VENUS [Part 2]


VENUS 3

V E N U S
Chaptered FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Donghae – Tan Hankyung – Kim Heechul
Lee Hyukjae – Cho Kyuhyun

Supporting Casts : Choi Siwon – Kim Ryeowook – Henry – Go Jung Ra (OC)
and others (You’ll know them when you read it)

Genre : Action, Friendship, Brothership, lil bit of Romance (maybe)

Rating : PG-16

Note :
Saya lagi suka gonta-ganti cover FF hehehe…

Happy reading~

=================================

*

*

*

*

*

 

Seoul~ 21.00 KST

“Haah…, hidupku akan kuakhiri sekarang juga…,” keluh Hyukjae seraya kembali meneguk sisa cola ke-limanya. Rambutnya terkesan acak-acakan karena sejak sepuluh menit yang lalu hingga sekarang ia terus-menerus mengacaknya karena frustasi.

“Hidupmu tidak akan langsung berakhir bila hanya minuman itu yang kau minum.” Kyuhyun menunjuk kaleng-kaleng cola bekas Hyukjae yang sudah kosong di atas meja kayu. “…mungkin kau hanya berakhir di ruang ICU karena ginjalmu bermasalah,” lanjutnya seraya menyantap ramen yang baru saja disajikan oleh Bibi Pemilik Kedai Ramen. Sekedar informasi saja, malam ini ketiga polisi muda itu sedang berada di kedai ramen pinggir jalan dekat markas yang merupakan tempat favorit mereka.

“Lalu bagaimana caranya agar aku bisa cepat mati daripada melihat dengan mata kepalaku sendiri D-Team dibubarkan?” Hyukjae mendongakkan kepalanya, menatap langit malam Seoul yang sama sekali tak berhias bintang, membayangkan dirinya kembali ke kantor polisi daerah tanpa title sebagai salah satu polisi unit khusus. Astaga… hanya membayangkannya saja sudah begitu mengerikan.

“Kalau kau masih di ruang ICU dan dalam keadaan kritis, aku akan mencabut selang infus dan selang oksigenmu, kemudian menekan wajahmu dengan bantal rumah sakit hingga kau benar-benar mati. Itu sangat mudah bagiku,” sahut Kyuhyun yang langsung disambut tawa kecil oleh Donghae yang sejak tadi terdiam di sampingnya. Hal itu tersebut memaksa Hyukjae menegakkan kepalanya ke posisi semula dan mendesis kesal melihat kedua temannya saling ber-high fuve di depannya.

Namun, belum sempat Hyukjae menyembur mereka dengan kekesalannya, matanya menangkap sosok pria yang tengah berjalan menghampiri mereka bertiga. Tubuh pria cukup tinggi. Rambut gelapnya yang cepak masih bisa dimainkan oleh angin malam Seoul. Kedua mata sipitnya nampak begitu sayu, tapi masih bisa terlihat tajam dan menyeramkan bila pria itu sedang marah.

Eo? Hyung?!” panggil Hyukjae, melambaikan tangannya sambil berdiri. Donghae dan Kyuhyun yang awalnya masih tertawa langsung menoleh ke belakang tubuh mereka setelah menyadari Hyukjae sedang memanggil seseorang dan spontan ikut berdiri seperti yang Hyukjae lakukan.

“Sudah kuduga kalian di sini,” ucap pria tersebut setelah berada di dekat meja ketiga polisi yang entah kenapa begitu terlihat jelas sedang meratapi nasib tim mereka. Tangannya bergerak mengisyaratkan ketiga polisi muda tersebut untuk duduk kembali.

“Hankyung Hyung? Bukankah malam ini kau harus ikut menyelidiki kasus pembunuhan di Myeongdong bersama A-Team?” tanya Kyuhyun dengan tatapan bingung.

“Bagaimana bisa aku pergi saat kalian bertiga…..” Hankyung melihat atas meja yang penuh dengan kaleng cola yang ia yakini adalah milik Hyukjae, tiga mangkuk ramen yang sudah habis satu setengah isinya, beberapa botol soju dan satu gelas bir. “…..yang kutahu pemandangan seperti ini mencerminkan beberapa orang sedang mencoba bunuh diri.” Hankyung seraya menarik kursi dan duduk di samping Donghae. Donghae hanya membungkukkan badannya sebentar padanya sambil tersenyum.

Beberapa orang? Yang kutahu hanya Hyukjae yang ingin bunuh diri dan… AWWWW!” Kyuhyun terpaksa mengerang kesakitan karena belakang kepalanya dipukul cukup keras oleh Hyukjae.

“Usiaku dua tahun lebih tua darimu dan kau hanya memanggilku Hyukjae? Kalau kau bukan adik Hankyung Hyung dan sudah kuanggap seperti adikku sendiri, aku pasti akan menyumpal mulutmu dengan kaleng-kaleng ini!”seru Hyukjae.

Hankyung yang melihat pertengkaran itu hanya tersenyum. Tetapi ketika melihat Donghae yang begitu diam di sampingnya, ia lantas menghela napas pelan.

Mianhae, Donghae-ya,” ucap Hankyung sambil mengambil sloki di depan Donghae dan menuangkan soju ke dalamnya. Donghae dibuat bingung dengan permintaan maaf Hankyung padanya.

“Untuk… untuk apa Hyung meminta maaf padaku?” tanya Donghae, mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Hankyung.

“Iya. Maaf untuk kejadian kemarin yang lalu di ruanganku. Mungkin Komisaris Ahn dan Ketua Park terlalu kasar menegurmu,” jawab Hankyung setelah menghabiskan satu sloki penuh soju.

Donghae hanya menundukkan kepala. Ia tidak bisa berkata “Tidak apa-apa” karena memang sudah sewajarnya para petinggi kepolisian seperti mereka memberikan teguran keras pada timnya.

“Ah, Hyung, benarkah D-Team akan dibubarkan? Kami hanya gagal dalam satu misi. Entah kenapa Komisaris Ahn dan Ketua Park menjatuhkan sanksi seperti itu pada D-Team seolah-olah sejak tim ini dibentuk kami selalu gagal setiap menyelesaikan misi yang diberikan,” Hyukjae masih mencoba membela diri. Sikap tidak terima terang-terang Hyukjae tunjukkan.

Hankyung menghela napas pelan kemudian berkata,”Aku sudah berbicara dengan Ketua Park. Dan… meski awalnya tidak setuju, paling tidak akhirnya dia menyutujui permintaanku untuk tidak segera membubarkan D-Team dalam waktu dua minggu ke depan.”

“Dua minggu?!”

“Dua minggu?!”

Hyukjae dan Kyuhyun berseru hampir bersamaan. Berbanding terbalik dengan respon kedua rekannya, Donghae hanya memandang Hankyung. Dua minggu, waktu yang tidak cukup panjang bagi timnya untuk bernapas.

“Aku hanya mencoba mengulur waktu sampai Ryeowook kembali karena sudah berkali-kali aku gagal menghubunginya. Dalam waktu dua minggu itu, tim kalian masih bisa mengerjakan kasus yang sedang kalian tangani seperti biasa,” papar Hankyung.

“Tapi, Hyung…”

“Selesaikan kasus Kim Bo Sang dengan serius. Konsentrasi saja pada hal tersebut dan kasus-kasus lainnya yang sedang kalian kerjakan. Kalau kalian terus-menerus memikirkan tim kalian yang akan bubar, semua pekerjaan kalian akan tidak karuan,” Hankyung memotong keluhan Kyuhyun.

“Tapi—“

“Bersikaplah profesional!” Kali ini nada suara Hankyung yang begitu tegas membuat Kyuhyun terpaksa mengatupkan bibir rapat-rapat. Tak hanya Kyuhyun, Hyukjae dan Donghae pun ikut tercengang mendengar suara Hankyung.

“Kalian ini adalah polisi yang bertugas di Unit Investigasi Kriminal. Apapun yang terjadi, kalian harus tetap profesional dalam menjalankan tugas. Satu menit yang kalian gunakan untuk mengeluh seperti saat ini, bisa menjadi satu menit yang berharga bagi penjahat di luar sana.”

Hankyung memandangi ketiga bawahannya satu per satu dengan sedikit kesal. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menegakkan wajah dan membalas tatapannya. Sebenarnya ia tidak ingin berteriak seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Keputusan pembubaran D-Team oleh petinggi unit tempat mereka bertugas memang sangat sulit untuk dihindari. Selain menyuruh mereka untuk tetap fokus menjalankan tugas, Hankyung tidak tahu lagi harus menghibur mereka dengan cara yang lain.

Meski hanya dua minggu, tidak salah kan bila Hankyung tetap memastikan tim ketiga polisi muda tersebut mampu bekerja dengan baik?

Hyung, kau mau ke mana?” Hyukjae langsung bertanya pada Hankyung saat menyadari kaptennya tersebut berdiri.

“Bukankah kalian tadi menyuruhku untuk pergi menyusul A-Team ke Myeongdong? Makanlah sepuas kalian, malam ini aku yang traktir.” Hankyung menepuk pelan bahu Donghae sebelum pergi.

Untuk beberapa saat ketiga polisi muda yang sudah dua tahun bergabung dalam D-Team tersebut terdiam memandang punggung kapten unit mereka yang semakin menjauh. Mungkin di dalam hati mereka ada rasa malu setelah mendengar ucapan Hankyung. Memang ada benarnya juga. Walau bagaimanapun juga, teguran tetap teguran. Hukuman tetap hukuman. Meski teguran dan hukuman tersebut mengarah pada tim mereka, mereka tetaplah polisi yang harus menyelesaikan setiap tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab an profesional.

Hyung-ku itu……… keren, kan?” ucap Kyuhyun tanpa melepas kedua matanya dari sosok Hankyung yang baru saja menghilang dari pandangannya.

oOo

Next day…

Hyung!”

Donghe yang berjalan bersama Hyukjae di dekat Ruang B-Team terpaksa menoleh ke belakang. Tak jauh dari tempat mereka terlihat Kyuhyun berlari kecil sambil membetulkan letak ID Card yang menggantung di lehernya.

“Kau terlambat dua menit, Letnan Cho,” ujar Hyukjae sambil mengamati rambut gelap Kyuhyun yang cukup berantakan.

“Aku lupa mengatur ulang jam bekerku yang sejak dua hari lalu selalu berbunyi tiap jam delapan pagi. Aku jadi penasaran, sebenarnya siapa yang kurang kerjaan mengutak-atik jam bekerku,” gumam Kyuhyun yang akhirnya berjalan lebih dulu.

Hyukjae yang masih bisa mendengar gumaman tidak jelas Kyuhyun hanya berusaha menahan tawanya sambil mengajak Donghae untuk berjalan lebih cepat agar segera sampai di ruangan tim mereka.

Namun, mendadak langkah ketiga polisi muda tersebut terhenti sesaat setelah mereka berhambur masuk ke dalam ruangan D-Team. Di dalam sana terdapat seorang petugas yang terlihat membawa kardus berisi beberapa map berwarna biru

“Apa yang kau lakukan di ruangan ini?” Hyukjae langsung menghampiri petugas tersebut. Matanya terbelalak setelah menyadari map-map tersebut berisi berkas-berkas kasus yang sedang dikerjakan timnya. “Kenapa kau mengambil berkas-berkas ini?!”

“Saya hanya menjalankan perintah untuk membawa berkas-berkas ini ke ruangan A-Team,” jawab petugas tersebut dengan tenang.

“A-Team?!” seru Kyuhyun yang akhirnya ikut menghampiri petugas tersebut. Tangannya langsung mengambil semua map yang ada di dalam kardus tersebut dan memeriksa sekilas. “Apa-apaan ini? Semua kasus yang sedang kita kerjakan…., semuanya diambil.”

“Apa maksudmu?” Hyukjae mengernyitkan keningnya, menoleh ke arah Kyuhyun yang berdiri di sampingnya.

“Untuk apa A-Team menyuruhmu mengambil semua berkas kasus yang kami kerjakan, hah? Apa mereka tidak punya kasus yang bisa mereka kerjakan sendiri?” Kyuhyun menunjukkan map-map yang ada di tangannya pada petugas tersebut.

“Saya hanya menjalankan perintah,” jawab petugas tersebut yang rupanya sedikit takut pada Kyuhyun yang begitu emosi.

“Ini sudah keterlaluan. Ini sudah keterlaluan. Sebenarnya apa mau mereka mengambil kasus kita seenaknya seperti ini?” desis Kyuhyun yang kesal sambil memutar tubuhnya dan berjalan ke arah pintu.

“Kyuhyun-ah, dengarkan aku dulu.” Donghae mencoba menahan langkah Kyuhyun. Tapi sepertinya rekan satu timnya itu tidak sedang ingin menghiraukan siapapun yang ingin berbicara padanya.

Kyuhyun yang berjalan sambil berusaha menahan kekesalan sama sekali tak menggubris panggilan Donghae. Bahkan mungkin saja ia juga tidak sadar kalau Hyukjae sedang mengikutinya. Ia sudah cukup sakit kepala setelah tahu timnya akan dibubarkan. Dan pagi ini… astaga…. melihat petugas tadi membawa semua berkas kasus yang sedang dikerjakan timnya seolah membuat darahnya mendidih dalam tingkat yang sangat tinggi.

Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah pergi ke ruangan A-Team dan meminta penjelasan pada siapapun yang sedang ada di dalam ruangan tersebut.

“Maaf, apa maksud kalian mengambil kasus timku dan….” Kyuhyun yang menyeruak masuk ke ruangan A-Team dengan bersungut-sungut terpaksa menghentikan ucapannya setelah melihat beberapa orang di ruangan itu menoleh ke arahnya. Mencoba menghilangkan rasa canggung yang selalu saja muncul tiap menyadari banyak orang memandanginya heran seperti itu, Kyuhyun pun berpura-pura berdehem kecil.

“Dua anggota D-Team berkunjung ke ruangan A-Team. Tidak biasanya. Apa kalian ada perlu dengan tim kami?” Seorang pria bertubuh tinggi dan tampan yang merupakan Leader Team dari A-Team bertanya pada Kyuhyun. Bahkan pria tersebut hanya tersenyum kecil saat menghampiri Kyuhyun.

Kalian?” gumam Kyuhyun pelan, merasa aneh karena seingatnya ia hanya datang sendirian kemari. Namun, beberapa detik kemudian ia sedikit terkejut melihat Hyukjae yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. “Hyung, sejak kapan kau ada di sini? Ani, maksudku, kenapa kau kemari juga?” bisik Kyuhyun pada Hyukjae.

“Donghae hanya ingin memastikan kau tidak membuat masalah di ruangan tim lain,” jawab Hyukjae dengan suara yang hampir tidak bisa didengar oleh Kyuhyun. Bahkan Hyukjae sama sekali tak mempedulikan tatapan tidak percaya yang Kyuhyun arahkan padanya ketika ia tahu Leader Team dari A-Team sudah ada di hadapan mereka. Hyukjae hanya berusaha tersenyum pada pria tampan tersebut.

“Pagi, Choi Siwon-ssiani….Ketua Tim Choi, maksudku,” sapa Hyukjae pada pria tampan yang bernama Choi Siwon tersebut.

“Pagi. Tapi…, apa ada yang bisa kubantu?” tanya Siwon sambil tetap mempertahankan senyuman di bibirnya.

Kyuhyun menunjukkan map-map biru yang ia ambil dari petugas beberapa saat lalu pada Siwon. “Ada petugas yang diperintahkan mengambil semua berkas kasus milik timku dan menyerahkannya pada A-Team. Apa kau tahu hal ini?” Kyuhyun bertanya setenang mungkin meski sebenarnya ia tidak bisa menahan deru napasnya yang terdengar tak beraturan karena kesal.

Untuk beberapa detik Siwon hanya memandangi map-map tersebut hingga akhirnya ia kembali tersenyum. Diambilnya map-map tersebut dari tangan Kyuhyun dan membaca tulisan-tulisan yang tertera di masing-masing map. Kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali setelah memastikan sesuatu.

“Terima kasih sudah mengantarnya sendiri. Aku sangat terkesan dengan anggota D-Team.”

Tak pelak ucapan Siwon membuat Kyuhyun dan Hyukjae mengernyitkan kening.

“Kasus-kasus ini…” Siwon menunjuk map-map yang sudah berpindah ke tangannya.”… akan menjadi tanggung jawab A-Team mulai hari ini. Timku akan menyelesaikannya. Kalian tidak perlu memasang wajah seperti itu. Kalau kalian ingin protes, pergilah ke Kapten Tan karena dia yang memerintahkan timku untuk menyelesaikan kasus-kasus yang sedang kalian kerjakan,” lanjut Siwon.

Seketika Hyukjae dan Kyuhyun tidak bisa menegakkan bahu mereka. Sekarang apa lagi?

“Berkas kasus dari D-Team sudah datang! Pelajari dulu setelah itu kita adakan rapat!” seru Siwon pada anggota timnya yang sedang berkumpul membahas kasus pembunuhan. Tak berapa lama salah satu anggota tim yang dipimpinnya berjalan ke arahnya dan mengambil map-map tersebut.

“Ayo, Kyuhyun-ah. Tidak ada yang harus kita lakukan di sini,” bisik Hyukjae sambil menepuk lengan Kyuhyun dan memutar tubuhnya ke arah pintu. Kyuhyun yang sudah tak bisa menegakkan kepalanya hanya berjalan gontai ke arah pintu.

“Detektif Lee!” panggil Siwon sambil duduk di tepi meja panjang yang ada di tengah ruangan timnya.

Hyukjae yang merasa dipanggil langsung menoleh ke arah Siwon.

“Kasus Kim Bo Sang……, aku jamin akan selesai secepatnya. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Operasi penangkapan yang sudah timmu lakukan tidak akan sia-sia. Bersemangatlah,” ujar Siwon mengacungkan jempolnya.

Tak ada respon yang diberikan Hyukjae selain tatapan dingin. Hyukjae tahu kata-kata yang seharusnya memiliki makna dukungan tersebut tak diucapkan Siwon dengan sungguh-sungguh. Dengan kata lain, Siwon pasti sudah tahu dengan kabar pembubaran D-Team dan apa yang baru saja Hyukjae dengar tadi adalah sebuah sindiran yang sangat halus.

Benar-benar menyebalkan.

.

.

.

Sementara itu di waktu yang bersamaan Donghae menemui Hankyung di ruangannya. Sama seperti Kyuhyun, ia juga ingin memastikan kebenaran yang baru saja diketahuinya pagi ini. Mungkin dengan menanyakan hal tersebut pada kaptennya, Donghae bisa lebih percaya ketimbang mendengarnya dari orang lain.

“Kapten, apa benar kasus-kasus yang tim kami kerjakan diambil alih oleh tim lain?” tanya Donghae.

Hankyung hanya menganggukkan kepalanya sesaat setelah menuliskan sesuatu pada sebuah buku.

“Tapi, Kapten, bukankah itu keterlaluan? Bahkan kasus-kasus yang diambil belum sepenuhnya kami selesaikan karena sedang dalam masa proses investigasi,” Donghae mencoba menjelaskan.

“Perintah pengambil-alihan tugas investigasi kasus-kasus yang sedang dikerjakan timmu adalah langsung dari Komisaris Unit sendiri,” timpal Hankyung yang akhirnya membuat Donghae terdiam.

Perintah dari Komisaris Unit.

Komisaris Ahn, siapa lagi?

Lagi-lagi orang itu.

“Sudahlah. Berikan saja kasus-kasus yang sedang kalian tangani pada A-Team agar masalah tidak berkepanjangan dan kerjakan saja kasus ini.”

Hankyung meletakkan setumpuk berkas yang pastinya berisi kasus-kasus lain ke atas meja. Tanda tanya muncul di wajah Donghae ketika melihat tumpukan berkas tersebut.

“Itu semua adalah berkas laporan kriminal yang datang hari ini. Segera pelajari dan lakukan proses investigasi agar segera selesai,” ucap Hankyung lagi.

Donghae tak mengatakan apa-apa. Pria berusia 29 tahun itu hanya terdiam menatap Hankyung. Laporan kasus yang datang hari ini. Itu artinya… ia dan timnya akan menghadapi kasus baru lagi di saat-saat seperti ini. Padahal pikirannya sepenuhnya sudah terpusat pada kasus Kim Bo Sang dan kasus-kasus lain yang kini sudah ada di tangan A-Team. Padahal kurang beberapa langkah lagi ia dan timnya bisa menyelesaikan kasus-kasus tersebut.

“Kenapa? Kau keberatan?”

Pertanyaan Hankyung mengembalikan Donghae ke alam sadar.

“Tidak. Kasus ini… akan saya kerjakan dengan tim. Kalau begitu…, saya permisi, Kapten,” ucap Donghae seraya mengambil tumpukan berkas tersebut dan membungkukkan badannya sesaat pada Hankyung.

.

.

At D-Team’s Office …

“Kau pasti bercanda, Lee Donghae,” ujar Hyukjae setelah memeriksa hampir semua berkas laporan yang dibawa Donghae dari ruangan Hankyung. Dilemparnya map-map tersebut ke atas meja kerjanya sambil mendesis kesal. Sementara Kyuhyun yang masih sibuk membaca satu per satu berkas tersebut berulangkali menarik napas karena terkejut.

“Kasus Penculikan Kang Seo Wan. Pria yang berusia 60 tahun tiba-tiba menghilang setelah terakhir kali terlihat di taman dekat rumah anaknya semalam. Aish!” Kini giliran Kyuhyun yang berjalan mondar-mandir sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya.

Sudah Donghae duga reaksi kedua rekan timnya akan seperti itu. Tidak terlalu buruk dibanding bayangannya. Tapi tetap saja tidak nyaman melihat mereka berdua seperti itu. Kasus yang akan mereka tangani sama seperti kasus-kasus sebelum mereka menangani kasus peredaran uang palsu dalam skala besar yang dilakukan Kim Bo Sang.

Sebut saja…. D-Team kembali pada rutinitas yang sempat terhenti karena kasus Kim Bo Sang.

“D-Team akan dibubarkan. Kemudian ada keputusan kita masih diberi waktu dua minggu. OK, itu masih sedikit melegakan, tapi setelah itu… tiba-tiba semua kasus penting kita dilimpahkan pada A-Team. Kemudian ini…. astaga!” Hyukjae mencoba mendapatkan penjelasan yang lebih pada Donghae karena Donghae-lah yang pertama membawa tumpukan berkas laporan tersebut ke ruangan tim mereka. Tapi, apa daya, Donghae pun juga berada di posisi yang sama seperti dirinya dan Kyuhyun.

“Kerjakan saja semua itu dan jangan mengeluh. Aku tidak ingin Komisaris Ahn kembali memberi keputusan yang lebih buruk lagi dari yang ini,” kata Donghae sambil mengambil berkas laporan yang ada di tumpukan paling atas. Dilihatnya tulisan “KASUS PENCULIKAN KANG SEO WAN” yang terdapat di sampul map, kemudian mulai memeriksa isi laporannya.

“Haaah…., ya sudahlah. Kita kerjakan saja semua ini secepatnya,” sergah Hyukjae seraya menyuruh Kyuhyun agar mendekat padanya. Kyuhyun yang masih mempertahankan wajah kesalnya langsung berjalan menghampiri Hyukjae.

“Kau pergi ke rumah anaknya dan tanyakan apa yang terjadi pada ayahnya sebelum ayahnya menghilang. Dan periksa juga rumahnya. Satu lagi, jangan lupa tanyakan pada tetangga-tetangga yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal anaknya. Siapa tahu saja hubungan ayah-anak tersebut tidak begitu harmonis dan…”

“Kau menduga anaknya menculik ayahnya sendiri?” Donghae memotong ucapan Hyukjae.

“Bisa saja, kan? Sekarang ini drama-drama televisi mulai menjadi kenyataan. Kau jangan pungkiri hal itu,” jawab Hyukjae asal sambil meraih jaketnya yang tergantung di dinding.

Donghae hanya mendengus pelan.

Hyung, aku pergi dulu,” pamit Kyuhyun setelah selesai menyiapkan semua perlengkapannya.

Sebelum Donghae dan Hyukjae sempat membalas ucapan Kyuhyun, pria berusia 27 tahun itu sudah menghilang lebih dulu.

“Dasar anak itu. Sudah kubilang aku akan ikut dengannya…,” desis Hyukjae.

“Aku akan memeriksa TKP di mana Kang Seo Wan menghilang,” ujar Donghae sambil berjalan ke arah pintu.

“Baiklah.”

Seolah tidak terjadi apa-apa pada D-Team, ketiga polisi muda tersebut keluar dari ruangan menuju lokasi kejadian dengan konsentrasi penuh.

oOo

Sudah hampir satu jam Kyuhyun mencoba mencari keterangan dari anak Kang Seo Wan, tapi yang ia dapat hanya hal-hal biasa, sisanya hanya tangisan saja. Sedangkan Hyukjae yang sibuk memeriksa isi kamar Kang Seo Wan dibuat terheran-heran dengan adanya satu set komputer tipe terbaru. Tidak sampai di situ saja, ketika Hyukjae menyalakan komputer tersebut untuk memeriksa isinya, lagi-lagi ia dibuat tercengang karena ia hanya menemukan game bertema action di mana-mana. Dan yang lebih mengejutkan lagi game-game tersebut dimainkan oleh Kang Seo Wan.

Untuk ukuran seorang kakek yange berusia 60 tahun seperti Kang Seo Wan, bukankah itu sangat luar biasa?

“Waaah… apa benar dia seorang manusia berusia 60 tahun?” gumam Hyukjae yang cukup kagum dengan kakek tersebut.

Namun, meski ia takjub dengan kehebatan Kang Seo Wan yang masih mampu memainkan game-game anak muda seperti itu, ia harus tetap fokus untuk menemukan apapun yang menurutnya mencurigakan di kamar ini.

“Bagaimana, Hyung? Apa kau menemukan sesuatu?”

Kyuhyun menerobos masuk ke dalam kamar Kang Seo Wan begitu saja. Seperti Hyukjae, ia pun cukup terkejut setelah melihat komputer yang ada di sudut kamar.

“Woah…, apa kita sedang menangani kasus penculikan seorang kakek penggila game?” Kyuhyun menunjuk layar komputer yang menampilkan page awal sebuah online game yang sedang terkenal di kalangan remaja saat ini.

“Apa kata anaknya?”

“Kukira anaknya hanya asal bicara. Tapi setelah aku melihat sendiri… ckckckck…. Wow… sayang sekali, Kang Seo Wan bukan kakekku,” jawab Kyuhyun sambil duduk di depan komputer.

Yaa, kita sedang menjalankan penyelidikan! Ini bukan waktunya bermain-main, Detektif Cho!” bentak Hyukjae saat melihat Kyuhyun yang akan mulai mengoperaasikan komputer tersebut.

“Aku hanya mencari sesuatu. Untuk sebuah online game, sudah pasti ada chatting room-nya. Tidak mungkin kan Kakek Kang Seo Wan bermain seorang diri? Seorang gamer tangguh sekalipun, dia harus memiliki sekutu untuk menghabisi lawan-lawannya. Dan juga lihat ini. Ada satu game yang dimainkan oleh Kakek Kang Seo Wan secara terus-menerus dalam beberapa minggu ini. Kemudian…”

Kyuhyun menghentikan ucapannya ketika ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Ada apa? Kenapa? Kau menemukan sesuatu? Apa Kakek Kang Seo Wan berkomunikasi dengan penculiknya sebelum dia menghilang?” Hyukjae memberondong Kyuhyun dengan banyak pertanyaan karena dia penasaran melihat Kyuhyun yang tiba-tiba terdiam sambil memusatkan pandangannya pada layar komputer yang menampilkan kolom percakapan Kang Seo Wan dengan beberapa orang dalam bahasa Inggris.

Perlahan Kyuhyun mendongakkan wajahnya pada Hyukjae yang berdiri di sampingnya. Tak ada yang dikatakan pria bermarga Cho tersebut hingga akhirnya membuat Hyukjae semakin tidak sabar.

“Kenapa memandangku seperti itu? Jangan bilang kau…… kau tidak tahu apa yang sedang Kakek Kang Seo Wan bicarakan dengan temannya di chatting room karena semuanya berbahasa Inggris?”

“Aku tahu 100%, Hyung,” bantah Kyuhyun dengan nada bicara yang begitu pelan, seolah takut bila ada orang lain yang mendengar.

“Lalu kenapa memandangku seperti itu? Apa yang mereka bicarakan? Apa penculiknya salah satu dari mereka? Atau……” Hyukjae tidak mau menebak untuk yang satu ini, tetapi mau tidak mau ia harus melakukannya karena kemungkinan tersebut merupakan kenyataan yang mengerikan bila benar-benar terjadi. “… Kakek Kang Seo Wan… sudah tewas dibunuh penculiknya?”

“Iya, Hyung. Dia sudah tewas,” tandas Kyuhyun lirih. “…. oleh seseorang dengan ID bernama Death Angel,” tandas Kyuhyun.

Seketika Hyukjae membelalakkan kedua matanya lebar-lebar.

.

.

.

“Kalian menemukan sesuatu yang aneh?” tanya Donghae pada beberapa petugas yang ikut dengannya ke taman untuk melakukan penyisiran di sana.

“Belum ada, Detektif,” jawab petugas tersebut sambil membersihkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan berwarna putih.

“Di sekitar sini juga tidak terpasang kamera CCTV, jadi kami sedikit kesulitan untuk menyelidikinya,” tambah petugas yang satu lagi.

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkacak pinggang. Pandangan kedua matanya menyebar ke segala arah. Berharap ia menemukan setidaknya sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk di mana Kang Seo Wan diculik. Tetapi sejak sampai di taman ini dan bertanya pada orang-orang yang sengaja dipanggilnya karena mereka adalah saksi yang sempat melihat Kang Seo Wan sebelum kakek tersebut menghilang, ia belum juga membuahkan hasil.

Untuk kasus penculikan kakek tua renta seperti ini, entah kenapa Donghae tidak terlalu merasa dramastis. Seolah-olah kasus yang sedang ditanganinya ini bukanlah sesuatu yang harus disebut dengan “kasus”.

Drrt…drrrt….

Donghae memberi isyarat kedua petugas tersebut untuk melanjutkan pencarian sambil melihat siapa yang sedang menghubungi ponselnya yang ternyata adalah Lee Hyukjae.

“Ada apa?”

[Apa kau menemukan sesuatu di sana?]

“Belum. Tidak adanya CCTV di area taman dan keterangan saksi yang tidak terlalu objektif……, kurasa penyelidikan kasus ini sedikit lebih rumit,” jawab Donghae.

[Kau sudah membaca laporan kasus ini yang menyebutkan Kakek Kang Seo Wan adalah penggila online game, kan? Jadi begini, Donghae-ya—]

“Iya. Aku sudah baca itu. Dan juga—“ Belum selesai menjawab pertanyaan Hyukjae, panggilan dari salah satu petugas membuat Donghae mengalihkan perhatiannya. Sepertinya petugas tersebut menemukan sesuatu. “Hyukjae-ya, nanti kuhubungi lagi.”

Sedikit berlari kecil, Donghae menghampiri petugas yang tadi memanggilnya. Dilihatnya petugas tersebut mengambil sesuatu dari bawah semak-semak yang ada di dekat bangku kayu tak jauh dari tempat mereka melakukan pencarian.

“Ponsel?” gumam Donghae yang cukup terkejut melihat sebuah ponsel tipis tipe terbaru yang baru saja ditemukan oleh anak buahnya. Setelah mengenakan sarung tangan, Donghae lantas memeriksa ponsel tersebut.

Tak salah lagi! Ponsel tersebut adalah ponsel milik Kang Seo Wan!

Donghae baru akan kembali menghubungi Hyukjae ketika jarinya tanpa sengaja menyentuh tombol kecil yang ada di bagian kiri ponsel tersebut hingga secara otomatis membuat layar ponsel tersebut menyala, menampilkan foto Kang Seo Wan.

“Kotak masuk. Kotak masuk. Kotak masuk,” gumamnya yang langsung berinisiatif untuk melihat isi pesan masuk ponsel Kang Seo Wan mengingat ponsel tersebut sama sekali tak terkunci.

Sepuluh pesan teratas berasal dari seseorang dengan ID bernama Death Angel. Dan itu cukup membuat Donghae mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya mulai membaca satu per satu isi pesan dari pemilik ID tersebut.

“Meta Net?”

Setelah beberapa detik memikirkan sesuatu, ekspresi wajah Donghae berubah. Seolah ia menemukan satu lagi petunjuk keberadaan Kang Seo Wan. Atau lebih tepatnya petunjuk jalan keluar dari kasus yang sedang ditangani oleh timnya.

“Meta Net. Apa dari kalian ada yang tahu tempat itu? Apa di sekitar sini ada tempat bernama Meta Net?” tanya Donghae pada salah satu petugas.

“Maksud Detektif, Meta Net… warnet khusus online game yang tak jauh dari sini?”

Seorang wanita paruh baya yang sejak tadi mengamati Donghae dan petugas lain memeriksa daerah taman berjalan mendekat.

“Ada tempat seperti itu? Di mana letaknya, Bibi?” tanya Donghae serius.

“Tidak terlalu jauh kok. Hanya sekitar beberapa ratus meter dari sini ke selatan. Di sana ada warnet yang buka 24 jam dan isinya orang-orang gila yang hidupnya hanya untuk bermain komputer saja.”

Warnet khusus online game? Buka 24 jam? Isinya hanya orang-orang gila yang hidupnya hanya untuk bermain komputer saja?

Kata-kata itu terputar di dalam kepala Donghae.

Kau sudah membaca laporan kasus ini yang menyebutkan Kakek Kang Seo Wan adalah penggila online game, kan?’

Donghae juga teringat pertanyaan Hyukjae di telepon beberapa saat yang lalu.

“Terima kasih atas bantuannya, Bibi.” Donghae buru-buru mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badannya pada wanita paruh baya tersebut sebelum berlari ke arah mobilnya dan pergi menuju tempat bernama Meta Net.

Meski tidak terlalu yakin, Donghae tetap harus pergi ke sana. Siapa tahu saja ia mendapat petunjuk lebih tentang hilangnya Kakek Kang Seo Wan.

.

.

At Meta Net….

Umpatan pelan diloloskan Donghae melalui mulutnya ketika ia hampir saja terpeleset saat melangkahkan kakinya ke arah tangga yang akan membawanya ke pintu masuk tempat online game tersebut.

“Saya dari Unit Investigasi Kriminal.” Donghae menunjukkan tanda pengenal kepolisian miliknya di hadapan kasir tempat tersebut.

“Ada detektif lagi?”

Pertanyaan kasir tersebut memaksa Donghae mengernyitkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Itu… sebelum Anda, ada…”

Suara kasir tersebut perlahan-lahan menghilang ketika terdengar gelak tawa dari arah salah satu PC Room yang ada di tempat itu. Donghae terpaksa menolehkan kepalanya hingga mendadak ia terheran-heran ketika merasa mengenali suara tawa tersebut.

“Cho Kyuhyun?”

Kenapa ada suara tawa Kyuhyun di dalam sini?

“Kenapa Anda tidak ikut bergabung dengan rekan-rekan Anda, Pak? Kurasa mereka sedang asyik bermain di sana?” tanya kasir tersebut dengan polosnya.

“Heh?”

Baiklah. Ini aneh. Sangat aneh. Bahkan terlalu aneh. Mungkin awalnya Donghae hanya akan mengira suara tawa yang mirip Kyuhyun itu bukan milik Kyuhyun, melainkan orang lain. Tapi setelah kasir tersebut berkata bahwa ada dua “rekannya” yang sedang asyik bermain… sepertinya Donghae harus memastikannya sendiri.

Kalau sampai benar dua rekan yang tidak lain tidak bukan adalah Hyukjae dan Kyuhyun, Donghae sendirilah yang akan menghabisi mereka berdua.

Langkah Donghae terhenti sepenuhnya ketika mendapati dua orang sedang duduk di depan layar komputer yang menampilkan sebuah game. Ada dua orang lagi yang masing-masing berdiri di samping dua kursi tersebut. Terkadang mereka ikut berteriak kesal karena jagoan mereka berhasil dikalahkan oleh musuh.

Bukan. Bukan itu yang membuat Donghae membeku di tempatnya sekarang. Bukan permainan yang sedang mereka mainkan, melainkan empat orang yang berhasil meletakkan tanda tanya besar di wajah Donghae.

Apa yang dilakukan Kyuhyun dan Hyukjae di sana? Dan juga seorang kakek-kakek yang duduk di samping Kyuhyun…

“Kakek Kang Seo Wan?” desis Donghae tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Eo? Donghae-ya?!” Hyukjae yang melihat Donghae berdiri tak jauh dari tempatnya langsung melambaikan tangan, menyuruh Donghae agar segera menghampirinya.

“Ini… sebenarnya… apa yang terjadi? Kenapa Kakek Kang Seo Wan yang seharusnya…” Donghae tak bisa melanjutkan kata-katanya ketika Kakek Kang Seo Wan menoleh sekilas padanya.

“Kau… tampan juga, Anak Muda,” ucap Kakek Kang Seo Wan dengan suara yang sedikit tidak jelas karena giginya yang sebagian sudah hilang.

Hyukjae tertawa sambil menghampiri Donghae.

“Jangan tegang seperti itu. Kasus yang kita tangani sudah selesai, Detektif Lee,” ujar Hyukjae sambil menepuk lengan Donghae.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Pertanyaan itu tetap saja dilontarkan Donghae karena memang belum mengerti situasi yang sedang terjadi di hadapannya.

“Kakek Kang Seo Wan sebenarnya tidak diculik. Semalam Dia hanya pergi ke tempat ini setelah bertemu dengan “sekutu barunya” yang bernama Death Angel setelah tanpa sengaja karakter yang sedang dimainkan oleh Kakek Kang Seo Wan tewas dibunuh oleh Si Death Angel ini,” jawab Hyukjae sambil menyandarkan tubunya pada dinding pembatas salah satu PC Room di dekatnya.

“Lalu bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?”

“Kyuhyun mencoba memainkan game tersebut dengan menggunakan ID miliknya sendiri dan mencoba mengincar karakter Death Angel yang rupanya juga sedang online. Dari hasil chatting yang Kyuhyun lakukan dengan Death Angel-lah kami tahu di mana posisi Kakek Kang Seo Wan sebenarnya.” Hyukjae mengulurkan tangannya, menunjuk Kakek Kang Seo Wan yang masih saja begitu konsentrasi di depan layar komputer bersama Kyuhyun dan seorang anak laki-laki berseragam SMU. “ Dari semalam hingga sekarang Kakek Kang Seo Wan ada di sini bersama Death Angel. Kau tahu sendiri kan penyakit orang penggila game?”

“Tidak peka dengan keadaan di sekitarnya dan lupa waktu karena perhatiannya terpusat lebih dari 100% pada game yang sedang dimainkannya,” tebak Donghae setelah menghela napas panjang yang Donghae sendiri tidak tahu kenapa apakah helaan napass itu merupakaan perasaan lega atau perasaan kesal.

Hyukjae menjetikkan jarinya, membenarkan tebakan rekan satu timnya.

“Lalu…… siapa anak laki-laki itu?” Kini perhatian Donghae beralih pada anak laki-laki berseragam SMU yang berdiri di sebelah Kakek Kang Seo Wan dan nampak menyemangati kakek tersebut.

“Namanya Kwak Tae Jin, Si Death Angel. Murid SMU yang bolos sekolah lima kali dalam sepekan. Dan itu selalu dilakukannya setiap bulan,” jawab Hyukjae.

.

.

At Kang Seo Wan’s House…

Hampir semua tetangga Kakek Kang Seo Wan tampak bergerombol menyaksikan beberapa mobil polisi terparkir di depan halaman rumah kakek tersebut lengkap dengan para petugas kepolisian yang terlihat berjaga-jaga di sana. Mungkin mereka mengira Kakek Kang Seo Wan yang menghilang sejak kemarin ditemukan meninggal karena sudah dibunuh oleh penculiknya. Padahal pada kenyataannya….

“Kasus perdana di saat D-Team akan dibubarkan…., cukup menyenangkan, kan? Orang yang diduga menjadi korban penculikan ternyata hanya lupa waktu karena keasyikan bermain game,” celetuk Kyuhyun ketika melihat Hyukjae keluar dari dalam rumah setelah berbincang-bincang dengan anak Kakek Kang Seo Wan.

Donghae hanya tersenyum tipis. Matanya tanpa sengaja melihat anak SMU yang tadi bersama Kakek Kang Seo Wan di Meta Net. Anak itu nampak kebingungan duduk di mobil van milik polisi yang terbuka di bagian belakang.

“Lalu bagaimana dengan anak itu?” Donghae menggerakkan dagunya ke arah anak tersebut, membuat Kyuhyun menoleh ke arah yang ditunjuk Donghae.

Untuk beberapa detik Kyuhyun hanya memandang anak tersebut hingga akhirnya ia berteriak memanggilnya.

“Kau kembali saja ke rumahmu karena Kakek Kang Seo Wan bukan korban penculikan,” ucap Kyuhyun pada anak laki-laki bernama Kwak Tae Jin yang sudah berdiri di hadapannya tersebut.

Tae Jin hanya mengangguk dan membungkukkan badan sesaat pada Kyuhyun. Namun, ketika ia baru memutar tubuhnya, Kyuhyun kembali memanggilnya.

“Kapan kau akan lulus dari sekolahmu?” tanya Kyuhyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tahun depan,” jawab Tae Jin gugup.

“Apa cita-citamu?”

Ne?”

“Kutanya apa cita-citamu,” Kyuhyun mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih tinggi karena kesal.

“Sa-saya ingin masuk milliter,” jawab Tae Jin dengan cepat karena takut dengan Kyuhyun yang seolah akan memakannya.

“Ingin jadi tentara rupanya.” Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa detik sebelum mengambil sesuatu dari saku celananya. “Kau tahu ini apa?”

“B-borgol, Detektif,” jawab Tae Jin terbata-bata sambil memandang borgol di tangan Kyuhyun yang ada tepat di depan wajahnya.

“Kau pasti tahu apa fungsi alat ini, kan? Untuk memborgol penjahat, tentu saja. Tapi mulai detik ini, khusus untuk borgol yang ada di tanganku hanya akan kugunakan untuk memborgol tanganmu.”

Tak pelak ucapan Kyuhyun mengejutkan Tae Jin. Raut wajah takut terlihat begitu jelas di wajah anak laki-laki tersebut.

“Kalau sampai aku tahu kau bolos sekolah, aku akan langsung mencarimu dan memborgol tanganmu, lalu kumasukkan ke dalam penjara. Mengerti? Mungkin tidak ada polisi yang sudi memenjarakan anak yang bolos sekolah, tapi kalau aku…, aku masih mau melakukannya. Jadi, jangan coba-coba bolos hanya untuk pergi ke tempat itu dan bermain game. Kau pikir kau bisa masuk militer hanya dengan bermain game setiap hari, hah?”

Tae Jin membungkuk berulangkali sambil meminta maaf hingga akhirnya Kyuhyun harus menghentikannya dengan cara menarik kerah seragam Tae Jin bagian belakang.

“Aku juga suka bermain game sepertimu, tapi aku tidak segila dan sebodoh dirimu hingga harus bolos sekolah. Kalau kau ingin cita-citamu terwujud, masuk sekolah dan belajar yang rajin. Mengerti?”

“Y-Ya, Detektif. Maafkan saya,” ujar Tae Jin.

“Ya sudah. Pulang sana.” Kyuhyun langsung mendorong punggung anak laki-laki tersebut agar segera pergi. Tetapi mendadak ia menarik tas punggung yang dipakai Tae Jin hingga membuat anak laki-laki tersebut kembali tersentak ke arahnya.

“Seharusnya kau tidak menuruti permintaan Kakek Kang Seo Wan, jadi anaknya tidak khawatir dan mengira ayahnya diculik. Kau ini bodoh atau bagaimana sih, hah? Kau mau masuk penjara karena dituduh menculik kakek itu? Kau tahu nyawa timku sedang ada di ujung tanduk, dan laporan kasus ini benar-benar membuatku….”

“Kyuhyun-ah, sudah lepaskan saja dia!”

Teriakan Hyukjae membuat Kyuhyun menghentikan pelampiasan kesalnya pada Tae Jin. Ditariknya napas dalam-dalam sebelum membuangnya perlahan-lahan kemudian menyuruh Tae Jin untuk segera pergi.

“Kau mau dituntut orang tuanya karena sudah menakuti-nakutinya?” bentak Hyukjae saat Kyuhyun berjalan lesu ke arahnya dan Donghae.

“Aku hanya mencoba memberikan pencerahan untuk hidupnya.”

Hyukjae mendengus keras mendengar jawaban yang diberikan Kyuhyun. Kata-kata yang barusan keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun, cukup membuat Hyukjae ingin muntah.

“Kita kembali ke markas saja dan membuat laporan,” ujar Donghae menahan tawa sambil menepuk bahu Hyukjae.

oOo

at Crime Investigation Unit, Seoul ~

Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun masih tampak berbincang-bincang membahas kasus yang baru saja mereka tangani. Entah apakah mereka harus tertawa atau bagaimana untuk hal tersebut. Mungkin cerita akan berbeda bila Kakek Kang Seo Wan benar-benar diculik, jadi mereka mungkin akan pulang sambil membawa tersangkanya. Tapi ini…

Lihat saja bagaimana tatapan orang-orang yang ada di markas ini pada mereka bertiga. Memang tidak semuanya yang mungkin saja mau peduli dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka bertiga, tapi masih saja ada yang begitu. Meski ketiga polisi ini tidak ingin menghiraukan tatapan mereka, tetap saja rasanya aneh.

“Detektif Lee!”

Panggilan seorang petugas yang berdiri di dekat lift menghentikan langkah Donghae dan Hyukjaae. Kyuhyun pun berjalan lebih dulu pun ikut berhenti dan terpaksa menghampiri kedua rekan timnya tersebut.

“Maksudku, aku ingin memanggil Detektif Lee Hyukjae,” petugas tersebut mengoreksi ucapannya setelah tahu Donghae dan Hyukjae menoleh ke arahnya bersamaaan karena merasa dipanggil.

“Iya, kenapa?” tanya Hyukjae.

“Ketua Tim Kim sudah tiba sejak setengah jam yang lalu. Kurasa ada yang tidak beres karena wajahnya terlihat sangat serius,” ucap petugas tersebut.

Spontan Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun saling pandang untuk beberapa saat. Mereka bertiga bukannya tidak mengerti siapa yang sedang dibicarakan petugas tersebut. Mereka hanya berharap apa yang baru saja didengar hanya lelucon saja karena….

“Apa kalian belum tahu?” Melihat reaksi yang ditunjukkan ketiga polisi muda itu membuat petugas tersebut kembali bertanya.

Tanpa berkata apa-apa Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun langsung menerobos masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka. Setelah memastikan petugas kepolisian yang ada di dalam lift tersebut keluar, Hyukjae langsung menekan angka 3 di mana kantor mereka berada.

“Apa kau yakin kita masih hidup saat bertemu dengannya nanti?” tanya Hyukjae pada Donghae sesaat setelah pintu lift terbuka di lantai 3.

“Entahlah. Tapi kalau benar wajahnya sangat serius, berarti ia sudah tahu apa yang terjadi pada timnya,” jawab Donghae sambil melangkah keluar dengan langkah tergesa-gesa yang diikuti oleh kedua rekan satu timnya tersebut.

“Haaah, anak itu. Kalian pasti tidak lupa betapa menyeramkannya dia kalau sedang marah, kan?” timpal Kyuhyun yang tidak menghiraukan sapaan salah satu anggota B-Team.

“Diamlah. Aku saja tidak mau membayangkannya,” balas Hyukjae setengah berbisik sambil berlari kecil setelah melihat pintu ruang D-Team tak jauh darinya.

“Aku belum sempat menyiapkan liang kuburku sendiri. Bagaimana bisa kau menyuruhku diam?”

Donghae sama sekali tak mempedulikan percakapan Hyukjae dan Kyuhyun. Ia lebih memilih untuk mencari kata-kata yang tepat untuk ia gunakan sebagai penjelasan pada ketua timnya yan sudah ada di dalam ruangan timnya.

“Kalian mau terima atau tidak, mau percaya atau tidak, dia sudah pulang dan ada di sini,” ujar Donghae yang akhirnya berhasil menghentikan perdebatan Hyukjae dan Kyuhyun.

Beberapa detik Donghae hanya membiarkan tangannya yang sudah menyentuh pegangan pintu ruangan D-Team sebelum akhirnya ia membuka pintu tersebut.

Benar saja. Di dalam sana sudah duduk seorang pria berambut hitam. Postur tubuhnya yang lebih kecil dibanding Donghae, Hyukja dan Kyuhyun sama sekali tak berpengaruh sama sekali karena pada kenyataannya kedatangannya justru cukup membuat ketiga polisi tersebut kelabakan. Leather jacket berwarna senada dengan warna rambutnya masih melekat di tubuhnya. Menandakan dirinya belum sempat mengganti pakaiannya setelah turun dari pesawat. Dan yang lebih penting, ekspresi wajahya yang ternyata benar-benar serius saat memandang Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun yang baru saja masuk ke ruangan.

“Ryeowook-ah? Kapan kau pulang? Bukankah seharusnya kau belum pulang?” tanya Hyukjae senormal mungkin.

== To be continued ==

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

8 Comments

  1. Eonie… aku g tau musti nulis apa.mereka gokil abis…aku kasih bintang mau….?????!!!!.eyyy ngomong2 ryewook pangkatnta tinggi ya…

    Reply
    • bintang???? MAU!!! *ehem *pasang muka datar

      Ryeowook pangkatnya tinggi??? mmmm…. tunggu aja ntr part 3 hehehehe…

      Thanks Mita ^^

      Reply
  2. inggarkichulsung

     /  July 9, 2015

    Aigoo kasus kakek itu lucu bgt ternyata ia jd gamers dan lupa waktu u plg ke rumah, kasus terlucu dan aneh yg hrs dituntaskan D-team sblm dibubarkan, kasihan Donghae oppa Kyu oppa dan Hyukjae oppa knp kasus yg mrk tangani justru dilimpahkan ke team lain, Kyu oppa benar2 tdk terima mrk hrs dibubarkan dan terpaksa melimpahkan kasus mrk ke team lain, Hankyung oppa seperti kehilangan kewenangannya krn sepertinya Atasan Ahn yg benar2 lsg memutuskan semua kebijakan, smg ada jalan keluar bagi D Team, aigoo ada Ryeong oppa yg baru kembali dan knp mrk bertiga takut dgn pemanggilan yg dilakukan Ryeongie oppa, ditunggu bgt kelanjutannya Nita

    Reply
  3. Ayunie CLOUDsweetJEWEL

     /  July 15, 2015

    Ya ampun, benar-benar dech. Cho Kyu Hyun, Lee Dong Hae, dan Lee Hyuk Jae. 3 Detektif teraniaya (?) menurut gue. Wkwkwkwk…. Aku kira Kyu Hyun bakalan mengamuk diruang A-Team, tapi kenyataannya, sangat jauh dari ekspektasiku….. Ckckckck XD. Oia, jabatan RyeoWook lebih tinggi ya dari ketiga cecunguk (EunHaeKyu) itu, dan kayaknya takut banget ma RyeoWook. Entah kenapa tapi itu bikin gue pengen ketawa. Lucu ngebayangin Kyu Hyun takut ma dia. Wkwkwk….

    Reply
  4. Ahahahahahaa…… Gila tuh si kakek, ngerepotin org aja dgn tingkahnya yg main game hingga lupa pulang. Sehinggah disangka diculik

    Reply
  5. Aku udh baca lama tapi baru bisa komen.
    Kasihan D team kalo beneran dibubarin padahal kan mereka hanya satu kali gagal
    Aku gak percaya ryeowook yang jadi ketua D team

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: