[Sequel of FIVE IN ONE] #1 Move On : Sungmin’s Side


Gambar

#1 Move On : Sungmin’s Side
[Sequel of FIVE IN ONE]

Oneshot FF

Author : Nita Henny

Cast : Lee Sungmin – Im So Yoon (OC)

Genre : Romance

Rating : PG-16

Note :
Ehem… abis gangguin mesranya pengantin baru Park Yeon ama manager gilanya *dijitak Kyu, sekarang kita ber-melow bentar ye bareng Sunbae Kelincinya Park Yeon, Lee Sungmin.
Dengan storyline semacam ini untuk Sungmin, berarti sudah kesekian kalinya aku korbanin Sungmin ke dalam FF beralur sad romance -.- maaf, Sunbae *bow 360° alias guling2
Sebenarnya sich udah pengen ganti setting yg agak ceria2 gimana itu,
tapi dari awal FF FIVE IN ONE, aku terlanjur bikin karakter Sungmin yg dewasa + kalem.
Jadi mau gimana lagi??
Next time… next time Sunbae bakal dapat karakter yg ga melow2 lagi deh 😀


Happy reading ~~~~

============================

*

*

*

“Andaikan aku mampu, mungkin aku akan menghapus bayangannya dari benakku dan menggambarkan sosokmu sebagai seseorang yang akan menemaniku menjalani hidup ini. Tapi, sayangnya aku masih belum bisa. Aku belum bisa. Ini terlalu sulit untukku. Apa yang harus kulakukan?”

=Tokyo, Japan=

Musim semi akan segera berakhir dan berganti dengan musim gugur. Walaupun begitu, udara sejuk khas musim semi masih bisa kita rasakan. Udara yang begitu lembut, udara yang begitu menenangkan, udara yang bisa membuat semua orang merasa bahagia.

Bahagia…

Benarkah semua orang merasakan perasaan itu di saat-saat terakhir musim semi? Apakah mereka yang ternyata masih belum bisa membuat hatinya sendiri setenang musim semi termasuk orang-orang yang bahagia?

Setidaknya pertanyaan itu bisa ditujukan pada Sungmin yang sore ini sedang duduk di salah satu bangku kayu kosong yang ada di taman kota. Matanya terpejam sambil bersandar pada sandaran bangku. Kedua telinganya tertutup oleh sepasang headseat yang ia sambungkan pada ponselnya. Sebuah lagu slow mengalun pelan memenuhi lubang telinganya.

Kalau pun kau tidak ingin bertanya, paling tidak paksa dirinya untuk merasa bahagia karena pada kenyataannya Sungmin belum sepenuhnya merasa bahagia. Ada sesuatu di dalam hatinya yang memaksanya menciptakan sebuah dinding tebal tak kasat mata. Dinding itu begitu kuat dan kokoh hingga Sungmin sendiri pun tak bisa menghancurkannya.

Walaupun Sungmin tidak mau menghiraukan rasa ini, tetap saja hatinya akan selalu berdenyut tiap menyadari sebuah fakta yang sudah ada di hadapannya. Sebuah fakta yang menyatakan bahwa ia sudah kehilangan Park Yeon yang hingga kini masih memiliki tempat spesial di sudut hatinya yang paling dalam.

Sungmin sadar apa yang ia rasakan ini salah. Park Yeon tidak mencintainya. Gadis itu hanya menganggapnya sebagai seorang kakak yang begitu berarti di dalam hidupnya. Terlebih sekarang gadis itu sudah benar-benar menjadi milik Kyuhyun. Kadang bila Sungmin tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri, ia akan sangat menyesali apa yang sudah ia lakukan dulu. Ia akan menyesal karena sudah memberikan Park Yeon pada laki-laki itu. Seharusnya ia tak memperlihatkan pesan yang dikirim Park Yeon pada Kyuhyun. Seharusnya ia hanya menuruti apa kata Kyuhyun yang memintanya untuk pulang ke Korea dan menemui Park Yeon. Dengan begitu mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin kini Park Yeon sudah menjadi miliknya.

Mungkin…

Mungkin…

Mungkin…

Hanya kata itu yang bisa Sungmin teriakkan di dalam kepalanya karena pada kenyataannya itu hal yang tidak akan pernah bisa terjadi. Park Yeon benar-benar tidak akan pernah bisa lagi ia miliki.

“Haah… benar-benar melelahkan!”

Gerutuan seseorang memaksa Sungmin menarik semua lamunannya yang sejak tadi melayang-layang tak menentu. Kedua matanya terbuka dan mendapati seorang wanita sudah duduk di sampingnya dengan wajah yang berhias beberapa bulir keringat.

“Kau punya minum? Sepertinya aku sudah menghabiskan lebih dari lima puluh persen tenagaku hanya untuk menghampiri seorang laki-laki asal Korea Selatan yang bekerja sebagai dosen di universitas Tokyo yang sore ini terlihat menyedihkan di taman seindah ini. Dan bodohnya lagi apa yang aku lakukan ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang wanita sepertiku yang sedang memakai sepatu ber-heels setinggi ini harus berjalan kaki dari gedung apartemen sialan di belakang sana ke taman? Kalau bukan karena aku menyukai laki-laki yang sedang duduk memandangku dengan tatapan anehnya, mungkin aku tidak akan pernah mau melakukan tindakan gila seperti ini. Hei, apa aku terlalu banyak menggunakan kata ini? ” ujar wanita itu sambil melirik sekilas ke arah Sungmin sebelum kembali menyeka keringat di keningnya yang terhalang beberapa helai poni.

Sungmin tak menjawab. Ia masih terhenyak memandang wanita yang kini sedang berusaha memita rambut panjangnya dengan sebuah pita hitam agar mengurangi rasa panas.

So Yoon. Ya, nama wanita itu adalah So Yoon. Im So Yoon. Seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang sudah cukup lama tinggal di Tokyo. Blak-blakan, keras kepala, apa adanya, dan baik, itu sifat So Yoon. Setidaknya di mata Sungmin sebagai seorang tetangga.

Ya. Tetangga. So Yoon dan Sungmin menempati gedung apartemen yang sama. Sungmin pada nomor 191 sedangkan So Yoo berada di nomor 192. Pertemuan pertamanya dengan wanita itu terjadi enam bulan yang lalu. Mungkin karena sama-sama orang yang berasal dari Korea-lah yang membuat Sungmin cepat akrab dengan So Yoon selain sifat So Yoon sendiri yang begitu supel dengan orang.

“Kau sedang meratapi nasib asmaramu yang menyedihkan itu lagi?”

Wanita itu tahu. Im So Yoon tahu apa yang Sungmin alami saat ini. Pertanyaan yang dilontarkan So Yoon membuat Sungmin mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Hidupmu terlalu menyeramkan, Lee Sungmin,” seloroh So Yoon seraya tertawa kecil. Disandarkan punggungnya pada sandaran bangku kayu sambil meluruskan kedua kakinya yang terasa ingin lepas.

“Dan juga terlalu menyebalkan bagiku,” tambah So Yoon pelan, memandang beberapa anak kecil yang berlarian di depannya.

Sungmin menolehkan kepalanya ke arah So Yoon setelah sebelumnya memilih untuk memperhatikan seorang petugas kebersihan taman yang kebetulan baru saja selesai membersihkan semak-semak tak jauh dari bangkunya.

“Apa maksudmu?”

So Yoon membalas tatapan Sungmin. “Ya. Hidupmu yang begitu menyeramkan itu benar-benar terasa menyebalkan. Dari luar kau kelihatan baik-baik saja, murah senyum seakan kau tak memiliki masalah dalam hidupmu, tapi kenyataannya… ckckckck…”

Sungmin hanya tersenyum tipis saat menyadari apa maksud ucapan So Yoon. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemuimu. Apa lagi? Apa kau tidak mendengar keluhanku yang panjang lebar tadi? Seharusnya kau memberiku hadiah atas perjuangan kerasku menuju ke taman untukmu. Bagaimana?”

Sebuah senyum tipis kembali terulas di bibir Sungmin. “Baiklah. Kau mau minum apa?”

***

Sepanjang perjalanan pulang menuju gedung apartemen yang tinggal beberapa blok lagi, Sungmin berulangkali melirik ke arah So Yoon yang masih menikmati minuman dingin untuk yang ke-lima kalinya.

“Kau benar-benar kehausan?” tanya Sungmin.

So Yoon hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya masih penuh dengan minuman yang baru saja ia teguk. Sungmin hanya tertawa kecil melihat pipi So Yoon yang mengembung.

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Sungmin kembali bertanya.

So Yoon mengacungkan telunjuknya di depan wajah Sungmin, memberi tanda untuk menunggu beberapa detik lagi sementara ia harus menelan minumannya dulu. Tetapi, belum sampai ia menjawab pertanyaan Sungmin, Sungmin sudah lebih dulu menarik jari telunjuknya.

“Kenapa lagi ini?” Sungmin menunjuk beberapa luka kecil di ujung jari So Yoon, bahkan ada beberapa luka lama yang belum hilang sepenuhnya.

“Hanya terkena penjepit kertas. Untuk yang ke-lima kalinya dalam satu minggu ini, dan itu hanya karena aku harus mengumpulkan laporan promosi komik terbaru bulan mendatang,” jawab So Yoon sesaat setelah membuang botol minumannya ke dalam tempat sampah yang mereka lewati. Sekedar informasi saja, tetangga Sungmin itu adalah salah satu staf pada bagian promosi sebuah perusahaan penerbitan komik di kota Tokyo.

So Yoon dibuat terhenyak saat tiba-tiba Sungmin berhenti dan tetap memegang tangannya. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah plester kecil dari dalam saku celananya dan melekatkannya pada area luka di jari So Yoon.

“Oh, tidak! Pipiku pasti akan memerah setelah ini. Sialan,” keluh So Yoon menundukkan kepalanya. Berusaha menutupi wajahnya sendiri yang memang memerah karena tersipu.

“Kenapa bisa begitu?” Sungmin melepas tangannya dari jemari So Yoon.

“Kau ‘kan tahu kalau aku ini menyukaimu. Jadi berhentilah melakukan sesuatu yang manis seperti tadi kalau tidak mau melihatku pingsan karena tersipu malu. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi. Dosen Lee,” jawab So Yoon seraya berjalan duluan. Baru beberapa langkah, So Yoon berhenti dan melepas kedua sepatunya.

“Jangan bertanya apapun tentang yang kulakukan ini, Lee Sungmin. Percayalah, setelah kita sampai di gedung apartemen, aku akan langsung membuang sepatu ini karena sudah berani menyiksa kedua kakiku. Kalau kau tidak mau kusuruh untuk menggendongku, sebaiknya kita terus berjalan dan berhentilah menatapku seperti itu. Aku bisa gila.” So Yoon seraya kembali melanjutkan perjalanannya sambil menenteng kedua sepatunya,.

Sungmin hanya tersenyum sambil kembali melangkahkan kakinya mengikuti langkah So Yoon, menyusuri trotoar yang akan membawa mereka ke depan gedung apartemen berwarna putih. Selama perjalanan So Yoon tak henti-hentinya berbicara mengenai pekerjaannya hari ini, mengeluh ini dan itu, memarahi teman-teman kantornya yang selalu saja menekan dirinya untuk bekerja lebih cepat lagi.

“Aku harus masuk dulu. Terima kasih sudah membelikanku minuman,” ucap So Yoon ketika mereka sudah sampai di lantai sembilan.

“Sebaiknya kau segera istirahat. Kulihat hari ini kau cukup kelelahan,” kata Sungmin.

So Yoon menganggukkan kepalanya seraya mendekati Sungmin yang sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Sungmin dibuat terhenyak ketika tanpa ia duga So Yoon mengecup pipinya sekilas.

“Kau juga harus istirahat. Aku tidak mau melihat orang yang kusukai sakit. Bye.” So Yoon seraya berjalan masuk ke dalam apartemennya yang ada di samping Sungmin.

Sungmin masih belum bergerak saat terdengar pintu apartemen So Yoon tertutup. Ia masih terpaku di depan pintu apartemennya yang baru terbuka sedikit. Ini bukan pertama kali baginya mendapat ciuman di pipi dari wanita itu. Hanya saja tiap saat itu terjadi ia akan selalu membeku tanpa sebab yang pasti.

Oh, dan jangan lupakan bagaimana terang-terangannya So Yoon yang mengakui bahwa ia menyukai Sungmin sejak mereka pertama kali bertemu. Apa karena sifat So Yoon yang suka mengatakan apa adanya, jadi dengan mudah wanita itu menyatakan perasaan sukanya pada Sungmin seperti itu tiap mereka bertemu?

Hingga saat ini, Sungmin sering merasa bingung pada So Yoon untuk hal tersebut. Andai So Yoon menyukainya hanya sebagai seorang teman yang sama-sama berasal dari Korea mungkin Sungmin akan sedikit merasa lega karena ia sendiri juga menyukai sosok So Yoon yang sangat baik padanya. Tetapi, bila rasa suka yang sering So Yoon ucapkan padanya itu mempunyai arti berbeda dari perkiraannya, Sungmin takut pada akhirnya ia akan melukai perasaan So Yoon. Mungkin Sungmin berlebihan mengatakan ini. Hanya saja perasaan Sungmin terhadap So Yoon tidak bisa diartikan dengan jelas. Apakah perasaannya sama seperti yang dirasakan So Yoon atau hanya perasaan suka antara teman saja, itulah yang dibingungkan Sungmin.

Sungmin meletakkan tas hitam yang selalu menemaninya ke universitas. Kakinya melangkah menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Tangannya berhenti ketika akan mengambil sebotol air mineral dingin. Kedua matanya terpaku pada chocolate pie yang ada di atas piring datar.

Lagi-lagi Sungmin teringat Park Yeon. Makanan itu adalah makanan kesukaan Park Yeon. Sungmin masih bisa ingat bagaimana berbinar-binarnya kedua mata Park Yeon tiap ia memberikan sepiring chocolate pie padanya. Dihelanya napas sambil mengambil kudapan itu dan meletakkannya di atas meja makan. Cukup lama ia memandanginya hingga tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh yang cukup menggelegar dari arah luar. Buru-buru Sungmin berjalan ke arah balkon apartemennya. Keningnya berkerut ketika mendapati langit sore yang tadinya terlihat begitu indah berwarna jingga dengan semburat cahaya matahari yang akan tenggelam kini diganti dengan awan mendung yang begitu pekat memayungi langit Tokyo. Masih terlihat kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar di atas sana.

“Apa akan turun hujan?” gumam Sungmin seraya masuk kembali ke dalam apartemennya setelah menutup pintu kaca di dekat balkon. Sepertinya apa yang baru saja digumamkan Sungmin benar adanya. Hujan deras tiba-tiba turun begitu saja disertai bunyi petir yang cukup memekakkan telinganya. Sungmin baru akan kembali menghenyakkan dirinya pada kursi di depan meja makannya ketika ia ingat akan sesuatu.

Dengan cepat ia berlari ke arah pintu apartemen dan keluar. Berulangkali ia menekan bel yang ada di dekat pintu apartemen milik So Yoon. Perasaannya tidak enak tiap kali mendengar bunyi petir di luar sana yang semakin keras.

“Im So Yoon, cepat buka pintunya,” gumamnya sambil terus menekan bel. Berharap So Yoon segera membuka pintu yang ada di hadapannya itu. Namun, apa yang diharapakan tak berbuah hasil. Tak ada respon dari So Yoon. Bahkan saat Sungmin mencoba menghubungi nomor ponsel So Yoon pun tak bisa.

Sungmin takut terjadi apa-apa dengan wanita itu karena ia tahu So Yoon sangat takut dengan bunyi hujan deras dan suara petir yang menggelegar. Dulu So Yoon pernah bercerita tentang ketakutannya itu dan Sungmin pernah melihatnya sendiri bagaimana So Yoon berteriak-teriak ketakutan saat mereka berdua terjebak hujan di taman yang tadi ia datangi. So Yoon memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya dengan sangat erat. Sungmin yang melihatnya jadi sangat tidak tega dan ingin sekali memeluknya. So Yoon yang saat itu sangat berbeda dengan So Yoon yang biasanya, yang selalu terlihat ceria dan keras kepala. So Yoon yang ketakutan itu seperti wanita yang sangat rapuh.

Sungmin segera menekan beberapa rangkaian angka password pintu apartemen So Yoon dengan asal. Semua angka sudah ia coba, tapi tetap saja gagal hingga sebuah deretan angka terbesit di benaknya. Ia mencobanya dan ternyata berhasil. Pintu apartemen So Yoon bisa dibuka.

“Im So Yoon!” Sungmin berhambur masuk ke dalam setelah menutup pintu yang ada di belakangnya.

Ruang tamu dan ruang tengah terlihat gelap. Tak ada tanda-tanda So Yoon berada di sana. Sungmin dibuat cemas sendiri ketika panggilannya tak mendapat respon dari So Yoon. Ia berlari menuju kamar tidur So Yoon. Nihil, tak ada siapapun di sana.

Suara di benaknya berteriak padanya untuk segera ke arah dapur. Dengan cepat ia berlari ke arah dapur dan betapa terkejutnya Sungmin saat mendaapati So Yoon sudah terduduk meringkuk di depan lemari pendingin dengan kepala tertunduk dan kedua tangan yang menutup kedua telinganya dengan sangat erat. Tubuh wanita itu gemetar semua.

“So Yoon-ssi?” Sungmin menghampiri So Yoon yang sepertinya tak menyadari kehadirannya.

“Im So Yoon. Gwaenchana?” Sungmin menyentuh bahu So Yoon yang gemetar cukup hebat. Sungmin tercengang ketika merasakan tubuh So Yoon sangat dingin.

“Im So Yoon, lihat aku. Hei…, ini aku Lee Sungmin,” ucap Sungmin, mencoba melepaskan kedua tangan So Yoon. Melihat So Yoon seperti itu membuat Sungmin tidak tega.

“So Yoon-ah!” Panggilan itu keluar begitu saja dari bibir Sungmin ketika ia berhasil melepas tangan So Yoon. Dengan sekali gerakan ia merengkuh tubuh So Yoon ke dalam dekapannya. Bahkan ia merasakan kedua tangan So Yoon memeluknya erat ketika terdengar kembali suara gelegar petir.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ini akan segera berakhir,” ucap Sungmin sambil mengusap lembut punggung So Yoon. Sungmin masih bisa merasakan detak jantung So Yoon yang begitu cepat. Wanita di dalam dekapannya ini benar-benar sedang ketakutan.

Lima belas menit berlalu dan Sungmin masih belum melepaskan dekapannya pada So Yoon walaupun kini ia sudah ikut terduduk di depan lemari pendingin. Dibiarkannya kepala So Yoon tenggelam di dadanya yang bidang sementara tangannya masih mendekap tubuh So Yoon yang hingga kini belum berhenti gemetar.

“Pemanasan Global…”

Akhirnya terdengar suara parau dari balik kepala So Yoon yang membuat Sungmin terpaksa menundukkan kepala.

“Apa kau bilang tadi?” Sungmin menjauhkan tangannya dari kepala So Yoon yang bergerak walaupun tak ada niat dari wanita itu untuk lepas dari dada Sungmin.

“Kubilang Pemanasan Global. Semua ini karena Pemanasan Global. Menyebalkan sekali ‘kan? Uuuukhh….” So Yoon kembali akan menutup telinganya dengan tangannya ketika suara petir kembali terdengar. Tapi dengan cepat Sungmin menahan tangan So Yoon dan memilih menggunakan tangannya sendiri untuk menutupi telinga So Yoon.

“Seharusnya musim semi berakhir dengan indah. Tidak harus dengan didatangi hujan deras sialan yang membuatku terlihat menyedihkan di depanmu seperti ini,” ucap So Yoon lagi.

Sungmin menajamkan indra pendengarannya untuk memastikan bahwa hujan di luar sana sudah mereda. Tangannya menjauh dari telinga So Yoon begitu yakin hujan sudah tak sederas sebelumnya.

“Hujannya sudah reda,” kata Sungmin seraya melepas kedua tangannya dari tubuh So Yoon.

“Oh, ok.” So Yoon beringsut menjauh dari Sungmin, memilih duduk di dekat kaki meja makan yang ada di belakangnya. Dengan kepala tertunduk, ia mencoba merapikan rambutnya yang berantakan di sana sini.

“Kau benar sudah tidak apa-apa?” Sungmin kembali menanyakan keadaan So Yoon yang masih saja terlihat pucat.

“Yeah… aku tidak apa-apa. Kenapa? Kau mau memelukku lagi bila bunyi petir dan hujan itu kembali terdengar? Sudah kubilang berhenti melakukan hal manis semacam itu padaku.” So Yoon seraya berdiri dan berjalan sedikit sempoyongan menuju meja makan yang ada di belakangnya. Wanita itu menghela napas panjang sambil menundukkan kepalanya di atas meja.

“Kalau kau sudah merasa lebih baik, aku bisa kembali ke apartemenku,” ucap Sungmin seraya ikut berdiri, membetulkan kemejanya yang sedikit berantakan.

“Terima kasih sudah memelukku dan menenangkanku walaupun aku tidak tahu bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku. Maaf tidak bisa mengantarmu sampai pintu, kepalaku sudah lengket dengan meja ini.” So Yoon hanya melambaikan tangannya pada Sungmin.

Sungmin hanya menggelengkan kepalanya mendengar nada suara So Yoon yang kembali seperti semula. Itu artinya So Yoon memang sudah benar-benar tidak apa-apa lagi. Setelah berpamitan Sungmin lantas keluar dari apartemen So Yoon dan kembali ke dalam apartemennya sendiri.

So Yoon mengangkat kepalanya dan memandang pintu apartemen yang sudah tertutup dengan sempurna. Dipandanginya daun pintu hingga perlahan sesuatu menghalangi pandangannya. Semakin lama kedua matanya terasa semakin panas dan sesuatu dari pelupuk matanya mendesak ingin keluar.

“Bukankah tujuanmu sejak awal adalah membuatnya melupakan masa lalunya? Dia itu laki-laki bodoh yang berpura-pura bersikap santai seakan tidak terjadi apa-apa. Apa dia akan melajang hingga akhir hidupnya? Atau dia memilih untuk menjadi gay? Dasar Lee Sungmin bodoh.” Air mata So yang begitu susah payah So Yoon tahan pun akhirnya jatuh juga.

Enam bulan So Yoon mengenal Sungmin, dan enam bulan itu juga sudah lebih dari ratusan kali ia menyatakan perasaan sukanya pada Sungmin. Tapi apa tanggapan Sungmin? Laki-laki itu hanya selalu mengulas senyum tipis dan mengganti topik pembicaraan. Mungkin So Yoon sudah bisa disebut sebagai wanita tak tahu malu di hadapan Sungmin mengingat begitu gampangnya ia menyatakan perasaaannya.

***

= a few days later =

Sungmin baru saja selesai memberikan mata kuliahnya pada mahasiswanya. Beberapa mahasiswa menyapanya saat ia keluar dari ruangan. Ketika ia akan menuruni anak tangga yang ada di depannya mendadak ponselnya berdering. Dilihatnya ada nama Zhoumi di panggilan masuk. Sambil menerima telepon dari hoobae-nya yang kini mengajar di Universitas tempat Park Yeon kuliah, Sungmin bergegas turun ke lantai dasar gedung universitas.

Kakinya berhenti ketika percakapannya dengan Zhoumi berakhir. Dipandanginya layar ponselnya untuk beberapa saat. Sungmin menyadari sesuatu. Sepertinya beberapa hari ini ada yang ganjil. Biasanya setiap satu jam sekali Sungmin akan mendapatkan satu pesan dari So Yoon, entah itu hanya gerutuan-gerutuan sepele tentang pekerjaannya di kantor ataupun mengirimkan ikon-ikon ekspresi lucu, kadang juga wanita itu hanya mengirimkan satu buah tanda baca seperti tanda tanya, tanda koma dan tanda seru.

“Apa mungkin dia masih sibuk?” gumam Sungmin seraya kembali melanjutkan perjalanannya.

 

= at Apartment =

Sungmin berjalan keluar dari lift yang sudah berada di lantai sembilan. Ketika ia sampai di depan pintu apartemennya, Sungmin menolehkan kepalanya ke arah kanan di mana apartemen So Yoon berada. Hari ini, sejak pagi hingga sekarang pukul delapan malam, masih belum ada tanda-tanda So Yoon muncul di hadapannya, bahkan pesan-pesan itu juga tak muncul di ponselnya. Sungmin menghela napas sebelum membuka pintu di hadapannya.

Tangannya menyalakan mesin penjawab telepon yang ada di dekat sofa. Berharap siapa tahu dari beberapa pesan suara yang pasti akan masuk ke sana, akan ada pesan yang ditinggalkan oleh So Yoon.

Hati Sungmin mencelos ketika tak ada satu pun pesan dari wanita bermata besar itu. Hampir semua pesan suara yang ia terima berasal dari rekan-rekannya yang berada di Tokyo.

Sungmin menatap sekilas kalender yang menggantung di dinding. Sudah mendekati akhir bulan Mei. Bila Sungmin tidak salah ingat , biasanya di tanggal-tanggal seperti sekarang ini perusahaan-perusahaan penerbit komik akan berlomba-lomba membuat para pegawainya untuk lembur hingga tengah malam guna mempersiapkan komik-komik keluaran terbaru untuk musim panas mendatang. Apakah tempat So Yoon bekerja juga begitu? Ditambah posisi So Yoon yang sebagai salah satu staf promosi perusahaan yang pasti jadwal bekerjanya akan semakin padat saja. Benarkah begitu?

“Sepertinya dia benar-benar sibuk,” Sungmin berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa So Yoon memang dalam keadaan sibuk dengan pekerjaannya. Tetapi, tetap saja ia tak berhenti memikirkan So Yoon karena So Yoon mendadak ‘menghilang’ begitu saja sehari setelah kejadian sore yang dihiasi dengan hujan deras dan petir yang menyambar itu.

Biasanya di pagi hari ia akan melihat wanita itu berlari terbirit-birit keluar dari apartemen dengan sebuah roti panggang yang menghiasi mulutnya, dan hanya melambaikan tangan padanya sebagai ucapan selamat pagi sebelum sama-sama berangkat bekerja. Lalu bila hari sudah menjelang sore atau malam, entah itu kebetulan atau memang disengaja oleh So Yoon, mereka akan selalu pulang ke apartemen secara bersamaan. Di saat-saat itulah Sungmin akan mendengarkan semua celotehan So Yoon mengenai kejadian yang menimpanya seharian.

Aku bercerita ini dan itu karena aku menyukaimu, Lee Sungmin. Aku adalah tipe orang yang akan selalu berkata jujur pada orang yang kusukai. Asal kau tahu saja bertahun-tahun aku tinggal di negara ini seorang diri, baru kali ini aku berbicara blak-blakan di hadapanmu. Kau tidak mengerti juga? Baiklah, biar kupermudah bahasanya. Aku sebatang kara di dunia ini, okay… tidak perlu kau permasalahkan hal itu. Kemudian aku memilih untuk bekerja di negara ini. Seingatku… selama aku hidup di sini tak ada satu pun orang yang benar-benar dekat denganku. Kemudian muncul dirimu beberapa bulan yang lalu. Dan sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah yakin kalau kaulah satu-satunya orang yang kupercaya untuk mendengar semua keluh kesahku.”

Sungmin menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Didongakkan kepalanya dan dipandanginya langit-langit apartemen yang berwarna putih. Bayangan-bayangan buruk bergantian hinggap di benaknya. Benarkah beberapa hari ini So Yoon baik-baik saja? Benarkah beberapa hari ini So Yoon memang sedang sibuk dengan pekerjaannya?

Tangan Sungmin bergerak menyentuh dadanya. Di dalam sana, entah sejak kapan Sungmin merasakan detak jantung yang tak seperti biasanya. Ada semacam ketakutan yang perlahan menggelayuti hatinya tiap wajah So Yoon melintas di depan mata.

“Im So Yoon, sebenarnya ke mana dirimu?”

Kedua mata Sungmin perlahan terpejam. Namun, lagi-lagi tanpa seijin Sungmin, bayangan-bayangan wajah So Yoon kembali menghampiri benaknya. Senyum itu, tawa renyah itu, umpatan-umpatan itu, keluhan itu, teriakan itu, semuanya yang ada pada diri So Yoon muncul di benaknya hingga membuat Sungmin merasakan sesak di dalam dadanya sendiri.

Sungmin bisa merasakannya. Dan sekarang perasaan itu terasa sangat jelas.

Sungmin merindukan So Yoon.

Bagaimana bisa? Entahlah, bahkan Sungmin sendiri pun tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Perasaan itu muncul begitu saja dan menyerang hati Sungmin.

Sungmin baru akan meladeni rasa kantuknya ketika mendengar suara benda jatuh dari arah depan apartemennya. Karena penasaran akhirnya Sungmin bangkit dari duduknya dan mendekati pintu apartemennya.

OMO!” pekik seorang wanita yang baru saja menjatuhkan kardus berisi file-file perusahaan yang sedang ia bawa. Ia cukup terkejut ketika pintu apartemen yang ada di sampingnya tiba-tiba terbuka dan sosok Sungmin muncul dari balik pintu tersebut.

“Im So Yoon?” Sungmin terpaku menyadari wanita yang kini berdiri di depan pintu apartemennya adalah So Yoon, wanita yang beberapa hari ia cemaskan karena tiba-tiba menghilang begitu saja.

Well hi! Long time no see, Mr. Lee!” sapa So Yoon dengan wajah yang dibuat ceria, tapi beberapa detik kemudian ia kembali mengeluh sambil memungut kardus yang sudah tergeletak di dekat kakinya. Menggumam pelan dengan tidak jelas.

Sungmin hanya tertawa kecil sambil berkacak pinggang. Hanya tertawa karena sebenarnya ia juga tidak tahu kenapa ia bisa mengeluarkan tawa seperti itu. Marah? Baiklah…, seharusnya Sungmin memarahi So Yoon karena seenaknya menghilang tanpa mengatakan apa-apa dan kini justru muncul menyapanya dengan wajah ceria, seakan tidak ada yang terjadi.

“Im So Yoon,” panggil Sungmin sesaat setelah meredakan tawanya sendiri. “Ke mana saja kau beberapa hari ini? Kenapa ponselmu jadi susah kuhubungi? Kenapa tiba-tiba kau menghilang sampai-sampai aku tidak bisa melihatmu dari pagi sampai malam hari? Kenapa tidak mengirimiku pesan-pesan aneh yang biasa kau lakukan? Kau tahu, aku benar-benar khawatir padamu. Bagaimana kalau sewaktu-waktu turun hujan dan petir? Kalau itu terjadi dan aku tidak tahu kau ada di mana, aku akan semakin cemas memikirkanmu. Siapa yang akan memelukmu ketika hujan turun? Siapa yang akan menutup telingamu ketika petir itu menggelegar seperti tempo hari?”

So Yoon, wanita itu seketika terhenyak mendengar rentetan pertanyaan yang Sungmin berikan padanya. Perlahan ia menggerakkan tubuhnya menghadap pada Sungmin dengan mata yang mengerjap-ngerjap pelan.

Baiklah, bila harus menjelaskan apa yang terjadi, seharusnya tidak sedramatis pertanyaan Sungmin karena sebenarnya So Yoon sendiri ‘menghilang’ selama beberapa hari karena ia dan staf promosi yang lain ‘dikurung’ oleh bos mereka untuk mengerjakan laporan daftar promosi komik terbaru musim panas mendatang yang harus selesai akhir bulan ini. Maka dari itu selama beberapa hari ini dia harus menginap di kantor bersama yang lain.

Namun, melihat Sungmin begitu mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan seperti ini, So Yoon menyadari sesuatu hingga membuat darahnya berdesir di dalam sana. Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Sungmin sama sekali tak terkesan seperti pertanyaan seseorang yang sedang mencemaskan temannya. Ini berbeda.

“Kau… menyukaiku?” tanya So Yoon lirih. Entah kenapa kini matanya berkaca-kaca.

“Apa?”

“Kau menyukaiku, Lee Sungmin. Kau sudah mulai menyukaiku. Sejak kapan? Kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung padaku saja daripada membiarkanku seperti wanita murahan yang selalu menyatakan perasaan tanpa punya rasa malu?”

Sungmin yang ingin mencela ucapan So Yoon seketika membeku. Pernyataan yang diungkapkan wanita itu jelas membuat semua organ tubuhnya membeku.

Menyukai So Yoon? Ia sudah mulai menyukai So Yoon?

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Kau mengkhawatirkan diriku. Kau mulai terbiasa dengan pesan-pesanku yang sebenarnya itu adalah hal kurang kerjaan yang pernah kulakukan seumur hidupku. Kau mulai peduli dengan phobia yang kumiliki. Kau mulai cemas bila sewaktu-waktu aku akan seperti orang gila lagi saat hujan dan petir datang. Itu adalah ciri-ciri kau mulai menyukaiku ‘kan?” ujar So Yoon.

“Im So Yoon, kau jangan mengalihkan pembicaraan. Aku benar-benar khawatir tadi,” cela Sungmin.

“Kalau kau khawatir kenapa tidak datang ke kantorku saja dan bertanya apakah memang benar aku masih ada di sana atau tidak? Mudah ‘kan? Kau tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak tentang diriku, diam tidak bisa berbuat apa-apa sambil menyalahkan dirimu sendiri bila terjadi apa-apa denganku sampai-sampai kau melupakan peralatan canggih seperti ponsel untuk mencari keberadaanku,” cecar So Yoon yang sepertinya mulai tidak bisa menahan emosi yang menggelayut di hatinya.

Sungmin menundukkan kepalanya. Sesuatu di dalam kepalanya berteriak-teriak begitu nyaring membenarkan semua kata-kata So Yoon. Entah kenapa bibirnya kelu, tak bisa ia gerakkan.

Brak!

Sungmin terkejut ketika tiba-tiba So Yoon menjatuhkan kembali kardus yang ada di pelukannya.

“Tidak bisakah kau sedikit memberanikan dirimu untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu? Kalau kau diam seperti ini, kau benar-benar mirip seperti pria pengecut, Lee Sungmin. Wajar saja bila gadis yang kau sukai dulu lari dari genggamanmu, karena kau memang benar-benar pria pengecut.” So Yoon menahan air matanya dengan susah payah.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Kau tidak tahu apa yang kurasakan, So Yoon-ssi,” bantah Sungmin, lagi-lagi dengan senyum tipis yang selalu ia tampilkan di depan wanita itu.

“Aku tahu rasanya, Lee Sungmin. Aku tahu karena sekarang aku juga mengalaminya! Aku sedang berusaha menggapai seseorang yang kuyakini adalah milikku. Aku tidak ingin menjadi seorang pengecut yang hanya diam tak berbuat apa-apa. “

“So Yoon-ssi……”

“Aku sedang berusaha menggapai seseorang yang kini sedang berdiri di depanku.”

Air mata So Yoon jatuh dan itu membuat dada Sungmin terasa dihantam oleh palu besar tak kasat mata. Bahkan ia tak bisa bergerak saat wanita itu memilih untuk memutar tubuh dan berjalan ke arah apartemennya.

Benarkah ini sudah untuk yang kedua kalinya Sungmin terlihat begitu pengecut? Bukankah ia tak bisa memiliki Park Yeon karena gadis itu tak menyukainya? Dan jujur… ‘hilangnya’ So Yoon beberapa hari kemarin seakan membuat bayangan Park Yeon yang sebelumnya selalu menghiasi benaknya perlahan memudar dan berganti dengan bayangan So Yoon.

Di saat hati Sungmin bimbang, tanpa Sungmin sadari ia mengejar So Yoon, menarik lengan So Yoon hingga membuat wanita itu tersentak ke arahnya. Ia langsung menarik wajah So Yoon dan mendaratkan bibirnya pada bibir merah muda milik So Yoon. Melumatnya untuk beberapa detik, menyalurkan semua emosi yang sudah tak bisa ia tahan selama ini. Sama sekali tak membiarkan So Yoon yang sepertinya ingin memberontak. Digenggamnya pergelangan kecil wanita itu hingga akhirnya ia merasakan ciumannya mendapat balasan.

“Aku tidak tahu apa yang kurasakan ini, Im So Yoon. Aku tidak tahu. Aku bingung. Aku sudah mencoba untuk bertahan, tapi entah kenapa sekarang semuanya terlihat tidak jelas lagi semenjak kau menghilang,” ucap Sungmin lirih, memandang lekat-lekat kedua mata So Yoon yang sudah berhias air mata.

“Inilah dirimu yang sebenarnya, Lee Sungmin. Ini dirimu. Kau hanya lelah karena kau berhasil menghancurkan dinding itu. Bukankah kau pernah bilang kalau di hatimu ada dinding besar yang mengekangmu? Sekarang kau bisa menghancurkannya. Kau bisa.” So Yoon seraya memeluk Sungmin.

Untuk beberapa menit mereka berdua masih berpelukan hingga Sungmin memecah kesunyian di antara mereka dengan mengatakan sesuatu.

“Jadi… apa ini karena aku mulai menyukaimu?”

Sungmin merasakan kepala So Yoon mengangguk.

“Kalau begitu jangan menghilang lagi seperti kemarin tanpa kabar apapun,” tambah Sungmin.

“Apa aku harus mengubah sifatku?” tanya So Yoon yang merasakan rambut belakangnya dibelai lembut oleh Sungmin.

“Tetaplah menjadi Im So Yoon yang kukenal enam bulan yang lalu. Tetaplah mengirimiku pesan anehmu setiap satu jam sekali. Dan tetaplah berada di dekatku saat hujan dan petir datang, jadi aku tidak akan mengkhawatirkanmu.” Sungmin mempererat pelukannya pada tubuh So Yoon.

“Boleh aku bertanya satu hal padamu?”

“Apa?”

“Mmmm… waktu itu bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku? Seingatku aku tidak pernah memberitahu password pintu apartemenku padamu,” ucap So Yoon.

“Enam bulan yang lalu kau pernah bilang padaku kalau kau mengubah password apartemenmu dengan yang baru setelah kau menyatakan perasaanmu padaku. Yang terlintas di pikiranku adalah tanggal lahirku,” jawab Sungmin, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher So Yoon.

*

*

*

“Mungkin aku adalah laki-laki paling bodoh yang ada di dunia ini. Bagaimana bisa aku menyukaimu hanya dengan mencemaskan dirimu yang menghilang dari hadapanku selama lima hari? Bagaimana bisa aku menghapus bayangannya dari benakku dan menggambarkan sosokmu hanya dengan merindukan dirimu yang menghilang dari hadapanku selama lima hari? Ini benar-benar aneh. Ini benar-benar aneh, Im So Yoon. Kau berhasil membuat pikiran dan perasaanku jungkir balik seperti ini.” — Lee Sungmin.

 

== THE END ==

 

Well, mungkin satu hal yang muncul di pikiran teman2 reader semua adalah : Storyline-nya yang terlalu ribet dan rada ga jelas plus terlalu galau.

Yaaa… salahkan saya sajalah karena emang bikinnya pas hati lagi galau gara2 hidung mampet ga bisa napas. Galau banget ‘kan?

Satu lagi, FF yang ini mungkin akan jadi FF terakhir ber-cast Sungmin yang alurnya melow total *Mian, Sungmin-ssi L Jadi ngga tega bikin Sunbae imut ini sedih2 mulu di FF.

Ohya, Nita juga mau minta maaf sebesar2nya kalau baru bisa publish FF malam ini setelah hampir satu minggu (bener ga sih?) ngilang, padahal di FB + twitter ada yang nanyain. Hehehe… maaf… maklum beberapa hari kemarin bener2 lembur kerja ditambah paket flu nyerang (bahkan sampai malam ini pun hidung belum bisa dibuat napas dengan normal + batuknya masih kaya nenek2 -_- )

Coment-nya yach! ^_^

Thanks *muach

 

Advertisements
Leave a comment

15 Comments

  1. Biarpun kata penulisnya mellow *uups* tapi endingnya tetep bisa bikin tersenyum kok saking manisnya…
    Sukaaaa…

    Apalagi sama karakternya So Yoon yang unik.. bener2 ga bisa di tebak.. ^^b

    Reply
    • thanks ica *terharu..

      Tapi emang bener melow kok… emang ga tau napa semua FF Sungmin di sini melow semua kkkk…

      si So Yoon susah ditebak ya? sama *lho

      Reply
      • Iya ya.. FF-nya sungmin kok begitu semua… mungkin karena pembawaannya yang tenang kali… jd cocoknya buat ff bergenre seperti itu.. hehehe #eeehhh…

        Cerita #moveon yang lainnya di tunggu yaaa.. ^^b

  2. syukurlah sungmin udah bisa ngelupain park yeon ^_^

    Reply
  3. Haaa.. Lega, akhirnya sungmin bisa mendapatkan penggantinya park yeon…..

    Reply
  4. Ming dah mulai move on, bagus dech daripada galau terus kkkkkk…

    Reply
  5. littlefishy

     /  May 31, 2014

    Eonni g tau kenapa aku suka banget sama karakternya so yoon, biarpun dia cewek tp dia berani terang”an nunjukkin perasaan sukanya ke sungmin, dan akhirnya sungmin bisa move on dari park yeon..,
    ditunggu #2 move onnya eon..

    Reply
    • Tapi sayangnya dia punya kadar cerewet yg di luar batas normal manusia 😀 hehehehe.

      but thanks for reading, sweety 🙂

      Reply
  6. Choi Michelle

     /  June 1, 2014

    Keren keren!!! Baguslah sungmin udh bisa ngelupain park yeon… special ff buat siwon,donghae sama henry ada gak??

    Reply
  7. deva nur fauziah (@fauziah_deva)

     /  August 8, 2014

    sungmin aku suka sifatnya…. pria yg kalem ya hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: