki penyakit penasaran akut dan sama sekali tidak ada obatnya. Dan kurasa…. hari ini penyakitku kambuh. Jadi, bisakah kau berhenti memandangiku seperti aku baru saja membunuh orang?” lanjutnya saat menyadari Donghae sedang menghakiminya melalui tatapan mata.

“Sampaikan terima kasihku pada Pimpinan Park karena sudah mau membantu timku,” ujar Donghae setelah memeriksa sekilas isi amplop tersebut.

Mendengar perkataan Donghae membuat Jung Ra mendengus keras sambil mengangkat kedua alis matanya. “Seingatku bukan Pimpinan Park yang mengantar berkas itu ke sini.”

“Apa?”

Jung Ra tak berniat mengucapkan kalimat yang sama dua kali. Sama sekali tak berniat. Ia sudah lebih dulu kesal pada Donghae karena pria itu justru menyuruhnya menyampaikan ucapan terima kasih untuk Park Jung Soo, padahal yang mengantar amplop sialan itu dan harus mendapat tatapan aneh dari orang-orang di jalan adalah dirinya, bukan Park Jung Soo.

“Aku juga berterima kasih padamu karena sudah mau mengantar berkas ini,” kata Donghae yang sebenarnya juga akan mengucapkan terima kasih pada Jung Ra.

Seulas senyum tipis yang diberikan Donghae pada Jung Ra membuat Jung Ra salah tingkah karena sudah protes hanya karena Donghae tak juga mengucapkan terima kasih padanya. Untuk menutupi tingkah kikuknya, Jung Ra harus berpura-pura menggaruk belakang telinganya. Malu? Tentu saja.

“Kau sudah pergi ke rumah sakit?”

Pertanyaan Donghae memaksa Jung Ra kembali menegakkan kepalanya. “Apa?”

Tangan Donghae yang memegang amplop terangkat, menunjuk wajah Jung Ra. “Kalau tidak ada waktu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu, sebaiknya kau beli saja krim untuk mengobati luka memarmu di apotik. Kebetulan ada apotik di dekat sini. Selain itu kau juga bisa mengompres lukamu dengan es agar tidak membengkak.”

“Oh, ya, tadi adikmu……” Jung Ra yang berniat memberitahu Donghae kalau ia bertemu dengan Henry di depan gedung tak jadi melanjutkan kata-katanya. Ia teringat Henry memintanya untuk tidak memberitahu Donghae kalau dia datang kemari.

“Adikku? Kenapa lagi dengan dia? Apa dia tawuran lagi?” tanya Donghae yang mendengar adiknya disebut Jung Ra.

“Tidak. Maksudku…., kudengar hari ini adalah hari terakhir adikmu diskors oleh sekolahnya. Jadi, sampaikan padanya aku akan benar-benar menghajarnya dan membuatnya menginap di penjara yang ada di kantorku untuk satu minggu kalau sampai aku tahu dia terlibat tawuran lagi. Suruh dia belajar yang rajin dan tidak berkeliaran sendirian di malam hari.”

Entah kenapa Jung Ra merasa aneh mau menuruti permintaan pemuda menyebalkan seperti Henry. Padahal tidak ada ruginya juga ia memberitahu Donghae kalau adiknya datang kemari.

“Ah…., iya, bicara soal korban bernama Seo Jang Ok yang sedang kau selidiki itu, di situ tertulis dia pernah hampir menjadi saksi untuk kasus pembunuhan seseorang yang dulu pernah bekerja sebagai sopir cadangan mobil tahanan yang ada di Kantor Polisi Gangnam. Aku baru ingat kalau dulu kantorku sempat menangani kasus itu.” Jung Ra mencoba mengganti topik pembicaraan. Namun, sepertinya topik baru yang dibuat Jung Ra membuat Donghae memasang ekspresi terkejut.

“Saksi kasus pembunuhan?”

Jung Ra mengangguk ringan. “Namanya pernah dimasukkan dalam daftar saksi untuk kasus tersebut. Tapi entah kenapa tiba-tiba namanya dikeluarkan dari daftar saksi setelah berkas kasusnya dialihkan ke Kepolisian Pusat. Lalu…. kau…, tidak pernah mendengar kasus itu?” Jung Ra terpaksa melontarkan pertanyaan itu karena ia melihat Donghae mengernyitkan keningnya, seolah sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Jung Ra.

Otak Donghae berputar dengan cepat, mengumpulkan semua ingatannya tentang semua berkas kasus yang pernah ditangani unitnya. Katakan saja…., kebiasaannya menyembunyikan diri di dalam Ruang Arsip yang ada di unitnya untuk membaca-baca berkas-berkas kasus yang disimpan di ruangan itu saat D-Team belum mendapatkan kasus berat seperti sekarang ini cukup membantu. Tapi…, sepertinya kasus yang dibicarakan Jung Ra…., ia tidak pernah mengetahuinya. Entah apakah ia memang melewatkan satu berkas kasus di Ruang Arsip atau bagaimana, tapi yang jelas ia baru mengetahui ada kasus seperti itu sekarang.

“Harusnya kan kau pernah mendengar ada kasus seperti itu yang masuk ke dalam unitmu. Tapi kenapa kau…… sebentar….., tahun berapa kau bergabung di unit ini?”

“2012.”

Jung Ra menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang Donghae. “Tentu saja kau belum pernah mendengar ada kasus seperti itu karena kasus itu terjadi di tahun 2008. Haaaah…, setidaknya penyakit penasaran akutku berguna juga untuk saat ini.”

“Kau yakin kasus yang kau bicarakan tadi dialihkan ke Pusat?” tanya Donghae.

“Kau bisa tanyakan pada Pimpinan Park kalau kau tidak percaya padaku. Dan harusnya berkas arsip kasus tersebut masih ada di sini meski kasusnya sudah ditutup….” Jung Ra terpaksa menghentikan kata-katanya ketika ponselnya yang ada di saku celana jeans-nya bergetar. Sesaat setelah menerima telepon dari salah satu rekannya, wajahnya berubah masam. Sebuah umpatan yang tidak begitu keras lolos dari mulutnya dan rupanya berhasil didengar oleh Donghae.

“Ada apa?”

“Aku harus segera pergi. Haaah….anak-anak itu benar-benar…., apa mereka tidak punya kegiatan lain selain berkelahi?” Jung Ra menggerutu sambil menyentuh pelan luka di wajahnya. Padahal lukanya belum genap sehari, dan ia sudah harus kembali berurusan dengan anak-anak sekolah menyebalkan lainnya. Tidak bisakah semua anak laki-laki nakal yang sedang duduk di bangku SMU dipaksa wajib militer lebih awal selama dua tahun….. tidak…., buat mereka mendekam di militer camp selama 10 tahun agar otak mereka yang bergeser bisa kembali ke tempat semula. Dengan begitu kelakuan mereka akan berubah total ke arah yang lebih baik. Tidak bisakah begitu saja? Setidaknya kan bisa mengurangi petugas-petugas polisi seperti dirinya yang menderita.

“Bawalah petugas lebih banyak dari biasanya agar ada yang bisa membantumu menangkap mereka. Walau bagaimanapun juga, yang kau hadapi adalah laki-laki meski masih remaja. Mereka cenderung memiliki reflek bagus untuk melawan secara fisik ketika merasa terancam dan—“

“Apa kau sedang meremehkan kemampuanku hanya karena ada luka di wajahku?” potong Jung Ra pelan.

Donghae menggelengkan kepalanya ringan. “Karena kau seorang wanita. Wanita tidak harus memiliki luka seperti itu. Aku masuk dulu ya. Terima kasih.”

“Tentu saja kau sedang meremehkanku,” desis Jung Ra ketika Donghae berjalan menjauh darinya. Namun, ketika Donghae tiba-tiba membalikkan badan kembali padanya, Jung Ra tidak bisa membuang ekspresi kesal yang terpatri cukup lama di wajahnya.

“Secepatnya aku akan datang ke Kantor Polisi Gangnam,” ucap Donghae.

“Untuk apa?” tanya Jung Ra ketus.

“Melakukan hal-hal formalitas sebagai wali murid Henry pada petugas yang sudah menangkapnya.”

Hanya itu yang diucapkan Donghae sebelum benar-benar pergi dan menghilang setelah pintu kantor D-Team tertutup. Jung Ra hanya bisa tercenung di tempatnya. Ia merasa dua laki-laki bersaudara itu hobi sekali meninggalkan dirinya dalam keadaan clueless seperti sekarang ini.

.

.

.

“Kenapa kau lama sekali?” tanya Hyukjae yang melihat Donghae menutup pintu.

Bukannya menjawab Hyukjae, Donghae lebih memilih segera memberikan amplop pemberian Jung Ra pada Hankyung agar segera mendapat penjelasan karena sepertinya ada sesuatu yang besar di balik kasus yang sedang timnya tangani.

Hankyung memeriksa lembar demi lembar kertas yang ia ambil dari dalam amplop. Berulang kali keningnya tampak berkerut ketika membaca data-data yang berhasil dikumpulkan tim atasan Go Jung Ra tersebut. Ya, data-data tersebut tentang informasi Seo Jang Ok yang mana di tahun 2008 pernah hampir menjadi salah satu saksi kasus pembunuhan seorang sopir cadangan mobil tahanan Kantor Polisi Gangnam yang bernama Kim Myun Shik. Kasus tersebut tiba-tiba ditutup setelah berkasnya dialihkan ke Kepolisian Pusat. Alasan ditutupnya kasus tersebut saat itu adalah karena bukti yang ada sangat lemah dan pelakunya tidak bisa diketemukan.

Yaa, Lee Donghae, apa isinya?” bisik Hyukjae yang penasaran dengan kertas-kertas yang sedang diperiksa Hankyung.

Donghae menjelaskan sekilas isi berkas tersebut karena ia memang tidak terlalu detail membacanya pada Hyukjae, Ryeowook dan tentu juga pada Siwon.

“Kim Myun Shik?” gumam Hankyung saat menyadari nama korban pembunuhan yang tertera di berkas tersebut terkesan tidak asing baginya. Bahkan lebih seperti…. ia sangat mengenal nama itu hingga tidak perlu berpikir sekeras apapun. Hanya saja, yang membuatnya terkejut adalah foto pemilik nama itu yang disebutkan sebagai seorang korban pembunuhan.

Donghae yang mendengar gumaman Hankyung langsung mengalihkan pandangan pada kaptennya tersebut. “Kapten pernah menangani kasus tersebut?” tanya Donghae.

“Tidak, tapi….” Hankyung yang menjawab dengan suara pelan terpaksa kembali diam karena berusaha memutar otak untuk memahami berkas kasus yang ada di tangannya tersebut.

“Kalau begitu…, apa Kapten pernah mendengar kasus itu masuk ke dalam unit kita? Karena di situ tertulis kasus tersebut dialihkan ke sini atas permintaan kita,” tanya Donghae lagi karena ia belum mendapatkan jawaban yang tepat dari Hankyung.

Hanya dengan melihat ekspresi wajah Hankyung saja, seharusnya Donghae sudah tahu jawabannya kalau kaptennya tersebut tidak tahu menahu mengenai berkas kasus pembunuhan pria bernama Kim Myun Shik itu.

“ Donghae Hyung, jangan-jangan korban yang bernama Kim Myun Shik itu adalah orang yang dibicarakan Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok dua tahun lalu?” sahut Ryeowook setelah teringat akan informasi yang ia dapat dari mantan sopir Seo Jang Ok.

“Maksudmu…. pria yang mereka sebut sebagai Kim…. Myun…. Byeol ya?” tebak Hyukjae yang kemudian mendapat anggukan kepala dari Ryeowook.

“Apa maksud kalian?” tanya Hyukjae yang terlihat semakin terkejut dengan pembicaraan Ryeowook dan Hyukjae.

Ryeowook menjelaskan data yang memang ia dapat dari mantan sopir Seo Jang Ok dua tahun lalu pada Hankyung tanpa melewatkan satu detail pun.

“Tapi kami kesulitan saat mencoba menelusuri identitas pria bernama Kim Myun Byeol tersebut karena nama itu tidak terdaftar pada Regristasi Kependudukan manapun. Bahkan kalau benar dia sudah meninggal, tak ada Surat Kematian atas namanya. Kami rasa nama itu adalah nama palsu,” tambah Donghae.

Hankyung menghela napas berat sambil menundukkan kepala, seakan baru saja mendapatkan berita yang cukup mengejutkan. Ketiga anggota D-Team yang menyadari sikap aneh Hankyung lanta saling pandang. Mereka berani taruhan kalau Hankyung mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui mengenai Kim Myun Byeol atau Kim Myun Shik atau siapapun itu.

“Kapten….”

“Kalian yakin mantan sopir Seo Jang Ok mendengar nama Kim Myun Byeol?” Hankyung memotong Hyukjae yang bermaksud akan bertanya padanya.

“I-iya….. memang itu yang dia katakan pada Ryeowook,” jawab Hyukjae pelan.

“Tentu saja kalian tidak akan menemukan apapun bila kalian menggunakan nama itu,” ujar Hankyung sambil meletakkan berkas kasus tersebut ke atas meja kerja Donghae. Matanya memandang udara kosong di antara Hyukjae dan Ryeowook yang berdiri tak jauh darinya.

Ucapan Hankyung semakin menyulitkan Donghae, Hyukjae dan Ryeowook untuk berpikir.

“Nama itu memang palsu. Kim Myun Byeol hanya sebuah nama samaran karena nama aslinya adalah…. Kim Myun Shik.”

Tak pelak ketiga anggota D-Team terkejut. Apa-apaan ini?

“K-kim Myun Shik? Tapi… bagaimana Kapten bisa tahu?” tanya Hyukjae yang semakin dibuat penasaran.

Hankyung tak lantas menjawab. Pria berambut cepak itu hanya kembali menundukkan kepala.

“Dia adalah ayah temanku. Teman yang pernah bertugas di sini. Di unit ini,” jawab Hankyung kemudian.

Baiklah. Tak ada alasan bagi Donghae, Hyukjae dan Ryeowook untuk tidak membelalakkan mata mereka lebar-lebar karena ini memang baru pertama kali mereka mendengarnya. Kenapa seolah kasus ini semakin panjang dan menyeret nama-nama baru?

“Ta-tapi, Kapten….”

“Kim Heechul. Nama teman Kapten itu…. Kim Heechul, bukan? Apakah… Kim Heechul menghilang karena kematian ayahnya, Kapten?” Suara Siwon memaksa Hyukjae tak jadi melanjutkan kata-katanya. Tak hanya itu saja, ia juga berhasil membuat pandangan ketiga anggota D-Team tertuju padanya lengkap dengan tanda tanya di wajah mereka masing-masing.

“Apa maksudmu, Choi Siwon?” desis Hyukjae.

“Kalian pasti sudah pernah mendengar ada gosip yang beredar di Akademi tentang polisi yang bekerja di unit ini tiba-tiba keluar kemudian menghilang tanpa alasan yang jelas, kan?”

Hyukjae mendengus. “Seingatku memang ada polisi yang memutuskan keluar dari kepolisian dan memilih untuk menjadi warga sipil biasa, meski setelah itu tak ada kabar mengenai dirinya. Banyak yang bilang dia sudah meninggal karena kecelakaan. Tapi namanya bukan Kim Heechul,” koreksi Hyukjae dengan geram.

Siwon hanya menanggapinya dengan seulas senyum tipis yang bagi ketiga anggota D-Team terlihat memuakkan.

“Namanya Kim Jongwoon. Dia memang memilih keluar dari unit ini dan menjadi masyarakat biasa. Dia…… juga temanku. Dan tentang Kim Heechul……, dia juga tiba-tiba keluar dari kepolisian tanpa alasan yang jelas,” Hankyung membenarkan perkataan Siwon.

“Tapi bagaimana Kapten bisa sampai tidak tahu kalau ayah Kim Heechul…… menjadi korban pembunuhan?” tanya Donghae.

Hankyung mengatupkan bibirnya. Andai ia bisa menjawab pertanyaan Donghae, tapi pada kenyataannya ia memang tidak tahu tentang hal tersebut. Sama sekali tidak tahu. Bahkan ia sendiri bertanya-tanya di dalam hati, mencoba mencari jawaban sendiri atas apa yang terjadi pada Kim Heechul yang malam itu memilih untuk pergi meninggalkan dirinya sendirian di sebuah lahan kosong di dekat tempat kejadian yang sedang mereka coba kepung.

Malam itu…., di tanggal 28 Oktober 2008, satu-satunya sahabat yang masih tersisa setelah Kim Jongwoon lebih dulu memilih untuk mundur dari pekerjaannya sebagai seorang polisi, juga ikut menghilang tanpa alasan yang jelas. Apakah penyebabnya adalah kematian ayahnya? Tapi bagaimana bisa dirinya sama sekali tidak mendengar kabar meninggalnya ayah Kim Heechul?

To be continued

 

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

6 Comments

  1. KIKI

     /  December 1, 2015

    Omg keren… Dari awal ff ini benar-benar buat tertarik.
    Masih tanda tanya besar. Masalah terus berdatangan dan membawa banyak yang terlibat. Dan.juga kembali pada masa lalu.
    Karen.. Semua nya.nyampur di sini. Sweet. Persahabatan. Menegangkan. Dan Rahasia yang ada di balik Ff ini..

    Sebelum nya maaf ya Kak, baru komen di part ini.. 🙂

    Reply
  2. inggarkichulsung

     /  January 8, 2016

    Jangan2 teman yg dulu pernah ada di cerita part1 atau teaser yg memutuskan keluar dr kepolisian dan melepas semua atributnya di hadapan Kapten Tan adl Heechul oppa, kelihatannya duku wkt baca mnrt aku krn masalah jabatan dan tanggung jwb pekerjaan, mgk org itu iri dgn kapten Tan dan memutuskan hub pertemanan dan profesi krn hal tsb, tp sepertinya krn hal lain jg yaitu kasus Venus dan kematian ayah Kim Heechul sendiri, yg mgk ada hub nya dgn aksi Lee Sungmin saat ini yg dibayar oleh 1 pihak, penasaran apakah semuanya akan terbongkar oleh D-team

    Reply
    • Aaaaaa!!! Inggar, kemana aja?? kangen komen panjangmu hehehe

      Reply
      • inggarkichulsung

         /  January 10, 2016

        Maaf Nita br sempat baca dan komen, ternyata sdh ada part 9 nya jg, senang bgt.. seru bgt baca ff ini, ditunggu kelanjutannya, semangat…

  3. ohh ternyata heechul yang ada di part pertama sama hangeng. Trus yesung belom ada nh ceritanya, tiba2 muncul di poster.
    Makin penasaran nhh

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: