VENUS [Part 3]


venus 4

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Heechul
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Kim Ryeowook – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Note :
I’VE MADE 100 POSTS!!! YAY!, FINALLY! ^^
Ok… lupakan itu. hahaha

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

 

“Ryeowook-ah? Kapan kau pulang? Bukankah seharusnya kau belum pulang?” tanya Hyukjae senormal mungkin sambil berjalan ke arah meja kerjanya sendiri.

“Iya. Apa tugasmu di sana sudah selesai?” Kyuhyun pun ikut bertanya meski ia sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri.

Berbeda dengan Kyuhyun dan Hyukjae, Donghae tak berniat untuk melontarkan pertanyaan apapun pada Ryeowook yang jelas-jelas hanya bermakna basa-basi saja. Ia sudah bisa membaca raut wajah Ryeowook yang sedang tak ingin berbasa-basi.

“Sepuluh menit lagi berkumpullah di ruang rapat.”

Hanya itu yang diucapkan Ryeowook sebelum beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kemudian keluar begitu saja. Meninggalkan Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang termangu di tempat mereka.

Yaa! Ryeowook-ah! Ani… maksudku Ketua Tim Kim!” Hyukjae mencoba memanggil Ryeowook yang entah kenapa begitu cepat menghilang.

“Kenapa tiba-tiba dia menyuruh kita ke ruang rapat? Apa yang akan dilakukannya di sana? Jangan bilang…” Kyuhyun sengaja tak melanjutkan kata-katanya karena ia yakin apa yang ada di dalam pikirannya sama dengan Donghae dan Hyukjae.

“Dia akan melakukan tugasnya sebagai seorang Ketua Tim,” sahut Donghae pelan.

Tugas sebagai seorang Ketua Tim. Ya, mungkin untuk saat ini hanya kata itu yang bisa Donghae katakan karena sebenarnya ia sendiri juga belum yakin apa yang ingin Ryeowook lakukan di ruang rapat nanti.

Apakah ini mengenai pembubaran D-Team? Apakah Ryeowook akan membahas hal tersebut nanti? Tapi bila rapat tersebut dihadiri oleh petinggi Unit Investigasi Kriminal seperti Komisaris Ahn dan Ketua Park yang sempat ditemui Donghae beberapa hari yang lalu di ruangan Kapten Tan, apakah Ryeowook masih bisa membawa masalah tersebut?

Ini bukan perkara mudah mengingat betapa kerasnya sifat Komisaris Ahn dan kedisiplinan Ketua Park yang tidak boleh dianggap remeh. Dari semua petinggi kepolisian yang ada di unit ini, hanya dua orang tersebut yang bisa mengintimidasi bawahan mereka. Donghae tidak ingin masalah seperti ini menjadi lebih besar dan lebih buruk dari yang sebelumnya kalau sampai Ryeowook gagal.

Katakan saja, Donghae terlalu sayang pada timnya. Ia terlalu sayang pada semua orang yang berada di dalam timnya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka hanya karena mencoba “mencari keadilan” pada atasan-atasan mereka.

Mungkin ketakutan-ketakutan yang menggerayangi benak Donghae akan terjawab karena saat ini mereka sudah berada di dalam ruang rapat. Suasana yang dingin dan menegangkan cukup terasa sejak rapat dimulai beberapa menit yang lalu. Tak satupun anggota D-Team yang berani menegakkan kepalanya dengan benar, kecuali Kim Ryeowook seorang yang memang meminta rapat ini diadakan.

Hankyung yang duduk tak jauh dari anggota D-Team pun hanya bisa diam memandang Komisaris Ahn, Ketua Park dan beberapa Petinggi Unit secara bergantian. Ia sedikit khawatir bila emosi salah satu dari orang-orange tersebut meledak, karena imbasnya akan mengenai D-Team.

“Ketua Tim Kim, apa kau sengaja mengadakan rapat mendadak ini untuk membahas timmu?”

Suara berat Ketua Park rupanya mengejutkan Kyuhyun dan Hyukjae secara bersamaan. Hanya mendengar suara atasan mereka saja, keberanian mereka untuk menegakkan kepala semakin menciut.

“Ya, Pak. Saya merasa saya harus meminta rapat ini diadakan karena ini merupakan kondisi darurat,” jawab Ryeowook tenang.

“Darurat? Apanya yang darurat? Keputusan pembubaran tim yang sedang kau pimpin sedang diproses dua minggu lagi,” sahut Komisaris Ahn yang sejak tadi terdiam memandang Ryeowook.

“Tapi, menurut saya keputusan pembubaran tim ini tidak sah. Seharusnya bila Anda ingin membubarkan D-Team, sayalah orang pertama yang harus Anda beritahu karena bagaimanapun juga saya adalah ketua tim ini. Saya yang bertanggung jawab atas D-Team apapun yang terjadi,” balas Ryeowook dengan nada bicara yang masih stabil meski ekspresi wajahnya sudah mulai berubah.

“Apakah itu berarti kau tidak menghormati posisi Kapten Tan Hankyung yang merupakan Kapten dari semua tim Unit Investigasi Kriminal ini?”

“Tidak, Pak. Saya sangat menghormati Kapten Tan. Tapi sesuai prosedur, bukankah seharusnya keputusan pembubaran D-Team tidak dilakukan secara sepihak? Kalau Anda ingin membubarkan D-Team, seharusnya Anda menunggu saya kembali dari tugas saya, baru kemudian membahas masalah ini secara bersama-sama.”

Donghae berulangkali menarik napas pelan-pelan mendengar Ryeowook dan Komisaris Ahn saling melempar argumen. Entah kenapa rapat ini seolah hanya sebagai medan perang Ryeowook dan Komisaris Ahn.

“Apa kau juga berusaha mengulur waktu pembubaran timmu, hah?” Emosi Komisaris Ahn naik begitu saja karena Ryeowook begitu mudahnya membalas setiap kata-katanya.

“Tidak, Pak. Kalau Anda ingin membubarkan tim saya, itu adalah hak Anda dan petinggi Unit yang lain. Tapi ada satu hal yang saya ingin tanyakan pada Anda dan petinggi lainnya sebelum tim saya dibubarkan,” jawab Ryeowook.

“Silakan,” ujar Ketua Park yang sudah mulai tidak nyaman dengan posisi duduknya.

“Apakah keputusan pembubaran D-Team ini tidak terlalu berlebihan? Apa yang menyebabkan Anda sampai harus membubarkan tim saya?” tanya Ryeowook.

Komisaris Ahn mendengus keras seolah apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah pertanyaan yang sangat konyol dan bodoh.

“Ketua Tim Kim, kau tidak sedang bercanda kan? Aku yakin kau sudah tahu alasan kenapa aku membubarkan timmu.”

“Saya sudah tahu, Pak. Ini mengenai gagalnya penangkapan perampok di Center Bank, kan? Jadi, hanya karena itu Anda ingin membubarkan tim saya?”

Semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut dibuat terperanjat oleh gebrakan meja yang dilakukan Komisaris Ahn.

Hanya karena itu? Hanya karena itu, kau bilang? Center Bank mengalami kerugian yang sangat besar akibat perampokan itu, Inspektur Kim Ryeowook! Strategi penangkapan macam apa yang digunakan timmu untuk menangkap mereka?! Gagalnya timmu menangkap komplotan perampok itu mencoreng nama baik Unit ini, tahu tidak?!”

Akhirnya suara keras Komisaris Ahn pun terdengar. Kalau sudah begini jangan berharap suasana akan mendingin dalam waktu singkat.

Alih-alih merasa ngeri seperti ketiga rekan satu timnya, Ryeowook justru menarik salah satu sudut bibirnya, menampilkan sebuah seringai tipis yang rupanya disadari oleh Hankyung. Hankyung tahu betul bagaimana sifat Ryeowook yang tidak mau kalah begitu saja dalam sebuah perdebatan. Entah itu perdebatan biasa atau pun perdebatan sengit yang bisa saja membahayakan posisi timnya sendiri seperti sekarang ini. Ditambah lawan yang harus dihadapi adalah seseorang seperti Komisaris Ahn.

“Maaf kalau saya lancang, tapi seingat saya sebagai seorang Leader Team dari D-Team, baru kasus Center Bank yang gagal kami selesaikan. Lepas dari itu, kami selalu sukses menyelesaikan kasus-kasus lainnya. Apakah saya harus menyebutkan satu per satu kasus-kasus tersebut? Tidak hanya Anda, Pak Komisaris, tapi saya yakin Ketua Unit, Kapten Unit dan petinggi-petinggi dari Unit yang hadir di rapat ini sudah tahu bagaimana kami menyelesaikan semua kasus-kasus tersebut. Dan bicara mengenai kasus Center Bank, meski kami gagal menangkap komplotan perampok itu, kami masih tetap melakukan penyelidikan karena kami memiliki beberapa petunjuk tentang mereka. Jadi……, kami tidak sepenuhnya gagal, bukan?” kata Ryeowook panjang lebar.

“Tapi—“

“Lalu apa yang kau inginkan, Ketua Tim Kim?” Ketua Park memotong ucapan Komisaris Ahn.

“Permintaan saya sangat sederhana, Pak. Tolong evaluasi kembali keputusan pembubaran D-Team, dan saya mohon dilakukan penarikan semua kasus-kasus D-Team yang saat ini ada di tangan A-Team karena kasus-kasus tersebut adalah tanggung jawab D-Team. Hanya karena tim saya gagal dalam satu kasus, tidak berarti tim saya harus dibubarkan. Kalau kami harus ditegur karena kasus Center Bank, kami akan terima karena bagaimanapun juga itu adalah kesalahan kami. Tapi saya pribadi tidak akan pernah terima kalau D-Team dibubarkan begitu saja tanpa pertimbangan apapun,” jawab Ryeowook tegas.

Komisaris Ahn terlihat menarik napas dalam-dalam karena berusaha untuk tidak membalas perkataan bawahannya. Sedangkan petinggi-petinggi unit yang lain bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepala.

…………………………………..

An hour later….

Kyuhyun dan Hyukjae mengekori Ryeowook yang berjalan ke arah ruangan D-Team. Wajah keduanya nampak sumringah. Senyum lebar tak bisa mereka sembunyikan. Hanya Donghae yang masih saja memasang ekspresi serius seperti yang dilakukan Ryeowook sampai sekarang.

Donghae masih ingat betapa mengerikannya adu argumen antara Ryeowook dan Komisaris Ahn beberapa saat yang lalu, hingga pada akhirnya keputusan pembubaran D-Team yang sempat akan terjadi dibatalkan karena sebagian besar dari orang-orang yang hadir dalam rapat tidak setuju. Ia tidak tahu Ryeowook berani melewati garis batas yang seharusnya tidak dilalui mengingat jarak antara jabatan dirinya yang hanya sebagai Leader Team dari salah satu tim Unit ini sangatlah jauh dengan jabatan yang dimiliki Komisaris Ahn.

“Kim Ryeowook!”

Ryeowook mendadak menghentikan langkahnya, membuat Hyukjae dan Kyuhyun yang ada di belakangnya hampir menabraknya kalau saja tidak segera berhenti. Nampak Hankyung berjalan ke arahnya sambil tersenyum hangat.

“Selamat. D-Team tidak jadi dibubarkan karena keberanianmu melawan Komisaris Ahn,” ujar Hankyung, menepuk pelan bahu Ryeowook.

Ryeowook memandang Hankyung dengan tatapan datar. Sama sekali tak ada senyum atau sekedar ucapan terima kasih dari mulutnya.

“Seharusnya Kapten yang lebih berani melawan Komisaris Ahn karena jabatan Kapten lebih tinggi dariku. Aku tidak tahu Kapten sepatuh itu pada Komisaris Ahn,” hanya itu balasan Ryeowook yang memaksa Hankyung menghilangkan senyum di bibirnya.

Untuk beberapa detik kedua pria tersebut saling pandang sebelum akhirnya Ryeowook dululah yang meminta ijin untuk pergi ke ruangan D-Team. Donghae, Kyuhyun dan Hyukjae langsung membungkukkan badannya pada Hankyung sebelum berjalan mengikuti Ryeowook.

.

.

At D-Team’s Office…

Keempat polisi muda yang tergabung dalam D-Team tersebut membisu ketika mereka sudah berada di dalam ruangan. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka suara untuk membuat satu saja topik pembicaraan. Bahkan “euforia kemenangan” yang sempat terpancar di wajah Kyuhyun dan Hyukjae pun kini menghilang entah ke mana.

Sebut saja… percakapan singkat yang dilakukan Ryeowook dan Hankyung cukup kuat mengubah suasana gembira menjadi canggung seperti sekarang ini.

Suara debam pintu ruangan Ryeowook yang ada di dalam kantor D-Team tersebut mengejutkan Donghae, Kyuhyun dan Hyukjae yang masih berdiri di meja kerja mereka masing-masing.

Hyung, bagaimana bisa D-Team sampai hampir dibubarkan seperti itu?”

Dalam hitungan kurang dari dua detik sepasang alis milik Donghae, Kyuhyun dan Hyukjae terangkat sempurna setelah mendengar nada bicara Ryeowook yang berbanding jauh 180 derajat dari yang mereka dengar di dalam ruang rapat beberapa saat lalu. Ini… lebih lembut dan terdengar seperti orang yang sedang cemas dan mengeluh.

“Hah?”

Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hyukjae melihat Ryeowook berjalan ke arah mereka bertiga sambil mengacak-acak rambut hitamnya.

“Kenapa kalian sama sekali tidak membantuku bicara tadi di sana? Bagaimana kalau aku kalah berdebat dengan atasan-atasan kita yang kekuatannya jauh di atas Kapten Tan?”

“Hah?”

Lagi-lagi respon itu yang ditunjukkan Hyukjae pada pertanyaan-pertanyaan Ryeowook yang seharusnya bisa dijawab. Sedangkan Donghae, pria yang hari ini mengenakan jas berwarna hitam tersebut hanya menghela napas lega. Seolah baru saja menemukan seseorang yang sudah lama menghilang.

“Sikap serius yang tadi…. sama sekali tidak pantas untukmu. Tahu tidak?” seloroh Donghae sambil melepas jasnya dan duduk begitu saja ke atas kursi di belakang kerjanya.

“Kalau aku tidak serius, mereka akan tetap membubarkan D-Team. Aku sebagai Leader Team tidak bisa bila harus melihat tim yang sedang kupimpin hancur begitu saja,” timpal Ryeowook.

Kyuhyun yang sejak tadi berdiri di dekat pintu lantas menghampiri Hyukjae dan merangkulkan lengannya pada bahu Hyukjae.

“Wakil Ketua Tim Lee, tugas Anda sudah selesai. Kembalilah bekerja sebagai anggota tim yang baik dan rajin, hm?” ujar Kyuhyun yang kemudian mendapat jitakan di kepalanya oleh Hyukjae.

“Kita masih punya satu pekerjaan lagi, Bodoh!” bentak Hyukjae seraya menepis kasar tangan Kyuhyun yang ada di bahunya.

“Apa lagi? Bukankah tim kita sudah selamat? Dengan begitu kita bisa melanjutkan pekerjaan kita yang tertunda. Asal tahu saja, tanganku sudah gatal untuk menjitak kepala Kim Bo Sang. Bisa-bisanya dia menyuruh anak buahnya untuk menghajarku dan melarikan diri begitu saja.”

“Apa kau bisa menyelesaikan kasus Kim Bo Sang tanpa berkas-berkas laporan penyelidikan pria botak itu, hah? Sebagai informasi saja, saat ini semua berkas penyelidikan Kim Bo Sang ada di kantor A-Team, Letnan Cho,” kata Hyukjae datar.

“Oh, iya ya. Aku sampai lupa.” Kyuhyun menepuk pelan keningnya sendiri. Namun, sedetik kemudian senyum lebar muncul di wajahnya. “Bagaimana kalau kita menghubungi Ketua Tim Choi dan memintanya mengantarkan berkas-berkas kasus milik kita kemari?”

“Jangan membuat masalah dengannya, Kyuhyun-ah,” Donghae mencoba mencegah ide konyol Kyuhyun.

“Aku hanya ingin memberi pelajaran pada orang itu,” bantah Kyuhyun.

“Kubilang, jangan membuat masalah dengan Choi Siwon,” cegah Donghae. Kali ini pandangannya beralih dari layar komputer yang ada di depannya pada Kyuhyun.

“Tapi—“

“Jangan membuat masalah dengan A-Team, Letnan Cho. Atau lebih tepatnya, jangan membuat masalah dengan Choi Siwon. Kau ingat? Choi. Siwon,” Hyukjae ikut membantu Donghae mencegah Kyuhyun melakukan sesuatu yang gegabah.

Choi Siwon. Nama itu…. dan pemilik nama itu…., bukan tanpa alasan Donghae dan Hyukjae mati-matian mencegah Kyuhyun yang suka bertindak konyol dan bodoh tersebut mengerjainya. Tidak, tidak, tidak. Tidak boleh.

oOo

a few days later at D-Team’s Office……

Kyuhyun berhambur masuk ke dalam ruangan D-Team bersama Hyukjae. Keduanya sama-sama membuang napas dengan kasar. Tak hanya itu, wajah mereka pun tampak kesal. Donghae yang menyaksikan kedua rekan satu timnya hanya bertanya “Kenapa?” sambil tetap memandang papan tulis berwarna putih yang menampilkan gambar pola tindakan kriminal yang dilakukan kelompok Kim Bo Sang.

“Mereka. Mereka benar-benar membuatku kehabisan kesabaran,” jawab Kyuhyun bersungut-sungut sambil berkacak pinggang dan berjalan mondar-mandir ke sana kemari.

“Siapa?” Donghae menoleh ke arah Kyuhyun dan Hyukjae.

“Anak buah Kim Bo Sang. Mereka seperti orang bodoh. Maksudku, bodoh dalam arti yang sebenarnya. Bagaimana bisa mereka hanya mengeluarkan kata-kata aku tidak tahu apa-apa setiap aku memberikan pertanyaan? Haaah…, benar-benar….,” gerutu Kyuhyun yang pada akhirnya mendaratkan pantatnya di atas kursi yang ada di belakang meja kerjanya.

Donghae baru akan menanggapi gerutuan Kyuhyun ketika Ryeowook keluar dari ruangannya. Leader Team tersebut memberikan beberapa lembar kertas pada Donghae.

“Sekarang giliran Kim Bo Sang?” tanya Ryeowook pada Donghae. Salah satu tangannya meraih hasil print out barang bukti yang dikumpulkan timnya saat proses penangkapan Kim Bo Sang beberapa hari yang lalu.

“Ya. Hyukjae dan Kyuhyun gagal mendapatkan informasi lebih dari anak buah Kim Bo Sang. Kurasa… kita harus mendapatkan sesuatu dari bos mereka,” jawab Donghae sambil sesekali membaca isi kertas yang diberikan Ryeowook padanya.

“Di situ ada beberapa hal yang bisa kita tanyakan karena saat aku memeriksa laporan hasil penangkapan mereka, aku menemukan sesuatu yang aneh.” Ryeowook menunjuk kertas di tangan Donghae.

“Kau juga berpikiran seperti itu?”

“Awalnya kupikir tidak ada yang harus dikhawatirkan. Tetapi setelah kuperiksa beberapa kali……, ada yang aneh. Maka dari itu, sebaiknya kita harus segera memastikannya sendiri. Siapa tahu saja dengan bertanya padanya, kita bisa mendapatkan sesuatu,” ujar Ryeowook sambil mengajak Donghae keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju Ruang Interogasi.

Di ruangan Interogasi, Kim Bo Sang, pria berkepala botak yang berhasil ditangkap Hyukjae beberapa hari yang lalu tampak terdiam di depan sebuah meja. Kedua pergelangan tangannya diborgol. Wajahnya tenang, seolah sama sekali tak merasa takut meski tahu ia sedang berada di kantor polisi.

Sepasang matanya beralih pada pintu berwarna biru tua yang terbuka. Dua orang polisi muncul dari balik pintu tersebut dan masuk ke dalam. Dua polisi tersebut tak lain adalah Donghae dan Ryeowook yang memang akan melakukan interogasi padanya.

Ryeowook menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Donghae untuk pergi ke control room dan memantau rekaman proses interogasi yang akan dimulai beberapa saat lagi.

“Kim Ryeowook, dari Unit Investigasi Kriminal. Aku yakin kau pasti sudah tahu maksud kedatanganku,” ujar Ryeowook sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Kim Bo Sang. “… maka dari itu aku tidak akan bertele-tele karena itu sama saja membuang waktu,” tambahnya.

Kim Bo Sang mendengus pelan ketika mengamati sosok Ryeowook. Ia sempat mengira Leader Team yang dimaksud Kyuhyun dan Hyukjae adalah seseorang yang bertubuh tegap tinggi, berwajah tegas dan mengerikan. Tapi, rupanya…., baginya, untuk ukuran polisi biasa sekalipun, seharusnya Ryeowook tak masuk kriteria. Pria bertubuh mungil dan berparas layaknya salah satu idol di televisi…., Kim Bo Sang tidak bisa percaya ciri-ciri itu ada pada Kim Ryeowook yang memang seorang polisi, sekaligus seorang Leader Team. “Kau…., juga salah satu dari mereka?”

“Kalau kau membicarakan polisi-polisi yang berhasil menangkap kelompokmu…, ya benar. Aku salah satu dari mereka. Dan bahkan jabatanku sedikit lebih tinggi dari mereka,” jawab Ryeowook sambil tersenyum tipis.

Sayang sekali, jawaban yang cukup sopan dan tenang tersebut rupanya justru melahirkan tatapan dingin dari Kim Bo Sang. Tentu saja, untuk apa pria bertubuh gempal tersebut ikut-ikutan tersenyum seperti polisi yang sedang duduk di depannya itu mengingat kini dirinya sedang menjadi tahanan kantor polisi.

“Aku kemari karena ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu. Jadi, kuminta kerjasama darimu. Bagaimana?” Ryeowook menegakkan punggungnya dan membaca sekilas kertas yang tadi dibawanya masuk.

Donghae yang berada di control room menatap Kim Bo Sang dari balik kaca. Ia tidak terlalu yakin permintaan kerjasama yang dilontarkan Ryeowook akan membuahkan hasil. Lihat saja bagaimana tersangka tersebut memandang ketua timnya.

“Kalian sudah menangkapku dan juga mengambil semua barang bukti yang ada di tempatku. Apa lagi yang ingin kalian cari, hah?” alih-alih menjawab, Kim Bo Sang justru melontarkan pertanyaan lain.

Tepat sekali! Dugaan Donghae tak meleset. Mungkin kalau Kim Bo Sang menuruti apa kata Ryeowook, cerita yang ada pasti berbeda. Dan tentu saja akan semakin memudahkan D-Team dalam menuntaskan kasus peredaran uang palsu ini.

Ryeowook meletakkan kertas berisi daftar nama orang yang menjadi buyer dari transaksi peredaran uang palsu milik Kim Bo Sang ke atas meja. “Kau ingat dengan nama-nama ini, kan?”

Sekilas, Kim Bo Sang melirik kertas tersebut sebelum kembali menatap dingin Ryeowook. Tak ada yang diucapkannya.

“Mereka semua adalah orang-orang yang menjadi pelanggan transaksi ilegalmu. Aku harus berterima kasih padamu, karena berkat kertas ini, kami sudah menangkap mereka.”

Tak ada reaksi apapun.

“Baiklah, lupakan nama-nama orang itu. Kau tahu, Kim Bo Sang-ssi? Awalnya kupikir kasus ini bisa diselesaikan dalam waktu singkat karena bagiku…, pengedaran uang palsu dalam skala besar hanyalah kasus biasa. Tapi…, ternyata aku salah.”

Lagi-lagi tak ada reaksi sama sekali.

“Kau bukan otak utama dari transaksi ilegal ini, kan?”

Berhasil! Pertanyaan yang dilontarkan Ryeowook berhasil menghentikan kerjapan mata Kim Bo Sang. Kini pria botak tersebut membeku untuk beberapa detik meski tak ada reaksi terkejut sedikit pun yang tampak.

“Apa pertanyaanku membingungkanmu? Kalau begitu biar kuganti dengan pertanyaan lain.” Ryeowook lantas meletakkan salah satu kertas bergambar foto barang bukti ke atas meja. “Aku ingin bertanya soal foto itu,” lanjutnya.

Perlahan Kim Bo Sang menundukkan wajahnya, memandang foto tersebut. Mendadak kedua matanya membulat penuh. Kepanikan begitu kentara di wajahnya kini. Dan itu sudah cukup membuat Ryeowook menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum karena merasa puas.

“Di pesan fax tersebut tertulis alamat Center Bank. Lengkap dengan letak CCTV yang tersebar di bank tersebut. Mulailah pada pukul satu malam, selesaikan semua dengan bersih kurang dari satu jam, kata itu juga tertulis di sana. Kalau aku harus mengingat-ingat kasus perampokan Center Bank yang terjadi tujuh bulan lalu, kejadiannya juga terjadi pada pukul satu malam dan komplotan perampok tersebut juga berhasil kabur kurang dari satu jam sejak mereka memasuki bank. Terdengar mirip, kan?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Pak Polisi,” sanggah Kim Bo Sang akhirnya.

Senyuman Ryeowook memudar, digantikan dengan tatapan tak kalah dingin seperti yang ditampilkan Kim Bo Sang beberapa menit yang lalu.

“Ada yang ingin kupastikan darimu tentang apa yang kutemukan ini.” Ryeowook menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya secara perlahan sambil mendekatkan dirinya pada meja. “Apa kau salah satu dari mereka? Apa tujuh bulan lalu kau ikut merampok Center Bank?”

Tak ada respon.

“Kau mau bekerja sama atau tidak, kami akan tetap bisa membuktikan bahwa kau salah satu dari mereka. Hanya saja…., kalau kau sedikit berpikir normal dan memilih untuk bekerja sama dengan kami, kemungkinan untuk mendapatkan keringanan hukuman mungkin bisa lebih dari 50% atau bahkan 75%.”

Entah disebut pencucian otak, sebuah bujukan atau ancaman, yang jelas ucapan Ryeowook berhasil membuat Kim Bo Sang bimbang.

“Apa aku bisa sampai dibebaskan?”

Gotcha! Umpan sudah termakan!

“Dibebaskan? Aku tidak bisa menjamin itu mengingat kau juga sudah melakukan tindakan kriminal. Tapi untuk pengurangan masa hukuman nantinya, itu tergantung seberapa banyak informasi yang bisa kau berikan pada kami untuk kasus Center Bank yang sedang kami selidiki,” jawab Ryeowook ringan sambil meletakkan sisa lembaran kertas yang masih ada di tangannya ke atas meja. Untuk beberapa detik matanya bergerak memandang kaca berukuran besar yang ada di sisi kanan sambil tersenyum tipis. Ia tahu di balik kaca tersebut, Donghae pun melakukan hal yang sama, tersenyum lega.

.

.

.

.

At D-Team’s Office

“Apa yang mereka lakukan di Ruang Interogasi tiga jam ini? Tidur atau bagaimana? Kenapa lama sekali sih?” Kyuhyun menggerutu kesal sambil menekan-nekan layar ponsel tipisnya yang menampilkan game yang sejak tadi dimainkannya.

“Kau seperti tidak mengenal Kim Ryeowook saja. Anak itu sangat suka dengan segala sesuatu yang begitu detail. Bila dia menemukan sesuatu di sana, ia pasti akan menggalinya lebih dalam lagi, tidak peduli pantatnya akan terkikis karena terlalu lama duduk di kursi,” sahut Hyukjae yang sibuk membetulkan posisi jam tangan baru di pergelangan tangan kirinya. “Bagaimana menurutmu? Jam ini cocok denganku, kan?”

Merasa ucapannya sama sekali tak ditanggapi, Hyukjae langsung mengulurkan kakinya ke arah meja kerja Kyuhyun yang cukup dekat dengan meja kerjanya.

Dag!

Kepala Kyuhyun yang tergeletak lemas di atas meja terpaksa terangkat dan membentur permukaan meja akibat saking kerasnya Hyukjae menendang kaki meja tersebut. Bahkan ponsel yang ada di tangan Kyuhyun hampir terlepas kalau saja tidak segera digenggam oleh Kyuhyun.

“Bagaimana menurutmu? Jam ini cocok denganku, kan?” Hyukjae mengulangi pertanyaannya dengan santai sambil menunjukkan jam tangannya pada Kyuhyun, seolah sama sekali tak merasa takut atau semacamnya ketika menyadari Kyuhyun melempar tatapan tajam ke arahnya.

“Biasa saja. Bukannya setiap bulan kau selalu membeli jam tangan baru? Lebih baik kau tabung uang gajimu daripada membeli barang-barang tidak penting seperti itu. Memangnya kurang besar jam dinding di ruangan ini? Atau ponselmu tidak ada jamnya?” ujar Kyuhyun malas seraya kembali mendaratkan kepalanya ke atas meja.

Hyukjae baru akan membalas ucapan Kyuhyun ketika pintu ruangan D-Team dibuka seseorang dari luar. Sosok Donghae dan Ryeowook berhambur masuk ke dalam dengan terburu-buru.

“Ada apa? Ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa kalian berlarian seperti itu?” Hyukjae bangkit dari duduknya, menatap heran ke arah Ryeowook yang melesat masuk ke dalam ruangannya dan tak lama kemudian keluar dengan jaket hitam di tangannya.

“Apa ada kasus baru lagi? Apa kita akan menangkap seseorang?” Kyuhyun pun ikut dibuat bingung seperti Hyukjae ketika Donghae berjalan ke arah mejanya dan menyambar ponsel tipis miliknya. “Kenapa mengambil ponselku?”

“Ponselku sedikit bermasalah, jadi aku harus menggunakan navigator yang ada di ponselmu,” jawab Donghae dengan cepat sambil berjalan ke arah pintu.

“Cepat keluar dan perintahkan beberapa petugas untuk ikut dengan kita!” perintah Ryeowook.

Meski Hyukjae dan Kyuhyun masih tidak tahu-menahu dengan apa yang sedang terjadi, mereka berdua langsung tanggap menjalankan perintah yang diberikan oleh Ketua Tim mereka. Kyuhyun melempar kunci mobil tim mereka pada Hyukjae dan segera melesat keluar untuk memerintahkan beberapa petugas agar segera ikut dengan timnya.

“Sebenarnya kita akan ke mana?” Hyukjae kembali bertanya pada Donghae yang sudah masuk ke dalam mobil mereka.

“Namyeong-dong. Kita akan menangkap seseorang di sana,” jawab Donghae seraya menyuruh Hyukjae untuk segera mengemudikan mobil.

“Semoga saja kita berhasil menangkapnya,” tandas Ryeowook yang sudah duduk di samping kemudi mobil.

“Aku sudah menyuruh mobil lain untuk mengikuti kita. Sebaiknya kita cepat ke sana sebelum kita kehilangan orang itu,” ujar Kyuhyun yang sudah meloncat masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. “… walaupun aku tidak tahu siapa yang akan kita tangkap,” tambahnya pelan.

Dengan cepat mobil berwarna hitam yang dikemudikan Hyukjae langsung melesat keluar dari area depan markas kepolisian. Diikuti dengan mobil-mobil polisi lain di belakangnya.

“Berikan aku alamat lengkapnya. Kalau tidak kita akan seperti orang gila memutari daerah Namyeong-dong,” ujar Hyukjae yang dengan lihai mendahului beberapa mobil yang ada di depannya.

“Yongsan-gu, Namyeong-dong, 231-36,” jawab Ryeowook sambil menuliskan alamat tersebut pada layar GPS yang ada di dalam mobil.

“Sebenarnya siapa yang akan kita tangkap sekarang?” Kyuhyun kembali mengutarakan pertanyaan yang sama karena semakin lama ia semakin penasaran mengingat sejak mereka keluar dari markas hanya alamat tersebut yang terdengar.

“Seseorang yang memiliki andil cukup besar atas perampokan Center Bank tujuh bulan yang lalu dan peredaran uang palsu yang dijalankan Kim Bo Sang.”

Jawaban Donghae sontak mengejutkan Kyuhyun. Bahkan Hyukjae yang sejak tadi serius menyetir pun ikut terkejut.

“Perampokan Center Bank? Apa Kim Bo Sang juga terlibat dengan perampokan itu?” tanya Kyuhyun menggebu-gebu.

“Di tempat persembunyian Kim Bo Sang ditemukan sebuah pesan fax dari seseorang yang berisi alamat lengkap Center Bank, berikut dengan daftar semua letak kamera CCTV di bank tersebut,” jawab Ryeowook yan sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari arah depan mobil.

“Selain itu, ada tulisan yang berisi perintah untuk melakukan perampokan pada pukul satu malam dan menyelesaikannya sebelum satu jam,” tambah Donghae.

“Bukankah itu sama?! Center Bank dirampok tepat pada pukul satu malam, dan saat kita sudah berhasil mengepung mereka, mereka justru berhasil melarikan diri. Dan itu waktunya kurang dari satu jam sejak mereka masuk ke dalam bank. Woooah…., daebak! Jadi kita sudah menangkap salah satu dari komplotan perampok itu?!” Mata Kyuhyun berbinar karena setidaknya misi yang timnya lakukan tujuh bulan lalu tidak sepenuhnya gagal.

“Hanya saja satu petunjuk yang kita dapat…., sepertinya kita masih mendapat kesulitan,” sahut Ryeowook yang berhasil mengubah ekspresi senang Kyuhyun menjadi heran kembali.

“Kok bisa?” tanya Hyukjae sambil menambah kecepatan mobilnya setelah mendahului sebuah truk kontainer di depannya.

“Ada yang aneh di kasus ini. Kim Bo Sang sama sekali tidak mengenal orang yang memerintah dirinya selama ini. Mereka hanya berkomunikasi lewat fax. Dari keterangan yang dia berikan pada kita tentang orang itu…., sepertinya ia benar-benar tidak tahu siapa orang tersebut,” jawab Ryeowook.

“Jadi kita seperti sedang berjalan ke sebuah jalan buntu?” gumam Kyuhyun yang rupanya didengar oleh Donghae.

Ani. Setidaknya kita mendapatkan nomor fax orang tersebut. Setelah dilacak, nomor itu berasal dari tempat yang akan kita tuju sekarang,” ucap Donghae seraya memberikan kertas berisi hasil pelacakan nomor fax yang dia dapatkan.

“Entah kenapa… aku merasa ada yang tidak beres,” gumam Kyuhyun pelan saat membaca alamat pengirim pesan fax pada Kim Bo Sang tersebut.

“Kita sudah sampai.”

Ucapan lantang Hyukjae menyadarkan ketiga polisi yang ada di dalam mobil tersebut. Tak jauh dari hadapan mereka, terlihat sebuah bangunan rumah berlantai dua yang nampak sepi. Ada beberapa pohon rindang yang berjejer di bagian depan rumah tersebut.

Donghae, Hyukjae, Ryeowook dan Kyuhyun serentak keluar dari dalam mobil dengan pistol hitam yang sudah siap di tangan mereka masing-masing. Hyukjae mengisyaratkan tiga petugas untuk ikut dengannya berjaga-jaga di sisi kanan rumah tersebut karena sekilas ia melihat ada satu pintu tertutup di sana. Siapa tahu saja orang yang sedang mereka incar berinisiatif kabur melalui pintu tersebut.

Sementara itu Donghae, Kyuhyun dan Ryeowook dengan hati-hati menaiki tangga di depan rumah yang akan mengantar mereka ke pintu utama rumah tersebut setelah sebelumnya memerintahkan sebagian petugas untuk ikut dengan mereka, dan sisanya berjaga-jaga di luar.

Ryeowook menggerakkan tangannya, memerintahkan Donghae yang sudah berdiri di samping pintu agar segera membuka pintu sementara dirinya dan Kyuhyun mengarahkan pistol mereka ke arah pintu. Perlahan Donghae menyentuh knop pintu tersebut dan setelah mendapat aba-aba dari Ryeowook, ia langsung membukanya dengan cepat.

Ketiga polisi tersebut berhambur masuk ke dalam rumah yang rupanya begitu pengap dan gelap. Ditambah dengan bau busuk yang cukup menyengat membuat mereka seketika menutup hidung.

Ada yang aneh.

Dengan tetap waspada, Kyuhyun berjalan ke arah dinding, mencari saklar lampu yang mungkin saja ada di sana.

Klek~

Lampu yang ada di langit-langit ruangan tersebut menyala. Membuat semua yang ada di ruangan tersebut terlihat jelas. Dari perabotan rumah yang berantakan, barang-barang berserakan di mana, dan juga….

“Mayat?” ujar Kyuhyun ketika matanya menangkap sesosok tubuh pria tergeletak di dekat sofa yang terguling.

Kini perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut tertuju pada mayat yang ditunjuk Kyuhyun. Donghae dan Ryeowook saling pandang, berusaha membaca situasi apa saja yang sedang mereka alami saat ini.

Rumah yang kosong, semua yang ada di dalam ruangan ini terlihat sangat berantakan, dan ada mayat di sana.

Belum selesai semua orang yang di dalam ruangan tersebut memahami apa yang sedang terjadi, tiba-tiba terdengar suara tembakan dan teriakan dari arah kanan rumah. Atau lebih tepatnya suara tembakan dan keributan itu berasal dari tempat yang dijaga oleh Hyukjae dan beberapa petugas.

“Hyukjae. Suara tembakan itu berasal dari tempat Hyukjae!” ujar Donghae pada Kyuhyun dan Ryeowook. Ia lantas berlari keluar dari ruangan tersebut.

“Letnan Cho, urusi mayat itu dengan yang lain!” perintah Ryeowook pada Kyuhyun seraya berlari menyusul Donghae.

“Ya, Ketua Kim,” jawab Kyuhyun sigap.

To be continued

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

9 Comments

  1. inggarkichulsung

     /  July 22, 2015

    Ryeongie oppa so brave, jarang2 menemukan ff dimana Ryeong oppa sgt berani, tegas dan benar2 bertanggung jwb akan team nya, smg Hyukjae oppa tdk kenapa2 krn arah tembakan berasal dr tempat Hyukjae oppa, wlpn rumah td terlihat kosong pasti msh ada komplotan perampok Center Bank yg msh bersembunyi disitu, smg Team D bs menyelesaikan tugas ini dgn baik dan berhasil krn kalau bs sls satu tepuk 2 kasus bs teratasi dan kepercayaan diri Team D mjd lbh besar dan bs membuktikan bhw mrk jg bisa dan tdk pantas dipandang sebelah mata, ditunggu bgt kelanjutannya Nita

    Reply
  2. Ayunie CLOUDsweetJewel

     /  July 29, 2015

    Hadeuh, saking sibuknya jadi belum sempat baca fic. Save dulu ya^^

    Reply
  3. Ahh… Akhirnya ada titik terang utk kasus bank, walaupun masih abu2 tp setidaknya bisa mengurangi beban mereka

    Reply
  4. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

     /  October 19, 2015

    Tadi itu sempat berasa aneh dengan sikap Ryeowook yang tidak biasanya, rasanya tidak cocok, tapi ketika kembali keruangan dan sikapnya sudah ‘normal’, aku langsung berpikir kalau itu baru Ryeowook. Kekeke…

    Btw, ini nanti bakalan ada romance-nya kan? Soalnya kalau action tanpa romance itu berasa ada yang kurang. Hoakakakaka….

    Reply
  5. aku kira Ryeowook beneran tegas ehh ternyata dia ketakutan juga di dalam hati wkwkwk
    Cieee D team gak jadi dibubarin

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: