VENUS [part 7]


venus new

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

16.00 KST ~ Somewhere….

Sebuah mobil berhenti di dekat semak belukar yang ada di tepi sungai kecil di mana airnya mengalir cukup deras. Bila dilihat dari begitu mengkilapnya di tiap bagian, mobil berwarna silver tersebut bisa digolongkan dalam mobil mewah. Dan tentu saja pemiliknya yang kini masih duduk di belakang kemudi adalah orang kaya. Memang tidak ada yang salah dengan mobil dan pemiliknya, hanya saja hal tersebut memberikan perbedaan yang sangat kontras dengan tempat yang sedang dikunjungi.

Lihat saja bagaimana kondisi daerah terpencil yang jauh dari keramaian kota ini. Selain sungai kecil yang mengalir deras, tampak juga sebuah jembatan tua yang sudah tak terawat berdiri di dekat sungai. Lorong bawah jembatan yang bau dan lembab membuktikan bahwa tak banyak orang yang singgah di tempat tersebut. Tak hanya itu saja, pemandangan tebing-tebing yang hampir mengelilingi tempat itu juga memberi kesan sedikit menyeramkan.

Namun, sepertinya kondisi tempat yang tak layak dijadikan pemukiman tersebut tak membuat pemilik mobil merasa ngeri. Ia bukan tanpa alasan memilih tempat tersebut sebagai tempat untuk menghentikan kendaraan mewahnya karena ia memang harus bertemu dengan seseorang yang sudah menunggu kedatangannya.

Ya, di sana memang sudah ada seseorang yang berdiri di bawah lorong jembatan sejak satu jam lalu dengan tenang. Dan ketika mendengar suara deru mobil yang berhenti tak jauh darinya, ia lantas melangkah keluar dari lorong jembatan dengan salah satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya.

“Kenapa mengajakku bertemu di tempat seperti ini?” tanya Sungmin yang sudah berdiri di depan mobil silver tersebut. Sepasang mata tajamnya memandang orang yang masih belum juga berniat untuk keluar dari dalam mobil.

Tak berapa lama salah satu kaca mobil turun dan tangan orang tersebut terulur keluar. Sebuah kertas sudah ada di tangannya. Seolah mengerti hanya dengan melihat gerakan tangan dari orang tersebut, Sungmin lantas berjalan mendekat ke arah pintu mobil dan meraih kertas tersebut. Sejenak ia membaca apa tulisan di kertas tersebut sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi, dia akan dipindahkan besok?” tanya Sungmin tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. Orang yang ada di dalam mobil hanya menganggukkan kepalanya sekali.

Sungmin mendengus pelan saat melemparkan lirikan tajam pada orang tersebut. “Kenapa tidak kau lakukan saja di sana? Bukankah itu lebih cepat?”

Tak ada jawaban yang diberikan orang tersebut dan hal itu dengan mudah mengubah ekspresi wajah Sungmin menjadi dingin. Ekspresi yang selalu ditampilkan Sungmin tiap kali bertemu dengan orang tersebut meski pertemuan mereka berdua bisa dihitung dengan jari tangan.

“Kalau kau ingin melangkah, jangan mengikat dua tali sepasang sepatumu menjadi satu karena kau bisa tersungkur,” ujar Sungmin dengan nada dingin, melipat kertas yang ada di tangannya menjadi dua dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

“Lakukan dengan bersih. Mereka punya satu lagi petunjuk tentang dirimu.” Akhirnya orang yang ada di dalam mobil membuka mulutnya untuk menanggapi ucapan Sungmin meski melenceng dan terkesan memerintah.

Kalau kau memainkan sesuatu, kau harus total. Bila setengah-setengah, pada akhirnya kau akan kalah. Setidaknya itu yang pernah dikatakan Hyungnim padaku,” balas Sungmin seraya memutar tubuhnya dan bersiap untuk pergi. Namun, baru selangkah ia menjauh dari mobil tersebut, ia kembali menoleh ke belakang. “Kalau kau takut, jangan membaginya denganku.” Hanya itu yang Sungmin katakan sebelum benar-benar pergi meninggalkan orang tersebut.

.

.

.

at D-Team’s Office

Hyukjae yang baru kembali dari ruangan Hankyung dibuat heran dengan foto seorang pria yang hanya terlihat dari belakang dan tampak berdiri di depan sebuah lift. Foto tersebut dipajang di papan tulis yang ada di dalam ruangan timnya bersama dengan beberapa foto korban pembunuhan yang kasusnya sedang mereka selidiki saat ini. Ditambah ia merasa tak asing dengan foto sosok pria tersebut.

“Apa ini?” Hyukjae menunjuk foto tersebut.

“Aku menggantinya,” jawab Kyuhyun yang muncul dari bawah meja sambil mengangkat foto lama Lee Sungmin yang sebelumnya menghiasi papan tulis selama beberapa hari.

Raut wajah bingung ditampilkan Hyukjae setelah mendengar jawaban yang diberikan rekan satu timnya tersebut. Pria berambut gelap itu hanya mengernyitkan keningnya sambil berjalan ke arah meja kerjanya dan meletakkan dua map.

“Wajah lamanya… sedikit menggangguku, ani, sangat menggangguku. Jadi, demi menjaga kesehatan mentalku, aku mengganti fotonya dengan yang baru itu. Setidaknya…., sedikit lebih keren, kan? Aku tahu aku baru saja memuji seseorang yang diduga pembunuh, tapi melihat caranya berdiri membelakangi kamera CCTV, entah kenapa terlihat keren.”

“Yang kulihat hanyalah kepala bagian belakang yang tertutup topi, punggung dan sepasang kaki. Tidak ada wajah di sana,” sahut Hyukjae datar.

“Bukankah kita memang belum tahu bagaimana wajahnya yang baru? Jadi, daripada kita terus-menerus melihatnya sebagai Lee Sungmin dengan bentuk wajah menyeramkan seperti ini, sebaiknya kita mulai mengingatnya dengan yang ini.”

Yang bisa Hyukjae lakukan selanjutnya adalah mengibaskan tangannya, seolah membiarkan Kyuhyun berkata ini dan itu sesuka hatinya. Toh, meski memasang foto tubuh bagian belakang pria yang diduga adalah Lee Sungmin, tetap saja sosok Lee Sungmin yang asli belum bisa diketahui.

“Di mana yang lain?” tanya Hyukjae kemudian.

Kyuhyun tak lantas menjawab. Pria berwajah cukup tampan tersebut tampak menoleh ke segala arah dari mulai ruangan Ryeowook dan meja kerja Donghae yang kosong. “Entahlah. Semenjak Ryeowook memerintahkan kita untuk mencari informasi tentang hubungan antara Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok, dia jadi suka menghilang. Seingatku…., kemarin malam ia baru kembali ke markas setelah seharian menemui mantan sekretaris Seo Jang Ok,” jawabnya.

“Dan Donghae?”

“Perbedaan antara Kim Ryeowook dan Lee Donghae akhir-akhir ini tak lebih dari 2%, sisanya sama. Dari hari ke hari jumlah orang yang mereka temukan untuk mendapatkan informasi mengenai hubungan Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok semakin bertambah banyak. Aku bahkan sedikit ragu dengan kapasitas otak mereka. Bisa saja kan otak mereka berdua meledak tiba-tiba karena menampung terlalu banyak informasi?”

“Jadi, karena itu, kau sering bersembunyi saat Ryeowook membutuhkanmu, hah?” tanya Hyukjae beberapa saat setelah melemparkan tatapan malas ke arah Kyuhyun.

“Apa?”

“Sudahlah. Hari ini….”

“Itu mereka!” seru Kyuhyun yang menaikkan kedua kakinya ke atas meja kerjanya sambil menunjuk pintu kantor D-Team yang baru saja terbuka dari luar. Sosok Ryeowook dan Donghae muncul secara bersamaan. Dua polisi muda tersebut nampak membicarakan sesuatu dengan sangat serius.

“Selamat sore, Teman-teman!” sapa Kyuhyun, melambaikan tangannya yang kemudian langsung berdecak kesal karena Donghae memukul tangannya dengan setumpuk kertas.

“Kita menemukan petunjuk kecil tentang dua orang ini.” Ryeowook mengarahkan bolpoinnya pada foto Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok yang ada di papan tulis. Hyukjae yang mendengarnya langsung bangkit dari kursinya dan berjalan ke meja Kyuhyun yang paling dekat dengan papan tulis.

“Kalian memang harus sudah menemukan petunjuk, apapun itu,” gumam Kyuhyun pelan yang langsung mendapat lirikan tajam dari Hyukjae. “Wae? Aku kan tidak ikut mencari, makanya aku bilang begitu. Pasti akan sia-sia membuang waktu yang berharga kalau pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Iya, kan? Lebih dari itu, aku juga merasa kasihan pada Donghae Hyung dan Ryeowook. Mereka berdua pasti kelelahan karena sudah pergi ke sana kemari.”

Hyukjae hanya mendesis pelan dan menyuruh Ryeowook agar segera memberitahu mereka petunjuk apa yang sudah ditemukan.

“Menurut keterangan mantan sopir Seo Jang Ok, dua tahun lalu ia pernah mengantar Seo Jang Ok ke sebuah restoran yang berjarak beberapa blok dari gedung apartemennya untuk menemui seseorang,” ujar Ryeowook.

“Dan orang yang ditemui Seo Jang Ok adalah Cha Hong Jo?” tebak Kyuhyun yang mau tidak mau harus mendengarkan penjelasan Ryeowook karena bagaimanapun ia juga penasaran.

“Benar. Saat itu mantan sopir Seo Jang Ok sengaja masuk ke dalam restoran karena harus memberikan ponsel Seo Jang Ok yang tertinggal di mobil. Meski tidak tahu apa yang sedang dibicarakan majikannya dengan orang itu, ia yakin mendengar sesuatu dari pembicaraan mereka,” lanjut Ryeowook.

“Apa itu?” tanya Hyukjae.

“Sesuatu tentang kematian seseorang yang bernama Kim Myun Byeol,” kini giliran Donghae yang menjawab.

Kyuhyun dan Hyukjae serentak menoleh ke arah Donghae yang berdiri tak jauh dari mereka. Di wajah mereka tampak tanda tanya yang cukup jelas.

“Kim…. Myun Byeol? Siapa itu? Dan kenapa dua orang yang memiliki perbedaan sangat besar pada pekerjaan mereka membicarakan kematian seseorang?” cecar Hyukjae.

“Itu yang masih harus kita cari,” sahut Ryeowook.

“Satu lagi nama baru. Kita langsung cari saja siapa dia,” ujar Kyuhyun yang dibuat kesal karena mendengar ada nama baru di dalam penyelidikan kasus mereka.

“Nama Kim Myun Byeol tidak tercatat di Registrasi Kependudukan manapun. Kurasa itu bukan nama sebenarnya. Bisa jadi nama samaran, julukan atau…. nama palsu.”

Jawaban yang diberikan Ryeowook semakin membuat Kyuhyun kesal. Diacaknya rambut gelapnya beberapa kali hingga menghasilkan sebuah tatanan rambut seperti orang yang baru saja tersengat listrik.

“Ini tidak masuk akal. Sama sekali tidak masuk akal. Apakah kasus pembunuhan harus serumit ini, hah? Tapi bila aku melihat A-Team maupun B-Team, mereka selalu menyelesaikan kasus pembunuhan dengan cepat. Hyung, bisakah kita mengambil kasus lain yang sedikit lebih ringan dari ini? Maksudku…., ini sudah keterlaluan. Kasus perampokan bank yang seharusnya suda selesai karena kita sudah menangkap Kim Bo Sang, kenapa berubah menjadi kasus pembunuhan berantai seperti ini? Ditambah Lee Sungmin. Dan sekarang Kim Myun Byeol? Astaga….” Kyuhyun bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir dengan frustasi, tak menghiraukan tatapan aneh yang ditujukan ketiga rekan satu timnya padanya.

“Apa ia baru saja bermain game di ponselnya dan kalah?” tanya Donghae pada Hyukjae yang memang sejak pagi tadi bersama Kyuhyun di ruangan.

“Lebih tepatnya, bermain online game di laptopnya. Dan ya, dia kalah dari seseorang yang mengajaknya bertanding,” jawab Hyukjae ringan sambil melipat kedua tangannya, memandang Kyuhyun yang masih saja mondar-mandir seperti setrika di depannya.

“Bukankah besok pagi dia mendapat tugas mengawal pemindahan Kim Bo Sang dan anak buahnya ke Penjara Pusat?”

Hyukjae mengangguk, membenarkan pertanyaan Ryewook. “Awalnya Kapten Tan hanya menugaskan beberapa petugas lain untuk menemani mobil yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya. Tapi, setelah mengubah pemindahan Kim Bo Sang menjadi tugas khusus karena adanya kasus pembunuhan ini, akhirnya Kapten Tan juga menyuruh Kyuhyun untuk mengawal. Kudengar rute perjalanannya pun juga diubah dari rencana awal,” jawab Hyukjae.

“Masih bagus dia mendapat tugas luar,” timpal Donghae.

“Huh, memang harus bagus. Kalian tidak tahu apa yang diocehkan bocah itu sejak pagi tadi hingga aku hampir saja menyumpal mulutnya dengan keyboard,” desis Hyukjae yang teringat semua yang diucapkan Kyuhyun di dalam ruangan seharian.

“Memangnya apa yang diocehkannya, Hyung?” tanya Ryeowook polos yang memang tidak tahu.

“Lee Sungmin. Sejak pagi hingga sebelum kalian kembali kemari hanya nama itu yang keluar dari mulutnya. Lee Sungmin, Lee Sungmin, Lee Sungmin dan Lee Sungmin. Tidak hanya itu sih, dia juga melontarkan semua sumpah serapahnya pada Lee Sungmin. Seharusnya kalian sadar kenapa anak itu menghilang tiba-tiba saat disuruh pergi menemui sekretaris Seo Jang Ok. Entah kenapa kurasa anak itu terobsesi pada Lee Sungmin,” jelas Hyukjae.

oOo

“Hati-hati di jalan, Sunbaenim!” seru Jung Ra pada atasannya yang melintas di dekatnya saat ia berdiri di depan pintu gerbang Kantor Polisi Gangnam. Dilihatnya jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari ini berlalu cukup melelahkan seperti hari sebelumnya. Penjelasan yang singkat : Jung Ra harus berlarian mengejar anak-anak SMU lain yang kedapatan bolos sekolah dan mencuri di sebuah toko alat musik. Semuanya sudah selesai sih, tapi tetap saja rasa lelahnya masih menggelayuti kedua bahu, kedua tangan dan kedua kakinya. Rasanya tulang-tulangnya remuk semua setelah terjatuh dari tangga yang ada di tengah-tengah pemukiman warga hanya untuk mengejar anak-anak kurang ajar tersebut.

“Aku menjadi polisi bukan untuk mengejar anak-anak sialan itu. Astaga… kenapa nasibku menyedihkan sekali?” keluhnya sambil menendang udara kosong yang ada di depan kakinya. Demi melampiaskan kekesalan dan kelelahannya, tanpa sadar ia menggelinjang tak menentu di dekat pintu gerbang seperti orang tersengat listrik. Untung saja tak ada orang yang melintas di depannya…. tunggu… sepertinya salah. Ada seseorang yang sedang bersepeda mengamati “kegiatan” sibuk Jung Ra. Dan berterima kasihlah pada kesadaran Jung Ra yang kembali lebih cepat dari perkiraan, jadi polisi wanita itu bisa segera menoleh ke arah orang yang kini berhenti tak jauh darinya.

“Aku tidak tahu kau sesibuk itu……, Noona,” celetuk Henry, orang yang mengamati Jung Ra dari atas sepedanya. Pemuda bermata sipit itu tak bisa menyembunyikan senyum gelinya setelah melihat “kegiatan” yang baru saja dilakukan Jung Ra di malam-malam seperti ini.

Tak butuh waktu lama bagi Jung Ra untuk mengenali siapa anak muda yang malam-malam begini ada di depan kantor polisi dan menyapa seorang petugas polisi yang sedang dalam kondisi setengah waras setengah tidak waras.

“Kau….”

“Henry imnida,” Henry memperkenalkan dirinya sambil menundukkan kepalanya sesaat meski tak turun dari sepedanya.

“Aku sudah tahu. Hanya melihat wajahmu sekali saja, aku tidak akan melupakanmu seumur hidupku,” sahut Jung Ra asal seraya berjalan meninggalkan Henry.

“Apa aku terlalu tampan sampai-sampai Noona bisa mengingatku seumur hidup?” Henry mengayuh sepedanya perlahan-lahan, mengimbangi langkah kaki Jung Ra.

“Bodoh. Itu karena kakakmu yang arogan dan sama kurang ajarnya sepertimu,” jawab Jung Ra pelan sambil terus berjalan.

“Hah? Apa yang Noona katakan tadi?” tanya Henry yang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Jung Ra.

Jung Ra berdecak pelan dan menghentikan langkahnya. Diamatinya Henry yang ikut berhenti karenanya. “Kenapa anak kecil berkeliaran malam-malam begini? Kau tidak tahu kalau malam adalah waktu yang disukai—“

Malam adalah waktu yang disukai para penjahat, aku tahu itu, Noona. Kakakku selalu mengatakan hal tersebut hampir setiap hari,” potong Henry.

“Lalu, kalau sudah tahu begitu, kenapa masih bersepeda malam-malam? Yaa, asal tahu saja, semua penjahat tidak akan peduli meski kau adalah adik seorang polisi. Mereka akan menyerang calon korban mereka begitu saja tanpa berpikir apa-apa. Apalagi sekarang kau berkeliaran sendirian seperti ini.”

“Siapa bilang aku berkeliaran sendirian? Noona bersamaku. Iya, kan? Kurasa tidak akan ada penjahat yang berani melukaiku karena ada petugas polisi yang menemaniku berkeliaran,” balas Henry sambil tersenyum manis, menampilkan sebuah lesung pipit di salah satu pipinya.

“Secara teknis aku tidak bersamamu dan tidak sedang berkeliaran. Kau pasti sengaja datang kemari karena ingin menggangguku, kan?” Jung Ra memandang Henry dengan ketus dan kembali berjalan.

Aniyo. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai kemari. Seingatku aku hanya bersepeda di dekat apartemen karena merasa suntuk di rumah sendirian. Mungkin karena keenakan bersepeda, aku bisa sampai di sini dan bertemu dengan Noona. Atau…. mungkinkah ini karena takdir?” kata Henry sambil mengayuh sepeda, memutari Jung Ra.

“Bicara apa kau ini?” desis Jung Ra yang entah kenapa justru membiarkan pemuda itu memutari dirinya ketia ia berjalan pelan.

“Di dekat perempatan sana ada kedai tenda. Noona mau mampir dan makan sesuatu? Kulihat wajahmu tidak terlalu baik.” Henry menunjuk sebuah kedai sederhana yang ada di pinggir jalan.

“Hah? Wajahku tidak terlalu baik?” Jung Ra menyentuh wajahnya sendiri dengan sedikit panik.

Henry mengangguk kecil. “Daripada Noona menari tidak jelas seperti yang Noona lakukan di depan kantor polisi, bukankah lebih baik Noona lampiaskan dengan minum dan makan sesuatu?”

Jung Ra kembali berhenti dan menatap Henry yang tersenyum padanya.

.

.

.

.

“Aaaakkkhh….. wooooah….” Jung Ra memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan sensasi soju yang diteguknya mengalir di dalam kerongkongannya. Diletakkanya sloki kecil ke atas meja bundar yang penuh dengan camilan malam dan satu botol soju.

Noona, apa kau tidak pernah minum soju? Bahkan baru minum satu sloki kecil saja wajahmu sudah seperti kepiting rebus,” ujar Henry seraya menuangkan soju ke dalam sloki milik Jung Ra.

“Bukannya tidak pernah, aku hanya jarang minum karena sibuk. Malam hari setelah pulang dari kantor polisi aku langsung tertidur dan bangun keesokan harinya. Jangankan minum bersama petugas-petugas yang lain, minum sendiri seperti ini saja aku jarang melakukannya. Tapi anehnya, sekali aku bisa minum sendiri, harus ada anak kecil sepertimu yang menemaniku,” tutur Jung Ra seraya kembali meminum sojunya.

“Berhentilah menyebutku anak kecil, Noona. Dua tahun lagi, aku akan berusia 20 tahun. Aniyo, bukankah usia 18 tahun sudah termasuk orang-orang dewasa? Semua film dewasa selalu membatasi penonton mereka mulai dari usia 18 tahun. Jadi, aku…. tidak seharusnya disebut anak kecil.”

Penjelasan Henry memaksa Jung Ra memasang ekspresi datar untuk beberapa saat sebelum menggerutu pelan. Diambilnya botol soju dan menuangkan isinya ke dalam sloki.

“Minum ini saja,” kata Jung Ra sambil menyodorkan satu kaleng cola yang ia ambil dari dalam backpack-nya pada Henry.

“Ini apa?!” Henry memasang wajah terkejut, seolah kaleng minuman yang ada di tangannya adalah benda asing yang turun dari langit.

“Minuman yang pantas untuk anak kecil sepertimu,” jawab Jung Ra seraya meminum soju.

Noona….”

Eo, Go Jung Ra-ssi? Petugas Go dari Kantor Polisi Gangnam?”

Jung Ra yang berniat mencomot potongan dadar telur di depannya terpaksa mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang baru saja memanggil namanya. Butuh lebih dari sepuluh detik baginya untuk mengenali pria yang sudah berdiri di dekatnya itu. Pria dengan wajah manis dan tampan, senyum yang hangat, tatapan mata yang menenangkan, berambut pirang yang sesekali bergerak lemas karena diterpa angin malam. Tak hanya itu, sebuah kaus polos berwarna putih menutupi tubuh bagian atasnya yang ditambah dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru yang dibiarkan terbuka. Celana jeans gelap membungkus kakinya. Dan terakhir sepatu sport berwarna senada dengan kaus yang dikenakan.

Dan satu lagi yang harus Jung Ra ingat, pria ini sudah membantunya menangkap pemuda yang saat ini sedang duduk di sampingnya.

“Lee Sungjin-ssi?” ucap Jung Ra yang akhirnya mengenal pria tersebut.

Lee Sungjin—atau mungkin kita sebut saja dia…. Lee Sungmin, karena itu adalah identitasnya yang asli—menyunggingkan senyum manis setelah Jung Ra berhasil mengenalinya.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu di tempat seperti ini,” ujar Sungmin.

“Aku juga begitu,” balas Jung Ra pelan yang beberapa detik kemudian baru sadar kalau ia harus mempersilakan Sungmin untuk duduk di bangku kecil yang ada di dekat Henry.

“Aku juga…. tidak menyangka kau sudah berbaikan dengannya.” Sungmin memandang Henry yang menundukkan kepala sesaat padanya. “Apa hidungmu tidak apa-apa? Kurasa aku melempar kalengku terlalu keras padamu.”

“Cukup sakit sampai harus menyumbatnya dengan tisu lebih dari lima belas menit untuk menghentikan mimisan, tapi untungnya tidak sampai harus mendapatkan operasi plastik………” Henry menghentikan kata-katanya saat ia kebingungan harus memanggil Sungmin dengan sebutan apa. Sebenarnya ia masih cukup kesal bila mengingat bagaimana pria berambut pirang ini melempari wajahnya dengan kaleng yang masih berisi minuman dingin. Tapi, mau bagaimana lagi, toh, saat itu dirinya memang salah.

Hyung. Kau bisa memanggilku dengan sebutan itu kalau kau bingung harus memanggilku dengan sebutan apa. Bukankah itu lebih akrab dan bisa mengurangi rasa canggung karena kejadian dulu?” ujar Sungmin yang seolah bisa membaca pikiran Henry.

“Ah….ne, Hyung,” jawab Henry pelan, tersenyum kikuk membalas senyuman Sungmin.

“Petugas Polisi, Warga Sipil yang Baik dan Bedebah Kecil yang berhasil ditangkap duduk bersama sambil berbincang-bincang…., rasanya cukup menyenangkan,” sahut Jung Ra yang menyaksikan dua laki-laki yang bisa akrab dalam waktu singkat tersebut.

Henry dan Sungmin memandang Jung Ra yang menunjuk mereka berdua satu per satu dengan senyum yang mengembang.

Noona, apa kau sudah mabuk? Bahkan satu botol pun belum habis semua isinya.” Henry mengguncang pelan bahu Jung Ra.

“Kurasa dia belum sepenuhnya mabuk. Itu hanya…. efek soju yang membuatnya merasa senang tanpa alasan,” timpal Sungmin.

“Begitukah?” Henry memandang Sungmin dengan ekspresi bingung.

“Itu benar sekali, Henry-ya. Haaah…., suasana seperti sudah sangat aku rindukan sejak dulu. Semenjak aku dipindahkan ke Kantor Polisi Gangnam dan berurusan dengan anak-anak sekolah yang kurang ajar, aku jadi susah mengekspresikan diriku seperti ini. Jadi, setidaknya…, biarkan aku berterima kasih pada kalian dan….”

Andai Henry tak segera bangkit dari bangkunya dan menahan bahu Jung Ra, mungkin polisi wanita tersebut sudah mendarat di atas tanah karena tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri.

“Kau sudah benar-benar mabuk, Noona,” kata Henry, membantu Jung Ra untuk duduk dengan benar.

“Aku tidak mabuk. Aku hanya sedikit pusing. Tidak apa-apa.” Jung Ra menepis pelan tangan Henry yang ada di bahunya dan menyuruh adik Donghae tersebut untuk duduk kembali ke bangkunya.

“Jika seorang polisi sampai mabuk, urusannya akan panjang pada keesokan harinya.” Sungmin mendekatkan satu botol air mineral pada Jung Ra. “Sebaiknya kau minum ini saja untuk sedikit menghilangkan rasa pusingmu.

“Kau benar juga, Lee Sungjin-ssi. Aku bisa dibunuh atasanku bila aku kesiangan. Hehehe…” Jung Ra seraya membuka botol air mineral pemberian Sungmin dan meneguk sebagian isinya. “Oh, ya…, ngomong-ngomong, apa kau baru pulang dari suatu tempat dan lewat daerah sini?”

“Aku baru pulang dari tempatku bekerja. Biasanya aku naik sepeda, tapi karena cuaca malam hari ini cukup bagus, kuputuskan untuk jalan kaki. Dan aku tidak tahu kalau kita bisa bertemu secara kebetulan seperti ini,” jawab Sungmin seraya menuangkan soju untuk dirinya sendiri.

“Itu bisa disebut takdir, Hyung,” sahut Henry yang rupanya belum bisa membuka penutup kaleng cola pemberian Jung Ra.

Yaa, bocah ini benar-benar…. Tahu apa kau tentang takdir, hah? Aku tidak suka dengan takdir, tahu tidak? Takdir membuatku tidak bisa masuk Kepolisian Pusat dan hanya sampai pada Kantor Polisi Daerah Gangnam. Hampir setiap hari aku harus menangani bedebah-bedebah kecil sepertimu dan temanmu-temanmu itu. Yaaaa…., sebenarnya tidak terlalu menyesal sih bekerja di kantor polisi itu, tapi tetap saja membuatku kesal. Atasanku dan timnya saat ini sedang menangani kasus pembunuhan di Palace Tower, dan aku hanya bisa melihat mereka berlarian ke sana kemari seperti—“

“Aaaaaa… maksudmu kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi?” Sungmin memotong keluhan Jung Ra.

“Iya, yang itu. Aku hanya iri pada mereka yang sibuk menangani kasus serius semacam itu. Ditambah…..” Jung Ra melirik Henry yang masih juga kesulitan membuka cola. “…. Bocah ini. Kakak bocah ini yang berasal dari Pu….”

Jung Ra yang bermaksud memberitahu Sungmin bahwa kakak Henry, alias Lee Donghae yang notabene anggota kepolisian dari Pusat juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan tim atasannya, terpaksa berhenti berbicara saat tiba-tiba terdengar pekikan dari Henry dan suara desisan yang cukup keras.

Noona, kau sengaja memberiku cola agar aku basah kuyup seperti ini ya?” keluh Henry yang wajahnya basah kuyup akibat semburan cola yang keluar mendadak dari dalam kaleng yang berhasil dibukanya dengan susah payah. Sungmin yang melihatnya basah kuyup langsung merogoh saku untuk mengambil sapu tangan.

“Kemari sebentar,” suruh Sungmin, merangkul bahu Henry dan mulai menyeka cola yang ada di wajah Henry dengan hati-hati.

Jung Ra pun terpaksa ikut membantu Sungmin. Ia mencabut beberapa tisu yang ada di dalam tasnya dan membersihkan bagian depan pakaian Henry yang juga ikut basah. “Astaga, jadi kau benar-benar tidak bisa membuka apapun ya? Saat itu di kantor polisi kau juga tidak bisa membuka tutup botol air mineral, sekarang kau juga tidak bisa membuka cola. Aneh sekali,” kata Jung Ra.

Percakapan ringan mereka terus berlangsung hingga tak terasa tengah malam pun tiba. Jung Ra yang sudah berhasil menghabiskan dua botol soju pun berakhir mabuk meski ia tak mengakuinya. Lain halnya dengan Sungmin yang sama sekali tak mendapatkan efek mabuk dari minuman keras tersebut. Dan Henry? Pemuda itu tak akan pernah bisa mabuk malam ini mengingat hanya satu kaleng cola saja yang ia nikmati.

“Aku bisa dihajar besok pagi,” racau Jung Ra yang mungkin saja bisa tersungkur ke jalan kalau Henry tak segera menangkapnya.

Noona, kau ini merepotkan sekali,” keluh Henry yang mau tidak mau harus mencengkeram kedua bahu wanita tersebut.

“Itu, ada taksi!” seru Sungmin seraya menghentikan taksi yang kebetulan melintas di depan mereka.

Dengan hati-hati Henry memasukkan Jung Ra ke dalam jok belakang dan menyuruh sopir taksi tersebut untuk mengantarnya kembali ke Kantor Polisi Gangnam karena ia tak tahu di mana alamat rumah Jung Ra.

“Haaah, dia pasti benar-benar dihajar besok,” gumam Henry, berkacak pinggang memandang taksi yang mulai melaju menjauh darinya dan Sungmin.

“Kau juga harus segera pulang, Henry-ya,” ujar Sungmin seraya mendekatkan sepeda pada Henry.

“Ah, iya. Terima kasih, Hyung.”

“Berhati-hatilah. Sekarang banyak orang jahat yang berkeliaran di mana-mana. Kalau kau tidak berhati-hati menjaga dirimu, kau bisa berakhir di tangan mereka,” ucap Sungmin, menepuk pelan bahu Henry dan menyuruh Henry agar segera pulang.

Ia melambaikan tangannya pelan saat Henry yang sudah mengayuh sepeda cukup jauh menoleh sebentar padanya.

oOo

Next day at Crime Investigation Unit

Kim Bo Sang dan anak buahnya satu per satu dimasukkan ke dalam mobil berukuran besar untuk dipindahkan ke Penjara Pusat. Beberapa petugas tampak sibuk mempersiapkan semuanya setelah memastikan para penjahat tersebut sudah berada di dalam mobil.

Tak terkecuali dengan Kyuhyun yang baru keluar dari gedung. Dilihatnya mobilnya yang berwarna hitam sudah siap tepat di belakang mobil yang membawa Kim Bo Sang.

“Kau yakin tidak mau mengajakku?” Hyukjae muncul di sampingnya sambil berkacak pinggang.

“Mobilku sedikit sensitif pada beberapa orang,” jawab Kyuhyun asal sambil merapikan lengan kemeja putihnya.

“Apa kau baru saja mengejekku?” Hyukjae menoleh ke arah Kyuhyun dengan wajah kesal.

Kyuhyun menepuk pelan lengan Hyukjae sambil berkata, “Kau adalah pemikir cepat, Hyung. Aku suka itu. Sampai nanti.”

Tanpa mempedulikan Hyukjae yang melontarkan sumpah serapah padanya, Kyuhyun lantas berjalan menuju mobilnya. Setelah menyuruh beberapa petugas yang ikut bersamanya untuk segera masuk ke dalam mobil, ia sendiri pun juga masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dipasangnya wireless earphone ke salah satu lubang telinganya agar ia masih bisa berkomunikasi dengan Bagian Pusat dan petugas lainnya yang mengawal pemindahan Kim Bo Sang.

Tak berapa iring-iringan mobil tersebut mulai meninggalkan area depan gedung Kepolisian Pusat dan membaur bersama kendaraan lain yang ada di jalan raya. Kyuhyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar tepat di belakang mobil besar yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya.

Diliriknya layar navigator yang ada di atas dashboard-nya. Bila sesuai rencana yang sudah didiskusikan dengan Hankyung dan yang lain, maka seharusnya perjalanan ini tak sampai memakan waktu banyak karena yang akan mereka lakukan hanyalah membawa komplotan penjahat itu ke Penjara Pusat dan melakukan hal formal yang berkaitan dengan tugas tersebut. Setelah itu, ia dan petugas lainnya bisa kembali ke markas untuk melanjutkan tugas yang ditinggalkan.

Sederhana kan?

Eo? Apa terjadi sesuatu?” gumam Kyuhyun saat tiba-tiba mobil-mobil yang ada di depannya mengambil jalur berbeda dari yang sudah mereka tetapkan.

“Kenapa jalurnya berubah?” tanya Kyuhyun pada Bagian Pusat melalui earphone-nya.

[Ada kecelakaan antara truk dan sebuah mobil SUV di jarak 1 kilo dari kalian. Kalau tetap melalui jalur awal, mungkin kalian akan ikut terjebak kemacetan. Maka dari itu, jalurnya diubah.]

Kyuhyun hanya mengangguk-angguk pelan dan tetap mengekori mobil besar di depannya.

Untuk beberapa menit mobil Kyuhyun dan mobil polisi yang lain masih dalam kondisi stabil. Akan tetapi, sesuatu yang ganjil terjadi. Mobil besar yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya oleng ke kiri dan terlihat melaju secara tak beraturan.

“Apa lagi itu? Kenapa dengan mereka?” Kyuhyun yang berusaha bertanya pada Bagian Pusat tak mendapatkan apa-apa karena Bagian Pusat sendiri juga kesulitan berkomunikasi dengan petugas yang mengendarai mobil tersebut.

Kyuhyun baru akan mendahului mobil tersebu saat tanpa ia duga mobil tersebut justru melaju lebih kencang dari yang sebelumnya.

“Kirim bantuan! Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan mobil yang membawa tahanan!” seru Kyuhyun pada Bagian Pusat dan langsung menancap gasnya lebih kencang lagi untuk mengejar mobil tersebut.

Meskipun ia tak tahu apa yang sedang terjadi, ia harus tetap bisa mengikuti mobil itu karena di dalamnya ada orang-orang yang meski hanya komplotan perampok tapi mereka memiliki hubungan dengan kasus pembunuhan yang sedang ia dan timnya selidiki.

“Kalian mau mencoba melarikan diri, hah? Kalian pikir kalian tidak bisa kutangkap?” gumam Kyuhyun seraya menambah lagi kecepatan mobilnya.

Hampir lima belas menit ia dan mobil besar tersebut berkejar-kejaran di jalan raya Seoul. Bahkan Kyuhyun pun tak menyadari ia sudah menyalip tiga mobil polisi yang ada di depannya yang juga ikut mengejar mobil besar tersebut.

“Sial!” umpat Kyuhyun yang mendadak harus mengubah jalur karena tiba-tiba mobil tersebut keluar dari jalan raya.

Dengan tetap menggunakan kecepatan tinggi, Kyuhyun terus mengejar mobil tersebut. Bahkan telepon dari Hankyung pun sama sekali tak mengalihkan perhatiannya. Tak hanya itu saja, karena emosinya sudah lebih dulu memuai karena suara dari Bagian Pusat yang memekakkan telinganya, ia langsung melepas earphone dan melemparnya ke jok belakang.

“Kalau tujuh bulan lalu aku bisa saja kehilangan orang yang seharusnya kutangkap, kali ini aku tidak akan gagal,” ujar Kyuhyun dengan wajah serius.

Namun, ia dibuat heran saat menyadari mobil yang sedang dikejarnya melaju di jalan yang akan membawa mereka menuju daerah pinggiran kota. Meski ia bertanya-tanya akan ke mana mereka, ia harus tetap waspada dan memastikan mobil tersebut tak hilang dari kejarannya.

BRAK!

Kyuhyun terkejut bukan main saat melihat mobil besar tersebut mulai kembali kehilangan keseimbangan dan terperosok ke jurang yang tak terlalu dalam di samping jalan yang mereka lalui. Mobil tersebut meluncur ke bawah dengan cepat dan berakhir di dekat sungai kecil. Kyuhyun yang tak bisa melihat jatuh di mana mobil tersebut pun langsung keluar dari dalam mobilnya setelah sebelumnya menyuruh Bagian Pusat untuk melacak GPS yang ada di mobilnya agar bisa segera mengirimkan bantuan.

“Andai ada jalan yang bisa dilalui mobilku, aku tidak akan memilih untuk menggelinding ke bawah sana,” keluhnya sambil menuruni pinggir jurang dengan pistol yang sudah siap di tangannya.

.

.

.

.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya Kim Bo Sang pada anak buahnya yang kondisinya tak jauh beda dengannya setelah mobil yang mereka tumpangi terguling dari jalan dan berakhir di atas sebuah lahan kosong dekat sungai tak jauh dari tebing.

Keadaan mobil yang mereka tumpangi tampak rusak parah dan berasap. Petugas yang berada di belakang kemudi sepertinya pingsan karena benturan. Tak hanya itu saja, tiga petugas yang ada bersama Kim Bo Sang dan anak buahnya pun tampaknya tak sadarkan diri.

Hyungnim, kita harus segera keluar dan pergi dari sini sebelum polisi menemukan mobil ini,” ujar salah satu anak buah Kim Bo Sang dengan susah payah karena kakinya tak bisa digerakkan.

Kim Bo Sang mengangguk, mengiyakan permintaan anak buahnya. “Buka pintu itu dan segera….”

Belum selesai Kim Bo Sang menyuruh salah satu anak buahya membuka pintu mobil bagian belakang, pintu tersebut sudah lebih dulu dibuka oleh seseorang dari luar. Semua orang yang masih hidup seketika membeku di tempat mereka masing-masing takkala pintu tersebut mulai terbuka lebar-lebar.

Kim Bo Sang mengernyitkan keningnya saat mendapati seorang pria berpakaian serba hitam sudah berdiri di sana. Ia tak bisa mengenalinya karena pria tersebut menutupi sebagian wajahnya dengan masker penutup wajah. Kepalanya tertutup topi berwarna hitam.

“S-siapa kau?” tanya Kim Bo Sang.

Pria tersebut tak berniat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kim Bo Sang. Ia memiliki pekerjaan yang lebih penting ketimbang menjawab pertanyaan tolol seperti itu. Tangannya bergerak ke belakang tubuhnya, menarik pistol yang sudah ia siapkan di balik pakaiannya.

Seketika Kim Bo Sang dan anak buahnya terkejut bukan kepalang saat pria itu mengarahkan pistol hitam pada mereka.

.

.

.

.

“Tahu begini aku tidak akan memakai kemeja putih. Haaah, menyebalkan sekali,” gerutu Kyuhyun yang berhasil menuruni jurang. Diedarkannya pandangannya ke segala arah di mana yang ada hanyalah tebing-tebing kecil yang dipenuhi pepohonan.

“Di mana mereka?” gumamnya sambil terus berjalan.

DORR!

DORR!

DORR!

DORR!

DORR!

Seketika Kyuhyun terhenyak di tempatnya takkala mendengar suara tembakan yang cukup banyak yang datang dari arah kanan tubuhnya. Ada sesuatu yang terjadi di sana dan ia tidak akan diam begitu saja. Setidaknya yang ada di pikirannya adalah mungkin saja suara tembakan mengejutkan tersebut ada hubungannya dengan jatuhnya mobil yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya.

Kyuhyun langsung berlari menghampiri suara tersebut. Namun, saat ia berhasil menemukan tempatnya, pemandangan yang disaksikannya membuatnya membelalakkan mata lebar-lebar. Seorang pria misterius berdiri menghadap ke bagian belakang mobil dengan sebuah pistol di tangannya.

“Turunkan senjatamu!” teriak Kyuhyun sambil mengarahkan pistol pada pria tersebut.

Kim Bo Sang yang sudah ketakutan karena semua anak buahnya dan petugas yang bersamanya baru saja dibunuh oleh pria misterius tersebut langsung meminta tolong pada Kyuhyun. Dengan tetap waspada, Kyuhyun melihat satu per satu tahanan dan petugas yang ada di dalam mobil. Mereka semua sudah tak bernyawa.

“Detektif Cho, tolong aku. Aku—“

DORR!

Tewas. Kim Bo Sang tewas dengan peluru yang menembus jantungnya setelah ditembak oleh pria misterius tersebut sebelum sempat meminta tolong pada Kyuhyun.

YAA! Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi kau sudah membunuh tahanan kepolisian di depan seorang polisi!” seru Kyuhyun yang kemudian memberikan tembakan peringatan ke udara.

“Kubilang, turunkan senjatamu!” perintah Kyuhyun sekali lagi.

Walaupun tak memutar tubuhnya ke belakang untuk menghadap Kyuhyun, pria itu sepertinya menuruti apa perintah Kyuhyun. Dilemparkannya pistol yang ia gunakan untuk membunuh Kim Bo Sang dan anak buahnya ke tanah dan langsung mengangkat kedua tangannya.

Dengan hati-hati, Kyuhyun melangkah maju, mendekati pria itu. Kedua tangannya yang masih memegang pistol terulur lurus ke arah tubuh pria itu, berjaga-jaga siapa tahu saja pria itu tiba-tiba melarikan diri.

Tetapi, langkahnya terhenti sejenak saat mengamati tubuh bagian belakang pria tersebut. Ia seakan teringat sesuatu. Penampilan seperti itu, dengan pakaian serba hitam dan topi hitam. Dan juga….

“Rambut pirang,” gumam Kyuhyun yang sesaat kemudian terkejut karena ucapannya sendiri. “Lee Sungmin?”

Pria misterius tersebut menolehkan wajahnya sedikit ke belakang.

“Lee Sungmin? Kau Lee Sungmin, kan?” tanya Kyuhyun sambil bergerak satu langkah ke depan lagi agar bisa menjangkau pria tersebut.

Tangannya hampir saja berhasil menarik jaket hitam pria tersebut saat mendadak pria tersebut berputar dan menyerangnya. Pistol yang ada di tangan Kyuhyun terlepas dan terlempar cukup jauh.

“Kau menyerangku. Itu artinya kau Lee Sungmin, hah?” desis Kyuhyun.

Pria itu menatapnya tajam. Bahkan meski sebagian wajahnya tertutup, hanya melihat sepasang matanya saja, sudah dipastikan pria itu benar-benar marah. Ia langsung kembali menyerang Kyuhyun. Untung saja, Kyuhyun yang cukup mahir dalam urusan bela diri bisa menangkis beberapa serangan pria tersebut.

Hampir lima menit mereka saling serang satu sama lain. Mereka berdua tak peduli dengan luka yang mereka alami di beberapa bagian tubuh mereka. Terlebih bagi Kyuhyun yang berusaha melepaskan masker penutup wajah yang membuatnya tak bisa melihat wajah asli pria tersebut meski ia selalu saja gagal dan berakhir dengan mendapat pukulan ke wajahnya.

Ketika Kyuhyun berhasil mengalungkan lengannya dengan erat pada leher pria tersebut dari belakang dan berharap agar pria tersebut menyerah, tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan mengarahkan pisau mengkilat tersebut pada perut Kyuhyun.

“Aaakh…..,” Kyuhyun mengerang takkala merasakan sesuatu menembus kulit perutnya dengan cepat. Lengannya yang sejak tadi melingkar erat di leher pria tersebut mulai melonggar. Meski begitu, ia masih berusaha melawannya. Hanya saja tusukan yang kembali diarahkan pria tersebut pada tempat yang sama sebanyak dua kali dan lebih dalam dari sebelumnya membuatnya tumbang.

Napas Kyuhyun sesak, seolah pasokan udara yang ada di sekitarnya berkurang drastis. Kepalanya terasa berputar-putar dan semua yang dipandangnya terlihat buram dan berkabut. Tubuhnya yang sudah tergeletak di atas tanah pun sulit ia gerakkan dan terasa sakit semua, terutama di bagian perutnya.

Pria misterius tersebut berdiri di depan Kyuhyun, menunduk memandang Kyuhyun yang sekarat dan bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap di perut. Tangannya bergerak melepas masker hitam yang menutupi wajahnya.

Wajah itu…. tatapan mata yang dingin dan tajam itu…..

“Aku tidak suka orang lain menggangguku bermain. Menyedihkan sekali,” gumam Sungmin, mengamati Kyuhyun yang mulai kehilangan kesadaran diri.

Diambilnya ponsel yang ada di saku jaketnya dan mulai mengetikkan sebuah pesan pada seseorang.

<Aku sudah selesai melakukan pekerjaanku. Bahkan aku memberimu bingkisan kecil>

Sesaat sebelum pergi meninggalkan tempat itu, ia mengambil pistol yang ia gunakan untuk menghabisi nyawa para tahanan. Meninggalkan semua penumpang mobil yang sudah tak bernyawa dan Kyuhyun yang tak lama lagi bisa kehilangan nyawa akibat tusukan pisau di perutnya.

oOo

at Crime Investigation Unit

“Apa Kyuhyun belum kembali?” tanya Donghae pada Ryeowook yang tampak menumpuk beberapa map di atas mejanya.

“Belum. Kudengar tadi ada perubahan jalur lagi karena ada kecelakaan di salah satu rute perjalanan mereka. Hyung, bisa temani aku ke Ruang Arsip? Aku haru mengembalikan semua ini ke sana,” pinta Ryeowook yang kemudian diangguki Donghae.

Dua polisi muda tersebut berjalan bersama ke Ruang Arsip Unit yang letaknya tak jauh dari kantor tim mereka.

“Aku masih penasaran dengan Kim Myun Byeol,” ujar Ryeowook sambil memasukkan map-map tersebut ke dalam sebuah kotak file bertuliskan KASUS KRIMINAL TAHUN 2010, lalu meletakkannya ke atas rak yang ada di dekatnya.

“Aku dan Hyukjae sudah mencoba mencarinya di Catatan Laporan Kasus Pembunuhan di tahun-tahun sebelumnya, tapi tidak ada laporan kasus pembunuhan atas nama orang tersebut,” sahut Donghae yang bersandar di tepi rak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

“Apa ada sesuatu yang kita lewatkan? Maksudku…., ani….. apa karena kita tidak pernah menangani kasus seperti ini, makanya kita kebingungan, Hyung?” Ryeowook mulai berpikir seperti Kyuhyun. Hanya saja ia tak mudah menyerah seperti yang dilakukan Kyuhyun meski sebenarnya ia juga sudah hampir mencapai batas kemampuannya untuk tetap melakukan yang terbaik untuk kasus ini.

Donghae baru akan menjawab pertanyaan Ryeowook saat ponsel ketua timnya itu berdering. Ada yang mencoba menghubungi Ryeowook.

“Ya, Hyung?” jawab Ryeowook pada Hyukjae yang ternyata menghubunginya.

[Kau ada di mana?]

“Aku dan Donghae Hyung ada di Ruang Arsip. Kenapa?”

[Sesuatu terjadi pada rombongan yang membawa Kim Bo Sang dan anak buahnya. Center Room mengabariku kalau mereka kehilangan kontak dengan Kyuhyun dan mobil yang membawa tahanan.]

“Lalu sekarang apa ada kabar dari mereka?” Ryeowook terlihat panik.

[Sinyal GPS di mobil Kyuhyun baru bisa dilacak beberapa menit yang lalu dan lokasinya sudah berada jauh dari rute yang seharusnya mereka lalui. Mereka bilang sinyal itu ditemukan di daerah pinggiran kota. Sebaiknya segera temui aku di luar gedung. Aku sudah bersama Kapten Tan. Kita harus menemukan Kyuhyun dan yang lain karena sejak tadi perasaanku tidak enak.]

Ryeowook langsung mematikan ponselnya.

“Kita harus menemui Hyukjae dan Kapten Tan di luar gedung,” kata Ryeowook.

“Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Donghae yang mau tidak mau ikut panik.

“Aku belum tahu pasti, tapi yang jelas terjadi sesuatu pada Kyuhyun. Ayo, Hyung.” Ryeowook langsung melesat keluar dari Ruang Arsip.

Donghae yang berusaha mengikuti Ryeowook terpaksa menghentikan laju larinya takkala tanpa sengaja ia menyenggol sebuah kotak yang ada di atas meja di dekatnya. Kotak tersebut terjatuh ke lantai dan sebuah map keluar dari sana. Tidak mungkin ia membiarkan map yang mungkin saja salah satu asip yang disimpan di ruangan ini tergeletak begitu saja di atas lantai. Maka dari itu, ia langsung memungut map tersebut.

Ia baru akan membungkukkan badan untuk memungut kotak saat sebuah foto keluar dari dalam map tersebut dan terjatuh ke atas lantai. Kening Donghae berkerut saat mengambil foto tersebut.

“Arsip Kriminal Tahun 2008?” gumam Donghae yang sesaat kemudian semakin dibuat heran dengan Sub judul dari nama map tersebut. “…Kasus VENUS?”

Matanya bergerak memandang foto lama yang ada di tangannya. Foto tersebut menampilkan sekelompok polisi muda yang berjumlah 10 orang, mengenakan seragam polisi yang sama dan menyunggingkan senyum ceria.

“Hankyung Hyung?” gumamnya saat matanya menemukan sosok Kapten Unitnya, Tan Hankyung berada di tengah-tengah polisi-polisi muda tersebut. Wajah kaptennya tersebut terlihat masih sangat muda.

Di balik foto tersebut terdapat tulisan singkat yang ditulis oleh seseorang.

Persahabatan yang indah adalah bersama dari hidup sampai mati (21 Juni 2007)

To be continued

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. Amylatul Rahayu

     /  October 26, 2015

    Yang di mobil silver itu siapa ? misterius banget. Aku yakin pasti Sungmin bukan hanya kebetulan saja tuh datang ke warung tempat Jungra dan Henry itu. Jangan sampai Sungmin tau kalau Henry adiknya Hae seseorang yang menangani kasusnya, aku takut nanti dia akan melukai Henry kalau dia tau. Ohhh aku harap Kyu segera di temukan, jangan sampai dia kehabisan darah dan meninggal, kasihan Kyu. Kira-kira Kyu sempat lihat muka Sungmin nggak ya ? aku harap iya.

    Reply
  2. inggarkichulsung

     /  October 26, 2015

    Hiks hiks kasihan Kyu oppa ditusuk oleh Sungmin oppa krn senjatanya sdh terlempar, kasihan cm dia sendiri petugas polisi dr pusat yg mengawal Kim Bo sang, Kyu oppa sdh bertemu Sungmin oppa, smg teman2nya segera menemukan Kyu oppa dan bs diselamatkan krn ia saksi kunci yg bertemu lsg dgn Sungmin oppa, Hyukjae oppa sepertinya pny firasat dan pgn bgt menemani Kyu oppa u mengawal Kim bo sang cs, penasaran bgt dulu sahabatnya Captain Tan yg melepas dan membuang baju dinas dihadapan Hangeng oppa itu siapa dan apa kaitannya dgn kasus Venus 2008, apakah ada kaitannya dgn org yg menyuruh Sungmin oppa membunuh org2 yg terlibat dlm kasus pembunuhan berantai dan perampokan ini, ditunggu bgt kelanjutannya Nita

    Reply
  3. OMG kyuhyun ketusuk!! Jangan sampe mati dong kyuhyunnya. Sungmin sebenernya disuruh sama siapa sih? Kepo deh. Kayaknya disuruh sama anggota polisi deh. Tapi siapa ya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: