VENUS [Part 4]


VENUS 2

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Ryeowook
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Lee Sungmin – Kim Heechul – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

Hyukjae mengumpat pelan ketika ia menyadari sepatunya baru saja menginjak sesuatu yang lengket. Ia berdecak kesal setelah tahu benda lengket sialan itu adalah permen karet. Ia ingin sekali mengomel pada siapapun yang begitu kurang ajarnya membuang permen karet sembarangan. Tetapi mengingat saat ini ia sedang bertugas, niat itu dikuburnya dalam-dalam.

“Apa yang terjadi dengan dunia ini? Kenapa sempit sekali, hah? Kim Bo Sang…., bagaimana bisa dia juga terlibat perampokan Center Bank tujuh bulan lalu? Haaah…., apa ini hanya kebetulan saja atau memang sudah jalannya begitu? Aku sama sekali tidak menyangka akan jadi seperti ini…”

Hyukjae terus menggumam pelan sambil menggesek-gesekkan permukaan bawah sepatunya pada pinggirian trotoar yang ada di depannya untuk melepaskan permen karet tersebut. Sesekali matanya menatap pintu yang terbuat dari kayu yang sedang ia jaga bersama beberapa petugas. Seperti yang diperintahkan Ryeowook, ia memang menjaga pintu tersebut. Tetapi karena permen karet yang menempel di bagian bawah sepatunya-lah, konsentrasinya jadi buyar.

Katakan saja…., untuk seorang polisi yang selalu menjaga kebersihan seperti dirinya, Hyukjae akan sangat kesal bila kejadian saat ini menimpa dirinya.

“Apa mereka benar-benar bisa menangkap orang tersebut di dalam sana?” Hyukjae berkacak pinggang memandang sebagian bangunan rumah yang bisa ia lihat.

Masih tak ada pergerakan apapun di sana. Suasananya juga cukup sepi. Dan itu cukup membuat Hyukjae sedikit merasa jenuh karena ia hanya berdiri saja seperti ini.

“Petugas Shin, aku….”

Belum selesai Hyukjae berbicara pada salah seorang petugas yang berjaga bersamanya, terdengar suara seperti benda jatuh dari balik pintu yang ada di depannya. Dengan cepat Hyukjae mengarahkan pistolnya pada pintu tersebut. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan mendekati pintu tersebut. Jantungnya berdegup kencang, seolah akan keluar dari dalam dadanya.

Tetap dalam keadaan sangat waspada, Hyukjae mencoba membuka pintu tersebut. Namun…

Brak!

Pintu tersebut tiba-tiba terlepas dari engselnya dan menghantam dirinya hingga Hyukjae harus terhuyung ke belakang saking terkejutnya. Kedua matanya terbelalak saat menyadari ada seseorang yang menerobos keluar dari balik pintu tersebut dengan cepat.

Orang itu… adalah seorang pemuda. Pemuda dengan jaket berwarna abu-abu dan celana training. Rambutnya tertutup oleh topi berwarna abu-abu. Sebuah backpack berwarna hitam menggantung di punggungnya. Pemuda itu tampak sama-sama terkejutnya seperti Hyukjae. Ia tidak mengira ada polisi yang menunggunya di sisi kanan rumah itu.

YAA! TANGKAP DIA!” teriak Hyukjae sambil berusaha bangun dan menyingkirkan pintu yang menindih tubuhnya itu.

Sayang sekali, perintah Hyukjae pada beberapa petugas itu tidak berjalan lancar karena pemuda tersebut berhasil menghindar dari kepungan mereka. Dan itu cukup membuat Hyukjae emosi hingga akhirnya terpaksa melepaskan tembakan ke udara agar pemuda tersebut berhenti berlari.

Sayang sekali, tembakan peringatan yang dilepaskan Hyukjae hanya bertahan kurang dari lima detik karena pemuda bertubuh kurus tersebut kembali mengayunkan kakinya menjauh.

“Aishh! Dasar anak kurang ajar. Awas kau,” gerutu Hyukjae. Mau tidak mau ia pun berlari mengejar pemuda tersebut sekuat tenaga. Bahkan ia sampai tidak menggubris panggilan Ryeowook dan Donghae yang sepertinya keluar dari rumah setelah mendengar suara tembakan.

“Kau pikir aku akan kalah darimu, hah?” gumam Hyukjae di sela laju larinya yang cukup kencang ketika melintasi sebuah gang kecil di sisi kanan tubuhnya.

Ketika sadar jarak antara dirinya dan pemuda itu sudah cukup dekat, Hyukjae pun semakin mempercepat ayunan kakinya hingga akhirnya ia berhasil meraih bagian belakang jaket pemuda itu.

Bruk!

Mereka berdua tersungkur ke jalan. Pemuda itu tampak panik dan berusaha melepaskan diri dari Hyukjae. Dengan cepat Hyukjae langsung mengunci tangan pemuda itu ke belakang hingga membuatnya berteriak kesakitan.

“Mau sekuat apapun kau melawan, bila kau berhadapan denganku, tetap saja kau akan kalah, Bocah Tengik,” ujar Hyukjae di sela nafasnya yang sama sekali tak beraturan. “Dan….., haaah, lihatlah. Kau baru saja membuat rambutku berantakan seperti ini.”

“Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu apa-apa!” Pemuda itu berteriak-teriak sambil meronta-ronta di bawah Hyukjae.

“Apanya yang tidak tahu apa-apa? Jelas-jelas kau keluar dari rumah yang sedang kami selidiki!” bentak Hyukjae sambil berusaha memborgol kedua pergelangan tangan pemuda itu.

“Aku baru datang lima belas menit yang lalu. Aku juga tidak tahu kenapa ada mayat di dalam sana. Aku berani bersumpah, Pak. Aku tidak tahu apa-apa!” Pemuda itu kini terlihat ketakutan.

“Apa kau bilang? Mayat?”

.

.

.

.

Sirine ambulans dan beberapa mobil polisi yang berada di area depan rumah itu terdengar bersamaan dan cukup memekakkan telinga. Beberapa orang tampak berkerumun di dekat garis polisi yang dipasang beberapa meter dari rumah tersebut.

Beberapa petugas yang sejak tadi berada di dalam rumah kini keluar dengan membawa kantung berwarna hitam berisi mayat seorang pria yang mereka temukan di dalam sana, kemudian memasukkannya ke dalam ambulans yang sudah disiapkan. Bahkan pemuda bertopi yang berhasil ditangkap Hyukjae tadi pun dimasukkan ke dalam salah satu mobil polisi dengan kedua pergelangan yang telah diborgol. Wajahnya tampak sangat bingung sekaligus takut. Sepasang matanya berkaca-kaca.

Sementara itu keempat polisi muda yang tergabung dalam D-Team terlihat membeku di dalam ruangan tempat ditemukannya mayat tersebut. Mereka berusaha memahami apa yang ada di hadapan mereka.

Ini benar-benar mengejutkan mereka karena…

Mayat.

Tubuh seseorang yang sudah mati. Seseorang yang sudah kehilangan nyawa.

Ini… sesuatu yang baru untuk mereka berempat. Benar-benar baru untuk tim mereka.

“Aku membutuhkan laporan. Siapapun dari kalian yang berdiri di ruangan ini.”

Sebuah suara tegas menyadarkan keempat polisi tersebut. Bersamaan mereka menolehkan kepala ke arah pintu masuk di mana ternyata di sana sudah berdiri Kapten Unit mereka, Hankyung.

Hyu… Kapten,” ucap Kyuhyun yang hampir saja memanggil Hankyung dengan sebutan Hyung.

“Jelaskan apa yang terjadi hingga kalian menemukan mayat di sini? Penyelidikan yang kalian lakukan sama sekali tidak sampai di telingaku,” kata Hankyung yang memang tidak tahu menahu dengan penyelidikan yang dilakukan D-Team. Padahal peraturan yang ada adalah semua kegiatan penyelidikan atau apapun itu yang berhubungan dengan tugas unit harus mendapatkan ijin darinya.

Untuk beberapa detik keempat polisi muda tersebut saling pandang hingga akhirnya Ryeowook menjelaskan semuanya pada Hankyung. Dari temuan barang bukti berupa pesan fax hingga alamat yang mereka dapatkan hari ini.

“Ambulans sudah membawa mayat pria tersebut untuk diotopsi. Dan pemuda yang ditangkap Hyukjae juga sudah dibawa ke markas,” tambah Donghae.

“Lalu dengan semua yang ada di rumah ini?” Hankyung mengedarkan pandangannya ke segala arah, ke semua sudut ruangan yang terlihat berantakan.

“Kami sudah mengambil gambar semua yang ada di sini. Bahkan beberapa barang yang mencurigakan sudah kami kumpulkan. Termasuk sebuah tanda pengenal yang tergeletak di dekat mayat,” jawab Hyukjae.

“Bagaimana dengan sidik jari?”

“Kami menemukan beberapa sidik jari di ruangan ini. Petugas sudah membawanya ke markas untuk dianalisa,” sahut Ryeowook.

“Kerja bagus. Kita adakan rapat setelah semua hasil analisa keluar. Selesaikan pekerjaan kalian di sini dan perintahkan beberapa petugas untuk berjaga-jaga di area rumah ini selama beberapa hari,” perintah Hankyung.

“Ya, Kapten,” jawab D-Team serempak.

oOo

“Terima kasih. Lain kali akan kutraktir kopi,” ucap Kyuhyun pada salah seorang petugas bagian forensik yang menyerahkan laporan hasil otopsi mayat yang timnya temukan kemarin.

“Bagaimana?” Hyukjae menghampiri Kyuhyun yang keluar dari Ruang Forensik.

Kyuhyun tak langsung menjawab pertanyaan Hyukjae dan hanya melangkahkan kakinya santai hingga membuat Hyukjae kesal sendiri.

Yaa!”

Sedikit ngeri dengan teriakan dan wajah menyeramkan yang ditampilkan Hyukjae, Kyuhyun pun memberikan amplop putih berukuran besar tersebut pada Hyukjae.

“Ada bekas cekikan di leher, pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang, beberapa luka lebam di wajah dan bekas tusukan di bagian perut?” Hyukjae memandang tidak percaya pada hasil otopsi yang ada di tangannya itu.

“Di situ juga tertulis, orang ini diperkirakan dibunuh 3 atau 4 hari yang lalu. Untuk ukuran seseorang bertubuh tambun seperti dia, kurasa pembunuhnya memiliki kekuatan super. Dan ya, caranya menghabisi orang ini cukup menyeramkan,” sahut Kyuhyun yang memang sudah menduga reaksi Hyukjae akan seperti itu.

Ketika dua polisi muda itu tiba di depan pintu lift, seseorang memanggil mereka. Kyuhyun yang terlebih dahulu menoleh ke arah orang itu hanya menunduk sebentar guna menutupi wajahnya yang sedang mendengus kesal. Disenggolnya Hyukjae yang masih sibuk dengan data-data otopsi di tangannya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya orang bertubuh tinggi tegap tersebut sesaat setelah berjalan mendekat.

Eo, Ketua A-Team, Choi Siwon,” sapa Hyukjae, membalas senyuman yang diberikan Siwon pada mereka.

“Kalian dari Unit Forensik?” Siwon menggerakkan kepalanya ke arah lorong yang berada di depan Unit Forensik.

“Iya. Kami baru saja mengambil hasil otopsi dari mayat seseorang,” jawab Hyukjae tenang sambil menunjukkan kertas yang sejak tadi dipegangnya.

Beberapa detik Siwon hanya memandang kertas tersebut sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Kyuhyun dan Hyukjae dengan sepasang alisnya yang terangkat.

“Mayat…. ummmm, oh ya, aku baru ingat. Kudengar kalian menemukan mayat saat proses penyelidikan kasus Kim Bo Sang. Wah, aku tidak menyangka kasus yang beberapa minggu lalu coba kuselesaikan dengan timku ternyata….,” Siwon menghentikan ucapannya dan tertawa pelan. “Apa tim kalian baik-baik saja? Maksudku…, kuharap D-Team bisa menuntaskan kasus ini dengan baik dan tidak melewatkan satu hal sedikitpun karena……, kalian tahu sendirilah… ini bukan hanya kasus perampokan dan peredaran uang palsu biasa. Seseorang telah dibunuh. Dan pembunuhan ini berkaitan dengan kasus yang sedang kalian selidiki. Kalau aku—“

“D-Team akan berusaha keras menyelesaikan kasus ini, Ketua Tim Choi. Kau tidak perlu khawatir. Dan ngomong-ngomong, terima kasih sudah memberi kami dukungan seperti itu,” potong Hyukjae dengan wajah datar.

“Aku senang kalian menerima dukungan yang kuberikan karena aku tahu kasus pembunuhan ini…… adalah kasus pembunuhan pertama yang akan kalian tangani. Aku bisa maklum kalau tim kalian terkejut. Tapi walau bagaimanapun juga, aku tahu, D-Team akan bekerja dengan sangat keras,” ujar Siwon dengan senyum yang sama sekali tak berkurang di bibirnya.

“Yeah…, kami akan bekerja dengan sangat keras. D-Team. Akan. Selalu. Bekerja. Dengan. Sangat. Keras,” sahut Kyuhyun malas yang sesaat kemudian menoleh ke arah pintu lift di sampingnya yang masih saja belum terbuka.

“Wow. Semakin lama gaya bicaramu semakin mirip dengan Kapten Tan.”

“Tentu saja. Dia kan kakakku,” Kyuhyun membalas ucapan Siwon sambil menampilkan senyum lebarnya.

“Kakak tiri, lebih tepatnya. Aku benar, kan? Maka dari itu aku terpukau. Biasanya dua saudara tiri tidak terlalu memiliki kesamaan. Tapi ini…. ckckckck…, aku benar-benar—“

“Kami harus segera ke ruang rapat. Senang berbincang denganmu, Choi Siwon.” Hyukjae menarik Kyuhyun ke dalam lift saat—akhirnya—pintu lift yang ditunggu-tunggu terbuka juga. Perfect timing to cut off a pointless conversation, huh?

“Sampaikan salamku pada Lee Donghae,” ucap Siwon saat pintu lift mulai tertutup.

“Baiklah. Akan kusampaikan padanya,” jawab Hyukjae dua detik sebelum pintu lift tertutup sempurna. “Kenapa tidak kau sampaikan saja sendiri padanya? Kalian kan satu markas. Toh, meski aku menyampaikan salammu padanya, dia juga tidak mungkin menyuruhku menyampaikan salamnya padamu. Dasar bodoh,” gerutu Hyukjae pada pintu lift yang tertutup.

“Kudengar Donghae Hyung dan Ketua Tim Choi pernah bersahabat. Itu dulu ya? Jauh sebelum kita gabung di D-Team, iya kan? Karena seingatku sejak kita berada di D-Team, aku tidak pernah melihat Donghae Hyung dan dia berbicara. Aaaah…., andai aku satu angkatan dengan kalian saat di Akademi Kepolisian, mungkin aku tidak akan kekurangan informasi seperti ini,” oceh Kyuhyun sambil menyandarkan tubuhnya di dinding lift.

Hyukjae mendengus pelan sambil tersenyum miris. “Sahabat…”

“Aarrrggghh…., tapi bagaimanapun juga, kenapa aku selalu terlihat seperti kurcaci bila berdiri di dekatnya? Kenapa ada pria brengsek sesempurna dia sih?” Hyukjae mencoba mengganti topik pembicaraan.

“Apa? Dia? Siapa yang kau maksud? Choi Siwon? Sempurna apanya? Kalau dibandingkan denganku, kurasa masih sempurna diriku.”

“Kau? Huh, aku sama sekali tidak bisa melihat dari sisi mana kesempurnaan seorang polisi muda sepertimu yang menghabiskan hampir 80% gaji bulanannya hanya untuk bermain game,” cibir Hyukjae.

“Itu masih wajar dibanding Ketua Tim Choi yang selalu membahas masalah saudara tiri tiap bertemu denganku. Mau tiri atau bukan, aku dan Hankyung Hyung kan tetap saudara. Apa bedanya, sih? Aku akan sangat menyesal andai yang jadi kakak tiriku adalah dirinya. Kau tahu, Choi Siwon dan Cho Kyuhyun……, haaah, aku saja tidak mau membayangkan dirinya menjadi kakakku. Aku heran apa sejak lahir sifat sombongnya itu sudah ada di dalam dirinya. Untung saja dia tampan. Coba kalau tidak. Huh.”

.

.

.

=At Meeting Room=

“Jadi, milik siapa mayat ini?” tanya Hankyung sambil menyandarkan punggungnya pada punggung kursi yang sedang didudukinya.

Donghae berjalan ke arah sebuah layar LCD berukuran besar di dekat meja rapat. Tangannya menyentuh tulisan START yang ada di sudut layar tersebut, dan secara otomatis sebuah data informasi mengenai mayat hasil temuan timnya terlihat.

“Namanya Cha Hong Jo. Usia 49 tahun dan sama sekali belum pernah menikah. Berasal dari Incheon dan bekerja di Seoul sejak tahun 2005. Dia tinggal sendiri. Sehari-hari dia bekerja sebagai teller di sebuah bank. Dan bank tersebut adalah…”

“Center Bank?” tebak Kyuhyun yang mendapat anggukan dari Donghae.

“Sejak empat hari yang lalu dia dikabarkan tidak masuk kerja dengan alasan menjenguk keluarga di luar kota,” tambah Donghae.

“Lalu, bagaimana dengan hasil otopsi?” Hankyung mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun.

“Dibunuh dengan brutal,” ucap Kyuhyun sambil membagikan kopian laporan otopsi yang diambilnya beberapa saat lalu. “Untuk memastikan korban benar-benar tidak bernyawa,” lanjutnya.

Semua orang yang ada di dalam ruangan terdiam membaca hasil otopsi di tangan mereka. Terlebih Donghae, Hyukjae dan Ryeowook. Hanya membaca tulisan-tulisan itu saja, seolah mereka bisa membayangkan betapa mengerikannya saat-saat korban dibunuh.

“Motif pembunuhannya?”

“Masih belum diketahui, Kapten. Menurut orang-orang terdekatnya, korban tidak terlibat perseteruan dengan siapapun. Oh ya, korban juga memiliki satu akun SNS, karena curiga aku meminta tolong Tim Kejahatan Cyber untuk memeriksa akun miliknya. Dan hasilnya, korban tidak terlibat percekcokan dengan siapapun di sana. Akun SNS miliknya hanya ia gunakan untuk mengikuti berita selebritis wanita. Sebenarnya aku juga berharap korban memiliki buku harian, tapi dia tidak punya. Jadi, kurasa…, korban tidak memiliki musuh,” Kyuhyun menjelaskan semua yang ia dapatkan kemarin.

“Dan… pemuda yang kau tangkap? Bagaimana dengannya? Apa dia benar pembunuhnya?” tanya Hankyung pada Hyukjae.

Hyukjae seraya berdiri dan menggantikan posisi Donghae di dekat layar LCD. Tangannya menyentuh tulisan NEXT yang ada di bagian bawah layar tersebut. Tak berapa lama foto dan informasi mengenai pemuda yang ditangkapnya muncul.

“Anak ini bernama Park Chanyeol. 22 tahun dan merupakan karyawan sebuah perusahaan kecil di bidang periklanan. Ia tidak memiliki catatan kriminal di masa lalunya karena dia…. anak baik yang biasa saja,” tutur Hyukjae.

“Tapi…., kenapa dia ada di sana? Di rumah itu,” tanya Kyuhyun sambil mengernyitkan kening.

“Dia bilang dia datang lima belas menit sebelum kita tiba di sana karena mendapat pesan fax dari seseorang,” jawab Hyukjae pelan.

Pesan fax? Lagi-lagi pesan fax?

Donghae menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Jarinya memainkan ujung bolpoin yang sejak tadi dipegangnya. Pikirannya tertuju pada kata-kata yang baru saja diucapkan Hyukjae.

“Dan yang lebih membuatnya aneh, dia mendapat pesan fax dari nomor fax yang ada di rumah itu. Di Namyeong-dong. Nomor fax atas nama Cha Hong Jo. Untuk seseorang yang sudah mati tiga atau empat hari lalu, bukankah itu ajaib bila orang ini hidup lagi dan mengirim pesan fax pada Park Chanyeol untuk datang ke rumahnya? Apa dia semacam zombie? Tapi mana ada zombie yang pintar mengoperasikan mesin fax?” Hyukjae duduk di kursinya, dibuat bingung oleh ucapannya sendiri.

“Kau yakin anak ini datang lima belas menit yang lalu?” Hankyung menunjuk foto Park Chanyeol yang ada di layar.

“Awalnya aku juga tidak yakin, Kapten. Tapi, setelah aku meminta copy-an rekaman CCTV yang ada di depan rumah kemarin dan memeriksanya bersama beberapa petugas, aku yakin anak ini sama sekali tidak terlibat pembunuhan,” jawab Hyukjae seraya kembali bangkit dari duduknya dan menunjukkan hasil copy-an rekaman CCTV yang didapatnya pada semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut.

“Ini adalah CCTV mulai satu minggu yang lalu hingga kemarin. Jumat lalu korban masih terlihat keluar masuk rumah seperti biasa,” ujar Hyukjae sambil menunjukkan sebuah rekaman yang menampilkan sosok tambun Cha Hong Jo yang masih hidup berangkat dan pulang dari tempatnya bekerja. Tidak ada yang istimewa dari rekaman satu hari tersebut. Tetapi, saat Hyukjae menampilkan rekaman CCTV untuk hari berikutnya, semua orang dibuat terkejut.

“Siapa dia? Cha Hong Jo mendapat kunjungan tamu?” seru Kyuhyun yang antusias melihat sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah korban. Seseorang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Hanya saja, postur tubuh atau wajah orang tersebut tidak bisa dilihat dengan jelas karena terhalang pohon yang terlalu rindang di dekat mobil.

“Inilah yang membuatku curiga. Mungkin di hari itulah Cha Hong Jo dibunuh oleh orang ini karena orang ini cukup lama berada di dalam rumah sebelum keluar pada malam hari. Dan semenjak kunjungan orang itu, Cha Hong Jo tidak terlihat keluar dari dalam rumah. Ini adalah rekaman CCTV untuk hari minggu hingga hari Rabu. Di sini, kita bisa melihat Park Chanyeol datang ke rumah itu pada siang hari, lima belas menit sebelum kita sampai di sana,” Hyukjae mengakhiri penjelasannya tentang rekaman CCTV yang membuktikan Park Chanyeol bukan pembunuh Cha Hong Jo,melainkan seseorang yang berada di waktu dan tempat yang tidak tepat.

“Lalu, bagaimana dengan sidik jari? Kalian bilang kalian menemukan beberapa sidik jari di sana,” ujar Hankyung sambil memijat pelan pelipisnya.

Kini giliran Ryeowook yang berdiri.

“Menurut tetangga Cha Hong Jo, Cha Hong Jo sama sekali tidak pernah membawa teman atau siapapun ke rumahnya. Itu terbukti dengan hanya sidik jari Cha Hong Jo di semua isi rumahnya. Tapi, anehnya ada dua sidik jari milik orang lain di sana. Satu milik Park Chanyeol dan satu lagi milik orang lain,” kata Ryeowook seraya berdiri di samping layar LCD.

“Sidik jari milik Park Chanyeol…., apa saat anak itu datang ke sana?” tanya Donghae.

Ryeowook mengangguk. “Sidik jarinya ada pada knop pintu, saklar lampu ruang tengah dan pintu sisi kanan rumah. Hanya itu saja. Jadi, kurasa anak itu tidak menyentuh tubuh Cha Hong Jo.”

“Dan sidik jari satu lagi?” tanya Hankyung.

“Sidik jari yang inilah yang harus kita curigai karena…. selain ada di beberapa perabot rumah Cha Hong Jo dan mesin fax yang ada di sana, sidik jari orang ini juga ada di beberapa bagian tubuh Cha Hong Jo,” jawab Ryeowook, memandang ketiga anggota tim dan kapten unit tempatnya bertugas.

“Sidik jari ini orang ini ada di leher, pergelangan tangan Cha Hong Jo dan pisau yang sepertinya digunakan untuk menikam perut Cha Hong Jo karena di sana ada bekas darah milik Cha Hong Jo,” lanjut Ryeowook.

“Kemungkinan sidik jari itu milik orang yang datang ke rumah Cha Hong Jo dengan mobil hitam. Dan… haaaaaah….., kita masih belum bisa mengumpulkan informasi lebih banyak lagi,” keluh Kyuhyun sambil mendaratkan wajahnya di permukaan meja yang terbuat dari kaca.

Ryeowook yang melihat Kyuhyun seperti itu hanya tersenyum tipis sebelum menampilkan foto seseorang di layar LCD yang akhirnya mengejutkan semua orang.

“Kita masih punya satu petunjuk kecil,” ujar Ryeowook sambil menghenyakkan diri di samping Donghae.

Di layar terlihat sebuah foto seorang pria bermata sipit dengan sepasang alis yang tipis dan tidak merata. Hidungnya yang tidak terlalu mancung tampak bengkok dan terdapat luka baret di salah satu sisinya. Kedua pipinya berhias beberapa jerawat. Wajah tanpa ekspresi tersebut dilengkapi dengan rambut berwarna hitam cepak yang cukup tidak sepadan dengan bentuk wajahnya.

“Bukankah itu foto tanda pengenal yang ada di dekat mayat Cha Hong Jo?” Hyukjae seolah mengingat sesuatu.

“Iya. Ini tanda pengenal yang kita temukan di sana. Tanda pengenal ini dibuat oleh sebuah restoran cepat saji yang ada di Gangnam bernama G Fried Chicken untuk para karyawannya. Dan foto orang yang ada di dalam tanda pengenal ini, pernah bekerja di sana pada tahun 2009 hingga 2011,” ujar Ryeowook, kembali berdiri untuk menampilkan data yang sudah ia kumpulkan tentang pemilik tanda pengenal tersebut.

“Namanya Lee Sungmin. Kelahiran tahun 1985. Semua mantan karyawan yang pernah bekerja dengannya dan bahkan bosnya sendiri tidak tahu tentang latar belakang keluarganya, tapi kata mereka, pria ini tidak terlalu banyak bicara dan suka menyendiri. Bahkan tempat tinggalnya pun mereka tidak tahu,” Ryeowook menjelaskan hasil penyelidikan yang ia lakukan bersama beberapa petugas seharian kemarin.

Sembari kembali menampilkan foto pria bernama Lee Sungmin tersebut, Ryeowook melanjutkan penjelasannya, “… Dan hal yang lebih penting dari itu, aku berhasil mendapatkan beberapa barang yang pernah dia gunakan selama bekerja di sana. Itu artinya kita bisa mendapatkan sidik jarinya sebanyak yang kita mau. Dan menurut hasil analisa yang dilakukan Bagian Analisa Sidik Jari terhadap barang-barang Lee Sungmin, sidik jarinya memiliki kesamaan dengan sidik jari yang ada di beberapa bagian tubuh Cha Hong Jo.”

“Jadi…., orang yang datang ke rumah Cha Hong Jo, kemudian membunuhnya dan tanpa sengaja menjatuhkan tanda pengenal miliknya sendiri adalah orang ini? Lee Sungmin ini?” Hyukjae mulai menebak sendiri yang ternyata diangguki oleh Kyuhyun.

“Bisa jadi begitu. Dengan keteledorannya sendiri, itu mempermudah kita sebagai polisi untuk melacak keberadaannya. Kapten, kita bisa mulai memasukkannya dalam daftar pencarian orang secara resmi,” tukas Ryeowook sambil mengalihkan pandangannya pada Hankyung.

Tak ada jawaban dari Hankyung. Seolah ada yang dipikirkannya. Perlahan matanya bergerak memandang Donghae yang sepertinya bersikap sama dengannya. Bawahannya itu cukup lama memandang foto Lee Sungmin yang ada di layar dengan sepasang alis yang hampir menyatu.

Apakah bawahannya itu memiliki pemikiran yang sama dengannya?

“Lee Donghae,” panggil Hankyung.

Donghae yang sedikit terkejut mendengar panggilan Hankyung, langsung menoleh. “Ya, Kapten?”

“Apa kau……… memikirkan hal yang sama seperti yang kupikirkan?”

Pertanyaan Hankyung seolah membuat Donghae sempat merasa kalau atasannya itu bisa membaca pikirannya. Semoga saja apa yang memang sedang dipikirkan olehnya sama dengan yang dipikirkan Hankyung.

Ada yang aneh.

“Ada apa ini? Kenapa Kapten dan kau, Lee Donghae, bertatapan seperti itu? Apa ada sesuatu yang kami lewatkan, hah?” Hyukjae menyenggol lengan Donghae, memaksa Donghae menoleh ke arahnya.

“Sejak kapan proses penyelidikan kasus kriminal berjalan semulus ini di negara kita?”

Hyukjae mau tidak mau mengernyitkan keningnya. Ada saat-saat di mana ia sebagai rekan satu tim Lee Donghae, sebagai teman satu angkatan dengan Lee Donghae ketika di Akademi Kepolisian dan sebagai sahabat dekat Lee Donghae, ia sama sekali tidak mengerti dengan kata-kata yang keluar dari mulut Donghae. Temannya itu memang tidak menggunakan bahasa asing, hanya saja ia seperti kehilangan kemampuan untuk mengartikan kata yang diucapkan temannya tersebut.

“Lee Donghae, kita sama-sama orang Korea, tapi aku harus jujur, saat ini aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu,” ujar Hyukjae dengan wajah datar.

“Apakah kalian tidak merasa ada unsur kesengajaan di sini? Maksudku, tanda pengenal yang ada di dekat mayat Cha Hong Jo itu. Iya, kan, Kapten?” Kini Donghae mengalihkan pandangannya pada Hankyung, berharap Hankyung mengangguk, membenarkan ucapannya mengingat mereka berpikiran hal yang sama—menurutnya.

Hankyung menganggukkan kepalanya. Kedua matanya tak lepas dari layar LCD yang menampilkan wajah Lee Sungmin.

“Seingatku, G Fried Chicken tidak pernah menghadiahkan tanda pengenal pada karyawan mereka yang berhenti bekerja. Mereka selalu meminta kembali tanda pengenal karyawan agar tidak disalahgunakan. Dan ini… Lee Sungmin masih memiliki tanda pengenal yang seharusnya hanya berlaku bila sampai saat ini dia masih menjadi karyawan restoran cepat saji tersebut,” lanjut Donghae.

“Kau mengira Lee Sungmin sengaja menjatuhkan tanda pengenalnya di TKP agar ditemukan oleh polisi, begitu? Bukankah itu sama saja dengan menggali lubang kuburnya sendiri?” ucap Kyuhyun yang masih heran dengan dugaan Donghae.

“Sebut saja itu adalah sebuah siasat yang dia lakukan,” sahut Hankyung.

“Tapi, apakah itu masuk akal, Kapten? Dia baru saja membunuh salah seorang warga sipil dengan sadis, lalu entah dia gila atau bagaimana, justru membocorkan siapa dirinya begitu saja pada polisi?” Hyukjae yang sependapat dengan Kyuhyun mencoba mendapatkan penjelasan pada Hankyung.

“Kapten benar, Hyukjae Hyung,” sahut Ryeowook yang beberapa saat tadi berusaha mencerna perkataan Donghae dan Hankyung. “Kurasa dia bukan orang yang patut untuk diremehkan. Sepertinya dia memang sengaja menunjukkan siapa dirinya pada kita. Kau tidak lupa kan, bagaimana caranya berkomunikasi dengan Kim Bo Sang? Dia bisa mengendalikan Kim Bo Sang dari jauh, bahkan bisa berhasil melakukan perampokan Center Bank meski dia sama sekali tidak ikut dalam komplotan itu. Lee Sungmin…., pria ini….”

Belum selesai Ryeowook menyelesaikan kata-katanya, seorang petugas berhambur masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Kapten Tan, ada informasi baru mengenai pembunuh Cha Hong Jo,” kata petugas tersebut seraya memberikan selembar kertas pada Hankyung.

Untuk beberapa saat Hankyung terlihat serius membaca tulisan yang ada di kertas tersebut hingga mendadak ia mengernyitkan keningnya.

“Kau yakin informasi ini akurat?” tanya Hankyung pada petugas tersebut.

“Ya, Kapten,” jawab petugas tersebut.

“Ada apa, Kapten? Apa kita sudah mendapatkan lokasi di mana Lee Sungmin berada saat ini?” Hyukjae yang penasaran dengan ekspresi Hankyung pun melontarkan pertanyaan.

Hankyung tak segera menjawab. Matanya memandang foto Lee Sungmin di layar LCD untuk beberapa detik sebelum mengedarkan pandangannya pada keempat bawahannya tersebut.

“Foto Lee Sungmin yang kalian temukan itu………… adalah fotonya empat tahun lalu,” jawab Hankyung dengan wajah serius.

“Apa yang harus dikhawatirkan, Kapten? Wajah orang tidak akan berubah banyak meski sudah bertahun-tahun. Apalagi foto yang ini adalah foto empat tahun lalu. Kecuali kalau dia…..,” Kyuhyun tak jadi melanjutkan kata-katanya ketika sesuatu melintas di benaknya. Kedua matanya terbelalak, seolah mengetahui sesuatu yang sangat mengejutkan. Kyuhyun memandang Donghae, Hyukjae dan Ryeowook secara bergantian yang sepertinya berpikir lebih cepat dibanding dia.

“Eeee…, jadi begini, Letnan Cho Kyuhyun, Lee Sungmin melakukan operasi plastik pada wajahnya secara total pada awal tahun 2012, sebulan setelah dia keluar dari G Fried Chicken. Informasi ini didapat dari Ahn Yeo Sook, yang menjadi rekan kerjanya di restoran itu. Yeo Sook ini pernah mengantarnya ke sebuah klinik operasi plastik di Gangnam dan bahkan menemaninya selama proses operasi. Hanya saja saat Yeo Sook berencana menjenguk Lee Sungmin untuk melihat bagaimana hasil operasinya, Lee Sungmin sudah menghilang. Bahkan Lee Sungmin juga menghilangkan foto hasil operasi plastik di wajahnya yang ada di file klinik tempatnya melakukan operasi plastik,” petugas itu menjelaskan hasil keterangan yang didapatnya dari salah satu teman semasa kerja Lee Sungmin.

Terdengar helaan napas cukup panjang dan berat dari Kyuhyun. Sedangkan Ryeowook dan Hyukjae hanya bisa mengusap wajah mereka dengan gusar mendengar fakta yang ada di hadapan mereka.

“Dengan kata lain, foto Lee Sungmin yang kita dapatkan sekarang, tidak ada gunanya?”

Pertanyaan Hyukjae seolah semakin memperburuk keadaan di dalam ruang rapat yang semula begitu menggebu-gebu karena sudah berhasil mengidentifikasi pembunuh Cha Hong Jo.

“Itu sebabnya, dia sengaja menjatuhkan tanda pengenal miliknya di TKP……,” gumam Donghae yang akhirnya mengerti situasi ini.

“Karena dia tahu, polisi akan kesulitan mencari keberadaannya bila mengandalkan foto ini,” tambah Hankyung.

“Lee Sungmin……, sepertinya pria ini merencanakan semuanya dengan sangat rapi. Dia sengaja membiarkan sidik jarinya ditemukan oleh polisi. Bahkan kurasa, dia tahu akan sampai mana polisi berhasil mendapatkan informasi tentang dirinya. Kita benar-benar tidak bisa menganggap remeh dirinya, Kapten.”

Hankyung mengangguk-angguk mendengar ucapan Ryeowook.

Semua orang yang ada di dalam ruang rapat tercenung. Mereka tidak tahu kalau orang yang sedang mereka incar berhasil mengecoh penyelidikan hingga membuat semua usaha yang dilakukan terasa berhenti begitu saja di depan sebuah dinding tebal.

Kasus pembunuhan yang terjadi di dalam kasus perampokan bank dan peredaran uang palsu………, ini bukan masalah yang “mudah” untuk diselesaikan. Ini bukan hanya menyangkut masalah kerugian perseorangan atau negara secara materi, tetapi ini juga menyangkut hilangnya nyawa seseorang untuk sesuatu yang tak ada seorang pun tahu apa tujuannya.

Dan untuk kasus ini, orang yang bertanggung jawab penuh—setidaknya menurut hasil penyelidikan yang sudah dilakukan semampu D-Team—adalah Lee Sungmin. Seorang pria tak dikenal yang rupanya cukup sukses “mengendalikan” penyelidikan yang dilakukan polisi untuk mendapatkan informasi tentang dirinya.

Siapa Lee Sungmin?

Kenapa dia bisa berpikir sebegitu jeli dan cerdasnya hingga ia yakin polisi tidak akan bisa menemukan dirinya dengan mudah?

Apakah dia tidak takut bila polisi bisa menemukannya mengingat kepolisian memiliki akses tidak terbatas untuk itu?

Mungkin seperti yang Ryeowook katakan, Lee Sungmin, pria ini tidak bisa dianggap remeh.

to be continued

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

5 Comments

  1. inggarkichulsung

     /  August 6, 2015

    Aigoo Sungminnie oppa jd org jahat disini dan dia merupakan dalang kejahatan dr bbrp kejadian akhir2 ini dan merupakan suatu kesengajaan kalau dia meninggalkan tanda pengenal nya saat dulu msh bekerja di tkp pembunuhan u mengecoh para penegak hukum.. Semuanya seperti mudah mendapatkan bukti tp terkecoh oleh dalang utamanya yg sengaja melakukannya.. D-team hrs lbh berusaha keras lg u memecahkan persoalan ini apalagi yg terakhir ini lbh berat krn menyangkut pembunuhan, ditunggu bgt kelanjutannya Nita

    Reply
  2. Ck..ck…ck..ck… Sungmin licik banget, semoga saja polisi bisa mengel dia.

    Reply
  3. 조혀리

     /  October 4, 2015

    Huwa baru bca ff ini,krennnn,,,hae,kyu jd 1 team,,,, tp kok part 5 blm ad ya?next donk

    Reply
  4. Kayaknya Sungmin ganti muka jadi heechul, soalnya di poster kayak gitu wkwkwk

    AHHH itu ada sungjin juga yeyeyey

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: