VENUS [Part 5]


VENUS 2

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Note :
Well,
karena baru bisa online dan dapat kabar kalau Abang Tower kesayangan a.k.a Abang Zhoumi saya bakal maen drama baru >.<
saya ingin berbagai kebahagiaan (?) dengan tetap mem-publish lanjutan VENUS yang tertunda satu bulan lebih ini :). 
Maklum saya wanita karier yang super sibuk hahaha.
Kalau lama nggak publish itu artinya saya lagi pusing bareng zhoumi buat bikin lanjutan ff ini hehehe. meski cuma fanfic, tapi kan temanya nggak sembarangan. action, mbak bro, harus research ke mana-mana dulu biar nggak aneh (walaupun hasilnya tetep aneh kayak gini)

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

Gangnam, 09.00 KST

Kantor Polisi Daerah Gangnam pagi ini tampak sedikit gaduh dibanding hari-hari biasanya. Sebenarnya sih di hari-hari sebelumnya memang selalu berisik, tetapi pagi ini sepertinya terlihat berbeda. Dan penyebabnya adalah lima orang pria paruh baya yang beberapa jam lalu tertangkap saat melakukan tindakan pencurian di sebuah toko perhiasan. Sejak satu jam yang lalu hingga sekarang mereka berlima seolah sedang bertarung dengan sepuluh polisi yang sedang menginterogasi mereka dalam hal berteriak. Suara dari pihak polisi dan pencuri tersebut…. benar-benar memekakkan telinga semua orang yang ada di ruangan.

“Kau bisa dihukum mati bila bicara bertele-tele seperti itu!”

Seorang polisi wanita berambut panjang baru saja melontarkan teriakan untuk kesekian kalinya pada salah satu pencuri yang duduk di depan meja kerjanya. Rambut coklatnya yang diikat sudah tampak berantakan padahal sejak tadi yang ia lakukan hanyalah duduk di depan layar laptopnya sambil menginterogasi pencuri tersebut.

“Kami hanya mencuri sepuluh perhiasan. Bagaimana bisa kami dihukum mati untuk kejahatan seperti itu? Kau jangan berlebihan……… Go… Jung… Ra. Go Jung Ra-ssi, ” balas pencuri yang berperawakan kurus tersebut setelah beberapa detik memandang ID Card yang menggantung di leher polisi wanita itu.

Go Jung Ra—ya, memang itu nama polisi wanita berparas cantik tersebut—meniup poni rambutnya yang berantakan. Kesabarannya sudah hampir habis—atau mungkin sudah habis.

“Aku sendiri yang akan menghukum mati dirimu, Ahjussi,” desis Jung Ra sambil mengetuk-ngetuk tepi laptopnya dengan gemas. Pria kurus yang ada di hadapannya ini…. astaga ingin rasanya ia berdiri dan menonjok wajah pria tersebut.

“Apa kau bilang?” tanya pencuri itu karena tidak mendengar dengan jelas ucapan Jung Ra.

“Kubilang aku sendiri yang akan menghukum mati—“

“Petugas Go.”

Panggilan seseorang sekejap menghentikan semua emosi yang sedang dikeluarkan Jung Ra. Dengan sepasang alis yang hampir menyatu, Jung Ra menoleh ke belakang, melihat ke arah orang yang baru saja memanggil namanya.

“Ada apa?” tanya Jung Ra dengan nada suara senormal yang ia bisa.

“Ada tawuran pelajar di dekat gedung kosong bekas pabrik kertas. Seseorang baru saja melaporkan kejadian itu dan dia menunggu kedatangan kita,” jawab rekan Jung Ra sambil menunjukkan kertas berisi alamat pasti tempat terjadinya tawuran tersebut.

“Apa tidak ada petugas lain yang bisa menangani tawuran tersebut? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?” desis Jung Ra.

“Pimpinan Park memintamu menangani tawuran tersebut. Beliau bilang, kau ahli dalam menangani masalah seperti ini. Jadi, lebih baik kau pergi saja ke sana. Biar aku yang mengurus orang itu.”

Seketika Jung Ra bangkit dari duduknya. Telunjuknya mengarah kepada pencuri yang duduk di depannya.

“Kau, urusan kita belum selesai, Ahjussi,” ucap Jung Ra bersungut-sungut sebelum menggebrak meja dan pergi begitu saja sambil merampas kertas yang ada di tangan rekan polisinya.

Kasus tawuran pelajar… untuk kesekian kalinya selama ia menjadi polisi sejak tahun 2010. Mungkin bila ia harus menghitung berapa jumlah kasus tawuran pelajar yang ia tangani, bisa saja jumlahnya ratusan lebih.

Katakan saja…, menjadi polisi di kantor polisi daerah seperti ini dan selalu berurusan dengan anak-anak sekolah yang bandel dan kurang ajar, Jung Ra harusnya mendapat penghargaan karena bisa saja semua murid sekolah yang ada di Gangnam mengenal dirinya.

“Akan kucincang mereka di tempat itu juga,” desis Jung Ra seraya mempercepat laju mobilnya yang diikuti oleh dua empat mobil polisi lainnya. Bunyi sirine polisi yang meraung-raung dari keempat mobil polisi tersebut cukup memudahkan Jung Ra dan petugas lainnya untuk segera sampai di tempat kejadian.

Tak sampai setengah jam mereka sudah sampai di depan komplek kedai makanan pinggir jalan dekat sebuah gang kecil. Jung Ra segera keluar dari dalam mobil dan berlari kecil ke arah gang.

“Apa ini tempatnya? Dan di mana orang yang kau bilang melaporkan kejadian tadi?” tanya Jung Ra setelah berhenti di depan gang sambil mengamati sekitar.

Belum sempat petugas yang ditanyai Jung Ra menjawab, terdengar derap langkah seseorang dari dalam salah satu kedai makanan yang ada di belakang Jung Ra. Derap langkah tersebut milik seorang pria berkulit bersih dan berambut pirang. Sebuah kacamata bertengger di tulang hidungnya yang mancung. Tangannya terangkat melambai pada Jung Ra.

“Kalian sudah datang?” ujarnya sambil mengulas senyum manis.

Untuk beberapa detik Jung Ra hanya memandang pria tersebut sebelum pada akhirnya ia yang membuat dirinya sendiri tersadar.

“Iya. Jadi…, di mana mereka?”

“Mereka tak jauh dari sini. Awalnya kukira mereka hanya bolos sekolah seperti biasa, tapi saat aku kebetulan lewat di depan gedung itu, kulihat mereka mulai berkelahi. Daripada nanti terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi, aku langsung saja melaporkan hal tersebut pada kantor polisi,” jawab pria tersebut yang kemudian hanya ditanggapi Jung Ra dengan anggukan kepala.

“Bisa kau tunjukkan tempatnya?”

“Ikut aku.”

Pria berjaket biru tersebut berlari kecil memasuki gang. Jung Ra pun dengan cepat mengintruksikan semua petugas yang ikut dengannya untuk mengikuti pria tersebut.

.

.

.

.

Bugh!

Brak! Brak!

Bugh!

Suara gaduh terdengar berulangkali dari arah samping sebuah gedung yang sudah tak dipakai lagi. Kayu-kayu yang sebelumnya bersandar di beberapa dinding lantai dasar gedung tersebut kini sudah berserakan di mana. Tak hanya itu, suara teriakan dan umpatan pun turut menghiasi.

Bruk!

Seorang pemuda terlempar keluar dari samping gedung dan tersungkur di tanah. Jas almamater berwarna biru tua milik Seung Ri High School yang dipakainya sudah sangat kotor. Bahkan name tag yang seharusnya ada di dada bagian kirinya pun entah jatuh di mana. Wajahnya berhias luka memar di beberapa bagian. Ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Namun, sepertinya itu sama sekali tak menghilangkan niatnya untuk membalas siapapun yang sudah berani membuatnya tersungkur dan terlihat seperti orang bodoh.

“Sial,” umpatnya pelan sambil menyeka darah yang ada di sudut bibirnya. Dengan sedikit sempoyongan ia berdiri dan berjalan kembali ke samping gedung. Tangannya meraih jas bagian belakang seorang pemuda seumurannya yang sedang menghajar temannya.

Bugh!

Ia berhasil mendaratkan tinjunya tepat di wajah pemuda bertubuh kurus tersebut hingga membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. Tawa puas pelan terdengar keluar dari mulutnya.

“Apa kau tadi yang melemparku ke sana, hah?”

Pertanyaan yang tidak perlu mendapatkan jawaban. Ya. Pemuda bermata sipit itu memang tidak perlu mendapatkan jawaban apapun dari orang yang baru saja dihajarnya itu. Ia hanya akan melontarkan satu pertanyaan itu saja, karena ia lebih memilih untuk melakukan hal yang sama seperti yang sedang dilakukan keempat temannya yang lain, yaitu berkelahi.

Ha, memang itu yang sejak lima belas menit lalu mereka lakukan dengan enam pemuda berseragam sama dengan mereka. Yeah…, dua kelompol pemuda yang sedang baku hantam itu adalah teman satu sekolah yang mempunyai hasrat untuk memukul wajah satu sama lain hanya karena masalah sepele. Dan pagi ini, masalah yang sedang mereka selesaikan dengan berkelahi seperti itu adalah bangku kantin sekolah yang mereka rebutkan kemarin.

Astaga….. anak jaman sekarang.

“Kau mau berlagak sok setelah menghajar temanku?”

Salah seorang pemuda yang tubuhnya lebih besar berhasil menangkap teman satu kelompoknya setelah kalah dari pemuda bermata sipit itu. Wajahnya yang tak jauh beda dengan pemuda bermata sipit itu terlihat sangat menyeramkan.

“Apa dia yang sudah melemparku ke sana tadi? Kalau bukan, ya maaf. Berarti aku salah pukul orang. Haaah, Bong Soo-ya, bahkan meski ini sudah tahun ke-tiga, aku masih belum bisa membedakan wajah teman-temanm itu. Mereka semua… ck…. terlihat sama,” ujar pemuda bermata sipit itu dengan santainya sambil berkacak pinggang. Sesekali ia melihat sekilas teman-temannya yang berteriak memanggilnya agar segera membantu mereka.

“Dasar brengsek kau!”

Pemuda bertubuh besar itu menyingkirkan temannya sendiri dan langsung menyerang pemuda bermata sipit tersebut. Namun, belum sampai ia berhasil memberikan hiasan luka lebam satu lagi di wajah lawannya, terdengar suara teriakan. Tak pelak hal tersebut mengejutkan semuanya. Mereka semua menolehkan kepala ke arah pintu gerbang gedung yang ada di samping gedung tersebut.

“Sial,” desis pemuda bermata sipit tersebut setelah menyadari orang-orang berseragam yang berdiri tak jauh darinya adalah polisi.

Kurang dari lima detik dua kelompok anak SMU tersebut langsung berusaha melarikan diri. Tak pelak pemandangan tersebut langsung membuat para petugas polisi—tak terkecuali Jung Ra yang sudah dibakar amarah—berlari mengejar mereka.

“Tangkap mereka semua! Jangan sampai ada yang lolos!” teriak Jung Ra yang perhatiannya tertuju pada pemuda bermata sipit tersebut. “Yaa, kau mau lari ke mana, hah?!”

“Yang benar saja? Seorang wanita sedang mengejarku?” gumam pemuda itu sambil berlari memasuki lantai dasar gedung guna menghindar dari kejaran Jung Ra.

Perlu waktu hampir sepuluh menit bagi Jung Ra untuk mengejar pemuda berseragam SMU itu di dalam lantai dasar gedung kotor tersebut. Yang membuat Jung Ra kesal adalah sepertinya bocah itu sengaja berlari memutari satu pilar ke pilar lain yang ada di lantai dasar tersebut agar ia merasa lelah.

Bayangkan saja seseorang seperti Go Jung Ra meskipun pekerjaannya adalah sebagai polisi, tetapi tetap saja ia adalah seorang wanita, harus berlari mengejar seorang anak laki-laki yang entah kenapa memiliki kecepatan lari mengerikan seperti itu.

Sumpah demi apapun, bila Jung Ra berhasil menangkap pemuda bermata sipit itu, ia akan langsung menghajarnya habis-habisan.

Bruk!

Well, sepertinya doa Jung Ra terkabul. Pemuda itu tersungkur ke lantai berdebu setelah sebelumnya tersandung sebuah kaleng soft drink yang entah datang dari mana. Jung Ra baru akan mempercepat laju larinya agar segera mendekat pada bocah itu, tetapi…

“Dia masih bisa berdiri?”

Jung Ra tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu masih bisa berdiri dan sepertinya kembali akan mengayunkan kakinya. Ini tidak bisa dibiarkan. Bila pemuda itu lolos dari kejarannya, bisa dipastikan Jung Ra akan menghancurkan isi kantor polisi tempatnya bertugas. Ia tidak akan peduli bila mendapat hukuman skors dari atasannya.

YAA! BOCAH TENGIK! KUBILANG BERHENTI! Eh…?”

Jung Ra yang baru saja memekik kencang, mencoba menghentikan pemuda itu terpaksa terheran-heran untuk yang kedua kalinya ketika tiba-tiba satu lagi kaleng soft drink melayang dengan cepat ke arah pemuda itu dan kurang dari hitungan tiga detik kaleng tersebut mengenai hidung pemuda itu.

“Aakkh!”

Akhirnya pemuda itu terduduk di tempatnya sambil memegangi lubang hidungnya yang keluar darah akibat kerasnya kaleng tersebut membentur hidungnya.

Langkah Jung Ra terhenti ketika mendapati seorang pria berambut pirang berdiri tak jauh dari mereka. Hanya berjarak beberapa pilar. Salah satu tangannya memegang kaleng soft drink dan sepertinya pandangannya tertuju sepenuhnya pada pemuda berseragam sekolah itu.

Mungkinkah dia yang tadi melempar kaleng-kaleng tersebut pada bocah sialan itu?

Dan…. Jung Ra terpaksa mengernyitkan keningnya ketika merasa tak asing dengan pria itu. Bukankah pria itu adalah orang yang ditemuinya di depan gang kecil tak jauh dari gedung ini? Dia orang yang melaporkan adanya tawuran pelajar ke kantor polisi Gangnam, kan?

Baiklah, Jung Ra memang bertanya-tanya akan hal tersebut, tetapi yang harus ia lakukan sekarang adalah segera meringkus bocah sekolah menyebalkan yang sudah membuatnya berlarian memutari lantai dasar gedung ini.

“Sekarang kau mau lari ke mana, Bedebah Kecil? Hah?” ujar Jung Ra sambil memborgol kedua tangan pemuda itu.

“Maaf. Aku…… tidak bermaksud untuk ikut campur.” Pria berambut pirang dan berwajah tampan itu menghampiri Jung Ra yang masih sibuk menjitaki kepala pemuda tersebut dengan gemas.

“Tidak apa-apa. Justru apa yang sudah kau lakukan sangat membantu kami. Anak-anak ini… sesekali memang harus dikasih pelajaran agar wajah tampan mereka…” Jung Ra menampar pelan wajah pemuda berseragam itu. “… tidak selamanya mulus seperti ini. Oh ya, kau bisa ikut dengan kami ke kantor polisi?”

“Hah? Untuk apa?”

“Jangan panik seperti itu. Kami hanya ingin kesaksian darimu. Kalau kau tidak melapor, mungkin mereka akan melakukan hal yang sama lagi di lain hari. Bagaimana?”

Pria berambut pirang itu menundukkan kepala sebentar untuk memandang kaleng soft drink yang ada di tangannya. “Tetapi….., aku masih harus mengantar beberapa kaleng soft drink pesanan pelangganku. Sejujurnya…, ini sudah terlambat hampir setengah jam dan aku takut dimarahi bosku. Kau tahu, bos jaman sekarang lebih mengerikan dibanding yang dulu. sekarang ini…, mereka lebih perhitungan dan mata duitan.”

Beberapa detik Jung Ra terdiam hingga akhirnya menyadari sesuatu.

“Ah, iya. Kau harus mengantar pesanan pelangganmu. Tapi aku akan tetap meminta kesaksian darimu, jadi…”

Seolah mengerti ucapan Jung Ra, pria berambut pirang itu segera merogoh saku celana jinsnya yang terlihat kotor, kemudian menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama dan nomor telepon.

“Kau bisa menghubungiku kapan saja. Saat itu juga aku akan segera datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksianku,” ujar pria tersebut.

“Lee… Sung… Jin?” gumam Jung Ra sesaat setelah membaca nama yang tertulis di kertas tersebut.

Aiish…, mau sampai kapan kita berdiri di sini, Bu Polisi? Kau tidak lihat sejak tadi aku mimisan? Aku bisa mati kehabisan darah di sini.”

Keluhan pemuda berseragam yang berhasil ditangkapnya membuat Jung Ra mengalihkan perhatiannya.

“Jadi, Lee Sung Jin-ssi, kau bisa……, eh, ke mana dia?”

Jung Ra menolehkan kepalanya ke sana kemari ketika menyadari sosok pria bernama Lee Sung Jin yang beberapa detik yang lalu memberikan kertas berisi nama dan nomor teleponnya, sudah menghilang.

“Dia sudah pergi dari tadi. Bukankah dia bilang dia sudah terlambat setengah jam mengantar pesanan pelanggannya?” sahut pemuda bermata sipit itu yang memandang geli ke arah Jung Ra yang memasang wajah bingung. Namun sedetik kemudian ia kembali mengaduh karena Jung Ra kembali mendaratkan jitakan tepat di kepalanya.

“Itu karena dia membantuku menangkap kalian semua! Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan di sini di jam pelajaran, hah?! Kau tahu, orang tua kalian susah payah membayar biaya sekolah agar anak mereka bisa menjadi anak yang pintar! Dan sekarang, lihat! Berkelahi? Huh, kalian punya otak tidak sih?!”

.

.

.

At Gangnam Office Police

“Nama?”

Jung Ra memberikan pertanyaan pada pemuda yang ditangkapnya sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sebut saja… beberapa baris kalimat formal sebagai pembuka proses interogasi.

“Kau terlihat cantik dengan rambut panjang, Bu Polisi. Jujur, kau bukan hanya cantik, tapi sangat cantik. Ada yang aneh sih, sepertinya kau cukup risih dengan rambut panjangmu.”

Bukannya menjawab pertanyaan Jung Ra, pemuda itu justru melontarkan perkataan yang sangat menyimpang dengan santainya. Bahkan ia sama sekali tak peduli dengan teman-temannya yang lain yang sedang diinterogasi petugas di lain meja. Mereka semua tampak ketakutan sampai harus terbata-bata menjawab setiap pertanyaan.

“Kuakui aku memang cantik dengan rambut panjangku. Tapi, benar katamu, aku memang cukup risih dengan rambut ini. Benar-benar risih sampai-sampai aku berniat untuk memotongnya seperti rambut laki-laki. Nama?”

Meski menanggapi ucapan pemuda itu dengan sama santainya, Jung Ra tetap akan mencoba mendapatkan nama pemuda tersebut—dengan berusaha menahan emosi sendiri tentunya.

“Apa kau tidak lelah memasang wajah menyeramkan seperti itu setiap hari? Kau tahu, wanita bila suka marah-marah, dia akan terlihat cepat tua. Kau tidak mau kan, kedua sudut matamu dihiasi keriput?”

“Keriput di sudut mataku sama sekali bukan urusanmu, Anak Muda. Toh, aku yang merasakannya, bukan dirimu. Nama?”

Lagi-lagi Jung Ra masih harus menahan rasa jengkel yang sebenarnya sudah memuai di dalam kepalanya. Menanggapi setiap perkataan bocah sialan yang duduk di hadapannya ini rupanya cukup menguras tenaganya sendiri.

Noona, jadi begini….”

“BERHENTI BERMAIN-MAIN, BOCAH TENGIK!!! DAN KAU BILANG APA TADI? NOONA?!! SEJAK KAPAN AKU MENJADI NOONA-MU, HAH?! AKU PERLU NAMAMU! KAU PUNYA NAMA, KAN?! SEHARUSNYA KAU TINGGAL MEMBERITAHU NAMAMU SAJA, BUKANNYA MEMBAHAS MASALAH RAMBUT PANJANG DAN KERIPUT DI MATAKU!!”

Selesai sudah. Benteng yang coba Jung Ra bangun agar emosinya tak keluar pun hancur. Pemuda bermata sipit ini…. astaga…., benar-benar… menyebalkan! Jung Ra sama sekali tak peduli semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya karena teriakan-teriakan semacam itu memang sudah sering ia keluarkan ketika ia sedang menginterogasi tersangka tindak kriminal yang berhasil ditangkapnya. Dan untuk kasus yang satu ini, pemuda bermata sipit penyebabnya.

“Henry. Henry Lee, itu namaku.”

Pada akhirnya pemuda yang rupanya bernama Henry itu memberitahu namanya setelah membuat Jung Ra seperti wanita gila.

Jung Ra berdehem keras dan menghela napas panjang, seolah berusaha mengembalikan dirinya menjadi Go Jung Ra yang normal dan tenang, serta bersikap seperti polisi yang profesional.

“Jadi, Henry-ya, di mana orang tuamu?” tanya Jung Ra dengan nada suara yang stabil.

“Mereka tinggal di Kanada. Kau tidak perlu repot-repot menghubungi mereka, karena…. penerbangan Kanada-Korea cukup lama,” jawab Henry dengan santai sambil memainkan tempat pensil yang ada di depannya.

“Apa kau punya wali murid yang tinggal di sini?”

Henry hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Berikan aku nomornya,” ucap Jung Ra seraya mengangkat gagang telepon yang ada di dekatnya.

“Untuk apa? Kenapa kau meminta nomor waliku? Bukankah seharusnya kalian menghubungi sekolah?” tanya Henry santai.

“Itu petugas lain. Kalau aku, aku akan langsung menghubungi orang tua atau wali muridmu karena kau sangat spesial. Berikan nomornya!”

Selama lima detik, Jung Ra hanya mendengar nada sambung dari nomor telepon yang diberikan Henry. Dan sudah cukup menjengkelkan bagi Jung Ra.

[Yeoboseo?]

Diterima!

Yeoboseo. Ini dari Kantor Polisi Gangnam dan…”

[Hah, Kantor Polisi Gangnam?]

“Iya. Ini dari Kantor Polisi Gangnam. Apa saya sedang berbicara dengan wali muridnya Henry Lee?”

[Hen-Henry Lee?]

Jung Ra meniup poni rambutnya kesal. Kenapa orang ini selalu mengulang pertanyaanya? Dan ini sudah dua kali pula.

[Eeee…., iya. Saya wali muridnya Henry Lee. Tapi kalau boleh tahu…, kenapa Henry bisa sampai ada di Kantor Polisi Gangnam?]

oOo

Hyukjae meletakkan setumpuk kertas berisi daftar sebagian penduduk Seoul yang bernama Lee Sungmin ke atas meja Donghae. Wajahnya terlihat cukup lelah, padahal biasanya ia selalu terlihat segar dan rapi.

“Mereka semua…, maksudku pria-pria berbagai macam umur yang memiliki nama Lee Sungmin, sama sekali tidak memiliki riwayat melakukan operasi plastik total pada wajah mereka. Dan juga…”

“Apa kau yakin sudah memeriksa data mereka semua?” potong Donghae sambil mendongakkan wajahnya ke atas untuk memandang Hyukjae.

“Jangan memandangku dengan mata anak anjingmu itu, Lee Donghae. Ini sudah keterlaluan, tahu tidak.” Hyukjae menghenyakkan diri di atas kursi yang ada di depan meja Donghae sambil melonggarkan dasinya.

“Supaya lebih mudah, seharusnya kau mengumpulkan data pria bernama Lee Sungmin yang usianya sekitar 30 tahunan karena buronan kita berusia 30 tahunan. Dengan begitu kau tidak akan kesulitan,” ucap Donghae ringan sembari memeriksa hasil informasi yang didapat Hyukjae.

Yaa, apa kau sudah pernah mencoba menghitung berapa jumlah orang bernama Lee Sungmin di Korea Selatan?” tandas Hyukjae malas sambil menunjuk-nunjuk kertas yang dipegang Donghae. “Mereka tidak hanya sepuluh atau dua puluh orang, Detektif Lee. Bisa ratusan, atau bahkan ribuan. Bahkan Komisaris Ahn pun tidak akan pernah bisa melakukannya.”

Donghae baru akan menanggapi perkataan Hyukjae ketika pintu ruangan tim mereka terbuka dan Kyuhyun muncul dari balik pintu tersebut.

“Selamat pagi, semuanya. Kalian mau kopi?” ujar Kyuhyun seraya meletakkan dua kopi yang memang sengaja ia beli untuk kedua rekan satu timnya tersebut. “Di mana Ryeowook?”

“Masih berusaha memeriksa tanda pengenal karyawan milik Lee Sungmin,” jawab Hyukjae sambil meraih kopi yang baru saja diletakkan Kyuhyun di atas meja Donghae dan langsung menyesapnya.

Aigoo…, anak itu. Sudah kubilang tidak ada gunanya terus memeriksa benda itu. Yang kita butuhkan sekarang adalah wajah baru Lee Sungmin dan…,” Kyuhyun menghentikan ucapannya ketika perhatiannya terarah pada tumpukan kertas di hadapan Donghae. “Hyung, kau yakin mau melakukan itu?”

“Kau berpikiran sama denganku kan, Cho Kyuhyun?”

Pertanyaan Hyukjae mendapat anggukan kepala dari Kyuhyun. Memang untuk hal yang satu itu, dua polisi muda ini memiliki jalan pikir yang sama. Untuk mencari tahu informasi terbaru mengenai pembunuh Cha Hong Jo yang bernama Lee Sungmin, sepertinya akan sangat sulit bila mereka harus mengumpulkan data warga sipil Seoul atau bahkan hingga satu negara ini yang bernama Lee Sungmin, kemudian memeriksanya satu per satu.

Ya, benar. Satu per satu.

“Tidak peduli bila harus memakan waktu lama untuk memeriksa ini semua,” bantah Donghae yang bersikeras dengan pemikirannya.

Hyukjae berdecak pelan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi sambil meminum kopi pemberian Kyuhyun.

“Aku tersentuh, Hyung. Tapi bisa saja Lee Sungmin ini sukses membunuh satu orang lagi di saat kau sibuk dengan daftar-daftar itu di mejamu. Itupun kalau benar Lee Sungmin ini benar-benar yang membunuh Cha Hong Jo dan berniat membunuh lagi. Bahkan sampai sekarang pun aku sudah seperti orang gila memikirkan alasan Lee Sungmin membunuh Cha Hong Jo. Kita benar-benar tidak memiliki satu petunjuk kuat untuk penyelidikan kasus ini,” ujar Kyuhyun.

Donghae dan Hyukjae saling pandang untuk beberapa detik. Ucapan Kyuhyun tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka memang tidak memiliki apa-apa selain tanda pengenal karyawan milik Lee Sungmin dan foto lama pria tersebut.

Tok! Tok! Tok!

Ketiga polisi tersebut menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan beberapa kali. Seorang petugas muncul dari balik pintu tersebut.

“Lee Donghae-ssi, Kapten Tan mencarimu. Kau disuruh segera datang ke ruangannya,” kata petugas tersebut sebelum keluar dari ruangan D-Team.

“Akhir-akhir ini kau sering keluar-masuk ruangan Hankyung Hyung. Aku jadi cemburu, padahal aku kan adiknya,” seloroh Kyuhyun yang melihat Donghae bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.

“Semakin hari, aku semakin ragu kau adalah adiknya. Bahkan aku juga ragu kau adalah adik tirinya. Karena sekarang yang kulihat, justru Donghae-lah yang sangat mirip dengan Hankyung Hyung. Mereka berdua…. sama-sama tidak bisa tersenyum. Apa mereka memiliki kelainan otot di area bibir mereka?”

Kyuhyun hanya melirik ketus ke arah Hyukjae yang terkekeh puas.

Drrrrt…. drrrrt….

Perhatian kedua polisi tersebut teralihkan pada sebuah ponsel di atas meja Donghae yang bergetar. Yang jelas ponsel tersebut bukan milik Kyuhyun ataupun Hyukjae. Dan itu artinya…

Eo? Anak itu meninggalkan ponselnya?” gumam Hyukjae seraya mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel tersebut dan melihat siapa yang mencoba menghubungi nomor ponsel Donghae. “Aku seperti mengenal nomor ini…”

“Memangnya dari siapa?” Kyuhyun yang penasaran pun menghampiri Hyukjae dan ikut memandang deretan nomor yang tertera di layar ponsel Donghae tersebut.

“Aku pernah melihat nomor ini, tapi….”

“Kau tidak berniat menerimanya? Apa kau hanya akan memandangi ponsel itu seperti orang tolol?”

Hyukjae mendesis kesal mendengar Kyuhyun menyebutnya tolol.

Yeoboseo?”

Akhirnya Hyukjae pun menerima telepon dari siapapun itu sambil menjitak kepala Kyuhyun.

[Yeoboseo. Ini dari Kantor Polisi Gangnam dan…]

“Hah? Kantor Polisi Gangnam?” Hyukjae membelakakkan kedua matanya sambil menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya dan memandangi layar ponsel tersebut untuk beberapa detik.

[Iya. Ini dari Kantor Polisi Gangnam. Apa saya sedang berbicara dengan wali muridnya Henry Lee?]

“Hen-Henry Lee?”

Well, bukan salah Hyukjae bila Hyukjae terkejut setengah mati seperti itu. Nama yang baru saja didengarnya memang harus mendapat reaksi seperti itu darinya.

“Henry Lee? Maksudmu Henry? Yaa, Hyukjae Hyung, kenapa Henry ada di Kantor Polisi Gangnam? Siapa yang menelpon itu?” tanya Kyuhyun yang memberikan reaksi serupa seperti Hyukjae setelah mendengar nama Henry dari penelpon tersebut.

“Eeee…., iya. Saya wali muridnya Henry Lee. Tapi kalau boleh tahu…, kenapa Henry bisa sampai ada di Kantor Polisi Gangnam?” tanya Hyukjae pada penelpon tersebut.

[Jadi begini, bocah sialan ini…, maksud saya, anak bernama Henry ini terlibat tawuran dengan teman-teman sekolahnya di jam sekolah. Saya harap Anda bisa datang ke kantor polisi sekarang juga.]

“Baiklah. Saya… akan segera datang ke sana.”

Hanya itu yang diucapkan Hyukjae sebelum mengakhiri pembicaraan di ponsel Donghae dengan seorang polisi wanita dari Kantor Polisi Gangnam tersebut. Untuk beberapa saat ia memejamkan mata sebelum menghela napas panjang.

“Kenapa? Apa yang terjadi? Hyung?” Kyuhyun masih saja meminta penjelasan Hyukjae karena sejak tadi ia hanya berdiri seperti orang bodoh.

“Hapus riwayat telepon dari Kantor Polisi Gangnam itu dari ponsel Donghae dan ikut aku ke sana,” ujar Hyukjae seraya melempar ponsel Donghae pada Kyuhyun dan langsung menyambar jaket hitam yang ia letakkan di punggung kursinya.

“Memangnya kenapa? Yaa, Hyukjae Hyung, katakan padaku apa yang terjadi pada anak itu?” tanya Kyuhyun sembari melakukan apa yang dipinta Hyukjae tadi.

“Henry terlibat tawuran dan sekarang ia dan teman-temannya berada di kantor polisi Gangnam.”

“Hah?”

“Dua bersaudara itu sangat aneh. Kakaknya sangat susah disuruh tersenyum, sedangkan bocah ini sukanya tersenyum lebar seperti orang gila dan hobi menghajar anak orang,” desis Hyukjae kesal sambil berjalan cepat ke arah pintu.

.

.

.

At Gangnam’s Police Office

Noona, apa aku boleh minta air minummu? Minuman dingin yang diberikan petugas tadi sudah habis, dan sekarang aku haus lagi,” pinta Henry dengan suara pelan sambil menunjuk botol air mineral yang ada di dekat tangan Jung Ra.

Jung Ra yang sedang sibuk menuliskan laporan di laptopnya harus kembali menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Noona? Apa bocah sialan ini sudah bosan dengan hidupnya?

Tanpa berkata apa-apa, Jung Ra langsung meletakkan botol air mineral miliknya tepat di depan Henry dengan keras. Setelah itu ia kembali fokus pada pekerjaannya, sama sekali tak peduli dengan tingkah Henry yang kesulitan membuka tutup botol tersebut hingga menimbulkan suara yang mengganggu telinganya.

Yaa, kau ini benar-benar…. bisa diam tidak?” Jung Ra menatap Henry tajam.

Seolah tak merasa bersalah, Henry menunjukkan botol air mineral yang ada di tangannya dan berkata, “Kurasa aku kesulitan membuka tutupnya. Kau tahu kedua tanganku sedikit…. ani, maksudku, sangat nyeri dan susah digerakkan. Dan kesepuluh jari tanganku terasa kaku karena terlalu banyak memukul mereka, jadi….”

Tiba-tiba Jung Ra merampas botol tersebut dari tangan Henry dan langsung membuka tutupnya dengan gaya yang cukup dramastis untuk ukuran seseorang yang hanya membuka tutup botol air minum.

“Kau ini laki-laki atau bukan?” desis Jung Ra sambil memberikan kembali botol tersebut pada Henry.

“Beberapa bulan lagi aku akan menjadi laki-laki. Karena status pelajarku, semua orang menyebutku anak laki-laki, jadi…. eeee… aku akan meminum air ini. Terima kasih sudah membuka tutupnya,” Henry yang berniat bicara panjang lebar mengenai status “laki-laki” yang masih belum bisa ia dapatkan hingga sekarang akhirnya memutuskan untuk segera meminum air tersebut ketika melihat perubahan raut wajah Jung Ra.

Henry mengedarkan pandangannya untuk yang kesekian kalinya pada ruangan luas yang berisi banyak meja kerja petugas polisi tersebut. Ada sekitar empat atau lima kamera CCTV yang terpasang di beberapa sudut ruangan ini. Beberapa petugas polisi yang tadi menginterogasi teman-teman sekolahnya terlihat berjalan ke sana kemari sambil membawa beberapa kertas. Tak hanya itu. Terlihat enam petugas polisi berlari melintas di depan ruangan ini sambil berteriak satu sama lain agar mempersiapkan diri karena mereka akan menangkap seorang pria cabul yang menjadi buronan. Namun, yang membuatnya membelalakkan mata dan tersenyum lebar adalah dua sosok pria yang terlihat setelah polisi-polisi itu menghilang dari depan ruangan.

Eo?! Kalian datang!” serunya sambil berdiri dan melambaikan tangannya.

Jung Ra terpaksa menoleh ke arah pintu dan melihat dua orang pria berjalan beriringan masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang sulit ia artikan. Salah satu dari mereka berpostur lebih tinggi dengan rambut gelap yang sedikit berantakan. Wajahnya…. cukup tampan. Sedangkan yang satunya berpostur lebih pendek, berahang tegas dan bermata tajam. Dibanding dengan pria tinggi yang sebelumnya, ia memiliki tatanan rambut yang cukup rapi. Mungkin ia termasuk orang yang suka memperhatikan penampilan.

Apakah Jung Ra sedang menunggu kedatangan dua pria ini? Maksudnya…, ia memang sedang menunggu wali murid Henry, tapi apa benar mereka berdua?

Baiklah, Jung Ra harus segera menyudahi kekaguman konyol pada kedua pria tersebut karena ada sesuatu yang lebih penting dari itu.

“Selamat datang,” sapa Jung Ra dengan nada yang tegas namun tidak menghilangkan kesan sopan.

“Eee…, kami….”

“Aku mendapat kabar bahwa anakku terlibat tawuran dengan teman sekolahnya,” Hyukjae memotong Kyuhyun yang berniat mengucapkan sesuatu pada Jung Ra.

“Iya. Dia anakku juga. Eee…., berarti…, dia anak kami, jadi… kami berdua kemari untuk….” Kyuhyun tak jadi melanjutkan kata-katanya, hanya menggumam tidak jelas sambil merangkul bahu Hyukjae.

Jung Ra…., wanita berkulit bersih ini dibuat kebingungan dengan perkataan dua pria yang berdiri di hadapannya. Tak hanya pada perkataan mereka, ia juga dibuat kebingungan dengan gelagat mereka.

Ada dua orang pria berwajah cukup tampan yang menyebut pemuda bernama Henry yang sedang berdiri di belakangnya sebagai anak mereka. Kemudian mereka berdua bertingkah aneh seperti sepasang…. astaga, apakah yang baru saja terlintas di pikiran Jung Ra benar adanya?

“Kau bilang orang tuamu di Kanada,” ujar Jung Ra pelan pada Henry dengan wajah datar. Henry hanya mengangkat kedua alis matanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Oh, ja…. jadi kalian tidak sedang berada di Kanada seperti yang dikatakan anak ini. Dan… kupikir orang tua yang dimaksud Henry adalah seorang ayah dan seorang i…..bu dan….”

“Kami sudah seperti ayah dan ibu baginya,” potong Kyuhyun sambil tersenyum lebar dan mendapat anggukan kepala dari Hyukjae.

Canggung. Itulah yang dirasakan Jung Ra saat ini. Maka dari itu ia langsung melesatkan diri di belakang meja kerjanya dan mempersilahkan “kedua orang tua” Henry untuk duduk di samping Henry agar mereka bisa memulai pembicaraan.

“Begini, orang tua Henry, kami…” Jung Ra kehabisan kata-kata. Entah kenapa ia merasa sangat tidak nyaman dengan kursi yang didudukinya saat ini, ditambah dengan ekspresi dua pria yang begitu serius menantinya berbicara.

“Sebenarnya saya tidak ingin ikut campur, tapi sebagai orang yang sama-sama sudah dewasa dan mengerti banyak hal, saya rasa Anda berdua harus memberikan perhatian yang lebih pada anak Anda, Henry. Saya tahu kehidupan setelah pernikahan itu sangat sulit, tak terkecuali dengan pernikahan kalian berdua yang…”

“Pernikahan?”

“Pernikahan?”

Spontan Kyuhyun dan Hyukjae mengajukan pertanyaan yang sama ketika mendengar ada kata-kata yang aneh keluar dari mulut Jung Ra. Alasan sederhana : mereka berdua terkejut. Ya, terkejut. Itu jelas terbaca dari raut wajah mereka berdua.

Berbeda dengan ketiga “orang dewasa” yang sedang saling pandang satu sama lain karena harus mencoba mencerna situasi aneh di antara mereka, Henry justru berusaha menahan tawa dari balik tangannya yang ia gunakan untuk menutup mulutnya. Pemuda…. atau mungkin lebih tepatnya anak laki-laki ini, bisa membaca keadaan dengan cepat.

Tampaknya ada kesalahpahaman kecil yang sangat konyol di sini.

“Iya. Bukankah kalian adalah pasangan suami…” Jung Ra menghentikan kata-katanya untuk beberapa detik karena harus mencari kata yang lebih tepat. “…maksudku, pasangan yang sudah terikat dengan pernikahan dan kalian mengadopsi Henry, mungkin, sebagai anak, lalu tanpa kalian tahu, Henry tidak terlalu kalian perhatikan dan akhirnya menjadi anak bandel sampai suka berkelahi dengan temannya di jam pelajaran di luar sekolah, karena itu dia—“

“Woah, woah, woah! Tunggu! Tunggu dulu!” Hyukjae harus berseru pada Jung Ra karena ia menyadari ada sesuatu yang harus diluruskan.

“Kau salah paham…..,eee……,” Kyuhyun mencoba melihat ID Card yang tergantung di leher Jung Ra. “… Go Jung Ra-ssi. Iya, kau salah paham. Salah paham.”

“Iya. Salah paham,” tambah Hyukjae sambil menganggukkan kepalanya dengan mantab.

“Tidak ada pernikahan.”

“Sama sekali tidak ada.”

“Kami bukan pasangan yang terikat pernikahan.”

“Sama sekali bukan.”

“Kami juga bukan pasangan yang seperti kau pikirkan.”

“Sama sekali bukan.”

“Kami tidak pernah mengadopsi bocah sialan ini.”

“Sama sekali,” tambah Hyukjae untuk yang kesekian kalinya tiap Kyuhyun mencoba menjelaskan semua pada Jung Ra.

Jung Ra mengerjap-ngerjapkan kedua matanya beberapa kali mendengar Kyuhyun dan Hyukjae saling menyahut satu sama lain di depannya. Ya, memang ada kesalahpahaman di sini, dan Jung Ra baru menyadarinya. Maka dari itu, ia hanya bisa tertawa datar, membodohi dirinya sendiri di dalam hati karena sudah menyimpulkan hal-hal aneh dengan lantang pada mereka. Dilihatnya Henry hanya mengangguk-anggukkan kepala ke arahnya, seolah berkata “Iya, aku tahu, Noona. Aku tahu kalau kau sangat malu saat ini.”

“Ba-baiklah. Ahahahaha, maafkan saya atas kekeliruan saya tadi. Anda tahu kan, sebagai seorang polisi yang setiap hari berurusan dengan anak-anak sekolah yang bandel dan kurang ajar, saya sedikit frustasi,” Jung Ra mencoba meminta maaf pada Kyuhyun dan Hyukjae. Ia bisa merasakan wajahnya memanas saking malunya.

“Tidak apa-apa. kami bisa memakluminya,” ujar Hyukjae, ikut tertawa lebar seperti Kyuhyun.

“Kalau begitu, Anda berdua adalah wali murid Henry?” tanya Jung Ra setelah beberapa saat mencoba menstabilkan situasi.

“Iya. Nama saya Lee Hyukjae dan ini Cho Kyuhyun, kami….”

“Lee Hyukjae dan Cho Kyuhyun?” potong Jung Ra tiba-tiba, seakan ia pernah mendengar nama itu. Hanya saja ia lupa kapan dan di mana.

Tunggu sebentar! Sepertinya Jung Ra teringat sesuatu.

“Cho Kyuhyun dan Lee Hyukjae? Apa kalian berdua adalah polisi?” tebak Jung Ra.

“Iya. Kami polisi dari Kepolisian Pusat. Lebih tepatnya dari Unit Investigasi Kriminal,” jawab Kyuhyun sambil menunjukkan ID Card miliknya yang sejak tadi ada di dalam saku kemejanya.

“Dan bocah ini adalah adik dari teman satu tim kami. Dia tidak bisa datang, jadi kami berdua yang kemari. Maafkan adik kami karena sudah membuat keributan,” sahut Hyukjae.

Jung Ra menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada kursi yang sejak tadi didudukinya. Ia memandang Kyuhyun dan Hyukjae bergantian sebelum mengeluarkan tawa kecil yang membuat kedua pria tersebut mengernyitkan kening.

“Ternyata kalian berdua?”

Mendadak Jung Ra menghilangkan bahasa formal yang sejak tadi ia gunakan setelah mengetahui siapa Kyuhyun dan Hyukjae. Masih terkekeh pelan seolah sedang bertatap muka dengan dua orang badut, Jung Ra meraih kertas memo kecil dan menuliskan sesuatu di sana.

“Berikan ini pada kakaknya dan beritahu dia untuk segera menemuiku di sini,” ujar Jung Ra seraya memberikan kertas tersebut pada Hyukjae.

“Di sini?” tanya Hyukjae.

“Iya, di sini. Di Kantor Polisi Gangnam. Aku harus melakukan prosedur resmi, tidak peduli meski kakaknya adalah seorang polisi dari Kepolisian Pusat,” jawab Jung Ra santai.

“Tapi…, tunggu sebentar…, apa kita pernah bertemu? Kenapa kau seperti sudah mengenal kami?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Aku tidak mengenal kalian secara langsung. Aku hanya mendengar nama kalian dari… gosip yang beredar di kalangan polisi di kantor ini tentang kasus perampokan tujuh bulan lalu di…”

“Ya, ya, ya. Kami mengerti sekarang, kau tidak perlu melanjutkannya,” cela Kyuhyun setelah tahu akan ke mana arah ucapan Jung Ra. Gosip tentang gagalnya salah satu tim di Unit Investigasi Kriminal dari Kepolisian Pusat saat mereka berusaha menangkap kawanan perampok di Center Bank. Apa lagi coba? Mungkin gosip ini sudah menjadi rahasia umum mengingat tak hanya di lingkungan Kepolisian Pusat saja berita ini dibicarakan. Bahkan kantor polisi daerah di Gangnam ini saja sudah mengetahui akan hal tersebut. Menyedihkan sekali.

.

.

.

“Apa polisi jaman sekarang suka bergosip? Apa mereka tidak ada pekerjaan lain, hah?” Hyukjae masih saja mengomel meski ia, Kyuhyun dan Henry sudah berada di dalam mobil dan sedang melaju di tengah jalan raya bersama kendaraan yang lain.

“Semua orang yang membicarakan tim kita juga tidak bisa disalahkan,” tandas Kyuhyun sambil memandangi mobil-mobil lain yang mendahului mobil mereka.

Suasana di dalam mobil menjadi sunyi setelah Kyuhyun berkata seperti itu. Dua polisi tersebut larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sedangkan Henry yang duduk di jok belakang justru terlihat serius membaca lembar tiap lembar kertas-kertas yang berisi beberapa hal yang berkaitan dengan penyelidikan kasus pembunuhan Cha Hong Jo dan informasi mengenai Lee Sung Min.

Hyung, tim kalian mendapatkan kasus pembunuhan untuk pertama kalinya, ya?” tanya Henry sesaat kemudian tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ada di tangannya.

Dengan cepat Kyuhyun memutar tubuhnya ke belakang untuk melihat apa yang sedang dilakukan Henry.

“Jadi, karena itu Donghae Hyung tidak pulang beberapa hari ini?” Henry kembali bertanya, kini matanya bergerak memandang Kyuhyun.

Yaa! Jangan sentuh kertas-kertas itu! Kau tidak tahu kalau semua itu barang penting, hah?! ” bentak Kyuhyun.

Bentakan Kyuhyun nampaknya sama sekali tak berguna bagi Henry.

“Aku sudah menyentuhnya sejak kita keluar dari gerbang Kantor Polisi Gangnam. Dan kalau ini semua penting, kenapa menaruhnya sembarangan?” balas Henry ringan.

Kyuhyun hanya mendesis kesal sambil kembali menghadap ke depan. Ia memang tahu berdebat dengan bocah seperti Henry hanya akan membuatnya kesal.

“Itu memang kasus pembunuhan pertama yang kami tangani. Hyung-mu dan kami bekerja sangat keras untuk menyelidiki kasus itu,” kata Hyukjae pelan.

“Apa karena orang ini?” Henry menunjukkan copy-an foto lama Lee Sungmin.

“Yeah…,” hanya itu jawaban yang diberikan Kyuhyun.

“Dan daftar nama orang-orang bernama Lee Sungmin ini……, jangan bilang ini adalah perintah Donghae Hyung?” tebak Henry sambil terkekeh.

“Lebih tepatnya, perintah Ryeowook atas kesepakatan sepihak Donghae dan dia,” sahut Hyukjae malas.

“Pantas saja tim kalian bernama D-Team,” gumam Henry yang ternyata didengar oleh Kyuhyun dan Hyukjae.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun.

Henry menunjukkan kertas berisi sebagian daftar nama warga sipil yang memiliki nama Lee Sungmin.

“Buronan yang sedang kalian incar ini, dia bisa saja mengganti identitasnya, kan?”

Mendadak Hyukjae membanting stir ke kiri dan menepikan mobil ke pinggir jalan. Dengan cepat ia menoleh ke arah Henry setelah mobil berhenti.

“Bicara yang jelas,” ucap Hyukjae yang tertarik dengan perkataan Henry.

“Jadi, begini, Hyung.” Henry menaikkan semua kakinya ke atas jok.. “…, bila aku memainkan sebuah drama action dan berada di posisi buronan yang sedang dicari polisi, aku tidak akan merasa aman meski aku sudah mengoperasi total wajahku dan mengubah penampilanku. Maka dari itu, aku bisa saja memusnahkan semua informasi identitas tentang diriku di masa lalu dan membuat identitas baru. Dengan kata lain…”

“Nama baru. Semuanya baru dari mulai wajah hingga nama.”

Henry bertepuk tangan seperti anak kecil, membenarkan ucapan Kyuhyun.

Tetapi, sepertinya apa yang dikatakan Henry bukanlah sesuatu yang disebut petunjuk bagi Hyukjae dan Kyuhyun, meski kini ada pemikiran baru di dalam kepala mereka. Itu terlihat jelas karena tiba-tiba kedua polisi itu menundukkan kepala mereka sambil menghela napas berat.

Ya, ini bukan petunjuk, melainkan satu lagi jalan buntu.

“Kyuhyun-ah, bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Rasanya aku ingin muntah,” ucap Hyukjae pelan.

oOo

Suara deru motor yang dikemudikan seseorang terdengar berhenti di depan sebuah minimarket yang buka 24 jam. Seorang pria berjaket putih turun dari motor berhias sebuah kotak di atas jok belakangnya tersebut sambil melepas helm berwarna hitam. Helaan napas panjang terdengar dari orang tersebut ketika ia mengenakan topi berwarna senada dengan jaketnya, menutupi rambut pirangnya. Kakinya terayun melangkah masuk ke dalam minimarket.

“Kau baru kembali, Sung Jin-ah,” ucap pemilik minimarket ketika melihatnya masuk.

Pria yang dipanggil Sung Jin oleh pemilik minimarket tersebut hanya tersenyum simpul sambil meletakkan setumpuk nota kecil ke atas meja kasir.

“Apa ada pesanan mendadak?” tambah pemilik minimarket setelah melirik sekilas ke arah jam dinding yang menggantung di dinding dekat lemari pendingin.

“Tadi pagi saat mengantar pesanan ada sedikit masalah, jadi ada beberapa pelanggan yang minta pesanannya dikirim malam,” jawab Sung Jin sambil menghitung uang hasil pengiriman soft drink pesanan beberapa pelanggan.

“Memangnya apa yang terjadi?”

“Aku harus membantu beberapa polisi untuk menangkap anak-anak sekolah yang berkelahi.”

“Kau membantu polisi?”

Sung Jin hanya menganggukkan kepala sebelum melepas jaket putihnya dan menggantungnya ke gantungan baju yang ada di belakang bosnya.

“Saat aku mengantar pesanan, aku tak sengaja melihat beberapa anak sekolah berkelahi. Aku langsung lapor saja ke kantor polisi. Tapi ada polisi yang kesulitan menangkap salah satu dari anak itu, makanya aku membantunya sebentar,” jawab Sung Jin sambil mengambil lap meja dan mulai mengelap dua meja pengunjung yang ada di dalam minimarket tersebut.

Pemilik minimarket tersebut mendengus pelan sebelum berkata, “Hei, Anak Muda, untuk apa kau membantu mereka? Sudah menjadi tugas mereka menangkap anak-anak bandel itu. Jangan terlalu baik jadi orang.”

Sung Jin hanya merespon ucapan bosnya dengan senyuman.

“Sudahlah, jangan membersihkan meja itu lagi, toh nanti orang-orang yang akan duduk di sana pasti akan mengotorinya. Kau pulang saja dan istirahat. Dan ngomong-ngomong, kau jangan pernah mengganti warna rambutmu ya. Rambut pirangmu membuat tempatku ramai dengan pengunjung,” kata pemilik minimarket, menunjuk rambut Sung Jin yang memang membawa hoki bagi usahanya. Sebut saja…, paduan rambut pirang dan wajah tampan Sung Jin membuat jumlah wanita yang datang ke sini meningkat.

Sung Jin hanya tertawa kecil sambil naik ke lantai atas untuk mengambil tas hitam miliknya. Setelah berpamitan pada bosnya, ia lantas keluar dari minimarket.

.

.

.

.

Suasana tengah malam yang dingin dan cukup sunyi membuat orang-orang yang menghuni sebagian flat sederhana di sebuah gedung kumuh di daerah pinggiran Gangnam enggan untuk keluar. Selain itu pula, tak ada hal menarik yang bisa mereka lihat di luar gedung karena minimnya penerangan di area sekitar gedung.

Tak terkecuali dengan Lee Sung Jin yang sepuluh menit lalu baru saja masuk ke dalam flatnya. Ya, pria berambut pirang yang bekerja di minimarket sebagai pengantar pesanan minuman kaleng tersebut memang tinggal di salah satu flat yang ada di gedung kumuh tersebut. Bila penghuni yang lain masih harus membayar uang sewa pada pemilik gedung, Sung Jin hanya harus memastikan tempat tinggalnya bersih terawat tanpa pusing memikirkan uang sewa. Itu karena flat yang sekarang ditinggalinya adalah milik bosnya. Sebut saja…., bosnya cukup baik hati menyuruhnya untuk menempati flat tersebut daripada dirinya tidur di jalanan.

Drrrt….drrrt….drrrrt….

Ponsel milik Sung Jin yang tergeletak di atas meja makan usang bergetar. Membuat Sung Jin yang sibuk menikmati sekaleng bir dingin di dekat lemari pendingin harus menolehkan kepalanya ke arah meja makan. Diambilnya ponsel tersebut dan dilihatnya seseorang dengan nama kontak “ORANG ITU” sedang menghubunginya.

Untuk beberapa detik Sung Jin hanya memandangi layar ponselnya sebelum akhirnya ia menerimanya.

“Ya?”

[Target berikutnya.]

“Malam ini? Di mana?”

Tangan kirinya terulur meraih ponselnya yang satu lagi yang ada di atas lemari pendingin. Di sana sudah masuk satu pesan berisi alamat seseorang yang sedang mereka berdua bicarakan.

[Kali ini berhentilah bermain-main. Mereka sudah mengantongi informasi tentangmu setelah berhasil menangkap Kim Bo Sang dan anak buahnya.]

Sung Jin hanya tersenyum tipis sambil menarik kursi yang ada di depan sebuah meja lebar berhias seperangkat komputer. Layar komputer tersebut menampilkan satu email baru yang berisi daftar letak kamera CCTV yang ada di sebuah gedung apartemen mewah.

[Mereka juga sudah mempunyai sidik jarimu.]

“Kim Bo Sang…., orang itu memang tidak bisa diandalkan sama sekali. Mungkin membunuhnya adalah hal terbaik,” jawab Sung Jin pelan sambil memandangi foto seorang pria berusia 50 tahunan yang memenuhi layar komputernya. “Jadi, target kita adalah Seo Jang Ok ini?”

[Lee Sungmin…]

“Tidak ada seorangpun yang berani melarangku bermain. Tak terkecuali dirimu yang bukan siapa-siapa.”

Sung Jin langsung mematikan ponselnya dan kembali memandangi foto pria tersebut. Perlahan sorot matanya berubah tajam dan dingin, berbanding jauh dengan tatapan mata yang tenang dan ceria seperti yang ia selalu tunjukkan pada bos tempatnya bekerja. Sepasang matanya berkilat terkena pantulan cahaya yang berasal dari layar monitor di hadapannya ketika ia memandang selembar kertas berisi foto seorang pria berambut cepak mengenakan seragam kerja berwarna merah, lengkap dengan data informasi tentangnya. Di atas foto pria tersebut tertulis sebuah nama.

Lee Sungmin.

Ya, nama pria yang ada di dalam foto tersebut adalah Lee Sungmin. Tersangka pembunuhan Cha Hong Jo, seorang pegawai Center Bank. Pria yang sudah membuat D-Team kebingungan menemukan dirinya karena ia sudah mengoperasi total wajahnya. Dan pria yang dicari-cari D-Team itu kini sedang duduk manis di depan komputer sambil tersenyum geli melihat kertas berisi keterangan dirinya.

“Palace Tower, 506. Let’s play another game tonight.”

Hanya itu yang diucapkan Lee Sung Jin—atau mungkin lebih tepatnya kita harus mulai memanggilnya Lee Sungmin karena itu memang nama aslinya—sebelum bangkit dari duduknya dan meraih jaket hitam yang tergantung di dekat meja. Ditariknya zipper jaket tersebut hingga sebatas dagu, lalu memakai topi hitam kesayangannya dan menurunkan sedikit bagian depan hingga sebagian wajahnya tertutup.

To be continued

Advertisements
Leave a comment

8 Comments

  1. inggarkichulsung

     /  October 13, 2015

    Yippie Nita publish Venus part 5, really happy so funny because Henry Lau character, Jung ra kesal bgt digangguin terus sama Henry yg br sj ditangkap krn terlibat dlm tawuran pdhl msh SMA.. Aigoo lee sungjin adl Sungmin oppa sendiri, seseorg yg membuat D-team kelimpungan menangkapnya, kasihan Kyu oppa Donghae oppa Hyukjae oppa Captain Tan and Ryeowook oppa yg benar2 bgg ttg identitas Sungmin oppa yg skrg, apakah krn takut ketahuan maka ia menolak scr halus pd Polisi Jung ra u mjd saksi kejadian tawuran hari ini, apalagi td bos mafia nya Sungmin oppa sdh memperingatkan bhw skrg kepolisian sdh pny bbrp data dan identitas ttg Lee Sungmin salah satu nya sidik jari, ditunggu bgt kelanjutannya chingu, daebak ff

    Reply
  2. Amylatul Rahayu

     /  October 14, 2015

    wah Jungra jadi polisi di sini, jadi ingat ff Fruit Love xD ffnya seru dengan kehadiran Henry di sini, Henry dan Hae bersaudara, tapi sikap dan kelakuan mereka benar-benar berbanding terbalik. Tuhkan benar apa yang dibilang Henry kalau Lee Sungmin merubah identitasnya menajadi orang lain, Hae dan D-team pasti akan semakin kesulitan menemukan dia. Dan apa itu, dia sudah akan membunh lagi ? Di tunggu next part 😀

    Reply
  3. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

     /  October 22, 2015

    Walaaaaah, Go Jung Ra muncul. Apakah akan ada sesuatu dengan Lee Dong Hae si Pak Polisi dari pusat? Kekekeke… *JiwaShipperKumat xD* ngomong-ngomong, D-Team kalah ma Henry, ya. Mereka tidak berpikir kalau Lee Sung Min bisa saja mengganti identitasnya. Sama kayak aku juga nggak berpikir sampai kesana, aku kira Lee Sung Jin itu adiknya Sung Min. Kkk…

    Reply
  4. wahhh sungjin itu ternyata sungmin toh.
    Si henry bandel banget yak. Padahal kakaknya tuh polisi tapi malah ngelakuin tindak kriminal wkwkwk

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: