VENUS [Part 6]


VENUS 3

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

Dok! Dok! Dok! Dok!

Hyung! Hyung! Ayo bangun! Kita sarapan! Sebenarnya jam sarapan sudah lewat setengah jam yang lalu…”

Suara teriakan seorang anak laki-laki yang cukup nyaring dan memekakkan telinga membuat Donghae yang tertidur pulas di balik selimut tebal di atas tempat tidur terpaksa terperanjat karena terkejut. Bahkan ia hampir saja terjatuh dari atas tempat tidur kalau ia tak berpegangan tepi headboard.

Desisan pelan lolos dari mulutnya setelah menyadari milik siapa teriakan dari balik pintu kamarnya itu.

Hyung!”

Suara itu kembali terdengar.

Donghae yang sudah duduk di tepi tempat tidur memilih untuk memijit pelan keningnya yang berkedut. Rasa pusing menyerang kepalanya setelah ia bangun tiba-tiba. Padahal ia baru saja bisa tidur nyenyak beberapa jam setelah kembali dari markas pukul empat pagi tadi.

Penyelidikan kasus pembunuhan Cha Hong Jo cukup menguras tenaganya beberapa hari ini. Ditambah tak ada satu pun informasi terbaru mengenai tersangka bernama Lee Sungmin. Sebut saja…. untuk pertama kalinya ia bekerja sekeras ini di dalam hidupnya.

Hyung, menu sarapan kita pagi ini adalah sereal dan dadar telur,” ujar Henry yang sudah sejak tadi duduk di meja makan, melihat Donghae keluar dari kamar.

Donghae yang berjalan pelan ke arah meja makan hanya mendengus pelan sambil mengenakan kaus putih. Ditariknya kursi yang ada di depan Henry dan duduk. Ia baru akan mengambil kotak sereal yang ada di tengah meja ketika Henry sudah lebih dulu mengambilnya. Adik satu-satunya itu tersenyum lebar ketika menuangkan isi kotak tersebut ke dalam mangkuk miliknya. Bahkan Donghae pun tak berkomentar apapun saat Henry menuangkan susu ke dalam mangkuk serealnya. Ia lebih memilih untuk memberikan perhatiannya pada luka lebam yang ada di beberapa bagian wajah Henry.

Kabar mengenai tawuran yang melibatkan Henry baru didengarnya kemarin sore hari dari Kyuhyun dan Hyukjae di markas. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang baru untuknya. Sebut saja…. adik laki-lakinya ini entah kenapa memiliki hobi berkelahi dengan siapapun di luar sana. Wajah babak belur Henry bukanlah pemandangan asing baginya sejak Henry berumur 10 tahun saat kedua orang tua mereka melempar tugas “orang tua” padanya. Yeah…, tugas yang dimaksud Donghae adalah mengurus, mengurus, memberi makan, memastikan anak itu berangkat sekolah—meski selalu kecolongan dan sering menjemputnya di kantor polisi karena berkelahi dengan anak sebaya—dan mengerjakan tugas-tugas sekolahya, memberikan nasehat yang entah didengar atau tidak. Dan terakhir, memastikan persediaan isi kotak P3K di rumah selalu lengkap karena… ya…. itu adalah kelanjutan dari tugasnya “menjemput” Henry di kantor polisi.

“Kau tidak sekolah?” Akhirnya suara Donghae terdengar.

Henry yang baru akan memasukkan sesendok penuh sereal ke dalam mulutnya terpaksa berhenti. Kepala Henry menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. “Mmmm…., ada beberapa anak yang justru diperintahkan guru mereka untuk belajar di rumah, Hyung. Jadi, aku…”

“Berapa lama kau diskors?”

Hyung sudah tahu ya?” Henry tertawa kecil sambil mengunyah serealnya. “Tidak terlalu lama. Hanya sepekan. Setelah itu aku bisa kembali sekolah.”

Tak ada lagi yang ingin ditanyakan Donghae. Pria yang pagi ini terlihat biasa saja dengan celana pendek dan kaus putih kembali diam menikmati sarapannya.

“Itu karena mereka merebut tempat favoritku di kantin, Hyung. Sebenarnya aku tidak ingin meladeni mereka, tapi salah satu dari mereka menghajar temanku. Kau tahu kan, kalau seorang sahabat itu tidak akan membiarkan sahabatnya dilukai orang lain. Maka dari itu, aku membalas mereka. Tapi polisi wanita itu sudah…. ck….,” Henry tak melanjutkan aduannya ketika teringat betapa mengerikannya Jung Ra saat berlari mengejarnya. “Noona itu cantik tapi seperti singa,” tandasnya.

Donghae hanya memandang sekilas ke arah Henry yang mengacak-acak rambutnya kesal, seolah baru saja mengingat sesuatu yang menyebalkan.

‘Kau tahu kan, kalau seorang sahabat itu tidak akan membiarkan sahabatnya dilukai orang lain. Maka dari itu, aku membalas mereka’.

Untuk beberapa detik Donghae melambatkan gerak rahangnya yang mengunyah sereal. Kata-kata yang diucapkan adiknya tersebut…. mendadak membuat dadanya terasa sedikit nyeri.

“Jadi, siapa yang harus kutemui di sana? Apa polisi wanita yang kau sebutkan itu?” tanya Donghae kemudian setelah memilih untuk tidak menghiraukan rasa nyeri itu menjalar.

“Iya. Mungkin kau akan diberitahu ini dan itu sebelum dia berteriak-teriak karena…. kurasa setiap hari dia selalu meneriaki pelaku kriminal yang ditangkapnya di sana. Oh ya, kalau tidak salah namanya Go…. Go Jung….”

Drrrt…. drrrrt…..drrrrt….

Henry menoleh ke arah ponselnya yang bergetar. Ada nama Hyukjae yang terlihat di layar ponselnya.

“Ya, Hyung?” ujar Henry

[Apa Donghae masih di rumah? Aku tidak bisa menghubungi nomornya.]

“Iya. Dia ada di depanku, sedang sarapan sereal dan dadar telur. Sebenarnya sereal dan dadar telur bukan pasangan sarapan yang tepat, tapi—“

[Berikan ponselmu padanya! Ada hal penting yang harus kusampaikan!]

Beberapa detik Henry hanya memandangi ponselnya karena heran sebelum pada akhirnya diberikannya ponsel tersebut pada Donghae. “Hyukjae Hyung ingin bicara denganmu.”

Donghae meletakkan kembali sendoknya ke mangkuk dan menerima telepon dari Hyukjae. Beberapa saat kemudian ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya.

“Aku akan segera ke sana!”

Ponsel Henry diletakkan begitu saja di atas meja makan oleh Donghae dan langsung melesat ke dalam kamarnya. Kurang dari lima menit ia sudah keluar setelah berganti celana.

Hyung, kau mau ke mana? Bukankah hari ini kau libur?” tanya Henry yang masih berdiri di dekat kursinya.

“Aku harus pergi,” jawab Donghae singkat sambil mengenakan jas hitam dan memasukkan pistol ke celana bagian belakang. Diraihnya ID Card yang ada di atas meja kerjanya.

“Apa ada kasus yang harus ditangani D-Team?” tanya Henry lagi.

“Hmm.”

Hanya itu jawaban yang diberikan Donghae sambil berjalan cepat ke arah pintu apartemennya.

“Apa Hyung pulang lagi nanti?”

Donghae yang sudah hampir membuka pintu terpaksa berhenti. Ditolehkannya kepalanya ke belakang. “Apa?”

“Aku berencana memasakkan sesuatu untuk makan malam nanti. Aku juga sudah menyewa satu film action seru yang bisa ditonton. Nanti….. Hyung akan pulang ke rumah kan?”

Hampir lima detik Donghae berdiri di tempatnya, memandang wajah polos Henry yang jelas sedang menunggu jawaban darinya.

Ani,” jawab Donghae pelan dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Henry hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil berusaha tidak menunjukkan wajah kecewa.

“Kunci pintu da—“

Kunci pintu dari dalam bila tidak pergi ke mana-mana. Jangan biarkan orang asing masuk dengan alasan apapun. Selalu nyalakan GPS di ponsel agar Hyung bisa lacak dari jauh. Aku mengerti, Hyung,” potong Henry dengan suara datar.

“Baiklah. Aku pergi dulu.”

Donghae lantas keluar dari apartemen. Meninggalkan Henry yang masih berdiri di dekat meja makan. Pemuda berambut coklat itu menundukkan wajahnya, memandang mangkuk sereal milik Donghae yang belum habis isinya.

“Padahal tinggal sedikit lagi, Hyung. Tinggal sedikit lagi, sarapanmu pasti habis,” ucapnya pelan sambil tersenyum miris.

oOo

at Crime Investigation Unit….

Eo, bukannya hari ini kau libur, Hyung?”

Salah seorang anggota B-Team sedikit terkejut melihat Donghae memasuki area depan markas unit dengan tergesa-gesa. Donghae hanya melambaikan tangan tanpa mengatakan apa-apa sambil berlari kecil ke arah lift yang tak jauh darinya. Tak hanya anggota B-Team itu saja, beberapa petugas yang sudah kenal baik dengan Donghae pun menanyakan hal yang sama padanya. Donghae bisa saja menjawab pertanyaan mereka, hanya saja saat ini ia enggan membuka mulutnya.

“Tunggu sebentar!”

Donghae yang sudah berdiri di dalam lift dan menanti pintu lift tersebut tertutup harus menegakkan wajahnya untuk melihat siapa yang berlari kecil ke arahnya. Matanya berhenti bergerak takkala mengenali sosok tinggi yang berhasil memasukkan diri ke dalam lift sedetik sebelum lift tersebut tertutup sempurna.

Tak ada yang bisa yang dilakukan Donghae pada pria itu kecuali tetap berdiri di tempatnya tanpa berniat membuka mulutnya untuk sekedar saling sapa mengingat mereka berdua sama-sama bekerja di markas ini. Ya, tak ada yang bisa dilakukan olehnya karena orang itu adalah Siwon. Choi Siwon, Ketua A-Team.

“Tidak banyak polisi yang tetap bekerja di hari liburnya,” ujar Siwon setelah hampir satu menit membiarkan suasana di dalam lift begitu sunyi.

“Aku hanya berusaha menjadi aparat kepolisian yang baik,” jawab Donghae singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

“Baguslah kalau begitu,” sahut Siwon sambil menggangguk-anggukkan kepalanya pelan. “…Semoga kasus yang sedang timmu selidiki segera selesai,” tambahnya.

“Terima kasih.”

Hanya itu yang diucapkan Donghae sebelum keluar sesaat setelah pintu lift terbuka. Dihembuskannya napas panjang agar ia bisa menghilangkan suasana tidak nyaman yang baru saja dilaluinya di dalam lift bersama Siwon.

Hyung, kau tidak mengganti pakaianmu? Bukankah itu pakaian yang kemarin kau kenakan?” Kyuhyun menunjuk Donghae yang berhambur masuk ke dalam ruang kantor D-Team dengan sedikit tergesa-gesa.

“Apa yang terjadi?” Tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun, Donghae langsung menghampiri Ryeowook yang berdiri di depan papan tulis putih, memandangi beberapa foto sebuah TKP.

“Ada kasus pembunuhan di salah satu gedung apartemen mewah yang ada di Gangnam pagi tadi. Dan ini adalah beberapa foto yang diambil dari tempat kejadian oleh tim dari Kepolisian Daerah Gangnam,” jawab Ryeowook ringan yang sesekali menyeruput kopi panas pemberian salah satu petugas.

“Itu berarti kasus tersebut ditangani oleh Kepolisan Gangnam. Lalu kenapa foto-foto ini ada di tim kita?” tanya Donghae yang masih bingung.

“Lihatlah foto bagian kiri atas. Aku sedang taruhan dengan Kyuhyun. Kalau kau membelalakkan mata atau hanya mengernyitkan kening karena teringat sesuatu, itu artinya Kyuhyun kalah dan harus memberikan uang taruhannya padaku sebesar 10.000 Won,” kata Hyukjae sambil duduk di tepi meja Kyuhyun. Senyum lebarnya terlihat takkala Kyuhyun meliriknya ketus.

Donghae menggerakkan matanya ke arah foto yang ditunjuk Hyukjae. Di foto tersebut terlihat sebuah sudut ruangan dari sebuah apartemen yang berhias beberapa bercak darah, beberapa kursi tergeletak dengan posisi yang tak semestinya dan sebuah mesin fax.

Mesin fax?

“Fax?” tanya Donghae yang diangguki Ryeowook.

“Kapten Tan sudah mendapatkan ijin kerjasama dari Kantor Polisi Gangnam. Jadi, kita bisa leluasa mendapatkan informasi dari mereka untuk pencocokan. Kalau kasus itu hanya kasus pembunuhan biasa, kita tidak akan ikut campur dan mengganggu tim yang menangani kasus tersebut, tapi bila ternyata ditemukan kesamaan antara kasus tersebut dengan kasus Cha Hong Jo….”

“Kasus perampokan Center Bank yang berkembang karena kasus pembunuhan Cha Hong Jo akan berkembang lagi dengan adanya kasus pembunuhan yang baru ini? Kau menduga seperti itu, Ryeowook-ah?” potong Kyuhyun yang rupanya mendapat acungan jempol dari Ryeowook.

“Setelah itu, kita akan bisa mengetahui apakah Lee Sungmin benar-benar pembunuh Cha Hong Jo atau bukan,” tambah Ryeowook sambil tersenyum tipis.

“Woah, jadi kasus yang sedang tangani akan mendapat jalan keluar?” tanya Kyuhyun dengan wajah sumringah.

“Semoga saja,” sahut Hyukjae yang kemudian kembali menengadahkan telapak tangannya tepat di depan wajah Kyuhyun. “… Detektif Cho, 10.000 Won.”

“Aaaah…., Hyung! Yang benar saja! Kau ini….”

Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan dua rekan satu timnya kembali melakukan perdebatan konyol.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Donghae pada Ryeowook.

“Apakah tidak apa-apa bila aku menyuruhmu pergi ke Kantor Polisi Gangnam? Bila kita hanya menunggu laporan dari mereka, kurasa… akan membuang banyak waktu,” ujar Ryeowook.

Untuk beberapa detik Donghae terlihat memikirkan sesuatu sebelum pada akhirnya menganggukkan kepala, setuju dengan perintah Ryeowook.

“Kyuhyun Hyung, Hyukjae Hyung, kalian berdua ikut Donghae Hyung ke Kantor Polisi Gangnam,” suruh Ryeowook sebelum mengangkat telepon kantor timnya yang berdering.

Kyuhyun dan Hyukjae menghentikan perdebatan mereka sejenak dan memandang Ryeowook bersama.

“Apa yang diperintahkan anak itu barusan?” tanya Hyukjae pada Donghae yang tengah bersiap-siap.

“Kita bertiga akan pergi ke Kantor Polisi Gangnam untuk meminta beberapa informasi tentang kasus yang saat ini mereka tangani. Ayo.”

Donghae langsung berjalan keluar kantor tanpa mempedulikan Hyukjae dan Kyuhyun yang saling pandang dengan wajah tak percaya.

“Apakah Donghae baru saja menyebut Kantor Polisi Gangnam?” bisik Hyukjae yang diangguki Kyuhyun.

.

.

.

.

Hampir lima menit ketiga polisi muda yang tergabung di D-Team tersebut tak juga keluar dari mobil yang sudah terparkir di halaman depan Kantor Polisi Gangnam. Sebentar, sebenarnya hanya dua dari mereka yang sedikit enggan untuk keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor polisi tersebut.

“Kenapa dengan kalian?”

Akhirnya Donghae pun bertanya karena waktu yang mereka habiskan di dalam mobil cukup lama.

“Bagaimana kalau kau saja yang masuk? Kami akan menunggumu di sini,” ujar Kyuhyun pelan dari jok belakang. Matanya tak juga lepas dari pintu masuk kantor polisi.

“Apa?” Donghae terpaksa memandangi dua temannya itu satu per satu. Sikap mereka…. cukup membingungkan.

“Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi… aku punya sedikit trauma dengan salah satu petugas di dalam sana. Beberapa waktu yang lalu ada petugas yang mengira aku dan anak sialan ini memiliki hubungan spesial seperti… itu… apa… seperti…”

“Petugas itu mengira kami berdua adalah pasangan yang sudah terikat janji pernikahan. Terdengar konyol, kan? Tentu saja begitu. Maka dari itu… bukankah lebih baik kalau Hyung saja yang masuk ke sana? Aku dan Hyukjae Hyung hanya akan menunggu di sini. Apa kau mau kubelikan minuman dingin, Hyung? Musim panas tahun ini sangat mengerikan. Bagaimana?”

Donghae memasang ekspresi datar atas penjelasan tak jelas yang diberikan Hyukjae dan Kyuhyun. Entah apa yang sedang Hyukjae dan Kyuhyun pikirkan saat ini, yang jelas ia sama sekali tak mengerti. Maka dari itu ia hanya membuang napas panjang pada kedua temannya itu dan keluar begitu saja dari dalam mobil tanpa menutup kembali pintunya.

“Gunakan waktumu sebaik mungkin di sana, yang penting kau mendapatkan informasi bagus, Lee Donghae!” teriak Hyukjae dari dalam mobil sambil meraih pegangan pintu mobil yang terbuka.

Fighting, Hyung!” tambah Kyuhyun sebelum pintu mobil tertutup sempurna.

.

.

Donghae keluar dari ruangan ketua tim yang menangani kasus pembunuhan di Palace Tower. Di tangannya sudah ada salinan rekaman CCTV yang berhasil didapat tim tersebut. Tak hanya salinan rekaman CCTV gedung apartemen mewah tersebut, ia juga mendapatkan profil lengkap korban dan laporan hasil analisa sidik jari sementara yang ditemukan tim forensik kantor polisi Gangnam di TKP.

Dan yang lebih penting lagi, di tangannya sudah ada foto barang bukti berupa pesan fax aneh yang dikirim oleh orang tak dikenal. Bukankah untuk saat ini penemuan mesin fax dan pesan fax-lah yang mengganjal pikiran D-Team?

“Aku tidak tahu kau akan datang secepat ini, Lee Donghae-ssi!”

Suara seseorang memaksa Donghae yang baru saja melintas di depan ruang Tim Bagian Kriminal kantor tersebut berhenti. Diputarnya tubuhnya ke belakang untuk melihat siapa yang sedang berdiri tak jauh darinya tersebut.

Seorang wanita. Lebih tepatnya seorang petugas polisi wanita. Cukup cantik dan berkulit bersih. Rambutnya yang panjang terlihat begitu berantakan, seolah sudah beberapa hari tak dirapikan… atau… memang begitu aslinya. Kemeja putih yang dikenakan polisi wanita tersebut terlihat kusut di beberapa bagian. Mungkin Donghae akan ragu kalau wanita itu benar-benar seorang polisi jika tidak melihat ID Card bernama Go Jung Ra yang melingkar di leher wanita tersebut.

“Kau Lee Donghae dari Pusat, kan?” tanya Jung Ra sambil berjalan pelan mendekati Donghae yang masih berdiri dengan bingung.

“Iya,” jawab Donghae singkat tanpa mengurangi ukuran tanda tanya di wajahnya karena ada seorang polisi wanita tak dikenalnya yang tiba-tiba memanggil namanya dengan mudah seolah mereka berdua pernah bertemu sebelumnya.

“Kebetulan aku juga sedang luang. Sebenarnya tadi ada beberapa anak sekolah yang kurang ajar menyelinap keluar dari sekolah mereka dan minum minuman keras bersama di kedai dekat kantor ini, tapi aku berhasil menghabisi mereka. Jadi.., bagaimana kalau kita mulai saja?” ujar Jung Ra seraya menggerakkan tangannya, mempersilahkan Donghae masuk ke ruangan luas di dekat mereka.

Donghae yang masih tak mengerti perkataan Jung Ra hanya terdiam tanpa berniat bergerak dari tempatnya berdiri. Ia harus memutar otak beberapa kali untuk mencerna kata-kata Jung Ra.

“Bagaimana kabar adikmu yang kurang ajar itu? Ani…, maksudku… adik laki-lakimu. Siapa namanya… mmmm… Henry…., iya, Henry. Bagaimana kabar Henry? Apakah dia masih suka bolos sekolah dan berkelahi dengan temannya di luar?” tanya Jung Ra yang diam-diam sedikit kecewa karena Donghae tak menanggapi ajakannya untuk masuk ke ruangan.

“Bagaimana kau bisa mengenal Henry dan…” Donghae tak jadi melanjutkan kata-katanya saat teringat ucapan Henry pagi tadi.

‘Itu karena mereka merebut tempat favoritku di kantin, Hyung. Sebenarnya aku tidak ingin meladeni mereka, tapi salah satu dari mereka menghajar temanku. Kau tahu kan, kalau seorang sahabat itu tidak akan membiarkan sahabatnya dilukai orang lain. Maka dari itu, aku membalas mereka. Tapi polisi wanita itu sudah…. ck….. Noona itu cantik tapi seperti singa.’

“Kau polisi yang menangkap adikku?”

Jung Ra mengangguk. “Apa adikmu sama sekali tak memberitahumu? Pengecut sekali bocah itu. Padahal di sini dia banyak bicara meski apa yang keluar dari mulutnya tak ada yang bisa kumengerti. Sudahlah, selagi kau ada di sini, sebaiknya kita segera menyelesaikan masalah kita.”

“Masalah kita?” tanya Donghae yang akhirnya membuat Jung Ra mulai kehabisan kesabaran.

“Kau kemari karena harus bertemu denganku, kan? Bukankah tempo hari aku sudah menyuruh dua temanmu agar memintamu datang kemari untuk menyelesaikan kasus adikmu itu? Mereka juga tidak bilang apa-apa?” Jung Ra berkacak pinggang sambil sesekali menyibak poninya yang berantakan ke belakang karena merasa gerah.

“Mereka memberitahuku, hanya saja aku kemari bukan karena memenuhi panggilanmu untuk membahas masalah adikku. Aku kemari karena…”

“Huh, apa kau tidak mau mengakui kalau adikmu sudah berbuat salah? Meskipun bocah itu adik polisi dari Pusat, aku tetap tidak peduli dan tidak takut. Jadi, kita harus segera menyelesaikan masalah adikmu ini! Kau ini sombong sekali, sih!”

Emosi Jung Ra tak terbendung lagi. Ia merasa diremehkan oleh Donghae.

“Maaf, Go Jung Ra-ssi. Aku tidak tahu kenapa kau marah-marah seperti ini padaku, tapi aku kemari karena harus bertemu dengan Ketua Tim yang menangani kasus pembunuhan yang terjadi pagi tadi. Dan karena sekarang aku sudah mendapatkan apa yang kuperlukan darinya, aku harus segera kembali ke markas,” Donghae berusaha menjelaskan maksudnya datang ke kantor ini.

“Maksudmu, pembunuhan di Palace Tower?” tanya Jung Ra yang memang sempat mendengar ada kasus pembunuhan yang sedang ditangani oleh tim atasannya.

“Iya, kasus yang itu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Permisi.” Donghae sama sekali tak memberi Jung Ra kesempatan berbicara dan langsung pergi begitu saja.

Yaa! Aku belum selesai bicara denganmu! Dasar orang gila! Tidak heran kalau timmu gagal menangani kasus perampokan tujuh bulan lalu, lihat saja gayamu tadi. Dan, kau harus tahu kalau aku ini dua tahun lebih tua darimu! Mana sikap sopanmu pada orang yanag lebih tua, hah?! Sombong sekali…” Jung Ra masuk ke dalam ruangan departemennya dengan terus menggerutu karena Donghae sama sekali tak menanggapinya.

oOo

at D-Team’s office….

Sudah hampir tiga jam ini Ryeowook dan Hyukjae yang ada di dalam ruangan D-Tema nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Berkas kasus pembunuhan di Palace Tower yang dikumpulkan Kantor Polisi Gangnam yang berhasil didapatkan Donghae pagi tadi seolah membuat dua polisi muda tersebut larut dengan pikiran mereka masing-masing. Bila Hyukjae begitu tekun dan teliti mengamati rekaman CCTV gedung tersebut dengan mata yang berkedip hampir setiap satu menit sekali, Ryeowook dibuat serius dengan Laporan Sidik Jari yang ditemukan di TKP dan informasi identitas korban. Tak hanya itu saja, pesan fax aneh yang hanya berisi tanda baca titik pun membuatnya harus memutar otak.

“Rekaman CCTV untuk hari Sabtu, bersih,” ujar Hyukjae sambil menguap pelan. Tangannya meraih satu flashdisk berwarna putih satu lagi yang ada di atas meja kerjanya dan mulai memeriksa salinan rekaman CCTV untuk hari berikutnya.

“Mayat ditemukan pukul tujuh pagi. Dan bila dilihat dari hasil otopsi….,” Ryeowook mengambil kertas berisi salinan Laporan Hasil Otopsi yang dibawa Donghae dari Kantor Polisi Gangnam dan membaca isinya. “… korban meninggal sekitar empat jam sebelum ditemukan. Itu artinya….”

Ryeowook mengernyitkan keningnya, berusaha berpikir sebelum pada akhirnya ia teringat sesuatu.

Hyung, kau bilang…. tidak ada yang mencurigakan di hari Sabtu?” Ryeowook menoleh ke arah Hyukjae. Telunjuknya mengarah pada laptop yang ada di depan Hyukjae.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Hyukjae.

“Di lantai berapa apartemen korban?”

“Lantai lima, apartemen nomor 506.”

“Tidak ada yang mencurigakan di rekaman CCTV yang ada di lantai lima pada hari itu?”

“Tidak ada.”

Mendengar jawaban anggota timnya yang cukup yakin, membuat Ryeowook semakin curiga. Dilangkahkannya kakinya mendekat pada meja kerja Hyukjae.

“Hari Minggu, mulai pukul dua belas malam hingga pukul tujuh pagi. Lantai lima,” kata Ryeowook sambil memandang rekaman CCTV yang menampilkan situasi di lantai lima gedung tersebut pada pukul sebelas malam. “Tidak ada pergerakan yang mencurigakan di hari-hari sebelumnya. Bisa jadi….”

Seolah mengerti arti ucapan Ryeowook, Hyukjae langsung mencari rekaman CCTV gedung yang dimulai pada hari Minggu pukul dua belas malam. Tak lama kemudian dua polisi muda tersebut langsung memusatkan kedua mata mereka pada layar laptop yang menampilkan suasana sepi di lantai lima gedung apartemen tersebut.

Namun, mendadak mereka berdua dibuat terkejut ketika sosok seorang pria berjaket hitam dan bertopi hitam terlihat keluar dari lift yang berhenti di lantai lima gedung tersebut setelah sebelumnya tertangkap camera CCTV yang ada di lantai dasar.

Hyung, periksa rekaman CCTV area depan gedung antara Sabtu Malam dan hari Minggu,” ujar Ryeowook seraya mengambil alih laptop yang ada di hadapan Hyukjae dan mengamati gerak-gerik pria bertopi tersebut. Di dalam salah satu rekaman CCTV yang ada di lantai lima gedung tersebut, pria bertopi hitam itu terlihat berjalan ke arah apartemen Seo Jang Ok setelah keluar dari lift.

Hyukjae segera meraih laptop lain yang ada di atas meja Kyuhyun dan menyalakannya.

“Pria ini…., apa kau tidak melihatnya di hari sebelumnya, Hyung?” tanya Ryeowook dengan tatapan mata yang tak beralih dari layar laptop.

Hyukjae baru akan membuka file rekaman CCTV yang diminta Ryeowook saat ia teringat sesuatu. Untuk beberapa detik ia membeku di tempatnya sebelum tangannya menarik laptop miliknya dan memandang sosok pria bertopi yang menghiasi layar laptopnya.

“Bila dibandingkan dengan Kyuhyun, dia lebih pendek. Bila dibandingkan dengan Donghae dan aku, tinggi kami tidak jauh berbeda. Postur tubuh meski yang pertama tidak terlalu jelas tapi aku yakin sama,” gumam Hyukjae yang rupanya didengar Ryeowook.

“Apa maksudmu, Hyung?”

Hyukjae tak lantas menjawab. Dengan cepat ia mencari salinan rekaman CCTV depan rumah Cha Hong Jo yang beberapa waktu lalu diperiksanya di dalam folder yang disimpan di laptop Kyuhyun.

“Apa kau teringat sesuatu, Hyung?” tanya Ryeowook yang dibuat semakin penasaran dengan tindakan Hyukjae.

“Entahlah. Kuharap aku tidak salah. Ada yang mengganjal pikiranku setelah melihat sosok pria di gedung apartemen itu,” jawab Hyukjae yang masih serius memaju-mundurkan rekaman CCTV rumah Cha Hong Jo.

Eo, itu pria yang diduga membunuh Cha Hong Jo. Lee Sungmin,” celetuk Ryeowook saat Hyukjae menghentikan rekaman tersebut tepat saat pria diduga pembunuh Cha Hong Jo, Lee Sungmin, keluar dari mobil dan berjalan di dekat pohon rindang. Tangannya yang lain mendekatkan laptopnya sendiri di samping laptop milik Kyuhyun yang ada di depannya.

“Apakah mataku yang tidak beres atau tinggi badan mereka berdua memang terlihat sama? Bahkan bentuk tubuh bagian belakang mereka juga,” ujar Hyukjae sambil memandang kedua layar laptop tersebut dengan alis mata yang hampir menyatu.

“Bahkan mobil yang mereka gunakan terlihat sama. Sebentar.” Ryeowook mencatat plat nomor yang terlihat di bagian belakang mobil hitam tersebut kemudian kembali ke mejanya sendiri untuk memeriksa plat nomor tersebut. Tak berapa kemudian wajahnya tampak kecewa setelah melihat layar laptop miliknya. “Palsu. Nomornya tak terdaftar.”

.

.

.

.

.

Meanwhile……

“Ryeowook bilang pesan fax yang diterima Seo Jang Ok memang dikirim dari mesin fax yang ada di rumah Cha Hong Jo. Dan juga…, Hyukjae Hyung menemukan sesuatu saat memeriksa rekaman CCTV gedung,” ucap Kyuhyun setelah mengucapkan terima kasih pada petugas yang masih berjaga-jaga di depan apartemen Seo Jang Ok, pria yang ditemukan tak bernyawa pagi tadi.

“Lalu?” tanya Donghae sambil berdiri di depan lift.

Lalu? Tentu saja aku tidak tahu apa kelanjutannya,” jawab Kyuhyun ringan seraya menunjukkan ponselnya. “… ponselku kehabisan baterai. Kita bisa bertanya padanya kalau sudah tiba di markas,” tambahnya sambil menyeringai lebar.

Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melangkah masuk ke dalam lift setelah pintu lift di depannya terbuka. Temannya tersebut…., masih belum bisa menghilangkan kebiasaan bermain game di ponsel, padahal benda elektronik yang satu itu memiliki peranan cukup penting di saat-saat seperti ini.

“Kalau tidak salah, korban yang bernama Seo Jang Guk ini….”

“Seo Jang Ok,” koreksi Donghae.

“Ya, itu maksudku. Dia adalah seorang Wakil Direktur di Y Company. Kau tahu perusahaan besar itu, kan?”

“Perusahaan ekspor barang elektronik yang baru saja mendapat penghargaan internasional?”

Kyuhyun menjentikkan jarinya, membenarkan tebakan Donghae.

“Perusahaan itu pasti mengalami syok berat karena wakil pimpinan mereka ditemukan tewas dengan pembunuh yang tak diketahui siapa,” ujar Donghae seraya keluar dari lift yang berhenti di lantai dasar dan berjalan keluar dari gedung.

“Apa ada orang yang tidak suka dengannya? Karyawannya, mungkin. Maksudku, dengan jabatannya sebagai seorang Wakil Direktur. Itu bisa saja,kan? Sekarang ini jumlah orang iri lebih banyak dibanding orang baik. Tapi tim dari Kantor Polisi Gangnam bilang tak ada yang mencurigakan dengan keterangan semua karyawannya. Apa ini murni perbuatan orang luar?” kata Kyuhyun sambil berusaha memandang Donghae dan mengimbangi langkahnya. “Hyung, apa kau ingin buang air kecil? Kenapa jalanmu cepat sekali, sih?”

“Bukankah kita harus segera ke markas?”

Mendengar jawaban Donghae hanya membuat Kyuhyun berdecak pelan. Ia tahu mereka berdua memang harus segera kembali ke markas karena masih banyak yang harus mereka kerjakan, tapi, tidak bisakah mereka sedikit bersantai?

Hyung,……”

“Maaf, permisi. Apa kalian berdua bisa membantuku?”

Kyuhyun yang ingin kembali mengajak Donghae berbicara terpaksa menoleh ke sisi kanan tubuhnya di mana di sana sudah berdiri seorang pria berambut pirang dan bertopi.

“Apa kau yang berbicara tadi?” tanya Kyuhyun yang kemudian diangguki oleh pria tersebut. “Memangnya apa yang bisa kami bantu?”

Pria bertopi putih itu menunjukkan dua pak minuman dingin yang ada di kedua tangannya. “Apa kau bisa membeli minuman ini? Harusnya semua pesanan minuman dingin ini habis, tapi karena ada salah satu pelanggan yang sedang tidak ada di rumah, aku terpaksa harus membawa ini kembali ke toko?”

Kyuhyun dan Donghae hanya terdiam memandang pria tersebut.

“Dua kaleng juga boleh. Paling tidak aku tidak membawa dua pak seperti ini, jadi bosku tidak terlalu lama memarahiku,” ujar pria bertopi tersebut sambil tersenyum lebar.

“Belilah beberapa. Kutunggu di mobil,” kata Donghae pada Kyuhyun sebelum berjalan meninggalkan temannya tersebut ke mobil yang mereka parkir tak jauh dari area depan gedung apartemen.

Kyuhyun hanya menggumam tidak jelas sambil merogoh saku celananya untuk mengambil dompet.

“Bagaimana kalau kubeli saja semua?” Kyuhyun memberikan beberapa lembar uang pada pria tersebut.

“Maksudmu dua pak ini?” Wajah pria tersebut berubah sumringah.

“Iya. Mungkin selain menghindarkanmu dari amukan bosmu, aku juga bisa mentraktir rekan-rekan satu timku. Minum beberapa soft drink dingin seperti ini setidaknya bisa membuat pikiran sedikit lebih segar, iya kan?”

“Kalau boleh aku tahu… , apa terjadi sesuatu?” tanya pria tersebut yang menangkap ekspresi lesu Kyuhyun sambil memberikan dua pak minuman dingin padanya.

Kyuhyun tersenyum kering. “Apa kau tahu apa yang terjadi di gedung itu?” Kyuhyun menoleh ke arah gedung sebelum kembali memandang pria bertopi tersebut.

“Aaaaah…., kudengar ada pembunuhan di dalam sana. Apa kau….,” Sejenak pria itu mengamati Kyuhyun. “…. kau polisi yang menangani kasus pembunuhan di sana?”

“Iya……,tidak. Aku hanya menyelidiki beberapa hal di sana, jadi secara teknis bukan aku atau timku yang menangani kasus tersebut,” jawab Kyuhyun.

Pria tersebut mengangguk-angguk pelan sebelum berkata, “Bahkan meski hanya menyelidiki beberapa hal sudah membuat kalian lelah. Kalian pasti harus kerja keras.”

TIN~

Suara klakson mobil yang dibunyikan Donghae hampir mengejutkan Kyuhyun. Maka dari itu, daripada membuat Donghae semakin marah padanya, Kyuhyun lantas hanya mengucapkan terima kasih pada pria bertopi tersebut dan menyuruhnya untuk hati-hati sebelum berlari ke arah mobil.

Pria bertopi tersebut memandang Kyuhyun yang masuk ke dalam mobil. Bahkan matanya tak juga beralih saat mobil hitam tersebut mulai melaju menjauh dari pandangannya. Seringai tipis terlihat di sudut bibirnya setelah mobil tersebut tak lagi bisa dijangkau oleh pandangannya. Perlahan matanya bergerak memandang gedung tinggi yang tadi dikunjungi Kyuhyun dan Donghae. Tangannya terangkat membenarkan letak topi putih di kepalanya. Di saat itulah, tatapannya matanya berubah dingin dan tajam.

Dia, pria berambut pirang dan bertopi putih ini, yang baru saja menjual dua pak minuman dingin pada Kyuhyun, tak lain adalah Lee Sungmin.

oOo

at D-Team’s Office…..

“Kau sebut ini minuman dingin?” tanya Hyukjae setelah meneguk sebagian isi kaleng soft drink pemberian Kyuhyun.

“Iya. Kenapa?”

“Katakan padaku bagian mana yang kau sebut dingin,” kata Hyukjae ketus seraya meletakkan kaleng tersebut ke atas meja kerja dengan sedikit kasar.

“Minuman itu dingin setengah jam yang lalu. Kalau sekarang sudah tidak dingin sebaiknya masukkan dulu ke kulkas seperti yang dilakukan Ryeowook,” balas Kyuhyun ringan sambil menarik kursi ke samping Ryeowook yang masih sibuk dengan rekaman CCTV di mejanya. “Ryeowook-ah, kau bilang tadi kau menemukan sesuatu dari CCTV gedung?”

“Lebih tepatnya Hyukjae Hyung yang menemukan sesuatu,” jawab Ryeowook seraya menunjukkan apa yang sudah ditemukan Hyukjae beberapa saat yang lalu pada Kyuhyun. “Ada kesamaan postur tubuh antara pria ini dengan pria yang datang ke rumah Cha Hong Jo. Bahkan mobil yang digunakan juga sama. Hanya saja saat kucoba lacak plat nomornya, ternyata—“

“Palsu?” tebak Kyuhyun yang kemudian diangguki Ryeowook. “Tentu saja palsu. Kau pikir penjahat sekarang bodoh?” lanjut Kyuhyun sambil terus memperhatikan dua layar laptop di depannya.

Donghae yang baru selesai mencocokkan beberapa hal yang sudah ia dapatkan di TKP dengan laporan hasil penyelidikan sementara yang ia peroleh dari Kantor Polisi Gangnam lantas ikut mengamati apa yang sedang diperhatikan Kyuhyun dan Ryeowook.

Untuk beberapa detik Donghae membandingkan fisik dua pria bertopi yang ada di dua layar laptop tersebut sebelum tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya, seolah baru saja menemukan satu lagi petunjuk mengejutkan. Hyukjae yang menyadari perubahan wajah Donghae langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri temannya itu.

Yaa, Donghae-ya, apa kau menemukan sesuatu?” tanya Hyukjae.

Donghae tak langsung menjawab. Ia merebut mouse yang dipegang Ryeowook dan membuat gambar pria tersebut tiga kali lebih besar dari ukuran sebelumnya. Ia juga melakukan hal yang sama pada gambar pria yang ada di bawah pohon rindang di depan rumah Cha Hong Jo.

“Pirang,” sebut Donghae yang rupanya memang mengejutkan ketiga rekan satu timnya.

“Apa? Apa maksudmu dengan pirang?” tanya Hyukjae lagi.

“Kemungkinan Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok dibunuh oleh orang yang sama cukup kuat,” ujar Donghae sambil memandang Ryeowook, Hyukjae dan Kyuhyun secara bergantian. Jari telunjuknya menunjuk rambut bagian belakang pria tersebut yang tak tertutup oleh topi. “Postur tubuh yang sama dari belakang. Mobil yang sama. Pakaian yang sama. Dan warna rambut yang sama. Pirang.”

“Tidak mungkin,” gumam Kyuhyun pelan.

“Dan satu lagi petunjuk. Pesan fax yang diterima Seo Jang Ok berasal dari nomor mesin fax yang ada di rumah Cha Hong Jo. Meski kali ini tidak ada sidik jari baru di rumah itu, besar kemungkinan pelaku mengirimkan pesan tersebut dari sana terlebih dahulu sebelum pergi ke apartemen Seo Jang Ok dan membunuhnya,” lanjut Kyuhyun.

Ryeowook dan Hyukjae tampak mengangguk-anggukkan kepala mendengar hipotesis yang dijabarkan Donghae.

“Jadi…. selain itu…. kita mendapat satu petunjuk baru mengenai Lee Sungmin. Begitukah? Kita memang belum tahu bagaimana wajahnya yang sekarang, tapi paling tidak kita tahu apa warna rambutnya. Benar kan?” ujar Kyuhyun.

“Aku tidak mau terlalu berfokus pada warna rambut karena… kalau kita berfikir secara logika, di Seoul ini saja orang yang memiliki warna rambut pirang berjumlah banyak. Selain itu, pelaku ini bisa saja mengubah warna rambut untuk menutupi identitasnya. Jadi, kita tidak bisa bila hanya menggunakan warna pirang rambutnya sebagai acuan,” tutur Hyukjae sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Dan yang lebih penting lagi, kalau benar Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok dibunuh oleh orang yang sama, itu berarti ada sesuatu tentang mereka berdua,” sahut Ryeowook.

“Maksudmu…., kematian Cha Hong Jo ada hubungannya dengan kematin Seo Jang Ok?”

Ryeowook membenarkan pertanyaan Kyuhyun. “Bisa jadi ini adalah pembunuhan berantai mengingat ada kemiripan pada cara pelaku membunuh. Kita harus mencari informasi lebih dalam lagi tentang mereka berdua. Cari tahu apa hubungan Cha Hong Jo dengan Seo Jang Ok.”

“Yang satu pegawai bank biasa, dan yang satunya Wakil Direktur sebuah perusahaan besar. Hubungan macam apa yang mereka miliki? Bahkan hanya membayangkannya saja, aku tidak bisa,” tukas Kyuhyun seraya menyandarkan punggungnya pada punggung kursi miliknya yang empuk.

“Itulah kenapa kita harus menggali masa lalu mereka. Jauh sebelum salah satu dari mereka menjadi wakil direktur seperti sekarang,” timpal Ryeowook.

“Tidak bisakah kita fokus saja pada Lee Sungmin sialan ini, hah? Bukankah bila kita langsung melompati semua yang harus kita cari tentang dua korban ini dan mengutamakan pencarian Lee Sungmin, tugas kita akan segera selesai?” Kyuhyun yang masih gemas dengan tersangka Lee Sungmin masih tetap pada pendiriannya untuk segera mencari keberadaan pria tersebut.

Hyukjae yang mendengar ucapan Kyuhyun langsung mendaratkan jitakan tepat di kepala Kyuhyun sambil berkata, “Kau ini bodoh atau bagaimana? Kita masih belum tahu siapa dia sebenarnya. Dengan menyelidiki hubungan antara Cha Hong Jo dan Seo Jang Ok, secara tidak langsung kita bisa mendapatkan informasi mengenai dirinya yang masih misterius. Setali tiga uang, kan? Sambil menyelam minum air? Pepatah apa lagi yang bisa kita gunakan untuk saat ini, hm?”

Kyuhyun mendesis kesal sambil mengusap kepalanya yang berdenyut. Ia juga tahu kalau timnya harus menyelidiki latar belakang dua korban tersebut karena bagaimanapun juga itu adalah tugas unit investigasi. Iya kan? Mereka tidak boleh melewatkan hal kecil yang sepele pun saat proses penyelidikan. Bisa jadi hal kecil itu berubah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk penyelidikan.

Tapi…..

“Aku hanya mencoba mencegah diriku menjadi gila di usia muda hanya karena kasus pembunuhan, Hyung. Sekarang aku tidak tahu apakah keputusanku menjadi salah satu anggota unit investigasi adalah benar atau salah. Haaah….., aku ingin berlarian menangkap pria cabul, pencuri di komplek perumahan sederhana, atau memarahi pelanggar lalu lintas seperti dulu,” keluh Kyuhyun dengan pelan sambil menerjunkan wajahnya ke atas meja kerjanya.

Tanpa disadari oleh semua anggota D-Team, seseorang sudah berdiri di balik pintu kantor D-Team yang terbuka sedikit. Orang itu sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu, dan itu artinya ia sudah mendengar semua yang dibicarakan D-Team.

Ekspresi orang tersebut cukup sulit diartikan. Mata gelapnya beralih ke sebuah dokumen yang ada di tangannya di mana terdapat sebuah tulisan pada bagian atas dokumen tersebut.

ARSIP KRIMINAL TAHUN 2008 – KASUS VENUS.

To be continued

 

 

Advertisements
Leave a comment

7 Comments

  1. Amylatul Rahayu

     /  October 21, 2015

    kasihan Jungra dia sama sekali tidak dihiraukan sama sekali oleh Hae. Aku cukup penasaran pas bagian awal waktu Henry cerita tentang sahabat itu, kenapa hati Hae jadi sakit waktu mendengarnya ? apa terjadi sesuatu antara Hae dan sahabatnya di masa lalu ?… Yang mendengarkan semua yang di bicarakan D-team di balik pintu itu, itu siapa ? apa dia Choi Siwon ? Di tunggu next partnya 😀

    Reply
  2. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

     /  October 22, 2015

    Henry kesepian 😦 atau dia khawatir pada kakaknya? Kasihan dia kurang perhatian 😦 oia, waktu Henry bicara tentang sahabat itu yang tiba-tiba membuat DongHae sedih, aku jadi ingat dengan scene awal di-part awal. PDua polisi pria itu adalah Dong Hae dan sahabatnya yang memutuskan berhenti jadi polisi kan. Hmmm…

    Reply
  3. inggarkichulsung

     /  October 22, 2015

    Apa itu kasus Venus di thn 2008, aigoo Donghae oppa Kyu oppa pdhl td sdh bertemu Sungmin oppa, smg Donghae oppa ingat bhw pria berambut pirang yg barusan ia temui di jalan yg menawarkan minum adl org yg sama yg mrk cari selama ini krn kasus pembunuhan yg membuat D-team pusing, D-team sdh bekerja keras dan kompak tp susah sekali menemukan Sungmin oppa dan kaitannya dgn pembunuhan 2 org tsb serta perampokan bank, Jung ra galak bgt pdhl Donghae oppa memang dtg ke kepolisian Gangnam krn ada urusan dgn pembunuhan seseorg yg td pagi br ditemukan, ditunggu bgt kelanjutannya Nita, daebak ff

    Reply
  4. wahh siapa itu yang ngintip di ruangan d team??
    Wkwkwk kalo mereka tahu minuman yang mereka minum itu dibeli dari seorang lee sungmin. Gimana ya ekspresi mereka? Kagetkah??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: